4 Gambar 1. Flakes Gandum (Wardy, 2019)
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Flakes
Flakes merupakan makanan cepat saji dan praktis yang memberikan
kemudahan dalam memenuhi kebutuhan kalori dalam waktu yang relatif singkat karena proses penyajiannya yang singkat dan tidak perlu dimasak (Simbolon, 2017). Peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia, membuat flakes menjadi makanan dapat memenuhi asupan gizi bagi tubuh. Flakes banyak digemari oleh masyarakat karena mempunyai cita rasa yang khas, praktis, dan menyehatkan.
Awalnya, flakes dibuat dari jagung, atau biasa disebut dengan corn flakes ataupun gandum. Namun pada penganekaragaman pangan, flakes dapat dibuat dari beberapa bahan baku lain seperti serealia dan kacang-kacangan. Serta umbi-umbian seperti ubi ungu, ubi kuning dan singkong sebagai bahan pengganti dari jagung. Menurut Utama dkk (2019), pembuatan flakes secara tradisional dilakukan dengan mengukus biji serealia yang sudah dihancurkan selama sepertiga jam pada kondisi bertekanan selama dua jam atau lebih lalu dipipihkan dengan rol baja. Dilanjutkan dengan pengeringan dan pemanggang pada suhu tinggi. Gambar 1 memperlihatkan berbagai produk flakes yang ada di pasaran.
5 Flakes digolongkan kedalam jenis makanan sereal siap santap yang telah
diolah dan direkayasa menurut jenis dan bentuknya. Syarat mutu flakes yang sesuai dengan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Syarat Mutu Flakes (SNI 01-4270-1996)
No. Komponen Jumlah
1 Keadaan (bau dan rasa) Normal
2 Air (%) Maksimal 3,0
3 Abu (%) Maksimal 4,0
4 Protein (%) Minimal 5,0
5 Lemak (%) Minimal 7,0
6 Karbohidrat (%) Minimal 60
7 Serat Kasar (%) Maksimal 7,0
8 Bahan tambahan makanan
a. Pemanis buatan (sakarin dan siklamat) Tidak boleh ada
b. Pewarna tambahan Sesuai SNI 01-0222-199 9 Cemaran logam
a. Timbal (Pb) (mg.g-1 ) Maksimal 2,0 b. Tembaga (Cu) (mg.g-1 ) Maksimal 30,0 c. Seng (Zn) (mg.g-1 ) Maksimal 40,0 d. Timah (Sn) (mg.g-1 ) Maksimal 0,16 e. Raksa (Hg) (mg.g-1 ) Maksimal 0,03 f. Arsen (As) (mg.g-1 ) Maksimal 1,0 10 Cemaran mikroba :
a. Angka Lempeng Total (koloni.g-1) Maksimal 5x105 b. Coliform (APM.g-1) Maksimal 102 c. Eschericia coli (APM.g-1) Maksimal < 3
d. Salmonella Negatif
e. Staphylococcus aureus Negatif
f. Kapang (koloni.g-1) Maksimal 102 Sumber: Standar Nasional Indonesia (1996)
Bahan baku pembuatan flakes umumnya campuran beberapa jenis serelia seperti tepung terigu. Tingkat konsumsi tepung terigu di Indonesia cukup tinggi.
United States Department of Agriculture (USDA) (2016), menyatakan pada tahun 2016 impor gandum di Indonesia mencapai 8,10 juta ton. Menurut data Badan Pusat Statistik (2020), total impor gandum indonesia pada tahun 2019 mencapai 10,6 juta ton. tujuan penggunaan tepung komposit (tepung kedelai, tepung jagung, dan tepung mocaf) dalam pembuatan flakes agar dapat menekan impor gandum yang
6 cukup tinggi. Bahan-bahan lokal dari tepung komposit cukup melimpah dan mudah ditemukan di Indonesia. Selain itu dapat meningkatkan nilai nutrisi pada flakes agar dapat memenuhi asupan gizi tubuh. Tepung terigu memiliki kandungan gluten yang cukup tinggi. Kandungan protein pada tepung terigu dalam bentuk gluten, menentukan kekenyalan makanan (Malinda et al, 2013). Kandungan gluten yang tinggi pada flakes dapat menjadi penghalang bagi masyarakat yang intoleran terhadap gluten.
