MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 52/PUU-XI/2013
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN (I)
J A K A R T A
SENIN, 3 JUNI 2013
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 52/PUU-XI/2013
PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik [Pasal 28 ayat 2] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON M. Farhat Abbas
ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Senin, 3 Juni 2013, Pukul 16.00 – 16.22 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Muhammad Alim (Ketua)
2) Arief Hidayat (Anggota)
3) Anwar Usman (Anggota)
Yunita Rhamadani Panitera Pengganti
Pihak yang Hadir:
A. Kuasa Hukum Pemohon:
1. Hazmin A. ST. Muda 2. Windu Wijaya
3. Muhammad Zakir
1. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Sidang Pemeriksaan Permohonan Nomor 52/PUU-XI/2013, kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
Saya persilakan, siapa pihak-pihak yang hadir pada kesempatan ini?
2. KUASA HUKUM PEMOHON: HAZMIN A. ST. MUDA
Terima kasih, Yang Mulia. Dengan hormat, dengan segala kerendahan hati, perkenankan kami, saya Hazmin A. ST. Muda.
3. KUASA HUKUM PEMOHON: WINDU WIJAYA Saya Windu Wijaya.
4. KUASA HUKUM PEMOHON: MUHAMMAD ZAKIR Saya Muhammad Zakir.
5. KUASA HUKUM PEMOHON: HAZMIN A. ST. MUDA
Advokat dan Konsultan Hukum pada Kantor Hukum Farhat Abbas dan Rekan, bertindak untuk dan atas nama Muhammad Farhat Abbas, S.H., M.H., selanjutnya disebut sebagai Pemohon.
6. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Oke. Ya, begini, apa saja pokok-pokok yang Saudara kemukakan di dalam permohonan ini?
7. KUASA HUKUM PEMOHON: HAZMIN A. ST. MUDA
Terima kasih, Yang Mulia. Bahwa Pemohon dengan ini mengajukan permohonan uji materi Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik terhadap Pasal 28E ayat (2) dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
SIDANG DIBUKA PUKUL 16.00 WIB
KETUK PALU 3X
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24 ayat (2) Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 24C ayat (1) Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945, dan Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana diubah (suara tidak terdengar jelas) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Maka Mahkamah Konstitusi berwenang untuk memeriksa dan memutus permohonan pengujian uji materi Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik terhadap Pasal 28E ayat (2) dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Bahwa sebelum permohonan pengujian undang-undang a quo didaftarkan di Mahkamah Konstitusi, telah terjadi laporan polisi bernomor LP/86/I/2013/PMJ/Ditreskrimsus tanggal 10 Januari 2013 terhadap Pemohon selaku terlapor karena pernyataan Pemohon sebagai penduduk Jakarta yang ingin menyampaikan kritikan pikiran dan sikap terhadap Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan cara menggunakan jenis saluran media sosial berupa Twitter.
Bahwa akibat menyampaikan kritikan, pikiran, dan sikap terhadap Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dengan cara menggunakan jenis saluran media sosial berupa Twitter tersebut, Pemohon dilaporkan ke Kepolisian Daerah Metro Jaya Direktorat Reserse Kriminal Khusus, dan telah dipanggil selaku saksi, dan kini telah menjadi tersangka perkara dugaan adanya tindak pidana Informasi Transaksi Elektronik (ITE), sebagaimana yang diatur dalam Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Bahwa Pemohon memiliki hubungan sebab-akibat, kausal-verbal antara kerugian konstitusional dengan berlakunya undang-undang yang di (suara tidak terdengar jelas) untuk diuji karena Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) jelas bertentangan dengan Pasal 28E ayat (2) dan 28F Undang-Undang Dasar 1945.
