KARYA ILMIAH TERAPAN
HALAMAN JUDUL
OBSERVASI KEADAAN CUACA DI KM. TANTO BAGUS
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran
STEFRI HANDRIANUS PANTOW NIT. 04 16 025 1 41
AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III
POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA TAHUN 2020
KARYA ILMIAH TERAPAN PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Stefri Handrianus Pantow Nomor Induk Taruna : 04.16.025.1.41
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul :
OBSERVASI KEADAAN CUACA DI KM. TANTO BAGUS
Merupakan karya asli, seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri. Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.
SURABAYA, 2020
Stefri Handrianus Pantow
PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN
Judul : OBSERVASI KEADAAN CUACA DI KM. TANTO
BAGUS
Nama Taruna : STEFRI HANDRIANUS PANTOW
NIT : 04.16.025.1.41
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III
Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk di seminarkan
SURABAYA, ………..……..
Menyetujui:
Pembimbing I
DWI HARYANTO, M.M.
Penata Tk. I (III/d) NIP. 197511252002121006
Pembimbing II
DYAH RATNANINGSIH, S.S., M.Pd.
Penata (III/d) NIP.198003022005022001
Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika
DAVIQ WIRATNO, S.Si.T., M.T., M.Mar.
Penata Tk.I (III/d) NIP.197901072002121001
Penguji II
DWI HARYANTO, M.M.
Penata Tk. I (III/d) NIP. 197511252002121006
PENGESAHAN
KARYA ILMIAH TERAPAN
OBSERVASI KEADAAN CUACA DI KM. TANTO BAGUS Disusun dan diajukan oleh;
STEFRI HANDRIANUS PANTOW NIT. 04.16.025.1.41/N
Ahli Nautika Tingkat III (DIPLOMA - III) Telah dipresentasikan di depan Panitia Ujian KIT
Politeknik Pelayaran Surabaya Pada tanggal, 4 Maret 2020
Menyetujui:
Mengetahui : Penguji I
SEMUEL D. PARENUNGAN, S.H.,M.H.
Penata (III/c)
NIP. 197404261998081001
Penguji III
DYAH RATNANINGSIH, S.S., M.Pd.
Penata (III/d) NIP.198003022005022001
Ketua Jurusan Nautika
DAVIQ WIRATNO, S.Si.T.. M.T., M.Mar.
Penata (III/c) NIP. 197901072002121001
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala kuasa, berkat, rahmat, dan anugrah-Nya yang telah Ia berikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini dengan mengambil judul :
“OBSERVASI KEADAAN CUACA DI KM. TANTO BAGUS”
Dalam usaha menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini, dengan penuh rasa hormat dan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan dorongan serta petunjuk yang sangat berarti.
Untuk itu perkenankanlah pada kesempatan ini saya sampaikan ucapan terima kaih kepada yang terhormat :
1. Capt. Heru Susanto, M.M. selaku Direktur Politeknik Pelayaran Surabaya yang telah memberikan kemudahan dalam menuntut ilmu di Politeknik Pelayaran Surabaya.
2. Bapak Daviq Wiratno, S.Si.T., M.T., M.Mar. selaku Ketua Jurusan Nautika Politeknik Pelayaran Surabaya yang telah memberi kemudahan dan memfasilitasi dalam penulisan Karya Ilmiah Terapan ini.
3. Bapak Dwi Haryanto, M.M. selaku pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya dan dengan sabar memberikan dukungan, semangat serta bimbingan dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini.
4. Ibu Dyah Ratnaningsih, S.S., M.Pd. selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya dan dengan sabar memberikan dukungan, semangat serta bimbingan dalam menyelesaikan Karya Ilmiah Terapan ini.
5. Kepad Yth, seluruh Dosen Politeknik Pelyaran Surabaya, yang telah memberikan Ilmu serta bimbingannya selama belajar.
Penulis sangat menyadari bahwa di dalam karya ilmiah terapan ini masih banyak terdapat kekurangan, baik dalam hal penyajian materi maupun teknik penulisannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun dan dapat digunakan untuk menyempurnakan karya ilmiah terapan ini.
Akhir kata penulis berharap semoga karya ilmiah terapan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, dan bagi penulis khususnya dan untuk lembaga pendidikan Politeknik Pelayaran Surabaya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk dan lindungan dalam melakukan penelitian.
Surabaya, 2020
Stefri Handrianus Pantow
ABSTRAK
STEFRI HANDRIANUS PANTOW, Obervasi Keadaan Cuaca Di KM.
Tanto Bagus. Dibimbing oleh Bapak Dwi Haryanto, M.M. dan Ibu Dyah Ratnaningsih, S.S., M.Pd.
Sebagai pelaut, mungkin akan menjumpai kondisi cuaca yang tidak bersahabat, dan kondisi ini sering merepotkan bagi para pelaut. Sampai pada saat ini masih ada kecelakaan yang menimpah para pengguna transportasi laut, tidak hanya para penumpangnya yang merasa rugi akan hal tersebut, melainkan akan merugikan banyak pihak seperti, perusahaan pelayaran, para awak kapal, rugi dalam hal harta benda dan lain sebagainya. Untuk mencegah hal itu terjadi para pelaut diwajibkan harus mengobservasi keadaan cuaca saat di kapal, baik di waktu sandar, berlabuh jangkar, ataupun berlayar.
Maka dari itu, dalam karya ilmiah trepan ini, penulis akan membahas tentang bagaimana cara melakukan observasi keadaan cuaca di atas kapal, dan seperti apa cuaca yang baik dan buruk di laut. Karena faktor cuaca sangat berpengaruh terhadap pelayaran terlebih khusus dalam hal keselamatan, maka dengan begitu para perwira harus mengetahui tindakan atau langkah apa yang paling benar yang harus di lakukan. Penelitian ini dilaksanakan saat prala diatas kapal untuk memperoleh data primer melalui riset lapangan, dengan melakukan pengamatan langsung pada obyek yang diselidiki dan wawancara dengan awak kapal. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan proposal ini adalah untuk mengetahui Observasi Keadaan Cuaca Di Atas KM. Tanto Bagus serta mengetahui seperti apa keadaan cuaca yang baik dan buruk di laut.
Dari penelitian yang telah penulis buat kita dapat mengetahui cara melakukan observasi keadaan cuaca di atas kapal dapat dilakukan dengan cara visual dan instrumental, dan setelah melakukan observasi atau pengamatan cuaca di atas kapal, kita bisa mengetahui seperti apa kondisi cuaca yang baik dan buruk di laut.
Kata kunci : Observasi, Cuaca, di Laut
ABSTRACT
STEFRI HANDRIANUS PANTOW, Obervasi Weather Conditions Aboard the Ship. Guided by Mr. Dwi Haryanto, M.M. and Mrs. Dyah Ratnaningsih, S.S., M.Pd.
As a seafarer, it may find weather conditions that are unfriendly, and often troublesome for sailors. Until now there are still many accidents that abound the users of sea transportation, not only the passengers who will lose these things, will also harm many such parties, shipping companies, crew, and so forth. To keep it going the sailors are required to observe the weather conditions on the ship, either in time dock, anchored anchor, or sail.
Therefore, in trepan's scientific work, the writer will discuss about how to observe weather conditions on board, and what the weather is good and bad at sea.
Because weather factors are so important to the special voyage in this case, then the officers must know what actions or steps are really appropriate to do. This study was conducted to improve primary data through field research, by observing the objects investigated and interviewing with the crew. The goal to be addressed in this application is to know the Observation of Weather Condition Aboard the Ship, to find out what good and bad weather is at sea.
From the research that the author has made, we can find out how to observe weather conditions on a ship can be done by visual and instrumental ways, and after observing or observing weather on a ship, we can find out what the weather conditions are good and bad at sea.
Keywords : Observation, Weather, at Sea
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN SEMINAR ... iii
PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
BAB I………...1
PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4 Tujuan Penelitian ... 3
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
BAB II………..5
TINJUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Review Penelitian Sebelumnya ... 5
2.2 Landasan Teori ... 6
2.2.1 Observasi ... 6
2.2.2 Cuaca ... 7
2.2.3 Unsur – unsur cuaca dalam kegiatan pelayaran ... 8
2.2.4 Cara melakukan observasi cuaca ... 23
2.2.5 Alat bantu observasi cuaca di atas kapal ... 23
2.25 Tabel Perhitungan Skala Beaufort. ... 26
2.3 KERANGKA PEMIKIRAN ... 29
Tabel 2.3 kerangka pemikirn... 29
BAB III………...30
METODE PENELITIAN ... 30
3.1 Jenis Penelitian ... 30
3.1.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 30
3.1.2 Jenis dan Sumber Data ... 31
3.2 Pemilihan Informan ... 32
3.3 Teknik Analisis ... 33
BAB IV.. ... Error! Bookmark not defined. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... Error! Bookmark not defined. 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 4.1 Tabel Struktur Organisasi Di Atas Kapal... Error! Bookmark not defined. 4.2 HASIL PENELITIAN ... Error! Bookmark not defined. 4.2.1 Tabel Wawancara ... Error! Bookmark not defined. BAB V………Error! Bookmark not defined. PENUTUP ... Error! Bookmark not defined. 5.1 KESIMPULAN ... Error! Bookmark not defined. 5.2 SARAN ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ... 35
DAFTAR TABEL
Halaman 2.25 Tabel Perhitungan Skala Beaufort 25 2.3 Kerangka Pemikiran 29 4.1 Tabel Struktur Organisasi Di Atas Kapal 36
4.2.1 Tabel Wawancara 38
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
Pada penelitian ini penulis akan membahas tentang cuaca, jadi pertama – tama kita harus mengetahui apa itu cuaca, dan hal – hal yang berhubungan dengannya. Cuaca merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap suatu pelayaran, dan di laut terdapat bermacam – macam kondisi cuaca, baik itu cuaca buruk maupun cuaca baik. Sedangkan iklim adalah suatu bagian yang lebih besar dari cuaca tapi sangat berkaitan dengan cuaca karena iklim adalah kondisi umum cuaca di suatu daerah dalam jangka waktu yang panjang, dan iklim terbagi menjadi empat yaitu, iklim tropis, iklim subtropics, iklim sedang, dan iklim dingin. Maka dari itu para perwira yang bekerja di atas kapal harus memiliki kemampuan yang sudah benar – benar teruji, karena mereka akan mendapat tanggung jawab yang besar dari perusahaan, dan dipercaya mampu mengemudikan kapal, hingga sampai pada tujuannya dengan aman dan selamat.
Para pelaut biasanya akan melihat perkiraan cuaca di daerah laut mana yang akan dilayari, agar mereka bisa mempersiapkan diri sebelum melewati daerah tersebut.
Namun ada tantangan yang cukup besar bagi para perwira di atas kapal untuk mengemudikan kapal hingga sampai pada tujuannya dengan aman, dan selamat, yaitu tantangan dari alam. Alam adalah ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa, jadi kita sebagai manusia, hanya bisa berdoa, dan mencari tahu apa dan bagaimana, jika terjadi kondisi cuaca yang buruk. Faktor alam adalah salah satu faktor yang dapat diantisipasi dan dipersiapkan kedatangannya, seperti kondisi, ombak, angin dan hujan, kabut dan awan, juga berbagai jenis es yang bisa mengganggu aktifitas bagi seorang pelaut yang cenderung berhadapan dengan
alam dalam kesehariannya, dan dapat menggangu kapal yang sedang ia oprasikan, juga dapat mengancam keselamatan pelayarannya termasuk dapat mengancam nyawanya dan seluruh crew, penumpang, dan muatan, bila mengambil langkah yang salah dalam menghadapinya.
Kondisi cuaca saat ini sangat sulit dipastikan, maka dari itu sebagai perwira di atas kapal, harus melakukan observasi keadaan cuaca, seperti pergerakan awan, kecepatan angin, tekanan udara, dan lain-lain, serta dapat memperkirakan tanda – tanda cuaca yang akan memburuk, agar bisa mengambil keputusan yang tepat, karena cuaca yang buruk bisa menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.
Sebagai contoh kecelakaan kapal akibat cuaca buruk yang pernah terjadi di Indonesia yang penulis kutip dari berita kompas.com yang ditulis oleh Achmad Faizal (2014) yaitu, antara KM. Tanto Hari dan MT. Sirius di alur pelayaran barat Surabaya pada 31 januari 2014 lalu, akibatnya KM. Tanto Hari tenggelam setelah bertabrakan dengan MT. Sirius. Banyak kerugian yang dialami akibat kejadian tersubut, untungnya 21 crew KM. Tanto Hari bisa selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Maka dari itu, sebagai perwira di atas kapal, harus melakukan observasi atau pengamatan keadaan cuaca di atas kapal dengan tujuan untuk mengetahui apa langkah selanjutnya, dan tindakan apa yang akan di lakukan oleh perwira di atas kapal jika mengetahui akan ada bahaya cuaca buruk, agar bisa terhindar dari kerugian – kerugian, baik materi ataupun nyawa .
