• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumber modal suatu perusahaan umumnya berasal dari modal internal dan eksternal. Komposisi dari struktur modal terdiri atas utang dan ekuitas. Biaya modal yang berasal dari utang berupa biaya bunga, sedangkan biaya modal yang berasal dari ekuitas berupa deviden. Dalam upaya memenuhi kebutuhan sumber pendanaan, perusahaan diharuskan memilih berbagai alternatif yang optimal sebagai sumber modal untuk kegiatan usahanya. Peran manajer keuangan dituntut membuat kebijakan keuangan yang optimal agar perusahaan mampu bertahan di kondisi yang tidak stabil sekalipun. Salah satu keputusan penting yang dihadapi oleh manajer terkait dengan kelangsungan operasi perusahaan adalah keputusan pendanaan. Suweta (2016) menyatakan bahwa struktur modal merupakan suatu pembelanjaan permanen yang mencerminkan perimbangan utang jangka panjang dan modal sendiri. Sumber pendanaan dibutuhkan untuk membiayai kebutuhan pembelian aset dan biaya operasional agar perusahaan dapat beroperasi dengan maksimal.

Upaya pemenuhan sumber modal bukanlah hal yang mudah karena perusahaan harus dapat menciptakan kombinasi paling menguntungkan terkait hal tersebut. Hal ini lantaran perusahaan dituntut untuk memenangkan persaingan dalam kondisi bisnis yang maju dan bertumbuh (Dewi &

Fachrurrozie, 2021). Sunhaji (2019) berpendapat bahwa masalah struktur modal merupakan masalah yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan struktur modal merupakan cerminan dari kondisi finansial perusahaan tersebut. Oleh karena itu, perusahaan dituntut mampu mengelola kebutuhan pendanaan agar dapat bersaing dengan yang lain (Dewi &

Fachrurrozie, 2021). Bagaimanapun perusahaan memerlukan dana yang tidak sedikit untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Jika terjadi kekurangan dana tentu saja akan menghambat kegiatan operasional yang akan berimbas

(2)

pada keuntungan yang akan diperoleh perusahaan. Semakin baik struktur modal semakin memungkinkan untuk memengaruhi investor dalam upaya penanaman modal. Kondisi finansial perusahaan juga akan memengaruhi pemikiran para pemegang saham, apakah kebijakan yang diterapkan dapat memakmurkan mereka atau sebaliknya.

Fenomena yang sedang terjadi hingga saat ini yaitu pandemi COVID-19.

COVID-19 menyebabkan merosotnya pasar keuangan global sebagai respon atas ketidakpastian dan ketakutan publik terhadap COVID-19 (Huang & Ye, 2021). Penyebaran virus tersebut sangat cepat hingga pada awal tahun 2020 berhasil menyebar di Indonesia. Berdasarkan penelitian Saraswati (2020) pertumbuhan ekonomi sebelum COVID-19 pada tahun 2014 hingga 2019 cenderung stabil di angka 4,97 persen - 5,20 persen. Sedangkan pada triwulan pertama tahun 2020 menunjukkan adanya penurunan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan yakni menjadi 2,97 persen. Di sisi lain akibat dari COVID-19 ini menyebabkan menurunnya kinerja pasar saham dibandingkan sebelum adanya COVID-19. Oleh karena itu, berbagai upaya digalakkan oleh pemerintah untuk kembali menormalkan kehidupan aktivitas masyarakat.

Melalui keputusan presiden pada tanggal 31 Maret 2020, Indonesia ditetapkan dalam Kedaruratan Corona Virus Disease (COVID-19) dengan penanggulangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Berbagai belahan dunia telah membatasi aktivitas manusia dalam rangka memutus rantai penyebaran virus ini. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beberapa kebijakan sebagai upaya menangani COVID-19. Pertama kali pemerintah mengumumkan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai saat ini pemerintah telah berkali-kali mengganti nama kebijakan untuk penanganan COVID-19 tersebut. Dimana pemerintah mengganti istilah PPKM Darurat menjadi PPKM Level 4-3 (detikNews, 2021). Menurut Aprillianto (2021) adanya penurunan kinerja ekonomi dan keuangan baik secara makro maupun mikro merupakan salah satu dampak dari pembatasan masif ini. Pembatasan tersebut diterapkan

(3)

dengan tujuan menjaga kesehatan masyarakat, namun pada akhirnya berdampak besar bagi perekonomian. Pembatasan tersebut membuat mobilitas menurun sehingga daya beli masyarakat melemah dan perekonomian menjadi stagnan (Shen et al., 2020).

Dilansir dari laman Kontan.id berdasarkan data yang dikutip melalui Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) dari 5 Pengadilan Niaga di Indonesia yaitu Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Pengadilan Niaga Medan, Pengadilan Niaga Semarang, Pengadilan Niaga Surabaya dan Pengadilan Niaga Makassar, kasus PKPU tercatat mengalami peningkatan. Pada tahun 2019 terdapat 434 perkara PKPU yang tercatat, lalu perkara PKPU terjadi peningkatan di tahun 2020 yakni terdapat 641 perkara PKPU (Susanto, 2021).

Hendra Setiawan Boen selaku Praktisi Hukum dan Advokat mengatakan bahwa peningkatan perkara PKPU ini akibat dampak COVID-19 yang menimpa perusahaan kecil maupun besar. Termasuk di dalamnya perusahaan sektor perasuransian yang sebagian besar gagal bayar terhadap klaim yang sudah jatuh tempo yang diajukan para pemegang polis. Ketidakmampuan perusahaan asuransi dalam membayar klaim tersebut merupakan suatu masalah bagi perusahaan asuransi.

Selain itu, pandemi juga menghantam perusahaan sektor perbankan di Indonesia yang ditandai dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya perlambatan pertumbuhan kredit yang berujung pada penurunan profitabilitas industri perbankan. Dilansir dari laman Databoks (2021) berdasarkan Data Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rasio non performing loan (NPL) perbankan berada di atas tiga persen sejak mei 2020 lalu, sedangkan nilai kredit perbankan mengalami penurunan. Melalui data yang sama pada bulan April 2021, NPL perbankan mencapai Rp 176,48 triliun atau 3,22 persen dari total kredit yang dikeluarkan yaitu senilai Rp 5.482,17 triliun. Sebanyak 4,9 persen kredit perbankan dibiayakan untuk modal kerja; 28,4 persen untuk kredit konsumsi; dan 26,64 persen untuk kredit investasi. Di tengah pandemi gelombang kedua, OJK telah mewaspadai peningkatan rasio NPL dimana pada Juli 2021 meningkat

(4)

menjadi 3,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam rangka mempertahankan stabilitas ekonomi OJK telah membuat serangkaian kebijakan untuk mengeluarkan relaksasi bagi perbankan mengenai penilaian atas kualitas kredit dan restrukturisasi kredit. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga kinerja debitur, lembaga keuangan, dan perekonomian. Kebijakan yang menjadi bagian dari countercyclical tersebut diputuskan untuk diperpanjang hingga 2023.

Adanya himbauan stay at home sangat berdampak pada banyak sektor khususnya sektor keuangan sehingga perlambatan pertumbuhan pembiayaan menjadi imbas dari himbauan tersebut. Peningkatan pembiayaan bermasalah juga menjadi imbas dari akibat banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Surya & Asiyah (2020) menyebutkan bahwa perbankan menerapkan kebijakan penundaan pembayaran pembiayaan yang diperuntukkan bagi beberapa nasabah yang mengalami penurunan pendapatan.