Keberadaan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah mengakibatkan terancamnya hak Pemohon untuk mendapatkan kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran, dan sikap sesuai dengan hati nuraninya, dan berhak pula untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Bahwa berdasarkan kriteria-kriteria, sangat jelas bahwa Pemohon memiliki kedudukan hukum dalam hal uji materi Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik terhadap Pasal 28E ayat (2) dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Bahwa materi muatan dalam Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dapat menghambat kebebasan Pemohon untuk menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya, serta menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia, seperti yang dijamin dalam Pasal 28E ayat (2) dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan kata lain, dengan keberadaan Pasal 28 ayat (2), hak Pemohon selaku warga negara Indonesia dan penduduk DKI Jakarta untuk dapat menyampaikan pikiran, pendapat, dan kritikan terhadap Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, telah belenggu dengan diberlakukannya Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Bahwa diberlakukannya Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah menimbulkan rasa tidak aman bagi Pemohon dan warga negara lainnya untuk menyalurkan pendapat, pikiran sesuai hari nuraninya dengan menyampaikan segala isi pikiran tersebut dengan saluran yang tersedia, sehingga harapan masyarakat yang lebih terbuka dan demokratis menjadi tidak tercapai akibat adanya pasal yang mengerikan karena sanksi pidananya menyebabkan sewaktu-waktu seseorang dapat ditahan oleh polisi, mengingat ancaman pidana lebih dari 5 tahun.
Rumusan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sangat rentan pada tafsir apakah suatu pernyataan pendapat atau pikiran merupakan kritik atau hasutan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan. Hal ini pula yang dialami oleh Pemohon sebagai hak warga negara dan penduduk Jakarta yang menyatakan pendapat atas kepemimpinan wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Justru Pemohon dilaporkan ke Kepolisian karena kritikan terhadap Pemoh … karena kritikan Pemohon terhadap wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, justru Pemohon ditafsirkan telah menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras antar- golongan. Berdasarkan fakta hukum yang dialami oleh Pemohon, maka sangat ironis bila sebuah kritikan yang dianggap sebagai suatu kejahatan.
Oleh sebab itu, maka rumusan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi, Transaksi Elektronik sangat jelas dan nyata telah bertentangan dengan hak-hak konstitusional Pemohon yang dijamin dalam Pasal 28E ayat (2) dan Pasal 28F Undang- Undang Dasar Tahun 1945.
Bahwa Pemohon adalah seorang warga negara yang berprofesi sebagai seorang advokat dan aktivis hukum yang menuntut
kemerdekaan dalam mengeluarkan pendapat. Hal ini sesuai dan sejalan dengan ketentuan Pasal 28E ayat (2) dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menjamin kebebasan bagi Pemohon untuk mengeluarkan pendapat atau pikiran sesuai dengan hati nuraninya dan menyampaikan melalui saluran yang ada.
Sementara itu, rumusan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengandung pengertian yang umum dan tidak detail. Pasal dan ayat undang-undang itu a quo berdampak multitafsir dan ketidakpastian hukum, sehingga undang-undang a quo dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dengan aneka ragam motif, temasuk mengkriminalisasi seseorang dengan melakukan interpretasi secara sepihak untuk menghukum pihak lain dengan sanksi yang sangat berat, yaitu dengan dendam miliaran rupiah dan enam tahun penjara.
Oleh sebab itu, maka pasal dan ayat undang-undang itu a quo perlu dibatalkan karena pasal-pasalnya generalis dan pasal karetnya perlu diganti dengan undang-undang yang sifatnya spesialis detail dan pasti.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon mohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk memutus sebagai berikut.
1. Mengabulkan seluruh permohonan pengujian undang-undang Para Pemohon.
2. Menyatakan materi muatan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 28E ayat (2) dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Atau apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya. Terima kasih, Yang Mulia.
8. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Saudara Pemohon, ini permohonannnya sudah sistematis menurut ketentuan yang harus ada, yaitu mulai dari kewenangan Mahkamah, legal standing Pemohon, kemudian pokok permohonan dan lalu diakhiri dengan Petitum.
Mungkin ada beberapa hal yang perlu Saudara ketahui di … di … di
… di apa … di halaman 5 ya. Di halaman 5 angka 11 itu, dimaksud dalam Pasal (suara tidak terdengar jelas) ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 berapa itu? 2002? Mungkin 2003 yang Saudara maksud?
Undang-Undang MK ya?
