Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkayang
Katalog BPS: 4711.6102
ST S TA AT TI IS ST TI IK K D DA AN N AN A NA AL LI IS SI IS S GE G EN ND DE ER R
KA K A BU B UP P AT A TE EN N B BE EN NG G KA K AY YA A NG N G
TA T A HU H UN N 2 20 00 07 7
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……….... iii
Daftar isi ………... v
Bab I Pendahuluan ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 3
1.3. Sumber Data dan Landasan Hukum ... 4
Bab II Gambaran Umum Kondisi Wilayah ... 5
2.1. Geografis ... 5
2.1.1. Letak Geografis ... 5
2.1.2. Topografi dan Iklim ... 6
2.1.3. Luas Wilayah ... 9
2.2. Sejarah ... 11
2.3. Sosial Budaya ... 14
Bab III Demografi ... 17
3.1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk ... 18
3.2. Komposisi Penduduk ... 20
3.3. Rasio Anak dan Wanita (Child Woman Ratio/CWR) ……… 26
3.4. Rata-rata Umur Kawin Pertama ……… 26
3.5. Jumlah Anak Lahir Hidup ……… 27
3.6. Jumlah Anak Masih Hidup ……… 29
Bab IV Pendidikan ………. 31
4.1. Angka Partisipasi Kasar ……… 33
4.2. Angka Partisipasi Murni ……… 34
4.3. Angka Partisipasi Sekolah ……… 35
4.4. Angka Melek Huruf ……… 37
4.5. Pendidikan yang Ditamatkan ……… 38
4.6. Ketersediaan Sarana Pendidikan ……… 39
4.7. Angka Putus Sekolah ……… 42
Bab V Kesehatan ……….. 43
5.1. Angka Kematian Bayi dan Anak ……… 44
5.2. Angka Kematian Ibu dan Partisipasi KB ……… 46
5.3. Penolong Persalinan, Lama Pemberian ASI, dan Imunisasi ……… 50
5.4. Status Gizi ……… 53
Bab VI Kegiatan Ekonomi ……… 55
6.1. Ketenagakerjaan ……… 55
6.1.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ... 57
6.1.2. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ... 59
6.1.3. Kontribusi Sektor dalam Penyerapan Tenaga Kerja ... 60
6.1.4. Status Pekerjaan ... 62
6.1.5. Jam Kerja ... 63
6.2. Kemiskinan ... 64
Bab VII Perempuan di Sektor Publik ... 67
7.1. Politik dan Legislatif ... 68
7.2. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil ... 69
Bab VIII Kekerasan Terhadap Perempuan ... 71
Bab IX Masalah Anak ... 73
9.1. Kepemilikan Akta Kelahiran ... 73
9.2. Pekerja Anak ... 74
Bab X Penutup ... 77
10.1. Kesimpulan ... 77
10.2. Saran ... 78
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan Nasional di Indonesia pada hakekatnya membangun manusia yang ada di Indonesia untuk menjadi lebih baik tanpa memandang laki-laki maupun perempuan. Namun demikian, peran serta perempuan dalam keberhasilan pembangunan masih banyak dikesampingkan dan dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak. Dengan adanya penandatanganan Millenium Development Goal’s (MDGs), dengan Indonesia sebagai salah satu negara penandatangan kesepakatan tersebut, merupakan salah satu momentum untuk lebih melihat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan. Dalam butir-butir tujuan MDGs tersebut, disebutkan bahwa tujuannya antara lain adalah untuk dapat mendorong adanya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (butir tujuan ketiga), menghilangkan kesenjangan gender dalam pendidikan dasar (butir tujuan keempat), dan meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan angka kematian ibu (butir tujuan kelima).
Statistik dan indikator yang dirinci menurut jenis kelamin adalah alat yang sangat penting dalam penyusunan kebijakan, perencanaan, dan program yang berperspektif gender untuk dapat mencapai hasil pembangunan yang setara dan adil. Dengan menggunakan indikator gender, penyusunan kebijakan dan evaluasi dapat dilakukan dengan lebih baik serta dapat memberikan dampak yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Di samping itu, statistik dan indikator tersebut juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi berbagai isu gender yang selama ini terabaikan.
Dalam hukum dan Undang-undang yang belaku di Negara Republik Indonesia, tidak ada pembedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu, sebagai manusia
sekaligus warga negara, perempuan mempunyai hak, kewajiban, dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Sebagai sumber daya insani, potensi yang dimiliki perempuan tidak berbeda dengan laki-laki. Namun demikian, hal yang berlaku pada kenyataannya di masa yang telah lampau, kesetaraan status dan peranan perempuan masih belum sejajar dengan laki-laki. Hal tersebut ditandai dengan sedikitnya jumlah perempuan yang menempati posisi penting dalam badan legislatif dan eksekutif.
Dewasa ini, pemantauan informasi kesetaraan dan keadilan gender telah dilakukan oleh berbagai pihak, baik yang bersifat sektoral maupun lintas sektoral. Hal tersebut dilakukan mengingat pentingnya informasi gender untuk memonitor serta mengevaluasi kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan yang berwawasan gender.
Dalam era otonomi daerah sekarang ini, keberhasilan pembangunan tidak lagi ditentukan oleh pemerintah pusat saja namun lebih ditentukan oleh pemerintah daerah. Oleh sebab itu, pemahaman tentang kondisi daerah setempat sangat diperlukan, khususnya dalam upaya pembangunan pemberdayaan perempuan yang dilakukan melalui penyediaan data terpilah di berbagai bidang.
Untuk dapat mengetahui perkembangan pembangunan pemberdayaan perempuan di masing-masing daerah, perlu dilakukan upaya pemantauan informasi gender yang dapat bersumber dari catatan-catatan registrasi, hasil sensus penduduk, maupun survei-survei di bidang kependudukan serta data yang diperoleh dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta.
Penyusunan publikasi Analisis dan Statistik Gender Kabupaten Bengkayang Tahun 2007 ini merupakan salah satu upaya dalam menyediakan informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kesetaran dan keadilan gender di Kabupaten Bengkayang. Dalam publikasi ini, disajikan hasil analisis statistik gender di berbagai bidang, antara lain bidang
kependudukan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain sebagainya, baik yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif.
1.2. Tujuan
Secara umum, maksud penyusunan publikasi Statistik dan Analisis Gender Kabupaten Bengkayang Tahun 2007 ini adalah untuk:
1. Meningkatkan pemahaman tentang pentingnya data statistik dan indikator gender bagi penyusunan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan dan program pemerintah.
2. Meningkatkan ketersediaan data statistik dan indikator serta analisis gender.
3. Mensosialisasikan penggunaan data statistik dan indikator gender di kalangan para pembuat kebijakan.
4. Meningkatkan komitmen untuk menggunakan data statistik dan indikator gender dalam melakukan penyusunan perencanaan dan monitoring berbagai program dan kegiatan di masing-masing daerah.
Adapun tujuan khusus penyusunan publikasi dan Analisis Gender Kabupaten Bengkayang Tahun 2007 ini adalah untuk:
1. Mengetahui kesenjangan dan ketidakadilan gender yang terjadi antara perempuan dan laki-laki di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, ketenagakerjaan, hukum, dan berbagai bidang lainnya.
2. Memperoleh gambaran tentang karakteristik demografi dan berbagai permasalahan gender yang terjadi di daerah.
3. Menggali informasi mengenai berbagai masalah kekerasan terhadap perempuan dan kondisi sosial budaya serta isu-isu lokal yang spesifik.
