• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN DOKTER SPESIALIS BEDAH DALAM PELAYANAN PASIEN BPJS 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERAN DOKTER SPESIALIS BEDAH DALAM PELAYANAN PASIEN BPJS 2014"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN DOKTER SPESIALIS BEDAH

DALAM PELAYANAN PASIEN BPJS 2014

Paul Tahalele

Ketua Presidium PP IKABI Jakarta, 1 November 2013

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(2)

LATAR BELAKANG

Permenkes RI no. 1438/Menkes/Per/IX/2010

“Standar Pelayanan Kedokteran (SPK)”

Bab 1 pasal 1 :

1. SPK adalah pedoman bagi dokter …..

4. Strata fasilitas pelayanan kesehatan adalah tingkatan pelayanan yang STANDAR TENAGA dan PERALATANNYA sesuai dengan kemampuan yang diberikan.

Bab 2 pasal 2 : SPK:

a. memberi jaminan kepada pasien untuk memperoleh pelayanan kedokteran…..

b. Mempertahankan dan meningkatan MUTU pelayanan kedokteran

Bab 3 pasal 3 :

1. SPK meliputi : pedoman nasional pelayanan kedokteran (PNPK) dan SPO 2. PNPK merupakan standar pelayanan kedokteran bersifat NASIONAL dan

dibuat oleh Organisasi Profesi (“IKABI”) serta disahkan oleh Menteri

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(3)

LATAR BELAKANG

Data on-line Kememkes 1 Oktober 2013

Catatan : RS terakreditasi 1221 (55,95%) (data per 1 Januari 2013)

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 : Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

RS Publik RS Umum RS Khusus Total

RS Pemerintah 745 88 833

RS Swasta non-provit 521 199 720

RS Privat

RS Swasta 362 200 562

RS BUMN 60 7 67

Total 1688 494 2182

(4)

Rekapitulasi RS berdasarkan klas RS per 1 Januari 2013

Jumlah RS klas C dan D : 1045 (-100); Jumlah dokter spesialis Bedah Umum 1768 (-315)

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 : Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

Klas Rumah Sakit RS Publik RS Privat

Total

A 47 9 56

B 211 44 255

C 480 150 630

D 300 115 415

non-klas 502 225 727

Total

2083

(5)

PP IKABI : dokter spesialis Bedah Indonesia ± 3.700 (per Agustus 2013):

Dokter Spesialis Bedah Umum 1768,B Dig 179, Uro 251, B Tkv 84, B Onko 115, B Ortho 558, B Vask 23, B Saraf 185, B Plastik 117, B Anak 85

(Total 3365 / per Jan 2013)

Distribusi (mapping) dokter spesialis Bedah di Indonesia

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(6)

Kota/Propinsi RS PABI IKABDI IAUI HBTKVI PERABOI PABOI PESBEVI PERSPEBSI PERAPI PERBANI Total per Kota/Propinsi

ACEH 24

ACEH 32 (+8) 2 4 1 1 7 3 2 1 53

LHOKSEUMAWE 1 1

SUMUT 115

MEDAN 95 (-20) 12 10 3 8 23 1 9 5 5 171

SUMBAR 44

PADANG 45 (+1) 2 3 1 4 9 3 3 1 1 72

BUKIT TINGGI 1 1

RIAU 34

Pekanbaru 50 (+16) 2 4 2 16 3 2 2 81

JAMBI

JAMBI 24 1 1 1 5 1 33

SUMSEL 53

PALEMBANG 62 (+9) 5 4 1 3 8 1 3 2 2 91

KEPRI 14

BATAM 22 (+8) 1 1 2 1 27

BABEL

BANGKA

BELITUNG 1 1

BENGKULU 2 2

LAMPUNG 19

LAMPUNG 38 (+19) 2 1 4 2 1 48

Distribusi (mapping) dokter spesialis Bedah di Indonesia

(7)

Kota/Propinsi RS PABI IKABDI IAUI HBTKVI PERABOI PABOI PESBEVI PERSPEBSI PERAPI PERBANI Total per Kota/Propinsi