9. KUASA HUKUM PEMOHON: HAZMIN A. ST. MUDA Ya. Ya, mohon maaf, Majelis.
10. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Ya, kemudian itu satu. Kedua, di Petitum Saudara, angka 1 itu
“Menerima dan mengabulkan seluruh permohonan pengujian undang- undang oleh para Pemohon.” Kalau diterima dan dikabulkan, itu kalau sudah dikabulkan itu, sudah pasti diterima. Jadi mengabulkan saja perm
… mengabulkan seluruh permohonan Para Pemohon. Ya, seluruh kan tidak seluruh undang-undang Saudara uji, hanya Pasal 28 tertentu itu.
Nah, kemudian … itu yang mana itu? Lalu, Saudara mungkin harus mengelaborasi bagaimana dalil Saudara dengan ketentuan Pasal 28J ayat (2) yang mengatakan begini, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya,” jadi kebebasan mengeluarkan pendapat dan lain-lain,
“Setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang,” seperti ini misalnya undang-undang, “Dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain.”
Nah, itu bagaimana Saudara mengelaborasi itu? Dan untuk itu (suara tidak terdengar jelas) yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, kemanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Ini bagaimana Anda melihat, apakah kata-kata itu tidak menimbulkan suatu ketidaktertiban, justru dalam umum itu nanti Saudara elaborasi sedemikian rupa. Karena kalau tidak, ini kan Pasal 28J mengatakan, Orang boleh dibatasi kebebasannya kalau untuk demi kebebasan orang lain, demi agama, demi masyarakat demokratis, asal ditentukan di dalam undang-undang, dan kebetulan ini ditentukan di dalam undang-undang. Jadi Anda harus memberi anu … ya, memberi analisa yang lebih bagus.
Silakan, (suara tidak terdengar jelas).
11. HAKIM ANGGOTA: ANWAR USMAN
Terima kasih, Yang Mulia. Saya hanya melanjutkan sedikit dari Yang Mulia Pak Ketua tadi. Saya mulai dari belakang juga, mengenai petitum, tadi sudah disampaikan petitum 1, kemudian untuk petitum 2 juga, coba dilihat, ya mungkin tidak perlu lagi mencantumkan pasal Undang-Undang Dasar Tahun 1945, cukup bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 karena sudah dielaborasi pada itu, bagian-bagian sebelumnya.
Kemudian yang terkait dengan teknis penulisan ataupun struktur sistematika sudah cukup bagus, tapi ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Pemohon mengenai cara penulisan huruf, huruf kecil ya atau huruf besar, huruf kapital. Begitu juga nama jabatan seseorang supaya diteliti ya, disesuaikan dengan teknik penulisan yang benar.
Sebenarnya, ini berangkat dari kasus konkret ini, pintu masuknya ini kasus konkret yang dialami oleh Pemohon. Nah, untuk itu, mungkin
sebaiknya juga Pemohon bisa menguraikan atau mengelaborasi juga bentuk kritikan, pikiran, dan sikap Pemohon, sehingga pada suatu kesimpulan ya, oleh seseorang ya, dianggap melakukan tindak pidana, itu apa sebenarnya kritikan Saudara ya?
Terima kasih, Yang Mulia.
12. HAKIM ANGGOTA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Yang Mulia Ketua. Saudara Pemohon, saya mengajak kembali untuk mencermati permohonan ini. Mari kita cermati Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 yang Anda minta diujikan dan kemudian dibatalkan oleh Mahkamah.
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan, individu dan garis miring (/) kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA).”
