Abstrak— Pertumbuhan penduduk Kota Sidoarjo yang semakin pesat mengakibatkan lahan untuk pemukiman semakin mahal. Hal ini menyebabkan banyaknya rumah-rumah liar, sehingga pemukiman kumuh di sidoarjo tidak dapat dihindarkan lagi. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah memberikan solusi dengan mengadakan proyek rusunawa yang terletak di Pusat perdagangan Agrobisnis, Jemundo, Sepanjang, Sidoarjo.
Pembangunan Rusunawa Jemundo ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Perlu dilakukan analisa untuk mengetahui kelayakan pembangunannya. Untuk menaksir kemanfaatan dan kelayakan pembangunan proyek tersebut, perlu dilakukan suatu analisa, sehingga dapat diketahui apakah biaya yang dikeluarkan pemerintah sebanding dengan manfaat yang didapatkan. Untuk mengevaluasi kelayakan proyek digunakan metode Benefit Cost Ratio (BCR. Manfaat yang ditinjau adalah manfaat bagi pemerintah dan bagi penghuni. Biaya yang ditinjau adalah biaya pembangunan proyek, biaya operasional, dan biaya perawatan.
Penelitian ini menggunakan metode AHP untuk menetukan bobot prioritas kriteria manfaat dan biaya. Dari hasil analisa didapatkan bobot manfaat sebesar 3.326, dan bobot biaya sebesar 2.785. Nilai BCR dari manfaat dan biaya sebesar 1.19, sehingga dapat disimpulkan bahwa proyek Rusunawa Jemundo layak dilaksanakan.
Kata Kunci— BCR, Biaya, Manfaat, Rusunawa Jemundo I. PENDAHULUAN
emajuan yang pesat di bidang industri di Sidoarjo merupakan tuntutan dari kebutuhan akan sarana tempat tinggal bagi para pekerja industri. Banyak dari para pekerja berasal dari daerah diluar Sidoarjo, sehingga memerlukan area pemukiman sebagai tempat tinggal dalam jangka waktu kontrak kerja proyek. Seiring dengan pertumbuhan penduduk Kota Sidoarjo yang semakin pesat mengakibatkan lahan untuk pemukiman semakin mahal. Hal ini menyebabkan banyaknya rumah rumah liar, sehingga pemukiman kumuh di sidoarjo tidak dapat di hindarkan lagi.
Pemerintah memberikan solusi dengan mengadakan proyek rusunawa yang terletak di Pusat perdagangan Agrobisnis, Jemundo, Sepanjang, Sidoarjo. Terdiri dua twin block rusunawa dengan 76 kamar tipe 34. pembangunan rusunawa dengan biaya investasi sebesar 24 milyar di daerah industri Agrobisnis Jemundo. Proyek ini merupakan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan ini, karena dengan lahan terbatas dapat di bangun rusunawa yang dapat dijangkau oleh masyarakat ekonomi lemah.
Proyek Rusunawa Jemundo merupakan proyek pemerintah yang pembangunannya ditekankan pada manfaat terhadap masyarakat umum. Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat lebih banyak bersifat intangible, yakni yang sulit
dihitung dalam nilai rupiah. Metode untuk menghitung manfaat yang bersifat intangible tersebut adalah metode AHP, dimana nilai manfaat tidak dalam bentuk rupiah tetapi dalam bentuk bobot prioritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan Rusunawa Jemundo berdasarkan Analisa Manfaat dan Biaya. Untuk menganalisa manfaat biaya digunakan metode Benefit Cost Ratio (BCR) dengan cara mencari bobot penilaian manfaat yang kemudian dibandingkan dengan bobot penilaian biaya Rusunawa Jemundo.
II. METODOLOGI A. Langkah Penelitian
Diagram alir penelitian dapat dilihat pada Gambar 1
Gambar 1 Diagram Alir Penelitian
Analisa Manfaat Dan Biaya Rusunawa Jemundo, Sidoarjo
Novan Dwi Aryansyah, Retno Indryani
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
: [email protected]
K
PENYUSUNAN DAN PENYEBARAN KUISIONER
ANALISA MANFAAT IDENTIFIKASI
BIAYA
PENYUSUNAN DAN PENYEBARAN
KUISIONER ANALISA BIAYA
PENGUMPULAN DATA
DATA
SEKUNDER DATA
PRIMER
IDENTIFIKASI MANFAAT PERUMUSAN MASALAH
TINJAUAN PUSTAKA
MENENTUKAN NILAI BCR
B. Identifikasi Variabel Penelitian
Dalam menyusun variabel manfaat dan biaya diperlukan identifikasi awal. Identifikasi awal variabel manfaat dan biaya digunakan sebagai acuan dalam melakukan survey pendahuluan dengan metode wawancara untuk mengidentifikasikan jenis–jenis manfaat, dan biaya pembangunan proyek Rusunawa Jemundo. Setelah itu, dilakukan kuisioner dalam menilai manfaat, pendapatan, dan biaya berdasarkan kriteria masing masing. Variabel penelitian terdapat dalam Tabel 1.
Tabel 1 Identifikasi Variabel Penelitian No Kriteria Subkriteria 1
2.
Biaya
Manfaat
A.Biaya proyek : 1.Biaya Konstruksi 2.Biaya Pembebasan lahan B.Biaya Operasional : 1.Listrik
2.Air
3.Operasional Gedung C.Biaya Perawatan:
1.Perawatan 2.Penggantian A. Bagi Pemerintah
1. Mengatasi Pemukiman Kumuh 2. Mengatasi Banjir
3. Memberi Perumahan 4. Mengatasi Kemacetan B. Bagi Penghuni
1. Peningkatan Pendapatan 2. Peningkatan Kesehatan 3. Peningkatan Kesejahteraan 4. Penghematan Harga Sewa
C. Teknik Analisa Data
Dari identifikasi manfaat terlihat bahwa manfaat- manfaat tersebut bersifat intangible atau tidak bisa diukur dengn nilai uang. Sebaliknya biaya bisa diukur dalam nilai uang ( tangible ). Pada umumnya proyek proyek pemerintah seringkali memang tidak mungkin diukur berdasarkan nilai nilai yang jelas, analisa kelayakannya biasanya dinyatakan dalam manfaat umum yang bisa ditimbulkannya. [1]
Agar bisa dihitung rasionya, maka manfaat dan biaya harus mempunyai satuan yang sama. Metode yang digunakan adalah analisa manfaat biaya melalui AHP ( Analytical Hierarki Process ). Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hierarki. [2] Analisa Manfaat Biaya merupakan perhitungan ratio manfaat terhadap biaya. Dalam perhitungannya nilai waktu dari uang harus tetap dipertimbangkan berdasarkan perhitungan waktu arus kas yang terjadi setelah proyek dimulai.[3] Untuk menganalisa kelayakan proyek digunakan metode Benefit Cost Ratio (BCR), Secara matematis hal ini dapat diformulasikan dalam rumus perbandingan manfaat biaya.[4]
III. HASILDANPEMBAHASAN A. Analisa Manfaat
Dari hasil kuisioner identifikasi variabel untuk mencari satu hasil dari 4 orang responden digunakan rata-rata geometrik yang menyatakan akar pangkat n dari hasil perkalian sebanyak n. Kuisioner ini berisi tentang perbandingan antar dua elemen yang dinyatakan dengan skala 1-9. Skala 1-9 antar dua alternatif tersebut diberi nilai indeks 1-17 secara berurutan. Apabila data responden telah didapat, maka ditentukan frekuensi range yang telah dipilih responden.
Kemudian baru dapat ditentukan rata-rata ukur kecenderungan responden dalam memilih manfaat terpenting. Dari data responden yang dinyatakan dengan skala 1-9 tersebut diberi nilai indeks yang sesuai. Rata-rata ukur kemudian dihitung dari akar pangkat jumlah responden dari hasil perkalian sebanyak nilai indeks dari range yang dipilih responden. Perhitungan untuk mencari rata-rata ukur geometrik, dari hasil perhitungan geometrik didapat bobot kriteria dan subkriteria manfaat.
Tabel 2 menunjukkan hasil matriks perbandingan berpasangan kriteria. Tabel 3 dan Tabel 4 menunjukkan hasil matriks perbandingan berpasangan subkriteria.
Tabel 2 Matriks Perbandingan Berpasang Kriteria
Manfaaat Pemerinta
h Penghuni
Pemerintah 1 ¼
Penghuni 4 1
5 1 ¼
Tabel 3 Matrik perbandingan berpasangan level subkriteria pemerintah
Tabel 4 Matrik perbandingan berpasang level subkriteria kriteria penghuni
Manfaat
Penghuni PP PK PHS PKs
PP 1 1/3 1 1/4 1/5
PK 3 1 1 1/2
PHS 4 1 1 1
PKs 5 2 1 1
13 4 1/3 3 1/4 2 7/10
Perhitungan normalisasi dilakukan dengan jalan masing- masing kolom dibagi dengan jumlah keseluruhan. Perhitungan dilakukan untuk semua kolom dan baris, baru setelah semua baris dan kolom terisi maka setiap baris dijumlahkan. Hasil penjumlahan pada baris tiap-tiap baris dibagi dengan jumlah elemen yang saling membandingkan. Tabel 5 menunjukkan bobot kriteria dan subkriteria manfaat dari proses normalisasi.
Manfaat
Pemerinta MPK MP MK
MPK 1 2 4
MP 1/2 1 2
MK 1/4 1/2 1
1 3/4 3 1/2 7
Tabel 5 Bobot kriteria dan subkriteria
No Manfaat Bobot
kriteria Bobot Subkriteria
A Manfaat pemerintah 0.2 (2)
1 Mengatasi pemukiman kumuh 0.571
2 Memberi perumahan 0.286
3 Mengatasi kemacetan 0.143
B Manfaat penghuni 0.8
1 Peningkatan pendapatan 0.0765
2 Peningkatan kesehatan 0.2385
3 Penghematan harga sewa 0.3040
4 Peningkatan kesejahteraan 0.3810
A. 1 Bobot Total Prioritas Subkriteria
Bobot total prioritas subkriteria didapatkan dengan mengalikan bobot kriteria untuk kriteria pemerintah dan untuk kriteria penghuni. Hasil perkalian tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Bobot total prioritas subkriteria
A. 2 Penilaian Manfaat
Untuk mengetahui manfaat Rusunawa Jemundo maka dilakukan perhitungan hasil kuisioner 3 tentang penilaian Rusunawa Jemundo berdasarkan kriteria manfaat. Hasil perhitungan yang diperoleh akan dikalikan dengan bobot masing-masing kriteria. Rekapitulasi rata rata subkriteria dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Rekapitulasi rata-rata tiap komponen subkriteria manfaat
A. 3 Hasil Analisa Manfaat
Hasil analisa manfaat dapat dihitung dengan cara mengalikan rekapitulasi penilaian manfaat dengan bobot total prioritas subkriteria. Hasil perhitungan analisa manfaat dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 8 Hasil penilaian manfaat
B. Analisa Biaya
Seperti pada sub bab sebelumnya, dengan cara yang sama diperoleh perhitungan rata-rata geometri kriteria biaya.
Perhitungan untuk mencari rata-rata ukur geometrik, dari hasil perhitungan geometrik didapat bobot kriteria dan subkriteria biaya. Tabel 9 menunjukkan hasil matriks perbandingan berpasangan kriteria. Tabel 10, Tabel 11 dan Tabel 12 menunjukkan hasil matriks perbandingan berpasangan subkriteria
Tabel 9 Matrik perbandingan berpasangan level kriteria biaya
Tabel 10 Matriks perbandingan berpasang subkriteria biaya proyek
Biaya proyek BK PL
BK 1 ½
PL 2 1
3 1 ½
.
Tabel 11 Matrik perbandingan berpasangan level Subkriteria biaya operasional
Biaya
operasional L A O
L 1 1 2
A 1 1 2
O 1/2 1/2 1
2 1/2 2 1/2 5
.
No Manfaat Bobot
kriteria (1) Bobot Subkriteria
(2) ( 1 X 2 )
A Manfaat pemerintah 0.2
1 Mengatasi pemukiman kumuh 0.571 0.1142
2 Memberi perumahan 0.286 0.0572
3 Mengatasi kemacetan 0.143 0.0286
B Manfaat penghuni 0.8
1 Peningkatan pendapatan 0.0765 0.0612
2 Peningkatan kesehatan 0.2385 0.1908
3 Penghematan harga sewa 0.3040 0.2432
4 Peningkatan kesejahteraan 0.3810 0.3048
1
No Manfaat Rata-rata subkriteria
A Manfaat pemerintah
1 Mengatasi pemikiman kumuh 3.25
2 Memberi perumahan 3.5
3 Mengatasi kemacetan 3
B Mengatasi penghuni
1 Peningkatan pendapatan 2.25
2 Peningkatan kesehatan 3.5
3 Penghematan harga sewa 2.9
4 Peningkatan kesejahteraan 3.8
Biaya Pr Op Pw
Pr 1 3 3
Op 1/3 1 1
Pw 1/3 1 1
1 2/3 5 5
No Manfaat Bobot (B) Rata-rata
subkriteria (n) ( B X n ) A Manfaat pemerintah
1 Mengatasi pemikiman kumuh 0.1142 3.25 0.3711
2 Memberi perumahan 0.0572 3.5 0.2002
3 Mengatasi kemacetan 0.0286 3 0.0858
B Mengatasi penghuni
1 Peningkatan pendapatan 0.0612 2.25 0.1377
2 Peningkatan kesehatan 0.1908 3.5 0.6678
3 Penghematan harga sewa 0.2432 2.9 0.7053
4 Peningkatan kesejahteraan 0.3048 3.8 11.582 3.326
Tabel 12 Matriks perbandingan berpasang subkriteria biaya perawatan
Biaya perawatan PR PG
PR 1 1
PG 1 1
2 2
. Perhitungan normalisasi dilakukan dengan jalan masing- masing kolom dibagi dengan jumlah keseluruhan. Perhitungan dilakukan untuk semua kolom dan baris, baru setelah semua baris dan kolom terisi maka setiap baris dijumlahkan. Hasil penjumlahan pada baris tiap-tiap baris dibagi dengan jumlah elemen yang saling membandingkan. Tabel 13 menunjukkan bobot kriteria dan subkriteria biaya dari proses normalisasi.
Tabel 13 Bobot kriteria dan subkriteria
No Manfaat Bobot
kriteria (1)
Bobot Subkriteria
A Biaya Proyek 0.6 (2)
1 Biaya konstruksi 0.333
2 Biaya pembebasan lahan 0.666
B Biaya Operasional 0.2
1 Biaya listrik 0.4
2 Biaya air 0.4
3 Biaya operasional gedung 0.2
C Biaya Perawatan 0.2
1 Biaya Perawatan rutin 0.5
2 Biaya penggantian 0.5
B. 1 Bobot Total Prioritas Subkriteria
Bobot total prioritas subkriteria didapatkan dengan mengalikan bobot kriteria. Hasil perkalian tersebut dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 14 Bobot total prioritas subkriteria
B. 2 Penilaian Biaya
Untuk mengetahui penilaian biaya Rusunawa Jemundo maka dilakukan perhitungan hasil kuisioner tentang penilaian Rusunawa Jemundo berdasarkan kriteria biayat. Hasil perhitungan yang diperoleh akan dikalikan dengan bobot
masing-masing kriteria. Rekapitulasi berikut. Hasil rata-rata subkriteria biaya dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Rekapitulasi rata-rata tiap komponen subkriteria biaya
B . 3 Hasil Analisa Biaya
Hasil analisa biaya dapat dihitung dengan cara mengalikan rekapitulasi penilaian biaya dengan bobot total prioritas subkriteria. Hasil perhitungan analisa biaya dapat dilihat pada tabel 4.16.
Tabel 16 Hasil penilaian Biaya
C. Analisa Manfaat Biaya
Setelah mendapatkan hasil penilaian manfaat dan biaya, dilakukan perhitungan perbandingan manfaat dan biaya.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
B/C =
Dari hasil analisa manfaat dan analisa biaya diperoleh hasil seperti pada Tabel 17.
No Manfaat Bobot
kriteria (1) Bobot
Subkriteria (2) ( 1 X 2 ) A Biaya Proyek
1 Biaya konstruksi 0.6 0.333 0.20
2 Biaya pembebasan lahan 0.6 0.666 0.40
B Biaya Operasional
1 Biaya listrik 0.2 0.4 0.08
2 Biaya air 0.2 0.4 0.08
3 Biaya operasional gedung 0.2 0.2 0.04
C Biaya Perawatan
1 Biaya Perawatan rutin 0.2 0.5 0.10
2 Biaya penggantian 0.2 0.5 0.10
1.00
No Biaya Rata-rata nilai
subkriteria
1 Konstruksi 2.5
2 Pembebasan lahan 2.75
3 Listrik 3
4 Air 2.75
5 Operasional gedung 2.5
6 Perawatan 3.5
7 Penggantian 2.75
19.75
No Biaya Bobot (B) Rata-rata
subkriteria ( B X n )
A Biaya Proyek
1 Biaya konstruksi 0.20 2.5 0.5
2 Biaya pembebasan
lahan 0.40 2.75 1.1
B Biaya Operasional
1 Biaya listrik 0.08 3 0.24
2 Biaya air 0.08 2.75 0.22
3 Biaya operasional
gedung 0.04 2.5 0.10
C Biaya Perawatan
1 Biaya Perawatan
rutin 0.10 3.5 0.35
2 Biaya penggantian 0.10 2.75 0.275
2.785
Tabel 17 Hasil analisa dari Rusunawa Jemundo
Analisa Nilai
Manfaat 3.326
Biaya 2.785
Berdasarkan Tabel 17 diperoleh nilai B/C sebagai berikut :
B/C =
= 1.19
Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai B/C lebih besar dari 1, dengan demikian usulan proyek layak atau dapat diterima.
D. KESIMPULAN/RINGKASAN
Dari hasil analisa diperoleh hasil penelitian manfaat sebesar 3.326 dan penilaian biaya sebesar 2.785. Dari hasil perbandingan manfaat biaya diperoleh hasil sebesar 1.19, sehingga proyek layak dilaksanakan.
DAFTARPUSTAKA
[1] Pujawan, I Nyoman. 2004. Ekonomi Teknik. Jakarta : Guna widya.
[2] Saaty, L Thomas. 2003. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Jakarta : Pustaka Binaman Grasindo.
[3] De Garmo, E. 1997 . Engeneering Economy. Tenth Edition : Prentice Hall.
[4] Soeharto, Iman. 1997. Manajemen Proyek. Jakarta : Erlangga.