34
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian penjelasan (explanatory research). Menurut Nuryaman dan Veronica Christina (2015:06) definisi penelitian eksplanatori adalah sebagai berikut:
"Penelitian eksplanatori adalah penelitian yang tujuannya untuk memperoleh jawaban tentang "bagaimana" dan "mengapa" suatu fenomena terjadi. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan atau membuktikan bagaimana hubungan antar variabel penelitian."
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Untuk memperoleh data dan menjawab masalah yang sedang diteliti penulis akan melaksanakan penelitian pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega yang dilakukan mulai bulan Juni 2019 hingga selesai.
4.3 Data dan Sumber Data 4.3.1 Jenis Data
Metode penelitian merupakan suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala permasalahaan. Dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.
4.3.2 Sumber Data
Menurut Sugiyono (2017) terdapat dua macam sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah sumber data primer.
Adapun pengertian sumber data primer menurut Sugiyono (2017) adalah :
“Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen.”
Data primer yaitu data yang langsung berasal dari sumber data yang di kumpulkan secara khusus dan berhubungan langsung dengan permasalahan yang diteliti. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner dengan sejumlah pernyataan ditujukan kepada responden dan kemudian responden diminta untuk menjawab semua pernyataan sesuai dengan pendapat mereka.
4.3.3 Objek Penelitian
Objek penelitian merupakan sesuatu yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian, objek penelitian ini menjadi sasaran dalam penelitian untuk mendapatkan jawaban ataupun solusi dari permasalahan yang terjadi. Adapun pengertian objek penelitian menurut Sugiyono (2017:20) :
"Objek penelitian adalah Suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya"
Menurut Nuryaman dan Veronica Christina (2015:5) objek penelitian adalah Karakteristik yang melekat pada subjek penelitian. Karakteristik ini jika diberikan nilai, maka nilainya akan bervariasi (berbeda) antar individu satu dengan yang lainnya. Dalam terminologi penelitian, objek penelitian ini dinamakan variable penelitian.
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Pengetahuan Perpajakan dan Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu Pengetahuan Perpajakan dan Sanksi Perpajakan, sedangkan variabel dependen Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.
4.3.4 Populasi Penelitian
Menurut Yusuf A Muri (2014: 147) pengertian populasi merupakan totalitas semua nilai-nilai yang mungkin daripada karakteristik tertentu sejumlah objek yang ingin dipelajari sifatnya.
36
= 𝑁
1 + 𝑁𝑒2
Menurut Nuryaman dan Veronica Christina (2015: 101) populasi menunjukkan seluruh kelompok orang, kejadian atau sesuatu yang menjadi ketertarikan peneliti untuk diinvestigasi.
Berdasarkan pengertian populasi, maka yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah jumlah seluruh Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega dengan jumlah populasi sebanyak 124.695 orang.
4.3.5 Sampel Penelitian
Menurut Yusuf A Muri (2014: 150) mengemukakan pengertian sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut.
Untuk menentukan jumlah sampel yang akan diolah dari sejumlah populasi maka perlu dilakukan teknik pengambilan sampel yang tepat. Menurut Nuryaman dan Veronica Christina (2015: 101) menjelaskan pengertian sampel adalah bagian dari populasi, sampel berisi beberapa anggota yang dipilih dari populasi.
Sampel penelitian diambil secara acak dari jumlah Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega yang datang ke lokasi kantor pajak baik untuk melakukan pelaporan pajak maupun konsultasi.
Teknik pemilihan sampel yang digunakan yaitu metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dalam hal ini terbatas pada jenis orang tertentu yang dapat memberikan informasi yang diinginkan, baik karena mereka adalah satu-satunya pihak yang memilikinya, atau mereka memenuhi beberapa kriteria yang ditentukan oleh peneliti (Sekaran & Bougie, 2017).
Dalam menentukan jumlah sampel, penulis menggunakan rumus Slovin (Yusuf, A Muri 2014: 170), sebagai berikut:
Keterangan :
s = Jumlah sampel yang diinginkan N = Jumlah Populasi
e = Derajat ketelitian atau nilai kritis yang diinginkan yaitu 0,1, hal ini karena 0,1 dinilai representatif dan menilai jumlah sampel yang tidak terlalu besar.