Seandainya permohonan Saudara itu dikabulkan Pemohon [sic!], apakah Saudara bisa membayangkan apa yang akan terjadi? Apakah ini tidak malah menimbulkan ketikdakpastian hukum yang bisa menimbulkan anarkisme? Karena apa kemudian? Orang menggunakan haknya itu bisa berlebihan, melanggar hak asasi yang lain, yang tadi oleh Yang Mulia Ketua sudah disampaikan adanya Pasal 28J Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Secara konstitusional, konstitusi sudah memberikan batasan bahwa dalam menggunakan kebebasan menyatakan pendapatnya, termasuk mengkritik, itu tidak boleh melanggar hak asasi orang lain atau bahkan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat SARA. Oh, itu tidak usah bersifat SARA saja, kalau itu bisa menyebabkan rasa tidak senang, menyebabkan kebencian, atau menimbulkan rasa tidak suka terhadap seseorang saja, itu termasuk perbuatan pidana. Lah, ini malah bisa menyebabkan tidak hanya konflik antara orang per orang, tapi konflik antar-golongan atau antar-penduduk Indonesia dalam skala yang bisa lebih luas dari itu. Apakah tidak memunculkan anarkisme?
Jadi, harus kita pikirkan ulang. Tapi kalau menurut Pemohon itu memang enggak masalah, Pemohon bisa mendalilkan atau memberikan uraian pemahaman yang berbeda dengan apa yang saya sampaikan, itu silakan saja. Tapi saya menganggap bahwa kalau Pasal 28 ayat (2) ini kemudian kita batalkan, itu akibatnya luar biasa, bisa menimbulkan kekacauan tidak hanya di dunia maya, saling mengejek yang menunjukkan bahwa bangsa ini tidak beradab, tapi bisa juga mengarah kepada kekerasan-kekerasan yang disebarkan karena kebencian melalui dunia maya.
Nah, ini tolong dipikirkan kembali masak-masak karena kita harus mengakui bangsa ini adalah bangsa yang heterogen, kebhinekaan itu dijunjung tinggi, dan diikat dalam negara kesatuan.
Nah, salah satu politik hukum yang terkandung di dalam Pasal 28 ini, landasasan filosofinya adalah mengakui kebinekaan bahwa kita terdiri dari bangsa yang berjenis-jenis suku, ras, agama, dan sebagainya, sehingga harus diikat melalui satu aturan yang memberikan pe … pembatasan kebebasan yang memunculkan toleransi. Ini yang harus kita pikirkan bersama. Karena saya tidak bisa membayangkan kalau pasal ini Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang ITE ini, itu bisa berakibat jauh sekali ya.
Tapi sekali lagi, kalau memang Anda berpendapat lain, Pemohon berpendapat lain, silakan Anda meyakinkan kita bersama bahwa memang itu sebetulnya ya inkonstitusional dan memberikan batasan kepada warga negara untuk seenaknya saja. Sehingga kita bisa hidup di alam yang sebebas-bebasnya yang tidak diikat oleh itu dan itu tidak membahayakan keutuhan nasional.
Saya kira itu, Yang Mulia. Terima kasih.
13. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Saudara sudah dengarkan tadi nasihat-nasihat dari kami Panel ini.
Bagi kami, itu adalah kewajiban menyampaikan nasihat kepada Saudara dan bagi Saudara itu adalah Saudara mau menerima atau tidak, itu urusan Saudara.
Ada hal yang mau dikemukakan?
14. KUASA HUKUM PEMOHON: WINDU WIJAYA Cukup, Yang Mulia.
15. KETUA: MUHAMMAD ALIM
Ya, jadi bagi Pemohon atau Kuasanya yang hadir pada kesempatan ini, kan ada yang lain tidak hadir bukan? Ada tiga saja ini. Itu ada waktu paling lama 14 hari untuk melakukan perbaikan terhadap permohonan ini sesuai dengan saran-saran yang dikemukakan tadi. Kalau Anda mau memperbaiki. Kalau lebih cepat dari itu, syukur alhamdulillah. Tapi paling lama 14 hari. Dan bagi Saudara juga bisa juga berpikir untuk mencabut perkara ini, permohonan ini, atau dan lain-lain, itu urusan Saudara.
Pokoknya, bagi Saudara ada waktu paling lama 14 hari untuk memperbaiki permohonan ini. Sudah cukup, ya?
Dengan demikian, sidang kami nyatakan selesai dan ditutup.
Jakarta, 3 Juni 2013
Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d.
Rudy Heryanto
NIP. 19730601 200604 1 004 SIDANG DITUTUP PUKUL 16.22 WIB
KETUK PALU 3X
Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah