• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. yang panjang seperti pendidikan anak, liburan bersama keluarga, Kredit Pemilikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. yang panjang seperti pendidikan anak, liburan bersama keluarga, Kredit Pemilikan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia secara alamiah memiliki kebutuhan yang harus di penuhi didalam kehidupannya, baik dalam kurun waktu yang pendek, menengah maupun dalam kurun waktu yang panjang. Kebutuhan manusia khususnya dalam kurun waktu yang panjang seperti pendidikan anak, liburan bersama keluarga, Kredit Pemilikan Rumah (selanjutnya disebut KPR) rumah sampai dengan dana pensiun. Semua kebutuhan tersebut akan sangat sulit dipenuhi apabila hanya mengandalkan pada penghasilan tetap saja. Berdasarkan motif pemenuhan kebutuhan jangka panjang tersebut membuat manusia mulai berfikir untuk mendapatkan pemasukkan tambahan salah satunya melalui bentuk kegiatan perdagangan atau yang biasa disebut dengan kegiatan bisnis. Hal ini dianggap sebagai alternatif untuk menambah penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan jangka panjang lainnya.

Teknologi, sistem elektronik dan budaya yang tumbuh secara eksponensial dalam dekade terakhir, begitu pula sistem perdagangan di seluruh dunia di era digital ini tidak dapat dipungkiri sangat mempengaruhi berbagai macam bentuk kegiatan bisnis serta maraknya peredaran produk-produk bisnis yang berkembang di tengah masyarakat sejalan dengan meningkatnya masyarakat kelas menengah di Indonesia dan kebutuhan ekonomi masyarakat yang terus meningkat pula. Salah satu bentuk bisnis yang sedang di gandrungi oleh masyarakat salah satunya yaitu bisnis dengan sistem penjualan langsung salah satu alasan utamanya tidak lain

(2)

adalah untuk menambah penghasilan diluar penghasilan utama di tengah himpitan ekonomi. Faktor utama lainnya yang membuat kegiatan usaha (business model) dengan sistem penjualan langsung marak dan digandrungi oleh masyarakat ditengah era digital ini adalah bisnis dengan sistem penjualan langsung dapat dijalankan secara daring (online) sehingga pemasaran dan penjualan produk yang dilakukan akan jauh lebih mudah, anggota yang tergabung tidak lagi memasarkan produk secara door to door (pintu ke pintu).1 Menurut data info APLI, sampai dengan tahun 2020 sudah terdapat 104 (seratus empat) perusahaan penjualan langsung yang tergabung menjadi anggota dalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (selanjutnya disebut APLI).2 Serta terdapat 14 anggota yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Penjualan Langsung Indonesia (selanjutnya disbebut AP2LI).3

Di Indonesia sendiri kegiatan usaha dengan menggunakan sistem penjualan langsung merupakan usaha legal yang diakui dan diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (“UU No. 7 Tahun 2014”) dan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2019 tentang Distribusi Secara Langsung (“PERMENDAG No. 79 Tahun 2019”). Secara tertulis bisnis dengan sistem penjualan langsung dan praktik skema piramida dapat dengan mudah dipetakan perbedaannya tetapi pada praktiknya keduanya sangat sulit untuk

1Trio Hamdani. “Bisnis MLM Marak di Tengah Pandemi, Ada Apa?”, www.finance.detik.com/moneter/d-5228765/bisnis-mlm-marak-di-tengah-pandemi-ada-apa,26 Oktober 2020, h.1, dikunjungi pada 1 Desember 2020.

2APLI. “Daftar Anggota”, www.apli.or.id/daftar-anggota, h.1, dikunjungi pada 2 Desember 2020.

3AP2LI. “Member List”, www.ap2li.com/member-kami, dikunjungi pada 25 Desember 2020.

(3)

dibedakan karena sistem penjualan langsung dan praktik skema piramida memiliki kemiripan pada karakteristiknya. Sehingga menyebabkan banyaknya masyarakat awam yang tidak dapat membedakan antara keduanya terkecoh dan tertipu sejalan dengan maraknya penipuan skema piramida berkedok bisnis dengan sistem penjualan langsung.4

Praktik skema piramida di tengah era digital ini semakin beragam, canggih dan marak sampai ke pelosok-pelosok daerah dan menargetkan masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah dengan media dan modus yang berbeda-beda pula hal ini terbukti dengan banyaknya konsumen yang menjadi korban penipuan akibat pemasaran dan tawaran menggiyurkan yang menjebak masyarakat awam yang tidak mengetahui akan perbedaan keduanya.5 Di Indonesia sendiri tidak sedikit pelaku usaha yang menjalankan kegiatan usaha dengan sistem penjualan langsung, yang pada faktanya dalam perjalanan sejarah juga sangat membantu menggerakkan roda

4Feriawan Hidayat. “APLI Optimis Industri Direct Selling Terus Meingkat”, www.beritasatu.com/feri-awan-hidayat/ekonomi/361112/apli-optimistis-industri-direct-selling- terus-meningkat, 21 April 2016, h.1, dikunjungi pada 2 Desember 2020.

Di tahun-tahun mendatang, industri ini diperkirakan bakal terus tumbuh seiring dengan bonus demografi dan berkembangan kelas menengah yang besar, dengan tingkat pertumbuhan yang sedemikian baik tersebut, industry penjualan langsung di Indonesia berada di bawah Tiongkok, Jepang, dan Korea.” Ujar Djoko Hartanto Komara Ketua APLI. “Sayangnya, lanjut Djoko, perkembangan industri yang sedemikian bagus tersebut dicemari oleh perusahaan penjualan langsung yang menjalanka bisnis dengan skema piramida atau money game”

5Abdul Hadi. “Daftar Investasi Ilegal Menurut Data OJK Terbaru: Update April 2020”, www.tirto.id/daftar-investasi-ilegal-menurut-data-ojk-terbaru-update-april-2020-fDSp, 3 Juni 2020, h.1, dikunjungi pada 28 September 2020. Guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat, OJK dan Satgas Waspada Investasi selama ini rutin mempublikasikan daftar penyedia investasi ilegal yang berhasil ditemukan dan ditutup usahanya. Pada 2017, misalnya, Satgas Waspada Investasi menutup kegiatan 79 entitas investasi ilegal. Lalu, pada tahun 2018, jumlah entitas yang ditutup meningkat menjadi 106 dan 442 pada 2019. Hingga April 2020, kembali ditemukan 61 entitas investasi ilegal. Dalam siaran pers OJK yang diterbitkan 29 April 2020 lalu, Satgas Waspada Investasi menyatakan, kembali menemukan dan menghentikan kegiatan 18 entitas yang menawarkan investasi tanpa izin.

(4)

ekonomi Amerika Serikat ini, menjalankan skema piramida (pyramid scheme) yang dilarang secara tegas dalam UU No. 7 Tahun 2014.6

Skema piramida bermula pada tahun 1920-an. Charles Ponzi, pria berkebangsaan Italia yang tinggal di Boston, Amerika Serikat yang berhasil menghimpun dana sebesar US$9.500.000,- (sembilan juta lima ratus ribu dolar amerika) atau jika dirupiahkan dengan kurs US$1 = Rp14.000 (tahun 2020) setara dengan Rp133.000.000,- (seratus tiga puluh tiga milyar rupiah) dari sekitar 10.000 (sepuluh ribu) konsumen hanya dalam waktu yang singkat. Ide mengenai bisnis gadungan yang ia jalankan berasal dari sebuah International Reply Coupon (selanjutnya disebut IRC) yang didapatkan dari sebuah surat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kemudian ia mencari tahu mengenai sistem kupon tersebut dan menemukan kelemahannya secara sistemik, dimana secara teori akan membuat dirinya mendapatkan keuntungan.

Kupon pada era sebelum Perang Dunia I digunakan sebagai alat korespondensi surat-menyurat antar negara, IRC dibanderol dengan harga ongkos kirim dari negara asal, tetapi dapat ditukar dengan perangko di negara tujuan untuk mengganti biaya ongkos pengiriman. Jika nilai mata uang antar negara asal dengan tujuan memiliki selisih, maka akan ada potensi keuntungan yang didapatkan.

6HowMoneyIndonesia. “Bisnis MLM/Direct Selling Salah Satu Penggerak Ekonomi Amerika”, www.howmoneyindonesia.com/2013/09/05/binis-mlmdirect-selling-salah-satu- penggerak-ekonomi-amerika/ , 5 September 2013, h.1. dikunjungi pada 1 Desember 2020. Direct Selling Association (selanjutnya disebut DSA), yaitu semacam organisasi Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (yang selanjutnya disebut sebagai APLI) Amerika melaporkan penjualan besar di dunia MLM. Pada tahun 2010, perusahaan-perusahaan MLM Amerika dapat meraup keuntungan setidaknya $28,56 milyar (sekitar Rp 290 triliun) dari penjualan produk-produk mereka di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di tahun 2011, angka penjualan ini meningkat 4,6% menjadi $29,87 milyar (sekitar Rp 300 triliun)”.

(5)

Loophole inilah yang dimanfaatkan oleh Ponzi untuk memperoleh keuntungan yang

luar biasa.

Lebih lanjut Ponzi mendirikan sebuah perusahaan investasi yang bernama Securities Exchange Company setelah mendapatkan beberapa klien yang

menginvestasikan dana ke perusahaannya. Ia berhasil memperkerjakan agen-agen yang akan membantunya mendapatkan konsumen. Terhitung dari bulan Juli 1920, dengan selisih 7 bulan sejak berdirinya perusahaan Securities Exchange Company, perusahaan tersebut sudah memperoleh jumalah total investasi sebesar US$420.000 atau jika dirupiahkan dengan kurs US$1 = Rp14.000,- (tahun 2020) setara dengan Rp5.880.000.000,- (lima milyar delapan ratus delapan puluh ribu rupiah). Pada era tersebut orang-orang yang menjadi konsumen Ponzi kebanyakan rela menggadaikan uang mereka dan mengivestasikan tabungan hidupnya demi mengharapkan dapat memperoleh keuntungan yang luar biasa dari bisnis yang dijalankan oleh Ponzi tersebut.

Sistem yang dibangun oleh Ponzi tak lama kolaps karena salah satu agennya William McMasters mencurigai bahwa perusahaan yang didirikan Ponzi tidak menghasilkan keuntungan dan penuh akan tipu daya. Tidak lama Ponzi ditangkap dengan tuduhan melakukan penipuan finansial. Metode ini disebut sebagai Bubble Burst yang kemudian popular dan kita kenal sebagai Skema Ponzi. Ponzi mengajak

konsumen untuk menanamkan dananya dengan menjanjikan keuntungan luar biasa yaitu 50% hanya dalam waktu 90 hari saja. Pada faktanya tidak ada bisnis apapun yang dijalankan oleh Ponzi, perusahaan hanya “memutar uang” dengan cara membayarkan keuntungan kepada konsumen awal dengan uang yang didapat dari

(6)

konsumen berikutnya.7 Skema ini terus berjalan sampai tidak ada lagi konsumen yang bergabung, Orang-orang Amerika memberikan sebuah adagium pada konsep ini dengan istilah “Robbing Peter to Pay Paul”.8

Gambar 1.1 Cuplikan Berita Skema Ponzi dalam The New York Times, 21 Desember 2008.

Berita tersebut diatas menunjukkan pola skema ponzi yang dijalankan oleh Charlez Ponzi pada tahun 1920. Titik teratas pada pola piramida merupakan pelaku praktik

7Leo, “Skema Ponzi: Definisi, Sejarah, dan Perkembangannya”, www.news.indotrading.com/skema-ponzi-definisi-sejarah-dan-perkembangannya/, dikunjungi pada 12 Februari 2020.

8Ibid, dikunjungi pada12 Februari 2020. Skema Ponzi adalah sebuah skema investasi penuh tipu daya yang menjanjikan keuntungan, dimana keuntungan seorang konsumen akan dibayarkan dari uang konsumen lainnya. Misalnya konsumen pertama menanamkan uangnya kepada seorang trader dengan besaran bunga sebesar 10% dari modal awal. Seiring berjalannya waktu, trader tersebut mendapatkan konsumen kedua dengan modal lebih besar dibandingkan dengan konsumen pertama. Untuk melunasi hutang bunga kepada konsumen pertama sebesar 10%, maka trader tersebut menggunakan modal yang diinvestasikan oleh konsumen kedua. Apabila ada konsumen ketiga, maka hutang bunga konsumen kedua akan dibayar dengan menggunakan uang konsumen ketiga, begitu seterusnya.

