• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Tempat Kerja

Tempat Kerja merupakan ruangan atau lapangan baik terbuka atau tertutup, bergerak maupun menetap dimana terdapat tenaga kerja yang bekerja atau sering dimasuki orang bekerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber-sumber bahaya baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Kemudian dalam penjelasannya pada pasal 1 ayat (1), tempat kerja secara garis besar ditentukan oleh 3 unsur yaitu; tempat dimana dilakukan pekerjaan bagi suatu usaha, adanya tenaga kerja yang bekerja, adanya bahaya dan risiko kerja yang ada di tempat kerja ( UU No. 1 tahun 1970 ). Tempat kerja merupakan tempat di bawah kendali organisasi dimana seseorang perlu atau pergi untuk tujuan kerja (ISO 45001, 2018)

Menurut Peraturan Pemerintah No 50/MEN/2012 tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan Kerja, tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber bahaya baik

(2)

di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, di udara yang berada didalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan terbuka atau tertutup, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan terdapat sumber baik didarat, didalam tanah, dipermukaan air, didalam air, dan di udara (Tarwaka, 2008).

a. Potensi Bahaya

Potensi bahaya adalah suatu keadaan yang memungkinkan atau berpotensi terhadap terjadinya kejadian kecelakaan berupa cidera, penyakit, kematian, kerusakan atau kemampuan melaksanakan fungsi operasional yang telah ditetapkan (Tarwaka, 2008). Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012, potensi bahaya adalah kondisi atau keadaan baik pada orang, peralatan, mesin, pesawat, instalasi, bahan, cara kerja, sifat kerja, proses produksi dan lingkungan yang berpotensi menimbulkan gangguan, kerusakan, kerugian, kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran, dan penyakit akibat kerja.

b. Sumber Bahaya

Kecelakaan Kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. (Kepmennaker No 609 Tahun 2012).

Sumber-sumber bahaya bisa berasal dari:

(3)

1) Manusia

Manusia dalam hal ini termasuk pekerja dan manajemen.

Kesalahan utama sebagian besar kecelakaan, kerugian, atau kerusakan terletak pada karyawan yang kurang bergairah, kurang terampil, kurang tepat, terganggu emosinya yang pada umumnya menyebabkan kecelakaan dan kerugian. Selain itu, apa yang diterima atau gagal diterima melalui pendidikan, motivasi, serta penggunaan peralatan kerja berkaitan langsung dengan sikap pimpinan (Silalahi dan Silalahi, 2007).

Perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas dari manusia yang dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu aktivitas yang dapat diamati dan tidak dapat diamati oleh orang lain. Aktivitas yang dapat diamati oleh orang lain seperti berjalan, tertawa, menangis, bekerja, menulis, dan berbicara. Sedangkan aktivitas yang tidak dapat diamati oleh orang lain seperti bersikap, berfikir, dan berfantasi. Sehingga dapat diartikan bahwa perilaku manusia adalah seluruh aktivitas dan kegiatan manusia yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang disekelilingnya (Notoatmodjo, 2005).

2) Peralatan

Peralatan merupakan hal terpenting guna menunjang proses produksi, sehingga sebaiknya pemilihan peralatan dan perlengkapan yang efektif sesuai dengan kebutuhan. Dengan pemilihan peralatan yang efektif maka akan dapat meminimalisir potensi bahaya yang

(4)

akan terjadi. Peralatan yang mengandung potensi bahaya sebaiknya harus diminalisir dengan penerapan 5R dan memberi alat pelindung diri pada karyawan. Sehingga pekerja/karyawan tidak terpapar langsung oleh sumber bahaya.

Peralatan yang digunakan dalam suatu proses dapat menimbulkan bahaya jika tidak digunakan sesuai fungsinya, tidak ada latihan tentang penggunaan alat tersebut, tidak dilengkapi dengan pelindung dan pengaman serta tidak ada perawatan atau pemeriksaan. Perawatan atau pemeriksaan dilakukan agar bagian dari mesin atau alat yang berbahaya dapat dideteksi sedini mungkin. (Sahab, 2010)

3) Bahan

Bahan berperan penting dalam proses produksi, sebab bahan merupakan hal yang paling mendasar digunakan untuk menciptakan suatu produk yang dihasilkan. Sebaiknya pemilihan bahan dasar material berasal dari bahan yang aman, sehingga tidak membahayakan para karyawan selama proses welding berlangsung.

Menurut Sahab (2010) bahaya dari bahan meliputi berbagai risiko sesuai dengan sifat bahan, antara lain :

1) Menimbulkan kebakaran, 2) Menimbulkan peledakan, 3) Minimbulkan alergi, 4) Menyebabkan kanker, 5) Menimbulkan keracunan,

(5)

6) Bersifat radioaktif,

7) Mengakibatkan kelainan janin,

8) Menimbulkan kerusakan pada kulit dan jaringan tubuh.

4) Proses

Suatu proses produksi sebagian menghasilkan bahaya fisik dan kimia seperti asap, debu, panas, bising dan bahaya mekanis seperti terpeleset, terpotong atau tertimpa bahan. Hal ini dapat mengakibatkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Tingkat potensi bahaya dari proses produksi bergantung pada mesin yang digunakan. Semakin canggih teknologi yang digunakan maka semakin tinggi potensi bahaya yang dihasilkan (Sahab, 2010).

5) Cara atau sikap kerja

Menurut Sahab (2010) cara kerja yang berpotensi terhadap terjadinya bahaya atau kecelakaan berupa tindakan tidak aman, misalnya :

a) Cara mengangkat yang salah, b) Posisi yang tidak benar, c) Tidak menggunakan APD, d) Lingkungan kerja,

e) Menggunakan alat atau mesin yang tidak sesuai.

6) Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja adalah lingkungan dimana pegawai melakukan pekerjaannya sehari-hari, lingkungan kerja yang kondusif memberikan

(6)

rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat bekerja optimal. (Mardiana, 2005)

Lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja dan mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas- tugas yang diembankan, pekerja akan mampu melaksanakan kegiatan dengan baik, sehingga dicapai suatu lingkungan kerja yang sesuai.

(Nitisemito, 2004)

Menurut Silalahi dan Silalahi (2007), keadaan lingkungan yang dapat menyebabkan keadaan berbahaya antara lain : suhu dan kelembaban udara, kebersihan udara, penerapan dan kuat cahaya, kekuatan bunyi, cara dan proses kerja, udara, gas-gas bertekanan, keadaan lingkungan setempat, keadaan mesin-mesin, perlengkapan dan peralatan kerja serta bahan.

2. Kecelakaan kerja

Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, yang dimaksud dengan kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia atau harta benda. menurut peraturan menteri ketenagakerjaan No 44 Tahun 2015 tentang program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian bahwa kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari

(7)

rumah menuju tempat kerja begitupun sebaliknya dan penyakit yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja.

Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan seringkali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya (Tarwaka, 2012).

Menurut Tarwaka, 2014 kecelakaan kerja mengandung unsur-unsur sebagai berikut: tidak diduga semula, oleh karena di belakang peristiwa kecelakaan tidak terdapat unsur kesengajaan dan perencanaan, tidak diinginkan atau diharapkan, karena setiap peristiwa kecelakaan akan selalu disertai kerugian baik fisik maupun material, dan selalu menimbulkan kerugian dan kerusakan, yang sekurangkurangnya menyebabkan gangguan proses kerja.

Faktor penyebab kecelakaan kerja menurut H.W. Heinrich dengan teori dominonya digolongkan menjadi dua, yaitu (1) Unsafe Behavior adalah tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, sehingga mengakibatkan kecelakaan, (2) Unsafe condition adalah kondisi lingkungan kerja yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja (Ramli, 2010).

Menurut Heinrich dalam buku “Accident Prevention” mengemukakan suatu teori sebab akibat terjadinya kecelakaan dikenal dengan “Teori Domino” bahwa timbulnya suatu kecelakaan atau cidera disebabkan oleh lima faktor penyebab yang berurutan, yaitu kebiasaan, kesalahan, tindakan dan kondisi tidak aman, kecelakaan, cidera (Tarwaka, 2014). Untuk

(8)

mencegah terjadinya kecelakaan, cukup dengan membuang salah satu kartu domino atau memutuskan rantai domino tersebut. Berdasarkan teori dari Heinrich tersebut, Bird and Germain (1986) memodifikasi teori domino dengan mereflesikan ke dalam hubungan manajemen secara langsung dengan sebab kerugian kecelakaan, antara lain :

a. Kurangnya Pengawasan

Menurut Bird dan Germain menyebutkan kurangnya pengawasan merupakan urutan pertama menuju suatu kejadaian yang mengakibatkan kerugian. Pengawasan dalam hal ini adalah salah satu dari empat fungsi manajemen, yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), leading (kepemimpinan), dan controlling (pengendalian) (Tarwaka, 2014).

b. Sumber Penyebab Dasar

Penyebab dasar adalah faktor yang mendasari secara umum terhadap kejadian atau peristiwa kecelakaan tersebut meliputi (Tarwaka, 2014).

1) Faktor Personal (Personal Factor), meliputi kurangnya pengetahuan, keterampilan, kemampuan fisik dan mental, motivasi, stres fisik, atau mental,

2) Faktor Pekerjaan (Job Factor), meliputi kepemimpinan dan kepengawasan yang tidak memadai, engineering kurang memadai, maintenance kurang memadai, alat dan peralatan kurang memadai, pembelian barang kurang memadai, standar kerja kurang memadai, aus dan retak akibat pemakaian, penyalahgunaan wewenang.

(9)

3) Penyebab Dasar

Faktor ini meliputi tindakan dan kondisi yang tidak aman yang secara langsung menyebabkan kecelakaan yang biasanya dapat dilihat dan dirasakan.

a) Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act)

Tindakan tidak aman adalah suatu tindakan yang tidak memenuhi keselamatan sehingga beresiko menyebabkan kecelakaan kerja (Ramli, 2010).

Interaksi manusia dan sarana pendukung kerja merupakan sumber penyebab kecelakaan. Apabila interaksi antara keduanya tidak sesuai maka akan menyebabkan terjadinya suatu kesalahan yang mengarah kepada terjadinya kecelakaan kerja. Dengan demikian, penyediaan saran kerja yang sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia, harus sudah dilaksanakan sejak desain sistem kerja.. Kecelakaan kerja akan terjadi apabila terdapat kesenjangan atau ketidak harmonisan interaksi antara manusia pekerja-tugas/pekerjaan-peralatan kerja-lingkungan kerja dalam suatu organisasi kerja.

b) Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition)

Kondisi tidak aman adalah keadaan lingkungan yang tidak aman dan beresiko menyebabkan kecelakaan kerja (Gatiputri, 2011). Kondisi tidak aman pada mesin, peralatan, pesawat, bahan,

(10)

lingkungan, tempat kerja, proses kerja, sifat pekerjaan, dan sistem kerja (Tarwaka, 2014).

Rangkaian kartu domino di bawah ini menggambarkan hubungan manajemen secara langsung dengan sebab dan akibat dari suatu kejadian yang dapat menurunkan prestasi dari suatu kegiatan produksi.

Lack of Control

Basic Casual

Immadiete

Causes Inciden Loss

Gambar 1. Bagan Teori domino

Sumber : (Ramli, 2010) c) Kerugian (Loss)

Apabila keseluruhan urutan di atas terjadi, maka akan menyebabkan adanya kerugian terhadap manusia, harta benda dan akan mempengaruhi produktivitas dan kualitas kerja. Dengan kata lain, kecelakaan akan mengakibatkan cidera dan atau mati, kerugian harta benda bahkan sangat mempengaruhi moral karyawan termasuk keluarganya.

Biaya yang timbul sebagai akibat kecelakaan dapat digambarkan seperti gunung es yang kemudian sering disebut fenomena gunung es yang artinya biaya langsung sebagai bongkahan gunung es yang terlihat pada pemukaan laut, sedang

(11)

biaya tidak langsung yaitu bongkahan gunung es yang berada dibawah permukaan laut yang jauh lebih besar.

Gambar 2. Fenomena Gunung Es 3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

a. Pengertian

Menurut PP No. 50 Tahun 2012, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah bagian sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumberdaya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Biaya langsung $ 1

✓ Perawatan dokter

✓ Biaya kompensasi atau ganti rugi Biaya tidak langsung (biaya yang tidak terasumsi) $ 5 to $ 50

✓ Kerusakan bangunan dan perawatan

✓ Kerusakan hasil produksi

✓ Gangguan dan keterlambatan produksi

✓ Biaya untuk pemenuhan aturan

✓ Biaya peralatan untuk keadaan darurat

✓ Biaya sewa peralatan

✓ Waktu untuk penyelidikan

Biaya lain (biaya tidak langsung) $ 1 to $ 3

✓ Gaji selama tidak bekerja

✓ Biaya penggantian/pelatihan

✓ Overtime

✓ Waktu untuk investigasi

✓ Penurunan hasil kerja yang celaka sewaktu bekerja, menurunya bisnis

(12)

b. Tujuan

Tujuan sistem manajemen K3 adalah menyediakan kerangka kerja untuk mengelola risiko dan peluang K3. Tujuan dan hasil yang diharapkan dari sistem manajemen K3 adalah untuk mencegah cedera terkait dan kesehatan yang buruk bagi pekerja dan untuk menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat; akibatnya, sangat penting bagi organisasi untuk menghilangkan bahaya dan meminimalkan risiko K3 dengan mengambil tindakan pencegahan dan perlindungan yang efektif (ISO 45001:2018)

Undang-undang No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 87 ayat 1 menyatakan bahwa “setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen K3 yang terintegrasi dengan sistem perusahaan”. Kewajiban penerapan sistem manajemen K3 didasarkan pada dua hal, yaitu jumlah tenaga kerja dan besarnya tingkat risiko bahaya. Meskipun perusahaan hanya memperkerjakan tenaga kerja kurang dari seratus orang akan tetapi memiliki potensi bahaya yang besar, maka perusahaan berkewajiban menerapkan sistem manajemen K3.

Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012 Pasal 5 ayat 1 yang berbunyi “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 di perusahaannya” dan ayat 2 yang berbunyi “Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi perusahaan: a. mempekerjakan pekerja/buruh paling sedikit 100 (seratus) orang; atau b. mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi”. Berdasarkan hal tersebut maka,

(13)

penerapan SMK3 bukanlah sukarela namun keharusan yang dimandatkan oleh Peraturan Perundang- undangan yang berlaku. Selanjutnya untuk menerapkan seperti yang tertuang di dalam pasal 6 PP No 50 tahun 2012 beserta pedoman penerapan pada lampiran I, maka organisasi perusahaan diwajibkan untuk menerapkan SMK3 yang dilakukan berdasarkan kebijakan nasional. Dalam menerapkan SMK3 organisasi perlu :

1) Menetapkan kebijakan K3 dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMK3.

2) Adanya kebijakan K3 yang tertulis dan ditanda tangani oleh pengurus, memuat tetang keseluruhan visi dan tujuan perusahaan, komitmen dan tekad melaksanakan K3, kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh. Dalam membuat kebijakanK3 harus dikonsultasikan dengan perwakilan pekerja dan disebarluaskan kepada semua tenaga kerja, pemasok, pelanggan dan kontraktor. Kebijakan perusahaan harus selalu ditinjau ulang atau direview untuk peningkatan kinerja K3.Adanya komitmen dari pucuk pimpinan terhadap K3 dengan menyediakan sumberdaya yang memadai yang diwujudkan dalam bentuk:

a) Penempatan organisasi K3 pada posisi strategi

b) Penyediaan anggaran biaya, tenaga kerja dan sarana pendukung lainnya dalam bidang K3

c) Menempatkan personil dengan tanggung jawab, wewenang dan kewajiban secara jelas dalam menangani K3

(14)

d) Perencanaan K3 yang terkoordinasi e) Penilaian kinerja dan tindak lanjut K3.

3) Adanya tinjauan awal kondisi K3 diperusahaan, dilakukan degan cara:

a) Identifikasi kondisi yang ada, selanjutnya dibandingkan dengan ketentuan yang berlaku sebagai bentuk pemenuhan terhadap peraturan perundangan.

b) Identifikasi sumber bahaya di tempat kerja.

c) Penilaian terhadap pemenuhan peraturan perundangan dan standar K3.

d) Meninjau sebab akibat kejadian yang mebahayakan, kompensasi kecelakaan, dan gangguan yang terjadi.

e) Meninjau hasil penilaian K3 sebelumnya.

f) Menilai efisiensi dan efektivitas sumber daya yang disediakan.

4) Merencanakan pemantauan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan SMK3

a) Adanya perencanaan tentang identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko.

b) Adanya pemahaman terhadap peraturan perundangan dan persyaratan lainnya berkaitan dengan K3.

c) Adanya penetapan tujuan dan sasaran kebijakan perusahaan dalam bidang K3 yang mencakup kriteria kebijakan sebagai berikut:

(1) Dapat diukur

(2) Indikator pengukuran

(15)

(3) Sasaran pencapaian (4) Jangka waktu pencapaian

(5) Adanya indikator kinerja K3 yang dapat diukur.

(6) Adanya perencanaan awal dan perencanaan kegiatan yang sedang berlangsung.

5) Menerapkan kebijakan K3 secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran K3. Dalam hal ini pengurus harus menunjuk personil-personil yang mempunyai kualifikasi dengan kriteria :

a) Adanya jaminan kemampuan:

(1) Sumber daya berupa manusia, sarana dan dana. Penyediaan sumber daya tersebut, harus dibuat prosedur untuk memantau manfaat yang didapat dan biaya yang dikeluarkan.

(2) SMK3 harus terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan secara komprehensif.

(3) Pendelegasian tanggung jawab dan tanggung gugat secara tegas sesuai dengan penugasan masing-masing.

(4) Komitmen K3 yang dibangun harus sesuai dengan hasil konsultasi dengan pekerja dan pihak-pihak lain yang terkait, sehingga semua pihak merasa ikut berpartisipasi di dalamnya.

(16)

(5) Kesadaran semua pihak untuk mendukung tujuan dan sasaran SMK3 yang telah ditetapkan untuk meningkatkan kinerja pencapaian K3 di tempat kerja.

(6) Pelatihan harus diselengarakan untuk meningkatkan kompetensi kerja di dalam penerapan SMK3. Kebijakan K3 dan prosedur adalah dua hal yang akan menentukan target yang akan di capai oleh perusahaan oleh karena itu keduanya merupakan hal yang tidak bisa di abaikan oleh perusahaan. Karena pelaksanaan akan di desain sedemikian rupa dengan mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya (ILO, 1998).

b) Adanya kegiatan pendukung yang meliputi:

(1) Komunikasi antara manajemen dengan tenaga kerja dan pihak- pihak yang terkait.

(2) Pelaporan SMK3 di tempat kerja.

(3) Pendokumentasian sistem dan pengedalian dokumen.

(4) Pencatatan dan manajemen informasi.

c) Adanya manajemen risiko dan manajemen tanggap darurat melipui:

(1) Identifikasi sumber bahaya.

(2) Penilaian risiko.

(3) Tindakan pengendalian yang sesuai dengan hirarki pengendalian risiko.

(4) Prosedur menghadapi insiden, keadaan tanggap darurat dan pemulihan keadaan darurat.

(17)

d) Mengukur memantau dan mengevauasi kinerja K3 serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan, yang mencakup hal-hal sebagai berikut :

(1) Adanya inspeksi, pengujian dan pemantauan yang berkaitan dengan tujuan dan sasaran di tempat kerja.

(2) Adanya audit SMK3 secara berkala untuk mengetahui efektifitas penerapan SMK3.

(3) Tindakan pencegahan dan perbaikan secara sistematik dan efektif yang dilaksanakan pihak manajemen.

e) Meninjau ulang secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan SMK3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja K3 yang meliputi:

(1) Evaluasi terhadap penerapan kebijakan K3 (2) Tujuan, sasaran dan kinerja K3

(3) Hasil temuan audit SMK3

(4) Evaluasi efektif penerapan SMK3 dan kebutuhan untuk mengubahnya yang disesuaiakan dengan adanya:

(5) Perubahan peraturan perundangan

(6) Tuntutan pihak-pihak terkait dan tuntutan pasar

(7) Perubahan produk, kegiatan dan perubahan, struktur organisasi perusahaan

(8) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (9) Pengalaman kecelakaan dan insiden di tempat kerja

(18)

(10) Pelaporan serta feedback dari tenaga kerja.

5. ISO 45001:2018 a. Pengertian

ISO (Organisasi Internasional untuk Standardisasi) adalah federasi global badan standar nasional (badan anggota ISO) di seluruh dunia. ISO 45001:2018 sistem manajemen K3 dapat menjadi lebih efektif dan efisien saat mengambil tindakan dini untuk mengatasi peluang peningkatan kinerja K3. Implementasi sistem manajemen K3 adalah keputusan strategis dan operasional untuk suatu organisasi. Keberhasilan sistem manajemen K3 tergantung pada kepemimpinan, komitmen dan partisipasi dari semua tingkatan dan fungsi organisasi. Pelaksanaan dan pemeliharaan sistem manajemen K3, keefektifannya dan kemampuannya untuk mencapai hasil yang diinginkan tergantung pada sejumlah faktor kunci.

b. Aspek-aspek ISO 45001:2018

1) Kepemimpinan manajemen puncak, komitmen, tanggung jawab dan akuntabilitas;

2) Manajemen puncak mengembangkan, memimpin dan mempromosikan budaya dalam organisasi yang mendukung hasil yang diharapkan dari sistem manajemen K3;

3) Komunikasi;

4) Konsultasi dan partisipasi pekerja, dan di mana mereka ada, perwakilan pekerja;

(19)

5) Alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mempertahankannya;

6) Kebijakan K3, yang kompatibel dengan keseluruhan sasaran strategis dan arah organisasi;

7) Proses yang efektif untuk mengidentifikasi bahaya, mengendalikan risiko K3 dan memanfaatkan peluang K3;

8) Evaluasi kinerja berkelanjutan dan pemantauan sistem manajemen K3 untuk meningkatkan kinerja K3;

9) Integrasi sistem manajemen K3 ke dalam proses bisnis organisasi;

10) Sasaran K3 yang selaras dengan kebijakan K3 dan mempertimbangkan bahaya organisasi, risiko K3, dan peluang K3;

11) Memenuhi persyaratan hukum dan persyaratan lainnya.

Keberhasilan penerapan ISO 45001:2018 dapat digunakan oleh organisasi untuk memberikan jaminan kepada pekerja dan pihak lain yang berkepentingan bahwa sistem manajemen K3 yang efektif sudah tersedia. Tingkat kerincian, kerumitan, tingkat informasi terdokumentasi, dan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan keberhasilan sistem manajemen K3 organisasi akan bergantung pada sejumlah faktor, seperti:

konteks organisasi (misalnya jumlah pekerja, ukuran, geografi, budaya, persyaratan hukum, dan persyaratan lainnya), ruang lingkup sistem manajemen K3 organisasi, dan sifat kegiatan organisasi dan risiko K3 terkait.

c. Konsep PDCA

(20)

Pendekatan sistem manajemen K3 yang diterapkan dalam dokumen ini didasarkan pada konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Konsep PDCA adalah proses iteratif yang digunakan oleh organisasi untuk mencapai perbaikan berkelanjutan. Ini dapat diterapkan ke sistem manajemen dan untuk masing-masing elemen individu, sebagai berikut:

1) Plan: menentukan dan menilai risiko K3, peluang K3 dan risiko lainnya serta peluang lainnya, menetapkan sasaran dan proses K3 yang diperlukan untuk memberikan hasil sesuai dengan kebijakan K3 organisasi;

2) Do: mengimplementasikan proses seperti yang direncanakan;

3) Check: pantau dan ukur kegiatan dan proses yang berkaitan dengan kebijakan K3 serta tujuan K3, dan laporkan hasilnya;

4) Act: mengambil tindakan untuk terus meningkatkan kinerja K3 untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Gambar 3. Konsep PDCA dalam ISO 45001:2018

(21)

Klausul 1 hingga 3 dalam dokumen ISO 45001:2018 membahas tentang penetapkan ruang lingkup, referensi normatif dan istilah dan definisi yang berlaku untuk penggunaan dokumen ini, sementara Klausul 4 hingga 10 berisi persyaratan yang akan digunakan untuk menilai kesesuaian dengan dokumen ISO 45001:2018. Dokumen ISO 45001:2018 tidak membahas masalah-masalah seperti keamanan produk, kerusakan properti atau dampak lingkungan, di luar risiko terhadap pekerja dan pihak berkepentingan lain yang relevan. Dokumen ISO 45001:2018 dapat digunakan secara keseluruhan atau sebagian untuk secara sistematis meningkatkan manajemen kesehatan dan keselamatan kerja. Namun, klaim kesesuaian terhadap dokumen ini tidak dapat diterima kecuali semua persyaratannya dimasukkan ke dalam sistem manajemen K3 organisasi dan dipenuhi tanpa pengecualian.

d. Istilah di dalam ISO 45001:2018

Berikut merupakan istilah di dalam ISO 45001:2018:

1) Organisasi

Orang atau sekelompok orang yang memiliki fungsi sendiri dengan tanggung jawab, wewenang dan hubungan untuk mencapai sasarannya.

2) Pihak yang berkepentingan/pemangku kepentingan

Orang atau organisasi yang dapat mempengaruhi, dipengaruhi oleh, atau merasa dirinya dipengaruhi oleh keputusan atau kegiatan.

(22)

3) Pekerja

Orang yang melakukan pekerjaan atau kegiatan terkait pekerjaan yang berada di bawah kendali organisasi

4) Partisipasi

Keterlibatan dalam pengambilan keputusan 5) Konsultasi

Mencari pandangan sebelum membuat keputusan 6) Kontraktor

Organisasi eksternal memberikan layanan kepada organisasi sesuai dengan spesifikasi, syarat dan ketentuan yang disepakati.