Berdasarkan data dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega, jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi hingga akhir tahun 2019 tercatat sebanyak 124.695 orang, maka dari itu jumlah sampel penelitian ini adalah:
𝑛 = 124.695
1 + 124.695 (0,1)2
n = 99,92 (dibulatkan menjadi 100 sampel)
Berdasarkan perhitungan di atas, maka jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 orang Wajib Pajak Orang Pribadi.
4.4 Metode Pengumpulan Data 4.4.1 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini memerlukan data dan informasi yang dapat diuji keabsahannya. Oleh karena itu, dibutuhkan teknik pengumpulan data sehingga dapat membantu pencapaian hasil penelitian yang baik. Metode pengumpulan data dan informasi yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan secara langsung ke lapangan untuk memperoleh data menyangkut permasalahan yang menjadi objek penelitian dengan melakukan teknik-teknik sebagai berikut:
1) Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil (Sugiyono, 2017:137).
2) Kuesioner
38
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2017:142).
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Teknik ini dimaksudkan sebagai cara untuk mendapatkan landasan teoritis yang dapat dijadikan pedoman dalam mendapatkan teori yang didapat dengan praktik di lapangan, yaitu dengan membaca literatur, buku, dan artikel yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
4.4.2 Operasionalisasi Variabel
Menurut Nazir (2011: 127) operasional variabel adalah:
“Operasional variabel adalah penarikan batasan yang lebih menjelaskan ciri-ciri spesifik yang lebih substantive dari suatu konsep dengan tujuan agar peneliti dapat mencapai suatu alat ukur yang sesuai dengan hakikat variabel yang sudah didefinisikan konsepnya”.
Sesuai dengan judul penelitian “Pengaruh Pengetahuan Perpajakan dan Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi” maka operasional variabelnya adalah:
1. Variabel Bebas (Independent Variable)
Menurut Sugiyono (2017:61) variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat, pengaruh yang diberikan oleh variabel bebas biasanya bersifat negatif dan positif. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
X1 : Pengetahuan Perpajakan X2 : Sanksi Perpajakan
2. Variabel Terikat (Dependend Variable)
Menurut Sugiyono (2017: 61) variabel terikat adalah variabel yang nilai- nilainya tergantung atau terikat oleh nilai-nilai variabel lain. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah:
Y : Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Untuk keperluan pengujian, maka penjabaran variabel ke dalam indikator- indikator yang akan mendasari penyusunan kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
Tabel 4. 1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep Variabel Indikator Skala
Pengetahuan Perpajakan (X1)
Pengetahuan pajak adalah informasi pajak yang dapat digunakan wajib pajak sebagai dasar untuk bertindak, mengambil keputusan, dan untuk menempuh arah atau strategi tertentu sehubungan dengan pelaksanaan hak d an kewajibannya dibidang perpajakan."
(Carolina: 2009:7).
1. Pengetahuan mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, 2. Pengetahuan mengenai
sistem perpajakan di Indonesia,
3. Pengetahuan mengenai fungsi perpajakan
(Rahayu, 2010)
Ordinal
Sanksi Perpajakan (X2)
Sanksi Perpajakan merupakan jaminan bahwa peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi.
Atau bisa dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat
1. Sanksi Administrasi 2. Sanksi Pidana (Rahayu, 2010)
Ordinal
40
Variabel Konsep Variabel Indikator Skala
pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan.
(Mardiasmo,2016:62) Kepatuhan
Wajib Pajak (Y)
Kepatuhan perpajakan sebagai suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya (Siti Kurnia, 2010)
1. Wajib Pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas.
3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar.
4. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.
(Moh.Zain, 2007)
Ordinal
Dalam operasionaliasi variabel ini, semua variabel menggunakan skala ordinal. Definisi skala ordinal menurut Sugiyono (2017;98) adalah sebagai berikut:
“Skala ordinal adalah skala pengukuran yang tidak hanyamenyatakan kategori, tetapi juga menyatakan peringkat konstruk yang di ukur.”
4.4.3 Skala Pengukuran
Data dalam penelitian ini di uji secara verifikasi oleh sebab itu jawaban deskriptif yang didapat oleh responden perlu di verifikasi terlebih dahulu dengan menggunakan skala likert.
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala ordinal. Menurut Umar (2009;44) skala ini mengurutkan dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi atau sebaliknya dengan Interval yang tidak harus sama.
Sedangkan skala untuk instrumen kuesioner yang digunakan dalam penelitian adalah skala likert. Menurut Sekaran dan Bougie (2010;152) skala likert berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu.