DKI 106

DKI 261 (+145) 55 77 47 30 116 11 47 53 37 734

BANTEN

BANTEN 48 7 25 1 16 3 100

JABAR 104

BANDUNG 139 19 15 7 10 35 3 16 6 7 257

CIREBON 2 5 3 1 11

TASIKMALAYA 1 1 1 3

BOGOR 43 2 4 2 8 2 61

INDRAMAYU 1 1

KARAWANG 2 1 1 4

CILEGON 1 1

SUKABUMI 1 1 2

PURSUKASI 15 (+93) 1 16

CIMAHI 1 1

SUBANG 1 1

SUMEDANG 1 1

KUNINGAN 1 1

GARUT 1 1

CIKARANG 3 3

Distribusi (mapping) dokter spesialis Bedah di Indonesia

(8)

Kota/Propinsi RS PABI IKABDI IAUI HBTKVI PERABOI PABOI PESBEVI PERSPEBSI PERAPI PERBANI Total per Kota/Propinsi

JATENG 126

SEMARANG 51 13 6 2 7 10 1 7 5 2 104

PURWOKERTO 1 1 1 6 2 11

PEKALONGAN 10 1 1 1 1 14

SOLO 52 1 6 2 3 20 3 4 3 94 TEGAL 16 1 2 1 20

KUDUS 1 1 1 3

KLATEN 1 2 3

SRAGEN 1 1

PURWAKARTA 1 1

KEDU 13 2 15

BANYUMAS 25 2 1 28

PATI 23 (+190) 1 24

REMBANG 1 1

KEBUMEN 1 1

PURBALINGGA 1 1

SLAWI 1 1

DI

YOGYAKARTA 29

YOGJAKARTA 54 (+25) 6 10 3 4 16 5 2 3 103

Distribusi (mapping) dokter spesialis Bedah di Indonesia

(9)

Kota/Propinsi RS PABI IKABDI IAUI HBTKVI PERABOI PABOI PESBEVI PERSPEBSI PERAPI PERBANI Total per Kota/Propinsi

JATIM 133

SURABAYA 163 22 17 11 9 51 17 15 7 312

MALANG 64 6 4 2 4 13 5 5 2 105

SIDOARJO 1 5 1 7

JEMBER 16 (+110) 1 5 2 24

JOMBANG 1 2 1 4

BLITAR 1 1 2

PROBOLINGGO 2 1 3

KEDIRI 3 3 1 1 8 MADIUN 1 3 1 5

GRESIK 1 4 1 6

MOJOKERTO 1 2 3

BOJONEGORO 2 1 3

NGAWI 1 1

NGANJUK 1 1

LAMONGAN 1 1

BANYUWANGI 3 3

BALI,NTT,NTB 65 MATARAM 15 3 9 4 1 32

DENPASAR

101

(+51) 6 6 2 20 6 4 1 146

Distribusi (mapping) dokter spesialis Bedah di Indonesia

(10)

Kota/Propinsi RS PABI IKABDI IAUI HBTKVI PERABOI PABOI PESBEVI PERSPEBSI PERAPI PERBANI Total per Kota/Propinsi

SULSEL 78

MAKASSAR 89 (+11) 13 7 1 7 30 1 5 5 1 159

SULUT 46

MANADO 29 (-17) 4 3 1 2 2 1 2 3 1 19

GORONTALO

GORONTALO 8 1 1 10

SULTRA

KENDARI 15 1 16

SULTENG

PALU 2 2

Distribusi (mapping) dokter spesialis Bedah di Indonesia

(11)

Kota/Propinsi RS PABI IKABDI IAUI HBTKVI PERABOI PABOI PESBEVI PERSPEBSI PERAPI PERBANI Total per Kota/Propinsi

KALTIM 23

SAMARINDA 44 (+21) 1 2 1 4 2 1 55

BALIKPAPAN 1 2 1 4 1 9

PASER 1 1

TARAKAN 2 2

TENGGARONG 1 1

KALBAR 24

PONTIANAK 31 (+7) 2 1 4 3 1 42

KALSELTENG 36

PALANGKARAYA 32 (-4) 1 33

BANJARMASIN 4 1 6 2 2 1 16

PAPUA, AMBON 20

PAPUA 38 (+18) 1 4 43

AMBON 1 1

lain-lain 5 19 32 56

Total anggota 1768 179 251 84 115 558 23 185 117 85 3365

Distribusi (mapping) dokter spesialis Bedah di Indonesia

(12)