Pembiayaan yang tidak lancar memberi dampak pada kinerja keuangan perbankan (non performing financing). Fenomena-fenomena tersebut sangat menarik untuk dilakukan penelitian karena dipengaruhi oleh situasi yang menyulitkan perusahaan. Hal inilah yang menjadi alasan dipilihnya perusahaan keuangan sebagai objek dalam penelitian ini.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi struktur modal diantaranya adalah profitabilitas, ukuran perusahaan, dan struktur aset. Profitabilitas adalah salah satu rasio yang dapat mengukur kemampuan perusahan untuk memperoleh laba dalam suatu periode usaha. Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas berkaitan erat dengan laba yang dihasilkan suatu perusahaan (Dewi & Fachrurrozie, 2021). Profitabilitas memegang peranan penting dalam perkembangan perusahaan karena dapat mengukur kinerja dan keberhasilan perusahaan. Profitabilitas dapat meningkatkan reputasi perusahaan dengan memaksimalkan nilai investor dan nilai pemangku kepentingan. Melalui profitabilitas dapat menunjukkan adanya prospek yang baik di masa depan (Hakim & Apriliani, 2020). Kinerja perusahaan yang baik akan menciptakan reaksi positif oleh stakeholder. Penggunaan utang jangka panjang dapat

(5)

ditekan melalui tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga perusahaan dapat meningkatkan persentase jumlah laba ditahan sebagai modal bagi perusahaan (Xuan Vinh Vo, 2017) dalam (Lisiana & Endang, 2020). Semakin tinggi profitabilias maka semakin rendah pula tingkat utang yang dipinjam perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan mampu mendanai operasional usahanya menggunakan modal internal berupa laba ditahan. Hal ini merujuk pada teori pecking order yang menyatakan bahwa sumber modal utama perusahaan diharuskan berasal dari hasil usaha yang dijalankan. Dengan kata lain, teori ini menghendaki tiap-tiap pelaku usaha untuk menggunakan dana internalnya dalam memenuhi kebutuhan operasional perusahaan.

Faktor selanjutnya yang memengaruhi struktur modal adalah ukuran perusahaan. Menurut Dewi M. (2016) menjelaskan bahwa ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya ukuran perusahaan yang dapat dilihat melalui banyaknya total aset perusahaan, jumlah penjualan, dan rata-rata penjualan.

Perusahaan yang berukuran besar memiliki kemampuan untuk memberikan sinyal positif kepada investor atau kreditur untuk menanamkan modal atau memperoleh pinjaman. Bagaimana juga perusahaan dengan ukuran yang besar memiliki kemudahan akses modal di pasar modal dan memiliki kecenderungan untuk menggunakan pinjaman dengan jumlah yang besar (Darma & Premawati, 2017). Oleh karena itu, perusahaan yang berukuran besar akan menyebabkan penggunaan dana eksternal yang tinggi (Lianto et al., 2020). Sehingga semakin tinggi ukuran perusahaan maka semakin tinggi

pula struktur modal perusahaan. Rahmayanti dalam Lianto et al. (2020) menyebutkan bahwa perusahaan besar akan memperoleh kemudahan dalam memenuhi tambahan modal di pasar modal dibandingkan perusahaan yang berukuran kecil. Dalam membuat keputusan beriventasi, investor menilai kelayakan investasi dengan menggunakan ukuran perusahaan sebagai tolak ukurnya. Melalui ukuran perusahaan dapat mencerminkan bahwa perusahaan berkembang dan bertumbuh dengan baik sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan itu sendiri. Menurut Darma & Premawati (2017) besarnya ukuran perusahaan juga berdampak pada peningkatan profitabilitas yang akan

(6)

diperoleh perusahaan. Ukuran perusahaan dapat terlihat melalui total aset yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga perusahaan yang berukuran besar akan menjalankan kegiatan operasionalnya dengan memanfaatkan aset yang dimiliki oleh perusahaan. Dewi & Fachrurrozie (2021) berpendapat bahwa ukuran perusahaan yang besar dengan likuiditas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu membiayai seluruh kegiatan operasionalnya dengan dana internal. Dengan merujuk teori pecking order, perusahaan yang berukuran besar maupun kecil akan mengutamakan pendanaan internal dalam memenuhi kegiatan operasionalnya.

Selain itu terdapat faktor lain yang dapat memengaruhi struktur modal yaitu struktur aset. Struktur aset adalah perimbangan atau perbandingan antara aset tetap dan total aset. Permasalahan dalam pembentukan struktur aset pada sebagian besar perusahaan adalah sebagian besar modalnya tertanam dalam aset tetap yang mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal tetap yaitu ekuitas, sedangkan utang bersifat pelengkap (Hakim & Apriliani, 2020).

Perusahaan dengan total aset yang besar cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan pembiayaannya dengan dana eksternal. Besarnya komposisi aset tetap yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan aset lancar terhadap total aset maka dapat menggunakan utang yang lebih besar untuk mendanai investasinya. Sebaliknya perusahaan yang didominasi oleh besarnya aset lancar dibandingkan aset tetap maka akan kesulitan untuk mengakses dana secara eksternal. Menurut Jalil (2018) investor memiliki tingkat percaya yang tinggi pada perusahaan yang memiliki jaminan atas utang dalam jumlah besar, jika perusahaan mengalami kebangkrutan, maka aset tetap tersebut dapat digunakan untuk melunasi utang-utang yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi komponen utang akan berhubungan dengan tingginya struktur aset.

Penelitian ini dilakukan tentunya tidak terlepas dengan adanya penelitian terdahulu. Rahmadianti & Yuliandi (2020) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal. Semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi pula nilai perusahaan di mata pemilik perusahaan, investor

(7)

maupun kreditur. Oleh karena itu, perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi akan memungkinkan untuk membiayai sebagian besar operasional perusahaan dengan pendanaan internal. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Andika & Sedana (2019) menyatakan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap struktur modal. Jika profitabilitas semakin meningkat ataupun menurun hal tersebut tidak akan memengaruhi peningkatan atau penurunan dari struktur modal perusahaan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ariyani et al. (2019) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal.

Semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin besar pula akses untuk mendapatkan sumber pendanaan melalui pihak eksternal. Sedangkan Lessy (2016) menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap struktur modal. Hal ini berarti perusahaan lebih cenderung menyukai pendanaan yang berasal dari internal, sehingga besar atau kecilnya ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap penggunaan sumber dana eksternal. Jalil (2018) menyatakan bahwa struktur aset berpengaruh terhadap struktur modal. Semakin besar struktur aset tetap perusahaan maka semakin besar pula peluang perusahaan untuk memperoleh tambahan modal melalui pinjaman utang dengan menjaminkan aset tetap yang dimiliki. Sedangkan Lianto et al. (2020) berpendapat bahwa bahwa struktur aset tidak berpengaruh terhadap struktur modal.

Selanjutnya Violandani (2021) melakukan pengujian komparatif dan menyatakan bahwa terdapat perbedaan profitabilitas sebelum dan semasa pandemi COVID-19 dengan objek penelitian pada perusahaan yang tergabung di Indeks LQ45. Adanya perbedaan rasio profitabilitas disebabkan bahwa laba yang diperoleh mayoritas perusahaan mengalami penurunan pada kuartal ketiga tahun 2019 ke kuartal ketiga tahun 2020. Sebaliknya Bustami et al.

(2021) menyatakan bahwa pandemi tidak menyebabkan terjadinya perbedaan rasio profitabilitas. Bahkan saat pandemi perusahaan mampu menghasilkan laba dengan baik yang ditujukkan dengan kinerja perusahaan yang stabil dan bertumbuh saat pandemi.

(8)

Lin et al. (2021) menyatakan bahwa terdapat perbedaan ukuran perusahaan sebelum dan semasa pandemi COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada ukuran perusahaan. Dimana perusahaan yang berukuran kecil sangat terdampak pandemi COVID-19 sehingga banyak pekerja yang diberhentikan karena kesulitan dalam finansial.

Sebaliknya Ambarwati et al. (2021) menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan pada ukuran perusahaan. Hasil penelitian ini dilakukan dengan menggunakan paired sample t-test. Perusahaan yang berukuran besar cenderung memiliki aset dan sumber modal yang besar serta stabil sehingga dapat mempertahankan kinerjanya di masa pandemi dibandingkan perusahaan yang berukuran kecil.