(7)

skema piramida dalam hal ini perusahaan, selanjutnya perusahaan akan mengembangkan pola dengan cara mencari investor untuk menanamkan dananya dengan menjanjikan bahwa dana yang ditanamkan pada perusahaan akan berlipat ganda, kemudian perusahaan mencari investor lain untuk menanamkan dananya yang akan digunakan untuk membayar investor yang lebih dahulu mendaftar, pola tersebut akan membentuk segitiga piramida dan akan terputus jika tidak ada lagi investor yang mendaftar karena tidak ada lagi dana yang dapat digunakan perusahaan uuntuk membayar investor yang terlebih dahulu mendaftar.

Salah satu praktik skema piramida di sektor jasa yang dijalankan dengan sistem penjualan langsung di Indonesia dilakukan oleh PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles yang terungkap pada Januari 2020 yang mana sejak Agustus 2019 OJK telah menetapkan MeMiles sebagai salah satu dari 14 jasa investasi ilegal.

Kepolisian Daerah Jawa Timur membongkar kasus tersebut yang diduga beromset Rp740.000.000.000,- (tujuh ratus empat puluh milyar rupiah) yang didapatkan oleh perusahaan hanya dalam kurun waktu 8 (delapan) bulan saja.

MeMiles merupakan platform digital advertising dimana dalam menjalankan kegiatan usahanya PT Kam and Kam memadukan tiga jenis bisnis yakni advertising, marketplace dan travelling. Dalam rangka melancarkan kegiatan

usahanya MeMiles memberikan penawaran yang sangat menggiyurkan bagi calon anggota yang akan menginvestasikan dananya, yaitu melalui mekanisme top up.

Dengan melakukan top up, perusahaan menjanjikan bonus-bonus yang fantastis dan menggiyurkan bagi para calon anggota seperti handphone, sepeda motor, mobil dengan jenis minibus. Belum lagi ketika anggota berhasil merekrut anggota baru,

(8)

bonus yang akan diberikan kepada anggota akan sangat bertambah. Nantinya, anggota akan menyetorkan setoran dana top up anggota baru ke pemimpin di tiap daerah atau tiap wilayah. Kemudian, pemimpin di tiap wilayah akan memberikan dana itu ke perusahaan.

Dalam hal ini, bonus yang dijanjikan oleh perusahaan dikatakan berasal dari hasil tayangan iklan yang banyak dibuka oleh pengunjung di internet. Padahal, tidak ada penghasilan yang didapatkan perusahaan dari hal tersebut. Pada praktik skema piramida yang dilakukan oleh PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles ini banyak sekali anggota yang menanamkan dananya dalam jumlah yang sangat besar dengan harapan keuntungan yang besar pula di masa yang akan datang telah dirugikan.9

Praktik skema piramida bermotif sistem penjualan langsung yang dilakukan oleh PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles sebagaimana telah diuraikan pada paragraf-paragraf sebelumnya timbul beberapa isu hukum yang akan dikaji dalam penulisan skripsi ini karena UU No. 7 Tahun 2014 tidak mengatur secara luas mengenai objek skema piramida sehingga menimbulkan suatu kekosongan hukum yang banyak dimanfaatkan oleh para oknum pelaku praktik skema piramida yang tidak bertanggungjawab. Para pelaku akan muncul dengan berbagai macam bentuk kegiatan bisnis serta memanfaatkan sektor jasa yang mana hal ini tidak diatur di dalam UU No. 7 Tahun 2014 seperti yang telah dilakukan oleh PT Kam and Kam melalui aplikasi Memiles. Penulisan ini akan mengkaji pula upaya hukum yang

9Devira Prastiwi. “Deretan Fakta Kasus Investasi Bodong MeMiles”, www.liputan6.com/news/read/4156164/deretan-fakta-kasus-investasi-bodong-memiles, 15 Januari 2020, h.1, dikunjungi pada 11 Februari 2020.

(9)

dapat ditempuh oleh para anggota yang dirugikan akibat praktik skema piramida yang dilakukan oleh perusahaan.

Berdasarkan uraian di atas maka dalam penulisan skripsi ini digunakan judul

“Perlindungan Hukum Bagi Anggota Terhadap Praktik Skema Piramida Bermotif Sistem Penjualan Langsung (Studi Kasus PT Kam and Kam Melalui Aplikasi Memiles).”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dijelaskan diatas maka penelitian ini akan mengkaji:

1. Keabsahan kegiatan usaha yang dilakukan PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles.

2. Upaya hukum bagi anggota yang dirugikan dalam praktik skema piramida yang dilakukan PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas, maka tujuan dari penelitian ini, antara lain:

1. Menganalisis keabsahan kegiatan usaha yang dilakukan PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles berdasarkan Peraturan Perundang- Undangan di Indonesia.

