• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Petra

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konsep mengenai corporate social responsibility (CSR) telah berkembang selama 30 tahun terakhir, dan telah menjadi bagian yang signifikan dalam perubahan perilaku organisasi (Moura-Leite & Padgett, 2015). Para akademisi dan praktisi bisnis telah menyadari bagaimana CSR berubah dari sebuah ide yang tidak relevan dan meragukan menjadi topik yang paling diminati dalam agenda penelitian (McWilliams, Siegel, & Wright, 2006). Sebelumnya, perusahaan menganut traditional economic theory dimana keputusan- keputusan yang diambil oleh manajer adalah untuk meningkatkan kekayaan pemegang saham (Friedman, 1962). Friedman (1970) menjelaskan bahwa hanya ada satu tanggung jawab sosial yang dimiliki perusahaan yaitu untuk menggunakan sumber dayanya pada aktivitas-aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan profit. Dengan kata lain, investasi pada CSR tidak konsisten dengan upaya mereka untuk memaksimalkan keuntungan (Lichtenstein, Drumwright, & Braig, 2004), sehingga ketika terdapat aktivitas- aktivitas yang tidak sejalan dengan tujuan ini, maka teori ini berpendapat bahwa aktivitas tersebut harus diabaikan (Mackey, Mackey, &

Barney, 2007).

Seiring berjalannya waktu, perhatian akan dimensi sosial dari aktivitas perusahaan meningkat. Masyarakat menjadi lebih terinformasi, lebih sadar, dan lebih menuntut akan timbal balik keberadaan perusahaan, bukan hanya sekedar menyediakan produk dan jasa saja (Garcia, Tabales, & Herradon, 2008). Nilai- nilai yang dianut juga berubah sehingga terjadi pergantian pola perilaku.

Pelanggan menjadi semakin ketat dalam melakukan pembelian karena pemilihan produk dan jasa harus sesuai dengan nilai-nilai sosial seperti lingkungan kerja yang adil, penggunaan sumber daya yang bijak, dan perdagangan bebas. Tekanan dari sisi pasar keuangan juga semakin meningkat dimana semakin banyak investor yang menganut SRI atau socially responsible investment, yang berarti investasi dilakukan pada perusahaan yang mampu memberikan dampak sosial terhadap sekitarnya. Lembaga-lembaga internasional serta pemerintah pun ikut campur

(2)

Universitas Kristen Petra

2

tangan dalam perkembangan ini dengan membuat regulasi-regulasi yang mengharuskan perusahaan untuk mengikuti pedoman tertentu untuk kebaikan bersama (Nieto & Fernandez, 2004). Peralihan inilah yang menghasilkan konsep CSR sehingga menjadi salah satu konsep yang paling dapat diterima dalam dunia bisnis selama beberapa tahun terakhir (Carroll & Shabana, 2010).

Sebuah cara pandang baru yang cukup menarik dalam melihat CSR ditawarkan oleh Porter dan Kramer (2006). Mereka mengatakan bahwa CSR bukan hanya sekedar biaya, paksaan, ataupun perbuatan amal. CSR juga bukan hanya merupakan respon atas tuntutan-tuntutan yang ada dalam pasar. CSR merupakan sebuah strategi yang mampu menciptakan kesempatan, inovasi, dan menjadi sumber dari keunggulan kompetitif. Biaya yang dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan CSR harus dipandang sebagai sebuah investasi yang akan dirasakan dampaknya dalam jangka panjang. Dengan mengintegrasikan faktor non-ekonomi dalam strategi operasi perusahaan sehari- hari, maka akan memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan benefit jangka panjang diantaranya menciptakan inovasi dan keunggulan kompetitif (Porter & Kramer, 2002; Porter & Kramer, 2006), dan disaat yang bersamaan juga memenuhi kepentingan para pemangku saham (McWilliams & Siegel, 2001; Porter &

Kramer, 2002), sehingga akan berpengaruh pada firm performance dan karena itu konsisten dengan tujuan utama perusahaan yaitu memaksimalkan kekayaan pemegang saham (Mackey et al., 2007).

Beberapa penelitian telah mencoba menguji secara empiris pengaruh CSR terhadap firm performance. Beberapa diantaranya mampu membuktikan bahwa penerapan CSR akan meningkatkan firm performance misalnya seperti penelitian yang dilakukan oleh Mishra dan Suar (2010), Wu dan Shen (2013), Nicolau (2008), Rettab, Brik, dan Mellahi (2008), Ansong (2017), dan Famiyeh (2017).