Lalu Esomar & Christianty (2021) menyatakan bahwa terdapat perbedaan DER sebelum dan semasa pandemi COVID-19 pada perusahaan sektor jasa yang terdaftar di BEI tahun 2019-2020. Perbedaan ini disebabkan bahwa perusahaan lebih banyak menggunakan pendanaan eksternal saat terjadinya pandemi COVID-19. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hilman & Laturette (2021) pada perusahaan sektor barang konsumsi tahun 2019-2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan DER sebelum dan semasa pandemi COVID-19.

Pada penelitian ini menggunakan objek perusahaan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2019-2020 sebagai objek penelitian dengan tujuan untuk melihat struktur modal perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI. Selain itu, alasan peneliti melakukan penelitian ini karena berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia serta dalam penelitian ini menggunakan metode atau pengukuran yang berbeda dari penelitian yang dijadikan rujukan pada variabel dependennya yaitu struktur modal.

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti akan melakukan penelitian yang berjudul “ANALISIS STRUKTUR MODAL SEBELUM DAN SEMASA COVID-19 PADA PERUSAHAAN KEUANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)”.

(9)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI?

2. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI?

3. Apakah struktur aset berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI?

4. Apakah terdapat perbedaan struktur modal sebelum dan semasa COVID- 19?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menguji pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal pada perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI.

2. Untuk menguji pengaruh ukuran perusahaan terhadap struktur modal pada perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI.

3. Untuk menguji pengaruh struktur aset terhadap struktur modal pada perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI.

4. Untuk menguji perbedaan struktur modal sebelum dan semasa COVID-19.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk penelitian sebelumnya dan menjadi dasar dalam penelitian selanjutnya khususnya tentang variabel independen profitabilitas, ukuran perusahaan dan struktur aset serta variabel dependen struktur modal. Hasil penelitian

(10)

ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terkait dengan pembaruan teori yang harus di telusuri lebih dalam mengenai keputusan perusahaan untuk mengoptimalkan struktur modal melalui keputusan pendanaan yang tepat. Sehingga penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi bagi pemangku kepentingan di perusahaan.

2. Manfaat Praktis

Dengan penelitian ini dapat membantu pihak manajamen dalam pengambilan keputusan pendanaan terkait struktur modal yang optimal dalam rangka memaksimalkan pertumbuhan perusahaan dan kesejahteraan para pemangku kepentingan. Selain itu penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan manfaat bagi investor mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi komposisi struktur modal.

Referensi

Dokumen terkait

Melalui pendekatan Scientific Approach dengan menggunakan model Cooperative Learning, peserta didik mampu mengidentifikasidan menyusun fungsi sosial, struktur teks

Berdasarkan perbandingan nilai akurasi yang diperoleh dari pengujian hasil klasifikasi terhadap data training, menunjukkan algoritma Decision Tree lebih baik

K omisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kementerian Kesehatan, Nahda- tul Ulama (NU) dan Perkumpulan Ke- luarga Berencana Indonesia (PKBI) menyelengga- rakan Pertemuan

Indikator yang dapat menunjukkan apakah seseorang telah mempunyai kemampuan pemecahan masalah, menurut NCTM (2003) adalah: (1) Menerapkan dan mengadaptasi berbagai

Pengamatan yang dilakukan se- tiap hari selama 3 hari menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi EDS 40% memiliki persentase penghambatan terbesar dan menunjukkan perbedaan yang

Perputaran aset tetap dapat diketahui dari penjualan dibandingkan dengan rata-rata aset tetap perusahaan. Setiap perusahaan tentunya menginginkan perputaran aset tetap yang

Struktur aktiva (Assets tangibility) merupakan perimbangan antara aset tetap dengan total aset yang dimiliki perusahaan. Pada umumnya kreditur akan lebih memilih

Ukuran koperasi menggunakan dasar total aset koperasi, semakin besar total aset maka semakin besar ukuran koperasi sehingga koperasi memiliki tanggungjawab lebih terhadap