2. Menganalisis kedudukan hukum para pihak yang terlibat dalan kegiatan Memiles serta upaya hukum yang dapat dilakukan oleh anggota yang

(10)

dirugikan dalam pelaksanaan praktik skema piramida yang dilakukan PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMilles.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai melalui penelitian ini yaitu:

1. Sebagai rujukan pengembangan dan perbaikan regulasi pengaturan skema piramida serta penjualan langsung guna mencegah dan menekan korban praktik skema piramida di Indonesia.

2. Memberikan manfaat bagi anggota yang dirugikan terhadap praktik skema piramida berkedok kegiatan usaha dengan sistem penjualan langsung di Indonesia guna mengetahui kedudukan hukumnya serta upaya hukum yang dapat ditempuh.

1.5 Metode Penelitian

Metode Penulisan memberikan gambaran sistematika penulisan serta memudahkkan pemecahan isu hukum yang diangkat dalam suatu penulisan.

Adapun dalam penulisan skripsi ini digunakan metode sebagai berikut : 1.5.1 Tipe Penelitian

Penulis dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian normatif, antara lain penelitian yang bertujuan untuk mencari dan menemukan suatu aturan hukum, prinsip hukum, dan doktrin hukum sebagai dasar fundamental guna menjawab persoalan hukum.10 Jika dihubungkan dengan penelitian ini, maka penulis akan

10 Ibid, h.11.

(11)

meneliti dalam perkara praktik skema piramida (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surabaya pada perkara nomor 836/Pid.Sus/2020/PN Sby) serta putusan kasus terkait lainnya dan didukung dengan berbagai Peraturan Perundang-Undangan terkait antara lain UU No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, PERMENDAG No.

70 Tahun 2019 tentang Distribusi Barang Secara Langsung, dan beberapa peraturan turunannya guna menjawab isu hukum yang menjadi pokok pembahasan yaitu upaya hukum yang dapat dilakukan bagi anggota yang menjadi korban praktik skema piramida di Indonesia.

Kebenaran yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah kebenaran berdasarkan logika hukum dalam menganalisis permasalahan yang timbul melalui analisis putusan kasus yang berkaitan serta melakukan metode wawancara dengan narasumber yang merupakan aparat penegak hukum yang terlibat dalam penanganan kasus yang di angkat serta korban dalam kasus terkait.

1.5.2 Pendekatan Masalah

Penulisan skripsi ini menggunakan 3 metode pendekatan masalah yaitu pendekatan Peraturan Perundang-Undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach) dan pendekatan kasus (case study). Pendekatan Perundang-Undangan adalah suatu pendekatan yang secara umum digunakan dalam suatu penelitian normatif dimana pendekatan ini dilakukan dengan cara menelaah berbagai aturan hukum yang memiliki keterkaitan dengan tema sekaligus

(12)

fokus yang utama dari penelitian ini, nantinya hasil dari metode tersebut menjadi dasar argumen untuk memecahkan isu hukum yang di angkat.11

Penulis juga menggunakan metode pendekatan konseptual (conceptual approach) yaitu suatu pendekatan yang beranjak dari pandangan-pandangan dan

doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum sehingga akan melahirkan konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu hukum yang diteliti.12 Melalui pendekatan konseptual (conceptual approach) ini, penulis akan merujuk pada konsep praktik skema piramida serta kegiatan distribusi berjenjang di Indonesia.

Selanjutnya penulis juga menggunakan metode pendekatan kasus (case approach) yaitu memusatkan penelitian pada ratio decidendi, yaitu alasan-alasan

hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada putusan-putusannya.

Fakta-fakta tersebut berupa orang, tempat, waktu, dan segala yang menyertainya asalkan tidak terbukti sebaliknya.13 Dengan melalui 3 (tiga) pendekatan tersebut penulis akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu hukum yang diteliti.14

1.5.3 Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang digunakan penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah dengan menggunakan dua sumber bahan hukum, yaitu :

11 Ibid, h.302.

12 Ibid, h. 177.

13 Ibid, h. 158.

14 Ibid, h. 133.

(13)

a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang terdiri dari berbagai aturan hukum yang diurutkan berdasarkan hierarki.15 Sumber bahan hukum primer yang digunakan penulis meliputi peraturan Perundang-Undangan yang berkaitan dengan praktik skema piramida serta kegiatan penjualan langsung di Indonesia, yaitu:

1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie);

3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821);

5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 5253);

6) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5512);

7) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara

15 Ibid, h. 159.

(14)

Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6215);

8) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2019 Tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 222, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6420);

9) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok;

10) Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2019 tentang Distribusi Secara Langsung (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 1006); dan

11) Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2020 tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan dan Pengawasan Pelaku Usaha Dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 498).

b. Bahan hukum sekunder yang digunakan penulis diperoleh dari berbagai karya ilmiah, literatur hukum atau buku hukum, jurnal hukum, serta artikel hukum yang berkaitan dengan isu hukum, doktrin atau pendapat para ahli hukum, berbagai berita yang berkaitan dengan praktik skema piramida di Indonesia serta wawancara yang dilakukan dengan pihak

(15)

yang bersangkutan dengan perkara yang menjadi topik utama dari penelitian dan penulisan skripsi ini.

1.5.4 Prosedur Pengumpulan Bahan Hukum

Tata cara pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan memahami, menelaah dan mengelola bahan-bahan hukum primer dan sekunder yang diperlukan. Proses selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap doktrin atau pendapat ahli, teori-teori hukum yang berkembang, dan peraturan Perundang- Undangan yang relevan dengan praktik skema piramida berkedok kegiatan distribusi berjenjang di Indonesia yang menjadi topik utama dari penelitian dan penulisan skripsi ini.

Selain studi kepustakaan, pengumpulan bahan hukum ini di dukung dan dilengkapi dengan metode wawancara, yaitu mengadakan tanya jawab dengan narasumber yang berkompeten serta terlibat langsung dalam kasus yang di angkat dalam penelitian ini, wawancara ditujukan guna memperoleh dan mendukung data sekunder. Metode wawancara yang digunakan adalah dengan menggunakan metode wawancara tersruktur, yaitu menggunakan pedoman daftar pertanyaan yang berkaitan dengan isu hukum yang diangkat dan telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Responden dalam penelitian ini adalah:

1. Iptu Edi Iskandar, S.H., M.H., anggota Panit I Unit I Indagsi, Kriminal Khusus, Kepolisian Daerah Jawa Timur selaku Penyidik dalam kasus perkara; dan

2. Ahmad Nadhiful Iza selaku Anggota Memiles.

(16)

1.5.5 Analisis Bahan Hukum

Menurut Sujoko Efferin, Stevanus Haddi Darmadji, dan Yuliawati Tan (2004:7) metode penelitian merupakan bagian dari metodologi yang secara khusus mendeskripsikan tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah intepretasi gramatikal serta metode deskriptif analisis. Analisis bahan-bahan hukum tersebut di atas dilakukan melalui intepretasi gramatikal dengan cara menafsirkan ketentuan- ketentuan dalam Peraturan Perundang-Undangan menurut bahasa, susunan, kalimat, atau bunyinya.16 Bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder kemudian diolah dengan metode deskriptif analisis yang dilakukan dengan menitikberatkan pada permasalahan hukum yang diteliti dengan cara memilih dan memilah serta menganalisis ketentuan-ketentuan Peraturan Perundang-Undangan maupun studi kepustakaan terhadap berbagai buku, jurnal, doktrin atau pendapat ahli, kasus hukum, serta berita-berita yang selanjutnya akan diolah dan dianalisis keterkaitan serta relevansinya oleh penulis dengan isu hukum yang akan di teliti.

1.6 Pertanggungjawaban Sistematika

Penelitian dan penulisan skripsi ini akan membahas 4 (empat) bab yang mana nantinya masing-masing bab terdiri dari pembahasan yang akan semakin memperjelas pokok ruang lingkup permasalahan yang sedang menjadi bahan

16Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta: Liberty, 2008, h.171.