Namun, terdapat beberapa penelitian yang mendapatkan hasil negatif dalam hubungan CSR dan firm performance. Peloza (2009) mengulas 159 penelitian mengenai pengaruh CSR terhadap firm performance dan mendapatkan hasil sebanyak 63% penelitian yang mendapatkan pengaruh positif, 15% mendapatkan hasil negatif, dan 22% melaporkan hasil yang netral. Margolis dan Walsh (2001) serta Orlitzky et al. (2003) juga melakukan jenis penelitian yang sama dan

(3)

Universitas Kristen Petra

3

mendapatkan hasil yang serupa. Argumen utama dari pengaruh negatif dikarenakan adanya biaya tambahan yang harus ditanggung perusahaan untuk meningkatkan kinerja sosial dan lingkungannya, namun tidak berkontribusi dalam meningkatkan kekayaan pemegang saham (Crisostomo, Freire, & Vasconcellos, 2011). Selain itu, beberapa penelitian juga mengatakan bahwa banyak para pemangku kepentingan yang masih belum mengetahui aktivitas CSR yang dilakukan perusahaan dikarenakan kurangnya komunikasi atau pengungkapan khususnya di negara berkembang (Crisostomo et al., 2011; Min Foo, 2007;

Wright, Filatotchev, Buck, & Bishop, 2003; Mellahi & Wood, 2003). Terdapat juga penelitian lain yang menyatakan bahwa CSR tidak terkait dengan CFP (Chetty, Naidoo, & Seetharam, 2015).

Menurut Garcia-Castro, Arino, dan Canela (2011) dan Malik, Mamun, dan Amin (2018), ketidakkonsistenan hasil- hasil penelitian diatas dapat dikarenakan kebanyakan penelitian-penelitian empiris sebelumnya cenderung mengukur penciptaan nilai CSR terhadap firm performance saat ini. Dengan kata lain, pengaruh CSR diukur pada tahun yang sama sehingga konsekuensi jangka panjang yang diakibatkan oleh CSR sebagai salah satu strategi perusahaan tidak diperhitungkan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menutup gap tersebut dengan memperhitungkan pengaruh jangka panjang CSR terhadap firm performance, serta membandingkan hasil pengaruh jangka pendek dan jangka panjang untuk melihat pengaruh manakah yang lebih kuat. Pengaruh CSR dihitung dengan memberikan time lag 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun untuk melihat pengaruh jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Selain itu, ketidakkonsistenan hasil-hasil penelitian ini juga dapat dikarenakan adanya pengabaian variabel- variabel mediasi yang relevan (Ansong, 2017). Maka dari itu, peneliti terdorong untuk menguji hubungan antara CSR dan firm performance, namun dengan mempertimbangkan variabel- variabel relevan lainya yang mampu memediasi hubungan ini yaitu intellectual capital dan corporate reputation.

Selama beberapa dekade terakhir, terdapat transformasi fundamental dalam perkembangan ekonomi (Moeller, 2009). Zaman telah berubah dari yang dulunya merupakan industrial economy, berganti menjadi knowledge-based

(4)

Universitas Kristen Petra

4

economy dimana penciptaan nilai bukan lagi dikarenakan produksi barang secara massal, namun dikarenakan oleh knowledge. Penciptaan nilai tidak bergantung pada peningkatan kuantitas barang, namun kepada knowledge yang terkandung dalam barang atau jasa yang dihasilkan (Pulic, 2008). Hal tersebut membuat semua pekerjaan teknikal digantikan dengan “knowledge workers” dan trend akan

“learning organizations” menjadi semakin berkembang (Nazari and Herremans, 2007). Untuk mengatasi tantangan perubahan ekonomi ini, perlu diketahui pentingnya knowledge-based resources sebagai faktor yang mampu menopang keunggulan kompetitif (Ting & Lean, 2009). Sumber daya ini terdiri dari tangible asset (physical atau financial assets) dan intangible asset. Barney (1999) mengatakan bahwa tangible asset sangat mudah untuk diimitasi dan diganti walaupun aset tersebut berharga dan langka, sedangkan intangible asset sulit untuk ditiru maupun diganti, dan memakan biaya yang cukup tinggi untuk dibuat.

