• Tidak ada hasil yang ditemukan

Representasi Gender dalam Film Dua Garis Biru (2109)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Representasi Gender dalam Film Dua Garis Biru (2109)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

121

Representasi Gender dalam Film Dua Garis Biru (2109)

DIAN HARIGELITA, ERINA ADELINE TANDIAN, NIA SARI Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

e-mail: [email protected],

erinadeline90 gmail.com, [email protected]

ABSTRACT The Indonesian film, Two Blue Stripes (2019), narrates the story of a teenage couple who gets pregnant out of wedlock. The protagonists of this film are Bima and Dara, who come from different backgrounds. Bima is responsible for Dara’s pregnancy. There are several gender discourses based on Indonesian culture, especially in the setting of Jakarta, which this film tries to convey. This article aims to examine gender representation in the film Two Blue Stripes. The research method is textual study by observing the mise-en-scene in the film. The approach is cultural studies with a focus on gender issues. The results of the study state that the representation of patriarchal mindset, which is conveyed in this film, does not only hurt Dara as a female character, but also Bima as a male character as well.

Keywords: Two Blue Stripes movie, representation, gender, cultural studies.

ABSTRAK Film Indonesia berjudul Dua Garis Biru (2019) menceritakan tentang pasangan remaja yang hamil di luar nikah. Protagonis film ini adalah Bima dan Dara yang memiliki latar belakang berbeda. Bima memutuskan bertanggung jawab atas kehamilan Dara. Ada beberapa wacana gender berdasarkan budaya Indonesia, terutama dengan latar Jakarta, yang coba disampaikan dalam film ini. Artikel ini bertujuan mengkaji representasi gender dalam film Dua Garis Biru. Metode penelitian yang dilakukan adalah kajian tekstual dengan mengamati mise-en-scene film. Pendekatan yang dilakukan yaitu cultural studies dengan berfokus pada masalah gender. Hasil kajian menyatakan bahwa representasi pemahaman patriarki, yang disampaikan dalam film ini, tidak hanya merugikan tokoh Dara sebagai perempuan saja, namun juga Bima sebagai tokoh laki-laki.

Kata Kunci: Film Dua Garis Biru, representasi, gender, kajian budaya.

Pendahuluan

Dua Garis Biru (Two Blue Stripes) adalah film Indonesia yang dirilis tahun 2019 dan disutradarai oleh Gina S. Noer. Film ini meraih banyak nominasi Festival Film Indonesia 2019, termasuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik. Film ini berhasil meraih penghargaan Skenario Asli Terbaik pada ajang festival film tersebut.

Film dengan genre drama percintaan ini mengisahkan sepasang remaja laki-laki dan perempuan bernama Bima dan Dara.

Mereka adalah teman sekelas yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Bima adalah siswa yang selalu mendapatkan nilai terendah di kelas,

sedangkan Dara selalu memperoleh nilai tertinggi dan bercita-cita melanjutkan kuliah di Korea Selatan.

Perbedaan di antara Bima dan Dara juga terdapat dari latar belakang keluarga mereka berdua. Bima adalah anak laki- laki dari keluarga berstatus sosial ekonomi menengah ke bawah dengan orang tua yang sangat taat agama. Sebaliknya, orang tua Dara termasuk mapan secara ekonomi, namun cenderung kurang perhatian terhadap anak-anaknya. Faktor ini menjadi salah satu penyebab berbagai konflik di sepanjang film.

Terlepas dari adanya perbedaan tersebut, Bima dan Dara saling mencintai.

(2)

122

Suatu hari, mereka berhubungan intim dan menyebabkan Dara hamil di usia remaja. Bima dan Dara berhenti sekolah lalu menikah. Pada bagian akhir film, Dara memutuskan tetap ke Korea Selatan untuk melanjutkan studi, sementara bayi mereka diasuh oleh keluarga Bima.

Sebelumnya, terdapat beberapa film dengan tema serupa yang pernah diproduksi oleh beberapa negara lain. Tema kehamilan remaja pernah digambarkan dalam film Jenny, Juno (2005) dari Korea Selatan dan Juno (2007) produksi Hollywood. Dua Garis Biru adalah film tentang kehamilan remaja di luar pernikahan yang memiliki latar cerita atau konteks Indonesia. Konteks budaya Indonesia berpengaruh terhadap alur naratif dan penggambaran adegan- adegan dalam film.

Film bisa menjadi representasi kehidupan masyarakat (Hopkins, 2018). Film merupakan teks yang dapat merepresentasikan suatu wacana sosial, juga untuk mengomunikasikan argumen maupun kritik terhadap kondisi sosial tertentu (Pamungkas, 2017). Hall (1997) dalam bukunya yang berjudul Representation: Cultural Representation and Signifying Practices mendefinisikan representasi sebagai kemampuan untuk menggambarkan dan membayangkan.

Dengan demikian, sutradara dapat menggambarkan suatu kondisi sosial di masyarakat melalui film, yang kemudian akan dibayangkan oleh penontonnya sebagai representasi dari realitas yang ada.

Film Dua Garis Biru merepresentasikan dinamika serta perbandingan antara remaja laki-laki dan perempuan, yang berasal dari kelas sosial ekonomi berbeda, dalam menghadapi masalah kehamilan di luar nikah.

Permasalahan yang dihadapi oleh para tokoh film ini berhubungan dengan faktor lingkungan dan kebudayaan mereka. Salah satu masalah sosial yang cukup dominan direpresentasikan dalam film ini adalah kebiasaan orang Indonesia dalam bergosip serta pengaruhnya terhadap reaksi dan keputusan yang diambil para tokoh film ini.

Permasalahan lain yang muncul dalam film ini adalah keadilan gender antara murid laki-laki dan perempuan ketika menghadapi problem hamil di luar nikah. Masalah ini digambarkan dalam sebuah adegan penting atau golden scene di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), setelah pihak sekolah dan orang tua akhirnya mengetahui kehamilan Dara. Kepala Sekolah memutuskan untuk mengeluarkan (drop out) Dara dari sekolah akibat hamil. Kondisi perut Dara yang akan semakin membesar dikhawatirkan bisa mempermalukan sekolah tersebut dan mengganggu murid- murid lainnya. Sementara itu, Bima, sebagai laki-laki yang menghamili Dara, justru tidak dikeluarkan dan tetap bisa bersekolah di sana.

Sejalan adegan tersebut, ada stigma di masyarakat kalau perempuan akan selalu menjadi pihak yang paling dirugikan dalam kasus kehamilan luar nikah di Indonesia.

Perempuan dianggap sulit untuk menutupi kehamilan karena kondisi fisiknya sebagai pihak yang memiliki rahim, sedangkan laki- laki tidak mengalami hal demikian. Kasus semacam ini akan semakin merugikan pihak perempuan jika laki-laki memutuskan untuk lari dari tanggung jawab.

Keunikan film Dua Garis Biru justru terletak pada alur naratif yang menceritakan kalau tokoh Bima berani bertanggung jawab atas kehamilan Dara. Film ini berusaha memperlihatkan perbandingan

(3)

123 konsekuensi yang diterima oleh pihak laki-

laki dan perempuan dalam kasus kehamilan remaja di luar nikah. Peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut permasalahan gender yang direpresentasikan dalam film Dua Garis Biru. Apakah hanya perempuan yang dirugikan dalam kasus demikian ataukah pihak laki-laki juga menanggung konsekuensinya?