7) Persyaratan

Kebutuhan atau harapan yang dinyatakan, umumnya tersirat atau wajib.

8) Persyaratan hukum dan persyaratan lainnya

Persyaratan hukum yang harus dipatuhi oleh organisasi dan persyaratan lainnya yang harus atau harus dipenuhi suatu organisasi.

9) Sistem manajemen

Serangkaian elemen yang saling terkait atau berinteraksi dari suatu organisasi untuk menetapkan kebijakan dan sasaran dan proses untuk mencapai sasaran tersebut.

10) Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (Sistem manajemen K3)

(23)

Sistem manajemen atau bagian dari sistem manajemen yang digunakan untuk mencapai kebijakan K3.

11) Manajemen puncak

Orang atau sekelompok orang yang mengarahkan dan mengendalikan suatu organisasi pada tingkat tertinggi.

12) Efektivitas

Sejauh mana kegiatan yang direncanakan diwujudkan dan hasil yang direncanakan tercapai.

13) Kebijakan

Niat dan arah organisasi, sebagaimana dinyatakan secara resmi oleh manajemen puncaknya.

14) Kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja (Kebijakan K3)

Kebijakan untuk mencegah cedera dan kesehatan yang terkait dengan pekerjaan kepada pekerja dan untuk menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat.

15) Obyektif/sasaran

Hasil yang ingin dicapai.

16) Sasaran kesehatan dan keselamatan kerja (sasaran K3)

Sasaran yang ditetapkan oleh organisasi untuk mencapai hasil spesifik yang konsisten dengan kebijakan K3.

17) Cidera dan kesehatan

Efek buruk pada kondisi fisik, mental atau kognitif seseorang.

(24)

18) Risiko

Efek ketidakpastian.

19) Resiko kesehatan dan keselamatan kerja (Risiko K3)

Kombinasi kemungkinan terjadinya kejadian atau paparan berbahaya yang terkait dengan pekerjaan dan keparahan cedera dan kesehatan yang buruk yang dapat di sebabkan oleh peristiwa atau paparan.

20) Kesempatan kesehatan dan keselamatan kerja (Kesempatan K3) Keadaan atau serangkaian keadaan yang dapat mengarah pada kinerja K3.

21) Kompetensi

Kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

22) Informasi yang terdokumentasi

Informasi yang diperlukan untuk dikontrol dan dipelihara oleh suatu organisasi dan media di mana ia terkandung.

23) Proses

Mengatur aktivitas yang saling terkait atau berinteraksi yang mengubah input menjadi output.

24) Prosedur

Cara tertentu untuk melakukan suatu kegiatan atau proses.

25) Kinerja

Hasil yang terukur.

(25)

26) Kinerja kesehatan dan keselamatan kerja (Kinerja K3)

Kinerja terkait dengan efektivitas pencegahan cedera dan kesehatan yang aman dan sehat.

27) Outsourcing

Membuat pengaturan di mana organisasi eksternal melakukan bagian dari fungsi atau proses organisasi.

28) Monitoring

Menentukan status suatu sistem, suatu proses atau suatu kegiatan.

29) Pengukuran

Proses untuk menentukan nilai.

30) Audit

Proses yang sistematis, independen dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara obyektif untuk menentukan sejauh mana kriteria audit terpenuhi.

31) Kesesuaian

Pemenuhan persyaratan.

32) Ketidaksesuaian

Tidak memenuhi persyaratan.

33) Insiden

Kejadian yang timbul dari, atau dalam perjalanan, pekerjaan yang dapat atau memang mengakibatkan cidera dan kesehatan yang buruk.

(26)

34) Tindakan korektif

Tindakan untuk menghilangkan penyebab ketidaksesuaian atau insiden dan mencegah kekambuhan.

35) Perbaikan Berkelanjutan

Aktivitas berulang untuk meningkatakan kinerja.

d. Penerapan ISO 45001:2018 antara lain sebagai berikut:

1) Klausul 4 konteks organisasi

f) Klausul 4.1 memahami organisasi dan konteksnya

Organisasi harus menentukan masalah eksternal dan internal yang relevan dengan tujuannya dan yang mempengaruhi kemampuannya untuk mencapai hasil yang diharapkan dari sistem manajemen K3 nya.

g) Klausul 4.2 memahami kebutuhan dan harapan pekerja dan pihak lain yang berkepentingan.

Organisasi harus menentukan :

(1) Pihak yang berkepentingan lainnya, selain pekerja, yang relevan dengan sistem manajemen K3;

(2) Kebutuhan dan harapan yang relevan (yaitu persyaratan) pekerja dan pihak lain yang berkepentingan;

(3) Yang mana dari kebutuhan dan harapan ini, atau bisa menjadi, persyaratan hukum dan persyaratan lainnya.

h) Klausul 4.3 menentukan ruang lingkup sistem manajemen K3 Organisasi harus menentukan batas dan penerapan sistem

(27)

manajemen K3 untuk menetapkan ruang lingkupnya. Ketika menentukan ruang lingkup ini, organisasi harus:

(1) Mempertimbangkan masalah eksternal dan internal yang mengacu pada 4.1;

(2) Mempertimbangkan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam 4.2;

(3) Memperhitungkan kegiatan yang direncanakan atau dilakukan terkait pekerjaan.

Sistem manajemen K3 harus mencakup aktivitas, produk, dan layanan di dalam kendali atau pengaruh organisasi yang dapat memengaruhi kinerja K3 organisasi. Ruang lingkup harus tersedia sebagai informasi yang terdokumentasi.

i) Klausul 4.4 sistem manajemen K3

Organisasi harus menetapkan, menerapkan, memelihara dan terus memperbaiki sistem manajemen K3, termasuk proses yang diperlukan dan interaksinya, sesuai dengan persyaratan dokumen ini.

2) Klauaul 5 kepemimpinan dan partisipasi pekerja a) Klausul 5.1 kepemimpinan dan komitmen

Manajemen puncak harus menunjukan kepemimpinan dan komitmen berkenaan dengan sistem manajemen K3 dengan : (1) Mengambil tanggung jawab dan pertanggungjawaban secara

keseluruhan untuk pencegahan cedera yang berhubungan

(28)

dengan pekerjaan dan kesehatan yang buruk, serta penyediaan tempat kerja dan kegiatan yang aman dan sehat;

(2) Memastikan bahwa kebijakan K3 dan sasaran K3 terkait ditetapkan dan kompatibel dengan arah strategis organisasi;

(3) Memastikan integrasi persyaratan sistem manajemen K3 ke dalam proses bisnis organisasi;

(4) Memastikan bahwa sumber daya yang dibutuhkan untuk menetapkan, menerapkan, memelihara dan meningkatkan sistem manajemen K3 tersedia; (7.1)

(5) Mengkomunikasikan pentingnya manajemen K3 yang efektif dan sesuai dengan persyaratan sistem manajemen K3;

(6) Memastikan bahwa sistem manajemen K3 mencapai hasil yang diharapkan;

(7) Mengarahkan dan mendukung orang untuk berkontribusi pada efektivitas sistem manajemen K3;

(8) Memastikan dan mempromosikan perbaikan berkelanjutan;

(9) Mendukung peran manajemen terkait lainnya untuk menunjukkan kepemimpinan mereka karena berlaku untuk bidang tanggung jawab mereka;

(10) Mengembangkan, memimpin dan mempromosikan budaya dalam organisasi yang mendukung hasil yang diharapkan dari sistem manajemen K3;

(29)

(11) Melindungi pekerja dari pembalasan ketika melaporkan insiden,

(12) Memastikan organisasi menetapkan dan menerapkan suatu proses untuk konsultasi dan partisipasi pekerja (lihat 5.4);

(13) Mendukung pembentukan dan fungsi komite kesehatan dan keselamatan, [lihat 5.4 e) 1)].

