• Tidak ada hasil yang ditemukan

J. K. B Jurnal Kependidikan Betara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "J. K. B Jurnal Kependidikan Betara"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

https://e-journal.sdn195pinangmerah.com/index.php/jkb

e-ISSN : 2722-0052 p-ISSN : 2722-029X

J . K . B

Jurnal Kependidikan Betara

Sitasi: Anjali, I. R., & Sari, I. N. (2021). Kajian Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Mengatasi Miskonsepsi Siswa pada Materi Kinematika Gerak Lurus. Jurnal Kependidikan Betara, 2(1), 28-35.

Kajian Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Mengatasi Miskonsepsi Siswa Pada Materi Kinematika Gerak Lurus

Intan Rizqi Anjali * , Ismi Novita Sari

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Jl.

Semarang 5, Malang, 65145, Indonesia

*E-mail: [email protected]

1. Pendahuluan

Fisika dapat dikatakan sebagai salah satu mata pelajaran mengenai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar. Salah satu contoh dari fenomena tersebut yaitu tentang gerak benda, cahaya, bunyi, suhu. Selain fenomena, dalam fisika juga mempelajari mengenai alat-alat yang berhubungan dengan konsep fisika seperti teropong, lup, kulkas, sinar laser, mesin kendaraan, dan sebagainya. Sebelum siswa mengikuti pembelajaran fisika mereka sudah memiliki pengalaman dengan peristiwa fisika (Gurel, dkk. 2015).

Salah satu penerapan konsep fisika mengenai kinematika gerak yaitu mobil yang bergerak lurus beraturan. Dalam hal ini siswa pasti sudah memiliki konsepsi mengenai peristiwa tersebut, akan tetapi

Received November 2020 Revised Desember 2020 Accepted for Publication Januari 2021 Published Januari 2021

Abstract

This article discusses about student misconceptions on straight kinematics material then how to solve it by using the PLB (Problem Based Learning). Most students experience misconceptions because they only listen and take notes without delving into the problems that occur. The misconception in straight motion kinematics is because there are several concepts that are still not understood by students, for example the acceleration of an object will be zero when the object is at rest. This PBL learning model students can actively think, communicate, seek and process and conclude information. The application of this PBL learning model has a positive impact on students' academics and can avoid any conceptions, especially in straight motion kinematics material. With this learning model, misconceptions that occur in students, especially straight motion kinematics material can be resolved.

Keywords: Misconceptions, kinematic, PBL model learning Abstrak

Artikel ini membahas mengenai miskonsepsi siswa pada materi kinematika gerak lurus kemudian cara mengatasinya dengan menggunakan model pembelajaran PLB (Problem Based Learning). Sebagian besar siswa mengalami miskonsepsi karena hanya mendengarkan dan mencatat tanpa mendalami masalah yang terjadi. Miskonsepsi pada kinematika gerak lurus disebabkan karena terdapat beberapa konsep yang masih belum dipahami oleh siswa misalnya percepatan benda akan nol ketika benda dalam keadaan diam. Model pembelajaran PBL ini siswa dapat aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah serta menyimpulkan informasi. Penerapan model pembelajaran PBL ini berdampak positif terhadap akademik siswa serta dapat menghindari moskonsepsi khusunya pada materi kinematika gerak lurus.

Dengan model pembelajaran tersebut, maka miskonsepsi yang terjadi pada siswa khusunya materi kinematika gerak lurus dapat teratasi.

Kata Kunci: Miskonsepsi, Kinematika, Model Pembelajaran PBL

(2)

29 konsepsi yang dimiliki siswa bisa saja benar dan bisa juga salah yaitu berbeda dengan pengetahuan dari ilmuwan yang disebut mengalami miskonsepsi (Pujianto, dkk. 2014). Miskonsepsi adalah hal yang wajar dalam proses memperoleh pengetahuan bagi seseorang yang sedang proses belajar (Hamdani.

2014).

Selama dua dekade terakhir dalam penelitian Pendidikan fisika telah ditemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa mengenai pembelajaran fisika (Demirci, 2005). Misalnya yaitu pada materi kinematika gerak khususnya pada gerak lurus masih banyak terjadi miskonsepsi yang dialami siswa seperti; dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutrisno (2019) menemukan bahwa siswa masih menganggap jarak dan perpindahan pada gerak lurus adalah sama, kemudian Juliana & Erwina (2019) menyatakan bahwa siswa menganggap percepatan hanya memiliki besar, percepatan sama dengan kecepatan, dan beranggapan bahwa pegas jika dihubungkan dengan beban akan terjadi perubahan kecepatan pada saat benda berayun dan lintasannya lurus merupakan contoh penerapan gerak lurus berubah beraturan.

Apabila miskonsepsi yang terjadi dibiarkan saja terus menerus tanpa diperbaiki, hal ini dapat menumbulkan masalah yang dapat mengganggu proses pembelajaran. Hamdani mengungkapkan bahwa terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam mengatasi miskonsepsi yaitu antara lain;

mengidentifikasi miskonsepsi, mencari penyebab mengapa terjadi miskonsepsi serta menemukan atau mencari solusi guna memperbaiki miskonsepi (Hamdani, 2013). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cut Maulida, Nasir & Samsul (2020) kepada siswa di MAN 4 Aceh Besar ditemukan banyak miskonsepsi yang dialami oleh siswa pada materi kinematika gerak lurus dikarenakan pemahaman yang masih kurang. Untuk meningkatkan pemahaman mengenai materi dibutuhkan keterampilan dalam berfikir oleh siswa. Siswa dituntut untuk terlibat aktif dalam proses sains sehingga perlu ditumbuhkan melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Salah satu strategi instruksional student centered adalah model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem-Based Learning (Asna, dkk. 2014). Dengan demikian model pembelajaran yang akan digunakan guna mengatasi masalah tersebut adalah model pembelajaran PBL (Problem-Based Learning), yaitu dengan mencari solusi untuk memperbaiki miskonsepi yang dialami oleh siswa.

2. Hasil dan Pembahasan 2.1 Miskonsepsi

Menurut identifikasi yang dilakukan oleh Suparno (2013) salah konsep atau yang biasa disebut miskonsepsi ialah suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian yang diterima oleh para ahli di bidangnya atau tidak sesuai dengan pengertian ilmiahnya. Atau bisa disimpulkan bahwa miskonsepsi ialah suatu konsep yang tidak sesuai dengan konsep para ilmuan (Yolanda, Y. 2017). Miskonsepsi merupakan hambatan paling umum yang dialami oleh guru dalam pembelajaran fisika di seluruh jenjang pendidikan. Banyak riset miskonsepsi sudah dicoba dengan bermacam-macam cara pemecahan yang ditawarkan. Tetapi permasalahan tersebut senantiasa berulang kali muncul. Tidak hanya kepada pendidikan dasar serta menengah, namun pada pendidkana tinggi miskonsepsi ini masih sering dialami oleh siswa (Fadllan, dkk. 2019).

Penyebab Miskonsepsi

Yang menjadi pemicu miskonsepsi ini terjadi pada siswa yaitu disebabkan oleh; (1) Siswa, pada

saat siswa sendiri memperoleh pemahaman serta mendapatkan kesimpulan tanpa adanya pembenaran

dari guru. (2) Guru ataupun Pengajar, disini guru yang bahkan tidak menguasai konsep dengan benar

akan cenderung membagikan kepada siswa konsep yang tidak benar atau salah. (3) Buku teks, dalam

buku teks sendiri banyak terdapat komunikasi Bahasa yang susah dipahami sehingga cenderung akan

menimbulkan salah tafsir atau salah pemahaman bagi para pembaca, bagi pembaca terkhusus siswa

yang masih dalam proses belajar pasti akan menimbulkan miskonsepsi dikarenakan mereka hanya

menangkap sebagian maupun tidak menguasai materi yang terdapat pada buku sama sekali. (4)

Konteks, Konteks ini sendiri berupa pengalaman siswa seperti bahasa yang digunakan setiap hari yang

berbeda-beda, teman dalam diskusi yang kurang tepat, pemahaman dari orang tua ataupun dari orang

lain yang masih juga keliru, hal inilah yang secara keseluruhan bisa memunculkan terbentuknya

miskonsepsi (Yolanda, Y. 2016).

(3)

30 Miskonsepsi Kinematika Gerak Lurus

Dalam fisika konsep gerak dipelajari dalam materi mekanika yang mempejari gerak suatu benda atau objek (Tarisalia, dkk. 2020). Menurut penelitian yang sudah banyak dilakukan menyatakan bahwa konsep gerak adalah kesalahpahaman/miskonsepsi yang umum dialami oleh guru ataupun siswa.