Kajian ini akan menggunakan pendekatan cultural studies karena isu gender yang muncul dalam film ini terkait dengan konteks budaya Indonesia.

Bagian terbesar cultural studies terpusat pada pertanyaan tentang representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial kepada dan oleh kita (Barker, 2011). Hal ini mengharuskan kita mengeksplorasi pembentukan makna tekstual serta menyelidiki cara dihasilkannya makna pada beragam konteks.

Film Dua Garis Biru menggunakan sejumlah metafora dalam pengadeganannya.

Peneliti hendak mengkaji film ini dengan membedah makna-makna yang berusaha diartikulasikan melalui analisis tekstual.

Kajian ini juga berfokus pada analisis naratif film dan representasi makna melalui mise- en-scene. Mise-en-scene adalah pengaturan segala sesuatu yang muncul dalam frame film (Bordwell, et al., 2017). Bagian berikutnya akan menjabarkan konsep- konsep cultural studies yang relevan dalam kajian ini dengan berfokus pada isu gender, lalu dilanjutkan dengan pembahasan film Dua Garis Biru menggunakan pendekatan tersebut.

Konsep Gender dalam Pendekatan Cultural Studies

Konsep gender dalam kaitannya dengan penelitian budaya merupakan disiplin yang mempelajari bagaimana peristiwa-peristiwa historis, budaya dan sosial membentuk peran gender di masyarakat. Di satu sisi, ilmu gender berpusat pada perbedaan laki- laki dan perempuan, sementara di sisi lain, ilmu ini juga merujuk pada perbedaan seksual dan kategorisasi definisi yang non-binary (tidak jelas) antara kedua jenis kelamin tersebut.

Umumnya, penelitian terhadap gender melibatkan kontestasi dua topik yakni feminisme dan patriarki. Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Feminisme menggabungkan posisi bahwa masyarakat memprioritaskan sudut pandang laki-laki, dan bahwa perempuan diperlakukan secara tidak adil di dalam masyarakat tersebut (Gamble, 1996). Sementara ‘patriarki’ secara harfiah bermakna ‘kekuasaan bapak’ atau

’patriarch’. Awalnya, patriarki digunakan untuk menyebut suatu jenis ‘keluarga yang dikuasai oleh kaum laki-laki’, yaitu rumah tangga besar patriarch yang terdiri dari kaum perempuan, laki-laki muda, anak- anak, budak dan pelayan rumah tangga yang semuanya berada di bawah kekuasaan laki-laki penguasa (bapak). Sekarang, jika orang menyebut kata patriarki, hal ini berarti sistem yang menindas serta merendahkan kaum perempuan, baik dalam lingkup rumah tangga maupun dalam masyarakat (Bhasin, 1995).

(4)

124

Ilmuwan feminisme, Chris Weedon, dalam garis besar penelitiannya tentang apropriasi feminisme pada pascastrukturalisme, berargumen bahwa feminisme membutuhkan teori yang berhubungan dengan bahasa dan budaya yang mencegah pengotakkan individu secara universal, serta berusaha memberikan model pemahaman bagaimana subjek dan subjektivitas terbentuk secara historis dan oleh budaya (Balsamo, 1991). Melihat bagaimana fokus utama antara sastra dan budaya, terciptanya sastra feminis dan budaya feminis sama-sama berkutat dengan diskursus pembentukan identitas dan subjektivitas, serta apa yang nantinya bisa dimaknai sebagai politik representasi (Balsamo, 1991).

Adapun konsep-konsep cultural studies yang digunakan yang berkaitan dengan konsep gender adalah agency dan alienation. Dalam ilmu sosial, agency merupakan kapasitas para individu untuk bertindak secara independen dan membuat keputusan-keputusan sendiri. Sementara itu, struktur yang kerap dihadapkan dengan agency merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti agama, jenis kelamin, suku, kemampuan, adat, tradisi, dan sebagainya. Pada hakikatnya, hal ini menentukan atau membatasi agen (faktor penggerak) dan keputusan mereka. Pengaruh struktur dan agen kerap diperdebatkan, serta masih belum jelas sejauh apa tindakan seseorang terikat oleh sistem sosial (Barker, 2005). Di sisi lain, alienasi merupakan terminologi pengasingan, baik secara sosial maupun psikologis seseorang dari lingkungannya dan bahkan dari dirinya sendiri. Pengasingan ini dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk, misalnya rasa tidak berdaya atau terbatasnya ruang gerak (agency), yang disebabkan oleh belenggu eksternal dan institusional.

Deutsch (dalam Heraty, 2018) mengatakan bahwa perempuan memerlukan masokisme, agar secara psikologis ia bersedia menghayati penderitaan fungsi seksual. Proses kehamilan, melahirkan dan memelihara, pula defloratie (inisiasi seksual) harus diderita olehnya dan sebelum ini segala penghayatan kompleks kastrasi sebagai trauma genitalia. Dalam budaya patriarki, makna perempuan telah direduksi ke dalam fungsi ibu, atau dengan kata lain perempuan telah direduksi menjadi fungsi reproduksi (Handayani, 2013).

Feminisme dan kesetaraan gender memiliki hubungan erat, namun ada perbedaannya. Feminisme merupakan paham yang memperjuangkan hak perempuan, sedangkan kesetaraan gender memperjuangkan keadilan bagi laki-laki dan perempuan. Bourdieu dalam bukunya Masculine Domination bersikeras bahwa laki-laki juga terperangkap dan merupakan korban dari rezim gender yang berlaku.

Clark (2004) menyebutkan bahwa hak istimewa laki-laki juga menjadi sebuah perangkap dan memiliki sisi negatif berupa ketegangan permanen dan terkadang absurd, terjadi pada setiap laki-laki yang harus menjalankan kewajibannya untuk bersikap maskulin dalam kondisi apapun.

Bertahun-tahun refleksi atas konstruksi sosial gender telah membantu kita menyadari bahwa laki-laki menghadapi persoalan penting dalam hidup mereka, bukan semata-mata sebagai hasil dari tidak kompatibelnya pandangan hegemonik maskulinitas dan apa yang diperlukan agar mereka dapat hidup bahagia di dunia sosial masa kini (Barker, 2011). Karya-karya psikoterapeutis menyatakan bahwa banyak sikap problematis laki-laki berakar dari rasa rendah diri, yang muncul dari harapan kultural tentang maskulinitas.

(5)

125

Film Dua Garis Biru dari Pendekatan Cultural Studies

Budaya sering dianggap sebagai praktik atau ajang kontestasi makna dalam memandang dunia. Williams (1958) menyebutkan bahwa budaya mencakup semua aspek kehidupan, yang diwariskan dan disosialisasikan, untuk melihat kehidupan sekaligus proses perubahannya. Bila film bisa menjadi representasi budaya tertentu, maka agen perubahan itu sendiri terlihat dalam wujud tokoh protagonis.