Maka dari itu, intangible asset atau yang lebih dikenal dengan sebutan intellectual capital dianggap sebagai basis dari keunggulan kompetitif dan karena itu merupakan salah satu faktor yang kritis dalam menentukan firm performance.

Literatur-literatur sebelumnya telah menunjukkan peran CSR dalam meningkatkan intellectual capital. Manfaat jangka panjang CSR dapat berbentuk tangible maupun intangible. Saeed dan Arshad (2012) mengatakan bahwa salah satu cara untuk membangun intellectual capital perusahaan adalah dengan melakukan aktivitas-aktivitas sosial dengan para pemangku kepentingan. Pedrini (2007) juga mengatakan CSR dan intellectual capital memiliki beberapa persamaan sehingga ketika perusahaan melakukan praktik CSR maka akan membantu mengembangkan dimensi-dimensi intellectual capital (human capital, structural capital dan relational capital). Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi pengaruh antara CSR dan intellectual capital. Fuentes-Garcia et al. (2008), Jamali et al. (2008), Sen et al. (2006), Renneboog et al. (2008), dan Passeti, (2009) berhasil membuktikan bahwa praktik CSR mampu mendukung perkembangan intellectual capital.

Variabel mediasi lainya yang juga berperan dalam hubungan antara CSR dan firm performance adalah corporate reputation. Dengan kompleksitas lingkungan yang semakin meningkat, persaingan yang semakin ketat,

(5)

Universitas Kristen Petra

5

meningkatnya permintaan akan transparansi dan tanggung jawab sosial perusahaan, serta para pemangku kepentingan yang lebih terinformasi dan moderen, membuat corporate reputation mendapatkan perhatian khusus dalam menunjang keberlanjutan perusahaan (Smaiziene & Jucevicius, 2009; Maden, Arikan, Telci, & Kantur, 2012). Berdasarkan Deloitte Global Survey 2014, reputation risk merupakan salah satu resiko bisnis yang paling terbesar dampaknya. Sebanyak 41% responden yang merupakan pelaku bisnis yang tersebar di seluruh dunia menyetujui bahwa reputation risk akan berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan utamanya pendapatan. Hal ini juga dibuktikan oleh survei yang dilakukan oleh AON Global Risk Management Survey 2017 yang menemukan bahwa reputasi sebagai salah satu risiko terbesar bagi para eksekutif bisnis. Karena itu, corporate reputation dianggap sebagai sebuah elemen yang krusial dalam strategi bisnis, yang dapat menunjang firm performance (Carlisle & Faulkner, 2005; Fombrun & Shanley, 1990; Roberts &

Dowling, 2002).

Salah satu strategi yang banyak diadopsi dalam rangka meningkatkan corporate reputation adalah CSR (Melo & Galan, 2011). CSR menjadi elemen penting dalam membangun dan menjaga corporate reputation karena CSR menjadi salah satu cara perusahaan menunjukkan kepeduliannya terhadap tuntutan para pemangku kepentingan sehingga memberikan nilai positif yang akhirnya akan meningkatkan corporate reputation (Park, Lee, & Kim, 2014). Meskipun artinya perusahaan harus mengeluarkan sejumlah biaya, namun hal tersebut akan memberikan sinyal positif kepada para pemangku kepentingan sehingga menciptakan corporate reputation yang baik di mata masyarakat (Khojastehpour

& Johns, 2014). Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi secara empiris pengaruh antara CSR dan corporate reputation. Sanchez, Sotorrio, dan Diez (2015), Maden et al. (2012), Brammer dan Pavelin (2006), Melo dan Garrido- Morgado (2012), serta Williams dan Barrett (2000) membuktikan pengaruh positif CSR terhadap corporate reputation. Terdapat juga penelitian yang mendapatkan pengaruh negatif seperti penelitian yang dilakukan oleh Bebbington, Larrinaga, dan Moneva (2008), dan Jacob (2012).