(17)

penelitian. Adapun urutan dan tata letak masing-masing bab adalah sebagai berikut:

Bab I, berisi pendahuluan yang akan menguraikan terkait latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, sumber bahan hukum, prosedur pengumpulan bahan hukum, analisis bahan hukum dan sistematika penulisan sebagai dasar penelitian dan penulisan dalam skripsi ini. Pada pembahasan Bab I penulis akan melihat dan mencermati faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat terhadap kegiatan usaha yang dijalankan dengan sistem penjualan langsung di Indonesia serta penyebab banyaknya masyarakat yang menjadi korban dari praktik skema piramida berkedok sistem penjualan langsung yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dalam bab ini juga akan dikaji mengenai kasus posisi praktik skema piramida bermotif sistem penjualan langsung yang dilakukan oleh Perusahaan PT Kam and Kam melalui aplikasi Memiles.

Bab II, berisi pembahasan mengenai analisis rumusan masalah yang pertama yaitu keabsahan kegiatan usaha yang dilakukan oleh Perusahaan PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles. Dalam bab ini akan diuraikan menjadi beberapa sub bab yaitu diantaranya adalah mengenai bentuk kegiatan usaha yang dilakukan PT Kam and Kam melalui aplikasi MeMiles dan selanjutnya dikaitkan dengan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia guna menentukan keabsahan usaha yang dilakukannya.

Bab III, berisi pembahasan mengenai analisis dan tinjauan yuridis terhadap rumusan masalah kedua yaitu upaya hukum bagi anggota yang dirugikan terhadap praktik skema piramida yang dilakukan Perusahaan PT Kam and Kam melalui

(18)

aplikasi MeMiles, yang mana akan diuraikan lebih rinci menjadi beberapa sub bab seperti kedudukan hukum bagi pelaku usaha dan konsumen, kemudian akan membahas mengenai perlindungan hukum secara preventif bagi masyarakat untuk menghindari keterlibatan terhadap perusahaan tidak bertanggungjawab yang melakukan praktik skema piramida berkedok sistem penjualan langsung di Indonesia serta upaya preventif yang dapat dilakukan oleh pemerintah sebagai legislator dari sektor perizinan untuk melindungi masyarakat dari praktik ilegal skema piramida di Indonesia yang berpotensi memberikan kerugian bagi masyarakat. Selanjutnya dalam sub bab terakhir penulis akan membahas mengenai upaya hukum represif yang dapat ditempuh oleh anggota yang dirugikan dalam kegiatan Memiles baik upaya hukum keperdataan maupun upaya hukum melalui mekanisme perlindungan konsumen.

Bab IV, berisi poin-poin penutup dari penelitian dan penulisan skripsi ini yang akan memuat simpulan dari semua kajian dan pembahasan yang telah diuraikan secara komprehensif dalam bab-bab sebelumnya. Atas dasar kesimpulan metode yuridis normatif dalam bab ini akan dimuat pula beberapa saran sebagai rekomendasi dari penulis atas semua permasalahan dan isu hukum yang menjadi topik bahasan dalam penelitian dan penulisan skripsi ini sebagai masukan bagi instansi terkait serta masyarakat yang dirugikan akibat kegiatan usaha yang dilakukan PT Kam and Kam melalui aplikasi Memiles ini.

Gambar

Gambar 1.1 Cuplikan Berita Skema Ponzi dalam The New York Times, 21  Desember 2008.

Referensi

Dokumen terkait

Kajian ini dilaksanakan bagi mendapatkan maklumat tentang tahap penggunaan komputer di kalangan guru-guru di beberapa buah sekolah menengah di daerah Seremban,

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memang masuk dalam kategori aliran integratif modernis yang sebenarnya dalam klasifikasinya Munawir Sjadzali merupakan terma dari modernis,

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran I Keterangan : : Variabel Independen : Variabel Kontrol Proporsi Komisaris Independen Keberadaan RMC yang Tergabung dengan

Rudy Wawolumaja- Universitas Kristen Maranatha Halaman 184 Persamaan permukaan dimasukkan kedalam perhitungan integral diatas dan daerah D adalah cakram dengan 1 pada

Posisi uang primer pada akhir bulan Februari menurun sebesar Rp3,71 triliun dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi Rp180,03 triliun.. Berdasarkan pergerakan harian uang primer,

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Analisis Kreativitas Siswa Kelas IV dalam

Kualitas udara di seluruh AQMS / Sistem Monitoring Kualitas Udara di Provinsi Riau menunjukkan Kategori Baik (good), sedang (moderate), tidak sehat (unhealthy), sangat tidak

Dalam penelitian ini akan difokuskan pada pupuk majemuk dari bittern yang dicampurkan dengan pengendap fosfat dan ammonia dengan menggunakan regulator basa