Karakter paling penting dalam film adalah protagonis, karena ia menjadi tokoh yang memiliki masalah utama dan mendorong sejumlah aksi untuk menyelesaikan masalah tersebut (Truby, 2008). Dengan demikian, protagonis merupakan karakter yang menjadi pengantar jalan cerita sekaligus membawa pesan moral dalam film. Protagonis film Dua Garis Biru ada dua orang, yaitu tokoh Bima dan Dara. Kedua tokoh ini menjadi perwujudan agen yang coba menantang pandangan budaya patriarki di Indonesia.

Film Dua Garis Biru dibuka dengan sebuah adegan di kelas. Tokoh Guru meminta setiap murid berdiri sesuai nilai yang mereka peroleh dalam ujian.

Dara memperoleh nilai tertinggi di kelas, sedangkan Bima justru mendapat nilai paling jelek. Kemudian, dialog berikut berupa sindiran tokoh Guru beserta reaksi dari Bima dan Dara muncul dalam film.

Guru: Udah ngga ada masa depan kamu, Bim. Malu dong sama sebelahnya.

Bima: Iya, Pak.

Dara: Yang penting kan ga nyontek.

(Sumber: Noer, 2019)

Sindiran tokoh Guru ini sekilas seperti bermaksud memotivasi Bima agar mendapat nilai bagus di ujian berikutnya.

Namun, ada sebuah wacana patriarki bahwa laki-laki yang lebih bodoh daripada pacar perempuannya harus malu. Di sini tokoh Bima mengiyakan pandangan Guru tersebut sambil tertunduk malu. Namun, Dara justru tidak mempermasalahkan jika ia berpacaran dengan laki-laki yang memiliki kecerdasan di bawahnya.

Sekuens berikutnya beralih ke rumah Dara yang sepi. Dara mendandani Bima dengan peralatan make up miliknya sambil menunjuk poster para idolanya dari Korea Selatan (Gambar 1). Bima terlihat tenang saat didandani oleh Dara dan tidak mengeluh. Bima mulai protes saat Dara hendak mengunggah foto dirinya ke Instagram, karena ia merasa malu.

Gambar 1.

Dara mendandani Bima, terlihat poster laki-laki Korea Selatan di background

(Sumber: Noer, 2019)

Berdasarkan adegan ini, gaya berpacaran Bima dan Dara cenderung tidak heteronormatif. Keduanya tidak masalah dengan citra laki-laki yang dandan, seperti para idola Dara dari Korea Selatan. Meskipun demikian, Bima mulai risih ketika Dara hendak mengunggah foto dirinya dengan wajah penuh make up di media sosial. Di sini tokoh Bima berusaha menghindari konsekuensi sosial yang akan ia terima jika

(6)

126

orang-orang di lingkungan sosialnya tahu ia berdandan seperti perempuan.

Kemudian, Bima berusaha merebut handphone Dara demi mencegah pacarnya mengunggah foto tersebut ke Instagram.

Tiba-tiba, keduanya saling bertatapan dan terbawa suasana. Adegan dipotong saat Bima mencondongkan kepalanya seperti hendak mencium Dara, lalu muncul insert judul “Dua Garis Biru”. Adegan berlanjut dengan menampilkan Bima dan Dara di balik selimut. Dara terdiam membelakangi Bima yang tampak kebingungan dengan perilaku pacarnya itu. Meskipun adegan berhubungan intim tidak diperlihatkan, penonton sudah bisa menebak apa yang baru saja dialami oleh pasangan ini. Hal ini semakin diperjelas dengan dialog dari Bima bahwa mereka baru saja berhubungan intim untuk pertama kalinya.

Bima: Kamu ngga papa? Tadi dakit ya? Dara?

Dara: Kamu jangan bilang siapa-siapa, Bim.

(Sumber: Noer, 2019)

Berdasarkan adegan setelah mereka pertama kali berhubungan intim, Bima dan Dara merespons pengalaman tersebut dengan cara yang berbeda. Dara terlihat lebih gelisah secara psikologis dan merasakan sakit secara fisik, yang kemungkinan disebabkan akibat robeknya selaput dara untuk pertama kali. Dara juga terkesan khawatir pada dampak sosial yang ia akan terima, jika orang lain tahu dirinya sudah tidak perawan sebelum menikah.

Bima, sebagai laki-laki, tidak tampak terguncang seperti Dara, namun ia merasa bingung dengan perubahan sikap pacarnya.

Adegan berikutnya memperlihatkan Bima dan Dara sedang makan di restoran seafood bersama teman-teman sekolahnya.

Dara memilah kerang-kerang yang masih segar dan sudah kurang baik (Gambar 2).

Bima meledek Dara kalau yang dilakukannya adalah hal mubazir. Bima memakan satu kerang yang sudah tidak segar sambil mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Dara merasa tertantang dengan ucapan Bima, kemudian ia memakan kerang yang sudah tidak segar. Tiba-tiba, Dara mual dan hampir muntah.

Gambar 2.

Dara memisahkan kerang yang baik dan tidak (Sumber: Noer, 2019)

Kerang merupakan salah satu makanan yang dipercaya masyarakat berfungsi sebagai afrodisiak atau penambah gairah seksual. Selain itu, bentuk kerang mirip seperti organ kelamin bagian luar perempuan, sehingga kerang dalam film ini diibaratkan sebagai godaan bagi Dara untuk menyerahkan keperawanannya pada Bima.

Dara merasa sakit menjadi konsekuensi yang ia terima karena jatuh pada tantangan Bima.

Selanjutnya, Bima pun mengantarkan Dara pulang ke rumah. Bima bertemu Rika, ibu Dara, lalu meminta maaf karena Dara muntah akibat anjurannya untuk makan kerang. Dialog di adegan ini memiliki planting of information tentang sikap Rika dan Bima terhadap masalah yang dihadapi Dara.

(7)

127 Rika: Gimana sih? Udah tahu sumber

masalah, masih aja disamperin.

Bima: Maaf yah, Tante. Saya jadi ngga enak, Dara jadi sakit.

Rika: Kok kamu minta maaf?

Kan dia yang makan. Salahnya Dara dong.

(Sumber: Noer, 2019)

Adegan ini memperlihatkan karakterisasi dari tokoh Dara, Bima, dan Rika dalam menghadapi masalah kehamilan di luar nikah. Bima digambarkan sebagai sosok laki-laki yang spontan, ceroboh, dan tidak takut dengan risiko dari perbuatan yang dilakukannya. Namun, Bima cepat merasa bersalah dan selalu meminta maaf, sekalipun hal tersebut bukan sepenuhnya salah dirinya. Dialog Bima juga memiliki makna implisit, kalau ia akan merasa bersalah nantinya saat tahu Dara hamil. Dara merupakan seseorang yang sebenarnya pemilih dan cerdas, namun pendiriannya mudah goyah akibat godaan.

Sementara itu, dialog Rika ketika Bima minta maaf memiliki makna implisit, bahwa menurutnya Dara adalah pihak yang paling salah, karena tidak mampu menghindari sumber masalah.