(6)

Universitas Kristen Petra

6

Tren CSR di Indonesia sudah mulai berkembang namun belum fokus dan signifikan. Menurut laporan Proper 2016-2017, salah satu program penilaian ketaatan dan kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, menunjukkan bahwa dari sebanyak 1819 perusahaan peserta, hanya 19 perusahaan yang masuk dalam kategori emas atau melalukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dan mencapai zero emisi, dan 150 perusahaan mendapatkan kategori hijau atau melebihi standar penilaian. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas perusahaan-perusahaan di Indonesia masih belum fokus menjalankan praktik CSR. Maka dari itu, penelitian ini berkontribusi untuk membuktikan secara empiris pengaruh positif CSR terhadap firm performance di Indonesia sehingga mampu mendorong kesadaran akan pentingnya menjalankan CSR sebagai salah satu strategi perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas maka rumusan masalah yang diajukan adalah:

1. Apakah corporate social responsibility berpengaruh positif terhadap firm performance?

2. Apakah corporate social responsibility berpengaruh positif terhadap intellectual capital?

3. Apakah corporate social responsibility berpengaruh positif terhadap corporate reputation?

4. Apakah intellectual capital berpengaruh positif terhadap firm performance?

5. Apakah corporate reputation berpengaruh positif terhadap firm performance?

6. Apakah intellectual capital berpengaruh positif terhadap corporate reputation?

1.3 Batasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada ruang lingkup perusahaan-perusahaan go public di Indonesia yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2014- 2017, serta tergabung dalam index Environtment, Social, And Governance oleh

(7)

Universitas Kristen Petra

7

Bloomberg dan Corporate Image Award oleh Frontier Consulting tahun 2014 sampai 2017.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain:

1. Mengetahui pengaruh corporate social responsibility terhadap firm performance

2. Mengetahui pengaruh corporate reputation terhadap hubungan antara corporate social responsibility dan firm performance

3. Mengetahui pengaruh intellectual capital terhadap hubungan antara corporate social responsibility dan firm performance

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pihak yang berkepentingan sebagai berikut.

1. Penelitian ini memberikan perspektif baru bagi manajemen agar dapat menjadikan praktik corporate social responsibility sebagai salah satu strategi perusahaan karena akan mampu mempengaruhi kinerja perusahaan dalam jangka panjang.

2. Penelitian ini memberikan gambaran bagi investor agar lebih mempertimbangkan perusahaan yang melakukan corporate social responsibility karena memiliki kinerja yang lebih baik, serta menjamin keberlangsungan hidup perusahaan.

3. Penelitian ini menambah kajian literatur bagi para akademisi sehingga dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

1.6 Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penulisan skripsi ini diuraikan secara singkat isi skripsi bab demi bab. Garis besar penulisan skripsi adalah sebagai berikut:

BAB 1 : Pendahuluan

(8)

Universitas Kristen Petra

8

Pada bab ini akan dibahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB 2 : Landasan Teori

Pada bab ini akan dibahas tentang konsep dan teori yang mendukung penelitian, penelitian terdahulu dan hipotesis.

BAB 3 : Metode Penelitian

Bab ini akan dibahas tentang desain penelitian, definisi variabel, jenis dan sumber data, pengukuran data, alat dan metode pengumpulan data, populasi, sampel, teknik pengambilan data, teknik analisis data dan prosedur pengujian hipotesis.

BAB 4 : Hasil Penelitian Dan Analisis

Pada bab ini akan dibahas tentang hasil dari penelitian ini.

BAB 5 : Kesimpulan

Pada bab ini akan dibahas tentang kesimpulan dan saran penelitian ini.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan pada 4 struktur beton dengan variasi bentang panjang balok untuk mengetahui gaya geser desar akibat gempa efektif, mengetahui kinerja akibat perpindahan

Kualitas audio yang akan dihasilkan sangat dipengaruhi oleh ukuran pesan yang akan disisipkan, semakin panjang pesan yang disisipkan maka kualitas audio akan semakin

Ketika Anda menekan tab worksheet, Excel 2007 akan menam p p ilkan isi dari Worksheet  ilkan isi dari Worksheet  yang bersangk . yang bersangk  u

Pada tahun 1959 diambil alih Pemerintah Republik Indonesia dan pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), Kejadian serupa mengenai aksi

Jenis penelitian yang dilakukan ada- lah eksperimen dengan desain post-test only with control group, yang hasilnya akan dianalisis secara deskriptif dan in- ferensial

PENERAPAN METODE MAKE A MATCH DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS 2 SD NEGERI TIMBANG 02 KEC. Asma'ul

Pendidikan moral dapat diartikan sebagai suatu konsep kebaikan (konsep yang bermoral) yang diberikan atau diajarkan kepada peserta didik (generasi muda dan masyarakat) untuk

Bertolak dari kenyataan tersebut, beberapa feminis terdorong untuk membangun model relasi baru yang tidak patriarkal, melainkan bersandar pada logika kesalingan