1.3. Sumber Data dan Landasan Hukum
Untuk penyusunan publikasi Statistik dan Analisis Gender ini, digunakan data sekunder yang berasal dari berbagai sumber, antara lain dari berbagai data hasil survei yang dilakukan oleh BPS seperti Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas), dan Sensus Penduduk (SP), serta berbagai data lainnya yang diperoleh dari dinas atau instansi terkait. Selanjutnya, landasan hukum dalam kegiatan ini adalah:
a. GBHN Tahun 1999
b. Inpes Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional
BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH
Kabupaten Bengkayang merupakan salah satu kabupaten baru di provinsi Kalimantan Barat yang mulai terbentuk setelah adanya undang-undang otonomi daerah. Dasar pembentukan Kabupaten Bengkayang adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1999, yaitu Kabupaten Bengkayang merupakan pecahan dari Kabupaten Sambas. Selanjutnya, pada tahun 2001, berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2001, Kabupaten Bengkayang dimekarkan kembali, yaitu dengan berdiri sendirinya Kota Singkawang yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Bengkayang.
2.1. Geografis 2.1.1. Letak Geografis
Kabupaten Bengkayang berada pada posisi 0033’00” Lintang Utara sampai dengan 1030’00” Lintang Utara dan 108039’00” Bujur Timur sampai dengan 110010’00” Bujur Timur.
Letak Kabupaten Bengkayang berada di bagian utara Provinsi Kalimantan Barat dan merupakan salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Posisi Kabupaten Bengkayang yang berada di dekat garis khatulistiwa menyebabkan suhu dan kelembabannya yang relatif mencirikan daerah tropis.
Letak Kabupaten Bengkayang yang sangat strategis menyebabkan peluang perkembangan yang semakin pesat baik dalam aspek sosial maupun ekonomi. Wilayah perbatasan administrasi Kabupaten Bengkayang adalah sebagai berikut:
Bagian Utara berbatasan langsung dengan negara Malaysia atau tepatnya berbatasan dengan Serawak-Malaysia Timur. Adanya border Jagoi Babang yang berbatasan dengan Serikin-Malaysia menyebabkan perkembangan perekonomian semakin maju pesat. Arus migrasi tenaga kerja yang bekerja ke negara Malaysia maupun perdagangan antar negara
dari tahun ke tahun semakin maju sehingga berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi maupun sosial kependudukan masyarakat Kabupaten Bengkayang. Selain itu, bagian utara juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Sambas. Dilihat dari sejarahnya, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas merupakan satu kabupaten pada masa lampau sehingga memiliki nilai sosial budaya masyarakat yang hampir sama. Panjang perbatasan Kabupaten Bengkayang dengan Kabupaten Sambas adalah 159,218 km sedangkan panjang perbatasan negara di Kabupaten Bengkayang dengan Serawak (Malaysia) adalah 76,564 km.
Bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pontianak. Hal ini berpengaruh pada peningkatan potensi kegiatan ekonomi maupun mobilisasi penduduk antar kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Panjang perbatasan dengan Kabupaten Pontianak adalah 54,989 km.
Bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau. Hal ini juga berpengaruh pada peningkatan potensi kegiatan ekonomi maupun mobilisasi penduduk antar kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Panjang perbatasan Kabupaten Bengkayang dengan Kabupaten Landak adalah 162,053 km sedangkan panjang perbatasan dengan Kabupaten Sanggau adalah 30,215 km.
Bagian Barat berbatasan dengan Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, dan Laut Natuna. Hal ini berpengaruh pada peningkatan potensi kegiatan ekonomi maupun mobilisasi penduduk antar kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Ditambah lagi, dilihat dari sejarahnya, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas, dan Kota Singkawang merupakan mempunyai satu kabupaten induk pada masa lampau sehingga memiliki nilai sosial budaya yang erat. Selain itu, wilayah Kabupaten Bengkayang yang berbatasan langsung dengan laut natuna berpengaruh pada pengembangan potensi perikanan yang masih sangat luas di Kabupaten Bengkayang. Selain itu, rencana pengembangan Mega
Natuna merupakan peluang yang mendukung perkembangan Kabupaten Bengkayang.
Panjang perbatasan Kabupaten Bengkayang dengan Kota Singkawang adalah 58,907 km sedangkan panjang garis pantainya adalah 68,5 km.
Perbatasan negara yang berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Bengkayang yang cukup panjang berimplikasi pada banyak kerawanan masalah sosial politik yang terjadi di kawasan perbatasan. Masalah tapal batas, kesenjangan kondisi sosial ekonomi masyarakat wilayah perbatasan, fasilitas sarana dan prasarana yang terbatas, tenaga kerja illegal, dan trafficking menjadi masalah yang harus dihadapi Kabupaten Bengkayang sebagai salah satu kabupaten yang ada di kawasan perbatasan. Untuk itu, diperlukan strategi pembangunan yang dapat mencakup semua permasalahan yang dihadapi.
2.1.2. Topografi dan Iklim
Ada dua kondisi alam yang membedakan wilayah Kabupaten Bengkayang. Kondisi alam yang pertama adalah pesisir pantai. Keseluruhan wilayah pesisir ini termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Raya Kepulauan. Kondisi alam yang kedua adalah daratan dan perbukitan yang terdiri dari Kecamatan Capkala, Samalantan, Monterado, Lembah Bawang, Bengkayang, Teriak, Sungai Betung, Ledo, Suti Semarang, Lumar, Sanggau Ledo, Tujuh Belas, Seluas, Jagoi Babang, dan Siding.
Ada tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) utama yang melintasi wilayah Kabupaten Bengkayang, yaitu: DAS Sambas, DAS Sungai Raya, dan DAS Sungai Duri. Dari ketiga DAS tersebut, yang paling besar adalah DAS Sambas yang luasnya meliputi 722.500 hektar sedangkan DAS Sungai Raya sebesar 50.000 hektar dan DAS Sungai Duri hanya sebesar 24.375 hektar.
Dilihat dari jenis tanahnya, sebagian besar daerah Kabupaten Bengkayang adalah jenis tanah poldosit merah kuning, yaitu sebesar 322.347 hektar dan yang paling sedikit adalah jenis OGH, yaitu sebesar 6.700 hektar. Dilihat dari persebaran lerengnya, sebagian besar wilayah Kabupaten Bengkayang masuk pada kelas lereng 15-40 % dan hanya sebagian kecil yang masuk dalam kelas lereng lebih dari 40 %. Selanjutnya, dilihat dari tekstur tanahnya, sebagian besar masuk dalam tekstur sedang, yaitu sebesar 343.023 hektar. Luas wilayah tergenang di Kabupaten Bengkayang hanya sebesar 36.020 hektar dan luas wilayah yang tidak tergenang adalah sebesar 503.610 hektar.
Walaupun hanya sebagian kecil wilayah Kabupaten Bengkayang yang merupakan wilayah perairan laut, Kabupaten Bengkayang juga memiliki sejumlah pulau, yaitu sebanyak 12 pulau. Semua pulau yang ada masuk dalam wilayah Kecamatan Sungai Raya Kepulauan.
Sebanyak 8 pulau masuk dalam wilayah Desa Sungai Raya, yaitu: Pulau Penatah Besar, Penatah Kecil, Seluas, Semesak, Kera, Baru, Batu Rakit, dan Tempurung. Selanjutnya, sebanyak 2 pulau masuk dalam wilayah Desa Karimunting, yaitu Pulau Kabung dan Pulau Batu Payung dan sebanyak 2 pulau masuk dalam wilayah Desa Pulau Lemukutan, yaitu Pulau Lemukutan dan Pulau Randayan. Dari sejumlah pulau tersebut, ada sebanyak 5 pulau masih belum berpenghuni dan 7 pulau sudah berpenghuni. Pulau yang sudah berpenghuni adalah:
Pulau Penatah Besar, Penatah Kecil, Seluas, Baru, Kabung, Lemukutan, dan Randayan sedangkan sisanya yang belum berpenghuni adalah: Pulau Semesak, Pulau Kera, Pulau Rakit, Pulau Tempurung, dan Pulau Batu Payung. Semua pulau yang ada terletak di wilayah perairan Laut Natuna. Pulau terbesar yang berpenghuni adalah Pulau Lemukutan dan Pulau Penatah Besar.
