JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
1
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS INKOMPLIT DI RSUD KOTA BEKASI
Ns. Yuli Erlina, S.Kep., M.Kes
Prodi Sarjana dan pendidikan Profesi Keperawatan, Institut Medika Drg Suherman;
Jalan Raya Industri Pasir gombong Jababeka Cikarang Utara Bekasi, Jawa Barat 17530
Email : [email protected] ABSTRAK
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan masyarakat.
Abortus merupakan ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan. Banyak faktor yang mempengaruhi abortus diantaranya adalah usia ibu, graviditas yang meningkat (paritas), keguguran sebelumnya. Berdasarkan data yang diperoleh dibagian rekam medik RSUD Kota Bekasi tahun 2017 ditemukan jumlah kejadian abortus berkisar 380 kasus, dimana ibu hamil yang mengalami abortus inkomplit sebanyak 40 orang, abortus komplit sebanyak 165 orang, abortus imminens 55 orang, abortus insipiens 35 orang, abortus habitualis sebanyak 20 orang, missed abortion sebanyak 30 orang dan abortus provokatus sebanyak 45 orang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplet di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi 2018.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian Case Sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh ibu hamil yang pernah berkunjung dan tercatat dalam rekam medis di RSUD Kota Bekasi periode Januari 2017 – Desember 2017 yang mengalami abortus inkomplit berjumlah 40 responden. Sampel yang diambil sebanyak 40 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Instrument yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan data sekunder yaitu rekam medik ibu hamil yang didiagnosa abortus dan dilihat dari catatan rekam medis berupa register dan laporan harian, bulanan dan tahunan di RSUD Kota Bekasi periode Januari - Desember 2017. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa uji chi-square dengan nilai signifikan α < 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua faktor yang diteliti terdapat pengaruh secara bermakna dengan kejadian abortus inkomplet di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2016. Variabel yang mempengaruhi adalah Usia (P value = 0,003), Riwayat Obsetri (P value = 0,014), Anemia (P value = 0,002), Penyakit ibu (P value = 0,025), Paritas (P value = 0,014), Infeksi (P value = 0,032) Dari hasil penelitian didapatkan adanya pengaruh dari setiap faktor yang di teliti dengan kejadian abortus inkompit. Ada pengaruh antara faktor usia, riwayat obsetri, anemia, penyakit ibu, paritas, dan infeksi dengan kejadian abortus inkomplit. Diharapkan dapat memberikan masukan informasi tentang faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit dengan jelas dan lengkap kepada ibu hamil agar dapat menjaga kehamilan dan dapat mengurangi resiko abortus, serta dapat meningkatkan pelayanan khususnya yang mencakup poli kebidanan pada ibu primi maupun multigravida.
Kata Kunci : Insiden abortus inkomplet, usia, status obsetri, anemia, penyakit ibu, paritas dan infeksi.
PENDAHULUAN
Program Kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu prioritas utama pembangunan kesehatan di Indonesia. Program ini bertanggung
jawab terhadap pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan, bayi dan neonatal. Salah satu program KIA adalah menurunkan angka kematian dan angka kesakitan dengan cara
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
2 meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan ibu dan perinatal (Zulfansyah, dkk, 2008).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan masyarakat.
.Angka kematian ibu menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya ( tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup (Riskesdas, 2017). Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millennium dengan tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. (Depkes, 2010).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho, 2010). Abortus inkompletus ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Terjadi ketika plasenta tidak dikeluarkan bersama janin pada saat terjadi aborsi (Varney, 2007).
Menurut Norwitz & Schorge (2008), faktor risiko abortus adalah usia ibu, graviditas yang meningkat (paritas), keguguran sebelumnya.
Menurut Mariani (2012), risiko terjadinya abortus meningkat dengan meningkatnya jumlah kehamilan, usia ibu dan umur, jarak kelahiran.
Komplikasi abortus jika tidak ditangani dapat terjadi perdarahan, perforasi, infeksi dan syok. Perdarahan yang terjadi selama abortus dapat mengakibatkan pasien menderita anemia, sehingga meningkatkan resiko kematian ibu. Salah satu jenis abortus spontan yang dapat menyebabkan terjadi perdarahan yang banyak adalah abortus inkomplit.
Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Rimonta, dkk di RS
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
3 Pindad Bandung pada tahun 2014
dalam periode Januari 2013 – Desember 2014 ditemukan sebesar 130 kejadian abortus. Angka kejadian terbanyak ditemukan pada kasus abortus inkomplit (79,23%), pada rentang usia 30-34 tahun dan 35-39 tahun (masing-masing 25,38%) , pada usia kehamilan di bawah 12 minggu (72,3%), dengan frekuensi paritas dibawah 4 kali (95,4%) dan tidak memiliki riwayat abortus sebelumnya (76,2%).
Selain dari segi medis, abortus juga dapat menimbulkan dampak negatif pada aspek psikologi dan aspek sosioekonomi. Abortus seringkali terjadi pada wanita hamil dan membawa dampak psikologi yang mendalam seperti trauma, deprsi, juga menyebabkan krisis kepercayaan diri pada wanita yang mengalaminya (Harsanti, 2010). Asuhan kebidanan yang diberikan secara baik dan benar mampu mengurangi komplikasi yang berat pada ibu hamil dengan abortus inkomplit. Komplikasi yang bisa terjadi jika tidak dilakukan penanganan yang
tepat adalah terjadinya perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok.
ABORTUS
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (Mochtar, 2008). Abortus di definisikan sebagai penghentian kehamilan sebelum janin mencapai viabilitas sebelum usia kehamilan 20-22 minggu, dengan berat badan kurang dari 500 gram.
(Wiknjosastro, 2005).
Sebelum keguguran benar- benar terjadi, biasanya ada tanda yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada proses kehamilan:
a. Perdarahan : berlangsung ringan sampai dengan berat. Perdarahan pervaginam pada abortus iminen biasanya ringan berlangsung berhari-hari dan warnanya merah kecoklatan.
b. Nyeri : ”cramping pain”, rasa nyeri seperti pada waktu haid di daerah suprasimfiser pinggang dan tulang belakang yang bersifat ritmis.
c. Febris : menunjukan proses infeksi intra genital, biasanya disertai
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
4 lokia berbau dan nyeri pada waktu
pemeriksaan dalam.
d. Berkurangnya gejala kehamilan Jika awal kehamilan terancam, sebagian wanita menyadari bahwa payudara mereka tidak lagi tegang atau rasa mual di pagi hari memudar. Pada ancaman keguguran di usia kehamilan lebih tua, mereka mungkin melihat bahwa perut mereka tidak bertambah besar. (Tabloid ayah bunda, 2006).
Berdasarkan gambaran klinisnya abortus di bagi menjadi :
1. Abortus Iminens
Abortus imminens adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan sauatu kehamilan.
Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan (Syaifuddin, 2006).
2. Abortus insipiens
Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.
3. Abortus inkomplit
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desi dua atau plasenta.
4. Abortus komplit
Adalah seluruh hasil konsepsi yang dikeluarkan (desidua dan fetus) dari rahim pada kehamilan
< 20 tahun sehingga rongga rahim kosong . Perdarahan dan nyeri minimal pada perut bagian bawah, seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan, ukuran uterus dalam batas normal, serviks tertutup .
5. Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi berturut-turut 3 kali atau lebih. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, namun kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu.
6. Abortus Infeksious
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
5 Adalah keguguran yang disertai
infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah / peritoneum.
7. Missed Abortion.
Adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Gejala seperti amenorea, perdarahan sedikit-sedikit, selama observasi fundus tidak bertambah tinggi melainkan bertambah rendah, gejala kehamilan menghilang, diiringi dengan reaksi kehamilan menjadi negatif pada 2-3 minggu sesudah fetus mati.
USIA KEHAMILAN
Abortus yang terjadi pada kehamilan kurang dari 8 minggu pada umumnya hasil konsepsi dapat keluar seluruhnya, sedang pada umur kehamilan antara 8-14 minggu hasil konsepsi tidak bisa keluar seluruhnya (Abortus Inkomplit). Karena vili korialis sudah menembus desidua, sehingga dapat menyebabkan banyak perdarahan.
Sedangkan menurut sumber lain mengatakan lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama dan angkanya menurun setelah itu (Wiknjosastro, 2005). Penelitian yang dilakukan oleh Rimonda dkk, 2014 di RS Pindad Bandung responden yang mengalami abortus inkomplit, sebanyak 26 orang (20%) memiliki usia kehamilan lebih besar atau sama dengan 12 minggu, lebih kecil dibandingkan dengan jumlah kelompok responden yang memiliki usia kehamilan kurang dari 12 minggu sebanyak 77 orang (59,2%).
STATUS OBSETRI
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin, dijumpai keadan abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus septus, retrofleksia uterus, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks, robekan serviks pada post partum (Manuaba, 2010). Kelainan dapat menjadi sebab abortus, antara lain hipoplasia, uterus subseptus, uterus bikornis dan sebagainya. Akan tetapi pada kelainan bawaan sepertiuterus bikornis, sebagian besar kehamilan dapat berlangsung terus dengan baik.
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
6 Anomali uterus termasuk malformasi
congenital, defek eterus yang di dapat (Astherman's syndrome dan efek sekunder terhadap dietilestilbestrol), leiomyoma dan inkompetensia serviks.
Meskipun anomali-anomali ini sering dihubungkan dengan abortus spontan, insiden, klasifikasi dan peranannya dalam etiologi masih belum diketahui secara pasti.
ANEMIA
Anemia ibu, melalui gangguan nutrisi dan peredaran oksigen menuju sirkulasi retroplasenta.
Pada sumber lain mengatakan pengaruh anemia terhadap kehamilan dapat menyebabkan kematian hasil konsepsi yang akhirnya dapat terjadi abortus, dan dari hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kejadian abortus inkomplit yang di sebabkan anemia mempunyai resiko 2 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak anemia (Prihartini, 2002).
PENYAKIT IBU
Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan
janin dalam kandungan melalui plasenta.
Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis. Infeksi-infeksi maternal yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan abortus spontan termasuk sifilis, parvovirus B19, HIV dan malaria. Brusellosis, suatu penyakit zoonis yang paling sering menginfeksi manusia melalui produk susu yang tidak di pasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus spontan.
PARITAS
Semakin banyak jumlah kelahiran yang di alami seorang ibu semakin tinggi resikonya untuk mengalami komplikasi kehamilan, persalinan, nifas yang di kemukakan Hebert hutabarat (Manuaba, 2010), dimana grandemultipara merupakan salah satu resiko kehamilan. Menurut Mc Charty dan Cuningham, semakin banyak jumlah kelahiran yang di alami seorang ibu maka semakin tinggi resikonya untuk mengalami komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas. Resiko abortus spontan semakin meningkat dengan bertambahnya paritas.
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
7 INFEKSI
Penyebab infeksi, seperti kuman tuberculosis (TBC) atau kuman TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simpleks), bisa menyerang sel telur, janin, dinding rahim, serta plasenta sehingga menyebabkan tumbuh kembang janin menjadi terganggu. Selain itu, demam tinggi, lemas, hilang nafsu makan, serta tidak enak lainnya akibat penyakit infeksi, terutama infeksi yang berat, akan mengganggu jalannya kehamilan.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini metode yang dipakai adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan penelitian case control yaitu suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko dipelajari dengan pendekatan retrospective, dengan kata lain efek diidentifikasi pada saat ini, kemudian faktor risiko diidentifikasi ada atau terjadinya pada waktu yang lalu.
(Notoatmodjo, 2012).
Variabel yang variasi nilainya di pengaruhi atau tergantung oleh salah satu variable bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian
abortus inkomplit. Sedangkan Variabel dependen dalam penelitian ini adalah anemia pada ibu, penyakit ibu, infeksi dan paritas.
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh ibu hamil yang pernah berkunjung dan tercatat dalam rekam medis di RSUD Kota Bekasi periode Januari 2017 - Desember 2017 yang mengalami abortus inkomplit berjumlah 40 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah. ibu hamil yang didiagnosa abortus inkomplit oleh dokter yang tercatat dalam rekam medis di RSUD Kota Bekasi periode Januari - Desember 2017 yang berjumlah 40 orang.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data rekam medik ibu hamil yang didiagnosa abortus oleh dokter dari RSUD Kota Bekasi periode Januari - Desember 2017.
Data yang diperoleh adalah data sekunder yang dilihat dari catatan rekam medis berupa register dan laporan harian, bulanan dan tahunan di RSUD Kota Bekasi periode Januari - Desember 2017. Alat yang digunakan
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
8 untuk mengumpulkan data adalah
berupa formulir yang disesuaikan dengan variabel yang diteliti.
Analisis data di lakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan nilai signifikan alpha 5% (α = 0,05) dengan uji chi- square sebagai alternatif nya.
HASIL
Hasil penelitian terhadap 80 responden, dengan 40 responden dengan Abortus Inkomplit dan 40 responden tidak dengan Abortus Inkomplit yang dilakukan di RSUD Kota Bekasi pada bulan Maret – Juni 2018 dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Terdapat jumlah responden 80 responden dengan ibu yang mengalami abortus inkomplit sebanyak 40 responden. Ibu yang mengalami abortus inkomplit dngan kriteria usia < 20 tahun dan lebih dari 35 tahun sebanyak, 45%, ibu dengan riwayat abortus sebanyak 52,5%, ibu yang mengalami anemia sebanyak 65% dan yang memiliki penyakit sebanyak 46,3%, ibu yang paritas nya primipara atau grande
para sebanyak 71,2% dan ibu yang mengalami infeksi sebanyak 67,5%.
2. Ada Hubungan antara variabel usia, riwayat obstetri, anemia, penyakit, paritas dan infeksi dengan Kejadian Abortus inkompit di RSUD Kota Bekasi Tahun 2018.
PEMBAHASAN
1. Hubungan Usia Kehamilan Dengan Kejadian Abortus Inkomplet Di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square antara variabel usia kehamilan dengan kejadian abortus inkomplet diperoleh p-value 0,003 dengan α ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara usia dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi.
2. Hubungan Riwayat Obstetri Dengan Kejadian Abortus Inkomplet Di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square antara variabel riwayat obstetri dengan
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
9 kejadian abortus inkomplet diperoleh p
value 0,014 dengan α ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara riwayat obstetri dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi.
3. Hubungan Anemia Dengan Kejadian Abortus Inkomplet Di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square antara variabel anemia dengan kejadian abortus inkomplet diperoleh p value 0,001 dengan α ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara anemia dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi.
4. Hubungan Penyakit Ibu Dengan Terjadinya Kejadian Abortus Inkomplit Di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square antara variabel penyakit ibu dengan kejadian abortus inkomplet diperoleh p value 0,025 dengan α ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan ada
hubungan antara penyakit ibu (hipertensi, DM) dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi.
5. Hubungan Paritas Dengan Terjadinya Kejadian Abortus Inkomplet Di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square antara variabel paritas dengan kejadian abortus inkomplet diperoleh p value 0,014 dengan α ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara paritas dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi.
6. Hubungan Infeksi Dengan Terjadinya Kejadian Abortus Inkomplet Di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018.
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square antara variabel infeksi dengan kejadian abortus inkomplet diperoleh p value 0,032 dengan α ≤ 0,05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara infeksi dengan kejadian abortus
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
10 inkomplit di Rumah Sakit Kota
Bekasi.
KESIMPULAN
1. Ada Hubungan antara variabel usia kehamilan dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018. (p-value 0,003 dengan α ≤ 0,05)
2. Ada hubungan antara variabel riwayat obstetri dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018. (p value 0,014 dengan α ≤ 0,05)
3. Ada hubungan antara variabel anemia dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018. (p value 0,001 dengan α ≤ 0,05) 4. Ada hubungan antara variabel
penyakit ibu dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018. (p value 0,025 dengan α ≤ 0,05)
5. Ada hubungan antara variabel paritas dengan kejadian abortus inkomplit di Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018. (p value 0,014 dengan α ≤ 0,05) 6. Ada hubungan antara variabel infeksi dengan kejadian abortus inkomplit di
Rumah Sakit Kota Bekasi Tahun 2018. (p value 0,032 dengan α ≤ 0,05) SARAN
1. RSUD Kota Bekasi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan informasi tentang analisis faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit dengan jelas dan lengkap kepada ibu hamil agar dapat menjaga kehamilan dan dapat mengurangi resiko abortus, serta dapat meningkatkan pelayanan khususnya yang mencakup poli kebidanan pada ibu primi maupun multi gravida, serta dapat memperlengkap status pasien agar dapat memberikan gambaran yang jelas untuk pelayanan, penanganan, dan penelitian selanjutnya.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Memperkaya informasi tentang pentingnya pencegahan terjadinya abortus khususnya abortus inkomplit dan bagaimana cara mengatasi angka kesakitan abortus yang meningkat yang akan meningkatkan kematian maternal melalui perdarahan.
JURNAL ILMIAH KEPERAWATAN VOLUME 7 TAHUN 2018 ISSN 2502-4213
11 3. Bagi Masyarakat
Dapat memberi sumber informasi dan menambah pengetahuan kepada ibu tentang abortus inkomplit, dampak atau resiko abortus inkomplit, serta seorang wanita diharapkan tidak menikah dini atau lanjut usia dan bisa merencanakan kehamilan dengan baik supaya hamil tidak terlalu tua, terlalu muda, atau terlalu sering serta ibu diharapkan untuk ber KB karena jika terlalu sering, terlalu
tua, terlalu muda hal ini dapat meningkatkan resiko abortus inkomplit.
4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat di jadikan sebagai data dasar sekaligus motivasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut baik kuantitatif maupun kualitatif di lingkup profesi keperawatan khususnya mengenai kejadian abortus pada ibu
DAFTAR PUSTAKA
1. Achadiat M. Chrisdiono, 2004, Obstetri dan Ginekologi, Jakarta : Penerbit Buku KedokteranECG, 2. Farrer Helen, 2001, Perawatan
Maternitas, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. Hartanto, H 2003, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, sinar Harapan, Jakarta.
4. Henderson, Christine, 2006, Buku Ajar Konsep Kebidanan, Jakarta : EGC.
5. Mansjoer, Arif. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI.
6. Manuaba, I.B.G, 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Cetakan I, Jakarta : EGC
7. Manuaba Ida Bagus Gde, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG.
12 8. Maryunani Anik, 2009, Asuhan
Kegawadaruratan Dalam Kebidanan, Jakarta : TIM
9. Meiliya, Eny. 2010, Buku Saku Kebidanan, Jakarta : EGC
10. Mochtar, Rustam. 1998, Sinopsis Obstetri, Cetakan 1. Jakarta : EGC.
11. Morgan, Geri. 2009. Panduan Praktik Obstetri & Ginekologi, Cetakan I, Jakarta : EGC
12. Notoatmodjo, Soekidjo. 2002.
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta : Pelita Ilmu.
13. Pernoll Martin, L, 2008, Buku Saku Obstetri & Ginekologi, (edisi 9), Cetakan pertama, Jakarta : EGC.
14. Rukiyah Ai Yeyeh, 2010, Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan), Jakarta : TIM
15. Saifuddin, 2002, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta:YBP-SP.
16. Saifuddin, 2006, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP.
17. Sarwono, 2008, Ilmu Kebidanan, (edisi keempat), Cetakan pertama, Jakarta : PT-BPSP.
18. Sastrawinata, Sulaiman. 2005, Obstetri Patologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG.
19. Sugiyono, 2002. Statistik Untuk Penelitian. Jakarta : Alfa Beta.
20. Sujiyatini, 2009, Asuhan Patologi Kebidanan, Cetakan pertama,
Jogjakarta : NM.
Varney, Helen, 2005, Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC.
21. Wiknjosastro Hanifa, dkk, 2006, Ilmu Kebidanan, (edisi ketiga), Cetakan kelima, Jakarta : YBP-SP.
22. Yeyeh Ai, dkk. 2009, Asuhan Kebidanan 1 Kehamilan, Cetakan pertama, Jakarta : KDT,
23. Profil Dinas Kesehatan RSUD Kota Bekasi, 2018
24. Arnya. 2006. Apakah stresss dapat menyebabkan keguguran. Didalam www. abn.it.org diakses tanggal 10 April 2018
25. Kuntari, Titik, dkk, 2010 Determinan Abortus di Indonesia.
Didalam www.ui.ac.id, diakses pada tanggal 15 April 2018
13 26. Lisani, 2014, faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian abortus di RS. Prikasih Bogor, diakses pada tanggal 15 April 2018 27. Soeprono, Bharoto Winardi. 2007.
Tanda-tanda kandungan bermasalah. Di dalam www.abn.it.org di akses tanggal 10 April 2018
28. Sulistomo, Astrid. 2008.
Perempuan yang bekerja di pertanian kemungkinan lebih besar mengalami abortus spontan.
Program Studi Magister FKUI di dalam www.wordpress.com di akses tanggal 09 April 2018 29. Citra,Melisa,dkk, (2016)
Hubungan Pemberian Imunisasi Dasar dengan Tumbuh kembang pada Bayi (0-1 tahun) di Puskesmas Kembes Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa 30. Ririn, Mush’ab (2012) Pengaruh
Pemberian Imunisasi Complete terhadap Tumbuh Kembang sanak