Permasalahan Distribusi Dokter Spesialis Bedah PPSDM Kemkes, Jakarta, 2-9-13

1. Perkiraan kekosongan Dr. Spesialis Bedah di RS Kelas C/D: ± 100 orang, (perlu data RS tersebut : alamat, telp, email)

2. Mapping & distribusi Dokter Spesialis Bedah Khususnya Bedah Umum (lihat tabel). Cat. Kesulitannya: 1 dokter 3 SIP

3. Syarat: seorang Dr. SpB ditempatkan:

a. Sarana & prasarana Kamar Operasi & Alat-alat penunjang (lab, radiologi, PA, Ruang RR)

b. Tersedianya Dr. Sp. Anesthesi/ Perawat Anesthesi (D3) juga Dr. Sp.Radiologi (Penata), Dr.SpPK (kalau ada), Dr.SpPA (kalau ada)

c. Perhatikan jenjang karier dan gaji yang memadai

4. Usul cara pengisian tenaga Dr.Sp.B

a. Angkat semua lulusan baru Dr. SpB (± 100/ tahun) menjadi PNS Pusat (Cat. Diatur bersama KemenPAN) dan tempatkan dari pusat

b. Diusahakan Ybs berasal dari daerah yang terkait c. Diprioritaskan program Tubel dari daerah asal d. Perhatikan jenjang karier dan honor-gaji Ybs.

e. Sukarelawan yang digilir setiap 1-2 bulan dan perhatikan honorariumnya

5. Bentuk Tim kecil & setiap bulan dievaluasi

6. Hambatan: Otoda (?)

(13)

CLINICAL PATHWAY DALAM KONSEP PATIENT SAFETY

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 : Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

Evidance Based Medicine

Health Technology

Assesment

GUIDELINE SPM PROFESI

SPM RUMAH

SAKIT

CLINICAL

PATHWAYS

PATIENT

SAFETY

KENDALI MUTU DAN BIAYA

(14)

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 : Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

SPM 10 OPLB Dalam IKABI

(15)

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 : Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(16)

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 : Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(17)

Surat Pernyataan Kesepakatan IKABI dan 10 OPLB bersama Majelis Kolegium Ilmu Bedah Indonesia Tentang Clinical Previlege dan Clinical Appointment

dalam pelayanan kasus bedah

1. Perlu ditegakkan ketertiban dan disiplin dalam menjalankan pelayanan kesehatan disetiap tempat pelayanan kesehatan ( rumah Sakit, klinik,poliklinik ) berdasarkan kompetensi yang dipunyai oleh masing-masing Dokter Spesialis Bedah sesuai dengan yang digariskan oleh organisasi profesi bedah yang terkait beserta kolegiumnya dalam bentuk clinical privilege (Kewenangan tindak medik sesuai kompetensi dokter spesialis bedah) yang dipertimbangkan/diterbitkan oleh komite medik masing-masing Rumah Sakit.

2. Clinical previlege yang dimaksud dipakai sebagai pedoman

pelaksanaan clinical appointment oleh masing – masing Direktur Rumah Sakit diseluruh Indonesia yang sesuai dengan SDM dan sarana - prasarana yang tersedia untuk kepentingan,

keselamatan dan keamanan penderita.

(18)

3. Setiap Dokter Spesialis Bedah yang bekerja di suatu RS harus taat dan mendukung penuh dalam memajukan pelayanan

kesehatan di RS yang terkait dengan membuat komitmen berupa pernyataan kesediaan dan kesanggupan secara tertulis untuk

melayani penderita sesuai daftar penyakit/kasus yang disepakati bersama dengan direktur RS dalam bentuk clinical appointment dan tidak menyimpang dari daftar kewenangan yang telah

dibuat oleh masing-masing anak organisasi bedah (OPLB)

didalam Federasi IKABI, bisa lebih banyak atau bahkan mungkin lebih sedikit dari jumlah dan jenis kasus yang ditetapkan oleh OPLB-OPLB .

4. Setiap Direktur RS menilai outcome / kinerja Dokter Spesialis

Bedah yang bekerja di dalam RS tsb. dan mengambil langkah2

kebijakan sesuai performance yang ditunjukkan dokter yang

terkait ( menegur atau bahkan melarang melakukan suatu

tindakan medis tertentu apabila terjadi penyimpangan dari

standar pelayanan yang berlaku atau menyebabkan terjadinya

kerugian/ kecelakaan penderita .

(19)

5. Dalam menerapkan clinical appointment masing-masing disiplin ilmu bedah, para Dokter Spesialis Bedah dihadapkan dengan adanya kasus tumpang tindih baik interen ( didalam profesi bedah sendiri ) maupun eksteren ( dengan disiplin ilmu

kedokteran yang lain ). Tumpang tindih kasus bedah tidak bisa kita hindari, namun kita harus menghargai dan menghormati bersama termasuk tidak dibenarkan saling melarang atau meng- klaim. Setiap tindakan bedah seharusnya di dasari kompetensi yang telah ditetapkan oleh masing2 organisasi profesi

kedokteran yang terkait.

6. Dalam menghadapi kasus tumpang tindih diharapkan ada pengaturan yang tepat dan bijak dari Direktur RS misalnya

dengan membangun kerjasama antar profesi dalam 1 unit kerja ( panitia ad hoc ) atau pengaturan kerja berdasarkan waktu setiap hari atau setiap minggu bergantian dalam menangani kasus-

kasus yang sama tetapi berbeda profesinya atau mengadakan diskusi kasus yang sama diantara para dokter yang terkait

berdasarkan modul pembelajaran dan pencapaiannya

seharusnya sama, dimana modul – modul tersebut telah

diterbitkan oleh masing-masing Kolegium Ilmu Bedah.

(20)

7. Selain penanganan kasus tumpang tindih, pengaturan clinical privilege oleh Komite Medik dan clinical appointment oleh Direktur Rumah Sakit juga akan berdampak pada pemerataan jasa pelayanan medis yang telah ditetapkan berdasarkan

pengaturan atau ketentuan BPJS secara adil dan proporsional.

8. Kami mendukung sepenuhnya Program Pemerintah C/Q

Kemenkes RI antara lain menyukseskan pelaksanaan BPJS 2014 dan MRA 2015 serta program-program yang lain.

9. Apabila terjadi permasalahan sebagai akibat diterapkannya

clinical previlege & clinical appointment, kami organisasi profesi kedokteran IKABI beserta 10 OPLB bersedia turut menyelesaikan sesegera mungkin setelah mendapat laporan dari Direktur RS yang terkait, atau laporan dari pihak lainnya.

10. Pernyataan kesepakatan ini disertai lampiran daftar kompetensi dari 10 OPLB dan diharapkan dapat mendukung serta

mempercepat akselerasi tercapainya masyarakat Indonesia sehat

dan sejahtera serta menjaga mutu pelayanan kesehatan.

(21)
(22)

Tanggal 19 April 2013 SAMBUTAN KETUA UMUM

PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA

Tanggal 2 April 2013

Sambutan Ketua PERSI

(23)

CLINICAL PATHWAY of (MULTI)TRAUMA

Sumber Rujukan:

PNPK Penanganan Trauma, Kemenkes RI 2011

EMERGENCY ROOM DEPARTMENT

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(24)

CLINICAL PATHWAY of MULTITRAUMA (PNPK Penanganan Trauma, Kemenkes RI 2011)

EMERGENCY ROOM DEPARTMENT

Patient identity (name/sex/age):

RTS:

GCS: Syst:B

P RR:

Total

Registration number: Score: ... ... .... ....

Date/Time of Admission:

Activities and Treatments

Day-1

Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Price

1-3 Hours 2 Hours

Intens.

Prim. Resusc.

Reev.

Exam. Def. Surg.

-2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 -11 -12 (Rp)

Surv. Stabiliz. Diagn. Dam. Cont. Care

INITIAL ASSESMENT

Airway

Breathing

Circulation

Disability

Exposure

INITIAL TREATMENT

Manual Airway + Oxygen

Oral Airway + Oxygen

Definitive Airway + Oxygen

Surgical Airway (crico./trach.)

