Pengantar Ilmu Hadis Pelajaran 2
روپاگ نس و یزلام ،ینزودنا هقطنم یگدنیامن
Istilah Internal Hadis
Sebagaimana telah disinggung pada pelajaran sebelumnya, istilah hadis telah dibagi menjadi dua kategori
“internal hadis” dan “eksternal hadis”. Istilah internal hadis akan dibahas mulai pelajaran ke-2 hingga pelajaran ke-12.
Dan yang dimaksud istilah internal hadis tak lain adalah seluruh istilah yang berhubungan dengan hadis itu sendiri.
Dalam rangka membahas istilah internal hadis, pertama kita perlu menyimak definisi “hadis” (hadīts) menurut pandangan ahli hadis Syi’ah.
Hadis
Kata “hadis” (hadīts) secara etimologis berarti baru”
dan merupakan lawan kata qadīm yang berarti “lama”.1 Sedangkan secara terminologis, hadis adalah tuturan dan ungkapan insan maksum atau yang yang berasal dari insan maksum. Hadis ini kemudian terbagi menjadi dua kategori, yaitu hadis qudsi dan hadis non-qudsi.
1. Hadis Qudsī
Hadis qudsī, yang juga sering disebut hadis rabbānī atau hadis ilāhī,, adalah kalam dan firman Allah Swt. yang
Pelajaran ke-2
Definisi dan Sinonim Hadis
diwahyukan kepada Rasulullah Saw. atau salah satu insan maksum tanpa maksud dan tujuan sebagai mukjizat sehingga tidak termasuk bagian dari al-Qur’an. Contohnya, terkadang Rasulullah Saw. menjelaskan suatu hukum atau memberikan suatu nasihat yang secara langsung berasal dari Allah Swt., yang walaupun bukan bagian dari ayat-ayat al-Qur’an namun juga tidak bisa dikategorikan sebagai perkataan insan maksum ataupun sabda nabi, melainkan masuk dalam kategori hikmah rabbani yang berasal dari alam gaib.
Definisi hadis qudsi menurut beberapa ahli hadis Syi’ah ialah sebagai berikut;
1. Syekh Baha’i: “Hadis qudsī adalah kalam Allah Swt.
yang diutarakan tanpa bersifat tantangan.”2
2. Sayyid Hasan Shadr: “Apa yang disebut sebagai hadis qudsī adalah firman Allah yang dihikayatkan tanpa bersifat tantangan. Contohnya adalah ketika Nabi Saw. bersabda, ‘Allah Swt. berfirman...’”3
3. Allamah Mamaqan: “Hadis qudsi adalah firman Allah Swt. yang turun dan dihikayatkan oleh seorang nabi atau washi namun bukan sebagai mukjizat.”4
Perbedaan Hadis Qudsī Dengan Hadis Non-Qudsī Sesuai definisi tadi kita dapat berkesimpulan bahwa lafal dan makna dalam hadis qudsi berasal dari Allah Swt., lafal bukan berdasar pilihan Nabi Muhammad Saw., hikayat hadis qudsi dari Allah Swt. dengan perantaraan insan maksum, sedangkan lafal dan hikayat hadis non-qudsi berasal dari insan maksum. Namun demikian, sebagian
kalangan berpendapat bahwa lafal hadis qudsi berasal dari Nabi Muhammad Saw. atau berkemungkinan berasal dari beliau sendiri.5
Perbedaan Hadis Qudsī dan al-Qur’an
Al-Qur’an memiliki ciri khas dan keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh hadis qudsi dan memang bukan merupakan merupakan keharusan bagi hadis qudsi.
Al-Qur’an berbeda dengan hadis qudsi dalam beberapa poin sebagai berikut 6:
1. Al-Qur’an adalah mukjizat abadi sehingga terjaga dari segala bentuk perubahan dan penggantian, dan merupakan kalam yang mutawatir.
2. Mengingkari al-Qur’an menyebabkan pelakunya menjadi kafir.
3. Bacaan dalam shalat hanya sah dengan al-Qur’an.
4. Orang yang tidak bersuci tidak boleh menyentuh al- Qur’an.
5. Wahyu al-Qur’an diturunkan melalui perantara malaikat Jibril .
6. Lafal al-Qur’an pasti dari Allah Swt..
7. Bacaan al-Qur’an harus sesuai dengan teks yang jelas (nash) yang berasal Nabi Muhammad Saw..
8. Tidak boleh memperjual belikan al-Qur’an.
9. Tidak boleh mengutip al-Qur’an secara kontekstual, melainkan harus secara tekstual.
Bentuk Periwayatan Hadis Qudsi
Periwayatan hadis qudsi bisa dalam bentuk-bentuk seperti berikut:
a. “Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Rasulullah Saw., Allah Swt. berfirman...”
b. “Rasulullah Saw. bersabda berkenaan dengan apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya bahwa Dia berfirman: ....”.
Hadis Qudsi terdapat dalam kitab-kitab hadis. Dan orang yang pertama kali menulis dan mengumpulkan hadis- hadis qudsi dalam sebuah kitab adalah Sayyid Khalaf al- Huwaizi (wafat: 1074 H). Kitab koleksi hadis qudsi karya al-Huwaizi berjudul al-Balāgh al-Mubīn fī al-Ahādīts al- Qudsiyyah. Setelah itu disusul oleh Syekh Hurr al-Amili (wafat: 1104 H) dengan kitab yang berjudul al-Jawāhir al- Saniyyah fī al-Ahādīts al-Qudsiyyah. Kumpulan hadis qudsi yang dinisbatkan kepada kalangan Syi’ah adalah kitab al- Shuhuf al-Arba’ūn. Kitab ini berisi kumpulan hadis yang dinukil dari kitab Taurat yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas dari Imam Ali k.w..
Contoh Hadis Qudsī
Imam Ja’far al-Shadiq berkata bahwa Rasulullah Saw.
bersabda bahwa Allah Swt. berfirman: “Puasa hanyalah untuk Aku, dan Aku sendiri yang akan memberikan balasan pahala bagi orang yang berpuasa”.7
Amirulmukminin k.w. berkata, “Allah Swt. dari atas arsynya berfirman, ‘Wahai hamba-Ku sembahlah Aku
sebagaimana yang telah Aku perintahkan kepada kalian.”8 Diriwayatkan dari Ali ibn Husain bahwa dia berkata,
“Allah Swt. berfirman, ‘Jika salah satu dari makhluk-Ku bermaksiat kepada-Ku sementara dia mengenal-Ku, maka Aku akan menguasakan terhadapnya orang yang tidak mengenal-Ku”.9
Sebagian ahli hadis berpendapat bahwa hadis Silsilah Dzahabiyyah dan Ziarah Asyura termasuk hadis qudsi.
Mengenai kedudukan Nabi a.s. dan sebagian insan maksum juga terdapat beberapa hadis qudsi yang termuat dalam kitab-kitab hadis.
2. Hadis Non-Qudsi
Hadis non-qudsi adalah tutur kata insan maksum atau hikayat mengenai tutur kata, perbuatan dan ketentuan (taqrīr) insan maksum . Sebagian ahli hadis mendefinisikan hadis non-qudsi sebagai berikut;
1. Syahid Tsani: “Apa yang berasal dari insan maksum, baik dari Nabi atau dari Imam.”10
2. Syekh Baha’i: “Hadis non-qudsi adalah hikayat mengenai perkataan (qawl) insan maksum atau perbuatan (fi’l)-nya atau ketentuan (taqrīr)-nya....
Jika dikatakan bahwa hadis adalah perkataan insan maksum atau hikayat mengenai perkataan, perbuatan dan ketentuannya maka bisa jadi memang demikian. Adapun perbuatan dan ketentuan insan maksum itu sendiri disebut Sunnah, bukan hadis.”11 3. Allamah Mamaqani: “Hadis non-qudsi adalah
hikayat mengenai perkataan insan maksum atau perbuatannya atau ketentuannya.”12
Sesuai definisi-definisi tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap perkataan dan keterangan yang tidak berujung pada insan maksum tidak bisa disebut sebagai hadis, seperti perkataan sahabat dan tabi’in. Sayyid Hasan Shadr setelah mengutip perkataan Syekh Baha’i menjelaskan bahwa meskipun ada yang menilai definisi yang dikemukakan oleh Syekh Baha’i tidak komprehensif (jāmi’) dan tidak eksklusif (māni’)―karena jika yang dimaksud hikayat adalah lafal maka hadis yang dinukil secara makna tidak tercakup dalam definisi tersebut, dan kitab para fakih pun dalam beberapa hal justru tercakup di dalamnya karena matan kitab-kitab itu merupakan hadis―namun jelas bahwa makna hikayat sangat umum dan luas sehingga mencakup lafal dan makna. Di sisi lain kitab-kitab fikih seperti al-Nihāyah karya syekh al-Thusi dan lain-lain memang termasuk kumpulan hadis karena juga menghikayatkan perkataan insan maksum, walaupun segala sesuatu yang menghikayatkan ijtihad mereka tidak termasuk hadis.13
Berbeda dengan Syekh Baha’i, Allamah Mamaqani berpendapat bahwa perkataan (qawl) atau perbuatan (fi’l) itu sendiri tidak bisa disebut sebagai hadis karena perkataan pada umumnya adalah perintah dan larangan, adapun hikayat adalah sesuatu yang berhubungan dengan “pemberitaan”.14 Sedangkan Syekh Baha’i menilai hadis juga mencakup perkataan insan maksum itu sendiri.
Menurut pandangan Syi’ah Imamiah, sebutan “hadis”
untuk perkataan dan hikayat dari non-maksum tidaklah benar, melainkan bersifat majazi, sementara menurut pendapat Ahlussunnah perkataan sahabatpun bisa dikategorikan sebagai hadis.
Sunnah
Kata “sunnah” secara etimologis bermakna tingkah laku atau perilaku yang baik.15 Sastrawan terkenal al-Khitabi mengatakan, “Sunnah artinya jalan yang terpuji. Dan inilah arti yang terlintas setiap kali kata ini digunakan secara mutlak.16 Sedangkan secara terminologis, sunnah berarti
“setiap perbuatan, ucapan dan ketentuan insan maksum yang menjadi sumber hukum syariah”. Adapun lafal-lafal yang menjelaskannya disebut hadis, atsar dan khabar. Dengan imbuhan kalimat “sebagai sumber hukum syariah” maka perbuatan dan perkataan insan maksum yang tidak berfungsi sebagai sumber hukum tidak termasuk hadis.
Sedangkan yang dimaksud ketentuan (taqrīr) adalah persetujuan dan pembenaran insan maksum atas perbuatan seseorang. Dan taqrīr ini merupakan hujjah karena para maksum tidak mungkin membenarkan perbuatan seseorang yang bertentangan dengan syariah kecuali dalam rangka taqiyah yang memang bersifat kondisional. Adapun
“perbuatan” (fi’l) adalah seluruh perbuatan insan maksum seperti tatacara melaksanakan shalat, tatacara menulis, atau isyarat insan maksum .
Berikut ini beberapa definisi sunnah yang dikemukakan oleh para ahli hadis:
1. Sayyid Hasan Shadr: “Sunnah dalam pandangan kami adalah perkataan, perbuatan, dan ketentuan insan maksum yang bukan bagian dari al-Qur’an, dan bukan sesuatu yang biasa.”17
2. Allamah Mamaqani: “Sunnah adalah apa yang berasal Nabi Muhammad Saw. atau dari insan maksum secara mutlak berupa perkataan, perbuatan atau ketentuan yang tidak biasa.”18
3. Ayatullah Subhani: “Sunnah adalah perkataan, perbuatan atau ketentuan insan maksum. Dengan demikian maka sunnah tidak memiliki kategori apapun kecuali satu yaitu sunnah-shahīh yang terjaga dari kedustaan.”19
Kata “sunnah” terkadang digunakan dengan arti
“mustahabb” sebagai lawan kata “fardhu”, sebagaimana lazim digunakan di bidang fikih. Menurut ahli hadis dari kalangan mayoritas (Ahlussunnah), sunnah hanyalah perkataan insan maksum saja, sehingga beberapa kitab hadis dari kalangan Ahlussunnah disebut “sunan” [bentuk jamak sunnah], seperti Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibn Majah dan lain-lain.
Khabar
Kata khabar secara harfiah atau etimologis adalah sesuatu yang dinukilkan,20 memiliki arti yang lebih luas dari kata naba‘ merupakan antonim kata insyā’, dan berkemungkinan benar dan salah. Sedangkan dalam menurut istilah yang berlaku di kalangan para ulama hadis, kata khabar bersinonim dengan kata hadīts.
Syahid Tsani r.a. berkata, “Kata khabar dan kata hadīts adalah dua kata sinonim yang memiliki satu makna. ”21
Sekelompok ulama hadis lain mengatakan bahwa hadīts hanya berkenaan dengan para insan maksum, sedangkan khabar memiliki makna yang lebih luas sehingga mencakup manusia-manusia maksum dan non-maksum.22 Agaknya, pendapat yang lebih tepat adalah pandangan yang menyebutkan kesinoniman antara khabar dan hadis.
Atribut akhbārī sering dialamatkan kepada sebagian ulama hadis karena mereka sangat fokus pada hadis dan khabar dan sangat ahli di bidang ini, walaupun kata akhbārī dalam terminologi fikih juga disandangkan kepada sekelompok ulama fikih yang dalam memahami hukum fikih tidak menggunakan kaidah ushul, dan bahkan menilai hadis dan khabar secara tekstual saja sudah cukup sebagai hujjah.
Kata Akhbāri terkadang juga digunakan untuk menyebut para ahli sejarah. Dengan demikian, diperlukan konteks untuk memahami penggunaan kata “akhbāri”.23
Atsar
Kata atsar secara harfiah berarti “hasil sesuatu”, dan terkadang juga berarti “periwayatan”.24 Sedangkan secara terminologis, atsar sinonim dengan hadis.
Syekh Baha’i berkata, “Atsar sinonim dengan kata hadis”.25
Menurut sebagian ahli hadis, atsar memiliki makna lebih umum daripada hadis dan meliputi perkataan manusia non-maksum.
Mamaqani berkata, “ Atsar lebih umum daripada kata khabar dan hadis “.26
Syahid Tsani berkata, “Atsar lebih umum dari keduanya secara mutlak dan keduanya sama-sama tercakup dalam kata Atsar.”27
Sebagian ahli hadis membedakan antara atsar, hadis dan khabar. Hadis berhubungan dengan Nabi Muhammad saw, atsar berhubungan dengan para maksum as dan sahabat, sementara khabar lebih umum dari kedua kata tersebut.
Dalam hal riwayat, atsar agaknya sinonim dengan khabar.28 Sanad Hadis
Sanad secara etimologis berarti sandaran. Dalam kitab Tāj al-‘Arūs disebutkan sebagai berikut, “Sanad adalah apa yang dipercaya manusia sebagai sandaran.”29 Sedangkan secara terminologis, sanad adalah rangkaian mata rantai perawi yang menyambungkan matan hadis kepada insan maksum. Berikut ini adalah beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli hadis;
1. Syahid Tsani: “Sanad adalah jalur matan yang terdiri dari sekelompok perawi.”30
2. Syekh Baha’i: “Sanad adalah rangkaian mata rantai sejumlah perawi hadis yang bersambung kepada insan maksum.”31
3. Sayyid Hasan Shadr: “Sanad adalah keseluruhan rangkaian mata rantai perawi hadis hingga berakhir ke insan maksum as.”32
4. Ayatullah Subhani: “Sanad adalah jalur matan,
dan jalur yang dimaksud adalah sejumlah perawi satu persatu hingga bersambung kepada pemilik matan.”33
Istilah lain dari sanad adalah tharīq al-matan (jalur matan) karena para ahli hadis untuk dapat percaya atau tidak percaya kepada setiap hadis harus melihat jalur atau sanadnya. Mereka menyebutnya silsilah atau rangkaian mata rantai penukil setiap hadis sebagai sanad (sandaran) karena kepada rangkaian inilah mereka bersandar dalam proses pembuktian kesahihan hadis, dan kata sanad berasal dari ungkapan “fulānun sanadun ay al-mu’tmad” (si fulan adalah sanad [sandaran], yakni dia dapat dipercaya). Terkadang rangkaian mata rantai perawi juga disebut wajh, seperti terungkap dalam kalimat; “hādzā al-hadīts la yu’rafu illā min hādzā al-wajh” (hadis ini tidak dikenal kecuali dengan jalur ini).”
Sebagaimana akan dijelaskan nanti, kata “sanad “ berbeda dengan kata isnād. Sebab, isnād adalah pemberitaan (ikhbār) tentang jalur hadis. Isnad dan ikhbar memiliki makna mashdarī (infinitif) sedangkan kata sanad memiliki makna washfī (ajektif).
Sayyid Hasan Shadr berkata, “Sebagian kalangan mendefinisikan sanad sebagai pemberitahuan tentang jalur matan. Definisi ini tidak tepat karena hal itu justru merupakan
“isnad” itu sendiri, bukan sanad”.34
Syahid Tsani pun berpandangan bahwa antara kata sanad dan isnād memiliki makna yang berbeda. Dia berkata,
“Disebutkan bahwa sanad adalah pemberitahuan tentang
jalur, yakni jalur matan. Yang pertama―yakni bahwa sanad adalah jalur hadis―lebih relevan karena kesahihan dan kelemahan hadis disandarkan pada jalur dengan mengacu pada para perawi hadis, bukan pada pemberitaan.”35
Matan Hadis
Kata matan secara etimologis berarti “lahir” (apa yang terlihat secara kasat mata), atau bagian yang esensial dari sesuatu.36 Sedangkan dalam terminologi para ahli hadis, matan adalah tuturan atau ungkapan yang dinukil oleh perawi terakhir tentang maksum, baik berupa perkataan dan pemberitahuan mengenai lafal-lafal insan maksum maupun berupa pemberitahuan tentang perbuatan dan ketentuannya.
Sebagian ahli hadis mendefinisikan matan sebagai berikut : 1. Syahid Tsani: “Matan adalah lafal hadis yang menjadi
landasan makna, yaitu sabda Nabi Muhammad saw dan apa yang semakna dengannya.”37
2. Sayyid Hasan Shadr:“Matan adalah apa yang melandasi makna.”38
3. Ayatullah Subhani: “Matan adalah lafal hadis yang melandasi makna, yaitu sabda Nabi Muhammad Saw. atau para imam maksum.”39
Pembahasan tentang matan hadis kendati secara keseluruhan berhubungan dengan ilmu fiqh al-hadīts, namun juga dibahas dalam ilmu dirayah hadis karena matan hadis terkadang memiliki aspek kekuatan maupun kelemahan seperti hadis mazīd, hadis maqlūb, hadis mushhaf, hadis mudhtharib, dan lain-lain.
Ringkasan
Pada bagian pertama kajian kita seputar istilah internal hadis adalah berkenaan dengan hadis (hadis qudsī dan hadis non-qudsī), sunnah, khabar, sanad dan matan. Di situ dijelaskan bahwa yang dimaksud hadis qudsī adalah firman Allah Swt. yang tidak bersifat tantangan atau mukjizat, yang disampaikan melalui perantara figur maksum sehingga berbeda dengan al-Qur’an. Sedangkan hadis non-qudsi adalah keterangan atau pemberitahuan tentang penuturan insan maksum sehingga berbeda dengan sunnah yang berarti perkataan, perbuataan atau ketetapan insan maksum itu sendiri. Istilah khabar sinonim dengan kata hadīts dan atsar.
Adapun sanad dan matan hadis adalah bagian substansial hadis yang dengannya hadis tersebut eksis.
Bahan Latihan
1. Sebutkan definisi hadis qudsi menurut pandangan Syekh Baha’i dan Allamah Mamaqani!
2. Sebutkan perbedaan hadis qudsī dengan al-Qur’an!
3. Sebutkan definisi hadis non-qudsī serta jelaskan perbedaannya dengan sunnah!
4. Jelaskan perbedaan pendapat mengenai kesinoniman antara kata hadīts dan khabar!
5. Sebutkan definisi terminologis untuk kata sanad, tharīq, wajh dan matan al-hadīts!
Bahan Penelitian
1. Pelajarilah hadis qudsi berkenaan dengan Nabi Musa
dalam kitab al-Jawāhir al-Saniyyah, kemudian sebutkan jumlah dan materi-materi kolektif dalam hadis-hadis tersebut!
2. Sebutkan jumlah hadis qudsi yang mengemuka melalui Imam Ali dan Imam Ja’far Al-Shadiq dalam kitab al-Jawāhir al-Saniyyah, dan jelaskan pula secara ringkas tema-temanya!
3. Sebutkan jumlah hadis qudsi dalam kitab Bihār al- Anwār jilid 93, dan sebutlah pula secara berurutan para imam maksum yang membawakannya!
4. Pelajarilah kata hadis yang tertera dalam ayat dan riwayat kemudian jelaskan makna dan materinya!
5. Pelajarilah sanad riwayat dalam kitab al-Kāfī dalam bab “Keutamaan al-Qur’an” (Kitab Fadhl al-Qur’an), dan sebutkan para perawi kolektif hadis-hadis di dalamnya!
6. Lakukan perbandingan matan pada riwayat-riwayat al-Kāfī dalam bab “Keutamaan al-Qur’an”, kemudian sebutkan materi-materi yang sama!
7. Pelajarilah penggunaan istilah sanad al-hadīts, tharīq al-hadīts, dan wajh al-hadīts dalam kitab Bihār al-Anwār, kemudian jelaskan materi-materinya!
Referensi
1. Miqbās al-Hidāyah karya Allamah Mamaqani, jil. 1.
2. Mustadrakat Miqbās karya Muhammad Ridha Mamaqani, jil. 5.
3. Talkhīs Miqbās al-Hidāyah karya Ali Akbar Ghiffary.
4. ’Ilm al-Hadīts karya Syanehci.
5. Nihāyat al-Dirāyah karya Sayyid Hasan Shadr.
6. Al-Jawāhir al-Saniyyah karya Hurr al-Amili.
7. Bihār al-Anwār karya Allamah al-Majlisi, jil. 93.
Catatan:
1 Shihāh al-Lughah, Jauhari, jil. 1, hlm. 278.
2 Al-Wajīzah fī ‘Ilm al-Dirāyah hlm.3.
3 Nihāyat al-Dirāyah, hlm. 85.
4 Miqbās al-Hidāyah fī ‘Ilm al-Dirāyah, jil. 1 hlm. 70.
5 ‘Ilm al-Dirāyah, Penulis, hlm. 25; Kasysyaf Ishthilahāt al-Funūn, Tahanawi, jil. 2 hlm. 15.
6 ‘Ilm al-Dirāyah, Penulis, hlm. 19.
7 Bihār al-Anwār, jil. 93, hlm. 255.
8 Al-Jawhar al-Saniyyah, hlm. 247.
9 Ibid hlm. 250.
10 Al-Ri’āyah fī ‘Ilm al-Dirāyah hlm. 50.
11 Al-Wajīzah fī ‘Ilm al-Dirāyah, hlm. 2.
12 Miqbās al-Hidāyah jil. 1 hlm. 57.
13 Nihāyat al-Dirāyah, hlm. 80.
14 Miqbās al-Hidāyah, jil. 1 hlm. 57.
15 Lisān al-’Arab, jil. 13, hlm. 225.
16 Dā’irat al-Ma’ārif al-Islāmiyyah al-Syî’iyyah, Amin Hasan, jil. 7, hlm.
17 Nihāyat al-Dirāyah hlm. 85.327.
18 Miqbās al-Hidāyah jil. 1 hlm. 68.
19 Ushūl al-Hadîts wa Ahkāmuhu fī ‘Ilmi al-Dirāyah, hlm. 15.
20 Majma’ al-Bahrayn jil. 2 hlm. 281.
21 Al-Ri’āyah fī ‘Ilm al-Dirāyah, hlm. 49.
22 Miqbās al-Hidāyah,jil. 1 hlm. 60.
23 ‘Ilm al-Hadīts, penulis, hlm. 16.
24 Lisān al-’Arab, Ibn Munzhir, jil. 4 hlm. 5
25 Nihāyat al-Dirāyah, Sayyid Hasan Shadr, hlm. 82 26 Miqbās al-Hidāyah, jil. 1 hlm. 64
27 Al-Ri’āyah fī ‘Ilm al-Dirāyah hlm. 50 28 ‘Ilm al-Hadīts, penulis, hlm. 18
29 Tāj al-Arûs min Jawāhir al-Qāmus, Murtadha Zubaidi, juz 5 hlm. 27;
Mu’jam Maqāyīs al-Lughah, juz 3 hlm. 105.
30 Al-Ri’āyah fī ‘Ilm al-Dirāyah, hlm. 53 31 Al-Wajīzah fī ‘Ilm al-Dirāyah, hal. 4 32 Nihāyat al-Dirāyah hlm. 93
33 Ushūl al-Hadīts wa Ahkāmuhū fī ‘Ilm al-Dirāyah hlm. 15.
34 Nihāyat al-Dirāyah hlm. 94.
35 Al-Ri’āyah fī ‘Ilm al-Dirāyah hlm. 53.
36 Mu’jam Maqāyīs al- Lughah, Ibn Faris jil. 5 hlm. 294.
37 Al-Ri’āyah fī ‘Ilm al-Dirāyah, hlm. 52.
38 Nihāyat al-Dirāyah hlm. 93.
39 Ushūl al-Hadīts wa Ahkāmuhū fī ‘Ilm al-Dirāyah hlm. 15.