Ketika Dara menyadari dirinya telat menstruasi, ia dan Bima berniat membeli testpack di toko obat. Dara gugup dan panik ketika pelayan toko bertanya kepadanya, lalu ia pun segera pergi. Bima akhirnya berhasil memperoleh testpack dengan menggunakan jasa ojek online untuk membeli benda tersebut beserta beberapa barang lain. Di sini terlihat tanggung jawab Bima untuk membantu Dara mengecek kehamilannya. Mereka mengecek kehamilan di rumah Dara.

Ketika Bima menunggu Dara mengecek kehamilannya, ia memegang pajangan jam pasir yang ada di kamar tersebut. Shot berikutnya menampilkan close up dua garis pada testpack yang menyatakan Dara hamil.

Gambar 3.

Bima memegang jam pasir, sementara Dara memegang hasil testpack

(Sumber: Noer, 2019)

Jam pasir merupakan sebuah benda yang menyerupai bentuk tubuh perempuan.

Pasir yang jatuh menunjukkan waktu yang terus berjalan. Gambar 3 merupakan jukstaposisi atau sambungan shot jam pasir dan hasil testpack positif. Jukstaposisi semacam ini menyiratkan makna bahwa cepat atau lambat kehamilan Dara akan diketahui orang-orang di sekitar mereka.

Tampak penyesalan di wajah Bima, seolah- olah ia berharap jika waktu bisa diputar kembali semudah membalikkan jam pasir.

Bima mengalami perubahan sikap setelah mengetahui Dara hamil. Ia lebih sering terlihat sedih dan diam, sehingga

(8)

128

membuat kedua orang tuanya cemas.

Bima menangis ketika makan malam bersama kedua orang tuanya. Yuni, ibu Bima, memarahi putranya karena tahu Bima memiliki pacar. Yuni menyalahkan Bima karena melanggar larangannya soal pacaran. Sementara itu, Rudy, ayah Bima, menasihati agar putranya tidak menangis karena perempuan.

Rudi: Jadi anak cowo itu jangan mau nangis karena cewe. Bapak malu kalau kamu cengeng gini ah.

Bima: Bima yang salah, Pak.

Rudy: Kamu masih sayang sama dia? Gampang kalau begitu. Kalau kamu salah, minta maaf. Minta maaf kalau salah. Gampang, kan? Tapi jangan bilang-bilang Ibu yah Bapak ngomong kayak gini.

(Sumber: Noer, 2019)

Berdasarkan adegan tersebut, terlihat kondisi dan pola asuh dari orang tua Bima. Bima dibesarkan oleh orang tua yang taat agama dan heteronormatif. Yuni sebagai ibu Bima mendidik putranya dengan keras dan selalu memarahinya, sehingga Bima menjadi pribadi yang cengeng. Rudy sebagai ayah justru bersikap lebih lembut, namun ia menanamkan nilai-nilai patriarki kalau laki-laki tidak boleh menangis.

Padahal, menangis adalah suatu proses emosi yang manusiawi. Seseorang yang mendapat kesempatan dari orang-orang di sekitarnya untuk menangis saat merasa sedih lebih berhasil dalam meningkatkan mood menjadi lebih baik (Rottenberg, et al., 2008).

Selain itu, adegan tersebut memperlihatkan salah satu peran gender yang diadopsi Bima adalah hasil didikan ayahnya. Rudy menyarankan Bima untuk minta maaf ke Dara saat merasa salah.

Hal ini berpengaruh terhadap karakter Bima yang selalu meminta maaf, sekalipun masalah tersebut bukan sepenuhnya kesalahannya sendiri.

Gambar 4.

Kemunculan sosok ondel-ondel di sepanjang film (Sumber: Noer, 2019)

(9)

129 Bima dan Dara memutuskan untuk

mengaborsi calon bayi mereka. Demi mencari biaya untuk aborsi, Bima meminjam uang kepada Pong, sahabatnya yang sering mengamen menggunakan ondel-ondel.

Jika diperhatikan, ondel-ondel dalam film ini muncul dalam empat adegan berbeda.

Ondel-ondel muncul pertama kali dalam adegan Dara mual saat makan kerang, kemudian saat Bima meminta bantuan kepada Pong, lalu ketika Dara mengungsi ke rumah Bima setelah ketahuan hamil, dan terakhir muncul dalam mimpi Dara (Gambar 4). Dengan demikian, ada maksud tertentu dari repetisi kemunculan ondel- ondel dalam film ini.

Ondel-ondel adalah boneka raksasa khas Betawi yang biasanya muncul secara berpasangan di perayaan besar, namun belakangan ini justru sering dimanfaatkan untuk mengamen. Ondel-ondel yang muncul di film ini selalu hanya sendirian dan hampir selalu berwujud perempuan dengan dominasi warna biru. Warna biru menggambarkan kesedihan yang menjadi mood dominan film ini dan sesuai dengan judul “Dua Garis Biru”. Ondel-ondel berjenis kelamin perempuan menggambarkan sosok ibu, karena di dalam boneka ini biasanya ada orang di dalamnya. Gambar 5 memperlihatkan Bima meminta tolong kepada Pong dengan wajah putus asa.

Shot ini diambil dari point of view orang di dalam ondel-ondel. Bima mengatakan kalau ia tidak tahu lagi harus menceritakan masalahnya ke siapa. Adegan ini seolah- olah menggambarkan Bima yang sedang berbicara dengan bayi dalam kandungan tentang kegelisahannya.

Sementara itu, Dara yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu mencari informasi tentang kandungan di internet.

Dalam sebuah website, ada artikel yang mengatakan bahwa ukuran bayi dalam kandungan Dara saat ini sebesar buah stroberi. Dara rebahan di atas kasur sambil meletakkan sebuah stroberi di atas perutnya. Kemudian, pada adegan Dara dan Bima menunggu di depan klinik aborsi, Bima membelikan jus untuk Dara.

Dara melihat penjual jus memasukkan beberapa biji stroberi ke dalam blender dan menyalakan mesin tersebut. Buah stroberi dalam blender hancur sampai berwarna merah. Melihat hal tersebut, Dara berlari dan dikejar oleh Bima. Dara menyatakan keinginannya untuk mempertahankan bayi dalam kandungannya karena ia merasakan ikatan batin. Berdasarkan kedua adegan ini, buah stroberi menjadi metafora yang menggambarkan janin dalam kandungan Dara, sedangkan blender adalah representasi aborsi (Gambar 6). Aborsi menjadi sesuatu yang menakutkan bagi Dara karena naluri keibuannya terlanjur muncul pada titik tersebut.

Gambar 5.

Point of view orang dalam ondel-ondel melihat Bima yang putus asa

(Sumber: Noer, 2019)

(10)

130

Bima dan Dara sepakat untuk menutupi kehamilan tersebut sampai mereka lulus sekolah. Usaha mereka gagal ketika di pelajaran olahraga, Dara tidak sengaja mengalami cedera dan membongkar rahasia tentang kehamilannya. Pihak sekolah segera memanggil orang tua Bima dan Dara.

Adegan berikutnya merupakan golden scene film ini. Ada satu hari shooting yang dipersiapkan khusus untuk adegan terpenting ini saja. Adegan ini menggunakan teknik sinematografi long take dengan koreografi atau gerakan kamera yang dirancang khusus, serta berlangsung selama kurang lebih 6 menit 17 detik di ruangan UKS. Pada adegan ini, terdapat dialog yang menunjukkan ketidakadilan gender dari pihak sekolah yang diberikan kepada Dara dan Bima.

Rika: Kamu dikeluarin dari sekolah. Kamu tahu?

David: Bahas di rumah aja yah, Ma..

Rika: Kamu di-DO. Cuma kamu yang di-Do, dia (menunjuk Bima) ngga. Dan mereka (menunjuk Kepala Sekolah) lepas tangan. Semua di sini lepas tangan.

KepSek: Loh? Tadi saya tidak bicara begitu loh, Bu. Kalau sekolah punya peraturan, Dara ngga mungkin dikeluarkan.

Tapi apakah Dara siap menanggung risikonya?

Apakah mentalnya siap, Bu?

Rika: Tadi Bapak yang bilang bawa nama baik sekolah, minta anak saya mengundurkan diri.

Sekarang gini ngomongnya.

David: Saya bisa tuntut sekolah ini, Pak.

KepSek: Bapak, Ibu..

David: Saya bisa tuntut sekolah ini. Serius saya.

Kepsek: Kami minta pengertiannya. Di sini banyak murid-murid lain, Bapak, Ibu.

David: Kalau gitu, kenapa dia (menunjuk Bima) ngga diminta untuk mengundurkan diri juga, Pak?

Rudy: Loh? Maaf. Kalau keduanya dikeluarkan, bagaimana nanti mereka memberi makan anaknya?

(Sumber: Noer, 2019) Gambar 6.

Blender dan stroberi sebagai metafora aborsi janin (Sumber: Noer, 2019)

(11)

131 Berdasarkan dialog tersebut, Dara

mendapatkan perlakuan tidak adil, karena sebagai perempuan ia memiliki rahim, sehingga dalam kasus kehamilan di luar nikah, ia yang diminta untuk mengundurkan diri. Sementara itu, secara fisik sebagai laki- laki, Bima masih bisa bebas melanjutkan sekolahnya, karena tidak ada perut yang akan membesar dan mengganggu konsentrasi orang-orang di sekitarnya.

Ketika David, ayah Dara, menuntut keadilan agar Bima juga mengundurkan diri, Rudy langsung membelanya. Pembelaan Rudy dilandasi alasan patriarki, bahwa Bima harus melanjutkan sekolah agar bisa menafkahi bayinya di kemudian hari.

Padahal jika dilihat dari faktor kecerdasan, Bima sendiri mengakui bahwa seharusnya Dara yang bisa melanjutkan sekolah karena ia siswi berprestasi, berbeda dengan dirinya kurang cerdas.

Ketidakadilan gender dalam adegan ini dilandasi oleh faktor biologis yang sifatnya sudah kodrati. Protagonis perempuan film ini terancam harus kehilangan kesempatan untuk memperoleh masa depan berkuliah di luar negeri. Tokoh Kepala Sekolah seolah-olah peduli dengan kondisi mental Dara, padahal sebenarnya ia khawatir nama baik sekolah akan tercoreng jika ada muridnya yang hamil di luar nikah.

Secara kebetulan, sekolah tersebut tidak memiliki peraturan untuk mengeluarkan murid yang hamil, sehingga Dara dituntut untuk mengundurkan diri.

Reaksi pertama Rika dan David saat tahu Dara hamil adalah meminta putri mereka mengaku bahwa dirinya dipaksa Bima. Rika dan David masih dalam tahap penyangkalan bahwa Dara yang mereka anggap cerdas bisa melakukan hal bodoh semacam itu. Sikap Rika juga tidak

konsisten terhadap Bima, karena kali ini ia justru menyalahkan remaja laki-laki tersebut. Begitu juga dengan perlakuan David kepada Bima, awalnya ia melarang Bima mendekati Dara. Namun, saat Bima berlari keluar hendak mencari bantuan untuk Dara, David justru mengejar dan mengancamnya untuk tidak lari dari tanggung jawab. Pola asuh kedua orang tua Dara yang tidak konsisten ini menjadikan putri mereka menjadi pribadi yang plin- plan.

Adegan di UKS ini juga menjadi titik balik Bima dan Dara menjadi abject dalam lingkungan mereka. Abject atau hina berasal dari istilah bahasa Latin–abjectus–artinya terbuang, serta merujuk pada sesuatu yang tidak menyenangkan dan mengalami degradasi (O’Sullivan, et al., 1994).

Abjeksi yang diterima oleh Dara dan Bima dikarenakan nilai budaya Indonesia yang mengharamkan kehamilan di luar nikah, apalagi jika terjadi pada remaja di bawah umur. Kondisi hina ini semakin diperjelas oleh adegan seorang guru menutup gorden UKS agar tidak menarik perhatian para murid lain (Gambar 7).

Abjeksi yang diterima Dara lebih ekstrem dibandingkan Bima. Sebelumnya, Dara merupakan siswi yang sering dipuji guru karena mendapat nilai bagus. Namun,

Gambar 7.

Gorden UKS ditutup agar tidak menarik perhatian murid lain

(Sumber: Noer, 2019)

(12)

132

Dara langsung diminta untuk keluar dari sekolah setelah dirinya hamil di luar nikah.

Sebagai perempuan, Dara mengalami alienasi akibat tidak mungkin menutupi aibnya yang bersifat biologis. Masalah kehamilan ini semakin diperjelas secara visual melalui poster organ reproduksi yang terpajang di tembok UKS (Gambar 8).

Alienasi terhadap Dara juga diberikan oleh ibunya sendiri. Setelah Dara menyatakan bahwa dirinya mencintai Bima, Rika langsung mengusir Dara dari rumah dan menyuruh Bima untuk mengurusnya.

Abjeksi yang diterima Bima justru datang dari orang-orang terdekatnya. Bima tinggal di perkampungan sempit, tempat para warga sering bergosip membicarakan keburukan tetangganya sendiri. Yuni menyalahkan Bima yang sudah membuat dirinya malu dan menjadi bahan omongan warga sekitar, terutama pelanggan makanan yang dijualnya. Sementara itu, kakak Bima yang bernama Dewi terpaksa kembali dari Bandung, setelah kedua orang tuanya sepakat untuk melamar Dara. Dewi langsung memukuli Bima dengan tasnya

sambil menyalahkan kebodohan adiknya.

Dewi sebentar lagi akan menikah dengan seorang laki-laki dan ia khawatir jika keluarga calon suaminya itu membatalkan pernikahan akibat aib keluarga yang dibuat Bima. Diskriminasi juga dialami Bima di sekolah karena teman-temannya mulai berubah sikap dan menjauhinya.

Salah satu konflik utama yang dihadapi oleh Bima dan Dara dalam hubungan ini adalah keputusan Rika untuk menyerahkan bayi mereka diadopsi oleh sanak saudaranya. Dara tidak ingin kehilangan bayinya, sehingga ia menghubungi Bima. Keluarga Bima sepakat untuk melamar Dara. Saat bersiap menikah, Gambar 8.

Kedua pihak keluarga bertengkar di UKS, terlihat poster organ reproduksi di tembok

(Sumber: Noer, 2019)

Gambar 9.

Dara melepaskan tulisan Korea di cermin (Sumber: Noer, 2019)

(13)

133 Dara melepaskan beberapa pajangan terkait

Korea Selatan di kamarnya (Gambar 9).

Adegan ini seolah-olah menggambarkan konsekuensi yang diterima Dara karena memutuskan menikah dan punya anak.

Dara terpaksa melepaskan cita-citanya untuk bisa berkuliah di Korea Selatan.

Setelah menikah, Bima bekerja sebagai pelayan di restoran milik David.

David awalnya memperlakukan Bima dengan keras. Terlihat api dari wajan penggorengan di bagian background adegan Bima saat diperkenalkan dengan pegawai lainnya (Gambar 10). Api ini menggambarkan kemarahan dan sikap keras David terhadap menantunya. Bima menjadi sering bolos sekolah karena bekerja di restoran tersebut. Lagipula, teman- teman sekolahnya semakin menjauhi Bima, sedangkan para pegawai restoran memuji kerjanya yang rajin.

Bima memutuskan untuk bekerja saja dan mulai meninggalkan sekolahnya.

Sementara itu, sikap David mulai melunak terhadap Bima. David pun mengizinkan menantunya untuk bersekolah saja dan

tidak lanjut bekerja lagi. Keputusan Bima yang lebih memilih bekerja dibandingkan bersekolah memicu kekesalan dalam benak Dara. Dalam sebuah adegan di kamar, Dara dan Bima bertengkar terkait peran gender keduanya yang dapat dilihat dalam dialog berikut ini.

Dara: Ini persiapan kuliah kamu gimana, Bim?

Bima: Ya, kuliah.

Dara: Jangan ngegampangin dong! Sering bolos lagi. Kamu pikir aku ngga tahu?

Bima:

(Sumber: Noer, 2019)

Dialog tersebut menunjukkan titik lelah Bima sebagai laki-laki dalam memenuhi tuntutan patriarki. Bima merasa kelelahan dengan tuntutan bahwa laki- laki harus mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Ditambah lagi, Dara menuntut Bima untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Kekesalan Bima ini menyebabkannya menyerang sisi feminin Dara. Bima Gambar 10.

Bara api menyembur saat David memperlakukan Bima dengan keras (Sumber: Noer, 2019)

(14)

134

menyindir hak istimewa perempuan untuk menangis dan menganggap hal tersebut sebagai senjata pasif agresif terhadap laki-laki. Sementara itu, Dara tidak setuju terhadap kalimat Bima yang menganggap tinggal di rumah saja itu menyenangkan.

Sebagai seorang perempuan yang mandiri dan penuh rasa ingin tahu, Dara mengidamkan pendidikan tinggi ke luar negeri serta bisa mengeksplorasi dunia di luar lingkungan rumah. Di adegan ini, terjadi konflik berupa kontestasi dan hegemoni gender yang dipertukarkan oleh kedua protagonis dari dua jenis kelamin berbeda.

Dara memeriksa kandungan ditemani oleh seluruh anggota keluarganya dan keluarga Bima (Gambar 11). Pada adegan ini, mereka mengetahui kalau jenis kelamin calon bayinya adalah laki-laki. Bima tidak yakin dengan hal tersebut, karena selama ini, ia mengira calon anaknya adalah perempuan. Bima menebak jenis kelamin bayi dari warna garis di testpack yaitu merah muda. Menurut Bima, jika bayinya laki-laki, seharusnya testpack tersebut memperlihatkan warna dua garis biru. Sekilas, adegan ini menjadi bagian humor dari film, namun ada makna yang

terpendam di balik dialog Bima yang berkarakter kurang pintar. Pemahaman Bima terhadap korelasi warna dan jenis kelamin masih terkotak-kotakan, bahwa merah muda identik dengan perempuan.

Pandangan Bima dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yaitu keluarganya yang masih membagi peran gender laki-laki dan perempuan secara heteronormatif.

Dara mulai merasa bimbang dan khawatir Bima tidak punya masa depan yang baik untuk calon anak mereka.

Padahal, Dara sendiri mulai bangkit dari kegagalannya lulus SMA dengan berencana mengikuti program Paket C, agar ia masih bisa tetap meraih mimpinya berkuliah di Korea Selatan. Pendirian Dara mulai goyah dan mempertimbangkan untuk menyerahkan calon anaknya agar diadopsi, lalu bercerai dengan Bima. Keputusan ini berlanjut pada adegan keluarga Bima diberi tahu soal rencana tersebut. Yuni tidak setuju dengan rencana itu karena terkesan mempermainkan agama. Berikut ini merupakan dialog antara keluarga Bima dan Dara saat membicarakan nasib calon bayinya.

Yuni: Kamu yakin, Dara?

Kenapa harus Korea? Ada apa di sana?

Dara: Ada masa depan saya, Tante. Saya ngga mau kalau nantinya saya jadi ibu yang menyalahkan anak saya sendiri.

Yuni: Kenapa harus diputuskan sekarang? Kenapa tidak nanti setelah kamu melahirkan?

Dara: Semakin lama, pasti semakin berat, Tante.

Rika: Bima juga belum siap, kan, Bim?

Gambar 11.

Dara memeriksa jenis kelamin bayinya ditemani seluruh anggota keluarga

(Sumber: Noer, 2019)

(15)

135 Yuni: Bima sedang belajar

menjadi ayah.

Rika: Bu, anak saya sudah menjadi ibu. Semenjak Dara hamil, dia sudah menjadi ibu. Kita kan sama-sama perempuan, sama-sama pernah hamil. Mestinya ngerti bedanya jadi orang tua sama jadi ibu.

Yuni: bedanya jadi orang tua sama jadi ibu.

Saya sangat paham sekali!

Maka dari itu saya tidak ingin anak saya berpisah. Tidak mungkin kan mengurus anak itu seorang diri?

(Sumber: Noer, 2019)

Berdasarkan dialog tersebut, terlihat kemantapan Dara untuk kembali mengejar cita-citanya. Terjadi perdebatan antara Rika dan Yuni. Rika menyebutkan hal yang cukup sering diucapkan oleh perempuan Indonesia saat sedang berargumen, yaitu menggunakan alasan gender. Rika mengatakan kalau Yuni sebagai sesama perempuan yang pernah melahirkan

seharusnya memahami perasaan Dara.

Meskipun demikian, Yuni memiliki alasannya sendiri kenapa ia tidak setuju dengan rencana keluarga Dara. Kemudian, adegan beralih ke rumah Bima.

Setelah mendengar keputusan keluarga Dara untuk menyerahkan bayi tersebut agar diadopsi orang lain, Yuni merasa marah. Kemarahannya ini diungkapkan dalam adegan mengulek cabai di rumahnya sambil mengungkapkan kekecewaannya. Gambar 12 menempatkan Yuni sebagai fokusnya di bagian foreground sebelah kanan, sementara anggota keluarganya di background dalam kondisi agak buram. Sinematografi semacam ini ingin menunjukkan bahwa Yuni berada dalam posisi dominan dan merasa benar tentang kondisi calon cucunya. Berikut adalah penggalan dialog dari adegan tersebut.

Yuni: Adam itu cucu Ibu juga.

Ngga bisa mereka begitu saja.

Dewi: Adam siapa?

Yuni: Ibu udah kasih nama sendiri.

Gambar 12.

Dara memeriksa jenis kelamin bayinya ditemani seluruh anggota keluarga (Sumber: Noer, 2019)

(16)

136

Bima! Kamu kalau jadi laki- laki yang tegas yah! Ajarin, Pak, anaknya.

Rudy: Iya, iya, Bu.

(Sumber: Noer, 2019)

Yuni merupakan perwujudan tokoh perempuan yang berpandangan patriarki.

Keputusan dan tindakannya didasarkan pada pembagian peran laki-laki dan perempuan. Bima selalu dituntut Yuni untuk bertanggung jawab memenuhi kebutuhan Dara yang sedang hamil. Selain itu, dialog Yuni memperjelas pandangan bahwa laki-laki harus bersikap tegas, serta harus mendapat didikan tersebut dari sosok ayahnya sebagai kepala keluarga.

Film ini juga memperlihatkan pentingnya peran gender orang tua dari jenis kelamin yang sama dengan anak.

Terdapat dua adegan yang menggambarkan peran ibu bagi seorang anak perempuan seperti Dara dan bimbingan ayah untuk Bima sebagai anak laki-laki (Gambar 13). Dara kebingungan saat ASI miliknya merembes ke pakaian. Rika sebagai ibu berusaha menenangkan dan mengajarkan Dara tentang hal-hal biologis sebagai perempuan atau calon ibu. Sementara itu, peran Rudy sebagai ayah Bima lebih

memberikan bimbingan moral dan sosial tentang bagaimana menjadi laki-laki. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran tokoh Yuni, yang berpandangan konservatif dalam melihat sebuah keluarga, bahwa seorang anak sebaiknya tinggal dengan orang tua kandung yang utuh.

Menjelang akhir film, Bima mengunjungi Dara di rumahnya secara baik-baik sambil membawa makanan.

Bima menyatakan keinginannya untuk mengasuh Adam, calon bayi mereka.

Dara luluh dengan permintaan dari Bima, namun tekadnya untuk tetap berkuliah di luar negeri sudah bulat. Menjelang proses persalinan, Dara mengungkapkan permintaan kepada Rika agar memberikan hak asuh bayinya kepada keluarga Bima.

Setelah melahirkan, Dara mengalami masalah medis yang mengharuskan Dokter melakukan operasi angkat rahim. Di sini Bima harus menandatangani surat tindakan medis. Dalam adegan ini, pihak yang berhak menandatangani surat perjanjian tersebut adalah Bima, sebagai suami pasien, bukan orang tua Dara, meskipun ia masih berada di bawah umur.

Bagian akhir film memperlihatkan Dara dan Bima berpelukan cukup lama Gambar 13.

Peran orang tua berjenis kelamin sama dengan anak (Sumber: Noer, 2019)

(17)

137 sebagai perpisahan di lobby rumah sakit.

Dara harus bersiap-siap pergi untuk melanjutkan studinya ke Korea Selatan seperti cita-citanya. Sementara itu, keluarga Dara akhirnya sepakat untuk menyerahkan hak asuh Adam kepada keluarga Bima (Gambar 14). Bima bisa memperoleh haknya untuk mengasuh bayinya sebagai ayah. Akhir cerita yang diperoleh kedua protagonis, Bima dan Dara, mematahkan anggapan miring tentang pasangan remaja yang hamil di luar nikah, sekaligus pandangan patriarki yang kaku.

Dara, sebagai perempuan yang sudah menikah dan melahirkan, tetap bisa meraih impiannya untuk menempuh pendidikan tinggi di tempat yang jauh. Sementara itu, Bima sebagai laki-laki sekaligus ayah mendapat kesempatan untuk menjadi figur yang mengasuh bayi.

Simpulan

Tulisan ini mengidentifikasi dan menelaah representasi kesetaraan gender yang terdapat dalam film Dua Garis Biru beserta pesan-pesan yang hendak disampaikan

melalui film ini. Akhir film Dua Garis Biru, ketika Dara akhirnya melanjutkan studi ke Korea Selatan, sementara Bima mengasuh bayi mereka bersama keluarganya, secara sepintas menguatkan kategorisasi film ini sebagai film yang mengusung ide feminisme. Sementara itu, ada banyak adegan dalam film ini ketika maskulinitas para tokoh laki-laki dipertanyakan, bahkan diperjuangkan.

Kedua protagonis film Dua Garis Biru menjadi agen yang menyampaikan pesan moral dan coba menantang pandangan patriarki. Dara sebagai perempuan masih bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri setelah menikah dan melahirkan. Sementara itu, Bima sebagai laki-laki juga punya hak untuk menjadi ayah dan mengasuh anaknya sendiri.

Film ini juga menyampaikan pesan bahwa pandangan patriarki ternyata tidak hanya merugikan perempuan saja, tetapi juga laki-laki. Beban protagonis perempuan dalam film ini lebih condong ke masalah biologis dan keterbatasan dirinya dalam meraih cita-citanya. Bima sebagai laki-laki juga mengalami beberapa Gambar 14.

Keluarga Dara menyerahkan Adam kepada keluarga Bima (Sumber: Noer, 2019)

(18)

138

penderitaan akibat perannya sebagai laki- laki di lingkungan keluarga patriarki.

Bima dituntut untuk bekerja keras demi menafkahi istri dan anak, dilarang untuk menangis saat merasa sedih, dan terkadang mengalami kekerasan fisik saat melakukan kesalahan. Film ini melalui karakter Bima juga merepresentasikan bagaimana laki-laki Indonesia harus merasa bersalah dan minta maaf dalam sebuah hubungan, sekalipun masalah tersebut bukan sepenuhnya kesalahannya sendiri.

Sementara itu, tokoh-tokoh perempuan di film ini memiliki peran yang dominan dalam sebuah keluarga. Rika dan Yuni merepresentasikan ibu dari dua latar belakang berbeda yang sangat mengatur keluarganya. Bahkan, Dara juga seringkali mengatur serta menuntut hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh Bima sebagai pasangannya. Sosok perempuan seperti ini menyerupai arketipe ibu agung (great mother) dari Carl Jung. Arketipe ibu agung melambangkan sosok seseorang yang berperan merawat dan memelihara, namun di sisi lain bisa bersifat menghancurkan (Feist, et al., 2018).

Dara dan Bima adalah dua orang remaja dari latar belakang keluarga yang berbeda. Hal menarik terkait gender yang coba digambarkan dalam film ini yaitu perbedaan latar belakang, termasuk lingkungan tempat tinggal dan pola asuh orang tua, yang mempengaruhi karakter serta pola pikir kedua protagonis. Perbedaan ini dapat terlihat dari kontras kondisi lingkungan tempat tinggal Bima dan Dara.

Bima berasal dari keluarga menengah ke bawah yang tinggal di perkampungan padat dalam gang sempit. Menurut cerita Bima, setiap hari ia terbangun akibat suara berisik anak tetangga. Kondisi tetangga

sekitar rumahnya juga sering bergosip, sehingga karakter keluarga Bima sangat takut dengan omongan negatif orang sekitar. Orang tua dan kakak Bima yang sangat taat agama berusaha menjaga harga diri mereka. Apalagi, Bima berasal dari keluarga yang cukup heteronormatif atau mengatur peran antara laki-laki dan perempuan secara kaku. Menjelang akhir film, Yuni baru menyadari kalau selama ini ia terlalu keras terhadap Bima. Sejak kecil, setiap ada adegan ciuman di film, Yuni selalu menutup kedua mata Bima.

Rupanya, hal tersebut tidak menjadi jaminan Bima bebas dari perbuatan zinah.

Ada dialog bernada penyesalan dari Yuni yang mengatakan kalau seharusnya mereka terbiasa berkomunikasi tentang hal-hal tabu sebagai edukasi seksualitas dari orang tua ke anaknya.

Sebaliknya, Dara berasal dari keluarga mapan dengan rumah mewah, yang bahkan memiliki kolam renang sendiri. Meskipun demikian, Dara merasa kesepian karena orang tuanya jarang di rumah dan terlalu memberi kebebasan padanya. Ditambah lagi, sikap Rika sering tidak konsisten terhadap Dara, sehingga ia tumbuh menjadi sosok perempuan yang independen namun plin-plan. Orang tua Dara yang berasal dari keluarga kaya raya juga peduli untuk menjaga nama baik mereka dengan caranya sendiri. Rika bisa dengan mudahnya menelantarkan Dara dan memutuskan untuk menyerahkan calon cucunya agar diadopsi orang lain. Hal ini dilakukan Rika agar ia segera menjauh dari sumber masalah.

Hal menarik lain dalam film ini adalah hampir semua tokohnya takut dengan gosip atau omongan buruk dari lingkungan masyarakat. Sejak awal film,

(19)

139 Dara sudah meminta Bima merahasiakan

hubungan mereka. Orang tua dan kakak Bima juga menyatakan rasa malu saat Bima berbuat ulah. Begitu pula, tokoh Kepala Sekolah berusaha menjaga nama baik sekolahnya. Selain itu, ada beberapa repetisi dialog dari tokoh-tokoh yang meminta agar membicarakan hal pribadi tidak di depan orang lain atau tempat umum. Hal ini berkaitan dengan budaya Indonesia yang cenderung kolektif dan masyarakatnya yang sering mencampuri urusan pribadi orang lain.

Kecenderungan budaya kolektif masyarakat Indonesia menyebabkan kita bergantung pada pandangan orang lain.

Seperti yang dikatakan Jacques Lacan, dalam tatanan simbolik hasrat kita diatur oleh masyarakat sekitar; hasrat kita adalah hasrat yang liyan. Ini terlihat dari bagaimana keputusan tokoh Bima sangat dipengaruhi oleh hasrat Dara. Sementara itu, keinginan kedua protagonis juga dipengaruhi oleh orang tua mereka, yang juga sebenarnya muncul akibat masyarakat sekitar sebagai sosok yang liyan. Dengan demikian, film Dua Garis Biru menggambarkan bahwa peran gender dari orang-orang yang tinggal di Jakarta ternyata masih dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya, serta rasa malu akan gosip yang dapat muncul dari lingkungannya, jika mereka melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan.

Daftar Rujukan

Daftar Pustaka:

Barker, C. 2005. Cultural Studies: Theory and Practice. London: Sage.

Barker, C. 2011. Cultural studies: Teori dan praktik (ed. ke-7) (Nurhadi, Penj.).

Bantul: Kreasi Wacana.

Bordwell, D., Thompson, K., & Smith, J.

2017. Film art: An introduction (11th ed.). Ohio: McGraw-Hill Education.

Bhasin, K. & Khan Said, N. 1994. Persoalan pokok mengenai feminisme dan relevansinya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Balsamo, A. 1991. Feminism and Cultural Studies. The Journal of the Midwest Modern Language Association, 24(1), 50-73. doi:10.2307/1315025

Clark, M. 2004. Men, masculinities and symbolic violence in recent Indonesian cinema. Journal of Southeast Asian Studies, 35(1), 113- 131.

Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T. 2018.

Theories of personality (9th ed.). New York: McGraw Hill Education.

Gamble, S. 2001. The Routledge companion to feminism and postfeminism.

London: Routledge.

Hall, S. 1997. Representation: Cultural representations and signifying practices. London: Sage Publications Ltd.

Handayani, C. S. 2013. Julia Kristeva:

Kembalinya eksistensi perempuan sebagai subyek. In Subyek yang dikekang (pp. 1-20). Jakarta:

Komunitas Salihara.

Heraty, T. 2018. Transendensi feminin.

Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Homer, S. 2005. Jacques Lacan. New York:

Routledge.

Hopkins, R. 2008. What do we see in film?

The Journal of Aesthetics and Art Criticism, 66(2), 149-159.

(20)

140

O’Sullivan, T., et al. 1994. Key concept in communication and cultural studies.

London & New York: Routledge.

Pamungkas, S. 2017. Peran orang gila sebagai representasi kritik sosial:

Studi kasus tiga film Warkop DKI:

Bisa Naik Bisa Turun (1991), Bagi- Bagi Dong (1992), dan Pencet Sana Pencet Sini (1993). Jurnal Urban, 1(1), 3-24.

Rottenberg, J., Bylsma, L., & Vingerhoets, A. 2008. Is crying beneficial? Current Directions in Psychological Science, 17(6), 400-404.

Truby, J. 2007. The anatomy of story:

22 steps to becoming a master storyteller. New York: Farrar, Straus and Giroux.

Williams, R. 1958. Culture is ordinary.

Dalam J. McGuigan (Peny.), Raymond Williams on culture and society: Essential writings (pp. 1-18).

London: Sage Publications Ltd.

Daftar Film:

Noer, G. S. 2019. Dua Garis Biru [Film].

Indonesia: Starvision Plus & Wahana Kreator.

Referensi

Dokumen terkait

Karena memang dalam film “Dua Garis Biru ” ada adegan hamil diluar nikah itu merupakan tayangan yang memang terjadi nyata pada beberapa remaja saat ini

Bima yang diperankan oleh Angga Yunanda dalam Film Dua Garis Biru ini merupakan anak remaja yang duduk dibangku SMA yang memiliki banyak teman.. Dia hidup di

51 19 Februari 2011 Pelantikan pengurus IPHI Jawa Barat Aula Barat Gedung Sate Bandung Ketum H.Kurdi Mustofa melantik Ketua Wilayah IPHI Jawa Barat 2011-2016, H.Nana Permana

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 6

Itu sebabnya ketika disampaikan berita bahwa anak perempuan itu mati, Yesus tidak minta maaf atas keterlambatan-Nya menyembuhkan anak itu tetapi menyuruh Yairus untuk tidak

menjalankan segala tindakan yang berkaitan dengan pengurusan Perusahaan untuk kepentingan Perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan serta mewakili Perusahaan baik

pelaksanaan eksperimen dan pembelajaran kooperatif. Guru memberikan penjelasan dengan jelas, rinci dan sistematis sehingga siswa mudah memahami materi. Siswa terlibat

Berdasarkan perumusan masalah yang ada, tidak semua diteliti karena keterbatasan waktu dan tenaga yang dimiliki oleh penulis, maka dalam pembuatan media pembelajaran bahasa Inggris