Penelitian sebelumnya mengenai flakes subtitusi tepung terigu telah dilakukan oleh Lawalata dkk., (2018) mengenai kajian sifat kimia dan organoleptik flakes tepung pisang tongka langit (musa troglodytarum l) dan tepung jagung (zea
mays) menghasilkan formulasi terbaik kadar air 5,12%, kadar abu 3,65%, kadar protein 3,37%, kadar lemak 1,78% dan kadar karbohidrat 47,86%. Penelitian lain mengenai flakes yang dilakukan oleh Malinda et al, (2013) tentang kajian penambahan tepung millet dan tepung ubi jalar ungu (ipomoea batatas l.) sebagai substitusi tepung terigu pada pembuatan flake menghasilkan formuasi terbaik dengan nilai kadar air berkisar 1,181-2,396%, kadar abu berkisar 1,513-2,283%, kadar lemak berkisar 16,918-17,729%, kadar protein berkisar 9,246-10,770%, kadar serat berkisar 1,657- 2,266%, kadar karbohidrat berkisar 67,590-70,370%, aktivitas antioksidan berkisar 0,200-0,946% dan teksture flake berkisar 2,097- 2,745%. Penelitian mengenai flakes subtitusi tepung terigu juga dilakukan oleh Rakhmawati dkk., (2014) mengenai formulasi dan evaluasi sifat sensoris dan fisikokimia produk flakes komposit berbahan dasar tepung tapioka, tepung kacang merah (phaseolus vulgaris) dan tepung konjac (amorphophallus oncophillus) dengan formulasi terbaik kadar air 3,50% - 4,85%, kadar abu 3,73% - 4,86%, kadar
7 protein 13,48% - 16,84%, kadar lemak 4,17% - 6,45%, kadar karbohidrat 71,83% - 77,66% dan kadar serat pangan 2,75% - 4,97%. . Serat baik bagi tubuh karena tidak dapat tercerna di dalam usus halus, akan tetapi akan menjadi subatrats bagai BAL (bakteri asam laktat) di dalam usus besar untuk menghasilkan asam lemak ranai pendek (Damat dkk., 2019). Penilitian atau inovasi yang dilakukan dalam mensubtitusi tepung terigu sudah sangat banyak, namun untuk memperoleh flakes dengan hasil yang optimal perlu penelitian lebih lanjut.
2.1.1 Proses Pembuatan Flakes
Menurut Rakhmawati, (2014) termodifikasi tahapan pembuatan flakes yang pertama dilakukan pencampuran pertama yaitu tepung komposit (tepung kedelai, tepung jagung, tepung mocaf) dan susu skim. Pencampuran kedua dengan gula halus, garam, mentega dan pencampuran ketiga ditambahkan dengan air sampai adonan kalis. Kemudian pemipihan dan pemotongan, lalu pengovenan dengan suhu 100ºC selama 10 menit. Pembuatan flakes harus dilakukan dengan keadaan bersih agar bebas dari kontaminan.
2.2 Kacang Kedelai (Glycine max. L)
Tanaman kedelai (Glycine max. L) merupakan tumbuhan polong yang istimewa karena kandungan minyak dan proteinnya yang tinggi (Ma, W., dkk, 2018). Tanaman polong-polongan ini tidak membutuhkan banyak air dan menjadi bahan dasar dalam pengolahan makanan. Contoh olahan dari kedelai yaitu tempe, tahu, kecap, dan masih banyak lainnya. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2017), produksi kedelai di Indonesia tahun 2017 sebanyak 538.728 ton, dan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 859.653 ton. Produk berbahan dasar kedelai mempunyai pengaruh terhadap masyarakat Indonesia
8 karena dapat mendukung ketahanan pangan dan status gizi masyarakat (Layla, 2015). Tanaman pangan berprotein tinggi ini penggunaannya sudah meluas di masyarakat (Sinaga, 2013). Kedelai mengandung protein 35% bahkan lebih unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40-43%. Dibandingkan dengan protein yang terdapat pada hewani, protein yang berasal dari kacang kedelai lebih murah, sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat (Trirahmah., dkk, 2020). Bentuk isolate, protein kedelai dapat lebih meningkat. Isolate protein merupakan bentuk kedelai dengan kandungan protein paling tinggi yaitu mencapai 95% (Fatmala & Adi, 2017). Kedelai mempunyai kandungan vitamin serta mineral yang cukup tinggi.