Dikarenakan cuca juga merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan di laut maka dalam penelitian ini penulis akan mengangkat, dan membahas tentang, observasi keadaan cuaca di atas kapal, sehingga bisa memprediksi tanda – tanda akan terjadinya cuaca buruk, agar para awak kapal bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi tersebut, sehingga dapat
mengurangi resiko terjadinya kecelakaan di laut akibat cuaca. Maka dipilihlah sebuah judul yaitu:
OBSERVASI KEADAAN CUACA DI KM. TANTO BAGUS.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang membahas tentang observasi atau pengamatan cuaca di atas kapal, dan terjadinya kecelakaan pelayaran akibat cuaca buruk, maka dapat di rumuskan permasalahan yang ada, adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara melakukan observasi cuaca di atas kapal ? 2. Seperti apa kondisi cuaca yang baik dan buruk di laut ? 1.3 Batasan Masalah
Dalam batasan masalah ini penulis membatasi pembahasan hanya mengenai cara melakukan observasi cuaca di atas kapal, dan seperti apa kondisi cuaca yang baik dan buruk di laut.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui cara mengobservasi cuaca di atas kapal.
2. Mengetahui seperti apa kondisi cuaca yang baik dan buruk di laut.
1.5 Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis :
Ini di harapkan dapat memberikan kontribusi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya dalam dunia pendidikan maritim. Pengembangan tersebut berkaitan dengan cuaca yaitu, observasi keadaan cuaca di atas KM.
Tanto Bagus 2. Secara Praktis :
Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dan referensi terhadap organisasi maritime dan para pelaut sebagai komponen pengetahuan maritime. Oleh karena itu, hasil penelitian diharapkan menjadi salah Satu bahan pengembangan ilmu maritime dibidang cuaca, khususnya dalam mengobservasi keadaan cuaca di atas KM. Tanto Bagus.
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Review Penelitian Sebelumnya
Dalam penelitian Karya Ilmiah Terapan ini penulis mengambil perbandingan dengan karya ilmiah sebelumnya, yang membahas tentang cuaca dalam kegiatan pelayaran. Dari karya ilmiah sebelumnya tersebut dapat dijadikan bahan referensi bagi penulis dalam melengkapi literatur pembahasan penelitian, berikut riview penelitian terdahulu yang telah penulis baca menurut Soejardi Wh (2010) yang berjudul, Cuaca Dalam Kegiatan Pelayaran. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam kegiatan pelayaran, dan keadaan cuaca merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikn, karena cuaca sangat berpengaruh pada keselamatan pelayaran. Unsur cuaca laut dan fenomena cuaca laut yang penting bagi kegiatan kelautan pada umumnya seperti angin dan gelombang, banglas (visibility), awan dan hujan, suhu udara dan suhu laut, arus laut, pertumbuhan es, es laut, gunung es. Kita bisa memperkirakan keadaan cuaca berdasarkan informasi dari badan meteorology, dan pengamatan unsur – unsur cuaca di sekitar. Fungsi utama dari informasi meteorologi bagi pelayaran adalah memberi petunjuk pemilihan jalan agar dapat berlayar dengan aman, nyaman, selamat sampai tujuan, dan tepat waktu.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Observasi
Berdasarkan judul penelitian yang penulis ambil yaitu, observasi keadaan cuaca di atas kapal, maka penting untuk mengetahui arti dan makna dari observasi. Berdasarkan yang penulis baca dari kutipan artikel, menurut Nasution arti observasi yaitu, dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Maka karena penelitian yang penulis ambil, membahas tentang cuaca, observasi menjadi hal yang sangat penting di lakukan. Dalam penelitian ini, penulis akan membahas tentang mengobservasi keadaan cuaca, tapi sebelum itu, karena observasi berarti melakukan aktivitas terhadap suatu proses atau objek, untuk memahami suatu fenomena, yang berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk dapat menemukan informasi – informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian, maka penting untuk mengetahui cara melakukan observasi. Pada artikel yang diterbitkan oleh Salam Edukasi (2014) penulis mengutip beberapa cara melakukan observasi yaitu:
1) Menentukan objek yang akan diobservasi. Tentunya kita harus mengetahui dulu, apa yang akan kita observasi, dan dalam penelitian ini penulis akan membahas tentang cuaca.
2) Mencari pedoman observasi sesuai lingkup objek yang akan diobservasi.
Pedoman observasi dibutuhkan, karena dalam panduan observasi itu, sudah terdapat hasil observasi sebelumnya, agar penulis bisa lebih dalam
lagi memahami dan mengetahui tentang objek penelitian yang akan penulis bahas, yaitu tentang cuaca.
3) Menentukan letak objek yang akan di observasi. Dalam hal ini, penulis akan melakukan observasi cuaca di atas kapal, pada saat penulis melakukan praktik laut.
4) Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya. Hal ini sangat penting dilakukan, untuk mendapatkan hasil observasi.
2.2.2 Cuaca
Setelah penulis membahas tentang pengertian observasi, dan telah mengetahui cara melakukan observasi, penulis akan membahas tentang apa yang akan diobservasi yaitu keadaan cuaca. Penting mengetahui terlebih dahulu tentang apa itu cuaca, sebelum melakukan observasi tentang keadaan cuaca.
Penulis telah membaca beberapa artikel yang menjelaskan tentang cuaca menurut Winarso (2003), dan dijelaskan bahwa cuaca adalah suatu keadaan rata – rata udara sehari – hari di suatu tempat tertentu yang meliputi wilayah yang sempit dalam jangka waktu yang singkat. Keadaan dari cuaca mudah berubah – ubah, karena disebabkan oleh unsur – unsur cuaca yakni, radiasi matahari, suhu udara, tekanan, angin, penguapan, dan keadaan awan.
Penulis juga pernah membaca dari artikel Wikipedia yang menjelaskan Cuaca yaitu, seluruh fenomena yang terjadi di atmosfer Bumi atau sebuah planet lainnya. Cuaca biasanya merupakan sebuah aktivitas
fenomena dalam waktu beberapa hari. Cuaca rata-rata dengan jangka waktu yang lebih lama dikenal sebagai iklim. Aspek cuaca ini diteliti lebih lanjut oleh ahli klimatologi. Cuaca terjadi karena suhu dan kelembaban yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Perbedaan ini bisa terjadi karena sudut pemanasan matahari yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya, karena perbedaan lintang bumi. Sumbu bumi yang miring dibanding orbit bumi terhadap matahari membuat perbedaan cuaca sepanjang tahun untuk daerah sub tropis hingga kutub. Selama ribuan tahun perubahan orbit bumi juga memengaruhi jumlah dan distribusi energi matahari yang diterima oleh bumi dan memengaruhi iklim jangka panjang.
Cuaca di bumi juga dipengaruhi oleh hal-hal lain yang terjadi di angkasa, di antaranya adanya angin matahari atau disebut juga star's corona.
2.2.3 Unsur – unsur cuaca dalam kegiatan pelayaran
Seperti yang telah penulis terangkan tadi dalam cara melakukan observasi, bahwa bila ingin mengobservasi suatu objek, kita harus lebih mengenal objek yang akan kita teliti itu. Maka dari itu penulis akan membahas tentang unsur – unsur cuaca dalam kegiatan pelayaran karena akan berpengaruh pada observasi cuaca yang akan penulis lakukan saat praktik di atas kapal. Menurut Soerjadi Wh (2010), ada beberapa informasi cuaca yang harus di ketahui agar bisa mengantisipasi terjadinya kerugian, ataupun kecelakaan karena faktor cuaca saat berlayar :
1. Angin dan gelombang.
Dikatakan oleh Soerjadi Wh (2010), bahwa, kapal-kapal besar untuk pelayaran di laut dalam umumnya telah dirancang tahan angin, gelombang, dan badai. Namun demikian tidak kecil kemungkinannya ada
keadaan ekstrim yang melampaui batas toleransi dan batas ketahanan yang digunakan. Umumnya kapal-kapal yang digunakan untuk pelayaran internsional atau pelayaran di laut dalam telah dirancang tahan kepada gelombang yang tingginya kurang dari dua meter. Oleh karena itu bagi kapal-kapal di laut dalam, informasi yang diperlukan adalah gelombang yang tingginya lebih dari dua meter. Tetapi bagi kapal-kapal yang beroperasi di laut lepas pantai umumnya lebih kecil dan perlengkapannya lebih sederhana dibandingkan kapal yang digunakan untuk pelayaran di laut dalam. Oleh karena itu informasi gelombang yang lebih kecil dari dau meter juga diperlukan.
2. Awan dan Hujan.
Awan dan hujan termasuk hal yang penting untuk diperhatikan, agar bisa mengetahui perkiraan badai, karena awan dan hujan saling berkaitan, dan kondisi yang harus diperhatikan antara lain, hujan lebat, hujan salju, dan hujan beku atau hujan yang curahannya cepat membeku setelah menyentuh permukaan benda. Kita bisa memperirakan keadaan cuaca dengan memperhatikan jenis dan bentuk awan. Awan terbagi dalam 4 jenis pengelompokan seperti,
A. Awan Tinggi. jenis awan tinggi merupakan uap air yang meguap akibat suhu panas dan mengembun kemudian terbentuk dan menjadi awan pada ketinggian diatas 20.000 kaki diatas permukaan laut. Kelompok jenis jenis awan yang tergolong awan tinggi ini tidak serta merta terbentuk diatas ketinggian demikian. Namun, pada setiap wilayah dengan suhu dan iklim tertentu. Jenis jenis awan tinggi ini akan terbentuk dan menjadi awan pada ketinggian
berkisar antara 6 – 18 km DPL utnuk iklim tropis, 5 – 13 km DPL pada iklim sedang. Kemudian, akan menjadi awan pada ketinggian 3 – 8 KM DPL pada wilayah yang bersuhu dan beriklim rendah seperti wilayah kutub. Jenis awan tinggi ini pula terbagi-bagi tergantung dari jenis dan macam-macam awan tinggi antara lain :
Gambar 1. Awan Cirrus. ( Ci )
Awan cirrus merupakan awan yang merupakan bagian dari awan tinggi yang berbentuk seperti serat filamen halus. Awan jenis ini terdiri dari gumpalan uap air yang berubah menjadi kristal air dikarenakan suhu dan iklim pada ketinggian tersebut dingin dam menyebabkan awan ini terbentuk. Selain berbentuk melingkar, awan jenis ini juga kadang berbentuk horizontal dan akan tampak terlihat jelas ketika awan jenis ini terkena sinar matahai dan meiliki background biru langit. Ciri-ciri awan sirrus ini antara lain :
a. Merupakan awan yang meiliki bentuk sisi yang tidak jelas atau samar-samar.
b. Awan ini terbentuk dari uap air yang berubah menjadi kristal air dikarenakan suhu yang dingin pada ketinggian langit.
c. Awan jenis ini tidak akan menimbulkan hujan.
d. Awan sirrus umumnya terbentuk dilangit dengan ketinggain antara 6 km – 18 km DPL.
e. Dengan bentuk yang halus. awan ini akan berbentuk seperti serat halus dan akan nampak seperti bulu burung yang masih muda.
Gambar 2. Awan Cirrocumulus ( Ci Cu )
Awan sirokumulus merupakan jenis awan tinggi yang hampir sama seperti dengan awan Sirus. Tetapi, memiliki bentuk yang terputus-putus dan tampak seperti jajaran pasir pantai ataupun seperti seperti gorombolan domba yang bergerombol menjadi satu kerumunan. Pembentukan janis awan ini ternyata meiliki masa estimasi dari awan sirokumulus terpaut cukup sebentar.Kemudian, dengan waktu dan perubahan suhu yang begitu cepat akan membuat awan sirokumulus berubah menjadi awan sirostratus.
Awan sirokumulus awan yang sama seperti dengan awan tinggi lainnya yaitu terdiri dari kumpulan kristal air yang membeku dan membentuk crystal es. Ciri-ciri awan sirokumulus antara lain :
a. Awan sirokumulus merupakan awan tinggi yang terbentuk di atas langit dengan kisaran terbentuk 6000 sampai dengan 12000 meter di atas permukaan laut.
b. Proses terjadinya awan sirokumulus terpaut cukup cepat dan akan kembali berubah menjadi awan cirrostratus.
Gambar 3. Awan Cirrostratus. ( Ci St )
Awan cirrostratus merupakan jenis awan yang bentuknya sama dengan sirostratus mulus dan Sirus. Namun, memiliki warna yang lebih kelabu dan berbentuk seperti serabut dan jalur-jalur tipis dan menyebar hampir ke seluruh dan penjuru langit. Dengan tekstur halus dan tipis awan sirostratus ini tampak lebih cerah dan bersinar lebih terang saat matahari posisi siang hari. Tidak hanya itu, ternyata awan sirostratus merupakan salah satu awan yang akan menampakan salah satu fenomena langit yang ketika hari dan awan sirostratus bertemu dengan matahari terik akan menimbulkan efek Halo atau yang kita biasa sebut dengan cincin matahari pada siang hari. Fenomena Halo ini biasa disebut dengan lingkaran bulat cincin yang ada di sekitar matahari ataupun bulan. Tetapi fenomena
ini hanya terjadi daerah yang memiliki iklim tropis khusus pada musim kemarau. Ciri-ciri awan Stratus antara lain :
a. Awan Stratus terbentuk atau berada pada ketinggian sekitar 6000 meter di atas permukaan laut.
b. Memiliki bentuk putih kelabu yang halus dan akan menutup seluruh permukaan langit .
c. Berbentuk seperti anyaman yang tidak teratur.
d. Merupakan awan yang menimbulkan efek halo pada saat iklim tropis.
e. Jenis awan Stratus merupakan jenis awan yang akan menimbulkan hujan gerimis yang terkadang kita rasakan hari yang panas.
