HASIL (DBH), DAN SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN (SILPA) TERHADAP BELANJA MODAL (STUDI KASUS
PADA KOTA/KABUPATEN PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA)
OLEH
CIND Y TAN IA D AMANI K 160503064
PROGRAM STU DI ST RATA 1 DEPARTEMEN A KUNT ANS I FAKULTA S EKONOMI D AN BI S NIS
UNIVE RSIT AS S UMATERA UT ARA MEDAN
2021
ABSTRAK
PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DANA ALOKASI KHUSUS (DAK), DANA BAGI HASIL
(DBH), DAN SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN (SILPA) TERHADAP BELANJA MODAL
(Studi Kasus Pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah 33 Kota/Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 28 Kota/Kabupaten dengan teknik purposive sampling. Data penelitian ini adalah data sekunder yaitu data dari situs resmi Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah metode analisis regresi linier berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) berpengaruh positif signifikan terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Uji parsial menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh positif signifikan terhadap Belanja Modal, sedangkan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) tidak berpengaruh terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Kata kunci : Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA), Belanja Modal
ABSTRACT
THE EFFECT OF LOCAL OWN REVENUE (PAD), GENERAL ALLOCATION FUND (DAU), SPECIFIC ALLOCATION FUND (DAK),
REVENUE SHARING FUND (DBH), AND FINANCING SURPLUS BUDGET (SILPA) ON THE CAPITAL EXPENDITURE
(The Case Study at The Cities/Districts in Government of North Sumatera Province)
This research aims to determine the effect of Local Own Revenue (PAD), General Allocation Fund (DAU), Specific Allocation Fund (DAK), Revenue Sharing Fund (DBH), and Financing Surplus Budget (SILPA) on the Capital Expenditure of the cities/districts in government of North Sumatera Province. The population in this research are 33 cities/districts in North Sumatera Province.
The number of samples in this research are 28 cities/districts with purposive sampling technique. The data used in this research is secondary data those are taken from the official website of Financial Ministry of the Republic Indonesia. The data were analyzed using multiple linier regression analysis method.
The result of this research shows that simultaneously Local Own Revenue (PAD), General Allocation Fund (DAU), Specific Allocation Fund (DAK), Revenue Sharing Fund (DBH), and Financing Surplus Budget (SILPA) have a positive significant effect on Capital Expenditure at cities/districts in government of North Sumatera Province. The partial test shows that Local Own Revenue (PAD), Specific Allocation Fund (DAK), and Revenue Sharing Fund (DBH) have a positive significant effect on Capital Expenditure, while General Allocation Fund (DAU) and Financing Surplus Budget (SILPA) have no significant effect on Capital Expenditure at cities/districts in government of North Sumatera Province.
Keywords : Local Own Revenue, General Allocation Fund, Specific Allocation Fund, Revenue Sharing Fund, Financing Surplus Budget, Capital Expenditure
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan berkat dan kasih karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal (Studi Kasus Pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara)” dengan baik. Penulisan skripsi ini ditujukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Program S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.
Peneliti menyadari dalam proses penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari hambatan dan kesulitan, namun peneliti menerima banyak bimbingan, motivasi, bantuan, dukungan, dan doa dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak., CPA selaku Ketua Departemen/Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak. selaku Ketua Penguji/Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan memberikan peneliti bimbingan dan pengarahan dalam penyelesaian skripsi ini. Ibu Dra. Mutia
Ismail, MM, Ak. selaku dosen penguji dan Bapak Drs. Arifin Lubis, MM, Ak.
selaku dosen pembanding yang telah memberikan peneliti kritik dan saran yang membangun dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Terima kasih tak terhingga kepada kedua orang tua terkasih yaitu Ayahanda Piter Damanik dan Ibunda Rolasma Panjaitan, S.Pd. serta kakak peneliti, Debora J.E. Damanik, dan adik peneliti, Michael J. Damanik, yang mencurahkan kasih sayang dan senantiasa mendukung, memberikan semangat, dan mendoakan peneliti.
5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk ilmu dan pengetahuan serta bimbingan yang diberikan kepada peneliti selama masa perkuliahan, serta Bapak dan Ibu Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
6. Teman-teman terbaik peneliti, Yohana Tamba, Ester Manik, Katherine Silitonga, Venia Damanik, Merry Malau, Rosina Naibaho, Ricka Purba, Damelina Saragih, Day6, My day, abang/kakak senior dan seluruh teman- teman Akuntansi USU 2016 untuk waktu, semangat, dukungan, doa, motivasi, pengalaman, dan pelajaran yang diberikan kepada peneliti selama masa perkuliahan sampai penyelesaian skripsi ini serta pihak-pihak yang turut membantu peneliti dalam penyusunan skripsi ini, yang peneliti tidak dapat sebutkan satu per satu.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan memiliki kelemahan serta keterbatasan, oleh karena itu peneliti mengharapkan kritik dan saran membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Medan, April 2021 Peneliti,
Cindy Tania Damanik NIM. 160503064
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah... 12
1.3. Tujuan Penelitian ... 13
1.4. Manfaat Penelitian ... 14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15
2.1. Landasan Teori ... 15
2.1.1. Belanja Modal ... 15
2.1.2. Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 20
2.1.3. Dana Alokasi Umum (DAU) ... 26
2.1.4. Dana Alokasi Khusus (DAK) ... 28
2.1.5. Dana Bagi Hasil (DBH) ... 30
2.1.6. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) ... 32
2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu... 34
2.3. Kerangka Konseptual ... 40
2.3.1. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Belanja Modal ... 41
2.3.2. Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap Belanja Modal ... 42
2.3.3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) Terhadap Belanja Modal ... 43
2.3.4. Pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH) Terhadap Belanja Modal ... 44
2.3.5. Pengaruh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Terhadap Belanja Modal ... 45
2.4. Hipotesis Penelitian ... 46
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 48
3.1. Jenis Penelitian ... 48
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian... 48
3.3. Batasan Operasional ... 49
3.4.1. Variabel Dependen ... 49
3.4.1.1. Belanja Modal ... 50
3.4.2. Variabel Independen... 50
3.4.2.1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 50
3.4.2.2. Dana Alokasi Umum (DAU) ... 51
3.4.2.3. Dana Alokasi Khusus (DAK) ... 51
3.4.2.4. Dana Bagi Hasil (DBH) ... 52
3.4.2.5. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) .. 52
3.5. Skala Pengukuran ... 53
3.6. Populasi dan Sampel Penelitian ... 54
3.6.1. Populasi Penelitian ... 54
3.6.2. Sampel Penelitian ... 55
3.7. Jenis dan Sumber Data ... 58
3.7.1. Jenis Data ... 58
3.7.2. Sumber Data ... 58
3.8. Metode Pengumpulan Data ... 58
3.9. Metode Analisis Data ... 59
3.9.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 59
3.9.2. Uji Asumsi Klasik ... 59
3.9.2.1. Uji Normalitas ... 59
3.9.2.2. Uji Multikolinearitas ... 61
3.9.2.3. Uji Heteroskedastisitas ... 61
3.9.2.4. Uji Autokorelasi ... 62
3.9.3. Analisis Regresi Linear Berganda ... 64
3.9.4. Pengujian Hipotesis Penelitian ... 65
3.9.1. Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 65
3.9.2. Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 65
3.9.3. Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ... 66
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 67
4.1. Gambaran Umum ... 67
4.2. Analisis Statistik Deskriptif ... 67
4.3. Hasil Uji Asumsi Klasik... 71
4.3.1. Uji Normalitas ... 71
4.3.2. Uji Multikolinieritas ... 75
4.3.3. Uji Heteroskedastisitas ... 76
4.3.4. Uji Autokorelasi ... 77
4.4. Analisis Regresi Linier Berganda ... 79
4.5. Uji Hipotesis... 82
4.5.1. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 82
4.5.2. Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ... 83
4.5.3. Hasil Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ... 85
4.6. Pembahasan Hasil Penelitian ... 87
4.6.1. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Modal ... 87
4.6.2. Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap
Belanja Modal ... 88
4.6.3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap Belanja Modal ... 90
4.6.4. Pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Belanja Modal ... 91
4.6.5. Pengaruh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal ... 92
4.6.6. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal ... 94
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 95
5.1. Kesimpulan ... 95
5.2. Keterbatasan Penelitian ... 96
5.3. Saran ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 98
LAMPIRAN ... 102
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Rata-rata Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara... 3
1.2 Rata-rata Porsi Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara... 5
1.3 Research Gap Belanja Modal ... 11
2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 38
3.1 Skala Pengukuran Variabel ... 53
3.2 Daftar Populasi dan Sampel Penelitian ... 56
3.3 Pengambilan Keputusan Uji Autokorelasi ... 63
4.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 68
4.2 Hasil Uji One Sample Kolmogrov Smirnov... 74
4.3 Hasil Uji Multikolinieritas ... 75
4.4 Hasil Uji Autokorelasi (Durbin-Watson test)... 78
4.5 Hasil Uji Autokorelasi (The Cochrane-Orcutt two step Procedure) ... 79
4.6 Hasil Analisis Regresi Linier Berganda ... 80
4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)... 83
4.8 Hasil Uji F ... 84
4.9 Hasil Uji t ... 85
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
1.1 Grafik Rata-rata Belanja Modal Kota/Kabupaten
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ... 3
1.2 Grafik Rata-rata Proporsi Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ... 6
2.1 Kerangka Konseptual ... 41
4.1 Grafik Histogram ... 72
4.2 Grafik normal P-Plot ... 73
4.3 Grafik Scatterplot ... 77
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
UU No. 22 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta UU No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang kemudian diubah menjadi UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menjadi awal mula dari otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.
Pemerintah Daerah diberikan hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan sedikit bantuan dari Pemerintah Pusat sesuai dengan asas kepatuhan, kebutuhan, dan kemampuan daerah.
Mardiasmo (2018) menjelaskan bahwa “esensi desentralisasi fiskal dan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat dan perekonomian di daerah sebagai penyokong perekonomian nasional”. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Lin dan Liu (2000) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa desentralisasi fiskal memberikan kontribusi yang signifikan untuk pertumbuhan ekonomi.
Badjra dkk. (2017) menjelaskan bahwa “desentralisasi pemerintah daerah kabupaten dan kota menunjukkan kemampuannya dalam pengelolaan terhadap daerahnya masing-masing dalam meningkatkan kinerja mereka. Ini merupakan tantangan bahwa daerah mampu mendesain dan melaksanakan
kepercayaan diri dan tanggung jawab penuh”. Otonomi daerah menjadikan daerah untuk mandiri dalam pembangunan daerahnya dan tidak terlalu bergantung pada pemerintah pusat lagi sehingga belanja daerah dapat dioptimalkan dengan lebih baik untuk sektor yang lebih produktif.
UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah mengemukakan bahwa “belanja daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan”. Klasifikasi belanja daerah terdiri atas belanja operasi, belanja modal, belanja tidak terduga, dan belanja transfer. Belanja modal sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 12 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan “pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari 1 (satu) periode akuntansi”. Belanja modal digunakan untuk investasi terhadap aset (menambah aset) seperti pembangunan fasilitas, sarana prasarana, serta infrastruktur. Peningkatan belanja modal menjadi hal yang penting karena infrastruktur serta sarana dan prasarana yang meningkat akan meningkatkan produktivitas masyarakat sehingga dapat pula meningkatkan penerimaan daerah. Gounder (2007) dalam penelitiannya memperoleh adanya hubungan jangka pendek dan jangka panjang antara belanja pemerintah dan pendapatan pemerintah, termasuk komponen-komponen di dalamnya. Namun, permasalahan yang terjadi dalam belanja modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara selama periode 2015-2019 tidak selalu mengalami peningkatan seperti terlihat dalam tabel berikut ini:
Tabel 1.1
Rata-rata Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
Tahun Rata-rata Belanja Modal
2015 236.934.930.099
2016 265.703.034.030
2017 271.747.224.939
2018 246.070.377.901
2019 253.177.565.385
Sumber : http//www.djpk.kemenkeu.go.id diolah oleh peneliti (2020)
Rata-rata Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi dalam bentuk grafik dapat dilihat sebagai berikut:
Gambar 1.1
Grafik Rata-rata Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
Sumber: http://www.djpk.kemenkeu.go.id diolah oleh peneliti (2020)
Belanja modal menjadi penting karena manfaatnya dirasakan langsung oleh publik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat sesuai dengan esensi dari otonomi daerah dan desentralisasi
210,000,000,000 220,000,000,000 230,000,000,000 240,000,000,000 250,000,000,000 260,000,000,000 270,000,000,000 280,000,000,000
2015 2016 2017 2018 2019
Rata-Rata Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
253.177.565.385 265.703.034.030 271.747.224.9
39
236.934.930.099
246.070.377.901
Sumatera Utara selama periode 2015-2019 cenderung tidak stabil. Pada tahun 2015 rata-rata belanja modal pada kota/kabupaten di Sumatera Utara adalah sebesar Rp 236.934.930.099. Di tahun-tahun berikutnya mengalami peningkatan yakni pada tahun 2016 menjadi Rp 265.703.034.030 dan pada tahun 2017 meningkat menjadi Rp 271.747.224.939. Namun, di tahun 2018 belanja modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan yang cukup banyak menjadi Rp 246.070.377.901.Di tahun 2019 belanja modal kembali naik menjadi Rp 253.177.565.385.