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan presepsi seseorang atau sekelompok orang tertentu dalam fenomena sosial. Dengan skala liekrt, variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan dan pernyataan.
Pengukuran skala ini dilakukan dengan cara menetapkan bobot, kemudian menambahkan untuk mendapatkan suatu jumlah dari masing-masing indikator yang akan di ukur. Pengukuran variabel pengetahuan pajak, penerapan sanksi pajak dan kepatuhan wajib pajak orang pribadi menggunakan teknik pengukurran skala sebagai berikut:
Tabel 4. 2
Pemberian Bobot Nilai (skor) Skala Likert Pernyataan Nilai (skor)
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Ragu-ragu 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1
Selanjutnya dicari rata-rata dari setiap jawaban responden, untuk memudahan penilaian dari rata-rata tersebut, maka digunakan interval untuk menentukan panjang kelas interval/menetukan panjang kelas interval digunakan rumus sebagai berikut :
panjang kelas interval= Rentang
Banyak Kelas
42 Keterangan:
P : Panjang kelas interval Rentang : Data terbesar – data terkecil Banyak Kelas : 5
Maka:
Panjang kelas interval = 5 − 1
5 = 0,8
Jadi interval dari kriteria penilaian rata-rata dapat diinterpresentasikan sebagai berikut:
STS = 1.00 – 1.79 TS = 1.80 – 2.59 CS = 2.60 – 3.39 S = 3.40 – 4.19 SS = 4.20 – 5.00
Sehingga melalui perhitungan tersebut, dapat diketahui tingkat jawaban responden pada setiap item pertanyaan dengan menggunakan garis kontinium.
Garis kontinium adalah garis yang digunakan untuk menganalisa, menhukur, dan menunjukan seberapa besar tingkat kekuatan variabel yang sedang diteliti, sesuai instrumen yang di gunakan. Tafsiran daerah jawaban responden sebagai berikut:
1 1,8 2,6 3,4 4,2 5 Gambar 4. 1
Garis Kontinium 4.5 Teknik Analisis Data
Penulis mengumpulkan dan mengolah data yang diperoleh dan kuesioner dengan cara memberikan bobot penilaian dari setiap pertanyaan dengan menggunakan teknik skala likert yang berskala ordinal. Langkah yang dilakukan dalam proses pengolahan untuk mempermudah analisis sebagai berikut:
1. Menyiapkan data yaitu pengolahan data atau kegiatan lanjutan setelah pengumpulan data dilaksanakan seperti menyebarkan kuesioner.
2. Editing yaitu langkah untuk memeriksa hasil kuesioner yang dikumpulkan dan telah dijawab oleh responden.
3. Koding yaitu mengklarifikasikan jawaban responden dalam berbagai kategori seperti jenis kelamin, usia, pendidikan dan pekerjaan.
4. Tabulasi, yaitu memasukkan data (angka) kedalam tabel sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dihitung dengan teknik pengujian nonparametrik.
4.5.1 Uji Validitas Data
Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data "yang tidak berbeda" antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. (Sugiyono, 2017:267).
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu
STS TS CS S SS
44
untuk mengungkapkan sesuatu yang akan di ukur oleh kuisioner tersebut (Ghozali, 2011).
Untuk menguji validitas terlebih dahulu mencari nilai (harga) korelasi dengan menggunakan rumus product moments pearson. Validitas dapat diukur dengan menggunakan koefisien korelasi product moments pearson. Menurut Sugiyono (2017:348) rumus koefisien korelasi product moments pearson adalah sebagai berikut :
X
) (n Y
Y
)X n (
Y X XY
r n
2 2
2 2
Keterangan:
r = Koefisien korelasi suuatu butir/item n = Jumlah responden
X = Jumlah skor tiap item Xi (Variabel Independen)
Y = Jumlah skor total seluruh item Yi (Variabel Dependen)
Dari hasil yang diperoleh dengan rumus di atas, dapat diketahui tingkat pengaruh variabel X dan variabel Y. Pada hakikatnya nilai r dapat bervariasi dari - 1 hingga +1, atau secara matematis dapat ditulis menjadi -1≤ 𝑟 ≤ +1. Hasil dari perhitungan akan memberikan tiga alternative, yaitu:
1. Bila r = 0 atau mendekati 0, maka kolrelasi antar kedua variable sangat lemah atau tidak terdapat hubungan antara variable X terhadap Y.