B. Awan Sedang. Kelompok awan menengah merupakan kelompok awan yang terbentuk dan menjadi awan seutuhnya yang berada pada kawasan yang beriklim sedang.Kawasan beriklim sedang ini terletak pada ketinggian 2 – 7 KM atau pada daerah tropis terdapat pada ketinggian 2 sampai 8 km di atas permukaan laut. Awan jenis sedang ini terbagi atas dua jenis awan yang pertama adalah awan altocumulus, dan awan altostratus.
Gambar 4. Awan Altocumulus. ( A cu )
Awan altokumulus merupakan jenis awan yang terbentuk pada ketinggian sedang dan memiliki bentuk seperti butiran-butiran kecil dan berjumlah banyak. Kamu akan melihatnya seperti bola kapas yang menggulung satu demi satu. Jenis awan ini umumnya berwarna putih ataupun abu-abu dan berlapis-lapis bahkan bentuknya seperti serat-serat bulu burung. jenis awan ini akan sangat mudah dideteksi Ketika anda melihat kepada langit di pagi hari ataupun di sore hari yang senja. Banyak orang yang beranggapan bahwa awan altokumulus ini sama dengan awan sirokumulus. Tetapi, awan ini berbeda satu sama lain. Cara mengetahui perbedaan antara awan altokumulus dan awan sirokumulus bisa kalian lihat dengan warnanya. Awan altokumulus memiliki warna yang putih cerah . Sedangkan, awan sirokumulus merupakan jenis awan yang berwarna kelabu. jenis awan altokumulus akan sangat mudah ditemukan dengan jelas terlihat ketika berada di ketinggian tertentu seperti di atas gunung maupun di dekat rumah kamu. Dengan syarat ada angin kencang yang membawa massa udara yang relatif stabil dan kering. Sehingga,
awan altokumulus akan bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya sehingga dengan itu kamu dapat dengan mudah melihat Awan altokumulus tersebut. Ciri-ciri awan altocumulus :
a. Jenis awan altokumulus merupakan jenis awan yang terbentuk di antara 2000 sampai dengan 7000 meter di atas permukaan laut.
b. Bentuk awan ini kecil-kecil seperti bola-bola kapas bergandengan serta memiliki jumlah yang banyak.
Gambar 5. Awan Altostratus ( A St )
Awan altostratus merupakan awan yang berwarna abu-abu kebiruan dengan bentuk lebar surat dan menutupi langit-langit baik secara total maupun secara keseluruhan. Ketika awan ini berada di langit tempat kamu tinggal maka, akan menunjukkan matahari ataupun bulan nampak lebih terang. Namun, tidak menyilaukan Hal ini dikarenakan Awan tersebut mencegah ataupun menutupi sebagian dari pancaran sinar matahari sampai ke permukaan bumi.
Dengan bentuknya yang sedikit tebal dan berwarna abu-abu kebiruan hingga kelabu. Awan ini berpotensi mendatangkan hujan
ringan apabila kadar air yang berada di awan tersebut terakumulasi cukup tebal. Sehingga, ketika awan ini muncul akan ada pertanda.
Bahwa akan ada hujan ringan namun tidak begitu deras. Ciri-ciri awan altostratus:
a. Awan altostratus merupakan awan yang terbentuk pada ketinggian 2000 sampai dengan 7000 meter di atas permukaan laut.
b. Berpotensi menghasilkan hujan ringan jika jumlah awan ini berkumpul cukup banyak dan tebal.
c. Jenis awan altostratus memiliki warna abu-abu kebiruan dan meliputi hampir seluruh bagian langit atau dalam artian memiliki cakupan awan yang cukup luas.
d. Awan Altostratus umumnya terbentuk pada waktu sore hari dan malam hari kemudian akan menghilang pada saat matahari terbit.
C. Awan Rendah. Grup awan rendah merupakan jenis awan yang terbentuk
pada katinggian yang rendah pada kisaran di bawah 2000 meter diatas permukaan laut. Awan jenis inilah yang paling sering ditemui oleh para pendaki gunung ketika telah berada dipuncak.
Dengan pemandangan yang sangat indah layaknyanegeri diatas wana. Dalam pembagiannya, grup awan rendah ini dibagi atas 3 jenis awan yaitu
Gambar 6. Awan Strato Cumulus ( St Cu )
Awan stratokumulus merupakan jenis awan rendah yang seringkali kita dapat temui dengan mudah di daerah pantai. Dengan bentuk seperti bola yang menggulung-gulung serta memiliki lapisan yang tipis. Jenis awan ini perpotensi untuk mendatangkan hujan lokal jika massa air yang dimilikinya telah memenuhi kapasitas untuk menimbulkan hujan walau sangat jarang untuk terjadi. Disamping itu, awan stratocumulus memiliki yang seperti bola bola tipis. Tetapi, memiliki area persebaran yang cukup luas.
Bagi kamu yang berada di pantai akan dengan mudah menemukan awan jenis ini. Dengan warna atas putih cerah dan dibagian bawahnya berwarna kelabu cerah. Ciri-ciri awan stratocumulus antara lain :
a. Terlihat seperti kumpulan bola-bola putih yang sering menutpi permukaan langit.
b. Ketinggian awan stratokumulus berkisar antara 1500-2000 meter diatas permukaan laut.
c. Awan stratokumulus memiliki warna kelabu ataupun berwarna putih yang akan dengan mudah ditemukan pada waktu senja.
d. Munculnya awan ini menandakan atmosfer yang berada disekitar awan tersebut cenderung stabil. Sehingga, akamu akan meilihat awan tersebut diam dalam beberapa waktu.
Gambar 7. Awan Stratus. ( St )
Kamu sering mendapatkan kabut pagi di pagi hari. Atau saat berada dipuncak mapun daratan tinggi kabut menyelimuti. Maka, itu adalah awan startus. Awan stratus merupakan jenis awan yang terbentuk pada ketinggian sekitar 2000 m. Dengan lapisan yang melebar dan menbentang kesegala arah serta berlapis-lapis. Dengan tekstur awan yang tipis dan berlapis-lapis terkadang membuat jarak pandang menjadi sedikit terganggu. Disamping itu, ketika awan stratus ata kabut ini muncul dalam jumlah yang cukup banyak dan pada. Dapat membuat hujan ringan dalam skala lokal. Ciri-ciri awan stratus antara lain :
a. Berbentuk serat putih berwarna kelabu atau putih serta berlapis- lapis.
b. Lokasi terbentuknya cukup rendah dan memiliki persebaran kabut yang luas.
Gambar 8. Awan Nimbo Stratus ( Ni St )
Awan nimbostratus merupakan jenis awan yang merupakan hasil perubahan akibat penebalan dari awan sltostratus. Dengan bentuk yang tidak jelas kemudian ditambah tepi yang compang- camping membuat awan ini merupakan jenis awan yang menghasilkan hujan yang cukup ringan namun dalam jangka waktu yang lama. Hal ini dikarenakan warna awan ini berwanra kelabu gelap yang menandakan awan ini membawa massa air hujan yang cukup banyak. Tidak hanya itu, dengan penyebaran awan yang luas akan dapat membuat jarak pandang terganggu ketika terjadi hujan . Serta jenis awan ini dapat menghalangi sinar matahari. Ciri-ciri awan nimbostratus :
a. Awan ini terbentuk antara 600-3000 meter diatas permukaan laut.
b. Memiliki bentuk yang tidak menentu dan cenderung berubah- ubah.
c. Memiliki penyebaran dan cakupan langit yang cukup luas saat awan ini muncul.
d. Berpotensi menimbulkan hujan ringan dan sedang dalam waktu yang lama.
D. Awan Perkembangan Vertikal. Jenis awan yang terakhir berdasarkan grupnya dalah grup awan vertikal. Jenis awan ini merupakan jenis awan yang terletak pada ketinggian 500-1500m diatas permukaan laut. Dengan jarak pandang yang baik dan terlihat jelas terlebih lagi akan menampilkan pemandangan yang memukau ketika awan ini terlihat disiang hari dengan langit biru yang bersih. Beberapa macam awan yang berada dalam jenis grup ini andata lain :
Gambar 9. Awan Cumulus. ( Cu )
Awan cumulus merupakan jenis awan yang tumbuh berbentuk secara vertikal keatas. Dengan bentuknya seperti perkembangan kembang kol. Awan cumulus akan terus dan dapat bertambah besar pada bagian puncaknya yang dapat mencapai ketinggian 1000 m.
Dengan bentuk yang menggulung keatas, awan cumulas jika terkena sina matahari akan memberikan pemandangan langit yang memukau. Dikarenakan sinar matahari akan membuat awan cumulus terlihat cerah dan bercahaya pada satu sisinya. Dan pada sisi lainnya akan menghasilkan wana kelabu. Perpaduan gradasi warna inilah yang membuat awan cumulus sangat indah. Ciri-ciri awan cumulus :
a. Berbentuk seperti kembang kol yang terus berkembang dibagaian atasnya.
b. Berwarna putih cerah disatu sisi dan kelabu disis lain.
c. Memiliki ketinggian dan lebar awan sampai dengan 1000 meter.
Gambar 10. Awan Cumolonimbus ( Cu Ni )
Ketika awan ini muncul akan membawa pertanda akan datangnya angin ribut, hujan yang lebat, maupun dapat menjadi pertanda munculnya tornado seperti yang berada pada kawasan sub tropis. Dengan warna yang putih kelabu dan pada bagian bawahnya berwarna kelabu gelap. Awan cumolonimbus akan tumbuh dan
mebesar sampai pada ketiunggian 1000 kaki dan memiliki lebar 3500 kaki yang akan berbentuk seperti jaring raksasa. Ciri-ciri awan cumolonimbus:
a. Awan ini dapat ditemui dari ketinggian 2.000 – 16.000 meter diatas permukaan laut.
b. Berwarna putih pada bagian atas dan kelabu gelap pada bagian bawah.
c. Merupakan jenis awan yang yang menimbulkan hujan lebat.
3. Suhu udara dan suhu laut.
Suhu udara dan suhu laut harus diperhatikan karena suhu udara berkaitan dengan tekanan udara, Tekanan udara lebih rendah dari biasanya, maka kemungkinan besar akan turun hujan. Karena angin akan melaju ke tempat tersebut. Tekanan udara lebih tinggi dari biasanya, maka kemungkinan cuaca cerah. Ini karena angin bertiup dari daerah tersebut. Juga apa bila suhu tersebut berpotensi menimbulkan pembekuan dan pertambahan lapisaan es, jika berlayar di bagian iklim subtropis.
4. Pertambahan es (ice accretion)
Informasi akumulasi es sangat diperlukan utamanya bagi pelayaran di kawasan dingin, karena bertambahnya penumpukan es dapat menjadi hambatan dan mengurangi kecepatan kapal. Untuk itu informasi dan prakiraan laju akumulasi es sangat diperlukan. Es laut mempunyai potensi resiko tinggi bagi semua kapal. Informasi yang diperlukan adalah luas daerah es, gerakan lapisan es serta kondisinya, misalnya, bentangannya, keadaan terbelah-belah, dan sebagainya. Es di laut tidak
seluruhnya tampak di permukaan melainkan sebagian muncul di atas dan sebagian ada di dalam air laut. Bagian yang menonjol di atas permukaan disebut gunung es. Sering terjadi bahwa bagian yang ada di dalam air laut lebih luas dan volumenya lebih besar dibandingkan yang ada di atas permukaan. Karena bagian bawah tidak kelihatan maka keberadaannya sangat membahayakan kapal. Oleh karena itu informasi mengenai gunung es tersebut sangat diperlukan utamanya luasnya bagian bawah yang ada di dalam air laut.
2.2.4 Cara melakukan observasi cuaca
Untuk melakukan observasi keadaan cuaca di atas kapal kita harus mengetahui apa saja unsur – unsur cuaca itu, kemudian kita dapat melakukan observasi. Penulis membaca dari artikel yang berjudul Metode Observasi Cuaca yang ditulis oleh M. Arif Zainul Faud (2014) menerangkan bahwa cara untuk melakukan observasi cuaca dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode observasi visual yaitu observasi yang tidak menggunakan alat pengukur, tapi dilakukan hanya dengan menggunakan panca indra, dan observasi instrumental, ialah observasi yang dilakukan dengan bantuan alat
2.2.5 Alat bantu observasi cuaca di atas kapal
Selain menggunakan metode observasi visual yang hanya menggunakan panca indra, di atas kapal juga memerlukan alat untuk melakukan observasi keadaan cuaca seperti :
1. Thermometer
Thermometer adalah alat untuk mengukur suhu udara. Ada beberapa jenis thermometer, antara lain thermometer inframerah, thermometer alcohol, dan sebagainya, tapi yang paling banyak ditemui adalah thermometer air raksa. Di atas kapal wajib memiliki alat ini karena untuk mengukur suhu udara di suata tempat saat berlayar, untuk ditulis di log book. Cara kerjanya yaitu berdasarkan perubahan suhu di sekitar thermometer tersebut maka air raksa yang ada di dalam thermometer tersebut akan merespon dengan perubahan volume merkuri. Volume merkuri akan mengembang jika suhu naik, dan akan menyusut bila suhu turun. Satuan yang digunakan untuk tekanan udara adalah milibar (mb) 2. Barometer
Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan udara. Alat ini penting dan wajib ada di atas kapal, karena merupakan salah satu alat
untuk memprediksi keadaan cuaca, di mana tekanan udara yang tinggi menandakan cuaca yang bersahabat, sedangkan tekanan udara yang rendah menandakan cuaca kurang bersahabat. Barometer air raksa terdiri dari tabung kaca vertikal dengan kolom merkuri di dalamnya.
Ujung atas tabung kaca tertutup, sedangkan ujung tabung yang lain dibiarkan terbuka dan dibenamkan dalam wadah yang berisi air raksa.
Ketika tekanan atmosfer turun, kolom merkuri dalam tabung kaca juga turun.
3. Anemometer
Alat ini sangat penting digunakaan dalam pelayaran, karena anemometer berfungsih untuk mengukur kecepatan angin, dan dapat mengukur ketinggian gelombang laut dengan teteap berprinsip pada kecepatan angin. Selain mengukur kecepatan angin, anemometer juga digunakan untuk melihat arah angin. Untuk mengetahui besar gelombang lewat kekuatan angin, kita tinggal memasukan data kecepatan angin ke skala beaufort. Beaufort wind force scale adalah skala yang berkaitan dengan kecepatan angin untuk pengamatan kondisi di darat atau di laut. Skala ini ditemukan oleh Francis Beaufort pada tahun 1805. Beaufort mengukur kecepatan angin dengan menggambarkannya lewat kecepatan kapal dan gelombang laut.
Berikut skala kecepatan angin dengan beaufort.
2.25 Tabel Perhitungan Skala Beaufort.
No Beaufort
Kekuatan Angin Besar Ombak /
m
Kecepatan Angin / knot
Keada an Laut
0
Tenang 0 < 1 Sea
like a mirror
1
Sedikit Tenang 0 – 0,3 1 – 5 Smoot h sea
2
Sedikit Hembusan Angin
0,3 – 0,6 6 – 11 Smoot h to slight
3
Hembusan Angin Pelan
0,6 – 1,2 12 – 19 Slight sea
4
Hembusan Angin Sejuk
1 – 2 20 – 29 Slight sea to moder ate
5
Hembusan Angin Sedang
2 – 3 30 – 39 Mode
rate sea
6
Hembusan Angin Kuat
3 – 4 40 – 50 Mode
rate to rough
sea
7
Mendekati Kencang
4 – 5,5 51 – 61 Roug
h sea
8
Kencang 5,5 – 7 62 – 74 Roug
h to very
rough
9
Sangat Kencang 7 – 10 75 – 87 Roug h to high sea
10
Badai 9 – 12,5 88 – 101 High
sea
11
Badai Dahsyat 11.5 – 16
102 – 117 High to very high
12
Badai Topan > 14 > 118 Very high / Pheno menal
4. Navtex
Navtex adalah salah satu bagian dari alat GMDSS yang diwajibkan harus ada diatas kapal oleh SOLAS chapter IV regulation 7.
Navtex adalah singkatan dari navigation telex yakni suatu radio telex yang membroadcasting berita berita yang penting untuk navigasi kapal
di laut. Navtex adalah sebuah jaringan worldwide yang membroadcast berita peringatan navigasi, dan berita perkiraan cuaca di frequensi 518 khz dan 490 khz serta 4209,5 MHz ke seluruh kapal secara lansung dan otomatis. Selain frequensi tersebut ada pula negara – negara tertentu yang memboadcast berita Navtex lewat frequensi tertentu. Radius jangkau dari navtex bervariasi mulai dari radius 250 nm hingga 400 nm. Frequensi 518 khz adalah frekuensi yang menggunakan bahasa inggris sedang frequensi 490 khz dan 4209,5 khz menggunakan bahasa lokal, contohnya jika navtex stasiun tersebut berada di Prancis maka di frekuensi ini berita navtex akan disampaikan dalam bahasa Prancis.
5. Info BMKG
Selain menggunakan alat – alat di atas kapal, kita juga bisa mengetahui perkiraan cuaca lewat informasi dari BMKG. BMKG ialah singkatan dari Badan Meteoroloi Klimatologi dan Geofisika.
BMKG mempunyai status sebuah lembaga pemerintahan non departemen, yang dipimpin oleh seorang kepala badan. BMKG melaksanakan tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika sesuai dengan ketentuan undang – undang yang berlaku.
Tindakan yang dilakukan setelah mendapatkan hasil
observasi cuaca 2.3 KERANGKA PEMIKIRAN
Agar mempermudah penyusunan penelitian ini penulis menggunakan kerangka pemikiran berupa tabel, dan pada tabel kerangka pemikiran ini, penulis akan lebih menekankan tentang, observasi keadaan cuaca di atas kapal, karena sangat berpengaruh terhadap keselamatan pelayaran. Berikut kerangka pemikiran yang telah penulis buat.
Tabel 2.3 kerangka pemikirn
MASALAH
Observasi Keadaan Cuaca Di Atas Kapal, sangat mempengaruhi keselamatan pelayaran.
Teori observasi keadaan cuaca
Kegiatan di lapangan saat perwira di atas kapal melakukan observasi cuaca
Kesimpulan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Metode Kualitatif
Dalam karya tulis ini penulis akan menggunakan jenis Penelitian kualitatif, karena penulis pernah membaca suatu artikel yang menjelaskan tentang metode kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain menurut, (Bogdan dan Taylor,1975), dan dalam penelitian ini penulis mengambil fenomena tentang observasi keadaan cuaca di atas kapal. Penulis mengambil jenis metode kualitatif ini karena apa yang telah dijelaskan oleh Bogdan dan Taylor tentang metode kualitatif sangat cocok dengan penelitian yang penulis ambil.
3.1.1 Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu
Untuk mendapat data-data informasi yang berhubungan dengan observasi keadaan cuaca di atas kapal, penulis melakukan penelitian yang dilaksanakan selama penulis menjalankan pendidikan di Politeknik Pelayaran Surabaya dan ketika nanti akan melaksanakan praktek laut selama satu tahun.
2. Tempat
Sedangkan tempat penelitian dilakukan di atas kapal pada saat penulis melakukan praktik laut.
3.1.2 Jenis dan Sumber Data 1. Data Primer
Penulis telah membaca dari suatu artikel yang menjelaskan tentang data primer, dan arti data primer menurut Suryabrata (2003:84), yaitu, data langsung yang diperoleh peneliti dengan tujuan khusus. Berdasarkan keterangan di atas penulis mengambil kesimpulan data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Data tersebut menjadi data sekunder jika dipergunakan orang yang tidak berhubungan langsung dengan penelitian yang bersangkutan. Adapun penerapan data primer ini, penulis melaksanakan pengawasan dan penelitian terhadap objek penelitian yaitu ketika dilaksanakan praktek laut selama satu tahun di atas kapal dimana untuk mengobservasi keadaan cuaca di atas kapal.
1. Wawancara
Sehubungan dengan jenis dan sumber data yang membahas tentang data primer, wawancara adalah cara untuk mendapatkan data primer.
Menurut Riduwan (2003:56), wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara merupakan proses tanya jawab secara lisan yang dilakukan seseorang saling berhadapan dan saling menerima serta memberikan informasi. Wawancara sebagai alat
pengumpul data menghendaki adanya komunikasi langsung antara penelitian dengan sasaran penelitian. Dalam menyusun KIT ini, penulis melakukan wawancara nonformal dalam kegiatan sehari-hari dengan Nahkoda dan para Mualim, terutama Mualim 2 pada kapal yang bertanggung jawab dalam masalah navigasi juga dengan ABK sehingga dapat lebih meyakinkan pembaca juga sebagai bahan acuan didalam mendeskripsikan data dan mempermudah dalam proses penganalisaannya.
2. Data Sekunder
Menurut Suryabrata (2003 : 86), Data Sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang yang sedang meneliti, walaupun data yang dikumpulkan sebenarnya sudah asli.
Sehingga dapat disimpulkan data sekunder adalah merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut ataupun disajikan baik oleh pihak pengumpul dari data primer atau pihak lain. Penerapan dari data sekunder ini diperole dari buku – buku atau literature yang ada, seperti buku–buku dari perpustakaan, data sekunder yakni :
1. Studi Kepusatakaan
Studi kepustakaan digunakan dengan maksud untuk mendapatkan atau mengumpulkan data dengan jalan mempelajari buku yang berkaitan dengan pokok masalah yang diteliti.
3.2 Pemilihan Informan
Dalam penelitian kualitatif, yang dimaksud subjek penelitian adalah informan yang memberikan data penelitian melalui wawancara. Informan dalam
penelitian ini adalah wawancara nonformal dalam kegiatan sehari-hari dengan Nahkoda dan para Mualim yang bertanggung jawab dalam masalah navigasi sehingga dapat lebih meyakinkan pembaca juga sebagai bahan acuan didalam mendeskripsikan data dan mempermudah dalam proses penganalisaannya.
3.3 Teknik Analisis
Kegiatan yang memerlukan perhatian khusus bagi seseorang peneliti baik selama di lapangan maupun sesudah data terkumpul adalah analisis data. Menurut Patton (1980) analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatupola, kategori dan satuan uraian dasar.
Menurut Sarwono (2006), prinsip pokok teknik analisis kualitatif ialah mengolah dan menganalisis data yang terkumpul menjadi data yang sistematik, teratur, terstruktur, dan mempunyai makna. Dalam hal ini setelah seluruh data dari hasil penelitian diperoleh, dilaksanakan teknik analisa data. Menurut Moleong (2006) dalam penulisan proposal penelitian menggunakan 3 macam metode analisa data:
1. Penyajian Data
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi yang telah tersusun secara terpadu dan mudah dipahami yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan mengambil suatu tindakan.
2. Pembahasan
Pembahasan dapat didefinisikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.
3. Menarik Kesimpulan
Menarik kesimpulan merupakan kemampuan peneliti dalam menyimpulkan berbagai temuan data yang diperoleh selama proses penelitian, dan pada penulisan karya ilmiah terapan ini, digunakan metode pendekatan dengan menggambarkan secara keseluruhan permasalahan ketika melakukan observasi keadaan cuaca di atas kapal, dengan cara membaca, mencatat dan mengumpulkan bahan – bahan tertentu yang berhubungan dengan penelitian baik berupa buku, artikel, maupun karya ilmiah lainnnya. Dari data – data yang telah terkumpul maka penulis akan menyimpulkan kembali, dan akan diambil bagian – bagian yang lebih penting dengan wawancara terhadap Informan di kapal yaitu wawancara nonformal dengan Nahkoda dan para Mualim, terutama Mualim 2 pada kapal yang bertanggung jawab dalam masalah navigasi juga dengan ABK.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Faizal. (2014). Kecelakaan KM. Tanto Hari dan MT. Sirius di alur pelayaran Barat Surabaya: (KOMPAS.com. Diakses pada 17 Februari 2020) Adi Nugroho. (08.2018). Gambar dan penjelasan tentang jenis – jenis dan bentuk
awan. (http://kitacerdas.com/jenis-jenis-awan/. Diakses pada 28 januari 2020.)
Beaufort scale. (en.wikipedia.org/wiki/Beaufort_scale. Dikses pada 10 Februari 2020)
Bogdan Taylor. Pengertian metode kualitatifa.
(http://eprints.umm.ac.id/35187/4/.com. Diakses pada 15 April 2018) Luke Yahya. (2017). Alat – alat observasi cuaca.(Diakses pada 17 April 2018) M. Arif Zainul Faud. (2014). Cara melakukan observasi cuaca.
(http://labeksplorasi.fpik.ub.ac.id/wp-content/uploads/2014/12/Metode-Observasi- dan-Simbol-Cuaca.pdf. Diakses pada 06 April 2018)
Nasution pengertian observasi : (SUMBERPENGERTIAN.com. Diakses pada 18 Februari 2018)
Ridwan. (2003). Penjelasan tentang wawancara. (Diakses pada 20 April 2018) Salamedukasi. (2014). Cara – cara melakukan observasi :
(salamedukasi/2014/06.com)
Site Defaul. (2015). Jenis – jenis dan bentuk awan dan gambar jenis – jenis awan.
(https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/jenis-jenis-awa. Diakses pada 15 April 2018)
Soejardi Wh. (2010). Cuaca dalam kegiatan pelayaran : (PUSTAKACUACA.com. Diakses pada 20 April 2018)
Suryabrata. (2003). Penjelasan tentang data primer dan data sekunder : (digilib.uinsby.ac.id/. Diakses pada 20 April 2018)
Winarso. (2003). Pengertian cuaca. (http//:scribd.com/doc/pengertian-cuaca.
Diakses pada 15 April 2018)