1 BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha mendewasakan dan memandirikan manusia melalui kegiatan yang terencana dan disadari dalam kegiatan belajar dan pembelajaran dengan melibatkan siswa dan guru. Pendidikan saat ini berada pada abad ke-21, dalam pembelajaran lebih mengutamakan penilaian proses daripada hasil. Pendidikan di abad 21 harus mampu memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi tantangan global dengan keterampilan belajar, keterampilan berinovasi, keterampilan menggunakan media informasi dan teknologi. Menurut Syahputra (2018: 1277) pendidikan di abad 21 harus dapat mempersiapkan generasi manusia Indonesia menyongsong kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan di era ini diharapkan dapat mempersiapkan generasi yang berkualitas, yaitu manusia yang kritis, kreatif, mandiri, dan memiliki akhlak yang baik. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3 yang menyatakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003: 3).
Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut, pemerintah melalui Kurikulum 2013 berupaya mengembangkan kompetensi peserta didik melalui pembelajaran kontekstual sehingga diharapkan hasil belajarnya dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Syahputra (2018: 1277) implikasi pada pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia mengharuskan semua stageholder pendidikan harus menguasai ICT literacy Skill. Guru, siswa, bahkan orang tua siswa harus melek teknologi dan media komunikasi, dapat melakukan komunikasi yang efektif, berpikir kritis, dapat memecahkan masalah dan bisa
commit to user
berkolaborasi. Penyelenggaraan pendidikan harus dilaksanakan secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sistem pendidikan di Indonesia saat ini harus selalu dikembangkan sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan perkembangan yang terjadi baik di tingkat lokal, nasional maupun global. Terlebih pada akhir tahun 2019, dunia dilanda sebuah penyakit corona virus disease 2019 (Covid-19). Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV- 2). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19. Dalam surat edaran yang dikeluarkan pada tanggal 20 april 2020 tersebut dijelaskan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran daring atau online (Kemendikbud, 2020: 1). Hal ini dilaksanakan untuk tetap memberikan hak belajar bagi peserta didik di tengah masa pandemi Covid-19.
Menurut Betri (2020: 141) pembelajaran online adalah kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi internet yang memudahkan guru dan murid melaksanakan pembelajaran di manapun dan kapanpun bahkan di luar kelas.
Pembelajaran online sebagai versi pembelajaran jarak jauh digambarkan sebagai pembelajaran non-tradisional yang memberikan pengalaman belajar berbasis teknologi (Moore, 2011: 130). Jadi, pembelajaran daring (online) merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa tetapi dilakukan melalui online dengan menggunakan jaringan internet atau berbasis teknologi.
Pembelajaran di sekolah dasar meliputi beberapa bidang studi, salah satu muatan pelajaran tersebut adalah IPA. Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 37 Ayat 1 Kurikulum pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menyatakan bahwa mata pelajaran IPA wajib diberikan pada siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Menurut Ariska (2016: 2) pembelajaran IPA pada jenjang SD/MI menekankan pembelajaran berbasis sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
commit to user
sehingga tercipta pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Di Indonesia, tingkat penguasaan siswa terhadap mata pelajaran IPA masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan bahwa penguasaan IPA/ sains siswa Indonesia menduduki peringkat ke-70 dari 78 negara (Harususilo, 2019: 1). Penguasaan IPA siswa dapat diukur melalui hasil belajar yang dicapai siswa. Pada kurikulum 2013 guru menilai pencapaian belajar peserta didik dari proses dan hasil belajar yang mencerminkan penguasaan materi yang telah dipelajari. Sudjana (2011: 22) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah suatu keahlian yang didapatkan siswa setelah memperoleh pengalaman belajar.
Hasil belajar tersebut dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai kompetensi yang telah diajarkan. Menurut Pratiwi (2015: 80) hasil belajar merupakan peningkatan keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dialami siswa setelah pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan oleh UNESCO ada empat pilar hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai oleh pendidikan, yaitu: learning to know, learning to be, learning to life together, dan learning to do (Laksana, 2016: 56). Keberhasilan keempat pilar hasil belajar tersebut tentu ditentukan oleh faktor-faktor yang yang mempengaruhinya.
Belajar mandiri merupakan kemampuan yang tidak banyak berkaitan dengan pembelajaran seperti apa, tetapi lebih berkaitan dengan bagaimana proses belajar tersebut dilaksanakan. Menurut Pupadita (2018: 9) belajar mandiri ialah peningkatan kemampuan dan keterampilan peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain, sehingga pada akhirnya peserta didik tidak tergantung pada guru/pendidik pembimbing, teman atau orang lain dalam belajar. Kegiatan belajar mandiri merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar yang lebih menitikberatkan pada kesadaran belajar seseorang atau lebih banyak menyerahkan kendali pembelajaran kepada diri siswa sendiri. Kemandirian belajar siswa merupakan kemampuan untuk melakukan kegiatan belajar yang bertumpu pada aktivitas, tanggung jawab, dan motivasi yang ada dalam diri siswa sendiri (Rusman, 2014: 359). Menurut Kristanto (2020: 17) indikator yang menunjukkan commit to user
adanya kemandirian belajar meliputi: 1) mampu bekerja sendiri atau inisiatif dengan tidak bergantung pada orang lain; 2) percaya diri; 3) memiliki hasrat bersaing untuk maju; 4) bertanggung jawab; 5) menghargai waktu 6) mampu mengambil keputusan sendiri. Pada pembelajaran daring, siswa diharapkan mampu memiliki kemandirian yang tinggi terutama dalam proses belajar, peran orang tua hanya sebagai pengawas ketika anak sedang belajar atau menyelesaikan tugas.
Fasilitas yang digunakan siswa dalam belajar secara online juga memengaruhi hasil belajar. Menurut Jannah (2017: 6) fasilitas belajar merupakan sarana dan prasarana yang digunakan dalam proses pembelajaran. Menurut Syah (2007: 154) alat-alat belajar merupakan faktor yang berpengaruh dalam menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Menurut Slameto (2013: 63) indikator fasilitas belajar antara lain: 1) ruang atau tempat belajar; 2) perabot belajar; 3) alat bantu belajar; 4) sumber belajar. Jadi, proses pembelajaran akan semakin produktif pada siswa, guru, dan materi pelajaran didukung oleh fasilitas yang memadai serta pemanfaatan yang baik sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang optimal.
Berdasarkan hasil observasi di SD Negeri 3 Kalirejo pada tanggal 12 Oktober 2020 diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan secara online menunjukkan tingkat kemandirian siswa sangat beragam. Terdapat siswa yang benar-benar mengerjakan tugas dari guru secara mandiri. Namun, tidak sedikit siswa masih bergantung pada orang tua atau anggota keluarga lainnya sehingga siswa kurang mampu bekerja sendiri saat pembelajaran online, dan rasa percaya diri siswa juga berkurang. Kemandirian belajar siswa masih belum optimal, misalnya siswa kurang inisiatif mencari sumber materi pembelajaran lain dari yang diberikan guru. Siswa kurang menghargai waktu dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, sehingga siswa sering melampaui batas waktu pengumpulan tugas. Selain itu, fasilitas belajar pada kelas V di SD Negeri 3 kalirejo khususnya alat bantu belajar kurang memadai, sebagian besar siswa belum memiliki alat komunikasi handphone (Hp) secara pribadi.
Namun, Hp tersebut digunakan bersama dengan orang tua atau keluarga lainnyacommit to user
Tidak semua siswa memiliki kuota internet yang mencukupi untuk mengikuti pembelajaran online sehingga ketika mengikuti pembelajaran siswa seringkali terkendala kuota atau koneksi internet. Sebagian besar siswa tidak memiliki tempat dan perabot belajar di rumah yang memadai, seperti ruang belajar khusus, meja belajar, lemari buku, dan lain-lain. Hal tersebut memengaruhi kenyamanan dan konsentrasi siswa dalam belajar. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai rata- rata Penilaian Tengah Semester (PTS) semester 1 pada muatan pelajaran IPA siswa kelas V yaitu 70,06. Nilai tersebut masih tergolong rendah dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 75. Dari 29 siswa kelas V, hanya terdapat 14 siswa yang mencapai nilai KKM, sedangkan siswa yang belum mencapai nilai KKM berjumlah 15 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum mencapai nilai ketuntasan yang telah ditetapkan.
Dari paparan tersebut, dimungkinkan bahwa kemandirian dan fasilitas belajar siswa di rumah selama pembelajaran online memberikan kontribusi terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Hal tersebut diperkuat dalam penelitian kemandirian siswa yang dilakukan oleh Aliyyah (2017) yang menerangkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kemandirian belajar dengan hasil belajar IPA siswa kelas IV. Pada penelitian fasilitas belajar yang dilakukan Jannah (2017) menerangkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara fasilitas belajar siswa dengan prestasi belajar Matematika kelas V. Keduanya diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Pupadita (2018) yang menerangkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kemandirian dan fasilitas belajar siswa dengan hasil belajar IPA (Biologi) kelas XI.
Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh kemandirian dan fasilitas belajar siswa dengan hasil belajar IPA kelas V di SDN se-Kecamatan Kebumen. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dilakukan terbatas pada satu sekolah, kemudian untuk dua variabel tersebut belum dilakukan penelitian pada tingkat sekolah dasar. Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dengan populasi yang lebih besar yaitu di SDN se- Kecamatan Kebumen. Penelitian tersebut berjudul “Pengaruh Kemandirian dancommit to user
Fasilitas Belajar pada Pembelajaran Online terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN se-Kecamatan Kebumen Tahun Ajaran 2020/2021.”
B. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah penelitian ini didapatkan dari uraian latar belakang masalah di atas. Identifikasi masalah tersebut yaitu:
1. Pembelajaran dilakukan secara online akibat adanya Covid-19.
2. Hasil belajar IPA siswa kelas V belum maksimal terbukti dari nilai Penilaian Tengah Semester (PTS) semester 1 Masih dibawah KKM.
3. Sebagian siswa masih bergantung pada orang tua atau anggota keluarga lainnya sehingga kurang mampu bekerja sendiri saat pembelajaran online dan rasa percaya diri siswa juga berkurang.
4. Kemandirian belajar siswa masih belum optimal dengan siswa kurang inisiatif mencari sumber materi pembelajaran lain.
5. Alat bantu belajar kurang memadai, sebagian besar siswa belum memiliki alat komunikasi (Hp) secara pribadi namun digunakan bersama dengan orang tua atau keluarga lainnya.
6. Tidak semua siswa memiliki kuota internet yang mencukupi untuk mengikuti pembelajaran online sehingga ketika mengikuti pembelajaran siswa seringkali terkendala kuota atau koneksi internet.
7. Sebagian besar siswa tidak memiliki tempat dan perabot belajar di rumah yang memadai seperti ruang belajar khusus, meja belajar, lemari buku dan lain-lain sehingga hal tersebut memengaruhi kenyamanan dan konsentrasi siswa dalam belajar.
C. Pembatasan Masalah
Peneliti memfokuskan penelitian agar lebih efektif dan efisien, peneliti melakukan pembatasan masalah yang disesuaikan dengan identifikasi masalah yang telah dipaparkan di atas. Peneliti memberi batasan masalah pada pengaruh kemandirian dan fasilitas belajar pada pembelajaran online siswa kelas V SDN se- Kecamatan Kebumen tahun ajaran 2020/2021 serta hasil belajar IPA pada ranah kognitif (KI-3) materi semester 1. commit to user
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini yaitu:
1. Apakah terdapat pengaruh positif kemandirian siswa pada pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA kelas V SDN se-Kecamatan Kebumen tahun ajaran 2020/2021?
2. Apakah terdapat pengaruh positif fasilitas belajar siswa pada pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA kelas V SDN se-Kecamatan Kebumen tahun ajaran 2020/2021?
3. Apakah terdapat pengaruh kemandirian dan fasilitas belajar siswa pada pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA kelas V SDN se-Kecamatan Kebumen tahun ajaran 2020/2021?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Membuktikan adanya pengaruh positif kemandirian siswa pada pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA kelas V SDN se-Kecamatan Kebumen tahun ajaran 2020/2021.
2. Membuktikan adanya pengaruh positif fasilitas belajar siswa pada pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA kelas V SDN se-Kecamatan Kebumen tahun ajaran 2020/2021.
3. Membuktikan adanya pengaruh positif kemandirian dan fasilitas belajar siswa pada pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA kelas V SDN se- Kecamatan Kebumen tahun ajaran 2020/2021.
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
a. Menambah wawasan peneliti dan pembaca tentang kemandirian dan fasilitas belajar siswa serta pengaruhnya dengan hasil belajar.
commit to user
b. Menambah referensi bahan kajian penelitian yang relevan untuk penelitian berikutnya yang berkaitan dengan variabel kemandirian, fasilitas belajar, dan muatan pelajaran IPA.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi guru tentang pentingnya pengaruh kemandirian dan fasilitas belajar pada pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA siswa.
b. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuat siswa mengembangkan kemandirian belajar serta mampu memanfaatkan fasilitas belajar yang dimiliki dengan baik dalam pembelajaran online untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa.
c. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi sekolah dalam upaya mengoptimalkan mutu pendidikan di sekolah khususnya pada pembelajaran online.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini digunakan untuk menambah pengetahuan peneliti sebagai calon pendidik dalam memahami pentingnya kemandirian dan fasilitas belajar dalam pembelajaran online terhadap hasil belajar IPA siswa .
commit to user