Asam lemak jenuh yang terdapat pada kedelai terbilang rendah, yaitu berkisar 15%, dan asam lemaak tidak jenuhnya yang berisi linolenat dan linoleat berkisar 60%, sehingga kedelai aman bagi kesehatan jantung. Kandungan gizi kedelai dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan Gizi 100 g Biji Kedelai
Kandungan Gizi Jumlah
Karbohidrat kompleks (g) 21,00
Karbohidrat sederhana (g) 9,00
Stakiosa (g) 3,30
Rafinosa (g) 1,60
Protein (g) 36,00
Lemak total (g) 19,00
Lemak Jenuh (g) 2,88
Monounsaturated 4,40
Polyunsaturated 11,20
Kalsium (mg) 276,00
Fosfor (mg) 704,00
Kalium (mg) 1797,00
Magnesium (mg) 280,00
Seng (mg) 4,80
Zat besi (mg) 16,00
Serat tidak larut (g) 10,00
Serat larut (g 7,00
Sumber: Aparicio et al (2008) dalam Winarsi (2010)
9 Gambar 2. Tepung Kedelai (Theradioid, 2019)
Masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya mengkonsumsi protein sebagai pengganti protein hewani, sehingga masyarakat melakukan inovasi pada biji kedelai dengan mengolahnya menjadi produk setengah jadi yaitu tepung kedelai, yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan cookies, roti, dll. Tepung komposit berbahan dasar kedelai ini juga dapat menggantikan tepung terigu sebagai salah satu bahan dasar dalam pengolahan makanan.
Tepung kedelai merupakan produk olahan setengah jadi yang berbahan dasar kedelai. Pembuatan tepung kedelai dilakukan dengan cara perendaman selama 6 jam kemudian kedelai direbus selama 5 menit. Kedelai kemudian dicuci hingga kulit luar hilang. Selanjutnya dilakukan pengeringan menggunakan cabinet dryer.
Kedelai kemudian digiling dan diayak sebesar 60 mesh (pramudya et al, 2014).
Tepung kedelai dapat digunakan sebagai pengental, pengikat yang dapat meningkatkan daya ikat air, dan produk panggang. Maka dari itu semakin baik daya ikat air, maka produk olahan akan bertahan lebih lama karena pertumbuhan mikroorganisme terhambat. Penelitian tentang penggunaan flakes tepung kedelai yang dilakukan oleh Pulungan dkk., (2017) mengenai optimasi formulasi dan lama pengukusan flake berbasis tepung talas bentul dan tepung kedelai sebagai pangan
10 darurat menggunakan response surface method mendapatkan hasil terbaik tingkat kekerasan 3,1 g, daya rehidrasi 40,3%, kadar air 3,51%, kadar karbohidrat 8,99±0,07%, kadar protein 17,56±0,09%. Penelitian yang dilakukan oleh Amanda (2020) tentang formulasi dan evaluasi sifat fisikokimia flakes komposit berbasis tepung ubi jalar dan tepung kacang kedelai mendapatkan formulasi terbaik kadar karbohidrat 62,23%, kadar protein 8,28%, aktivitas antioksidan 88,04%, kadar air 6,11%, kadar abu 3,21%, kadar lemak 16,86%, daya patah 0,04%. Namun perlu dilakukan penelitian penggunaan flakes dengan substitusi tepung kedelai hingga mendapatkan hasil yang optimal. Komposisi tepung kedelai dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Tepung Kedelai per 100 gram
Komposisi Tepung kedelai
Karbohidrat (%) 23,3
Air (%) 6,6
Serat (%) 3,2
Protein (%) 41,7
Lemak (%) 27,1
Abu (%) 1,3
Kalori (Kal) 440
Sumber: Napitupulu (2012) 2.3 Jagung (Zea mays L.)
Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas dari pertanian yang digunakan oleh masyarakat sebagai bahan dasar olahan pangan, maupun bahan pangan dan dapat ditanam secara strategis di daerah dataran tinggi maupun rendah. Jagung menjadi komoditas utama setelah beras (purwono & Hartono, 2011). Jagung mempunyai nilai ekonomi yang tinggi serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena peranannya sebagai sumber utama karbohidrat. Pada jagung terdapat kandungan pati sekitar 70% dari bobot biji. Komponen lain yang terdapat pada jagung adalah gula sederhana, yaitu glukosa, sukrosa dan fruktosa, 1-3% dari
11 bobot biji. Komponen fungsional yang terdapat pada jagung, termasuk serat pangan sangat dibutuhkan oleh tubuh, asam lemak esensial, isoflavon, mineral (Ca, Mg, K, Na, P, Ca dan Fe), antosianin, betakaroten (provitamin A), asam amino esensial, dan lainnya (Suarni & Yasin, 2011). Indek glikemik pada jagung sebesar 59%, termasuk dalam kategori sedang (Nur Aini, 2013). Jagung juga mempunyai kandungan mineral dan vitamin. Kandungan mineral jagung dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Komposisi Mineral pada Biji Jagung
Mineral Kisaran % Rata-rata %
Kalsium 0,00-0,45 0,03
Phosphor 0,03-1,30 0,32
Kalium 0,03-0,92 0,35
Magnesium 0,02-0,92 0,17
Besi 0,001-0,01 0,003
Natrium 0,00-0,03 0,01
Sulfur 0,01-0,19 0,12
Sumber : Koswara (2009)
Tepung jagung merupakan produk olahan setengah jadi yang berasal dari jagung yang telah dihancurkan. Tepung jagung diperoleh dengan cara menggiling jagung yang bersih dan baik (Susiloningsih., dkk, 2020). Tepung jagung mempunyai kandungan karotenoid seperti 𝛃-karoten, α-karoten dan fucoxanthin, yang merupakan antioksidan alami dapat meredam radikal bebas karena radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan sel yang bersifat karsinogenik (Ma’ruf., dkk, 2019). Penelitian menggunakan substitusi tepung jagung yang dilakukan oleh Hadi., dkk (2017) mengenai pemanfaatan tepung biji nangka dan tepung jagung dalam pembuatan flakes didapatkan formulasi terbaik yaitu kadar air 4,17%, kadar abu 2,96%, kadar lemak 2,12%, kadar protein 9,26%, kadar karbohidrat 81,48%,
12 Gambar 3. Tepung Jagung (Mjalah, 2017)
kadar serat kasar 3,19%. Pada beberapa penelitian sebelumnya, penggunaan tepung jagung dalam olahan dimaksudkan agar dapat memperbaiki kerenyahan dan zat gizinya. Tepung jagung memiliki kadar amilopektin yang tinggi yaitu 70-75%, sehingga mampu memberikan tekstur yang renyah dan kekerasan yang rendah pada flakes.
Pengolahan jagung menjadi tepung jagung yang juga akan mempengaruhi komposisi kimia, seperti yang ada pada Tabel 5.
Tabel 5. Komposisi Kimia Tepung Jagung dalam 100 g Bahan
Komponen Tepung Jagung
Air (%) 11,80
Abu (%) 0,04
Protein (%) 7,49
Lemak (%) 3,60
Karbohidrat By difference (%) 75,20
Serat Makanan (%) 1,32
Sumber : Ratna, dkk (2014)
Pembuatan tepung jagung menurut Susanti., dkk (2017) mula-mula jagung pipilan dicuci dan sortasi, selanjutnya dilakukan perendaman selama 24 jam.
Dilakukan perendaman, selanjutnya jagung pipilan ditiriskan dan dilakukan penggilingan dengan penggiling tipe disk mill. Pengeringan dilakukan
13 menggunakan oven dengan suhu 60°c. Pengayakan dengan ayakan 60 mesh dan dihasilkan tepung jagung.