2. Bila r = +1 atau mendekati +1, maka korelasi antar kedua variable adlah kuat dan searah, diakatakan positif.
3. Bila r = -1 atau mendekati -1, maka korelasi antar kedua variable adalah kuat dan berlawanan arah. Diakatakan negative.
Sebagai bahan penafsiran terhadap koefesien korelasi yang ditemukan besar atau kecil, maka dapat berpedoman padaa ketentuan berikut ini:
Tabel 4. 3
Tabel Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 - 0,199 Sangat Lemah
0,20 - 0,399 Lemah
0,40 - 0,599 Sedang
0,60 - 0,799 Kuat
0,80 - 1,000 Sangat Kuat
Sumber: Sugiyono (2017;184) 4.5.2 Uji Reliabilitas
Selain mengukur validitas, dalam sebuah penelitian juga diperlukan untuk mengukur keandalan dalam suatu instrumen menjadi indikasi bahwa responden konsisten dalam memberikan tanggapan atas pernyataan yang diajukan. Menurut Sekaran (2017: 133) reliabilitas adalah:
“Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu pengukuran tanpa bisa (bebas kesalahan) dan karena itu menjamin pengukuran yang konsisten lintas waktu dan lintas beragam item dalam instrumen”
Uji reliabilitas digunakan untuk mendapatkan data yang reliable atau andal. Menurut Sugiyono (2017) mendefinisikan instrumen yang reliable adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Dengan demikian, suatu instrumen dikatakan reliable bila digunakan mengukut berkali-kali data yang sama (konsisten). Pengujian keandalan (reliabilitas) ditunjukan untuk menguji sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya, tinggi rendahnya keadaan digambarkan melalui koefisiensi reliability dalam suatu angka tertentu, dalam pengujian keandalan ini digunakan tes internal consistency, yaitu sistem pengujian terhadap kelompok yang kemudian dihitung
46
skor dan diuji konsistensinya terhadap berbagai item yang ada dalam kelompok tersebut.
Koefisien alpha cronbach merupakan statistik yang paling umum digunakan untuk menguji reliabilitas suatu instrumen penelitian. Suatu kuesioner dikatakan reliable jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konstan dari waktu ke waktu. Instrumen yang reliable adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Pengujian ini dilakukan dengan menghitung koefisien alpha cronbach, menurut Arikunto (2010;196) dengan rumus sebagai berikut:
𝑟𝑛
= [ k
k - 1][1-∑ 𝜎.b2 𝜎.i2 ]
Keterangan:
𝑟𝑛 = Reliabilitas isntrumen K = Banyak butir pertanyaan
∑ 𝜎. b2 = Jumlah varians butir 𝜎. i2 = Varians total
Adapun kriteria untuk menilai reliabilitas instrumen penelitian ini yang merujuk kepada pendapat Nunnally (1967) dalam buku Ghozali, (2011) suatu konstruk atau variabel dikatakan reliable jika memberikan nila cronbach alpha >
0,60.
4.5.3 Uji Asumsi Klasik
Ada beberapa pengujian yang harus dijalankan terlebih dahulu untuk menguji apakah model yang dipergunakan tersebut mewakili atau mendekati kenyataan yang ada. Untuk menguji kelayakan model regresi yang digunakan maka harus terlebih dahulu memenuhi uji asumsi klasik. Terdapat tiga jenis pengujian pada uji asumsi klasik ini, diantaranya:
4.5.3.1 Uji Normalitas
Menurut Imam Ghozali (2013;160) uji normalitas bertujuan untuk menguji Apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa Uji T dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal.
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sifat distribusi data penelitian yang berfungsi untuk mengetahui apakah sampel yang diambil normal atau tidak dengan menguji sebaran data yang dianalisis. Dalam model regresi linier, asumsi ini ditunjukan oleh nilai error yang berdistribusi normal. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistic. Pengujian normalitas data- data menggunakan Test of Normality Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS.
Dalam penelitian ini digunakan uji satu sampel Kolmogorov Smirnov untuk menguji normalitas model regresi. Dasar pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasarkan probabilitas (Asymtotic Significance), yaitu:
1. Jika probabilitas > 0,05 maka distibusi dari model regresi adalah normal.
2. Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah tidak normal.
Cara untuk mendeteksi normalitas adalah dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut:
Jika data (titik) menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Jika data (titik) menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
4.5.3.2 Uji Heterokedastisitas
Heteroskedastisitas adalah adanya ketidaksamaan variance dari residual suatu penelitian ke penetian yang lain. Untuk menguji ada atau tidaknya
48
heteroskedastisitas, dalam suatu penelitian, maka menggunakan grafik plot antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dengan residualnya (SRESID).
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui bahwa pada model regresi apakah terdapat penyimpangan variabel bersifat konstan atau tidak. Salah satu cara untuk mengetahui adanya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara variabel dependen (terikat) dengan residualnya. Menurut Edison (2016: 85) untuk melihat terjadinya gejala homokedatisitas atau terjadi gejala heteroskedatisitas dapat dilihat pada gambar Scatterplots bahwa pola residual menyebar dan terpencar tidak membentuk pola tertentu, dengan demikian tidak terjadi gejala Homokedatisitas dan persamaan regresi memenuhi asumsi Heteroskedastisitas.
Deteksi adanya heteroskedastisitas dengan melihat kurva heteroskedastisitas atau diagram pencar (chart), dengan dasar pemikiran sebagai berikut :
Jika titik-titik terikat menyebar secara acak membentuk pola tertentu yang beraturan (bergelombang), melebar kemudian menyempit maka terjadi heteroskedostisitas.
Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar baik di bawah atau di atas 0 ada sumbu Y maka hal ini tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.5.3.3 Uji Multikolinieritas
Menurut Singgih Santoso (2012;234) Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah sebuah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen,. Jika terbukti ada multikolinieritas, sebaiknya salah satu dari variabel independen yang ada dikeluarkan dari model itu, lalu pembuatan model regresi diulang kembali.
Menurut Gurajati (2012;432) untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinieritas dapat dilihat pada berasar Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah
mempunyai angka tolerance mendekati 1. Batas VIF adalah 10, jika nilai VIF bi bawah 10, maka tidak terjadi gejala multikolinieritas. Menurut Singgih Santoso (2012;236) rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
𝑉𝐼𝐹 = 1
𝑇𝑜𝑟𝑒𝑙𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑇𝑜𝑙𝑒𝑟𝑎𝑛𝑐𝑒 = 1 𝑉𝐼𝐹
4.5.4 Analisis Regresi Linear Berganda
Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variable terikat, maka proses analisis regresi yang dilakukan adalah menggunakan analisis regresi berganda karena dalam penelitian ini terdapat lebih dari satu variable bebas yang akan diuji.
Menurut Sugiyono (2017:275) menyebutkan bahwa analisis regresi linier berganda adalah sebagai berikut :
"Analisis regresi ganda digunakan oleh peneliti, bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variable dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya). Jadi analisis regresi ganda akan dilakukan bila jumlah variabel independennya minimal 2."
Tujuan analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah untuk menerangkan besarnya pengaruh pengetahuan pajak dan penerapan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
Sehingga akan diketahui variabel mana yang paling besar pengaruhnya terhadap kepatuhan wajib pajak. Model persamaan analisis linear berganda adalah sebagai berikut:
𝑌 = 𝛼 + 𝛽1𝑥1 + 𝛽2𝑥2 + 𝑒
Keterangan :
Y = Subjek variabel terikat yang diramalkan (Kepatuhan Wajib Pajak) α = Koefisien konstanta
𝛽1, 𝛽2 = Koefisien regresi
X1 = Variabel independen (Pengetahuan Perpajakan) X2 = Variabel dependen (Sanksi Perpajakan)
50
𝑒 = Tingkat kesalahan (error) / pengaruh faktor lain 4.5.5 Analisis Koefisien Determinasi
Menurut Siregar (2013: 252) koefisien determinasi adalah:
“Koefisien determinasi adalah angka yang menyatakan atau digunakan untuk mengetahui kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh sebuah variabel X atau lebih terhadap variabel Y”.
Besarnya koefisien determinasi dapat ditentukan dengan rumus berikut:
Keterangan :
d = Koefisien Determinasi r = Koefisien Korelasi 4.6 Pengujian Hipotesis
Hipotesis menurut Nuryaman dan Veronica (2015;18) menjelaskan hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian berdasarkan kerangka teori, yang harus di uji benar atau tidaknya secara empiris melalui pengumpulan data/fakta.
Hipotesis merupakan pernyataan tentang dugaan terdapatnya hubungan secara logis antara dua atau lebih variabel penelitian, yang di ungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hubungan tersebut ditarik berdasarkan kerangka teori yang teah dirumuskan sebelumnya.
Pengujian hipotesis yang dilakukan adalah pengujian Hipotesis nol (H0) dan Hipotesis alternative (Ha). Hipotesis nol (H0) menyatakan koefisien korelasinya tidak berarti/tidak siginifikan, sedangkan hipotesis alternative (Ha) menyatakan bahwa koefisien korelasinya berarti/signifikan. Perumusan Hipotesis Nol (H0) dan Hipotesis Alternatif (Ha).
4.6.1 Uji Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk menguji hipotesis secara parsial guna menunjukkan seberapa jauh pengaruh tiap variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Pengujian yang dilakukan adalah uji parameter
Kd = r2 x 100%
(uji korelasi) dengan menggunakan uji t-statistik. Hal ini membuktikan apakah terdapat pengaruh antara masing-masing variabel independen (X) dan variabel dependen (Y).
Dengan menggunakan tingkat signifikansi 5% dan degree of freedom (df) untuk uji pengaruh df = n-2, dapat dilihat nilai ttabel untuk pengujian dua pihak selanjutnya ditetapkan nilai thitung dengan rumus sebagai berikut:
Dengan df = n – 2
Keterangan :
t = Nilai Uji t
𝑟 = Koefisien korelasi pearson 𝑟2 = Koefisien determinasi
n = Jumlah sampel
Jika Rhitung > Ttabel berarti H0 ditolak, dengan demikian H1 diterima.
Jika Rhitung < Ttabel berarti H0 diterima, dengan demikian H1 ditolak.
Jika hasil pengujian statistik menunjukan Ho ditolak, maka berarti variabel-variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Tetapi apabila Ho diterima, maka berarti variabel-variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan.
Dalam pengujian hipotesis ini, penulis menggunakan uji signifikan atau uji parameter r, maksudnya untuk menguji tingkat signifikan maka harus dilakukan pengujian parameter r. dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan:
1. Hipotesis 1
H0 : r = 0, artinya tidak ada pengaruh antara pengetahuan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak.
H1 : r = 0, artinya ada pengaruh antara pengetahuan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak
2. Hipotesis 2
𝑡 = 𝑟√n − 2
√1 − 𝑟2
52
H0 : r = 0, artinya tidak ada pengaruh antara penerapan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak
H1 : r = 0, artinya ada pengaruh antara penerapan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak.
4.6.2 Uji Simultan (Uji F)
Uji statistik F merupakan pengujian hubungan regresi secara simultan yang bertujuan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen bersama- sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen..
Pengujian yang dilakukan ini adalah dengan uji parameter 𝛽 (uji korelasi) dengan menggunakan uji F-statistik. Untuk menguji variabel bebas secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel terikat digunakan uji f. Menurut Sugiyono (2013;257) dirumuskan sebagai berikut:
𝐹
ℎ = 𝑅 2 /𝐾 (1−𝑅2 ) / (𝑛−𝑘−1)Keterangan :
𝐹ℎ = Nilai uji F
𝑅 2 = Koefesien korelasi berganda K = Jumlah Variabel Independen n = Jumlah anggota sample
Distribusi F ditemukan oleh derajat kebebasan pembilang dan penyebut, yaitu n – k – 1 dengan menggunakan tingkat kesalahan 0,05 untuk uji F, kriteria yang dipakai adalah:
H0 ditolak bila 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙
H0 diterima bila 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙
Bila Ho diterima, maka dapat diartikan bahwa signifikannya suatu pengaruh dari variabel-variabel independen secara bersama-sama atas suatu variabel dependen dan penolakan H0 menunjukan adanya pengaruh yang signifikan dari variabel-variabel independen yang secara bersama-sama terhadap suatu variabel dependen.
Dalam menerentukan hipotesis simultan antara variabel bebas pengetahuan pajak dan penerapan sanksi apajak terhadap variabel terikat kepatuhan wajib pajak, hipotesis statistik dari penelitian ini adalah:
H0 : 𝛽 = 0, artinya tidak ada pengaruh antara pengetahuan pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak.
H0 : 𝛽 ≠ 0, artinya ada pengaruh antara pengampunan pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak.