1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemerintah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 adalah sebesar 6%, menjadikan Indonesia sebagai negara emerging-countries dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia setelah Cina (Purwanto, 2013, para. 1). Menurut Firmanzah (2013), staf ahli presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan, “pertumbuhan ekonomi 2014 akan diperoleh dari sejumlah sektor, yang salah satunya adalah sektor jasa keuangan” (Purwanto, 2013, para. 3), yang mana bank termasuk di dalamnya. Seiring dengan perkembangan perekonomian di Indonesia, jumlah keseluruhan bank umum yang terdapat di Indonesia hingga Agustus 2013 adalah 120, termasuk di dalamnya juga terdapat 10 bank asing dan 14 bank campuran (Bank Indonesia, 2013). Jumlah ini memang tidak bertambah sejak Desember 2012, akan tetapi jumlah kantor cabang bertambah dengan pesat, dimana pada Desember 2012 hanya terdapat 16.625 kantor cabang dan dalam 8 bulan telah bertambah hingga berjumlah 17.798 kantor cabang (Bank Indonesia, 2013). Menurut Sahamok, terdapat 36 bank yang terdaftar sebagai perusahaaan public di Bursa Efek Indonesia.
Kinerja perekonomian di Jawa Timur sendiri hingga triwulan III 2013 mencapai 6,49% (Bank Indonesia, 2013). Hal ini didukung oleh perkembangan positif kinerja perbankan di Jawa Timur, baik bank umum maupun bank perkreditan rakyat, yang ditunjukkan dengan pertumbuhan total asset, kredit, dan dana pihak ketiga yang cukup tinggi dengan tingkat resiko kredit yang rendah (Bank Indonesia, 2013). Bila dibandingkan dengan triwulan III 2012, aset bank umum mengalami pertumbuhan sebesar 18,74% menjadi Rp 406,88 T, kredit bank umum mengalami pertumbuhan sebesar 27,22% menjadi Rp 284,35 T, dan dana pihak ketiga bank umum mengalami pertumbuhan sebesar 14,63%, menjadi Rp 313,69 T. Selain itu, sebanyak 58,7% dari total asset bank umum di Jawa Timur dimiliki oleh bank umum yang terletak di Surabaya. Dilihat dari keseluruhan jumlah kredit maupun dana pihak ketiga bank umum di Jawa Timur,
bank umum di Surabaya masih mendominasi jumlahnya, yaitu sebesar 56,41%
dan 56,9%.
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa persaingan bisnis dalam bidang perbankan semakin sengit (Dwiantika, 2013, para. 1), terlebih dengan masuknya bank asing ke Indonesia. Hal ini mengakibatkan semakin pendeknya life cycle atas produk/jasa atau bisnis, sehingga future profit dari operasional perusahaan saat ini menjadi tidak pasti (Galetic dan Milovanovic, 2008). Dengan demikian, akan semakin sulit bagi perusahaan untuk dapat bertahan dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks (Lee dan Hsieh, 2010).
Dalam kondisi yang demikian, penting bagi perusahaan untuk memiliki competitive advantage, yang mana dapat melindungi perusahaan dari tekanan persaingan atau mempengaruhi tekanan tersebut secara positif (Porter, 1987).
Menurut Grant (1996), competitive advantage merupakan ketidakmampuan kompetitor dalam menduplikasi kapabilitas khusus perusahaan.
Suatu perusahaan dikatakan memiliki competitive advantage jika perusahaan dapat mengimplementasikan strategi yang tidak dimiliki oleh kompetitor dan jika kompetitor tidak dapat menduplikasi manfaat yang diperoleh dari strategi tersebut (Barney, 1991). Dengan adanya competitive advantage, perusahaan dapat menciptakan nilai bagi pelanggan, dimana nilai tersebut dapat menciptakan keunggulan di pasar maupun kinerja keuangan (Day dan Wensley, 1988), sehingga perusahaan dapat bertahan dalam lingkungan bisnis yang kompleks.
Menurut Peteraf dan Barney (2003), competitive advantage dapat diperoleh melalui banyak hal. Setiap peneliti menggunakan kapabilitas yang berbeda untuk mengukur pengaruhnya terhadap competitive advantage (Potocan, 2013). Pengaruh organsational innovation intensity terhadap competitive advantage telah banyak diteliti, seperti oleh Weerawardena (2003); Lee dan Hsieh (2010); Parkman, Holloway. Sebastiao (2012); Urbancova (2013), yang menemukan pengaruh positif antar 2 variabel tersebut. Selain itu, peneliti, seperti Vorhies and Harker (2000); Weerawardena (2003); Vijande, Sanzo-Perez, Gutierrez, dan Rodriguez, (2012), juga menemukan pengaruh positif antara marketing capability terhadap competitive advantage. Akan tetapi, Lee dan Hsieh
(2010) menemukan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara marketing capability dan competitive advantage.
Organisational innovation intensity merupakan aplikasi ide baru dalam perusahaan untuk menciptakan nilai tambah, baik secara langsung bagi perusahaan maupun tidak langsung bagi pelanggan (Weerawardena, 2003).
Menurut Rahmani dan Mousavi (2011), organisational innovation merupakan asset penting yang harus dimiliki oleh perusahaan. Organisational innovation mendorong perusahaan untuk selalu menjadi yang pertama dalam menawarkan produk / jasa, sehingga perusahaan dapat memperoleh kinerja yang superior (O’Cass dan Weerawardena, 2009) dan sustainable innovation outcomes (Lawson dan Samson, 2001).
Marketing capability berarti proses yang mengkombinasikan pengetahuan, skill, dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pasar, sehingga dapat memberikan nilai tambah (Day, 1994; Vijande, Sanzo-Perez, Gutierrez, dan Rodriguez, 2012; Potocan (2013). Di sini, perusahaan harus terus melakukan prediksi atas situasi yang mungkin terjadi dan memiliki respon yang lebih cepat terhadap kebutuhan pasar dibandingkan kompetitor (Weerawardena, 2003).
Dengan demikian, kinerja perusahaan, yaitu profit, pertumbuhan, kepuasan pelanggan, akan meningkat (Vorhies dan Harker, 2000).
Weerawardena (2001; 2003); Lee dan Hsieh (2010) menyatakan bahwa organizational innovation intensity dan marketing capability yang dipengaruhi oleh entrepreneurial intensity dapat menciptakan competitive advantage.
Entrepreneurial intensity berarti perilaku perusahaan yang menunjukkan sikap innovation, proactive, dan risk-taking dalam pengambilan keputusan strategis (Naman dan Slevin, 1993) secara terus-menerus (Weerawardena, 2003; Qureshi dan Mian, 2010). Entrepreneurial intensity berguna untuk mencari peluang yang dapat menciptakan competitive advantage (Weerawardena, 2003; Galetic dan Milovanovic, 2008; Lee dan Hsieh, 2010; Parkman, Holloway. Sebastiao, 2012).
Entrepreneurial intensity memampukan perusahaan untuk mengidentifikasi adanya perubahan dan peluang yang dapat digunakan sebagai percobaan untuk melayani pasar dan pelanggan dengan lebih baik (Lisboa, Skarmeas, dan Lages, 2010). Selain itu, perusahaan yang berbasiskan
entrepreneur cenderung terus mencari ide dan metode baru untuk berinovasi, mengeksploitasi kesempatan, dan mencapai tujuan yang diinginkan (Lisboa, Skarmeas, dan Lages, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Weerawardena (2001); (2003); Lee dan Hsieh (2010) menunjukkan terdapat pengaruh positif antara entrepreneurial intensity dan marketing capability. Selain itu, O’Cass dan Weerawardena, 2009; Lee dan Hsieh, 2010; Nasution, Mavondo, Matanda, Ndubisi, 2011 menemukan adanya pengaruh positif antara entrepreneurial intensity terhadap organizational innovation intensity, tetapi penelitian oleh Balan dan Lindsay (2010) menemukan bahwa entrepreneurial intensity tidak berpengaruh signifikan terhadap organisational innovation intensity.
Menurut Morris dan Jones (1995); Qureshi dan Mian (2010); Qureshi dan Kratzer (2011), entrepreneurial intensity dipengaruhi oleh environmental turbulence. Suatu lingkungan dapat dikatakan turbulence jika lingkungan tersebut membawa banyak perubahan. Salah satu respon organisasi yang paling efektif terhadap perubahan lingkungan adalah entrepreneurial intensity (Covin dan Slevin, 1989). Perusahaan yang berbasiskan entrepreneurial intensity cenderung memiliki kemampuan yang berbeda dalam berinovasi, melakukan inisiatif perubahan, dan fleksibel terhadap perubahan (Naman dan Slevin, 1993).
Entrepreneur dapat menangani perubahan lingkungan sebagai kondisi normal dan mencoba untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan (Lee dan Hsieh, 2010).
Dalam penelitian ini akan dibahas pengaruh antara environmental turbulence, entrepreneurial intensity, marketing capability, dan organizational innovation intensity terhadap competitive advantage. Penelitian ini mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh Weerawardena (2003) dan Lee & Hsieh (2010), dengan pengecualian pada aspek environmental turbulence yang merupakan variabel tambahan dalam penelitian ini. Dalam studi pustaka yang telah dilakukan, diketahui bahwa Miles, Arnold, dan Thompson (1993) menemukan adanya korelasi negatif antara environmental turbulence dan entrepreneurial intensity. Dalam penelitian ini, ingin dibuktikan apakah korelasi negatif tersebut juga dapat ditemukan. Selain itu, environmental turbulence juga dinilai dapat mencerminkan kondisi lingkungan bisnis abad 21 yang semakin
kompleks, turbulence, dan tidak dapat diprediksi (Mason, 2006). Menurut Yusuf (2002), penelitian atas environmental turbulence terhadap entrepreneurial intensity, juga hanya dilakukan di negara barat. Penelitian yang serupa belum dilakukan di Surabaya. Tidak hanya itu, penelitian ini juga menggunakan sampel yang berbeda dengan penelitian terdahulu, dimana pada penelitian terdahulu sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur, sedangkan pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah bank umum. Dengan demikian, judul yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Pengaruh Entrepreneurial Intensity terhadap Competitive Advantage melalui Marketing Capability dan Organisational Innovation Intensity pada Bank Umum di Surabaya”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah environmental turbulence dapat berpengaruh terhadap entrepreneurial intensity pada bank umum di Surabaya?
2. Apakah entrepreneurial intensity dapat berpengaruh terhadap marketing capability pada bank umum di Surabaya?
3. Apakah marketing capability dapat berpengaruh terhadap organisational innovation intensity pada bank umum di Surabaya?
4. Apakah marketing capability dapat berpengaruh terhadap competitive advantage pada bank umum di Surabaya?
5. Apakah organisational innovation intensity dapat berpengaruh terhadap competitive advantage pada bank umum di Surabaya?
6. Apakah entrepreneurial intensity dapat berpengaruh terhadap competitive advantage pada bank umum di Surabaya?
7. Apakah entrepreneurial intensity dapat berpengaruh terhadap organisational innovation intensity pada bank umum di Surabaya?
1.3 Batasan Penelitian
Luasnya ruang lingkup penelitian mengharuskan dibuatnya batasan penelitian. Dalam penelitian ini, batasan penelitian yang ditetapkan adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini terbatas pada bank umum yang terletak di Surabaya, dimana masing-masing bank umum akan diwakili oleh karyawan tetap dengan jabatan minimal setingkat supervisor.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang dapat dibangun berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh environmental turbulence terhadap entrepreneurial intensity pada bank umum di Surabaya
2. Untuk mengetahui pengaruh entrepreneurial intensity terhadap marketing capability pada bank umum di Surabaya
3. Untuk mengetahui pengaruh marketing capability terhadap organisational innovation intensity pada bank umum di Surabaya
4. Untuk mengetahui pengaruh marketing capability terhadap competitive advantage pada bank umum di Surabaya
5. Untuk mengetahui pengaruh organisational innovation intensity terhadap mempengaruhi competitive advantage pada bank umum di Surabaya 6. Untuk mengetahui pengaruh entrepreneurial intensity terhadap
competitive advantage pada bank umum di Surabaya
7. Untuk mengetahui pengaruh entrepreneurial intensity terhadap organisational innovation intensity pada bank umum di Surabaya
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh atas dilakukannya penelitian ini, dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama yang berhubungan dengan environmental
turbulence, entrepreneurial intensity, marketing capability, organisational innovation intensity, dan competitive advantage. Selain itu, penelitian ini dapat digunakan sebagai literatur bagi penelitian selanjutnya yang memiliki hubungan dengan penelitian ini.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pelaku bisnis dan bank mengenai environmental turbulence, entrepreneurial intensity, marketing capability, organisational innovation intensity, dan competitive advantage, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pelaku bisnis dan bank untuk mengambil keputusan dan menentukan strategi perusahaan.
1.6 Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pemahaman atas penelitian ini, maka penulisan penelitian ini dibagi menjadi 5 bab, dengan pokok bahasan yang dapat diuraikan, yaitu :
1. Pendahuluan
Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan
2. Landasan Teori
Bab ini memberikan pembahasan atas landasan teori yang mendasari penelitian ini beserta dengan variabel-varibel terkait, kajian penelitian terdahulu, hipotesis, dan model penelitian.
3. Metode Penelitian
Dalam bab ini memuat cara-cara dilakukannya penelitian yang terdiri atas model analisis, definisi operasional variable, skala pengukuran, jenis dan sumber data, instrumen dan pengumpulan data, populasi, sampel dan teknik sampling, unit analisis, rancangan kuesioner, dan teknik analisis data.
4. Hasil Penelitian dan Analisis
Bab ini akan menguraikan mengenai gambaran umum objek penelitian, deskripsi data, serta hasil analisis dan pembahasan penelitian.
5. Kesimpulan dan Saran
Pada bab terakhir ini dimuat kesimpulan yang merupakan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, serta saran yang merupakan gagasan perbaikan maupun pemecahan masalah yang diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan.