1. Gambaran umum KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua
KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No: 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak. Seiring dengan semangat reformasi birokrasi dan modernisasi maka pada tanggal 12 Juni 2007 KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua resmi mulai beroperasi sebagai salah satu Kantor Pelayanan Pajak Pratama di lingkungan Kantor Wilayah DJP Jakarta Selatan. Beralamat di Jalan HR Rasuna Said Kav. B-8, Setiabudi, Jakarta Selatan.
KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua merupakan metamorphosis dari KPP Jakarta Setiabudi Satu yang mempunya wilayah kerja meliputi:
Kelurahan Setiabudi : seluas 73,94 Ha
Kelurahan Guntur : seluas 65,49 Ha
Kelurahan Pasar Manggis : seluas 90, 40 Ha
Kelurahan Menteng Atas : seluas 78,00 Ha
Adapun diukur dari luas wilayah KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua meliputi wilayah 307,83 Ha.
a. Struktur Organisasi a. Sub Bagian Umum
Bertugas mengkoordinasikan pelayanan kesekretariatan dengan caara mengatur tata usaha dan kepegawaian, keuangan, rumah tangga serta perlengkapan untuk menunjang kelancaran tugas KPP.
b. Seksi Pengolahan Data dan Informasi
Bertugas mengkoordinasikan pengumpulan, pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan.
Urusan tata usaha penerimaan perpajakan, pengalokasian Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, pelayanan dukungan teknis computer, pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filling, dan penyiapan laporan kinerja.
c. Seksi Pelayanan
Bertugas mengkoordinasikan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan surat pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, dan kerjasama perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku.
d. Seksi Penagihan
Bertugas untuk melakukan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan
penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan sesuai ketentuan yang berlaku yang di perkuat dengan 3 Juru Sita Negara.
e. Seksi Ekstensifikasi
Bertugas mengkoordinasikan pengamat potensi perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, mengumpulkan data Wajib Pajak dan Objek Pajak, membuat monografi fiskal dan melakukan penilaian objek PBB.
f. Seksi Pemeriksaan
Bertugas mengkoordinasikan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan serta administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya.
g. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I (WASKON I)
Tugas-tugas yang dilakukan oleh Seksi Waskon I adalah sebagai berikut:
1. Membuat Surat Tagihan Pajak.
2. Meneliti syarat formal berlas permohonan keberatan.
3. Menganalisis data Wajib Pajak dan menghitung potensi pajak dari Wajib Pajak tersebut.
4. Mengawasi penerimaan PPh Masa dan Tahunan, PBB, PPN, PPnBM dan lain-lain.
5. Memberi penjelasan yang berkaitan dengan PPh, PPN, PPnBM, PBB dan lain-lain.
6. Membuat Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP) h. Seksi Pengawasan dan Konsultasi II (WASKON II)
Tugas-tugas yang dilakukan oleh Seksi Waskon II adalah sebagai berikut:
1. Membuat Surat Tagihan Pajak
2. Meneliti syarat formal berkas permohonan keberatan
3. Menganalisis data Wajib Pajak dan menghitung potensi pajak dari Wajib Pajak tersebut.
4. Mengawasi penerimaan PPh Masa dan Tahunan, PBB, PPN, PPnBM dan lain-lain.
5. Memberi penjelasan yang berkaitan dengan PPh, PPN, PPnBM, PBB dan lain-lain kepada Wajib Pajak yang belum mengerti.
i. Seksi Pengawasan dan Konsultasi III (WASKON III)
Tugas-tugas yang dilakukan oleh Seksi Waskon III adalah sebagai berikut:
1. Membuat Surat Tagihan Pajak
2. Meneliti syarat formal berkas permohonan keberatan
3. Menganalisis data Wajib Pajak dan menghitung potensi pajak dari Wajib Pajak tersebut.
4. Mengawasi penerimaan PPh Masa dan Tahunan, PBB, PPN, PPnBM dan lain-lain.
5. Memberi penjelasan yang berkaitan dengan PPh, PPN, PPnBM, PBB dan lain-lain kepada Wajib Pajak yang belum mengerti.
j. Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV (WASKON IV)
Tugas-tugas yang dilakukan oleh Seksi Waskon IV adalah sebagai berikut:
1. Membuat Surat Tagihan Pajak
2. Meneliti syarat formal berkas permohonan keberatan
3. Menganalisis data Wajib Pajak dan menghitung potensi pajak dari Wajib Pajak tersebut.
4. Mengawasi penerimaan PPh Masa dan Tahunan, PBB, PPN, PPnBM dan lain-lain.
5. Memberi penjelasan yang berkaitan dengan PPh, PPN, PPnBM, PBB dan lain-lain kepada Wajib Pajak yang belum mengerti.
Struktur Organisasi KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua
Gambar 4.1
Struktur Organisasi KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua Sumber: KPP Pratama Jakarat Setiabudi Dua
Account Represetative
Pengawasan
Account Represetative
Pengawasan
Account Represetative
Pengawasan
Account Represetative
Pengawasan
PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA
KELOMPOK FUNGSIONAL
b. Potensi Wilayah Kerja
Potensi wilayah penyangga penerimaan adalah wilayah perkantoran yang meliputi Kelurahan Setiabudi dan Guntur. Sebagai gambaran, dapat diuraikan gedung-gedung perkantoran yang termasuk dalam wilayah kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua adalah:
Tabel 4.1
Potensi Wilayah Kerja KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua Gedung Perkantoran > 5 Lantai Gedung Perkantoran < 5 Lantai Kelurahan Setiabudi
1. Menara Kodel 2. Plaza Centris 3. Gedung Santoso 4. Gedung Lina 5. Menara Duta 6. Atrium Mulia 7. Gedung Landmark I 8. Gedung Landmark II 9. Wisma Indocement 10. Wisma Bumiputera Kelurahan Guntur
1. Menara Imperium Kelurahan Pasar Manggis -
Kelurahan Setiabudi
1. Gedung Femina 2. Puri Kuningan
3. Gedung Pabrik Pipa Indonesia 4. Sudirman Plaza
5. Menara Indofood Kelurahan Guntur
-
Kelurahan Pasar Manggis
1. PD Pasar Jaya “Pasar Rumput”
Kelurahan Menteng Atas
2. Narasumber (key informan)
Narasumber (key informan) memberikan suatu pandangan dan pemahaman atas penelitian ini. Informasi yang diperoleh peneliti akan dijadikan sebagai data yang akan di analisa sesuai dengan fenomena penelitian. Narasumber (key informan) terdiri atas:
a. Pihak KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua melalui Seksi Waskon b. Pihak Wajib Pajak
B. Pembahasan
Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode deskriptif kualitatif. Dimana peneliti akan memaparkan, menjelaskan serta menggambarkan hasil data yang diperoleh dari beberapa sumber.
Diantaranya:
1. Analisa Hasil Data
Analisa hasil data adalah data sekunder yang diperoleh dari KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua yang mencakup penyampaian tanggapan Wajib Pajak, nilai potensi atas penerbitan surat himbauan, penerimaan pajak melalui surat himbauan atau SP2DK serta realisasi penerimaan pajak. Untuk itu penulis akan membahas perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu tiga tahun sejak tahun 2013 sampai tahun 2015.
Tabel 4.2
Penyampaian Tanggapan Wajib Pajak dan Nilai Potensi Atas Penerbitan Surat Himbauan atau SP2DK
Seksi Surat
Himbauan Tanggapan Tertulis
Penyampaian Surat Himbauan Tahun 2013
Nilai Potensi (RP) Tanggapan
Langsung / Konseling
Tidak Ada Tanggapan
Waskon II 307 51 60 196 23.754.460.336
Waskon III 450 83 57 310 37.243.272.492
Waskon IV 411 85 240 86 237.601.569.000
Total 1168 219 357 592 298.599.301.828
Seksi Surat
Himbauan Tanggapan Tertulis
Penyampaian Surat Himbauan Tahun 2014
Nilai Potensi (RP) Tanggapan
Langsung / Konseling
Tidak Ada Tanggapan
Waskon II 544 87 71 386 35.497.835.748
Waskon III 547 78 26 443 25.381.575.193
Waskon IV 718 149 419 150 465.157.349.482
Total 1809 314 516 979 526.036.760.423
Seksi Surat
Himbauan Tanggapan Tertulis
Penyampaian SP2DK Tahun 2015
Nilai Potensi (RP) Tanggapan
Langsung / Konseling
Tidak Ada Tanggapan
Waskon II 807 322 215 270 42.266.332.074
Waskon III 757 273 24 460 34.054.500.408
Waskon IV 1050 217 612 221 948.697.291.470
Total 2614 812 851 951 1.025.018.123.952
a. Analisa Penyampaian Tanggapan Wajib Pajak dan Nilai Potensi Atas Penerbitan Surat Himbauan atau SP2DK Pada Tahun 2013 Sampai Tahun 2015
Berdasarkan tabel 4.2 penyampaian tanggapan Wajib Pajak dan Nilai Potensi atas penerbitan Surat Himbauan atau SP2DK dari Seksi Waskon II, Seksi Waskon III dan Seksi Waskon IV pada umumnya mengalami Turun-naik baik dari Wajib Pajak yang melakukan tanggapan tertulis, tanggapan langsung/konseling, maupun tidak menanggapi atas diterbikannya Surat Himbauan atau SP2DK. Pada tahun 2013 Seksi Waskon II menerbitkan surat himbauan sebanyak 307 lembar, 51 Wajib Pajak melakukan tanggapan tertulis, 60 tanggapan langsung/konseling, dan 196 tidak ada tanggapan dari Wajib Pajak dengan nilai potensi Rp.
23.754.460.336.
Di tahun 2014 sebanyak 544 lembar surat himbauan, tanggapan tertulis 87, Wajib Pajak yang melakukan tanggapan langsung/konseling sebanyak 71 dan tidak ada tanggapan sebanyak 386 dengan nilai potensi Rp. 35.497.835.748. Ditahun 2015 Seksi Waskon III menerbitkan 807 lembar Surat Himbauan atau SP2DK, dengan tanggapan tertulis 322, tanggapan langsung/konseling 215, tidak ada tanggapan sebanyak 207 dan dengan nilai potensi sebesar Rp. 42.266.332.074.
Untuk Seksi Waskon III pada tahun 2013 menerbitkan 450 lembar surat himbauan, 83 tanggapan tertulis, 57 tanggapan langsung/konseling
dan 310 tidak ada tanggapan dari Wajib Pajak dengan nilai potensi sebesar Rp. 37.243.272.492. Tahun 2014 Seksi Waskon III mengalami penurunan nilai potensi yaitu sebesar Rp. 25.381.575.193 dengan sebanyak 547 lembar surat himbauan, tanggapan tertulis sebanyak 78, tanggapan langsung/konseling sebanyak 26 dan tidak ada tanggapan sebanyak 443.
Dan tahun 2015 Seksi Waskon IV menerbitkan surat himbauan sebanyak 757 lembar, tanggapan tertulis dari Wajib Pajak sebesar 273, tanggapan langsung/konseling 24 dan tidak ada tanggapan sebanyak 460 dengan nilai potensi sebesar Rp. 34.054.500.408.
Seksi Waskon IV di tahun 2013 menerbitkan surat himbauan sebanyak 411 lembar, dengan tanggapan tertulis 85, tanggapan langsung/konseling 240, tidak ada tanggapan sebanyak 86 dan nilai potensi Rp. 237.601.569.000. Tahun 2014, 718 lembar surat himbauan atau SP2DK, tanggapan tertulis sebanyak 149, tanggapan langsung/konseling sebanyak 419 dan tidak ada tanggapan sebanyak 150 dengan nilai potensi Rp. 465.157.349.482. Dan di tahun 2015 Seksi Waskon IV menerbitkan surat himbauan atau SP2DK sebanyak 1050 lembar dengan tanggapan tertulis dari wajib pajak sebanyak 217, wajib pajak yang melakukan tanggapan langsung atau konseling sebanyak 612 dan wajib pajak yang tidak memberikan tanggapan sebanyak 221 dengan nilai potensi Rp. 948.697.291.470.
Secara keseluruhan total Surat Himbauan atau SP2DK yang diterbitkan KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua Pada tahun 2013 sebanyak 1168 lembar dengan nominal potensi sebesar Rp. 298.599.301.828. Tahun 2014 sebanyak 1809 lembar dengan nilai potensi Rp. 526.036.760.423.
Dan pada tahun 2015 sebanyak 2614 lembar dengan nilai potensi RP.
1.025.018.123.952.
Tabel 4.3
Penerimaan Pajak Melalui Surat Himbauan Atau SP2DK Pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua Tahun 2013 s.d 2015
Seksi Realisasi Tahun 2013 (Rp)
Realisasi Tahun 2014 (Rp)
Realisasi Tahun 2015 (Rp)
Waskon II 8.877.230.168 8.542.445.403 18.633.166.037
Waskon III 6.248.917.874 8.718.657.039 11.099.342.298
Waskon IV 44.735.929.883 97.368.598.975 200.088.957.199 Total 59.862.077.925 114.629.701.417 229.821.465.534
Tabel 4.4
Realisasi Penerimaan Pajak Pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua Tahun 2013 s.d 2015
Tahun Realisasi Penerimaan Pajak (Rp)
2013 1.085.060.253.222
2014 1.366.747.201.784
2015 1.788.965.814.728
b. Analisa Efektivitas Surat Himbauan atau SP2DK pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua dari Tahun 2013 sampai tahun 2015
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, dalam hal efektivitas penerbitan surat himbauan atau SP2DK, maka rumus ukuran efektivitas yang digunakan adalah perbandingan realisasi penerimaan pajak melalui surat himbauan atau SP2DK antar surat himbauan atau SP2DK yang dibayar dan surat himbauan atau SP2DK yang dijawab dengan nilai potensi dari surat himbauan atau SP2DK. Dengan asumsi surat himbauan atau SP2DK dibayar apabila Wajib Pajak yang kurang bayar atau lebih bayar dalam hal melaporkan kewajiban perpajakannya dan surat himbauan atau SP2DK dijawab apabila Wajib Pajak yakin dan memang terdapat bukti bahwa kewajiban perpajakannnya sudah benar dan sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.
Efektivitas surat himbauan atau SP2DK dihitung dengan rumuas sebagai berikut:
Indikator untuk tingkat efektivitas dari hasil perhitungan menggunakan formula efektivitas.
Tabel 2.1 Klasifikasi Pengukuran Efektivitas
Persentase Kriteria
>100% Sangat Efektif
90-100% Efektif
80-90% Cukup Efektif
60-80% Kurang Efektif
<60% Tidak Efektif
Sumber: Depdagri, Kepmendagri No. 690.900.327 tahun 1996
Berikut ini adalah tabel yang menunjukan penerbitan surat himbauan atau SP2DK, surat himbauan atau SP2DK yang dibayar, surat himbauan atau SP2DK yang dijawab dan tingkat efektivitas terhadap penerimaan pajak.
Tabel 4.5
Efektivitas Surat Himbauan atau SP2DK Pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua (2013-2015)
Tahun 2013
Seksi
Surat Himbauan
Terbit (Rp)
Surat Himbauan Dibayar
(Rp)
Surat Himbauan Dijawab
(Rp)
Tingkat
Efektivitas Kriteria Waskon II 23.754.460.336 8.877.230.168 4.158.249.772 54.87% Tidak Efektif Waskon III 37.243.272.492 6.248.917.874 4.475.216.641 28.79% Tidak Efektif Waskon IV 237.601.569.000 44.735.929.883 23.854.264.133 28.86% Tidak Efektif Total 298.599.301.828 59.862.077.925 32.487.730.546 30.92% Tidak Efektif
Tahun 2014
Seksi
Surat Himbauan
Terbit (Rp)
Surat Himbauan Dibayar
(Rp)
Surat Himbauan Dijawab
(Rp)
Tingkat
Efektivitas Kriteria Waskon II 35.497.835.748 8.542.445.403 7.124.872.523 38.50% Tidak Efektif Waskon III 25.381.575.193 8.718.657.039 3.425.844.612 44.13% Tidak Efektif Waskon IV 465.157.349.482 97.368.598.975 15.742.578.762 24.31% Tidak Efektif Total 526.036.760.423 114.629.701.417 26.293.295.897 26.79% Tidak Efektif
Tahun 2015
Seksi
Surat Himbauan Terbit
(Rp)
Surat Himbauan
Dibayar (Rp)
Surat Himbauan
Dijawab (Rp)
Tingkat
Efektivitas Kriteria Waskon II 42.266.332.074 18.633.166.037 11.425.822.125 71.11% Kurang Efektif Waskon III 34.054.500.408 11.099.342.298 8.421.631.164 57.32% Tidak Efektif Waskon IV 948.697.291.470 200.088.957.199 82.697.240.630 29.80% Tidak Efektif Total 1.025.018.123.952 229.821.465.534 102.544.693.919 32.42% Tidak Efektif
Data tahun 2013 berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa nilai dari surat himbauan yang diterbitkan adalah Rp.298.599.301.828,- oleh wajib pajak dibayar sebesar Rp.59.862.077.925,- dan dijawab sebesar Rp.
32.487.730.546,- atau sekitar 30.92 persen. Berdasarkan indikator pengukuran efektivitas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan pajak melalui surat himbauan tahun 2013 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua tergolong tidak efektif. Data tahun 2014 menunjukan nilai dari surat himbauan yang diterbitkan adalah Rp. 526.036.760.423,-. Jumlah yang dibayar oleh wajib pajak adalah sebesar Rp. 114.629.701.417,- dan dijawab wajib pajak adalah sebesar Rp. 26.293.295.897,- atau sekitar 26.79 persen. Terjadi penurunan persentase efektivitas sebesar 4.14 persen.
Berdasarkan indikator pengukuran efektivitas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan pajak melalui surat himbauan tahun 2014 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua tergolong tidak efektif. Data tahun 2015 menunjukan nilai dari SP2DK yang diterbitkan adalah Rp.
1.025.018.123.952,- oleh wajib pajak dibayar sebesar Rp.
229.821.465.534,- dan dijawab sebesar Rp. 102.544.693.919,- atau sekitar 32.42 persen. Persentase efektivitas mengalami kenaikan sebesar 5.64 persen. Berdasarkan indikator pengukuran efektivitas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan pajak melalui SP2DK tahun 2015 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua tergolong tidak efektif. Untuk tahun 2015
dikategorikan tidak efektif dikarenakan mulai di bulan Juli 2015 Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang ada di Pulau Jawa dan Pulau Bali diwajibkan membuat faktur pajak berbentuk elektronik (e-faktur) dalam perlaporan SPT PPNnya.
c. Kontribusi Surat Himbauan atau SP2DK terhadap Penerimaan Pajak pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua dari tahun 2013 sampai tahun 2015
Untuk mengukur seberapa besar kontribusi penerimaan pajak yang berasal dari surat himbauan atau SP2DK yang dilaksanakan oleh KPP, maka digunakan analisis rasio kontribusi. Dengan menggunakan rasio kontribusi ini, dapat diketahui apakah dengan di terbitkan surat himbauan atau SP2DK cukup signifikan terhadap penerimaan pajak di KPP.
Ukuran kontribusi penerimaan pajak melalui surat himbauan di ukur dengan rumus sebagai berikut:
Untuk mengetahui kontribusi dari hasil perhitungan dengan menggunakan formula di atas digunakan klasifikasi kriteria kontribusi seperti dijabarkan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 2.2 Klasifikasi Kriteria Kontribusi
Persentase Kriteria
0,00-10% Sangat Kurang
10,10-20% Kurang
20,10-30% Sedang
30,10-40% Cukup Baik
40,10-50% Baik
>50% Sangat Baik
Sumber: Depdagri, Kepmendagri No. 690.900.327 tahun 1996
Perbandingan antara realisasi penerimaan pajak melalui surat himbauan dengan penerimaan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratma Jakarta Setiabudi Dua disajikan di table 4.6. Perbandingan ini untuk menggambarkan seberapa besar pengaruh/kontribusi surat himbauan atau SP2DK terhadap penerimaan pajak secara keseluruhan.
Tabel 4.6
Kontribusi Penerimaan Pajak Melalui Surat Himbauan/SP2DK Pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua Tahun 2013-2015
Tahun
Realisasi Penerimaan Pajak melalui Surat Himbauan atau SP2DK
(Rp)
Penerimaan Pajak
(Rp)
Kontribusi Kriteria
2013 59.862.077.925 1.085.060.253.222 5.51% Sangat Kurang
2014 114.629.701.417 1.366.747.201.784 8.39% Sangat Kurang
2015 229.821.465.534 1.788.965.814.728 12.84% Kurang
Penerimaan pajak melalui surat himbauan atau SP2DK dapat dilihat pada tabel 4.6 menyumbang kontribusi terhadap total penerimaan pajak sebesar 5.51 persen pada tahun 2013, sedangkan untuk tahun 2014 terjadi peningkatan persentase kontribusi sebesar 2.88 persen menjadi 8.39 persen. Hal ini terus ditingkatkan pada tahun 2015, dengan kenaikan sebesar 4.41 persen menjadi 12.84 persen. Berdasarkan klasifikasi kriteria kontribusi, dapat disimpulkan bahwa kontribusi penerimaan pajak melalui surat himbauan atau SP2DK tahun 2013, 2014, dan tahun 2015 pada KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua masih tergolong sangat kurang.
Beberapa hal yang menyebabkan surat himbauan atau SP2DK yang diterbitkan tidak dilunasi dan tidak ditanggapi oleh wajib pajak sehingga menunjukan hasil yang sangat kurang adalah kurangnya respon atau tanggapan dari Wajib Pajak atas Surat Himbauan atau SP2DK yang dikirim, banyaknya surat himbauan atau SP2DK yang kembali ke Pos
wajib pajak yang telah berpindah alamat tetapi tidak menyampaikan perubahan data kepada KPP. Wajib pajak tidak mengakui akan adanya surat himbauan atau SP2DK yang dikirim. Dan kurangnya tingkat kepetuhan dan kesadaran wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya.
2. Analisa Tanggapan Narasumber (Key Informan) Berkaitan Surat Himbauan atau SP2DK.
Data yang digunakan dalam analisa informan peneliti adalah data primer yang diperoleh dengan terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui tanggapan narasumber dengan adanya Surat Himbauan atau SP2DK. Peneliti akan memaparkan data yang diperoleh melalui wawancara kepada informan sesuai argument dari masing-masing narasumber. Adapun informan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Pihak KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua melalui Kepala Seksi Waskon
Berdasarkan wawancara yang saya lakukan dengan pihak KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua melalui Kepala Seksi Waskon, Saya menganalisa bahwa diterbitkannya surat himbauan atau SP2DK belum mencapai target yang diharapkan. Seperti yang disebutkan dalam Undang Undang Nomor 6 Tahun 1983 pasal 3 ayat (1) sebagaimana terakhir telah diubah dengan Undang Undang Nomor 16 Tahun 2009 bahwa fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang. KPP menerbitkan Surat Himbauan atau SP2DK untuk memberitahukan secara resmi kepada Wajib Pajak tentang adanya dugaan kewajiban perpajakan yang dapat terlewatkan oleh Wajib Pajak atau untuk mempertanyakan (klarifikasi)
kepada Wajib Pajak terkait data yang dimiliki sehubungan dengan kegiatan usaha Wajib Pajak sebagaimana hal ini telah diatur oleh SE- 39/PJ/2015.
Namun pada kenyataannya Wajib Pajak kurang merespon terkait Surat Himbauan atau SP2DK. Dalam hal ini Wajib Pajak yang tidak menanggapi Surat Himbauan atau menyangkal data/ informasi yang ada didalamnya tanpa mampu memberikan bukti atau penjelasan pendukung, KPP meminta Wajib Pajak (atau orang yang dikuasakan) untuk datang langsung ke KPP dan memberikan penjelasan secara langsung agar dugaan yang ada didalam Surat Himbauan dapat dibahas bersama dan selaku Wajib Pajak dapat menyatakan untuk mengakui kebenaran isi Surat Himbauan tersebut dan melakukan pemenuhan kewajiban sebagaimana dihimbau atau menolaknya sehingga pihak KPP akan mengambil langkah selanjutnya.
Berdasarkan penolakan atau keengganan atau pengabaian tersebut maka KPP dapat mengambil langkah Usulan Pemeriksaan atau Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan, dalam hal dari informasi yang diperoleh pihak KPP, Wajib Pajak terindikasi melakukan tindak pidana dibidang perpajakan.
Yang dilakukan pihak Kpp Pratama Jakarta Setiabudi Dua untuk lebih meningkatkan kepatuhan perpajakan dan meningkatkan penerimaan pajaknya yaitu melalui program Tax Amnesty. Terlebih
ditahun 2015, dimana tahun 2015 ditetapkan sebagai Tahun Pembinaan Pajak. Pembinaan tersebut memiliki tujuan untuk meningkatkan kepatuhan perpajakan dan untuk meningkatkan penerimaan pajak jangka pendek yang akan berpengaruh terhadap pendapatan negara dalam jangka panjang.
b. Pihak Wajib Pajak
Berdasarkan wawancara yang saya lakukan dengan pihak Wajib Pajak. Saya menganalisa bahwa beliau Selaku Wajib Pajak mengetahui adanya Surat Himbauan atau SP2DK, namun Wajib Pajak kerap tidak tahu harus bagaimana saat menerima Surat Himbauan atau SP2DK dari KPP. Wajib Pajak berasumsi bahwa ada sejumlah uang yang harus Wajib Pajak keluarkan akibat datangnya Surat Himbauan atau SP2DK tersebut. Oleh Wajib Pajak, isi dari Surat Himbauan atau SP2DK tersebut dipahami baik-baik setiap poin yang disampaikan agar dapat mengambil langkah untuk menanggapinya. Wajib Pajak memilih datang langsung ke KPP untuk melakukan konseling kepada AR.
Wajib pajak tidak bermaksud untuk mengabaikan Surat Himbauan atau SP2DK tersebut, akan tetapi Wajib Pajak perlu penjelasan terperinci atas diterimanya Surat Himbauan tersebut. Menurut analisa saya, Wajib Pajak merasa puas atas jawaban AR ketika mereka tidak menegerti dan harus Konseling. Wajib Pajak lebih mengetahui dan mengerti maksud dari setiap poin Surat Himbauan atau SP2DK.