Potensi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Bengkayang adalah wisata alam.
Wilayah Kabupaten Bengkayang ada yang berada di wilayah pesisir dan di daratan yang merupakan wilayah perbukitan. Hal ini menyebabkan jenis wisata alam yang ada di Kabupaten Bengkayang adalah wisata pantai dan wisata alam air terjun. Wisata pantai yang sudah mulai
dikelola sebagai percontohan adalah pantai samudra indah, pantai gosong, dan pantai kura- kura. Wisata air terjun yang sudah dimanfaatkan adalah air terjun madi yang digunakan sebagai sumber air bersih sedangkan air terjun lainnya, yaitu riam berasap sudah dimanfaatkan sebagai wisata alam. Dimasa yang akan datang, banyaknya air terjun yang ada juga dapat dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Curah hujan dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah iklim, keadaan geografi, dan pertemuan arus udara. Rata-rata curah hujan di Kabupaten Bengkayang selama tahun 2006 mencapai 269 mm. Curah hujan sebesar ini termasuk tinggi dan hal ini dipengaruhi oleh wilayah Kabupaten Bengkayang yang masuk dalam wilayah tropis (dengan ciri hutan tropis yang cukup lebat dan kelembaban udara tinggi). Rata-rata curah hujan yang cukup tinggi terjadi pada bulan November dan terendah pada bulan Februari.
Rata-rata hari hujan pada tahun 2006 di Kabupaten Bengkayang adalah sebanyak 13 hari. Jumlah hari hujan yang paling banyak adalah pada bulan Desember dan yang paling sedikit adalah pada bulan Agustus. Kecamatan yang paling banyak rata-rata curah hujannya adalah Kecamatan Samalantan dan kecamatan yang paling sedikit rata-rata curah hujannya adalah Kecamatan Capkala.
2.1.3. Luas Wilayah
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2001, luas wilayah Kabupaten Bengkayang adalah 5.396,30 km2 ditambah wilayah laut sampai 12 mil atau wilayah perijinan provinsi (hidro-oceanografi tahun 1993) seluas 1.026,72 km2 atau wilayah laut sampai batas 4 mil atau wilayah perijinan kabupaten seluas 184 km2. Secara keseluruhan, luas wilayah Kabupaten Bengkayang yang memiliki luas sebesar 5.396,30 km2 tersebut hanya mencakup sekitar 3,68 persen dari total luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Hal ini menjadikan
Kabupaten Bengkayang sebagai kabupaten dengan cakupan wilayah terkecil di Kalimantan Barat.
Tabel 2.1 Jarak ke Ibukota Kabupaten, Luas, dan Ibukota Kecamatan di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Kecamatan Jarak ke Ibukota Kabupaten Ibukota Kecamatan Luas
(1) (2) (3) (4)
1. Sungai Raya 89,56 Sungai Duri 75,85
2. Capkala 72,32 Capkala 46,35
3. Sungai Raya Kepulauan 72,56 Sungai Raya 394,00
4. Samalantan 37,39 Samalantan 420,50
5. Monterado 53,18 Monterado 291,00
6. Lembah Bawang 57,39 Tempapan 188,00
7. Bengkayang 0 Bengkayang 167,04
8. Teriak 13,76 Bana 231,51
9. Sungai Betung 14,84 Suka Maju 205,95
10. L e d o 31,01 Ledo 481,75
11. Suti Semarang 67,03 Suti Semarang 280,84
12. Lumar 16,94 Lumar 275,21
13. Sanggau Ledo 49,60 Sanggau Ledo 392,50
14. Tujuh Belas 61,60 Pisak 221,00
15. Seluas 76,08 Seluas 506,50
16. Jagoi Babang 89,96 Jagoi 655,00
17. Siding 103,68 Siding 563,30
Total 5 396,30
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang
Dilihat dari luas masing-masing kecamatan, Jagoi Babang merupakan kecamatan yang paling luas di Kabupaten Bengkayang dengan cakupan wilayah sebesar 655 km2 atau sekitar 12,14 persen dari luas Kabupaten Bengkayang keseluruhan sedangkan kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Kecamatan Capkala dengan luas wilayah sebesar 46,35 km2 atau hanya sekitar 0,86 persen dari total luas Kabupaten Bengkayang.
Monte rado
Le do
Sanggau Le do Se luas
Jagoi Babang C apkala
Siding
S. Raya Ke p.Le mbah Bawang Sungai RayaSamalantan
Te riak Tujuh Be las
Suti Se marang Be ngkayang Lumar
Sungai Be tung
Dilihat dari jarak tempuh terjauh dari ibukota kecamatan ke ibukota kabupaten di Kabupaten Bengkayang, Kecamatan Siding adalah kecamatan dengan jarak tempuh terjauh ke ibukota kabupaten, yaitu sekitar 103,68 km, kemudian disusul oleh Kecamatan Jagoi Babang dengan jarak tempuh 89,96 km, dan Kecamatan Sungai Raya dengan jarak tempuh 89,56 km.
2.2. Sejarah
Kabupaten Bengkayang pada masa penjajahan Belanda merupakan bagian dari wilayah Afdeling Van Singkawang. Pada waktu itu, dilakukan pembagian wilayah Afdeling administrasi yang daerah hukumnya meliputi:
Onder Afdeling Singkawang, Bengkayang, Pemangkat, dan Sambas (daerah Kesultanan Sambas)
Daerah Kerajaan/Penembahan Mempawah
Daerah Kerajaan Pontianak yang sebagian daerahnya adalah Mandor.
Grafik 2.1.1. Persentase Luas Kabupaten Bengkayang
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang
Tabel 2.2. Sejarah Pemekaran Kecamatan di Kabupaten Bengkayang
Tahun
1999 2001 2002 2003 2004 2006
Keterangan
1. Sungai Raya
1. Sungai Raya
1. Sungai
Raya 2. Sungai Raya Kepulauan
Perda No. 7 Tahun 2006 1. Sungai Raya 1. Sungai Raya 1. Sungai Raya
2. Capkala 2. Capkala 3. Capkala Perda No. 25 Tahun 2003 2. Tujuh Belas
3. Roban 4. Pasiran
Menjadi Wilayah Kota Singkawang
UU No. 12 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Kota Singkawang
4. Samalantan
2. Samalantan 2. Samalantan 3. Samalantan 3. Samalantan 5. Lembah Bawang
Perda No. 12 Tahun 2006 5. Samalantan
3. Monterado 3. Monterado 4. Monterado 4. Monterado 6. Monterado Perda No. 4 Tahun 2001 5. Bengkayang 7. Bengkayang 4. Bengkayang 4. Bengkayang 5. Bengkayang 6. Sungai
Betung 8. Sungai Betung Perda No. 5 Tahun 2004 6. Bengkayang
5. Teriak 5. Teriak 6. Teriak 7. Teriak 9. Teriak Perda No. 4 Tahun 2001
8. Ledo 10. Ledo
6. Ledo 7. Ledo
9. Lumar 11. Lumar Perda No. 4 Tahun 2004 7. Ledo 6. Ledo
7. Suti Semarang
8. Suti Semarang
10. Suti
Semarang 12. Suti Semarang Perda No. 15 Tahun 2002
13. Sanggau Ledo
8. Sanggau Ledo
7. Sanggau Ledo
8. Sanggau Ledo
9. Sanggau Ledo
11. Sanggau
Ledo 14. Tujuh Belas Perda No. 8 Tahun 2006 9. Seluas 8. Seluas 9. Seluas 10. Seluas 12. Seluas 15. Seluas
11. Jagoi Babang
13. Jagoi
Babang 16. Jagoi Babang
10. Jagoi Babang
9. Jagoi Babang
10. Jagoi Babang
12. Siding 14. Siding 17. Siding Perda No. 26 Tahun 2003 Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang
Setelah Perang Dunia II berakhir, daerah tersebut dibagi menjadi daerah otonom Kabupaten Sambas yang beribukota di Singkawang. Kabupaten Sambas ini membawahi 4 (empat) kawedanan, yaitu:
Kawedanan Singkawang
Kawedanan Pemangkat
Kawedanan Sambas
Kawedanan Bengkayang
Pada masa pemerintahan RI, menurut Undang-undang No. 27 tahun 1959 tentang penetapan Undang-undang Darurat No. 3 tahun 1953 mengenai pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Barat (LNRI Nomor 72 tahun 1959, tambahan LNRI Nomor 1980), terbentuklah Kabupaten Sambas. Wilayah pemerintahan Kabupaten Sambas ini mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bengkayang sekarang.
Dengan terbitnya Undang-undang Nomor 10 tahun 1999 tentang pembentukan Daerah Tingkat II Bengkayang, secara resmi mulai tanggal 20 April 1999, Kabupaten Bengkayang terpisah dari Kabupaten Sambas. Pada waktu itu, wilayah Kabupaten Bengkayang ini meliputi 10 kecamatan, yaitu: Kecamatan Sungai Raya, Tujuh Belas, Pasiran, Roban, Samalantan, Bengkayang, Ledo, Sanggau Ledo, Seluas, dan Jagoi Babang.
Keberadaan Undang-undang Nomor 12 tahun 2001 tentang pembentukan Pemerintahan Kota Singkawang mengakibatkan Kabupaten Bengkayang dimekarkan kembali, yaitu dengan melepas 3 kecamatannya yang masuk ke dalam wilayah pemerintahan Kota Singkawang sehingga tinggal menjadi 7 kecamatan. Kecamatan yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bengkayang setelah adanya pemekaran Kota Singkawang tersebut adalah Kecamatan Sungai Raya, Samalantan, Bengkayang, Ledo, Sanggau Ledo, Seluas, dan Jagoi
Babang sedangkan kecamatan yang masuk dalam wilayah Kota Singkawang adalah Kecamatan Tujuh Belas, Roban, dan Pasiran.
Pada tahun 2002, kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkayang kembali bertambah menjadi 10 kecamatan dengan pembentukan 3 kecamatan baru, yaitu: Kecamatan Monterado, Teriak, dan Suti Semarang. Kecamatan Monterado merupakan pemekaran dari Kecamatan Samalantan, Kecamatan Teriak merupakan pemekaran dari Kecamatan Bengkayang, dan Kecamatan Suti Semarang merupakan pemekaran dari Kecamatan Ledo.
Pada awal tahun 2004, dari 10 kecamatan yang ada, Kabupaten Bengkayang dimekarkan lagi menjadi 14 kecamatan dengan 4 kecamatan barunya, yaitu: Kecamatan Capkala, Sungai Betung, Lumar, dan Siding. Kecamatan Capkala merupakan pemekaran dari Kecamatan Sungai Raya, Kecamatan Sungai Betung merupakan pemekaran dari Kecamatan Bengkayang, Kecamatan Lumar merupakan pemekaran dari Kecamatan Ledo, dan Kecamatan Siding merupakan pemekaran dari Kecamatan Jagoi Babang.
Pada pertengahan tahun 2006, Kabupaten Bengkayang memekarkan kembali jumlah kecamatan ada menjadi 17 kecamatan dengan penambahan 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Lembah Bawang, dan Tujuh Belas. Kecamatan Sungai Raya Kepulauan merupakan pemekaran dari Kecamatan Sungai Raya, Kecamatan Lembah Bawang merupakan pemekaran dari Kecamatan Samalantan, dan Kecamatan Tujuh Belas merupakan pemekaran dari Kecamatan Sanggau Ledo.
2.3. Sosial Budaya
Penduduk Kabupaten Bengkayang terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan adat istiadat. Keberagaman latar belakang budaya dan adat istiadat tersebut lahir dari penduduknya yang mempunyai beraneka ragam suku. Berbagai suku tersebut antara lain
adalah suku Dayak, Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Ambon, dan lain sebagainya. Namun demikian, penduduk asli Kabupaten Bengkayang adalah berasal dari suku Dayak dan Melayu sedangkan suku lain merupakan pendatang atau perantau yang berasal dari berbagai wilayah di seluruh nusantara yang datang untuk berbagai tujuan, baik untuk mencari nafkah maupun tujuan khusus lainnya. Pada umumnya, kebanyakan penduduk asli Kabupaten Bengkayang yang berasal dari suku Dayak tinggal di daerah dataran tinggi atau pedalaman sedangkan penduduk yang berasal dari suku Melayu dan suku-suku pendatang lainnya kebanyakan tinggal di daerah dataran rendah atau pesisir.
Selain terdiri dari beraneka ragam suku, penduduk Kabupaten Bengkayang juga terdiri dari bermacam-macam agama, yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, bahkan Konghucu. Hal ini sesuai dengan salah satu butir penting yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Negara menjamin kehidupan beragama dan senantiasa mengembangkan kerukunan antar umat beragama dan kepercayaan.
Sarana dan prasarana ibadah yang ada pada tahun 2006 tercatat, yaitu Masjid sebanyak 146 unit, Surau sebanyak 118 unit, Gereja Katolik sebanyak 146 unit, Gereja Protestan sebanyak 321 unit, Pura sebanyak 2 unit, Vihara sebanyak 4 unit, dan kelenteng sebanyak 37 unit yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkayang.
BAB III DEMOGRAFI
Penduduk pada dasarnya adalah modal dasar pembangunan yang paling penting dan secara tegas digariskan dalam GBHN. Suatu wilayah yang memiliki jumlah penduduk besar berarti memiliki aset potensial yang berguna dalam mendukung percepatan roda pembangunan. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang besar tersebut mengindikasikan jumlah angkatan kerja yang tersedia juga dalam jumlah yang besar apalagi jika didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai. Akan tetapi, jika sumber daya penduduk tersebut tidak berkualitas maka penduduk tersebut justru akan menjadi penghambat bagi pembangunan itu sendiri. Mengingat peran dan fungsi tersebut, pembangunan di bidang kependudukan selalu mendapat perhatian utama dalam setiap tahapan pembangunan.
Penduduk memiliki peran ganda dalam pembangunan baik sebagai subyek maupun obyek pembangunan. Hal ini dikarenakan penduduk juga merupakan pelaku pembangunan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan penduduk itu sendiri. Dengan demikian, penduduk yang dimaksud tidak lagi hanya sebagai obyek melainkan juga sekaligus memposisikan diri sebagai subyek pembangunan wilayah.
Peran dan fungsi penduduk sangat strategis dalam dinamika pembangunan di berbagai bidang baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Oleh karena itu, pembangunan bidang kependudukan selalu mendapat tempat utama pada tiap lini tahapan pembangunan. Selain itu, akhir dari setiap tujuan pembangunan adalah meningkatkan mutu penduduk secara utuh dan menyeluruh yang biasanya diawali dengan perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Dipandang dari sisi jumlah, pertambahan penduduk di suatu wilayah akan membawa dampak yang sangat menguntungkan bagi ketersediaan angkatan kerja. Pada sisi lain, penambahan angkatan kerja menuntut perluasan kesempatan kerja. Jika antara keduanya tidak
seimbang maka akan menimbulkan dampak negatif, yaitu lonjakan angka pengangguran (unemployment).
3.1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Tabel 3.1 Luas Wilayah, Jumlah, dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Kecamatan Luas Wilayah
(Km2)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Kepadatan (Jiwa per Km2)
(1) (2) (3) (4)
1. Sungai Raya 75,85 19 728 260
2. Capkala 46,35 7 373 159
3. Sungai Raya Kepulauan 394,00 23 120 59
4. Samalantan 420,50 16 367 39
5. Monterado 291,00 24 938 86
6. Lembah Bawang 188,00 4 678 25
7. Bengkayang 167,04 18 536 111
8. Teriak 231,51 12 127 52
9. Sungai Betung 205,95 8 817 43
10. L e d o 481,75 14 255 30
11. Suti Semarang 280,84 4 820 17
12. Lumar 275,21 5 918 22
13. Sanggau Ledo 392,50 11 218 29
14. Tujuh Belas 221,00 11 339 51
15. Seluas 506,50 14 346 28
16. Jagoi Babang 655,00 7 163 11
17. Siding 563,30 7 140 13
Jumlah 5 396,30 211 883 39
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, Proyeksi Penduduk
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk Kabupaten Bengkayang pada tahun 2006 adalah sebesar 211.883 jiwa. Bila dirinci menurut kecamatan maka
Kecamatan Lembah Bawang merupakan kecamatan yang paling sedikit penduduknya sedangkan Kecamatan Monterado merupakan kecamatan yang paling banyak penduduknya.
Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Bengkayang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu. Dilihat dari kepadatan penduduknya, kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Sungai Raya sedangkan kecamatan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Jagoi Babang.
Tabel 3.2 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Bengkayang
Kecamatan 1990 - 2000 2000 - 2006
(1) (2) (3)
1. Sungai Raya -0,66 2,38
2. Capkala 0,24 2,75
3. Sungai Raya Kepulauan -1,36 3,79
4. Samalantan 0,83 3,12
5. Monterado 0,20 2,93
6. Lembah Bawang 0,31 3,18
7. Bengkayang 0,84 3,28
8. Teriak 0,70 3,08
9. Sungai Betung 1,48 2,82
10. L e d o 6,17 3,32
11. Suti Semarang 1,54 3,42
12. Lumar 0,45 3,37
13. Sanggau Ledo -0,20 2,90
14. Tujuh Belas 1,68 2,63
15. Seluas 1,98 3,32
16. Jagoi Babang 4,78 3,01
17. Siding 1,95 2,91
Jumlah 0,80 3,08
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, Proyeksi Penduduk
Tingginya kepadatan penduduk suatu wilayah akan menimbulkan banyak permasalahan. Salah satunya adalah masalah pemenuhan kebutuhan perumahan akibat luas lahan yang terbatas. Selain itu, tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi juga akan menimbulkan kerawanan terhadap terjadinya konflik sosial masyarakat.
Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Bengkayang yang dihitung dengan metode geometrik selama kurun waktu 16 tahun terakhir terlihat berfluktuasi. Dalam kurun waktu 1990- 2000, laju pertumbuhan penduduk per tahun rata-rata hanya mencapai 0,8 persen sedangkan dalam kurun waktu 2000-2006, laju pertumbuhan penduduk rata-rata hanya mencapai 3,08 persen. Rendahnya laju pertumbuhan penduduk dalam kurun waktu 1990-2000 tersebut diperkirakan terjadi karena banyaknya penduduk yang berpindah keluar wilayah kabupaten yang diakibatkan oleh adanya konflik antar suku yang sering terjadi antara tahun 1990-2000 dan puncak konfliknya terjadi pada tahun 1997-1999 yang lalu. Namun demikian, laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi terjadi di Kecamatan Ledo dan Jagoi Babang. Hal ini dipengaruhi oleh adanya program transmigrasi yang masuk pada kedua kecamatan tersebut yang sebagian besar terjadi antara tahun 1990-2000.
3.2. Komposisi Penduduk
Selain jumlah, kepadatan, dan pertumbuhan penduduk, hal lain yang perlu diketahui adalah komposisi penduduk. Komposisi penduduk dapat dibagi menurut umur dan jenis kelamin. Struktur umur penduduk sangat penting untuk menjadi dasar perencanaan pemerintah dalam segala bidang pembangunan termasuk dalam bidang bisnis. Pengetahuan mengenai struktur umur penduduk di suatu wilayah diharapkan dapat menjadi dasar acuan agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan kebijakan.
Kebutuhan akan suatu pelayanan juga bervariasi sepanjang siklus kehidupan menurut struktur umur yang ada. Salah satu contoh misalnya jika penduduk suatu wilayah
banyak yang termasuk dalam kelompok umur balita makan kebutuhan akan fasilitas kesehatan balita dan peningkatan gizi akan menjadi hal yang sangat penting. Namun sebaliknya, jika penduduk yang ada banyak yang termasuk dalam kelompok umur lanjut usia (lansia) maka yang menjadi masalah penting adalah penyediaan sarana kesehatan yang bersifat perawatan penyakit kronis. Contoh lain adalah misalnya jika suatu wilayah memiliki jumlah penduduk berusia sekolah dasar yang cukup besar maka pembangunan akan dapat lebih dikonsentrasikan untuk membangun sarana dan prasarana untuk pendidikan sekolah dasar sehingga tidak lagi salah sasaran, misalnya dengan membangun sarana dan prasarana untuk pendidikan tingkat lanjutan.
Struktur umur penduduk Kabupaten Bengkayang mulai mengalami pergeseran ke level yang lebih tinggi dengan terjadinya transisi struktur umur penduduk muda ke intermediate karena median umur penduduk Kabupaten Bengkayang yang sebesar 20,19. Pada tahun 2006, persentase penduduk usia anak-anak dan remaja (di bawah 20 tahun) adalah sebesar 48,68 persen dengan pembagian sebesar 24,84 persen penduduk usia remaja anak-anak dan remaja berjenis kelamin laki-laki dan sebesar 23,84 persen berjenis kelamin perempuan dari total
- 2 0 0 0 0 - 1 5 0 0 0 - 1 0 0 0 0 - 5 0 0 0 0 5 0 0 0 1 0 0 0 0 1 5 0 0 0 2 0 0 0 0
0 - 4 5 - 9 1 0 - 1 4 1 5 - 1 9 2 0 - 2 4 2 5 - 2 9 3 0 - 3 4 3 5 - 3 9 4 0 - 4 4 4 5 - 4 9 5 0 - 5 4 5 5 - 5 9 6 0 - 6 4 6 5 - 6 9 7 0 - 7 4 7 5 +
P e r e m p u a n L a k i - l a k i Grafik 2.2.3.
Piramida Penduduk Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
jumlah penduduk Kabupaten Bengkayang. Dengan demikian, diketahui bahwa pada usia tersebut perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan dapat dikatakan hampir berimbang. Selanjutnya, persentase penduduk lanjut usia atau lansia (usia 65 tahun ke atas) pada tahun 2006 adalah sebesar 2,7 persen dari total jumlah penduduk.
Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Kelompok Umur Laki-laki
(Jiwa)
Perempuan (Jiwa)
Jumlah (Jiwa)
(1) (2) (3) (4)
0 – 4 17 851 17 224 35 075
5 – 9 12 859 12 423 25 282
10 – 14 10 519 10 185 20 704
15 – 19 11 404 10 684 22 088
20 – 24 10 435 9 684 20 119
25 – 29 8 698 8 336 17 034
30 – 34 7 615 7 271 14 886
35 – 39 6 749 6 185 12 934
40 – 44 5 809 5 477 11 286
45 – 49 4 904 4 735 9 639
50 – 54 3 943 3 638 7 581
55 – 59 3 006 2 569 5 575
60 – 64 2 200 1 761 3 961
65 – 69 1 476 1 191 2 667
70 – 74 859 730 1 589
75 + 782 681 1 463
Jumlah 109 109 102 774 211 883
Tahun 2005 106 104 99 773 205 877
2004 103 083 96 576 199 659
2003 100 155 93 498 193 653
2002 97 298 90 508 187 806
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, Proyeksi Penduduk
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan, Jenis Kelamin, dan Rasio di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Kecamatan Laki-laki
(Jiwa)
Perempuan (Jiwa)
Jumlah (Jiwa)
Rasio Jenis Kelamin
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Sungai Raya 10 063 9 665 19 728 104
2. Capkala 3 840 3 533 7 373 109
3. Sungai Raya Kepulauan 11 787 11 333 23 120 104
4. Samalantan 8 517 7 850 16 367 108
5. Monterado 12 965 11 973 24 938 108
6. Lembah Bawang 2 415 2 263 4 678 107
7. Bengkayang 9 497 9 039 18 536 105
8. Teriak 6 234 5 893 12 127 106
9. Sungai Betung 4 610 4 207 8 817 110
10. L e d o 7 341 6 914 14 255 106
11. Suti Semarang 2 479 2 341 4 820 106
12. Lumar 3 065 2 853 5 918 107
13. Sanggau Ledo 5 754 5 464 11 218 105
14. Tujuh Belas 5 865 5 474 11 339 107
15. Seluas 7 387 6 959 14 346 106
16. Jagoi Babang 3 662 3 501 7 163 105
17. Siding 3 628 3 512 7 140 103
Jumlah 109 109 102 774 211 883 106
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang,Proyeksi Penduduk
Rasio jenis kelamin (sex ratio) merupakan angka perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap setiap 100 penduduk perempuan. Angka rasio jenis kelamin yang lebih dari 100 berarti jumlah penduduk laki-laki lebih besar daripada perempuan. Secara umum, angka rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Bengkayang adalah 106. Hal ini berarti bahwa dari setiap penduduk perempuan Kabupaten Bengkayang, terdapat 106 penduduk laki-laki. Bila diamati masing-masing wilayah kecamatan maka terlihat bahwa pada tahun 2006, Kecamatan Sungai Betung memiliki angka rasio jenis kelamin yang paling tinggi, yaitu 110 sedangkan Kecamatan Siding memiliki rasio jenis kelamin yang paling rendah, yaitu 103.
Tabel 3.5 Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Jenis Kelamin Dependency Ratio
Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4)
Anak-anak 32,96 31,84 64,80
Lansia 2,49 2,08 4,57
Jumlah 35,45 33,92 69,37
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, Proyeksi Penduduk
Komposisi umur penduduk suatu wilayah juga dapat dihubungkan dengan Dependency Ratio (DR) atau Angka Ketergantungan. Dependency ratio secara umum dapat menggambarkan beban tanggungan ekonomi kelompok usia produktif (15-64 tahun) terhadap kelompok usia muda (kurang dari 15 tahun) dan usia tua (65 tahun ke atas). Semakin kecil dependency ratio, semakin kecil pula beban kelompok usia produktif untuk menanggung penduduk usia tidak produktif dan sebaliknya.
Secara umum, angka beban ketergantungan Kabupaten Bengkayang masih cukup tinggi, yaitu sebesar 69,37 pada tahun 2006. Besarnya angka beban tanggungan tersebut berarti dari 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) harus menanggung 69 penduduk usia non produktif baik itu anak-anak (0-14 tahun) maupun lansia (65 tahun keatas). Secara rinci, angka beban ketergantungan anak jauh lebih besar dibanding dengan angka ketergantungan lansia (lanjut usia), yaitu sebesar 64,8 dibanding dengan 4,57. Hal ini berarti bahwa angka beban tanggungan untuk anak adalah yang paling berperan dalam tingginya angka beban tanggungan secara total. Dengan demikian, diketahui bahwa penduduk Kabupaten Bengkayang sebagian besar adalah kelompok usia muda yang belum produktif dan belum dapat aktif secara ekonomi.
Dilihat menurut jenis kelamin, angka beban tanggungan laki-laki lebih besar daripada perempuan, baik untuk angka beban tanggungan lansia maupun angka beban tanggungan anak. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk laki-laki yang secara total yang memang lebih banyak dibanding dengan penduduk perempuan.
Tabel 3.6 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kelamin dan Status Perkawinan di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Jenis Kelamin Status Perkawinan
Laki-laki Perempuan Total
(1) (2) (3) (4)
Belum Kawin 49,17 38,16 43,98
Kawin 48,52 54,15 51,17
Cerai Hidup 0,24 1,52 0,85
Cerai Mati 2,07 6,17 4,00
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, diolah dari Susenas 2006
Status perkawinan merupakan salah indikator yang dapat menunjukkan pola kelahiran atau fertilitas dan kelanggengan rumah tangga. Dilihat menurut status perkawinannya, persentase penduduk Kabupaten Bengkayang yang berstatus belum kawin adalah sebesar 43,98 persen, yang berstatus kawin sebesar 51,17 persen, cerai hidup sebesar 0,85 persen, dan cerai mati sebesar 4 persen.
Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa penduduk yang berstatus cerai hidup cukup kecil. Dengan demikian, tergambar bahwa kesadaran penduduk dalam membina rumah tangga telah mantap dan stabil. Dilihat menurut jenis kelaminnya, persentase penduduk perempuan yang berstatus cerai mati lebih tinggi dibanding dengan laki-lakinya. Hal ini dapat menjadi indikator bahwa rata-rata usia harapan hidup penduduk perempuan relatif lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki.
3.3. Rasio Anak dan Wanita (Child Woman Ratio/CWR)
Rasio anak dan wanita adalah hubungan dalam bentuk rasio antara jumlah anak (usia 0-4 tahun) dengan jumlah penduduk wanita usia produktif (15-49 tahun). Pada tahun 2006, besarnya rasio anak dan wanita di Kabupaten Bengkayang adalah sebesar 670. Hal ini berarti bahwa di antara 1000 wanita usia produktif terdapat 670 anak. Angka ini mengindikasikan tingkat fertilitas yang masih cukup tinggi karena masih besarnya jumlah anak balita.
3.4. Rata-rata Umur Kawin Pertama
Umur kawin pertama merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fertilitas.
Syarifuddin (1993) mengemukakan bahwa umur kawin pertama mempunyai korelasi negatif dengan tingkat fertilitas seorang perempuan. Artinya semakin tua umur kawin pertama seorang perempuan, semakin sedikit pula jumlah anak yang akan dilahirkannya. Hal ini terjadi karena semakin tinggi umur kawin pertama seorang perempuan, semakin pendek pula usia suburnya dan pada akhirnya, akan menurunkan tingkat fertilitas perempuan tersebut.
Tabel 3.9 Persentase Wanita Umur 10 Tahun ke Atas Yang Pernah Kawin Menurut Golongan Umur Kawin Pertama di Kabupaten Bengkayang
Tahun 2006
Golongan Umur Kawin Pertama Persentase
(1) (2)
15 ke Bawah 4,20
16 5,05
17-18 27,53
19-24 50,77
25 ke Atas 12,45
Jumlah 100,00
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, diolah dari Susenas 2006
Dari data yang ada, terlihat umur kawin pertama sebagian besar wanita yang ada di Kabupaten Bengkayang pada tahun 2006 adalah antara umur 19-24. Persentase wanita 10 tahun ke atas yang pernah kawin menurut kelompok umur kawin pertama dari yang terbesar adalah kelompok umur 19-24 tahun sebesar 50,77 persen, kelompok umur 17-18 tahun sebesar 27,53 persen, kelompok umur 25 tahun ke atas sebesar 12,46 persen, kelompok umur 16 tahun sebesar 5,05, dan kelompok umur 15 tahun ke bawah sebesar 4,20 persen.
Perkawinan di usia muda cenderung memiliki banyak kendala. Dilihat dari sisi pendidikan, dengan melangsungkan perkawinan di usia muda, tingkat pendidikan yang ditamatkan cenderung akan semakin rendah. Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki berdampak pada kurangnya pengetahuan ibu dalam hal merawat anak dan mengatur keluarga.
Selain itu, dari sudut kesehatan reproduksi, wanita yang kawin di usia muda, proses reproduksi belum benar-benar matang sehingga lebih rentan kesehatannya jika mempunyai anak. Pada akhirnya, kedua hal tersebut diatas akan menyebabkan semakin tingginya resiko ibu meninggal pada saat melahirkan atau tingginya resiko kematian anak.
3.5. Jumlah Anak Lahir Hidup
Kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan salah satu hal yang dianggap penting. Dari sisi emosional, anak dianggap penting karena dapat membawa kebahagiaan dan kegembiraan bagi keluarga itu sendiri. Selain itu, kehadiran atau keberadaan anak dalam sebuah keluarga berarti kelanjutan keluarga tersebut dimasa yang akan datang tidak hilang atau dengan kata lain, anak mempunyai peran penting dalam meneruskan garis keturunan.
Banyaknya anak dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh norma-norma yang ada dan dianut oleh suatu masyarakat. Sebagai contoh, adanya pandangan “banyak anak banyak rejeki”
yang masih dianut oleh sebagian masyarakat. Anak juga dipandang sebagai barang modal oleh
sebagian masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Anak yang banyak berarti lahan pertanian yang dimiki akan digarap oleh anak-anaknya sendiri sehingga keluarga tersebut tidak perlu keluar biaya untuk mempayar pekerja lagi. Preferensi jenis kelamin anak juga mempunyai peran penting dalam masyararakat tertentu. Sebagai contoh, sebuah keluarga akan terus menambah anaknya jika belum dapat anak laki-laki karena hanya anak laki-laki dianggap mampu menjadi penerus keluarga.
Tabel 3.10 Persentase Wanita Umur 10 Tahun ke Atas Yang Pernah Kawin Menurut Jumlah Anak Lahir Hidup di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Jumlah Anak Lahir Hidup Persentase
(1) (2)
0 5,10
1 16,41
2 21,21
3 20,62
4 12,83
5 8,43
6 5,57
7 4,41
8 2,56
9 1,42
10+ 1,44
Jumlah 100,00
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, diolah dari Susenas 2006
Dengan adanya program Keluarga Berencana (KB) mulai awal tahun 1970-an, terbukti pandangan masyarakat tentang pandangan banyak anak banyak rejeki mulai luntur dan digantikan menjadi keluaga kecil bahagia sejahtera. Diharapkan dengan jumlah anak yang tidak terlalu banyak, kebutuhan anak dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu, orang tua dapat mengikuti perkembangan fisik dan psikologis anaknya lebih optimal. Tujuan akhir program KB
ini adalah diharapkan akan menghasilkan sumber daya manusia yang lebih baik dan lebih handal dalam segala bidang di masa mendatang.
Jumlah anak yang dilahirkan hidup pada wanita pernah kawin usia 10 tahun ke atas di Kabupaten Bengkayang ternyata masih cukup tinggi. Terlihat bahwa persentase wanita yang pernah kawin dan memiliki 5 atau lebih adalah sebesar 23,82 persen. Namun demikian, jika dilakukan perbandingan antara wanita yang memiliki jumlah anak kurang atau sama dengan empat orang dan yang lima orang atau lebih maka persentasenya masih lebih banyak keluarga yang jumlah anak lahir hidupnya kurang atau sama dengan empat. Dari data jumlah anak lahir hidup diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kelahiran di Kabupaten Bengkayang masih cukup tinggi.
3.6. Jumlah Anak Masih Hidup
Tabel 3.11 Persentase Wanita Umur 10 Tahun ke Atas Yang Pernah Kawin Menurut Jumlah Anak Masih Hidup di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Jumlah Anak Masih Hidup Persentase
(1) (2)
0 5,89
1 17,14
2 21,17
3 21,30
4 12,28
5 8,82
6 5,97
7 3,07
8 2,67
9 0,89
10+ 0,80
Jumlah 100,00
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, diolah dari Susenas 2006
Data jumlah anak yang masih hidup merupakan salah satu indikator penting dalam kependudukan. Dari data ini, dapat diketahui tingkat kematian, derajat kesehatan masyarakat, pemenuhan gizi, dan penyediaan prasarana kesehatan dalam masyarakat.
Persentase jumlah anak yang masih hidup di Kabupaten Bengkayang menurut data Susenas tahun 2006 cukup bagus. Dari wanita pernah kawin berusia 10 tahun ke atas yang mempunyai anak lebih dari dua orang, sebesar 55,79 persen anak yang dilahirkan masih hidup sampai sekarang. Hal ini berarti bahwa ketersediaan fasilitas kesehatan, pemenuhan gizi masyarakat, dan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Bengkayang pada tahun 2006 sudah cukup baik.
BAB IV PENDIDIKAN
Salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat adalah indikator pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan masyarakat karena sangat berperan dalam meningkatkan kualitas hidup.
Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu masyarakat, semakin baik pula kualitas sumber dayanya. Pengalaman menunjukkan bahwa kebodohan dan kemiskinan bagaikan dua sisi mata uang yang saling terkait. Kebodohan dapat menjadi sumber kemiskinan dan kemiskinan dapat menjadi sumber kebodohan. Pada dasarnya, pendidikan adalah upaya sadar seseorang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta memperluas wawasan. Pendidikan juga merupakan proses pemberdayaan peserta didik sebagai subyek sekaligus obyek dalam pembangunan yang lebih baik.
Mengingat pendidikan sangat berperan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia maka pembangunan di bidang pendidikan dilaksanakan melalui pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan yang diupayakan diharapkan merupakan pendidikan yang berkualitas dengan sistem pengelolaan yang efisien. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang menghasilkan manusia terdidik yang bermutu dan handal sesuai kebutuhan jaman sedangkan yang dimaksud dengan efisiensi pengelolaan pendidikan adalah pendidikan yang diselenggarakan diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna.
Pendidikan di Indonesia diselenggarakan sesuai dengan sistem pendidikan nasional yang ditetapkan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 sebagai pengganti Undang-undang No. 2 Tahun 1989 yang tidak memadai lagi serta perlu disempurnakan sesuai amanat perubahan UUD 1945. Pendidikan nasional adalah pendidikan berdasarkan UUD dan Pancasila yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional. Sisdiknas tersebut dimaksudkan sebagai arah dan strategi pembangunan nasional di bidang pendidikan.
Strategi pembangunan pendidikan dijabarkan melalui empat sendi pokok, yaitu pemerataan kesempatan, relevansi pendidikan dengan pembangunan, kualitas pendidikan, dan efisiensi pengelolaan. Pemerataan kesempatan pendidikan diupayakan melalui penyediaan sarana dan prasarana belajar seperti gedung sekolah baru dan penambahan tenaga pengajar mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Relevansi pendidikan merupakan konsep “Link dan Match”, yaitu pendekatan atau strategi meningkatkan relevansi sistem pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja.
Upaya perbaikan pendidikan di Indonesia telah dilaksanakan pemerintah secara bertahap sejak tahun 1994. Mulai tahun tersebut, pemerintah mulai melaksanakan program wajib belajar 6 tahun yang dilanjutkan dengan program wajib belajar 9 tahun. Dengan semakin lamanya usia wajib belajar ini, diharapkan tingkat pendidikan masyarakat semakin membaik.
Bersamaan dengan itu, pembangunan sarana fisik dan prasarana pendidikan juga terus dipacu sehingga penduduk usia sekolah dapat semakin mudah mengakses fasilitas pendidikan yang ada.
Peningkatan kualitas masyarakat tentunya tidak hanya terbatas pada golongan usia sekolah saja tetapi diharapkan dapat mencakup golongan usia menengah keatas. Wujud dari penerapan tujuan tersebut antara lain dengan dilaksanakannya program Kejar Paket A dan Kejar Paket B. Dengan adanya program ini, diharapkan kelompok penduduk yang tidak masuk dalam usia sekolah dapat mengambil kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dasar dan menengah.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang sendiri telah melakukan berbagai upaya dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan maupun penyediaan fasilitas pendidikan yang ada. Hal
ini seiring dengan adanya program wajib belajar 9 tahun yang semakin memacu pemerintah daerah dalam meningkatkan kulitas pendidikan yang ada. Diharapkan upaya yang ada ini dapat mengarah pada perbaikan pendidikan penduduk.
4.1. Angka Partisipasi Kasar
Indikator ini digunakan untuk mengukur proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.
Angka partisipasi kasar dapat memberikan gambaran tentang banyaknya anak yang menerima pendidikan pada jenjang tertentu.
Tabel 4.1 Angka Partisipasi Kasar Penduduk Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Jenjang Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4)
SD 95,60 96,79 96,16
SLTP 63,08 67,98 65,32
SLTA 50,35 54,19 52,00
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, diolah dari Susenas 2006
Berdasarkan hasil Susenas 2006, pada jenjang pendidikan sekolah dasar, angka partisipasi kasar (APK) Kabupaten Bengkayang adalah sebesar 96 yang artinya bahwa pada tahun 2006 terdapat sebanyak 96 murid sekolah dasar dari 100 penduduk usia 7-12 tahun.
Dilihat menurut jenis kelamin, angka partisipasi kasar perempuan lebih tinggi dibandingkan laki- laki. Angka partisipasi kasar untuk tingkat sekolah menengah pertama pada tahun yang sama adalah sebesar 65 yang artinya dari 100 penduduk usia 13-15 tahun, ditemui 65 yang berstatus murid SLTP. Selanjutnya, angka partisipasi kasar untuk tingkat sekolah menengah atas adalah sebesar 52 pada tahun 2006 yang artinya pada tahun 2006, dari 100 penduduk usia 16-18 tahun, terdapat 52 orang yang berstatus sebagai murid SLTA. Jika dilihat menurut jenis
kelamin, angka partisipasi kasar pada jenjang sekolah menengah baik menengah pertama maupun menengah atas angkanya lebih besar perempuan dibandingkan dengan laki-laki.
Angka partisipasi kasar laki-laki lebih rendah dibandingkan perempuan di semua tingkat pendidikan mengindikasikan bahwa partisipasi sekolah perempuan di semua tingkat masih lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Faktor yang dimungkinkan menjadi penyebabnya adalah untuk anak-laki-laki setelah tamat SD cenderung untuk bekerja membantu orang tua, apalagi sebagian besar masyarakat Kabupaten Bengkayang bekerja di sektor pertanian yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Namun demikian perlu dikaji lebih dalam penyebab adanya tren penurunan partisipasi sekolah ini lebih lanjut.
Adanya pola angka partisipasi kasar yang semakin rendah seiring dengan semakin tingginya jenjang pendidikan salah satunya dipengaruhi oleh masih kurangnya kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan. Selain itu, kondisi sosial ekonomi yang serba pas- pasan dan rata-rata jumlah anggota keluarga yang masih relatif banyak mendorong pendidikan yang dimiliki masih relatif rendah. Dengan kata lain, semakin sedikit penduduk yang mengenyam pendidikan seiring dengan semakin tinggi jenjang pendidikannya.
4.2. Angka Partisipasi Murni
Angka partisipasi murni menunjukkan proporsi anak sekolah pada satu kelompok umur tertentu yang bersekolah pada tingkat yang sesuai dengan kelompok umurnya. Angka partisipasi murni akan selalu lebih rendah dibandingkan angka partisipasi kasar karena pembilangnya lebih kecil sementara penyebutnya sama. Angka partisipasi murni membatasi usia murid sesuai dengan usia sekolah dan jenjang pendidikannya sehingga angkanya lebih kecil. Indikator angka partisipasi murni dapat memberikan gambaran yang lebih baik daripada angka partisipasi kasar karena indikator ini memberikan gambaran kekonsistenan antara umur penduduk dengan pendidikan yang disarankan untuk usia yang bersangkutan.
Tabel 4.2 Angka Partisipasi Murni Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Bengkayang Tahun 2006
Jenjang Pendidikan Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4)
SD 94,24 96,10 95,12
SLTP 60,63 61,44 61,00
SLTA 38,57 40,97 39,60
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang, diolah dari Susenas 2006
Pada tahun 2006, pada jenjang pendidikan sekolah dasar, angka partisipasi murni di Kabupaten Bengkayang sebesar 95,12 persen. Hal ini berarti bahwa dari 100 penduduk usia 7- 12 tahun, sebanyak 95 orang sudah mengikuti pendidikan sekolah dasar sesuai dengan jenjang pendidikan yang seharusnya dijalani pada umur tersebut. Untuk jenjang pendidikan sekolah menengah pertama, angka partisipasi murni jenjang tersebut pada tahun 2006 adalah sebesar 61,00 persen. Angka ini berarti bahwa pada tahun 2006, dari 100 penduduk usia 13-15 tahun, ada sebanyak 61 orang yang sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan yang seharusnya dijalani, yaitu sekolah menengah pertama. Selanjutnya, angka partisipasi murni pada jenjang pendidikan sekolah menengah atas pada tahun 2006 adalah sebesar 39,60 persen. Hal ini berarti bahwa pada tahun 2006, dari 100 penduduk usia 15-18 tahun, ada sekitar 40 orang yang sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan yang seharusnya dijalani, yaitu sekolah menengah atas. Sama halnya dengan angka partisipasi kasar, angka partisipasi murni perempuan selalu lebih tinggi dibanding dengan laki-laki di setiap jenjang pendidikan.
4.3. Angka Partisipasi Sekolah
Angka partisipasi sekolah mengukur proporsi anak yang bersekolah pada suatu kelompok umur sekolah jenjang pendidikan tertentu. Angka partisipasi sekolah memberikan gambaran secara umum tentang banyaknya anak kelompok umur tertentu yang sedang bersekolah, tanpa memperhatikan jenjang pendidikan yang sedang diikuti. Secara aktual,