2.4 Tepung Mocaf (Modified Cassava Flour)
Mocaf adalah singkatan dari Modified Cassava Flour merupakan salah satu produk pati yang telah termodifikasi dan banyak dimanfaatkan pada berbagai produk pangan (Putri, dkk., 2018). Tepung mocaf berasal dari singkong yang dimodifikasi, dengan prinsip modifikasi secara fermentasi sehingga mikroba BAL (Bakteri Asam Laktat) mendominasi selama fermentasi tepung singkong. Beberapa mikroba yang sudah digunakan untuk menghasilkan tepung mocaf antara lain Acetobacter xylinum, Rhizopus oryzae dan Saccharomyces cerevisiae, serta Lactobacillus casei (Darmawan, Andreas, Jos, dan Sumardiono, 2013).
Gambar 4. Tepung Mocaf (Rahmawati, 2017)
Mocaf juga mempunyai aspek kesehatan yang cukup menonjol, seperti bebas gluten, kaya serat dan mudah difortifikasi. Tepung mocaf yang bebas gluten sangat baik untuk penderita autis dan tidak menyebabkan alergi. Bentuknya yang tepung dengan kandungan pati yang tinggi menjadikan Mocaf mudah untuk difortifikasi dengan zat-zat gizi yang lain, sesuai dengan kebutuhan dari produk (Rofiq dan Subagio, 2009).
14 Tepung mocaf memiliki performansi yang lebih baik yaitu tidak bau apek, lebih putih, dan teksturnya yang lembut dibandingkan dengan tepung lainnya (Tarigan, 2019). Rendahnya kandungan protein pada mocaf membuat reaksi pencoklatan pada tepung mocaf lebih berkurang sehingga tepung yang dihasilkan lebih putih. Kandungan protein yang terdapat pada tepung mocaf cukup rendah hal ini dikarenakan mocaf terbuat dari singkong namun memiliki serat dan pati yang tinggi dibandingkan dengan tepung terigu. Tepung mocaf memiliki kadar pati sekitar 75,49%, air 11,04 %, protein 2,5 %, lemak 0,73 %, dan abu 1,95 %, tergantung pada jenis varietas ubi kayu yang digunakan (Rasyid, dkk., 2020).
Tepung mocaf dengan kandungan amilosa yang lebih rendah dibandingkan amilopektin disarankan sebagai bahan pembuatan flakes, karena amilopektin bersifat merangsang terjadinya proses mekar (puffing), sehingga produk pangan yang dihasilkan akan bersifat ringan, porus, garing, dan renyah (Hersoelistyorini et al., 2015).
Tabel 6. Kandungan Gizi Mocaf Kadar Abu Kadar
Air
Karbohidrat Lemak kasar
Protein Kasar
Serat Kasar
1,44% 12,01% 82.90% 0,83% 3,32% 2,30%
Sumber: Salim dkk., 2011
Penelitian yang telah dilakukan Sari, dkk., (2020) sifat fisikokimia dan sensoris flakes tepung ampas kelapa dengan variasi lama pemanggangan didapatkan formula terbaik kadar air 1,38%, kadar per berat keringnya yaitu antara lain: kadar abu 0,016%, kadar lemak 0,421%, kadar protein 0,122%, kadar serat kasar 0,184%, karbohidrat 0,268%. Penelitian sebelumnya, penggunaan tepung mocaf pada pembuatan flakes maupun produk pangan lainnya dimaksudkan agar meningkatkan
15 kandungan karbohidrat, dan tingkat kerenyahan dikarenakan flakes mempunyai kandungan karbohidrat dan amilopektin yang cukup tinggi.
Pengolahan tepung kasava termodifikasi secara teknis sangat sederhana, mirip dengan cara pengolahan tepung ubi kayu konvensional, namun disertai dengan proses fermentasi. Proses produksi tepung kasava termodifikasi dimulai dengan pengupasan kulit ubi kayu, pencucian sampai bersih, pengecilan ukuran, dilanjutkan dengan tahap fermentasi selama 12-72 jam. Setelah fermentasi, ubi kayu tersebut dikeringkan dan ditepungkan sehingga dihasilkan produk tepung kasava termodifikasi (Subagio, 2006 dalam skripsi Soraya 2015).
2.5 Bahan-Bahan Pembuatan Flakes
Bahan-bahan penunjang dalam pembuatan flakes sangat dibutuhkan agar menghasilkan flakes yang berkualitas dan sesuai dengan yang kita inginkan, diantaranya yaitu:
2.5.1 Mentega
Menurut SNI (1995) dalam Anonim (2014), mentega adalah produk berbentuk padat lunak yang dibuat dari lemak atau krim susu atau campurannya, dengan atau tanpa penambahan garam (NaCl) atau bahan makanan yang diizinkan.
Mentega adalah produk olahan susu yang bersifat plastis, diperoleh melalui proses pengocokan sejumlah krim. Karakter mentega biasanya berwarna kuning agak pucat (mirip susu) lebih pucat dan akan cepat meleleh di dalam suhu ruang.
Mentega memiliki aroma harum sehingga banyak digunakan sebagai campuran bahan pembuatan kue untuk menambah nilai sensorisnya. Tetapi untuk mendapatkan tekstur kue yang kompak atau tidak mudah rapuh, sebaiknya tidak menambahkan mentega terlalu banyak, karena daya emulsi nya kurang (Anonim,
16 2014). Selain sebagai bahan untuk pembuatan cake dan pastries, mentega cocok digunakan sebagai bahan pembuat puff pastry, karena adonan akan menjadi kaku, dan stabil selama dalam proses rolling dan folding (Farida dkk, 2008 dalam Reski 2013).
2.5.2 Gula
Menurut Darwin (2013), gula adalah suatu karbohidrat sederhana karena dapat larut dalam air dan langsung diserap tubuh untuk diubah menjadi energi. Gula merupakan komoditas utama perdagangan di Indonesia. Gula merupakan salah satu pemanis yang umum dikonsumsi masyarakat. Gula biasa digunakan sebagai pemanis di makanan maupun minuman, dalam bidang makanan, selain sebagai pemanis, gula juga digunakan sebagai stabilizer dan pengawet. Menurut American Heart Foundation, perempuan sebaiknya tidak mengkonsusi lebih dari 100 kalori tambahan dari gula per hari dan laki – laki 150 kalori per harinya. Artinya, untuk perempuan tidak lebih dari 25 gr per hari, dan 37,5 gr untuk laki – laki. Jumlah itu sudah mencakup gula di minuman, makanan, kudapan, permen, dan semua yang dikonsumsi pada hari itu (Darwin, 2013)
2.5.3 Garam
Garam merupakan salah satu bahan kimia yang sering dimanfaatkan oleh manusia khususnya dalam bidang konsumsi. Penyusun terbesar garam yaitu senyawa Natrium Klorida. Selain NaCl terdapat pula bahan pengotor antara lain CaSO4 MgSO4 MgCl2 dan lain-lain (Muryati, 2008). Menurut Rositawati (2013) garam diperoleh dengan tiga cara, yaitu penguapan air laut dengan sinar matahari, penambangan batuan garam (rock salt) dan air sumur air garam (brine). Garam yang baik ditunjukan dengan bentuk kristal yang halus dan memiliki warna putih jernih.
17 Secara kimia kualitas garam ditentukan dari kadar NaCl yang terkandung dalam garam. Berdasarkan SNI 01-3556-2000 kadar minimal NaCl dalam garam konsumsi yaitu 94.7 %. Hal tersebut didasarkan atas kajian Wisnu dan Heny (2007) yang menyebutkan bahwa untuk menghasilkan garam dapur yang memiliki kadar NaCl di atas 95% dapat dilakukan dengan cara pencucian.
2.5.4 Air
Air adalah suatu zat cair yang tidak mempunyai rasa, bau dan warna dan terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimia H2O. Karena air mempunyai sifat yang hampir bisa digunakan untuk apa saja, maka air merupakan zat yang paling penting bagi semua bentuk kehidupan (tumbuhan, hewan, dan manusia) sampai saat ini selain matahari yang merupakan sumber energi. Air dapat berupa air tawar dan air asin (air laut) yang merupakan bagian terbesar di bumi ini. Di dalam lingkungan alam proses, perubahan wujud, gerakan aliran air (di permukaan tanah, di dalam tanah, dan di udara) dan jenis air mengikuti suatu siklus keseimbangan dan dikenal dengan istilah siklus hidrologi (Kodoatie dan Sjarief, 2010).