Miskonsepsi tersebut terjadi diakibatkan oleh ilmu yang didapatkan berdasarkan pengamatan siswa dalam kehidupan sehari-hari sebelum siswa mengetahui teori yang benar melalui Lembaga pendidikan ataupun sekolah (Mufit, 2018). Dari banyak penelitian yang pernah dilakukan dapat diketahui bahwa banyak terjadi miskonsepsi pada siswa mengenai konsep gerak lurus. Hamdani mengemukakan bahwasanya adapun beberapa solusi yang bisa digunakan agar dapat mengatasi terjadinya miskonsepsi atau salah konsep seperti, mengidentifikasi miskonsepsi, mencari penyebab terjadinya miskonsepsi, kemudian mencari solusi agar miskonsepsi yang terjadi dapat diperbaiki (Artiawati dkk., 2016).

Berdasarkan hasil kajian dari beberapa jurnal, peneliti menggunakan berbagai metode dalam menganalisis miskonsepsi siswa terhadap gerak lurus. Dari berbagai metode yang telah peneliti gunakan dapat mengidentifikasi terjadinya miskonsepsi pada siswa dalam materi gerak lurus. Ada beberapa konsep yang masih belum dipahami oleh siswa sehingga terjadi miskonsepsi seperti, percepatan benda akan nol hanya ketika benda dalam keadaan diam, padahal percepatan benda bisa juga nol apabila kecepatan benda adalah konstan. Menurut Artiawati, dkk (2016) berdasarkan penelitian lainnya, siswa mengalami miskonsepsi di mana siswa beranggapan bahwa tidak ada kecepatan yang nilainya negatif.

Apabila kecepatan benda bernilai negatif maka benda berada dalam keadaan diam. Kemudian menurut Kamaluddin dan Fihrin (2016) masih banyak terdapat siswa yang beranggapan bahwa ketika benda bergarak pada percepatan dan waktu yang sama maka jarak tempuhnya juga akan bernilai sama. Selain itu, Adapun miskonsepsi yang dialami siswa sehingga siswa kesulitan ketika membedakan antara konsep kelajuan dan kecepatan. Menurut Setyono, dkk (2016) hal ini bisa saja terjadi dikarenakan siswa masih belum mampu menentukan jarak dan perpindahan benda (Tarisalia, dkk. 2020).

Data Miskonsepsi Kimenatika Gerak Lurus

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh Cut Maulida, Nasir & Samsul di MAN 4 Aceh Besar dengan populasinya seluruh siswa kelas XI MIPA dan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ialah siswa kelas XI MIPA 1 sebanyak 30 siswa, ternyata masih ditemukan banyak sekali kesulitan dan juga miskonsepsi yang dialami oleh siswa terkait pembelajaran fisika mengenai materi kinematika gerak lurus, seperti yang sudah tertera dalam Tabel 1.

Tabel 1. Persentase Identifikasi Miskonsepsi per Sub konsep

No. Indikator sub Konsep Pengetahuan Konsep

TTK

(%) PKKY (%) PK

(%) M

(%)

1 Jarak dan Perpindahan 11,67 2,5 37,5 48,333

2 Kecepatan, Kelajuan, dan Percepatan 15 4,17 42,5 38,33

3 Gerak Lurus Berubah Beraturan 22,22 6,67 22,22 48,89

4 Gerak Lurus Beraturan 28,89 5,57 27,78 37,77

5 Gerak Jatuh Bebas 21,67 5,83 14,17 58,33

6 Gerak Vertikal ke atas dan ke bawah 18,34 13,34 26,66 40

19,63 6,35 28,47 45,27

Dari apa yang tertera dalam tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata persentase tingkat miskonsepsi siswa sebesar 45,27%. Nilai rata-rata Paham Konsep Kurang Yakin (PKKY) sebesar 6,35%, Nilai rata-rata Tidak Tahu Konsep (TTK) sebesar 19,63% dan nilai rata-rata Paham Konsep (PK) sebesar 28,47% (Rahmah, dkk. 2020).

Pada tabel tersebut bisa dilihat bahwa pada sub konsep jarak serta perpindahan tingkatan

miskonsepsi siswa sebesar 48,33%, siswa masih belum dapat membedakan antara jarak serta

perpindahan, banyak siswa yang masih bimbang dalam menuntaskan soal tentang perhitungan jarak

serta perpindahan. Pada konsep kecepatan, kelajuan dan percepatan tingkat miskonsepsinya sebesar

38,33%, rata- rata siswa masih belum bisa membedakan antara kecepatan serta kelajuan dan juga belum

menguasai dengan baik definisi dari percepatan. Pada sub konsep gerak lurus berubah beraturan

miskonsepsi yang dialami oleh siswa sebesar 46, 67%, siswa masih belum dapat membedakan antara

(4)

31 gerak lurus beraturan dipercepat, gerak lurus berubah beraturan diperlambat dan gerak lurus beraturan, dan diketahui juga bahwa sebagian siswa tidak sanggup menguraikan contoh pelaksanaan gerak lurus berubah beraturan pada kehidupan sehari-hari juga siswa belum sanggup menganalisis soal dari grafik hubungan antara kecepatan terhadap waktu, banyak siswa yang kurang jelas dalam membagikan alibi yang dimaksud dari soal disebabkan siswa tidak memahami konsep dari gerak lurus berubah beraturan (Rahmah, dkk. 2020).

Pada sub konsep gerak lurus beraturan tingkatan miskonsepsinya sebesar 37, 77%, siswa masih belum bisa menguraikan identitas dari gerak lurus beraturan serta tidak bisa membedakan antara posisi barang yang dihadapi gerak lurus berubah beraturan dan juga gerak lurus beraturan. Pada gerak jatuh bebas tingkatan miskonsepsi yang dialami siswa sebesar 58, 33%, Pada sub konseb gerak jatuh bebas ini merupakan yang sangat besar persentase miskonsepsinya, sebab banyak siswa yang tidak mengenali definisi dari konsep gerak jatuh bebas dan juga tidak bisa membedakan gerak jatuh bebas dengan gerak vertikal kebawah. Pada gerak vetikal ke atas serta gerak vertikal ke bawah siswa mengalami miskonsepsi sebesar 41, 66%, banyak siswa yang tidak menguasai konsep dasar dari gerak vertikal keatas, siswa juga tidak mengenali ciri-ciri dari gerak vertikal kebawah, sebagian diantara mereka yang tidak dapat membedakan gerak vertikal dan gerak jatuh bebas. Dari persentase miskonsepsi yang dirasakan siswa tidak menutup kemungkinan kalau ada sebagian aspek yang memepengaruhi uraian siswa salah satunya yaitu ketidakseriusan siswa dalam belajar fisika (Rahmah, dkk. 2020).

2.2 Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

PBL merupakan salah satu model pembelajaran pendekatan saintifik. Pemilihan model Problem Based Learning (PBL) ini diharapkan dapat membantu siswa dalam mencapai keberhasilan tahapan belajar dan menjadikan proses belajarnya lebih bermakna (Ira, dkk. 2016). Pembelajaran berbasis masalah (PBL) termasuk strategi pembelajaran yang efektif dalam memperoleh pengetahuan di dalamnya, siswa secara kolaboratif belajar mengenai suatu subjek melalui pengalaman pemecahan masalah (problem solving) (Rakbamrung & Thepnuan, 2013). PBL adalah metode pembelajaran berbasis masalah dimana maslash yang releven diperkenalkan di awal instruksi dan digunakan sebagai pemberian konteks serta motivasi dalam mengikuti pembelajaran (Aweke, dkk.

2016). Melalui model pembelajaran Problem Based Learning, siswa dapat mengetahui fenomena-fenomena sehari-hari yang berkaitan dengan fisika sehingga diharapkan mampu untuk menambah pengetahaunnya mengenai materi fisika. (Daimatul, 2017).

Pembelajaran berdasarkan masalah diambail dari sebuah kasus tertentu yang kemudian dianalisis guna menemukan pemecahan dari masalah tersebut. Selain itu model pembelajaran bebasis masalah juga dapat menumbuhkan keterampilan siswa dalam membangun suatu pemecahan masalah dari permasalaahn yang kompleks (Henok dan Rizal. 2016). Pemecahan masalah yang baik bagi siswa akan meningkatkan hasil belajarnya. Dengan hasil belajar yang baik dan meningkat, dapat dikatakan bahwa siswa tersebut mulai menghilangkan miskonsepsi yang telah dialaminya. Pembelajaran berbasis masalah difokuskan terhadap masalah dimana siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan inkuiri serta berpikir ke tingkat yang lebih tinggi. Siswa harus mampu merancang jawaban sementara atas suatu masalah yang membutuhkan kecerdasan secara logis, keberanian serta solusi aktif dalam situasi nyata (Heri, dkk.

2018).

Model pembelajaran Problem Based Learning tidak hanya membantu siswa dalam perolehan pengetahuan konten tetapi juga mengembangkan mereka keterampilan pemecahan masalah, berpikir kritis serta kreatif, mengarahkan mereka ke pembelajaran seumur hidup yang diarahkan sendiri, meningkatkan efektivitas komunikasi mereka, studi kooperatif dan keterampilan evaluasi diri, dan memungkinkan mereka untuk mudah beradaptasi dalam perubahan (Gamze &Serap, 2010). Metode pembelajaran PBL ini dalam kelompok siswa diminta untuk merivie materi dan berperan secara aktif dalam proses pembelajaran (membangun hipotesis, menemukan dan menyimpulkan informasi melalui infomrasi yang telah dipelajarai, menggambar serta memecahkan masalah numerik).

Ciri-ciri Model Pembelajaran Problem Based Learning

Pertama, PBL diartikan sebagai serangkaian aktivitas pembelajaran, yaitu pembelajaran yang tidak hanya

mengharapkan siswa mendengarkan, mencatat lalu menghafal materi pelajaran, namun melalui model PBL ini

siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari serta mengolah dan menyimpulkan informasi. Kedua, model PBL ini

diarahkan untuk memecahkan masalah, yang menitik beratkan masalah sebagai kata kunci dalam proses

pembelajaran, sebab tanpa adanya masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran. Ketiga, proses memecahkan

masalah dilakukan dengan pendekatan berfikir secara ilmiah yang merupakan proses berfikir induktif dan

(5)

32 deduktif. Hal ini dilakukan secara sistematis yaitu dilakukan dengan langkah-lagkah tertentu dan empiris yaitu proses penyelesaian berdasarkan pada fakta dan data yang jelas (Saleh, 2013).

Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam Mengatasi Miskonsespi

Pemahaman yang tepat mengenai konsep fisika dapat dilakukan dengan menerapkan berbagai macam model pembelajaran (Martin & Ratna. 2015). Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk pembelajaran fisika yaitu model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) (Chairul, dkk. 2019). PBL mengklaim bahwa diskusi yang diadakan dalam kelompok tutorial berkontribusi pada pembelajaran kognitif siswa secara positif (Dolmans dalam Gamze, 2010). Selain itu, PBL juga berdampak pada motivasi belajar siswa secara optimis. Proses kognitif tertentu (yaitu, keingintahuan epistemik atau minat intrinsik dalam materi pelajaran) difasilitasi oleh proses yang disyaratkan dalam PBL (Gamze, 2010). Adapun yang mendasari penerapan model problem based learning adalah : (1) Mlalui arahan guru, siswa dibiasakan untuk menggunakan potensi berfikir dalam menyelesaikan masalah yang ada, (2) Siswa nantinya bekerja dalam kelompok dan saling memberikan pengalaman serta informasi ilmu anatara siswa satu dengan lainnya, (3) Membina lingkungan sosial siswa sehingga terjalin hubungan yang baik antar siswa (Utrifani & Turnip, 2014).

Alur mengenai proses model pembelajaran PBL dapat dilihat pada flowchart, sebagai berikut (Rusman, 2011) :

Gambar 1. Flowchart Keberagaman Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah

Penerapan PBL berdampak positif terhadap akademik siswa serta pengembangan konseptual dan dapat menghindari kesalahpahaman/ miskonsepsi pada siswa di level terendah (Necati, 2011). Penguasaan konsep penting dalam mempelajari fisika (Chairul, dkk. 2019). Miskonsepsi pada siswa mengakibatkan rendahnya hasil belajar. Konsep gerak merupakan salah satu kunci utama untuk mengeksplor ide dalam berbagai konteks yang terkait dengan usaha, momentun, energi, dan lainnya. Miskonsepsi dalam konsep gerak dapat menyebabkan kesulitan dalam memecahkan masalah sains dan hambatan dalam kehidupan sehari-hari (Rakbamrung &

Thepnuan, 2013). Dari beberapa penelitian mengatakan bahwa model pembelajaran PBL ini mampu untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dengan hasil belajar yang meningkat maka miskonsepsi yang terjadi pada siswa dapat dikatakan berkurang.

Pinar (2011) menyatakan bahwa secara umum PBL diterima sebagai metode pembelajaran yang paling efektif dalam meningkatkan penelitian dan kelompok keterampilan kerja dalam literatur. Tahapan-tahapan dalam model pembelajaran PBL yaitu : 1) identifikasi masalah dengan menyesuaikan informasi yang diperolah; 2) eksplorasi penafsiran; 3) menemukan solusi dengan mencari aternatif; 4) mengomunikasikan kesimpulan; dan 5) mengitegrasikan, memonitor, serta memperhalus strategi untuk mengatasi kembali masalah (Fakhriyah, 2014) .Berdasarkan penelitian Henok (2016) hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah pada materi pokok kinematika gerak lurus menatakan bahwa nilai rata-rata dengan kategori baik.

Penelitian Nensy, dkk (2017) menyatakan penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan hasil belajar

kognitif. Kemudian Ika (tt) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa model pembelajaran PBL dapat

meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gerak lurus. Dengan demikian model pembelajaran PBL ini juga

dapat mengatasi masalah miskonsepsi yang terjadi pada siswa khusunya pada materi kinematika gerak lurus.

(6)

33 3 Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil dari pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa miskonsepsi merupakan kesalahpahaman konsep yang dialami oleh siswa bahkan bisa juga hal ini dialami oleh guru/pengajar yang tidak memiliki kesesuaian dengan konsepsi para pakar atau ahli di bidangnya. Dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan ditemukan banyak miskonsepsi yang masih terjadi pada siswa diantaranya, siswa masih kesulitan dalam memahami jarak dan perpindahan, kemudian siswa masih kebingungan mengenai kecepatan, kelajuan, dan percepatan, siswa juga masih mengalami miskonsepsi pada sub pokok bahasan gerak lurus berubah beraturan (GLBB), gerak lurus beraturan (GLB), gerak jatuh bebas, dan gerak vertical. Apabila miskonsepsi yang terjadi ini dibiarkan saja tanpa adanya perbaikan, maka dapat menumbulkan masalah yang dapat mengganggu dan juga menghambat proses pembelajaran. Oleh sebab itu untuk mengatasi terjadinya miskonsepsi tersebut digunakanlah metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL).

Problem Based Learning (PBL) yaitu merupakan model pembelajaran yang termasuk dalam pendekatan saintifik. Model pembelajaran berbasis masalah ini menyuguhkan permasalahan yang auntetik dan bermakna dimana serangkaian aktivitas pembelajaran tidak hanya mengharapkan siswa mendengarkan, mencatat lalu menghafal pelajaran, namun melalui strategi model pembelajaran PBL ini siswa dapat aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah serta menyimpulkan informasi.

Dengan digunakannya metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ini miskonsepsi yang dialami oleh siswa dapat diatasi sehingga siswa tidak lagi memiliki pemahaman konsep kinematika gerak lurus yang salah dan mengganggu proses pembelajaran dan melalui model pembelajaran ini juga siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya terutama dalam materi gerak lurus.

Daftar Rujukan

Artiawati, P. R., Mulyani, R., & Kurniawan, Y. (2016). Identifikasi Kuantitas Siswa Yang Miskonsepsi Menggunakan Three Tier-Test Pada Materi Gerak Lurus Beraturan (GLB). JIPF (Jurnal Ilmu Pendidikan Fisika), 1(1): 13–15.

Asna L, Sugianto, & Sulhadi. (2014). Penerapan Model Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) untuk Menumbuhkan Keterampilan Proses Sains pada Siswa. Unnes Physics Education Journal, 3(2).

Aweke S. A., Beyene, B. H., Beyene T. A. & Shiferaw G. K. (2016). The effect of Problem Based Learning on students’ Motivation and Problem Solving of Physics. EURASIA Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 13(3), 857-871

Chairul A., Antomi S., Yuberti Y., Nova Zella, Widayanti W., Rahma Diana, Ismail Suardi W. (2019).

Effect Size Test of Learning Model ARIAS and PBL: Concept Mastery of Temperature and Heat on Senior High School Student. EURASIA Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 15(3).

Daimatul M., Sudarti, & Subiki. (2017). Pembelajaran Fisika Melalui Model Problem Based Learning (PBL) Disertai Peta Konsep di MAN 2 Jember (Pada Pokok Bahasan Kinematika Grak Lurus). Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(3), 312-318.

Demirci, N. (2005). A Study About Students’ Misconceptions in Force and Motion Concepts by Incorporating A Web-Assisted Physics Program. The Turkish Online Journal of Educational Technology, 4 (3).

Fadllan, A., W. Y. Prawira, Arsini, & Hartono. (2019). Analysis of students’ misconceptions on mechanics using three-tier diagnostic test and clinical interview. Journal of Physics:

Conference Series.

Fakhriyah, F. (2014). Penerapan Problem Based Learning dalam Upaya Mengembangkan Kemampuan Berfikir Kritis Mahasiswa. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 3 (1).

Gamze Sezgin S & Serap C. (2010). A Small-Scale study Comparing the Impact of Problem-Based- Learning and Traditional Methods on Student Satisfaction in The Introductory Physics Course. Procedia Social and Behavioral Science, 2, 809-813.

Gamze Sezgin S. (2010). The Effect of Problem Based Learning on Pre-Service Teacher Achievement,

Approaches and Attitudes Towards Learning Physics. International Journal of the Physical

Sciences, 5(6).

(7)

34 Gurel, D. K, dkk. (2015). “A Review and Comparison of Diagnostic Instruments to Identify Students’

Misconceptions in Science”. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education. Vol 11 No 5, 989-1008.

Hamdani, (2013). “Deskripsi Miskonsepsi Siswa Tentang KonsepKonsep dalam Rangkaian Listrik”.

Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA, 4(1).

Hamdani, (2014). “Penerapan Model ECIRR Menggunakan Kombinasi Real Laboratory dan Virtual Laboratory untuk Mereduksi Miskonsepsi Mahasiswa “. Jurnal Visi Ilmu Pendidikan, 6(3).

Henok S ., & Rizal Y. M. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Kinematika Gerak Lurus di SMA Negeri 1 Tanjung Moraw.

Jurnal Infapi, 4 (2)

Heri M, Gunarhadi, & Minthasi I. (2018). The Effect Problem Based Learning Model on Studen Mathematics Learning Outcomes Viewed from Critical Thinking Skills. International Journal of Educational Research Review, 3(2)

Hikmayanti, I., Sahrul, S., & Muslimin. (2015). Pengaruh Model Problem Based Learning Menggunakan Simulasi Terhadap Haisl Belajar Siswa pada Materi Gerak Lurus Kelas VII MTS Bou. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako, 3(3), 57-61.

Julina, S. S. Sitompul, dan Erwina Oktavianty. 2019. Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT untuk Meremediasi Miskonsepsi Peserta Didik pada Materi GLBB. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 8 (9).

Kamaluddin, H., & Fihrin, H. (2016). Analisis Pemahaman Konsep Gerak Lurus pada Siswa SMA Negeri di Kota Palu. JPFT (Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online), 4(3).

Martin, Ermawati I R. 2015. Pengaruh Pemberian Tes Berstruktur dalam Model Pembelajara Problem Solving Terhadap Kemampuan Berfikir Sistematis Siswa di SMAN 72 Jakarta. Jurnal Fisika dan Pendidikan Fisika, 1(2).

Mufit, F. (2018). The Study of Misconceptions on Motion’s Concept and Remediate Using Real Experiment Video Analysis. ACER-N, 2278-2291.

Necati HIRCA. 2011. Impact of Problem-Based Learning to Students and Theacers. Asia-Pacific Forum on Science Learning and Teaching, 12(1).

Nensy R, Iriwi L.S Sinon, dan Sri Wahyu W. (2017). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik SMA pada Materi Usaha dan Energi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-BiRuNi, 6 (1)

Pinar Celik, Fatih Onder, and, Ilhan Silay. (2011). The effects of problem-based learning on the students’ success in physics course. Social and Behavioral Sciences, 28, 656-660

Prissana Rakbamrung & Preeyanan Thepnuan. (2013). Impact of Problem-Based Learning in Learning force and Motion through Different Styles of Student’s Demonstrator. International Conference New Perspectives in Science Education 2 nd Edition.

Pujianto, Agus, Nurjannah, dan Darmadi, I Wayan (2014). “Analisis Konsepsi Siswa pada Konsep Kinematika Gerak Lurus”. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT), 1(1).

Rahmah, C. M., Muhammad N., dan Samsul B. (2020). Identifikasi Miskonsepsi Menggunakan Certainty of Response Index (CRI) pada Materi Kinematika Gerak Lurus di MAN 4 Aceh Besar. Jurnal Pendidikan Fisika dan Fisika Terapan. 2018(2), 5-10.

Rusman. (2011). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada

Saleh, M. 2013. Strategi Pembelajaran Fish dengan Problem Based Learning. Jurnal Ilmiah Didaktika, 14 (1), 190-220.

Sawitri, I., Suparmi, & Aminah, N. S. (2016). Pembelajaran Fisika Berbasis Problem Based Learning (PBL) Menggunakan Metode Eksperimen dan Demonstrasi Ditinjau dari Kemampuan Berfikir Kritis Terhadap Prestasi Belajar dan Keterampilan Metakognitif. Jurnal Inkuiri, 5(2).

Setyono, A., Nugroho, S. E., & Yulianti, I. (2016). Analisis Kesulitan Siswa dalam Memecahkan Masalah Fisika Berbentuk Grafik. UPEJ Unnes Physics Education Journal, 5(3): 32–39.

Sutrisno, A. D. 2019. Survey Pemahaman Konsep dan identifikasi miskonsepsi Siswa SMA pada materi

Kinematika Gerak. Jurnal Wahana Pendidikan Fisika, 4(1): 106-112.

(8)

35 Tarisalia, F. S., Ivan D. A. I., & Try N. F. 2020. Studi Pustaka Miskonsepsi Siswa dalam Konsep Gerak Lurus, Gerak Parabola, dan Gerak Melingkar. Jurnal Kependidikan Betara (JKB), 1(4): 208- 217.

Utrifani, A., & Turnip, B. M. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Kinematika Gerak Lurus Kelas X SMA Negeri 14 Medan T.P. 2013/2014. Jurnal Infapi, 2(3), 9--16.

Yolanda, Y. 2016. Remediation of Misconception Momentum and Impulse With5e Learning Cycle Approach. Electronic and Mobile Learning International Seminar Proceedings. Postgraduate Program Universitas Negeri Jakarta

Yolanda, Y. 2017. Remediasi Miskonsepsi Kinematika Gerak Lurus dengan Pendekatan STAD.

Science and Physics Education Journal, 1(1): 39 – 48.

Gambar

Tabel 1. Persentase Identifikasi Miskonsepsi per Sub konsep
Gambar 1.  Flowchart Keberagaman Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah

Referensi

Dokumen terkait

Kearifan­kearifan  lokal  Bali  yang  menyangkut  hak­hak  atas  bangunan,  tanaman,  ternak  ataupun  barang  yang  ada  di  atas  tanah  merupakan 

Tes yang digunakan adalah tes pilihan ganda (tes objektif) yang diperluas (disertai alasan). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis

terhadap kegiatan ekstrakurikuler PA sebanyak enam puluh tiga, yang mempunyai pengetahuan terhadap kegiatan ekstrakurikuler Pendalaman Agama (PA) Islam sebanyak enam

Halaman login page merupakan tampilan awal yang akan dilihat oleh user yang belum melalui proses login (user masih dalam status guest). Apabila user ingin masuk ke dalam

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan rerata ketrampilan sebelum dan sesudah pelaksanaan pelatihan menunjukkan hasil yang paling tinggi selisihnya yaitu pada

Meskipun demikian, ketika matahari dan bulan berada pada sisi berlawanan dari bumi, kita masih memiliki arus pasang ekstra tinggi sebab kedua matahari dan

Berdasarkan sebaran waktu, peneliti membagi dalam 5 kategori waktu (Tabel 1) hal ini karena definisi terlambat di indonesia berdasarkan terapi menurut waktu

Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 47 responden yang terdiri wanita usia subur yang sudah menikah di Desa