Data di atas menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah masih belum konsisten dalam melakukan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat melalui realisasi anggaran belanja modal sesuai dengan esensi dari diberlakukannya otonomi daerah. Naik turunnya angka belanja modal ini dapat disebabkan karena kurangnya atau lambatnya pemerintah daerah dalam melakukan persiapan ataupun dalam proses pelelangan pekerjaan. Komitmen Pemerintah Daerah yang kuat dalam peningkatan pelayanan publik tercermin dari meningkatnya sarana prasarana dan infrastruktur yang dialokasikan dalam belanja modal sehingga dapat meningkatkan tingkat produktivitas masyarakat yang nantinya akan memberikan manfaat bagi daerah yakni peningkatan perekonomian daerah.
Proporsi belanja modal terhadap total belanja daerah juga penting untuk diperhatikan. Komitmen Pemerintah Daerah yang kuat dalam meningkatkan pelayanan terhadap publik bukan saja dicerminkan dalam peningkatan besarnya belanja modal, tetapi juga dilihat dari meningkatnya porsi belanja
modal terhadap keseluruhan belanja daerah. Nurhidayati dan Yaya (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa “dilihat dari aspek political will Pemda, isu strategis belanja modal tidaklah pada peningkatan nilai nominal belanja modal melainkan pada peningkatan proporsi belanja modal”. Rata- rata proporsi belanja modal terhadap rata-rata total belanja daerah pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara selama periode 2015- 2019 adalah sebagai berikut:
Tabel 1.2
Rata-rata Porsi Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
Tahun Rata-rata Belanja
Modal Rata-rata Total Belanja Modal
Rata-rata Porsi Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah 2015 Rp 236.934.930.009 Rp 1.074.574.825.776 22,05%
2016 Rp 265.703.034.030 Rp 1.222.443.087.877 21,74%
2017 Rp 271.747.224.939 Rp 1.265.997.184.269 21,47%
2018 Rp 246.070.377.901 Rp 1.261.251.398.200 19,39%
2019 Rp 253.177.565.385 Rp 1.347.575.938.932 18,79%
Sumber : http//www.djpk.kemenkeu.go.id diolah oleh peneliti (2020)
Rata-rata proporsi belanja modal terhadap rata-rata total belanja daerah dalam bentuk grafik dapat dilihat sebagai berikut:
Gambar 1.2
Grafik Rata-rata Proporsi Belanja Modal Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
Sumber: http://www.djpk.kemenkeu.go.id diolah oleh peneliti (2020)
Rata-rata proporsi belanja modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara selama periode 2015-2019 terlihat selalu mengalami penurunan. Pada tahun 2015, rata-rata proporsi belanja modal sebesar 22,05%, tahun 2016 turun menjadi 21,74%, tahun 2017 menjadi 21,47%, tahun 2018 menjadi 19,39%, dan pada tahun 2019 menjadi 18,79%.
Berdasarkan pada tabel dan grafik di atas, menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah masih belum memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan pelayanan kepada publik. Proporsi belanja modal yang kecil dapat terjadi
17.00%
18.00%
19.00%
20.00%
21.00%
22.00%
23.00%
2015 2016 2017 2018 2019
Rata-rata Proporsi Belanja Modal Terhadap Rata- rata Total Belanja Daerah
22,05%
21,74%
21,47%
19,39%
18,79%
dikarenakan Pemerintah Daerah lebih menggunakan penerimaan daerah untuk belanja operasi daripada belanja modal.
Pengalokasian belanja modal yang tepat sasaran akan memberikan pelayanan publik yang lebih baik lagi, sehingga perlunya penggunaan dan pengelolaan sumber-sumber penerimaan daerah yang baik oleh Pemerintah Daerah seperti sumber penerimaan daerah dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sehingga peningkatan akan pelayanan masyarakat diharapkan dapat terwujud.
Sumber penerimaan daerah yang digunakan dalam upaya meningkatkan belanja modal yakni salah satunya adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pendapatan Asli Daerah (PAD) seperti yang dikemukakan dalam UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah adalah “pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan”. Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah”.
Kemampuan keuangan tiap daerah berbeda-beda dalam pengelolaan pendapatannya dan dalam pendanaan kegiatan sehari-harinya. Hal ini dapat menimbulkan terjadinya ketimpangan fiskal dan rendahnya tingkat kemandirian daerah. Maka dari itu, Pemerintah Pusat memberikan Dana Perimbangan untuk mengatasi ketimpangan fiskal yang terjadi, salah satunya
adalah Dana Alokasi Umum (DAU). DAU seperti yang tertera dalam UU No.
33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah adalah “dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi”. DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN.
DAU bersifat block grant yang berarti penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
Dana Perimbangan yang ditransfer oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah selain DAU adalah Dana Alokasi Khusus (DAK). DAK menurut UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah adalah “dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional”.
Dana Bagi Hasil (DBH) juga merupakan bagian dari Dana Perimbangan yang ditransfer Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. DBH menurut UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah adalah “dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan memperhatikan potensi daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan
daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi”. Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam.
Selain PAD, DAU, DAK, dan DBH, sumber pendanaan yang dapat dikelola dalam meningkatkan pengalokasian belanja modal juga berasal dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA). Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mendefinisikan SILPA Tahun Berkenaan sebagai “selisih antara surplus/defisit anggaran dengan pembiayaan neto”. Pemerintah Daerah diharapkan dapat memanfaatkan angka SILPA yang positif untuk meningkatkan program-program pembangunan di daerah.
Penelitian terkait dengan belanja modal yang dilakukan oleh Wandira (2013) menyimpulkan bahwa PAD tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Belanja Modal dan terdapat pengaruh yang signifikan negatif antara variabel DAU terhadap Belanja Modal, sementara DAK dan DBH memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal. Selain itu, Dewi (2018) juga melakukan penelitian dengan hasil yang menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Khusus, dan Dana Bagi Hasil berpengaruh positif terhadap Belanja Modal, tetapi Dana Alokasi Umum berpengaruh negatif terhadap Belanja Modal. Secara simultan hasil kedua penelitian sama-sama menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Belanja Modal.
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah penambahan variabel Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebagai variabel
independennya. Hal tersebut karena SILPA juga dapat dijadikan sebagai sumber dana dalam belanja modal Pemerintah Daerah. Selain itu, perbedaan lainnya yakni daerah penelitian berupa Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan periode penelitian yaitu dari tahun 2015-2019.
Berdasarkan fenomena yang terjadi, terdapat research gap dari penelitian-penelitian sebelumnya tentang belanja modal. Research gap adalah celah atau kesenjangan dalam hasil penelitian terdahulu. Peneliti telah merangkum research gap dalam tabel berikut ini:
Tabel 1.3
Research Gap Belanja Modal Peneliti Variabel
Dependen Variabel
Independen Hasil Penelitian Aditiya dan Dirgantari
(2017) Belanja
Modal
Pendapatan Asli Daerah
(PAD)
Berpengaruh positif signifikan Mentayani dan
Rusmanto (2013) Tidak berpengaruh
signifikan Susanti dan Fahlevi
(2016) Belanja
Modal Dana Alokasi Umum (DAU)
Berpengaruh positif
Wandira (2013) Berpengaruh negatif
signifikan Aditiya dan Dirgantari
(2017) Belanja
Modal Dana Alokasi Khusus (DAK)
Berpengaruh positif signifikan
Aqnisa (2016) Tidak berpengaruh
Sudrajat (2017) Belanja
Modal Dana Bagi Hasil (DBH)
Berpengaruh positif signifikan
Prastiwi dkk. (2016) Tidak berpengaruh
Kusnandar dan
Siswantoro (2012) Belanja Modal
Sisa Lebih Pembiayaan
Anggaran (SILPA)
Berpengaruh positif
Setiyani (2015) Tidak berpengaruh
signifikan
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Terhadap Belanja Modal (Studi Kasus pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara)”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara?
2. Apakah Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara?
3. Apakah Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara?
4. Apakah Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara?
5. Apakah Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) berpengaruh terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara?
6. Apakah Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) berpengaruh secara simultan terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara parsial.
2. Untuk mengetahui pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara parsial.
3. Untuk mengetahui pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara parsial.
4. Untuk mengetahui pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara parsial.
5. Untuk mengetahui pengaruh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara parsial.
6. Untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara simultan.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membaca. Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman peneliti terkait dengan pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal (Studi Kasus pada Pemerintah Kota/Kabupaten Provinsi Sumatera Utara).
2. Bagi Pemerintah Daerah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan tambahan informasi sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan belanja modal dalam rangka peningkatan pelayanan publik dan kemakmuran masyarakat.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan literatur dan sumber referensi dalam pengembangan penelitian selanjutnya yang sejenis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori 2.1.1. Belanja Modal
Nordiawan dkk. (2008: 187) mengemukakan bahwa “belanja di lingkungan akuntansi pemerintahan di Indonesia diartikan sebagai semua pengeluaran bendahara umum negara/daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh kembali pembayarannya oleh pemerintah”.
Belanja modal menurut PP No. 12 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah adalah “pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari 1 (satu) periode akuntansi”.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 102/PMK.02/2018 Tentang Klasifikasi Anggaran menjelaskan bahwa belanja modal dipergunakan untuk antara lain
1. Belanja modal tanah;
2. Belanja modal peralatan dan mesin;
3. Belanja modal gedung dan bangunan;
4. Belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan;
5. Belanja modal lainnya; dan
1. Belanja modal tanah
Belanja modal tanah digunakan untuk menganggarkan tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap pakai.
Pengeluaran dalam belanja modal tanah meliputi:
a. Belanja modal tanah;
b. Belanja modal pembebasan tanah;
c. Belanja modal pembayaran honor tim tanah;
d. Belanja modal pembuatan sertifikat tanah;
e. Belanja modal biaya pengukuran tanah; dan f. Belanja modal perjalanan pengadaan tanah.
2. Belanja modal peralatan dan mesin
Belanja modal peralatan dan mesin digunakan untuk menganggarkan peralatan dan mesin mencakup mesin dan kendaraan bermotor, alat elektronik, inventaris kantor, dan peralatan lainnya yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 bulan dan dalam kondisi siap pakai, meliputi:
a. Belanja modal peralatan dan mesin;
b. Belanja modal bahan baku peralatan dan mesin;
c. Belanja modal upah tenaga kerja dan honor pengelola teknis peralatan dan mesin;
d. Belanja modal sewa peralatan dan mesin;
e. Belanja modal perencanaan dan pengawasan peralatan dan mesin;
f. Belanja modal perijinan peralatan dan mesin;
g. Belanja modal pemasangan peralatan dan mesin; dan h. Belanja modal perjalanan peralatan dan mesin.
3. Belanja modal gedung dan bangunan
Belanja modal gedung dan bangunan digunakan untuk menganggarkan gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap pakai, meliputi:
a. Belanja modal gedung dan bangunan;
b. Belanja modal bahan baku gedung dan bangunan;
c. Belanja modal upah tenaga kerja dan honor pengelola teknis gedung dan bangunan;
d. Belanja modal sewa peralatan gedung dan bangunan;
e. Belanja modal perencanaan dan pengawasan gedung dan bangunan;
f. Belanja modal perijinan gedung dan bangunan;
g. Belanja modal pengosongan dan pembongkaran bangunan lama, gedung dan bangunan; dan
h. Belanja modal perjalanan gedung dan bangunan.
4. Belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan
Belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan digunakan untuk menganggarkan jalan, irigasi, dan jaringan mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang dibangun oleh Pemerintah Daerah serta memiliki dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap dipakai, meliputi:
a. Belanja modal bahan baku jalan dan jembatan, irigasi, dan jaringan;
b. Belanja modal upah tenaga kerja dan honor pengelola teknis jalan dan jembatan, irigasi, dan jaringan;
c. Belanja modal sewa peralatan jalan dan jembatan, irigasi, dan jaringan;
d. Belanja modal perencanaan dan pengawasan jalan dan jembatan, irigasi, dan jaringan;
e. Belanja modal perijinan jalan dan jembatan, irigasi, dan jaringan;
f. Belanja modal pengosongan dan pembongkaran bangunan jalan dan jembatan, irigasi, dan jaringan; dan
g. Belanja modal perjalanan jalan dan jembatan, irigasi, dan jaringan.
5. Belanja modal lainnya
Belanja modal lainnya digunakan untuk menganggarkan aset tetap lainnya yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap sebagaimana dalam poin 1 sampai 4 yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap pakai, meliputi:
a. Pengadaan software;
b. Pengembangan website;
c. Pengadaan lisensi;
d. Pengadaan/pembelian barang-barang kesenian;
e. Pengadaan/pembelian barang-barang untuk museum; dan f. Koleksi perpustakaan.
6. Belanja modal Badan Layanan Umum (BLU)
Pengeluaran untuk pengadaan/perolehan/pembelian AT dan/atau aset lainnya yang dipergunakan dalam rangka penyelenggaraan operasional BLU.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 102/PMK.02/2018 Tentang Klasifikasi Anggaran menyatakan bahwa kriteria kapitalisasi dalam pengadaan/pemeliharaan barang/aset merupakan suatu tahap validasi untuk penetapan belanja modal atau
bukan dan merupakan syarat wajib dalam penetapan kapitalisasi atas pengadaan barang/aset:
1. Pengeluaran anggaran belanja tersebut mengakibatkan bertambahnya aset dan/atau bertambahnya masa manfaat/umur ekonomis aset berkenaan. Pengeluaran anggaran belanja tersebut mengakibatkan bertambahnya kapasitas, peningkatan standar kinerja, atau volume aset.
2. Memenuhi nilai minimum kapitalisasi sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai penatausahaan Barang Milik Negara (BMN).
3. Pengadaan barang tersebut tidak dimaksudkan untuk diserahkan/dipasarkan kepada masyarakat/Pemda/entitas lain di luar Pemerintah Pusat.
2.1.2. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa
“Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. PAD Pemerintah Daerah memberikan kewenangan untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah dengan mengoptimalkan potensi daerahnya sebagai perwujudan desentralisasi sehingga dapat dijadikan sebagai indikator
tinggi rendahnya tingkat ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap biaya yang berasal dari Pemerintah Pusat. Penerimaan-penerimaan yang merupakan komponen dari PAD adalah yang berasal dari:
1. Pajak daerah;
2. Retribusi daerah;
3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; dan 4. Lain-lain PAD yang sah.
1. Pajak daerah
Pajak daerah merupakan satu hal yang penting dalam pembiayaan Pemerintahan Daerah karena memberikan peluang daerah untuk dapat menggunakannya secara maksimal dibandingkan dengan komponen-komponen PAD lainnya. Pajak Daerah menurut UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah “kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Terdapat 2 jenis pajak daerah yaitu:
a. Pajak provinsi, terdiri dari:
1) Pajak kendaraan bermotor;
2) Pajak balik nama kendaraan bermotor;
3) Pajak bahan bakar kendaraan bermotor;
4) Pajak air permukaan; dan 5) Pajak rokok.
b. Pajak kabupaten/kota, terdiri dari:
1) Pajak hotel;
2) Pajak restoran;
3) Pajak hiburan;
4) Pajak reklame;
5) Pajak penerangan jalan;
6) Pajak mineral bukan logam dan batuan;
7) Pajak parkir;
8) Pajak air tanah;
9) Pajak sarang burung walet;
10) Pajak Bumi dan Bangunan perdesaan dan perkotaan; dan 11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
2. Retribusi daerah
Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, “retribusi daerah adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah
untuk kepentingan orang pribadi atau Badan”. Penggolongan retribusi daerah terdiri dari 3 yakni Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan Retribusi Perizinan Tertentu.
a. Retribusi Jasa Umum, terdiri dari:
1) Retribusi pelayanan kesehatan;
2) Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan;
3) Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil;
4) Retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat;
5) Retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum;
6) Retribusi pelayanan pasar;
7) Retribusi pengujian kendaraan bermotor;
8) Retribusi pemeriksaan alat pemadam kendaraan;
9) Retribusi penggantian biaya cetak peta;
10) Retribusi penyediaan dan/atau penyedotan kakus;
11) Retribusi pengolahan limbah cair;
12) Retribusi pelayanan tera/tera ulang;
13) Retribusi pelayanan pendidikan; dan
14) Retribusi pengendalian menara telekomunikasi.
b. Retribusi Jasa Usaha, terdiri dari:
1) Retribusi pemakaian kekayaan daerah;
2) Retribusi pasar grosir dan/atau pertokoan;
3) Retribusi tempat pelelangan;
4) Retribusi terminal;
5) Retribusi tempat khusus parkir;
6) Retribusi tempat penginapan/pesanggrahan/villa;
7) Retribusi rumah potong hewan;
8) Retribusi pelayanan kepelabuhanan;
9) Retribusi tempat rekreasi dan olahraga;
10) Retribusi penyebrangan di air; dan
11) Retribusi penjualan produksi usaha daerah.
c. Retribusi Perizinan Tertentu, terdiri dari:
1) Retribusi izin mendirikan bangunan;
2) Retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol;
3) Retribusi izin gangguan;
4) Retribusi izin trayek; dan 5) Retribusi izin usaha perikanan.
3. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci sebagai berikut:
a. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD;
b. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN; dan
c. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.
4. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah
Digunakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, mencakup:
a. Hasil penjualan Barang Milik Daerah yang tidak dipisahkan;
b. Hasil pemanfaatan Barang Milik Daerah yang tidak dipisahkan;
c. Hasil kerja sama daerah;
d. Jasa giro;
e. Hasil pengelolaan dana bergulir;
f. Pendapatan bunga;
g. Penerimaan atas tuntutan ganti kerugian Keuangan Daerah;
h. Penerimaan komisi, potongan, atau bentuk lain sebagai akibat penjualan, tukar-menukar, hibah, asuransi, dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan uang pada bank, penerimaan dari hasil pemanfaatan barang daerah atau dari kegiatan lainnya merupakan Pendapatan Daerah;
i. Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;
j. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;
k. Pendapatan denda pajak daerah;
l. Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;
m. Pendapatan dari pengembalian;
n. Pendapatan dari badan layanan umum daerah; dan
o. Pendapatan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2.1.3. Dana Alokasi Umum (DAU)
Setiap daerah memiliki kemampuan keuangan yang tidak sama yang dapat menyebabkan ketimpangan fiskal, sehingga perlunya dana yang dialokasikan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah.
Pendanaan yang dimaksud salah satunya adalah Dana Alokasi Umum (DAU). Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, “DAU merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi”. Hal tersebut menandakan bahwa DAU terutama dialokasikan kepada daerah yang memiliki kapasitas fiskal yang rendah. Prastiwi dkk. (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa:
Tujuan dasar transfer dana perimbangan kepada pemerintah daerah adalah sebagai sarana vertical balance (keseimbangan antar pemerintah pusat dan daerah). Khusus Dana Alokasi Umum selain sarana vertical balance, juga merupakan sarana horizontal balance (keseimbangan antara tiap-tiap pemerintah daerah), yang dialokasikan untuk menjalankan fungsi pemerintahan yang telah didesentralisasikan ke daerah.
Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26%
(dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto. PP No.
55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan menjelaskan bahwa
“proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota dihitung dari perbandingan antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota”. Proporsi DAU untuk provinsi sebesar 10% dan untuk kabupaten/kota sebesar 90%.
PP No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan menyatakan bahwa:
DAU untuk suatu daerah dialokasikan berdasarkan formula yang terdiri atas celah fiskal dan alokasi dasar. Celah fiskal merupakan selisih antara kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal. Kebutuhan fiskal tersebut diukur dengan menggunakan variabel jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia. Kapasitas fiskal tersebut diukur berdasarkan Pendapatan Asli Daerah dan Dana Bagi Hasil. Alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan mengatur bahwa:
1. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar.
2. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal.
3. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU.
2.1.4. Dana Alokasi Khusus (DAK)
Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah adalah “dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional”. Harahap (2011) menjelaskan bahwa:
DAK dimaksudkan untuk membantu membiayai kegiatan- kegiatan khusus di daerah tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan pembangunan daerah.
Kegiatan khusus diusulkan oleh Menteri Teknis dan disampaikan kepada Menteri Keuangan. Setelahnya Menteri Keuangan melakukan penghitungan alokasi DAK. Penghitungan alokasi DAK dilakukan melalui 2 (dua) tahapan, yaitu:
1. Penentuan daerah tertentu yang menerima DAK; dan 2. Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah.
Penentuan Daerah Tertentu harus memenuhi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.
1. Kriteria umum dirumuskan berdasarkan kemampuan keuangan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah.
2. Kriteria khusus dirumuskan berdasarkan peraturan perundang- undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus dan karakteristik daerah.
3. Kriteria teknis disusun berdasarkan indikator-indikator kegiatan khusus yang akan didanai dari DAK.
Kuncoro (2004: 34),menyatakan bahwa :
DAK ditujukan untuk daerah khusus yang terpilih untuk tujuan khusus. Karena itu, alokasi yang didistribusikan oleh pemerintah pusat sepenuhnya merupakan wewenang pusat untuk tujuan nasional khusus. Kebutuhan khusus dalam DAK meliputi:
1. Kebutuhan prasarana dan sarana fisik di daerah terpencil yang tidak mempunyai akses yang memadai ke daerah lain;
2. Kebutuhan prasarana dan sarana fisik di daerah yang menampung transmigrasi;
3. Kebutuhan prasarana dan sarana fisik yang terletak di daerah pesisir/kepulauan dan tidak mempunyai prasarana dan sarana yang memadai;
4. Kebutuhan prasarana dan sarana fisik di daerah guna mengatasi dampak kerusakan lingkungan.
Asas umum pengelolaan keuangan DAK mencakup efisiensi, efektivitas, ekonomis, transparansi, akuntabilitas, keadilan, kepatuhan, dan manfaat (Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 20 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Dana Alokasi Khusus Di Daerah).
DAK dialokasikan untuk kegiatan pada berbagai bidang yaitu pendidikan, kesehatan, infrastruktur jalan, infrastruktur irigasi, infrastruktur air minum, infrastruktur sanitasi, prasarana pemerintahan desa, sarana dan prasarana kawasan perbatasan, kelautan dan perikanan, pertanian, keluarga berencana, kehutanan, sarana dan prasarana daerah tertinggal, sarana perdagangan, energi pedesaan, perumahan dan pemukiman, dan keselamatan transportasi darat.
2.1.5. Dana Bagi Hasil (DBH)
PP No. 12 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah menyatakan bahwa “DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada Daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah”.
PP No. 12 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah mengemukakan bahwa Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam.
1. Dana Bagi Hasil Pajak
DBH yang bersumber dari pajak terdiri dari:
a. pajak bumi dan bangunan sektor perkebunan, pertambangan, dan perhutanan;
b. pajak penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan Pajak Penghasilan Pasal 21; dan c. cukai hasil tembakau yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
2. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam DBH Sumber Daya Alam berasal dari:
a. penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran ijin usaha pemanfaatan hutan, provisi sumber daya hutan, dan dana reboisasi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan;
b. penerimaan pertambangan mineral dan batu bara yang berasal dari penerimaan iuran tetap dan penerimaan iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan;
c. penerimaan negara dari sumber daya alam pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang
bersangkutan; penerimaan negara dari sumber daya alam pertambangan gas bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan;
d. penerimaan dari panas bumi yang berasal dari penerimaan setoran bagian Pemerintah Pusat, iuran tetap, dan iuran produksi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan; dan
e. penerimaan perikanan yang berasal dari pungutan pengusaha perikanan dan pungutan hasil perikanan yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan.
2.1.6. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA)
SILPA dalam UU No. 20 Tahun 2019 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 adalah
“selisih lebih realisasi pembiayaan anggaran atas realisasi defisit anggaran yang terjadi dalam satu periode pelaporan”. Sejalan dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mendefinisikan “SILPA Tahun Berkenaan sebagai selisih antara surplus/defisit anggaran dengan pembiayaan neto”. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 33 Tahun 2019 Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2020 menyatakan bahwa:
Dalam hal perhitungan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD menghasilkan SILPA Tahun Berjalan positif, Pemerintah Daerah harus memanfaatkannya untuk penambahan program dan kegiatan prioritas yang dibutuhkan, volume program dan kegiatan yang telah dianggarkan, dan/atau pengeluaran pembiayaan. Dalam hal perhitungan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD menghasilkan SILPA Tahun Berjalan negatif, Pemerintah Daerah melakukan pengurangan bahkan penghapusan pengeluaran pembiayaan yang bukan merupakan kewajiban daerah, pengurangan program dan kegiatan yang kurang prioritas dan/atau pengurangan volume program dan kegiatannya.
Selisih Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) seharusnya bernilai nol, yang berarti bahwa defisit anggaran yang terjadi seharusnya dapat ditutupi dengan penerimaan pembiayaan. Contohnya apabila defisit anggaran yang terjadi sebesar Rp 70 miliar dan penerimaan pembiayaan (pembiayaan neto) sebesar Rp 70 miliar, maka SILPA- nya adalah Rp 0 karena pembiayaan neto dapat menutupi defisit anggaran, namun jika penerimaan pembiayaan sebesar Rp 100 miliar maka SILPA-nya sebesar Rp 30 miliar (SILPA positif). Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang bernilai positif dapat dimanfaatkan untuk membiayai program-program pembangunan didaerah yang dapat meningkatkan pelayanan kepada publik.
2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang berkaitan dengan Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) terhadap Belanja Modal, sebagai berikut:
1. Mentayani dan Rusmanto (2013) melakukan penelitian dengan hasil yakni Dana Alokasi Umum (DAU), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kota dan kabupaten di Pulau Kalimantan. Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kota dan kabupaten di Pulau Kalimantan. Hal tersebut dikarenakan keduanya lebih banyak dimanfaatkan untuk belanja operasi yang dapat dilihat dari jumlah PAD ditambah jumlah DAU maka totalnya lebih kecil dari jumlah belanja operasi. Sisa Lebih Pembiayaan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kota dan kabupaten di Pulau Kalimantan. Penelitian ini termasuk penelitian eksplanatif yakni bertujuan mendapatkan penjelasan mengenai hubungan (kausalitas) antar variabel, melalui pengujian hipotesis yang dikembangkan dari telaah teoretis. Populasi penelitian adalah semua kota/kabupaten di Pulau Kalimantan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yaitu Pendapatan Asli Daerah
(PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran dan Belanja Modal yang terdapat pada laporan realisasi APBD kota/kabupaten di Pulau Kalimantan yang diperoleh dari situs Departemen Keuangan Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (www.djpk.go.id). Metode analisis data yang digunakan adalah metode regresi linear berganda.
2. Aqnisa (2016), melakukan penelitian dengan hasil yakni Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikansi 0,000. Hasil penelitian pada model regresi variabel pendapatan asli daerah mempunyai koefisien 0,382. Dana Bagi Hasil (DBH) tidak berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikan di atas 0,804. Hasil penelitian pada model regresi variabel dana bagi hasil mempunyai koefisien 0,074. Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikan 0,013. Hasil penelitian pada model regresi variabel dana alokasi umum mempunyai koefisien 0,129. Dana Alokasi Khusus tidak berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikan 0,061. Hasil penelitian pada model regresi variabel dana alokasi umum mempunyai koefisien 0,829. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji asumsi klasik dan uji hipotesis.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Pengambilan sampel dengan menggunakan sampel jenuh. Kriteria yang digunakan antara lain:
a. Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah 2012-2013.
b. Kabupaten/Kota mempublikasikan laporan tahunannya dari www.djpk.depkeu.go.id secara berurutan selama periode 2012- 2013.
3. Susanti dan Fahlevi (2016), melakukan penelitian yang menunjukkan hasil bahwa Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Bagi Hasil secara bersama-sama berpengaruh terhadap Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Wilayah Aceh pada periode 2011-2014.
Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Bagi Hasil secara parsial berpengaruh positif terhadap Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Wilayah Aceh pada periode 2011-2014. Metode analisis data yang digunakan adalah metode regresi linear berganda. Data yang dianalisis adalah data sekunder, yang berasal dari dokumen LRA yang diperoleh dari Dinas Keuangan Aceh yang tersedia di situs Dirjen Perimbangan Keuangan Pemerintah Daerah melalui website periode 2011-2014. Populasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah seluruh kabupaten/kota di wilayah Aceh yang berjumlah 23 kabupaten/kota.
4. Aditiya dan Dirgantari (2017) melakukan penelitian dengan hasil yang menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh positif signifikan terhadap belanja modal.
Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi PAD dan DAK yang diperoleh maka semakin tinggi juga yang dialokasikan untuk belanja modal. Dana Alokasi Umum (DAU) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA)
tidak berpengaruh positif signifikan terhadap belanja modal. Hal tersebut disebabkan oleh DAU dan SILPA lebih banyak dimanfaatkan untuk belanja operasi dan belanja pengeluaran pembelian barang atau jasa yang nilai manfaatnya kurang dari 12 bulan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode sensus, sementara teknik analisis data yang digunakan adalah uji statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi berganda, dan uji hipotesis dengan tingkat signifikan (∝) 0,05. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2013-2015.
5. Sudrajat dan Purniawati (2017), melakukan penelitian dengan hasil yang menunjukkan bahwa PAD berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal, DBH berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal, DAU berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal, DAK tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal, Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal, dan secara simultan PAD, DBH, DAU, DAK, dan Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis yaitu metode analisis deskriptif yang digunakan untuk menggambarkan variabel dependen dan variabel independen secara keseluruhan, sedangkan untuk menguji hipotesis, digunakan uji t dan uji F. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, dimana data yang diperoleh diwujudkan dalam
bentuk angka, skor, dan analisisnya menggunakan statistik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Laporan Realisasi APBD serta laporan PDRB Atas Dasar Harga Konstan pemerintah Kab. Ngawi tahun 2003-2014.
Tabel 2.1
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian Mentayani dan
Rusmanto (2013) Independen 1. Pendapatan Asli
Daerah 2. Dana Alokasi
Umum 3. Sisa Lebih
Pembiayaan Dependen Belanja Modal
1. Dana Alokasi Umum (DAU), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kota dan kabupaten di Pulau Kalimantan.
2. Berdasarkan pengujian secara parsial diketahui bahwa Dana Alokasi Umum tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kota dan kabupaten di Pulau Kalimantan.
3. Berdasarkan pengujian secara parsial diketahui bahwa Pendapatan Asli Daerah tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kota dan kabupaten di Pulau Kalimantan.
4. Berdasarkan pengujian secara parsial diketahui bahwa Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran
berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal pada kota dan kabupaten di Pulau Kalimantan.
Aqnisa (2016) Independen 1. Pendapatan Asli
Daerah (PAD) 2. Dana Bagi Hasil
(DBH) 3. Dana Alokasi
Umum (DAU) 4. Dana Alokasi Khusus (DAK)
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh terhadap
pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikan 0,000. Hasil penelitian pada model regresi variabel pendapatan asli daerah mempunyai koefisien 0,382.
2. Dana Bagi Hasil (DBH) tidak berpengaruh terhadap
Dependen Belanja Modal
pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikan di atas 0,804. Hasil penelitian pada model regresi variabel dana bagi hasil mempunyai koefisien 0,074.
3. Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikan 0,013. Hasil penelitian pada model regresi variabel dana alokasi umum mempunyai koefisien 0,129.
4. Dana Alokasi Khusus tidak berpengaruh terhadap pengalokasian belanja modal dengan nilai signifikan 0,061. Hasil penelitian pada model regresi variabel dana alokasi umum mempunyai koefisien 0,829.
Susanti dan
Fahlevi (2016) Independen 1. Pendapatan Asli
Daerah 2. Dana Alokasi
Umum
3. Dana Bagi Hasil Dependen
Belanja Modal
1. Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Bagi Hasil secara bersama-sama berpengaruh terhadap Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Wilayah Aceh pada periode 2011- 2014
2. Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap Belanja Modal Pada
Kabupaten/Kota di Wilayah Aceh pada periode 2011-2014
3. Dana Alokasi Umum berpengaruh positif terhadap Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Wilayah Aceh pada periode 2011-2014 4. Dana Bagi Hasil berpengaruh positif
terhadap Belanja Modal Pada Kabupaten/Kota di Wilayah Aceh pada periode 2011-2014
Aditiya dan
Dirgantari (2017) Independen 1. Pendapatan Asli
Daerah (PAD) 2. Dana Alokasi
Umum (DAU) 3. Dana Alokasi Khusus (DAK)
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh positif signifikan terhadap Belanja Modal.
2. Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh positif signifikan terhadap Belanja Modal.
4. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) Dependen
Belanja Modal
3. Dana Alokasi Umum (DAU) tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Belanja Modal.
4. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) tidak berpengaruh positif signifikan terhadap Belanja Modal.
Sudrajat dan
Purniawati (2017) Independen 1. PAD 2. DBH 3. DAU 4. DAK
5. Pertumbuhan Ekonomi Dependen Belanja Modal
1. PAD berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.
2. DBH berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.
3. DAU berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.
4. DAK tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.
5. Pertumbuhan Ekonomi
berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal
6. Secara simultan variabel PAD, DBH, DAU, DAK dan Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.
2.3. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual ini menjelaskan bagaimana keterkaitan teori-teori yang berhubungan dengan variabel yang akan diteliti, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Berdasarkan latar belakang masalah dan tinjauan teoretis yang telah dijelaskan sebelumnya, peneliti membuat kerangka konseptual sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.3.1. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Belanja Modal
UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa, Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan “pendapatan yang bersumber dan dipungut Daerah didasarkan pada Peraturan Daerah yang berlaku”. PAD digunakan sebagai modal dasar pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerah untuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat. Peningkatan PAD memberikan kebebasan bagi daerah untuk dapat Sisa Lebih Pembiayaan
Anggaran (SILPA) (X5) Dana Bagi Hasil (DBH)
(X4)
Dana Alokasi Khusus (DAK) (X3) Pendapatan Asli Daerah
(PAD) (X1)
Dana Alokasi Umum (DAU) (X2)
Belanja Modal (Y) H1 (+)
H2 (+)
H3 (+)
H4 (+)
H5 (+)
H6
menggunakannya demi meningkatkan pelayanan publik yang dapat dilakukan dengan pembangunan dan pengembangan infrastruktur serta sarana dan prasarana yang dialokasikan dalam belanja modal.
Peningkatan alokasi belanja modal nantinya dapat pula meningkatkan kontribusi publik yang terlihat dari adanya peningkatan PAD. Telah banyak peneliti yang melakukan penelitian pengaruh PAD terhadap Belanja Modal. Prastiwi dkk. (2016) melakukan penelitian dengan kesimpulan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap alokasi belanja modal Pemerintah Kota Surakarta tahun 2008-2014.
Artinya tinggi rendahnya PAD berimplikasi pada besarnya alokasi belanja modal daerah. Semakin tinggi PAD maka semakin besar pula alokasi belanja modalnya.
2.3.2. Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap Belanja Modal Dana Alokasi Umum (DAU) menurut UU No. 33 tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah adalah “dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi”. DAU suatu daerah ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) suatu daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah (fiscal need) dan potensi daerah (fiscal capacity). Alokasi DAU bagi daerah yang potensi
fiskalnya besar tetapi kebutuhan fiskalnya kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya daerah yang potensi fiskalnya kecil akan tetapi kebutuhan fiskalnya besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Penggunaan DAU ini dapat diarahkan untuk pembiayaan belanja yang berkaitan dengan pengembangan dan pembangunan fasilitas publik yang dialokasikan dalam belanja modal sehingga dapat meningkatkan kesempatan kerja, mengurangi angka kemiskinan, dan pemerataan layanan publik antar daerah.
Setiyani (2015) melakukan penelitian yang berkesimpulan bahwa Dana Alokasi Umum mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap belanja modal. Hal ini disebabkan karena adanya transfer DAU dari Pemerintah Pusat maka Pemerintah Daerah bisa mengalokasikan pendapatannya untuk membiayai Belanja Modal.
2.3.3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) Terhadap Belanja Modal
PP No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional”.
Besaran DAK ditetapkan setiap tahun dalam APBN. Program yang menjadi prioritas nasional dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah