• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. LATAR BELAKANG

Tulisan ini akan membahas serta mengkaji 2 (dua) putusan tentang penjatuhan rehabilitasi bagi terdakwa dalam perkara narkotika. Dalam hal ini penulis akan meneliti serta mengkaji putusan Pengadilan Negeri Bangkalan nomor 14/Pid.B/2014/PN.Bkl dan putusan nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Tapaktuan dalam menjatuhkan putusan pidana penjara atau putusan rehabilitasi kepada terdakwa narkotika. Dengan memperhatikan kedua putusan tersebut, penulis mengambil kesimpulan bahwa dalam menjatuhkan putusan pemidanaan, majelis hakim mempunyai pertimbangan yang digunakan untuk menganalisa fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika selanjutnya disebut UU narkotika. Dalam UU narkotika memang memberikan kewenangan pada hakim dalam menjatuhkan pidana penjara atau rehabilitasi kepada pecandu narkotika maupun korban penyalahgunaan narkotika.

Pengertian narkotika menurut UU Narkotika ialah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam UU Narkotika.1 Pengguna narkotika dapat dibedakan antara lain sebagai pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika. Pecandu narkotika ialah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis. Sedangkan Korban penyalahgunaan narkotika ialah seseorang yang

1 Undang-undang No. 35 tahun 2009 Tentang Narkotika Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 5062.

(2)

tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa dan/atau diancam untuk menggunakan Narkotika.

UU Narkotika menjelaskan bahwa seorang pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib di rehabilitasi, hal tersebut sesuai dengan bunyi Pasal 54 UU Narkotika yang berbunyi sebagai berikut

“Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial”, dan dalam penerapannya merujuk pada ketentuan yang ada dalam SEMA No. 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika Kedalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial, supaya dapat direhabilitasi selanjutnya disebut SEMA 04/2010. Akan tetapi terjadi pertentangan norma dalam hal merehabilitasi ataupun mempidanakan seorang pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika.

Pertentangan atau konflik norma tersebut terjadi pada Pasal 127 ayat (1) dan ayat (2) dan (3). Didalam Pasal 127 ayat (1) hakim dapat mempidana seorang penyalahguna narkotika, sedangkan pada ayat (2) dan (3) disebutkan bahwa hakim wajib merehabilitasi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika. Sebagai tolak ukur hukuman yang dapat dikenakan bagi seorang pecandu narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 127 jo Pasal 54 jo Pasal 103 UU narkotika adalah Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2010 jo Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2009, yang menyebutkan seorang pecandu dapat ditempatkan dalam lembaga rehabilitasi. Akan tetapi telah terjadi perbedaan pertimbangan majelis hakim dalam perkara nomor 14/Pid.B/2014/PN.Bkl dan majelis hakim dalam putusan nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Ttn mengenai penjatuhan rehabilitasi bagi terdakwa penyalahgunaan narkotika.

Dalam putusan Pengadilan Negeri Kabupaten Bangkalan Nomor 14/Pid.B/2014/PN.Bkl. Pada putusan tersebut hakim memberi putusan kepada terdakwa dengan putusan pidana penjara selama 6 (enam) bulan karena terdakwa terbukti melakukan penyalahgunaan narkotika golongan I

(3)

untuk diri sendiri sesuai pasal 127 ayat (1) UU Narkotika. Kronologi kasus tersebut ialah pada awalnya terdakwa didakwa dengan 2 (dua) dakwaan, dakwaan pertama ialah dakwaan primair Pasal 112 ayat (1) dan kedua ialah dakwaan subsidair Pasal 127 ayat (1) UU Narkotika. Dakwaan tersebut didakwakan pada terdakwa mulai dari proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di persidangan.2

Sedangkan dalam kasus yang sama putusan nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Ttn majelis hakim menjatuhkan putusan kepada terdakwa dengan putusan pidana penjara selama 8 (delapan) bulan karena terbukti melakukan penyalahgunaan narkotika golongan I untuk diri sendiri sesuai pasal 127 ayat (1) UU Narkotika sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif ketiga, kemudian memerintahkan terdakwa menjalani perawatan atau pengobatan melalui rehabilitasi medis dan sosial di BNNP Aceh selama masa pidana yang belum dijalani oleh terdakwa, menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, memerintahkan Terdakwa dibebaskan dari tahanan segera setelah putusan ini diucapkan. 3

Berkaitan dengan penjatuhan tindak pidana, khususnya korban penyalahgunaan narkotika golongan I pada putusan Pengadilan Negeri Bangkalan nomor 14/Pid.B/2014/PN.Bkl dan putusan nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Ttn, terdapat perbedaan dasar pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan putusan pidana penjara atau rehabilitasi kepada terdakwa narkotika jika penulis merujuk pada ketentuan yang terdapat dalam Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika Kedalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial selanjutnya disebut SEMA 4/2010.

No Putusan nomor

14/Pid.B/2014/PN.Bkl

Putusan nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Ttn

2 Putusan Nomor 14/Pid.B/2014/PN.Bkl.

3 Putusan Nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Ttn.

(4)

1. Terdakwa MOH. SOFYAN Bin BULADIN pada saat ditangkap oleh penyidik Polri dalam kondisi tertangkap tangan.

Terdakwa RAMSYAH Bin M.YAHYA G (Alm) pada saat ditangkap oleh penyidik Polri dalam kondisi tertangkap tangan.

2. Metamphetamine (shabu): 0,059 gram.

Metamphetamine (shabu): 0,04 gram.

3. Hasil Lab. Klinik Pavilium RSUD SYARIFAH AMBAMI RATO EBU Kab. Bangkalan

dengan Nomor Lab.

255/XII/Lab/2013 dengan hasil pemeriksaan POSITIF.

Pemeriksaan Lab. Forensik Nomor: 12641/NNF/2016 yang dibuat dan ditandatangani oleh Zulni Enma, Delina Naiborthu, S.Si, Apt dengan hasil POSITIF methamphetamina (shabu)

4. Hasil pemeriksaan psikis terhadap terdakwa dari RS Jiwa Menur Surabaya No.

05/KM/I/2014 yang dibuat dan ditandatangani oleh dr.

Fattyawan Kintoro, Sp.Kj.

- TIDAK ADA

5. Tidak terdapat bukti bahwa terdakwa terlibat dalam peredaran gelap narkotika.

Tidak terdapat bukti bahwa terdakwa terlibat dalam peredaran gelap narkotika.

UU narkotika menjelaskan bahwa seorang pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib direhabilitasi, hal tersebut sesuai dengan bunyi Pasal 54 UU narkotika, yang berbunyi sebagai berikut “ Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial “4 “dan penerapannya harus memenuhi syarat dan ketentuan yang ada dalam SEMA 4/2010.

Akan tetapi didalam putusan tersebut penulis menemukan perbedaan antara kedua putusan tersebut berdasarkan fakta persidangan, dimana

4 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 54.

(5)

dalam putusan nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Ttn syarat dan ketentuan yang ada pada SEMA 4/2010 tidak terpenuhi, menurut penulis seharusya majelis hakim tidak menjatuhkan tindakan hukum berupa rehabilitasi jika melihat substansi dari SEMA 4/2010.

Adapun pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu hal- hal yang memberatkan dan yang meringankan diri terdakwa:

Dasar pertimbangan majelis hakim dalam putusan nomor 14/Pid.B/2014/PN.Bkl:

a. Hal-hal yang memberatkan:

 Perbuatan terdakwa telah menyalahgunakan narkotika;

b. Hal-hal yang meringankan:

 Terdakwa belum pernah dihukum;

 Terdakwa berterus terang dan mengakui perbuatannya sehingga memperlancar persidangan;

 Terdakwa bersikap sopan dipersidangan;

 Terdakwa masih terlalu muda;

 Terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

Dasar pertimbangan majelis hakim dalam putusan nomor 7/Pid.Sus/2017/PN.Ttn

a. Hal-hal yang memberatkan:

 Perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah yang lagi giat-giatnya untuk memberantas narkotika;

b. Hal-hal yang meringankan:

 Terdakwa mengakui kesalahan dan menyesali serta berjanji tidak mengulangi lagi;

 Terdakwa belum pernah dihukum;

 Terdakwa masih muda sehingga diharapkan dapat memperbaiki kesalahannya dikemudian hari.

(6)

Akan tetapi apabila kita melihat salah satu tujuan hukum adalah memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Pandangan utilitarian melihat pemidanaan dari segi manfaat dan kegunaannya dimana yang dilihat adalah situasi atau keadaan yang ingin dihasilkan dengan dijatuhkannya pidana itu. Disatu pihak pemidanaan dimaksudkan untuk memperbaiki sikap atau tingkah laku terpidana dan dilain pihak pemidanaan itu juga dimaksudkan untuk mencegah orang lain dari kemungkinan melakukan perbuatan yang serupa. Pandangan ini dikatakan berorientasi ke depan (forward looking) dan sekaligus mempunyai sifat pencegahan (deterrence).5 Sehingga apabila dikaitkan dengan masalah pemidanaan bagi penyalahgunaan narkotika, putusan hakim yang memidanakan pecandu narkotika akan dapat menurunkan tingkat kriminalitas apabila dapat memberikan efek jera, baik bagi pelaku yang bersangkutan maupun orang lain.6

Bila kita berbicara mengenai korban penyalahguna maupun pecandu narkotika kita akan terlebih dahulu berbicara mengenai penyalahguna narkotika, menurut Pasal 1 butir 15 UU Narkotika disebutkan bahwa penyalahguna narkotika adalah “ orang yang memakai narkotika tanpa hak atau melawan hukum “. Selanjutnya kita berbicara mengenai korban penyalahguna narkotika menurut penjelasan Pasal 54 UU Narkotika ialah orang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan narkotika, sedangkan pecandu narkotika, menurut Pasal 1 butir 13 UU Narkotika ialah orang yang memakai atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun psikis. Bila kita simpulkan bahwa seorang pecandu narkotika maupun seorang korban penyalahgunaan narkotika termasuk juga dalam kategori penyalahguna narkotika, karena baik pecandu dan korban sama-sama menggunakan narkotika tanpa hak atau melawan hukum.

5 Siswanto S, Politik Hukum Dalam Undang-undang Narkotika, Rineka Cipta, Jakarta, 2012, hlm 224.

6 Skripsi oleh Jahid Hanafi, Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Tindak Pidana Pecandu Narkotika, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013, hlm 13.

(7)

Dalam UU narkotika ini terdapat keistimewaan tersendiri bagi seorang korban penyalahguna narkotika dan pecandu narkotika. Itu sebabnya baik seorang korban penyalahguna narkotika dan pecandu narkotika dapat dilakukan tindakan berupa rehabilitasi. Rehabilitasi merupakan pemulihan pada kedudukan semula atas proses pemulihan secara terpadu, baik fisik, mental maupun sosial agar bekas pecandu narkotika, narapidana dapat kembali melaksanakan fungsi sosialnya dalam kehidupan bermasyarakat.7 Tindakan rehabilitasi tersebut memang telah dilindungi oleh Undang-undang, sebagai tindakan untuk menyelamatkan seorang pecandu maupun korban penyalahguna agar bisa kembali normal dalam kesehatan dan kehidupan sosialnya. Akan tetapi terdapat pertentangan dalam UU Narkotika ini yaitu mengenai Pasal 127 ayat (1) tentang pemidanaan dan ayat (2) dan (3) tentang merehabilitasi. Pasal 127 ayat 1 berbunyi sebagai berikut :

(1) Setiap Penyalah Guna:

a. Narkotika golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun;

b. Narkotika golongan II bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun; dan

c. Narkotika golongan III bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.

Sedangkan Pasal 127 ayat (2) dan (3) berbunyi sebagai berikut :

(2) Dalam memutus perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hakim wajib memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, Pasal 55, dan Pasal 103.

(3) Dalam hal penyalahguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibuktikan atau terbukti sebagai korban penyalahgunaan narkotika, penyalahguna tersebut wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Pasal-pasal mengenai rehabilitasi telah di atur dan tegas tertulis dalam Pasal 54 UU Narkotika yaitu :

7 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2005, hlm 1186.

(8)

“Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.”

Dari penjelasan tersebut dapat kita cermati, bahwa baik pecandu maupun korban penyalahguna wajib direhabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Secara teoritis, rehabilitasi sebagai bentuk pemidanaan dalam teori pemidanaan menganut teori treatment sebab rehabilitasi terhadap pecandu narkotika merupakan suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan. Hal tersebut sesuai dengan pemidanaan yang dimaksudkan pada aliran teori treatment yaitu untuk memberi tindakan perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitation) kepada pelaku kejahatan sebagai pengganti dari penghukuman. Pelaku kejahatan ialah orang yang sakit sehingga membutuhkan tindakan perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitation).8 Hal ini berarti bahwa walaupun seseorang itu pengguna narkotika yang menyalahgunakan, mereka tetap memiliki hak asasi manusia karena hak tersebut melekat dari hakikat dan martabatnya sebagai manusia.9 Sehubungan dengan hal-hal yang telah penulis uraikan diatas, penulis tertarik untuk mengembangkan paparan ini menjadi topik penelitian tersendiri dengan judul analisis pertimbangan hakim dalam perkara tindak pidana narkotika.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat ditarik rumusan masalah :

1. Bagaimana Penerapan Hukum Pidana Materiil terhadap penyalahgunaan Narkotika dan dasar pertimbangan majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Bangkalan Nomor 14/Pid.B/2014/PN. Bkl dengan majelis hakim Pengadilan Negeri

8 C. Ray Jeffery dalam Mahmud Mulyadi, Criminal Policy, Pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal Policy dalam Penanganan Kejahatan Kekerasan, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2008, hlm 79.

9 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

(9)

Kabupaten Tapaktuan Nomor 7/Pid.Sus/2017/PN Tapaktuan mengenai penjatuhan rehabilitasi bagi terdakwa narkotika?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui penerapan hukum pidana materiil terhadap penyalahgunaan narkotika dan untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam perkara Nomor 14/Pid.B/2014/PN.Bkl menjatuhkan vonis penjara terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaaan narkotika.

b. Untuk mengetahui mengapa putusan hakim dalam perkara Nomor 7/Pid.Sus/2017/PN Tapaktuan menjatuhkan vonis rehabilitasi terhadap pelaku tindak pidana penyalahguna narkotika.

D. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan kajian hukum pidana, khususnya yang berkaitan dengan dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan pertimbangan-pertimbangan mengapa hakim tidak memberikan rehabilitasi bagi pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika.

b. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna secara positif bagi aparat penegak hukum dalam upaya penanggulangan tindak pidana narkotika dan dalam pemberian sanksi terhadap pelaku tindak pidana narkotika. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi berbagai pihak-pihak lain yang akan melakukan penelitian mengenai analisis putusan di masa-masa yang akan datang.

E. METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

Penelitian Hukum menurut Peter Mahmud Marzuki adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum,

(10)

maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu-isu hukum yang dihadapi.10 Penelitian ini merupakan Penelitian yuridis normatif, yang mana meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma, mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran).11

2. Metode Pendekatan

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan Undang- Undang (Statute Approach) dan pendekatan kasus (case approach) a) Pendekatan Peraturan (Statute Approach)

Pendekatan peraturan merupakan pendekatan yang mengkaitkan kedudukan peraturan perundang-undangan yang sangat sentral dalam sistem hukum suatu negara, dengan pendekatan ini analisis yuridis atas isu hukum yang dihadapi adalah mengacu pada peraturan perundang-undangan (baik legislasi maupun regulasi).12

b) Pendekatan Kasus (Case Approach)

Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.13

3. Bahan Hukum

a. Bahan Hukum Primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan hakim.14 Dalam hal ini, penulis menggunakan bahan hukum primer, diantaranya yaitu :

10Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, cetakan ke-11, Kencana, Jakarta, 2011, h . 40.

11Ibid, h. 93.

12Titon Slamet Kurnia, Sistem Hukum Indonesia : Sebuah Pemahaman Awal, Bandung : CV Mandar Maju, 2016, h. 112.

13 Peter Mahmud Marzuki, Op. Cit., h. 94.

14 Ibid, hlm. 141.

(11)

1. Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

3. Undang-undang No. 35 tahun 2009 Tentang Narkotika Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2009 Nomor 5062.

4. Putusan Nomor 7/Pid.Sus/2017/PN Tapaktuan.

5. Putusan Pengadilan Negeri Kabupaten Bangkalan No : 14/Pid.B/2014/PN. Bkl.

6. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika Kedalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan Hukum Sekunder merupakan semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi.

Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.15 Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan bahan hukum sekunder seperti buku-buku, jurnal, kamus hukum dan makalah/artikel tentang hukum pidana khusus yang berkaitan dengan penelitian penulis.

15 Ibid, hlm. 142.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan belajar matematika materi perbandingan untuk pemecahan masalah dengan menggunakan model pembelajaran

PERENCANAAN ULANG TIMBUNAN OPRIT DAN ABUTMENT JEMBATAN PLASMA BATU TUGU- PLASMA TANJUNG KURUNG, PALEMBANG (YANG MENGALAMI KERUNTUHAN SEBELUMNYA PADA SAAT PELAKSANAAN).. RIF’

Analisis lingkungan internal SI/TI ; Ini digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi Muhammadiyah Kota Yogyakarta dalam pene- rapan aplikasi SI/TI yang

Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan ketergantungan, di samping menyebabkan banyak tipe kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan,

Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan, maka kesimpulan pada penelitian ini adalah : (1) Untuk dimensi percaya diri berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa

Mengukur hasil perkembangan nilai yang sudah diterapkan ke dalam setiap mata pelajaran dengan raport nilai akhlaq mulia (terlampir).. Penjelasan diatas sesuai dengan

Naiknya harga emas dunia menyebabkan negara importir emas seperti Indonesia banyak membutuhkan US Dollar untuk membayarnya , sehingga permintaan yang tinggi

Salah satu lembaga keuangan bukan bank syariah yang sangat dinamis adalah.. lembaga keuangan mikro syariah, yang lebih dikenal dengan Baitul Maal