• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL ILMIAH OLEH. 1. FEBBY DWINTY PUTRI 2. Drs. M. HIDAYAT, M.Pd 3. SRI PURWANINGSIH, S.Si, M.Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARTIKEL ILMIAH OLEH. 1. FEBBY DWINTY PUTRI 2. Drs. M. HIDAYAT, M.Pd 3. SRI PURWANINGSIH, S.Si, M.Si"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 1

ARTIKEL ILMIAH

UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL

BELAJAR FISIKA SISWA MENGGUNAKAN MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT

FACILITATOR AND

EXPLAINING MATERI SUHU DAN KALOR

DI KELAS X

6

MAN MODEL

KOTA JAMBI

OLEH

1. FEBBY DWINTY PUTRI

2. Drs. M. HIDAYAT, M.Pd

3. SRI PURWANINGSIH, S.Si, M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

(2)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 2

UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI DAN HASIL BELAJAR

FISIKA SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE STUDENT FACILITATOR AND

EXPLAINING MATERI SUHU DAN KALOR

DI KELAS X

6

MAN MODEL

KOTA JAMBI

Febby Dwinty Putri1) , M.Hidayat2), Sri Purwaningsih3)

1)Alumni Program Studi Pendidikan Fisika, Fkip, Universitas Jambi

2)Dosen Program Studi Pendidikan Fisika, Fkip, Universitas Jambi E-mail: [email protected]

Kampus Pinang Masak, Jl. Raya Jambi-Muara Bulian, Mendalo Darat Jambi 36361 ABSTRAK

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang

adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik. Banyak

usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan

antara lain: perbaikan dan pengembangan kurikulum, peningkatan mutu guru

berupa pelatihan dan penataran; serta peningkatan pengadaan sarana dan

prasarana pendidikan. Rendahnya partisipasi siswa pada mata pelajaran fisika di

MAN Model Kota jambi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu siswa yang masih

kurang untuk bertanya, menanggapi, mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru

dan ikut memberikan kesimpulan materi yang diajarkan oleh guru, begitu juga

dengan hasil evaluasi hasil belajar siswa, peneliti melihat siswa menanyakan

materi pelajaran yang belum dipahami kepada teman yang dianggap sudah

memahami dan pendapat sebagian besar siswa yang menganggap bahwa belajar

fisika itu susah dan membosankan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan

kelas. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student

Facilitator and Explaining pada materi Suhu dan Kalor. Subyek penelitian adalah

siswa kelas X

6

sebanyak 33 siswa. Penelitian dilaksanakan dalam 3 siklus, dengan

2 kali pertemuan untuk setiap siklusnya serta 1 kali ujian siklus, dimana aktivitas

setiap siklusnya meliputi perencanaan, tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi.

Instrumen penelitian menggunakan tes formatif, lembar observasi partisipasi

siswa dan lembar kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan penelitian secara

kolaboratif dengan melibatkan 2 orang, peneliti bertindak sebagai pelaksanaan

tindakan dan seorang guru fisika bertindak sebagai pengamat partisipasi siswa dan

kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan partisipasi

yang di alami siswa dari siklus I yaitu, 37,167% menjadi 57,33% pada siklus II

dan 81,167% pada siklus III dengan indikator ketercapaiannya 60%, serta

peningkatan hasil belajar siswa yaitu 54,92 untuk siklus I; 74,63 untuk siklus II

dan 77,91 untuk siklus III dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) 75.

Dengan demikian penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil sehingga

peneliti merekomendasikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

Student Facilitator and Explaining dapat meningkatkan partisipasi dan hasil

belajar pada materi Suhu dan Kalor.

(3)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 3

I.

PENDAHULUAN

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik. Menurut Putra (2013) “Fakta membuktikan bahwa selama ini proses pembelajaran yang terjadi di sekolah cenderung konvensional. Maksudnya, proses pembelajaran berjalan dengan sistem yang sudah usang dan ketinggalan zaman, misalnya guru menyampaikan materi pelajaran dengan cara berceramah.” Banyak usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan fisika antara lain: perbaikan dan pengembangan kurikulum, peningkatan mutu guru berupa pelatihan dan penataran, serta peningkatan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan. Tetapi sampai sekarang masih banyak anggapan bahwa mata pelajaran fisika membosankan, tidak menarik, sulit sehingga siswa tidak menyukai pelajaran fisika. Kenyataan ini adalah suatu persepsi yang negatif terhadap mata pelajaran fisika.

Permasalah yang ada di kelas yang diamati yaitu siswa yang masih kurang dalam hal bertanya, menanggapi, mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dan menyimpulkan materi yang diajarkan oleh guru, begitu juga dengan hasil evaluasi hasil belajar siswa, peneliti melihat siswa menanyakan materi pelajaran yang belum dipahami kepada teman yang dianggap sudah memahami dan hanya beberapa siswa yang bertanya langsung kepada guru yang mengajar. Disimpulkan bahwa partisipasi siswa masih kurang dilihat juga dari hasil belajar yang belum mencapai KKM yaitu hanya 54 sedangkan KKM yang ditentukan sekolah adalah 75.

Menurut Sani (2013) pembelajaran teman sejawat merupakan kegiatan belajar yang berpusat pada peserta didik sebab anggota komunitas belajar merencanakan dan memfasilitasi

kesempatan belajar untuk dirinya sendiri dan orang lain. Pembelajaran akan sukses jika terjadi timbal balik antara teman sebaya yang secara bersama-sama membuat perencanaan dan memfasilitasi kegiatan belajar dan dapat belajar dari kegiatan belajar kelompok lainnya.

Oleh karena itu penulis memilih model pembelajaran kooperatif tipe

Student Facilitator and Explaining

karena konsep dari model tersebut adalah siswa yang menjadi fasilitator dan menjelaskan kepada siswa yang lain mengenai materi yang dibahas. Menurut Rachmat (2009) “Model pembelajaran kooperatif tipe Student Facilitator And

Explaining merupakan model pembelajaran dimana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya.”

Materi pokok yang dipilih dalam penelitian ini adalah suhu dan kalor. Penulis memilih materi ini berdasarkan atas pertimbangan bahwa materi listrik dinamis merupakan salah satu materi fisika yang dipelajari di kelas X semester II. Materi ini sebagian besar terdiri dari konsep dan perhitungan yang menuntut siswa untuk lebih mudah memahami konsep dengan benar sehingga dapat memudahkan siswa dalam memahami. Diperlukan adanya percobaan dimana setiap siswa harus saling membantu untuk menemukan hasil yang tepat.

Berdasarkan penelitian Dian

(2011)

dalam skripsinya yang berjudul ”Upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar fisika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student

Facilitator And Explaining pada konsep

suhu dan pemuaian di kelas VIIA MTS

Negeri Terusan”. Menyimpulkan bahwa aktivitas siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student

Facilitator And Explaining pada konsep

Suhu dan Pemuaian.

(4)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 4 kooperatif tipe

Student Facilitator And

Explaining

memiliki kelebihan. Penulis

tertarik menerapkan model pembelajaran itu pada pelajaran fisika. Berdasarkan uraian di atas penulis melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Partisipasi dan Hasil Belajar Fisika Siswa Menggunakan Model Pembelajara Kooperatis Tipe Student Facilitator And Explaining Materi Suhu dan Kalor di Kelas X6 MAN Model Kota Jambi.

II. KAJIAN PUSTAKA

2.1 Hakikat Belajar

Trianto (2012) mengatakan belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi secara sadar, disengaja, berkelanjutan dan bermanfaat bagi diri individu yang bersangkutan sebagai hasil belajar yang meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan), beserta tingkatan aspek-aspeknya menuju arah kemajuan. Menurut Daryanto (2008) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dan lingkungannya.

Dapat disimpulkan bahwa belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya.

2.2 Hakikat Pembelajaran Fisika

Fisika merupakan perluasan dan pendalaman IPA. Secara sederhana menurut Alwi (2011) “Fisika ialah ilmu pengetahuan atau sains tentang energi, transformasi energi, dan kaitannya dengan zat”.

Menurut Trianto (2009) ”Fisika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam melalui serangkaian proses ilmiah yang dibangun atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep, prinsip, dan teori yang berlaku secara universal.”

2.3 Partisipasi Siswa dalam

Pembelajaran

Menurut Taniredja, dkk (2012) partisipasi adalah penyertaan mental dan emosi seseorang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk mengembangkan daya pikir dan perasaan mereka bagi tercapainya tujuan-tujuan, bersama bertanggung jawab terhadap tujuan tersebut. Menurut Svinicki dalam Taniredja (2012) partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan aktif siswa dalam pemunculan ide-ide dan informasi, sehingga kesempatan belajar dan pengingatan materi bisa lebih lama. Menurut Tannenbaun dan Hahn (2002) partisipasi merupakan suatu tingkat sejauhmana peran anggota melibatkan diri dalam kegiatan dan menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurut Sudjana dalam Taniredja (2012) aspek-aspek partisipasi yang perlu diamati dalam membuat pedoman observasi aktivitas siswa adalah:

a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah.

b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.

c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

d. Mempresentasikan pendapat kesimpulan.

e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.

(5)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 5

2.4 Hasil Belajar

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar Menurut Daryanto (2009) yaitu faktor yang ada dari dalam individu yang sedang belajar (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar individu tersebut (faktor eksternal). Faktor internal meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis. Faktor jasmaniah meliputi kesehatan dan cacat tubuh sedangkan faktor psikologis meliputi faktor intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kelelahan. Faktor eksternal yang berpengaruh dalam belajar meliputi faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Faktor keluarga dapat meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Faktor masyarakat dapat berupa kegiatan siswa dan masyarakat, teman bergaul, bentuk kehidupan dalam masyarakat dan media massa. Oleh karena itu, dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, guru diharapkan memperhatikan faktor-faktor tersebut agar hasil belajar yang dicapai oleh siswa dapat optimal.

Hasil belajar dapat diketahui, dinilai dan diukur dengan menggunakan evaluasi.

2.5 Pembelajaran Kooperatif

Menurut Ibrahim dalam Taniredjo (2012) mengemukakan bahwa terdapat tujuh unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”. 2) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam

kelompoknya seperti milik mereka sendiri.

3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.

4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.

5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.

6) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajar.

7) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

2.6 Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe Student Facilitator

and Explaining

Model pembelajaran kooperatif tipe Student Facilitator And Explaining merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk berperan aktif sebagai fasilitator di depan kelas. Menurut Rachmat (2009) “Model pembelajaran kooperatif tipe Student

Facilitator And Explaining merupakan

model pembelajaran dimana siswa/peserta didik belajar mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta didik lainnya.”

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Student Facilitator And

Explaining menurut Hanafiah (2012),

sebagai berikut:

a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

b. Guru menyajikan materi.

(6)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 6 d. Guru meyimpulkan gagasan dari

peserta didik.

e. Guru menjelaskan semua materi yang disajikan saat itu.

f. Penutup.

III.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di MAN Model Kota Jambi tahun ajaran 2013-2014. Penelitian ini dilakukan pada semester genap, dilaksanakan pada bulan Maret 2014. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X6 berjumlah

33 Siswa, yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 24 siswi perempuan.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus, dimana kegiatan setiap siklusnya meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi dan evaluasi, Analisis dan refleksi

(reflecting).

a. Tahap perencanaan

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah: 1. Penyusunan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) sesuai dengan langkah pembelajaran melalui model SFAE yang akan disajikan.

2. Mempersiapkan alat-alat pendukung yang diperlukan sesuai dengan rencana program pembelajaran. 3. Menyusun lembar observasi

partisipasi belajar siswa.

4. Menyusun lembar kegiatan pembelajaran.

5. Mendesain alat evaluasi berupa pertanyaan (soal).

b. Tahap pelaksanaan tindakan.

Dalam tahap ini pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan sesuai skenario pembelajaran yang telah disiapkan. Tahap observasi dan evaluasi. c. Tahap observasi dan evaluasi

Observasi adalah cara yang digunakan untuk mengadakan penilaian dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung dan sistematis. Pemantauan terhadap pembelajaran menggunakan lembar pengamatan, pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap partisipasi belajar siswa dan

pelaksanaan tindakan oleh guru dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan, yang bertindak sebagai observer.

Evaluasi digunakan untuk dapat mengetahui hasil yang telah dicapai dari proses pelaksanaan tindakan.

d. Analisis dan refleksi

Dari hasil observasi dan evaluasi kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan sudah tepat atau membutuhkan perbaikan. Dari hasil refleksi ini dapat memberikan masukan bagi penulis untuk menetapkan dan merencanakan tindakan pada siklus berikutnya.

Teknik pengumpulan Data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara 1. Observasi

a. Data tentang partisipasi siswa dalam menggunakan model pembelajaran

Student facilitator and explaining

dikumpulkan dengan cara observasi yang berpedoman pada lembar observasi partisipasi siswa.

b. Data tentang kegiatan pembelajaran dalam proses pembelajaran sebagai dampak penerapan metode pembelajaran

Student Facilitator and Explaining

dikumpulkan dengan cara observasi. c. Data mengenai hasil belajar siswa dikumpulkan melalui post test dan evaluasi/ulangan harian yang dilakukan pada tiap siklus (terlampir).

2. Test adalah suatu metode atau alat untuk mengadakan penyelidikan yang menggunakan soal-soal, pertanyaan atau tugas-tugas yang lain dimana persoalan atau pertanyaan-pertanyaan itu telah dipih dengan seksama dan telah distandarisasikan.

Data yang diperoleh dianalisis untuk memperoleh gambaran mengenai partisipasi siswa dan kegiatan pembelajaran dalam proses pembelajaran.

(7)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 7 cukup = 2, kurang = 1) dihitung dengan

rumus:

%

100

N

X

)

Z

(

siswa

Persentase

Keterangan:

∑X = Jumlah skor semua siswa ∑N = Jumlah skor ideal

Berdasarkan interval tersebut, maka kriteria penilaian partisipasi adalah: Tabel 1. Kriteria penilaian partisipasi

Interval Persentase Kriteria 81%-100% Sangat tinggi

61%-80% Tinggi

41%-60% Sedang

21%-40% Rendah

0%-20% Sangat rendah Sedangkan untuk menghitung rata-rata partisipasi siswa pada setiap siklus digunakan rumus sebagai berikut:

.

indikator

banyaknya

Z

)

x

(

rata

Rata

(3.10) Keterangan :

∑Z = Jumlah seluruh skor persentase siswa

Dengan kriteria penilaian:

0% < Rata-rata ≤ 20% : Partisipasi siswa sangat rendah

20% < Rata-rata ≤ 40% : Partisipasi siswa rendah 40% < Rata-rata ≤ 60% : Partisipasi siswa sedang 60% < Rata-rata ≤ 80% : Partisipasi siswa tinggi 80% < Rata-rata ≤ 100% : Partisipasi siswa sangat tinggi

Untuk mengetahui ada tidaknya penggunaan model pembelajaran

Student Facilitator And Explaining

terhadap hasil belajar, peneliti cukup membandingkan nilai sebelum penggunaan model pembelajaran

Student Facilitator And Explaining

dengan nilai sesudah model pembelajaran Student Facilitator And

Explaining. Nilai hasil model pembelajaran Student Facilitator And

Explaining bisa diambil setiap pertemuan dari setiap siklus. Dengan membandingkan nilai sebelum model pembelajaran Student Facilitator And

Explaining dengan sesudah model pembelajaran Student Facilitator And

Explaining maka akan dapat dilihat

ada/tidaknya perubahan nilai.

IV. HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN

A. Pembahasan Hasil Partisipasi

Siswa

Tabel 2. Persentase rata-rata partisipasi Siklus I Siklus II Siklus III Persentase skor partisipasi 34,97 55,24 80,05 berdasarkan tabel 2 diatas terlihat bahwa terjadi peningkatan persentase skor partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran kooperatif tipe SFAE. Partisipasi siswa tersebut dalam hal: a. Memberikan pendapat untuk

pemecahan masalah.

b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.

c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

d. Mempresentasikan pendapat kesimpulan.

e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain.

f.

Ikut terlibat membuat kesimpulan.

B. Pembahasan Hasil Observasi

Kegiatan Pembelajaran

(8)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 8 bahwa pada kegiatan belajar mengajar

yang dilakukan terdapat 1 aktivitas memenuhi kategori sangat baik, 6 aktivitas memenuhi kategori baik, 8 aktivitas memenuhi kategori cukup dan 1 aktivitas memenuhi kategori kurang. Untuk siklus II terjadi peningkatan dimana 7 aktivitas memenuhi kategori sangat baik dan 10 aktivitas memenuhi kategori baik. Pada siklus III terdapat 15 aktivitas memenuhi kategori sangat baik dan 5 aktivitas memenuhi kategori baik. Dari siklus I sampai siklus III bisa disimpulkan bahwa setiap siklus memperlihatkan kemajuan dikarenakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan hingga siklus III dari hasil observasi semakin banyak yang dinilai baik oleh observer.

C. Pembahasan Hasil Belajar

Tabel 3. Nilai Rata-Rata Hasil Belajar SiklusI SiklusII SiklusIII Nilai

Rata-rata

54,92 74,63 77,91

Berdasarkan tabel 3 terlihat bahwa terjadi peningkatan rata-rata nilai belajar fisika siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe SFAE materi suhu dan kalor.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif tipe

Student Facilitator and Explaining dapat

meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa kelas X6 MAN Model Kota

Jambi pada materi suhu dan kalor. Peningkatan ini ditandai dengan meningkatnya rata-rata partisipasi siswa dari 34,97% pada siklus I, 55,24% pada siklus II dan pada siklus III sebesar 80,05%. Peningkatan ketuntasan belajar

siswa dari 21% pada siklus I, 52% pada siklus II dan 82% pada siklus III, serta meningkatnya hasil belajar dari 54,92 pada siklus I, 74,63 pada siklus II dan pada siklus III sebesar 77,91.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas serta untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa, maka penulis menyarankan beberapa hal:

1. Diharapkan kepada guru mata pelajaran fisika agar dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Facilitator

and Explaining sebagai salah satu

model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.

2. Penelitian ini masih terbatas pada partisipasi dan hasil belajar siswa pada aspek kognitif diharapkan lebih lanjut dilakukan penelitian terhadap hasil belajar pada aspek afektif dan psikomotor.

3. Penelitian ini juga terbatas pada materi Suhu dan Kalor, jadi diharapkan adanya lanjutan penelitian pada materi yang berbeda atau bahkan pada mata pelajaran yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, M., 2011. Belajar Menjadi

Bahagia dan Sukses Sejati.

Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Daryanto., 2010. Belajar Mengajar. Bandung: CV. YRAMA WIDYA.

Daryanto., 2012. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: RINEKA CIPTA. Dian, S., 2011. Upaya Meningkatkan

(9)

Febby Dwinty Putri : S1 Pendidikan Fisika Page 9 explaining pada konsep suhu

dan pemuaian di Kelas VIIA

MTSNegeri Terusan, Skripsi,

Universitas Jambi, Jambi. Hanafiah, N. and Suhana, C., 2012.

Konsep Strartegi Pembelajaran.

Bandung: PT Refika Aditama. Putra, S.R., 2013. Desain Belajar

Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Yogyajarta: DIVA Press.

Sani, R. A., 2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Buku

Aksara.

Taniredja, H.T., Pujiati, I. and Nyata., 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Alfabeta.

Trianto., 2012. Model Pembelajaran

Terpadu: Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:

(10)

Referensi

Dokumen terkait

VETERAN Ruang Di PSPDG (GEDUNG HIJAU) RUANG LABORATORIUM RUANG.. FAAL/BIO MEDIK

Pada umumnya laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, maka lebih banyak laki-laki yang mengalami ND dibandingkan perempuan (Tanenberg, 2009).. Faktor risiko yang

• Pengaturan temperatur untuk pembekuan daging perlu dipertimbangkan karena pada temperatur tertentu cairan daging telah membeku semua disamping itu juga proses

Dalam hal terdapat perbedaan data antara DIPA Petikan dengan database RKA-K/L-DIPA Kementerian Keuangan maka yang berlaku adalah data yang terdapat di dalam database

Tidak ada petunjuk pasti pada pemeriksaan fisik yang mampu membedakan tumor adneksa adalah jinak atau ganas, namun secara umum dianut bahwa tumor jinak cenderung kistik

Karakteristik sifat listrik membran sebelum dan setelah berinteraksi dengan larutan elektrolit dilakukan dalam pengaruh konsentrasi larutan, hari fermentasi nata dan

Kerjasama Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut-LIPI dengan Ditjen Perikanan, Puslitbang Oceanologi – LIPI, Puslitbang Perikanan, BPPL Puslitbang Perikanan,

Dalam proses penganalisaan sistem ini, maka peneliti menggunakan Algoritma Ant Colony untuk menentukan jalur terpendek ke penginapan yang ada di Kota Batam.. Algoritma Ant