Chest tube insertion

Bleeding control

C-clamp

Fluid/blood resuscitation

Cardio-pulmo-resuscitation

NGT

Urine catheter

Emergency Medicine

Inotropic

Vasopressor

Anti-convulsant

Analgetic

(25)

Activities and Treatments (cont.)

Day-1

Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Price

1-3 Hours 2 Hours

Intens.

Prim. Resusc.

Reev.

Exam. Def. Surg.

-2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 -11 -12 (Rp) Surv. Stabiliz. Diagn. Dam. Cont. Care

EXAMINATION

Head to toe (physical examination)

USG (FAST)/DPL

Cervical x-ray

Chest x-ray

Pelvic x-ray

Head CT scan

MSCT/IVP

Uretro/cysto-gram

Spine x-ray

Extremities x-ray

Skull / waters x-ray

LABORATORY

CBC (Complete Blood Count)

Urine analysis

BGA (Blood Gas Analysis)

Lactate test

Alcohol test

Drug test

Pregnancy test

LFT

RFT

(26)

Activities and Treatments (cont.)

Day-1

Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Price 1-3 Hours 2 Hours

Intens.

Prim. Resusc.

Reev.

Exam. Def. Surg.

-2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 -11 -12 (Rp) Surv. Stabiliz. Diagn. Dam. Cont. Care

WORKING DIAGNOSIS

Traumatic brain injury

Maxillofacial trauma

Cervical/spinal cord injury

Chest trauma

Abdominal trauma

Pelvic/genital/anal trauma

Extremity trauma

Burn/electric injury

Inhalation trauma

Open wound

Degloving

Renal Injury

Crush Injury

Traumatic Amputation

Vascular Trauma

(27)

Activities and Treatments (cont.)

Day-1

Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Price

1-3 Hours 2 Hours

Intens.

Prim. Resusc.

Reev.

Exam. Def. Surg.

-2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 -11 -12 (Rp) Surv. Stabiliz. Diagn. Dam. Cont. Care

ADVANCED TREATMENT

Medicine

Antibiotic

Tetanus immunization

Surgery (Operating theatre)

Boorhole drainage

Craniotomy

ICP monitor insertion

Cervical traction

Thoracotomy

Costae fixation

Laparotomy

Pelvic/liver/lien packing

Exteriorisasi/stoma/cystostomy

Intestine reanastomoses

Damage control surgery/open

abdomen /bogota bag

Fracture/dislocation immobilization

Open fracture debridement

Internal/external fixation

Open wound debridement

Wound suturing

Combust. debrid./tangensial excision

Vascular repair

Non-operative management

(28)

Activities and Treatments (cont.)

Day-1

Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Day Price

1-3 Hours 2 Hours

Intens.

Prim. Resusc.

Reev.

Exam. Def.

Surg.

-2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 -11 -12 (Rp)

Surv. Stabiliz. Diagn. Dam.

Cont. Care

TRANSFER (Coagulopathy/acidotic correction, Rewarming)

Observation room

ICU (Intensive Care Unit)

HUMAN RESOURCES

General Surgeon (dr SpB.Umum)

Related Surgeons (dr SpB.KBD, Sp.BA,

Sp.BS, Sp.BTKV, Sp.BV,Sp.OT, Sp.U,

Sp.BP-RE, Sp.BOnk)

Supporting:

Anesthesiologist, Internal Med., Ped, Pulmo, Radiology, Cllin Path, etc.

Nama Dokter Spesialis Bedah Umum

(DPJP) Lama

Diagnosis Akhir ICD-10 Tindakan ICD-9

Primer (P)/Konsultan (K)/ Merawat

Operator (O)/Anestesi (A) (Hari) CM

1. 1. 1.

2. 2. 2.

3. 3. 3.

Nama Perawat/Tenaga Lain

1. 1.

Nama Supervisor: Tanda Tangan Supervisor: Tanggal Supervisi:

(29)

Skema Alur dan Rujukan Pengelolaan Pasien Trauma

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Penanganan Trauma KEMENKES RI 2011

Impact/Accident Pra RS: •Stabilisasi pasien (BT-CLS)

•Transportasi

Ambula nce 118

Puskesmas RS (D) 1

Intra RS

RS (C) 4

RS (B/A)

•Pendidikan

•Non-pendidikan 6 2

3 5

•Penilaian awal (ATLS)

•Resusitasi & Stabilisasi (ABCDE-Transportasi)

•BT-CLS dan GELS

•Penilaian awal ulang (ATLS)

•Resusitasi-Stabilisasi (DCR, DCS)

•Terapi Definitif

•Perawatan Bedah Intensif

•Penilaian awal ulang (ATLS)

•Resusitasi-Stabilisasi (DCR, DCS)

•Terapi Definitif

•Perawatan Bedah Intensif

(30)

Bagan Pedoman Umum Pelayanan Pasien Trauma Intra Rumah Sakit di Indonesia Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Penanganan Trauma KEMENKES RI 2011

Team Leader Anggota Fasilitas

Rumah Sakit Klas D/

Puskesmas

“Dokter Emergensi”

atau

Dokter Umum atau

Perawat emergensi, bila tidak ada tersedia dokter

Perawat emergensi

perawat

Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam

Radiologi

Laboratorium dasar

Ruang perawatan HCU

Ruang perawatan

Rumah Sakit Klas C Dokter spesialis bedah umum terutama konsultan trauma

“Dokter emergency”

Tim trauma (dokter

anestesiologi dan 4 spesialis dasar)

Perawat emergensi

perawat

Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam

Radiologi lengkap

Laboratorium lengkap

Kamar operasi dan alat operasi

Ruang perawatan ICU

Ruang perawatan HCU

Ruang perawatan Rumah Sakit Klas B/A

Non Pendidikan

Dokter spesialis bedah umum, terutama Konsultan (K) Trauma atau

Dokter spesialis bedah lain dengan latar belakang bedah umum

atau

“Dokter emergensi”

Tim trauma

Sama dengan rumah sakit tipe C Ditambah dengan

Dokter spesialis bedah yang lain

Dokter spesialis radiologi

Dokter spesialis patologi klinik

Perawat emergensi

Perawat

Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam

Radiologi

Laboratorium

Kamar operasi

Ruang perawatan ICU

Ruang perawatan HCU

Ruang perawatan

Rumah Sakit Klas B/A Pendidikan

PPDS chief bedah umum

Atau Dokter spesialis bedah umum terutama konsultan trauma

atau

Dokter spesialis bedah lain dengan latar belakang bedah umum

Tim trauma

Sama dengan rumah sakit klas B/A non pendidikan

Sama dengan rumah sakit klas B/A non pendidikan

(31)

Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK)

Puskesmas/ Poliklinik Rumah Sakit Kelas D

(Spesialis Bedah Umum & Spesialis Penyakit Dalam)

Rumah Sakit Kelas C

(4 Spesialis Dasar & 3 Spesialis Penunjang)

Rumah Sakit Kelas A

(RS kelas B + alat terkini)

Rumah Sakit Kelas B

(18 Spesialis)

Rumah Sakit Kelas B

(18 Spesialis)

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(32)

4 Trauma spinal ICD: S12-S14, S22- S24, S32-S34

Resusitasi ABCD Stabilisasi

Inline imobilisasi Do no further harm Rujuk ke PPK 3

Diagnostik canggih (MRI)

Terapi definitif

Pelaksana Dokter Pelayanan Primer

1. SpBS/SpOT/ SpB 2. SpOT/ SpBS/ SpB

1. SpBS/SpOT 2. SpOT/ SpBS

I. PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN TRAUMA BERDASARKAN KEWENANGAN

TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

No DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(33)

No DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3

I. PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN TRAUMA BERDASARKAN KEWENANGAN

TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

7 Trauma vaskuler ICD X : S15, S25, S35, S45, S55, S65, S75, S85, S95

Resusitasi ABCD

Hentikan perdarahan dengan bebat tekan atau torniquette

Rujuk PPK2 atau rujuk PPK3 bila perlu

penanganan subspesialistik

Jaga stabilisasi hemodinamik

Eksplorasi vaskuler Rujuk PPK3 bila perlu penanganan

subspesialistik

Eksplorasi vaskuler Repair primer

dengan anastomose, patch atau by pass

Pelaksana Dokter Pelayanan Primer 1. SpBTKV/SpBV/ SpB 2. SpBV/ SpBTKV/SpB 3. SpB/ SpBV/ SpBTKV

1. SpBTKV/SpBV/SpB 2. SpBV/ SpBTKV/SpB

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(34)

I. PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN TRAUMA BERDASARKAN KEWENANGAN

TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

No DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3

8 Trauma abdomen ICD: S30-S39

Resusitasi ABCD Stabilisasi

Analgetik

Pasang NGT dan kateter urine bila tidak ada

kontraindikasi Rujuk PPK2

Trauma tembus abdomen:

bila pisau/benda lain masih tertancap tdk perlu di cabut, bila ada eviscerasi organ

intra abdomen tutup dengan urinebag steril.

Diagnostik Eksplorasi

laparotomy sesuai indikasi

Rujuk PPK3 bila perlu penanganan subspesialistik

Penanganan subspesialis

Pelaksana Dokter Pelayanan Primer 1. SpB-KBD/SpB 2. SpB/ SpB-KBD

SpB-KBD/ SpB

(35)

I. PEDOMAN STANDAR PENGELOLAAN TRAUMA BERDASARKAN KEWENANGAN

TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

No DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3

11 Trauma ekstremitas ICD: S40-S99

Resusitasi dan stabilisasi ABCD Fraktur tulang panjang reduksi dan imobilisasi dengan bidai, rawat perdarahan

Rujuk PPK2

Clean cut amputation, rawat luka, antibiotik, amputat dimasukkan dalam kantong steril tertutup, kantong dimasukkan dalam air es, rujuk PPK3

Reduksi imobilisasi Fiksasi internal atau eksternal

Bila ada lesi nervus, lakukan markering Rujuk PPK 3 bila perlu penanganan subspesialistik

Penanganan subspesialistik

Pelaksana Dokter Pelayanan Primer 1. SpOT/SpB 2. SpB/ SpOT

SpOT/ SpB

Seminar PERSI : Kesiapan perumahsakitan menghadapi implementasi jaminan kesehatan nasional 2014 :

Aspek pengendalian mutu dan biaya rumah sakit

(36)

II. PEDOMAN STANDAR OBAT-OBATAN KASUS TRAUMA BERDASARKAN KEWENANGAN PEMBERI PELAYANAN

KESEHATAN

No DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 Multi-trauma Analgetik, antibiotik,

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Analgetik, antibiotik, anti tetanus serum,

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Analgetik, antibiotik, anti tetanus serum

Anestesi, obat-obatan inotropik, Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

2 Trauma kapitis Analgetik,

Obat/ Bahan Habis Pakai Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Analgetik, piracetam, antibiotik pada fraktur basis cranii, Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Analgetik, piracetam, antibiotik pada fraktur basis cranii

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain 3 Trauma maksilofasial Analgetik, antibiotik,

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Analgetik, antibiotik, gargle antiseptik,

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Analgetik, antibiotik, gargle antiseptik,

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

4 Trauma spinal Analgetik,

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

Analgetik,

methylprednisolon, methylcobalamin,

Obat/ Bahan Habis Pakai Penunjang yang lain

(37)

III. PANDUAN STANDAR PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK PADA KASUS TRAUMA

BERDASARKAN KEWENANGAN PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN

No DIAGNOSIS PPK 1 PPK 2 PPK 3

1 Multi-trauma Hematologi rutin Hematologi rutin, urinalisis, USG, EKG, rontgen thorax, cervical, pelvis

Hematologi

rutin,kimia darah, BGA, urinalisis, USG, EKG, rontgen thorax, cervical, pelvis,

BOF/erect/LLD, CTscan

2 Trauma kapitis Hematologi rutin Hematologi rutin, rontgen skull AP/lat

Hematologi rutin, kimia darah, BGA, Ctscan kepala 3 Trauma

maksilofasial

Hematologi rutin Hematologi rutin, rontgen skull AP/lat, Water’s position

Hematologi rutin,

kimia darah, BGA,

CTscan kepala 3D

rekonstruksi

Referensi

Dokumen terkait