Catatan : referensi ke "bisnis" dalam dokumen ini dapat ditafsirkan secara luas untuk mengartikan aktivitas yang merupakan inti dari tujuan keberadaan organisasi.

b) Klausul 5.2 kebijakan K3

Manajemen puncak harus menetapkan, menerapkan dan memelihara kebijakan K3 yang:

(1) Mencakup komitmen untuk menyediakan kondisi kerja yang aman dan sehat untuk pencegahan cedera terkait pekerjaan dan kesehatan yang buruk dan sesuai dengan tujuan, ukuran dan konteks organisasi dan sifat khusus dari risiko K3 dan peluang K3;

(2) Menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan sasaran K3;

(3) Termasuk komitmen untuk memenuhi persyaratan hukum dan persyaratan lainnya;

(4) Termasuk komitmen untuk menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko K3 (lihat 8.1.2);

(30)

(5) Termasuk komitmen untuk perbaikan sistem manajemen K3 secara berkesinambungan;

(6) Termasuk komitmen untuk konsultasi dan partisipasi pekerja, dan, di mana mereka ada, perwakilan pekerja. Kebijakan K3 harus:

(a) Tersedia sebagai informasi yang terdokumentasi;

(b) Dikomunikasikan dalam organisasi;

(c) Tersedia untuk pihak yang berkepentingan, yang sesuai;

c) Klausul 5.3 peran, tangggung jawab dan wewenang organisasi Manajemen puncak harus memastikan bahwa tanggung jawab dan wewenang untuk peran yang relevan dalam sistem manajemen K3 ditugaskan dan dikomunikasikan pada semua tingkatan dalam organisasi dan dipelihara sebagai informasi yang terdokumentasi.

Pekerja di setiap tingkat organisasi harus bertanggung jawab atas aspek-aspek sistem manajemen K3 yang mereka kontrol.

Catatan : meskipun tanggung jawab dan wewenang dapat diberikan, pada akhirnya manajemen puncak masih bertanggung jawab atas berfungsinya sistem manajemen K3.

Manajemen puncak harus menetapkan tanggung jawab dan wewenang untuk: memastikan bahwa sistem manajemen K3 sesuai dengan persyaratan dokumen ini dan melaporkan kinerja sistem manajemen K3 ke manajemen puncak.

(31)

d) Klausul 5.4 konsultasi dan partisipasi pekerja

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk konsultasi dan partisipasi pekerja di semua tingkat dan fungsi yang berlaku, dan, di mana mereka ada, perwakilan pekerja, dalam pengembangan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kinerja dan tindakan untuk perbaikan. sistem manajemen K3. Organisasi Harus :

(1) menyediakan mekanisme, waktu, pelatihan dan sumber daya yang diperlukan untuk konsultasi dan partisipasi;

Catatan : representasi pekerja dapat menjadi mekanisme untuk konsultasi dan partisipasi.

(2) Menyediakan akses yang tepat waktu ke informasi yang jelas, dapat dimengerti dan relevan tentang sistem manajemen K3;

(3) Menentukan dan menghilangkan hambatan atau hambatan untuk berpartisipasi dan meminimalkan hal-hal yang tidak dapat dihapus.

Catatan ; hambatan dan rintangan dapat mencakup kegagalan untuk menanggapi masukan atau saran pekerja, hambatan bahasa atau literasi, pembalasan atau ancaman pembalasan dendam dan kebijakan atau praktik yang mengecilkan atau menghukum partisipasi pekerja.

(4) Menekankan konsultasi pekerja non-manajerial sebagai berikut:

(32)

(a) Menentukan kebutuhan dan harapan pihak yang berkepentingan (lihat 4.2);

(b) Menetapkan kebijakan K3 (lihat 5.2);

(c) Menetapkan peran, tanggung jawab dan wewenang organisasi, sebagaimana berlaku (lihat 5.3);

(d) Menentukan bagaimana memenuhi persyaratan hukum dan persyaratan lainnya (lihat 6.1.3);

(e) Menetapkan sasaran dan perencanaan K3 untuk mencapainya (lihat 6.2);

(f) Menentukan kontrol yang berlaku untuk outsourcing, pengadaan dan kontraktor (lihat 8.1.4);

(g) Menentukan apa yang perlu dipantau, diukur dan dievaluasi (lihat 9.1);

(h) Perencanaan, penetapan, penerapan dan pemeliharaan program audit (lihat 9.2.2);

(i) Memastikan perbaikan berkelanjutan (lihat 10.3);

(5) Menekankan partisipasi pekerja nonmanajerial sebagai berikut:

(a) Menentukan mekanisme untuk konsultasi dan partisipasi mereka;

(b) Mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko dan peluang (lihat 6.1.1 dan 6.1.2);

(c) Menentukan tindakan untuk menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko K3 (lihat 6.1.4);

(33)

(d) Menentukan persyaratan kompetensi, kebutuhan pelatihan, pelatihan dan evaluasi pelatihan (lihat 7.2);

(e) Menentukan apa yang perlu dikomunikasikan dan bagaimana ini akan dilakukan (lihat 7.4);

(f) Menentukan tindakan pengendalian dan penerapan serta penggunaannya yang efektif (lihat 8.1, 8.1.3 dan 8.2);

(g) Menyelidiki insiden dan ketidaksesuaian dan menentukan tindakan korektif (lihat 10.2).

Catatan : menekankan konsultasi dan partisipasi pekerja non-manajerial dimaksudkan untuk diterapkan pada orang yang melaksanakan kegiatan kerja, tetapi tidak dimaksudkan untuk mengecualikan, misalnya, manajer yang dipengaruhi oleh kegiatan kerja atau faktor lain dalam organisasi.

Catatan : diakui bahwa penyediaan pelatihan tanpa biaya kepada pekerja dan penyediaan pelatihan selama jam kerja, jika memungkinkan, dapat menghilangkan hambatan yang signifikan terhadap partisipasi

3) Klausul 6 perencanaan

a) Klausul 6.1 tindakan untuk mengatasi risiko dan peluang (1) Klausul 6.1.1 umum

Ketika merencanakan sistem manajemen K3, organisasi harus mempertimbangkan masalah yang dirujuk dalam 4.1 (konteks), persyaratan yang dirujuk dalam 4.2 (pihak yang

(34)

berkepentingan) dan 4.3 (ruang lingkup sistem manajemen K3) dan menentukan risiko dan peluang yang perlu dialamatkan ke:

(a) Memberikan jaminan bahwa sistem manajemen K3 dapat mencapai hasil yang diinginkan;

(b) Mencegah, atau mengurangi, efek yang tidak diinginkan;

(c) Mencapai perbaikan berkelanjutan.

Ketika menentukan risiko dan peluang untuk sistem manajemen K3 dan hasil yang diinginkan yang perlu ditangani, organisasi harus mempertimbangkan; bahaya (lihat 6.1.2.1), risiko K3 dan risiko lainnya (lihat 6.1.2.2), peluang K3 dan peluang lainnya (lihat 6.1.2.3), persyaratan hukum dan persyaratan lainnya (lihat 6.1.3).

Organisasi, dalam proses perencanaannya, harus menentukan dan menilai risiko dan peluang yang relevan dengan hasil yang diharapkan dari sistem manajemen K3 yang terkait dengan perubahan dalam organisasi, prosesnya atau sistem manajemen K3. Dalam kasus perubahan yang direncanakan, permanen atau sementara, penilaian ini harus dilakukan sebelum perubahan dilaksanakan (lihat 8.1.3).

Organisasi harus menyimpan informasi yang terdokumentasi tentang: risiko dan peluang, proses dan tindakan yang diperlukan untuk menentukan dan mengatasi risiko dan peluangnya (lihat 6.1.2 hingga 6.1.4) sejauh yang di perlukan

(35)

untuk memiliki keyakinan bahwa mereka dilaksanakan sesuai rencana.

(2) Klausul 6.1.2 identifikasi bahaya dan penilaian risiko dan peluang

(a) Klausul 6.1.2.1 identifikasi bahaya

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk identifikasi bahaya yang sedang berlangsung dan proaktif. Proses harus mempertimbangkan, tetapi tidak terbatas pada : bagaimana kerja diatur, faktor sosial (termasuk beban kerja, jam kerja, viktimisasi, pelecehan dan intimidasi), kepemimpinan dan budaya dalam organisasi.

Kegiatan dan situasi rutin dan non-rutin, termasuk bahaya yang timbul dari infrastruktur, peralatan, material, zat dan kondisi fisik tempat kerja, desain produk dan layanan, penelitian, pengembangan, pengujian, produksi, perakitan, konstruksi, penyampaian layanan, pemeliharaan dan pembuangan, faktor manusia, bagaimana pekerjaan itu dilakukan, insiden relevan yang lalu, internal atau eksternal organisasi, termasuk keadaan darurat, dan penyebabnya, potensi situasi darurat, orang, termasuk pertimbangan, mereka yang memiliki akses ke tempat kerja dan kegiatan mereka, termasuk pekerja, kontraktor, pengunjung, dan orang

(36)

lain, orang-orang di sekitar tempat kerja yang dapat dipengaruhi oleh kegiatan organisasi, pekerja di lokasi yang tidak berada di bawah kendali langsung organisasi.

Masalah lain, termasuk pertimbangan, desain area kerja, proses, instalasi, mesin/peralatan, prosedur operasi dan organisasi kerja, termasuk adaptasinya dengan kebutuhan dan kemampuan pekerja yang terlibat, situasi yang terjadi di sekitar tempat kerja yang disebabkan oleh kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan di bawah kendali organisasi, situasi yang tidak dikontrol oleh organisasi dan terjadi di sekitar tempat kerja yang dapat menyebabkan cedera dan kesehatan yang buruk bagi orang-orang di tempat kerja, perubahan aktual atau yang diusulkan dalam organisasi, operasi, proses, kegiatan dan sistem manajemen K3 (lihat 8.1.3);

(b) Klausul 6.1.2.2 penilaian risiko K3 dan risiko lainnya terhadap sistem manajemen K3

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk : menilai risiko K3 dari bahaya yang teridentifikasi, sambil mempertimbangkan keefektifan pengendalian yang ada, menentukan dan menilai risiko lain yang terkait dengan pembentukan, penerapan, pengoperasian dan pemeliharaan sistem manajemen K3.

(37)

Metodologi dan kriteria organisasi untuk penilaian risiko K3 harus ditetapkan dengan memperhatikan ruang lingkup, sifat dan waktunya untuk memastikan bahwa mereka proaktif daripada reaktif dan digunakan dengan cara yang sistematis.

Informasi yang terdokumentasi harus dipelihara dan disimpan berdasarkan metodologi dan kriteria.

(c) Klausul 6.1.2.3 penilaian peluang K3 dan peluang lain untuk sistem manajemen K3

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk menilai: peluang K3 untuk meningkatkan kinerja K3, dengan mempertimbangkan perubahan yang direncanakan pada organisasi, kebijakannya, prosesnya atau kegiatannya dan kesempatan untuk menyesuaikan pekerjaan, organisasi kerja dan lingkungan kerja untuk pekerja, peluang untuk menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko K3, peluang lain untuk meningkatkan sistem manajemen K3.

Catatan : risiko K3 dan peluang K3 dapat menghasilkan risiko lain dan peluang lain untuk organisasi.

(3) Klausul 6.1.3 penentuan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk:

(38)

(a) Menentukan dan memiliki akses ke persyaratan hukum terkini dan persyaratan lain yang berlaku untuk bahaya, risiko K3 dan sistem manajemen K3;

(b) Menentukan bagaimana persyaratan hukum dan persyaratan lain berlaku untuk organisasi dan apa yang perlu dikomunikasikan;

(c) Mengambil persyaratan hukum dan persyaratan lainnya ke dalam akun ketika membangun, menerapkan, memelihara dan terus meningkatkan sistem manajemen K3.

Organisasi harus merawat dan menyimpan informasi yang terdokumentasi tentang persyaratan hukum dan persyaratan lainnya dan harus memastikan bahwa itu diperbarui untuk mencerminkan perubahan apa pun.

Catatan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya dapat mengakibatkan risiko dan peluang bagi organisasi.

(4) Klausul 6.1.4 merencanakan tindakan

(a) Organisasi harus merencanakan indakan untuk : mengatasi risiko dan peluang ini (lihat 6.1.2.2 dan 6.1.2.3), megatasi persyaratan hukum dan persyaratan lainnya (lihat 6.1.3), mempersiapkan dan menanggapi situasi darurat (lihat 8.2);

(b) Caranya yaitu dengan : mengintegrasikan dan menerapkan tindakan ke dalam proses sistem manajemen K3 atau proses bisnis lainnya, mengevaluasi efektivitas tindakan ini.

(39)

Organisasi harus mempertimbangkan herarki control (lihat 8.1.2) dan output dari system manajemen K3 saat merencanakan untuk mengambil tindakan.

Ketika merencanakan tindakannya, organisasi harus mempertimbangkan praktik terbaik, pilihan teknologi dan persyaratan keuangan, operasional dan bisnis.

b) Klausul 6.2 objektif/ sasaran K3 dan perencanaan untuk mencapainya

(1) Klausul 6.2.1 objektif/ sasaran K3

Organisasi harus menetapkan sasaran K3 pada fungsi dan tingkat yang relevan untuk mempertahankan dan terus meningkatkan sistem manajemen K3 dan kinerja K3 (lihat 10.3).

Sasaran K3 harus:

(a) Konsisten dengan kebijakan K3;

(b) Dapat diukur (jika bisa dilakukan) atau mampu melakukan evaluasi kinerja;

(c) Memperhitungkan persyaratan yang berlaku, hasil penilaian risiko dan peluang (lihat 6.1.2.2 dan 6.1.2.3), dan hasil konsultasi dengan pekerja (lihat 5.4) dan, di mana mereka ada, perwakilan pekerja;

(d) Dimonitor;

(e) Dikomunikasikan;

(f) Diperbarui sebagai

(40)

(g) Tepat.

(2) Klausul 6.2.2 perencanaan untuk mencapai sasaran K3

Ketika merencanakan bagaimana mencapai sasaran K3-nya, organisasi harus menentukan: apa yang akan dilakukan, sumber daya apa yang diperlukan, siapa yang akan bertanggung jawab;, kapan akan selesai, bagaimana hasilnya akan dievaluasi, termasuk indikator untuk pemantauan, dan bagaimana tindakan untuk mencapai sasaran K3 akan diintegrasikan ke dalam proses bisnis organisasi.

Organisasi harus memelihara dan menyimpan informasi yang didokumentasikan tentang tujuan dan rencana K3 untuk mencapainya.

4) Klausul 7 support

a) Klausul 7.1 sumber daya

Organisasi harus menentukan dan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk pembentukan, penerapan, pemeliharaan, dan peningkatan berkelanjutan sistem manajemen K3.

b) Klausul 7.2 Kompetensi Organisasi harus:

(1) Menentukan kompetensi yang diperlukan pekerja yang mempengaruhi atau dapat mempengaruhi kinerja K3-nya;

(41)

(2) Memastikan bahwa pekerja kompeten (termasuk kemampuan untuk mengidentifikasi bahaya) atas dasar pendidikan, pelatihan atau pengalaman yang sesuai;

(3) Jika memungkinkan, mengambil tindakan untuk memperoleh dan mempertahankan kompetensi yang diperlukan, dan meng- evaluasi efektivitas tindakan yang diambil;

(4) Mempertahankan informasi yang di-dokumentasikan sebagai bukti kompetensi.

Catatan tindakan yang dapat diterapkan dapat mencakup, misalnya, penyediaan pelatihan untuk, mentoring, atau penugasan kembali orang yang saat ini bekerja, atau mempekerjakan atau mengontrak orang yang kompeten.

c) Klausul 7.3 awareness

Pekerja harus diberi tahu tentang:

(1) Kebijakan K3 serta sasaran K3;

(2) Kontribusi mereka terhadap efektivitas sistem manajemen K3, termasuk manfaat peningkatan kinerja K3;

(3) Implikasi dan konsekuensi potensial karena tidak sesuai dengan persyaratan sistem manajemen K3;

(4) Insiden dan hasil investigasi yang relevan dengan mereka;

(5) Bahaya, risiko dan tindakan K3 yang ditentukan yang relevan bagi mereka;

(42)

Kemampuan untuk menghapus diri dari situasi kerja yang mereka anggap menghadirkan bahaya yang dekat dan serius terhadap kehidupan atau kesehatan mereka, serta pengaturan untuk melindungi mereka dari konsekuensi yang tidak semestinya untuk melakukannya.

d) Klausul 7.4 komunikasi (1) Klausul 7.4.1 umum

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses yang diperlukan untuk komunikasi internal dan eksternal yang relevan dengan sistem manajemen K3, termasuk menentukan:

(a) Pada apa yang akan dikomunikasikan;

(b) Kapan harus berkomunikasi;

(c) Dengan siapa untuk berkomunikasi:

(d) Secara internal di antara berbagai tingkatan dan fungsi organisasi;

(e) Di antara kontraktor dan pengunjung ke tempat kerja;

(f) Di antara pihak lain yang berkepentingan;

(g) Cara berkomunikasi.

Organisasi harus mempertimbangkan aspek keragaman akun (misalnya gender, bahasa, budaya, melek huruf, kecacatan) ketika mempertimbang-kan kebutuhan komunikasinya.

Organisasi harus memastikan bahwa pandangan pihak yang

(43)

berkepentingan eksternal dipertimbangkan dalam membangun proses komunikasinya.

Ketika membangun proses komunikasinya, organisasi harus:

mempertimbangkan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya, emastikan bahwa informasi K3 yang dikomunikasikan konsisten dengan informasi yang dihasilkan dalam sistem manajemen K3, dan dapat diandalkan.

Organisasi harus menanggapi komunikasi yang relevan pada sistem manajemen K3. Organisasi harus menyimpan informasi yang terdokumentasi sebagai bukti komunikasinya, sebagaimana mestinya.

(2) Klausul 7.4.2 komunikasi internal Organisasi harus:

(a) Secara internal mengkomunikasikan informasi yang relevan dengan sistem manajemen K3 di antara berbagai tingkat dan fungsi organisasi, termasuk perubahan pada sistem manajemen K3, yang sesuai;

(b) Memastikan proses komunikasinya me-mungkinkan pekerja untuk berkontribusi pada perbaikan berkelanjutan.

(3) Klausul 7.4.3 komunikasi eksternal

Organisasi harus secara eksternal meng-komunikasikan informasi yang relevan dengan sistem manajemen K3,

(44)

sebagaimana ditetapkan oleh proses komunikasi organisasi dan memperhatikan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya.

e) Klausul 7.5 informasi yang didokumentasikan (1) Klausul 7.5.1 umum

Sistem manajemen K3 organisasi harus mencakup:

(a) Dokumentasi informasi yang diperlukan oleh dokumen ini;

(b) Informasi yang terdokumentasi yang ditentukan oleh organisasi sebagai penting untuk keefektifan sistem manajemen K3.

Catatan sejauh mana informasi yang terdokumentasi untuk sistem manajemen K3 dapat berbeda dari satu organisasi ke yang lain karena: ukuran organisasi dan jenis kegiatan, proses, produk dan layanannya, kebutuhan untuk menunjukkan pemenuhan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya, kompleksitas proses dan interaksinya, dan kompetensi pekerja.

(2) Klausul 7.5.2 membuat dan memperbaharui

Ketika membuat dan memperbarui informasi yang terdokumentasi, organisasi harus memastikan yang sesuai:

(a) Identifikasi dan deskripsi (misalnya judul, tanggal, penulis atau nomor referensi);

(b) Format (misalnya bahasa, versi perangkat lunak, grafik) dan media (misalnya kertas, elektronik);

(c) Review dan persetujuan untuk kecocokan dan kecukupan.

(45)

(3) Klausul 7.5.3 pengendalian informasi yang terdokumentasi Informasi yang didokumentasikan yang diperlukan oleh sistem manajemen K3 dan oleh dokumen ini harus dikendalikan untuk memastikan:

(a) Tersedia dan sesuai untuk digunakan, di mana dan kapan diperlukan;

(b) Dilindungi secara memadai (misalnya dari hilangnya kerahasiaan, penggunaan yang tidak benar atau kehilangan integritas).

Untuk mengontrol informasi yang terdokumentasi, organisasi harus membahas kegiatan berikut, sebagaimana berlaku: distribusi, akses, pengambilan dan penggunaan, penyimpanan dan pelestarian, termasuk pelestarian keterbacaan, kontrol perubahan (misalnya kontrol versi), dan retensi dan disposisi.

Informasi yang terdokumentasi dari sumber eksternal yang ditentukan oleh organisasi yang diperlukan untuk perencanaan dan pengoperasian sistem manajemen K3 harus diidentifikasi, sesuai, dan terkontrol.

Catatan akses dapat menyiratkan keputusan mengenai izin untuk melihat informasi yang didokumentasikan saja, atau izin dan otoritas untuk melihat dan mengubah informasi yang didokumentasikan.

(46)

Catatan akses ke informasi terdokumentasi yang relevan termasuk akses oleh pekerja, dan, di mana mereka ada, perwakilan pekerja.

5) Klausul 8 perencanaan dan kendali operasional a) Klausul 8.1 perencanaan dan kendali operasi

(1) Klausul 8.1.1 umum

Organisasi harus merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, dan memelihara proses yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen K3, dan untuk menerapkan tindakan yang ditentukan dalam Klausul 6, dengan:

(a) Menetapkan kriteria untuk proses;

(b) Menerapkan kendali atas proses sesuai dengan kriteria;

(c) Memelihara dan menyimpan informasi yang terdokumentasi sejauh yang diperlukan untuk memiliki keyakinan bahwa proses telah dilakukan sesuai rencana;

(d) Menyesuaikan pekerjaan dengan pekerja.

Di tempat kerja multi-majikan, organisasi harus mengkoordinasikan bagian yang relevan dari sistem manajemen K3 dengan organisasi lain.

(2) Klausul 8.1.2 menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko K3 Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko K3 menggunakan hierarki kontrol berikut:

(47)

(a) Menghilangkan bahaya;

(b) Mengganti dengan proses, operasi, bahan atau peralatan yang kurang berbahaya;

(c) Menggunakan kontrol teknik dan reorganisasi kerja;

(d) Menggunakan kontrol administratif, termasuk pelatihan;

(e) Menggunakan alat pelindung diri yang memadai.

Catatan di banyak negara, persyaratan hukum dan persyaratan lainnya termasuk persyaratan bahwa alat pelindung diri (APD) diberikan tanpa biaya kepada pekerja.

(3) Klausul 8.1.3 manajemen perubahan

Organisasi harus menetapkan suatu proses untuk pelaksanaan dan pengendalian perubahan sementara dan permanen yang direncanakan yang berdampak pada kinerja K3, termasuk:

(a) Produk, layanan dan proses baru, atau perubahan produk, layanan, dan proses yang ada, termasuk: lokasi dan lingkungan tempat kerja, organisasi kerja, kondisi kerja, peralatan, dan angkatan kerja;

(b) Perubahan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya;

(c) Perubahan pengetahuan atau informasi tentang bahaya dan risiko K3;

(d) Perkembangan pengetahuan dan teknologi.

(48)

Organisasi harus meninjau konsekuensi dari perubahan yang tidak disengaja, mengambil tindakan untuk mengurangi efek merugikan, jika diperlukan.

Catatan perubahan dapat menghasilkan risiko dan peluang.

(4) Klausul 8.1.4 pengadaan (a) Klausul 8.1.4.1 umum

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk mengontrol pengadaan produk dan layanan untuk memastikan kesesuaiannya dengan sistem manajemen K3.

(b) Klausul 8.1.4.2 kontraktor

Organisasi harus mengoordinasikan proses pengadaannya dengan kontraktornya, untuk mengidentifikasi bahaya dan untuk menilai dan mengendalikan risiko K3 yang timbul dari:

kegiatan dan operasi kontraktor yang berdampak pada organisasi, kegiatan dan operasi organisasi yang berdampak pada pekerja kontraktor, dan kegiatan dan operasi kontraktor yang berdampak pada pihak lain yang berkepentingan di tempat kerja.

Organisasi harus memastikan bahwa persyaratan sistem manajemen K3 dipenuhi oleh kontraktor dan pekerja mereka.

Proses organisasi procurement harus menetapkan dan

(49)

menerapkan kriteria kesehatan dan keselamatan kerja untuk pemilihan kontraktor.

Catatan akan sangat membantu untuk memasukkan kriteria kesehatan dan keselamatan kerja untuk pemilihan kontraktor dalam dokumen kontrak.

(c) Klausul 8.1.4.3 outsourcing

Organisasi harus memastikan bahwa fungsi dan proses yang dialihdayakan dikontrol. Organisasi harus memastikan bahwa pengaturan outsourcing-nya konsisten dengan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya dan dengan mencapai hasil yang diharapkan dari sistem manajemen K3.

Jenis dan tingkat kontrol yang akan diterapkan pada fungsi dan proses ini harus didefinisikan dalam sistem manajemen K3.

Catatan koordinasi dengan penyedia eksternal dapat membantu organisasi untuk mengatasi dampak apa pun yang ditimbulkan alih daya pada kinerja K3.

b) Klausul 8.2 kesiapsiagaan dan tanggap darurat

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses yang diperlukan untuk mempersiapkan dan menanggapi situasi darurat potensial, sebagaimana diidentifikasi dalam 6.1.2.1, termasuk:

(50)

(1) Menetapkan tanggapan yang direncanakan untuk situasi darurat, termasuk penyediaan pertolongan pertama;

(2) Memberikan pelatihan untuk tanggapan yang direncanakan;

(3) Secara berkala menguji dan melatih kemampuan respons yang direncanakan;

(4) Mengevaluasi kinerja dan, bila perlu, merevisi tanggapan yang direncanakan, termasuk setelah pengujian dan, khususnya, setelah terjadinya situasi darurat;

(5) Mengkomunikasikan dan memberikan informasi yang relevan kepada semua pekerja tentang tugas dan tanggung jawab mereka;

(6) Mengkomunikasikan informasi yang relevan kepada kontraktor, pengunjung, layanan tanggap darurat, otoritas pemerintah dan, sebagaimana mestinya, masyarakat setempat;

(7) Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan semua pihak yang berkepentingan yang relevan dan memastikan keterlibatan mereka, sebagaimana mestinya, dalam pengembangan respon yang direncanakan.

Organisasi harus menyimpan dan menyimpan informasi yang terdokumentasi mengenai proses dan rencana untuk menanggapi situasi darurat potensial.

6) Klausul 9 evaluasi kinerja

a) Klausul 9.1 pemantauan, pengukuran, analisis, dan evaluasi kinerja

(51)

(1) Klausul 9.1.1 umum

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses untuk pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja.

Organisasi harus menentukan:

(a) Apa yang perlu dipantau dan diukur, termasuk: sejauh mana persyaratan hukum dan persyaratan lainnya dipenuhi, kegiatan dan operasinya terkait dengan bahaya, risiko, dan peluang yang teridentifikasi, kemajuan menuju pencapaian sasaran K3 organisasi, dan efektivitas pengendalian operasional dan lainnya;

(b) Metode untuk pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja, sebagaimana berlaku, untuk memastikan hasil yang valid;

(c) Kriteria yang akan digunakan organisasi untuk mengevaluasi kinerja K3-nya;

(d) Kapan pemantauan dan pengukuran harus dilakukan;

(e) Kapan hasil dari pemantauan dan pengukuran (f) Harus dianalisis, dievaluasi dan dikomunikasikan.

Organisasi harus mengevaluasi kinerja K3 dan menentukan efektivitas sistem manajemen K3. Organisasi harus memastikan bahwa peralatan pemantauan dan pengukuran dikalibrasi atau

(52)

diverifikasi sebagaimana berlaku, dan digunakan dan dipelihara sebagaimana mestinya.

Catatan bisa saja ada persyaratan hukum atau persyaratan lain (misalnya standar nasional atau internasional) tentang kalibrasi atau verifikasi pemantauan dan peralatan pengukur.

Organisasi harus menyimpan informasi yang terdokumentasi dengan tepat: sebagai bukti hasil pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi kinerja dan ada pemeliharaan, kalibrasi atau verifikasi peralatan pengukuran.

(2) Klausul 9.1.2 evaluasi kepatuhan

Organisasi harus menetapkan, menerapkan, dan memelihara suatu proses untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap persyaratan hukum dan persyaratan lainnya (lihat 6.1.3).

Organisasi harus:

(a) Menentukan frekuensi dan metode untuk evaluasi kepatuhan;

(b) Mengevaluasi kepatuhan dan mengambil tindakan jika diperlukan (lihat 10.2);

(c) Menjaga pengetahuan dan pemahaman tentang status kepatuhannya dengan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya;

Menyimpan informasi yang terdokumentasi dari hasil evaluasi kepatuhan.

b) Klausul 9.2 audit internal

(53)

(1) Klausul 9.2.1 umum

Organisasi harus melakukan audit internal pada interval yang direncanakan untuk memberikan informasi tentang apakah sistem manajemen K3 sesuai dengan:

(a) Persyaratan organisasi sendiri untuk sistem manajemen K3, termasuk kebijakan K3 dan sasaran K3;

(b) Persyaratan dokumen ini; diterapkan dan dipelihara secara efektif.

(2) Klausul 9.2.2 program audit internal Organisasi harus:

(a) Merencanakan, menetapkan, menerapkan dan memelihara program audit termasuk frekuensi, metode, tanggung jawab, konsultasi, persyaratan perencanaan dan pelaporan, yang harus mempertimbangkan pentingnya proses yang terkait dan hasil audit sebelumnya;

(b) Menentukan kriteria dan ruang lingkup audit untuk setiap audit;

(c) Memilih auditor dan melakukan audit untuk memastikan objektivitas dan ketidakberpiha-kan proses audit;

(d) Memastikan bahwa hasil audit dilaporkan kepada manajer terkait; memastikan bahwa hasil audit yang relevan dilaporkan kepada pekerja, dan, di mana mereka ada, perwakilan pekerja, dan pihak terkait yang relevan lainnya;

(54)

(e) Mengambil tindakan untuk mengatasi ketidaksesuaian dan terus meningkatkan kinerja K3 (lihat Ayat 10);

(f) Menyimpan informasi yang terdokumentasi sebagai bukti pelaksanaan program audit dan hasil audit.

Catatan untuk informasi lebih lanjut tentang audit dan kompetensi auditor, lihat ISO 19011.

c) Klausul 9.3 tinjauan manajemen

Manajemen puncak harus meninjau sistem manajemen K3 organisasi, pada interval yang direncanakan, untuk memastikan kelanjutan kesesuaian, kecukupan dan keefektifannya.

Tinjauan manajemen harus mencakup pertimbangan:

(1) Status tindakan dari tinjauan manajemen sebelumnya;

(2) Perubahan dalam masalah eksternal dan internal yang relevan dengan sistem manajemen K3, termasuk:

(a) Kebutuhan dan harapan pihak yang berkepentingan;

(b) Persyaratan hukum dan persyaratan lainnya;

(c) Risiko dan peluang;

(d) Sejauh mana kebijakan K3 dan sasaran K3 telah terpenuhi;

(e) Informasi tentang kinerja K3, termasuk tren dalam:

(f) Insiden, ketidaksesuaian, tindakan korektif dan perbaikan berkelanjutan;

(g) Pemantauan dan hasil pengukuran;

(55)

(h) Hasil evaluasi kepatuhan terhadap per-syaratan hukum dan persyaratan lainnya;

(i) Hasil audit;

(j) Konsultasi dan partisipasi pekerja;

(k) Risiko dan peluang;

(l) Kecukupan sumber daya untuk memelihara sistem manajemen K3 yang efektif;

(m) Komunikasi yang relevan dengan pihak yang berkepentingan;

(n) Peluang untuk peningkatan berkelanjutan.

Keluaran dari tinjauan manajemen harus mencakup keputusan yang terkait dengan: kesesuaian berkelanjutan, kecukupan dan efektivitas sistem manajemen K3 dalam mencapai hasil yang diinginkan, peluang peningkatan berkelanjutan, kebutuhanuntuk perubahan sistem manajemen K3, sumber daya yang dibutuhkan, tindakan, jika diperlukan, peluang untuk meningkatkan integrasi sistem manajemen K3 dengan proses bisnis lainnya dan implikasi untuk arah strategis organisasi.

Manajemen puncak harus mengkomunikasikan hasil tinjauan manajemen yang relevan kepada pekerja, dan, di mana mereka ada, perwakilan pekerja (lihat 7.4). Organisasi harus menyimpan

(56)

informasi yang terdokumentasi sebagai bukti hasil tinjauan manajemen.

7) Klausul 10 improvement a) Klausul 10.1 umum

Organisasi harus menentukan peluang untuk perbaikan (lihat klausul 9) dan menerapkan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diharapkan dari sistem manajemen K3.

b) Klausul 10.2 insiden, ketidaksesuaian, dan tindakan korektif

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara suatu proses, termasuk melaporkan, menginvestigasi dan mengambil tindakan, untuk menentukan dan mengelola insiden dan ketidaksesuaian. Ketika insiden atau ketidaksesuaian terjadi, organisasi harus:

(1) Bereaksi tepat waktu terhadap insiden atau ketidaksesuaian dan, sebagaimana berlaku:

(2) Mengambil tindakan untuk mengendalikan dan memperbaikinya;

(3) Berurusan dengan konsekuensinya;

(4) Mengevaluasi, dengan partisipasi pekerja (lihat 5.4) dan keterlibatan pihak berkepentingan yang relevan lainnya, perlunya tindakan korektif untuk menghilangkan akar penyebab insiden atau ketidaksesuaian, agar tidak berulang atau terjadi di tempat lain, oleh:

Referensi

Dokumen terkait

Lihatlah pada gambar, dan warnailah burung puyuh serta manna yang telah Allah kirimkan bagi orang Israel.?. Biarkanlah

problem solving disertai dengan media bangun ruang matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sukadana. Hipotesis pada penelitian ini adalah metode pembelajaran problem

4 Nurcholis (2015) Pengaruh Komunitas Merek Terhadap Loyalitas Merek : The Effects Of Brand Community On Brand Loyalty - Kesadaran bersama - Ritual dan tradisi -

Bisa dibayangkan, meski kita semua maklum bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, jika ada gagasan untuk merubah konsep pembangunan yang berbasis

Lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara dan lapisan batubara di Lajur Barat dan Tengah termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (backmangrove sampai rawa air tawar)

Simulasi dilakukan untuk mengetahui penyebaran jumlah penderita HIV di setiap kabupaten/kota dan mengetahui daerah yang berpotensi endemik HIV/AIDS di Provinsi Jawa Tengah

Oleh karena itu,penelitian ini mengkaji tentang sistem penamaan marga sebagai identitas masyarakat keturunan Arab Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta dan relasi

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa konsentrasi asap cair kulit kacang tanah 8%, 10%, dan 12% berpengaruh