• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI A. TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI A. TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

6

1. Permainan Sepakbola

Permainan sepakbola adalah permainan yang dimainkan oleh dua regu. Tiap regu terdiri sebelas orang pemain termasuk penjaga gawang,sehinga tim tersebut dapat dikatakan sebagai kesebelasan kerena terdiri dari sebelas pemain.dalam permainan sepakbola dalam memainkan dengan mengunakan kaki ,kepala,badan dan khusus penjaga gawang bebas mengunakan semua anggota badannya dalam memainkan bola. Permainan sepakbola dimainkan di lapangan berumput yang rata dan berbentuk empat persegi panjang.hal ini sesuai denagan pendapat Soekatamsi (1995:12) yaitu bahwa :

Sepakbola adalah permaianan beregu yang dimainkan oleh dua buah regu yang terdiri dari sebelas orang pemainan termasuk seorang penjaga gawang.hampir seluruh permainan dilakukan dengan ketrampilan mengolah bola degan kaki kecuali penjaga gawang dalam memainkan bola bebas menggunakan seluruh bagian atau anggota badannya dengan kaki atau tangannya.

Masing-masing kesebelasan menempatkan separuh lapangan dan berdiri saling berhadap-hadapan.Permainan sepakbola dipimpin oleh seorang wasit yang di bantu oleh dua orang penjaga garis.Tujuan dari masing-masing regu adalah berusaha untuk memasukan bola ke gawang lawan sebanyak mungkin dan berusaha mengagalkan serangan lawan untuk melindungi atau menjaga agar gawangnya tidak kemasukan bola.Permainan sepakbola dimainkan dua babak,antara babak pertama dan kedua diberi waktu istirahat dan setelah istirahat diadakan pertukaran tempat.kesebelasan yang dinyatakan menang adalah kesebelasan yang sampai akhir pertandigan lebih banyak memasukan bola ke gawang lawan.

(2)

2. Teknik Dasar Bermain Sepakbola

a. Pengertian Teknik Dasar Bermain Sepakbola

Menurut Soekatamsi (1995:14) “teknik dasar bermain sepakbola adalah semua cara pelaksanaan gerakan-gerakan yang diperlukan untuk bermain sepakbola, tidak terlepas sama sekali dari permainaanya”.

Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa dasar bermain sepakbola merupakan semua cara pelaksanaan gerakan-gerakan khusus yang diperlukan dalam bermain sepakbola yang tidak terlepas dari permainan yang sebenarnya.

Seorang pemain sepakbola akan terampil bermain sepakbola bila telah menguasai teknik dasar bermain sepakbola dengan baik. “ketrampilan teknik bermain sepakbola merupakan penerapan teknik dasar dalam permainan yang sebenarnya” (Soekatamsi, 1995:15).

Dengan menguasai teknik dasar maka akan dapat memainkan bola dalam semua situasi permainan, mendukung penampilan pemain, meningkatkan rasa percaya diri lebih optimis dan bersemangat serta gerakan- gerakan yang dilakukan lebih efektif dan efisien hasilnya lebih baik. Menurut Soekatamsi (1995:15) bahwa,

Makin baik tingkat ketrampilan teknik bermain dalam memainkan dan menguasai bola, makin cepat dan cermat kerjasama kolektif akan tercapai.

Dengan demikian kesebelasan akan lebih lama menguasai bola atau menguasai permainan, akan tetapi mendapatkan keuntungan secara fisik, moril dan taktik.

Lebih lanjut Suekatamsi (1995:16) mengelompokkan teknik dasar sepakbola dibedakan menjadi 2 macam yaitu :

1) Teknik tanpa bola. Teknik tanpa bola yaitu gerakan-gerakan tanpa bola terdiri dari :

a) Lari cepat dan mengubah arah b) Melompat dan meloncat c) Gerak tipu tanpa bola

d) Gerakan-gerakan khusus penjaga gawang

(3)

2) Teknik dengan bola. teknik dengan bola yaitu semua gerakan-gerakan dengan bola terdiri dari :

a) Menendang bola b) Menerima bola

(1). Menghentikan bola (2). Mengontrol bola c) Menggiring bola d) Menyundul bola e) Melempar bola

f) Gerak tipu dengan bola g) Merampas atau merebut bola

h) Teknik-teknik khusus penjaga gawang

Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa teknik dasar bermain terdiri atas teknik dasar tanpa bola dan teknik dasar dengan bola.

kedua teknik dasar tersebut didalam pelaksanaannya permainannya saling berkaitan dan dilakukan dalam permainan.

b. Peranan Teknik Dasar Bermain Sepakbola

Menurut Jef Sneyers (1988:10) “taktik tanpa teknik tidak mungkin, kecuali bila taktik itu sangat sederhana”. Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa penguasaan teknik dasar bermain sepakbola merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi penerapan taktik bermain sepakbola. sebaik apapun taktik yang digunakan dalam permainan, jika pemainnya tidak menguasai teknik dasar dengan baik, taktik yang digunakan tidak akan berhasil sehingga untuk memenangkan pertandingan sulit dicapai.

Menurut Soekatamsi (1988:12) bahwa,

Untuk mencapai kerja sama tim yang baik diperlukan pemain-pemain yang dapat menguasai bagian-bagian dan macam-macam teknik dasar dan ketrampilan bermain sepakbola, sehingga dapat memainkan bola dalam segala situasi dengan cepat, tepat dan cermat sehingga tidak membuang energi dan waktu.

(4)

Berdasarkan pendapat tersebut diatas menunjukkan peranan penguasaan teknik dasar bermain sepakbola yaitu dapat menupang dalam penerapan taktik bermain, dapat meningkatkan kerjasama tim, dapat memainkan bola dalam semua situasi permainan dengan cepat, tepat dan cermat serta lebih mantap, gerakan-gerakan yang dilakukan lebih efektif dan efisien, tidak mudah cidera, lebih optimis dan percaya diri dalam bertanding atau bermain.

3. Teknik Dasar Menendang Bola

a. Menendang Bola

Menendang bola merupakan salah satu teknik dasar bermain sepakbola yang paling banyak dilakukan dalam permainan sepakbola. menurut Joseph A. Luxbacher (1997:12) “ketrampilan untuk mengoper dan menerima bola membentuk jalan fital yang menghubungkan kesebelasan pemain dalam satu unit yang berfungsi lebih baik dari pada bagian-bagiannya”. Menurut Richard Widdows dan Paul Backle (1981:23) mengemukakan : “sepakbola itu permainan tim dan operan bolalah yang menghubungkan para pemain. Operan baik diperlukan untuk melakukan gerakan menyerang dan sebaliknya operan- operan yang tidak tepat merupakan penyebab paling utama bagi gagalnya serangan”.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan, menendang bola merupakan teknik yang paling banyak dilakukan dalam permainan.

Menendang bola merupakan salah satu cara untuk menjalin kerjasama atau cara untuk menghubungkan pemain satu dengan pemain lainnya dalam satu tim penyerangan terhadap regu lawan dapat dilakukan melalui operan-operan akurat. Namun jika operan tidak tepat, maka serangan akan menjadi gagal dan merugikan suatu tim.

(5)

b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Menendang Bola.

Tujuan utama permainan sepakbola adalah mencetak gol kegawang lawan sebanyak-banyaknya dan mencegah lawan melakukan hal yang sama pada gawang kesebelasannya. Gol dapat diciptakan melalui tendangan yang baik dan tepat pada gawang. Menurut Richard Widdows dan Paul Backle (1981:26) “pertandingan-pertandingan sepakbola dimenangkan dengan mencetak gol lebih tujuh puluh persen dari gol-gol itu berasal dari tembakan”.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk melakukan tendangan yang tepat dan akurat merupakan faktor yang penting untuk melakukan operan atau mencetak gol kegawang lawan.

Kemampuan dan ketepatan tendangan dalam permainan sepakbola dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Wahjoedi (1999:120) “menendang bola pada prinsipnya dapat dilakukan dengan kaki kanan maupun kaki kiri, pada (1) bagian dalam kaki, (2) bagian pungung kaki, (3) bagian luar kaki”.

Menurut Joseph A. Luxbacher (1997:105) “kemampuan untuk melakukan tembakan dengan kuat dan akurat menggunakan kedua kaki adalah faktor yang paling penting. Kualitas seperti antisipasi, kemantapan dan ketenangan dibawah tekanan lawan juga tak kalah pentingnya”.

Berdasarkan pendapat diatas dapat dirumuskan faktor yang paling penting dan harus dimiliki seorang pemain sepakbola yaitu mampu melakukan passing bawah dengan baik dengan menggunakan kaki kanan maupun kaki kiri dan memiliki antisipasi yang baik dan ketenangan meskipun dalam tekanan lawan. Ketenangan dan antisipasi merupakan faktor yang paling penting agar passing bawah dilakukan dengan tepat pada sasaran yang diinginkan. Dalam hal ini seorang pemain harus memiliki Feeling yang baik.

Menurut Wiel Coever (1985:19) “dengan pengulangan bentuk-bentuk latihan teknik secara terus menerus, secara otomatis akan berkembang feeling pada kedua kaki terhadap bola”.

(6)

c. Bagian-Bagian Kaki Untuk Menendang Bola

Passing bawah merupakan salah satu teknik dasar bermain sepakbola yang paling banyak dilakukan dalam permainan. Oleh karenanya seorang pemain harus mampu menggunakan seluruh bagian-bagian kaki yang dapat digunakan untuk menendang bola. Bagian kaki yang digunakan untuk menendang bola yaitu :

1) Dengan kaki bagian dalam.

2) Dengan kura-kura kaki bagian luar.

3) Dengan kura-kura kaki penuh.

4) Dengan ujung jari.

5) Dengan kura-kura kaki sebelah dalam.

6) Dengan tumit.

Bagian-bagian kaki yang dapat digunakan untuk menendang bola tersebut dilakukan menyesuaikan kebutuhan yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena setiap bagian kaki yang digunakan untuk menendang bola memepunyai fungsi yang berbeda-beda. Oleh karena itu dalam melakukan passing bawah harus diperhitungkan dengan cermat bagian kaki mana yang harus digunakan untuk menendang bola agar menghasilkan passing bawah yang baik dan tepat pada sasaran yang diinginkan.

d. Macam-Macam dan Kegunaan Menendang Bola

Dilihat dari macam tendangan dalam permainan sepakbola, tendangan dapat dilihat dari tinggi atau rendahnya lambungan bola, dan arah serta putaran bola. hal tersebut tergantung dari keinginan penendang atau situasi yang terjadi dalam permainan. Oleh karena itu kemahiran untuk melakukan tendangan harus dimiliki setiap pemain, sehingga tendangan yang tepat pada sasaran yang diinginkan walaupun mendapat rintangan dari lawan.

Menurut Soekatamsi (1988:48) berdasarkan atas tinggi rendahnya bola, tendangan dibedakan menjadi tiga yaitu :

1) Tendangan bola rendah, bola menggulir datar diatas tanah sampai setinggi lutut.

(7)

2) Tendangan bola melambung lurus atau melambung sedang, bola melambung paling rendah setinggi lutut dan paling tinggi setinggi kepala.

3) Tendangan bola melambung tinggi, bola melambung paling rendah setinggi kepala.

Berdasarkan atas putaran dan jalannya bola menurut Soekatamsi (1988:48-49) menendang bola dibedakan menjadi dua yaitu :

1) Tendangan lurus (langsung), bola setelah ditendang tidak berputar sehingga bola melambung lurus dan jalannya kencang. Tenaga tendangan melalui titik pusat bola.

2) Tendangan melengkung, bola setelah ditendang berputar kearah yang berlawanan dengan tendangan dan arah bola.

Berdasarkan kegunaan atau fungsi dari tendangan menurut Soekatamsi (1988:48) adalah :

1) Untuk memberikan operan bola kepada teman.

2) Untuk menembakkan bola kearah mulut gawang lawan, untuk membuat gol kemenangan.

3) Untuk membersihkan atau menyapu bola didaerah pertahanan (belakang) langsung kedepan.

4) Untuk melakukan bermacam-macam tendangan khusus yaitu untuk tendangan bebas, tendangan sudut, tendangan hukuman (pinalti).

Berdasarkan fungsi dari tendangan, pada prinsipnya tendangan mempunyai tujuan sama, meskipun tendangan itu dilakukan pada perkenaan kaki yang berbeda-beda akan tetapi hal yang harus diperhatikan dalam melakukan tendangan yaitu harus tepat pada sasaran. Disamping itu setiap melakukan tendangan memperhatikan posisi dan posisi lawan dengan memperhatikan hal tersebut bola tidak mudah direbut lawan sehingga tendangan tepat pada sasaran yang diinginkan.

4. Menendang Bola Dengan Kaki Bagian Dalam

Menendang bola dengan kaki bagian dalam merupakan salah satu tendangan yang sering dilakukan dalam permainan sepakbola. tendangan dengan

(8)

kaki bagian dalam umumnya disebut juga passing. Tendangan kaki bagian dalam ini biasanya digunakan untuk operan jarak dekat. Dilihat dari macam tendangan, tendangan dengan kaki bagian dalam merupakan tendangan rendah, bola bergulir diatas tanah. Menurut Richard Widdows dan paul Buckle (1981:23) “operan dasar yaitu operan pendek (the push pass) cara yang paling aman dan paling umum untuk memindahkan bola pada jarak yang relative pendek”. Menurut Joseph A.

Luxbacher (1997:12) “ketrampilan pengoperan bola yang paling dasar dan harus dipelajari terlebih dahulu biasanya disebut dengan push pass (operan dorong).

Teknik pengoperan ini digunakan untuk menggerakkan bola sejauh 5 hingga 15 yard”.

Pada prinsipnya melakukan operan dalam permainan sepakbola dapat langsung tepat pada teman seregunya atau pada daerah yang kosong agar dikejar temannya. Menurut Richard Widdows danPaul Buckle (1981:23) “operan-operan bola tidak selalu ditunjukkan pada seorang pemain. Dalam situasi pertandingan banyak operan bola yang ditunjukkan kedaerah yang kosong supaya dapat dikejar oleh kawan bermain”. Akan tetapi operan yang diarahkan pada daerah kosong harus diperhitungkan kekuatan operan dan arahnya, dimana dimungkinkan temannya mudah mengejar dan tidak direbut lawan. “operan yang baik adalah operan yang tidak menimbulkan masalah bagi penerima” (Richard Widdows dan Paul Buckle, 1981:23).

a) Teknik Menendang Bola Dengan Kaki Bagian Dalam

Keberhasilan dan ketepatan dalam melakukan operan tidak terlepas dari penguasaan teknik menendang dengan baik dan benar. Menurut Soekatamsi (1988:51-53) teknik menendang bola dengan kaki bagian dalam, sebagai berikut :

1) Letak kaki tumpu

a) Diletakkan disamping bola dengan jarak kurang lebih 15 cm.

b) Arah kaki tumpu sejajar dengan arah sasaran.

c) Lutut ditekuk hingga lutut berada tegak lurus diatas ujung sepatu.

(9)

Gambar 1 : letak kaki tumpu

menendang bola dengan kaki

bagian dalam (Soekatamsi, 1988:51) 1) Kaki yang menendang

a) Diangkat kebelakang dengan kaki melintang tegak lurus arah sasaran, atau tegak lurus kaki tumpu.

b) Diayun kearah kaki bagian dalam tepat mengenai tengah-tengah bola.

c) Dilanjutkan gerak lanjut kedepan.

Gambar 2 : bagian kaki menendang bola dengan kaki bagian dalam (Soekatamsi, 1988:52)

1) Sikap badan

a) Karena letak kaki tumpu disamping atau didepan bola, badan berada diatas bola.

b) Pada waktu menendang bola, badan sedikit condong kedepan, kedua lengan terbuka kesamping badan untuk menjaga keseimbangan badan.

(10)

Gambar 3 : sikap badan menendang bola dengan kaki bagian dalam (Soekatamsi, 1988:52).

2) Pandangan mata. Pada waktu menedang bola, mata melihat pada bola dan kearah sasaran.

3) Bagian bola yang ditendang.

a) Bagian dalam kaki yang menendang tepat mengenai tengah-tengah bola, bola bergulir datar diatas tanah.

b) Bagian dalam kaki yang menendang mengenai dibawah tengah-tengah bola, bola akan naik atau melambung rendah.

Gambar 4 : bagian bola yang ditendang dengan kaki bagian dalam (Soekatamsi 1988:53)

b. Kegunaan Menendang Bola Dengan Kaki Bagian Dalam

Kegunaan menendang bola dengan kaki bagian dalam menurut Soekatamsi (1988:101) adalah :

1) Untuk operan jarak pendek.

2) Untuk operan bawah (rendah).

3) Untuk operan lambung atas (tinggi).

4) Untuk tendangan tepat kemulut gawang.

5) Untuk tendangan bola melengkung (slice).

6) Untuk tendangan kombinasi dengan gerakan lain.

(11)

Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa kegunaan menendang bola dengan kaki bagian dalam ada enam macam. Dari keenam kegunaan tersebut operan jarak pendek dan operan rendah (bawah) merupakan kegunaan menendang bola dengan kaki bagian dalam yang sering digunakan dalam permainan dibandingkan dengan yang lainnya. Oleh karena itu agar menendang bola dengan kaki bagian dalam mempunyai kegunaan yang baik dalam permainan, maka harus menguasai teknik menendang bola yang baik dan benar. Jika terjadi kesalahan dalam teknik menendang, hal ini justru dapat merugikan timnya. Menurut Joseph A. Luxbacher (1997:18) kesalahan dalam operan inside of the foot atau operan dengan kaki bagian dalam adalah “(1) bola terangkat dari permukaan, (2) operan tidak tepat, (3) operan kurang cepat, (4) mendekati bola dari sudut yang tajam dan berusaha melakukan tendangan melintang”.

c. Analisis Gerakan Tendangan Passing Bawah

Teknik menendang dalam sepakbola menurut fungsinya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu passing (mengoper bola ke teman) dan shooting (menendang dengan kuat ke arah gawang). Seluruh kaki dapat digunakan untuk menendang bola dengan hasil yang berlainan pula. Berdasarkan hal itu menendang bola dapat dibedakan menjadi: menendang bola dengan menggunakan sisi dalam kaki (inside), sisi luar kaki (outside) dan punggung kaki penuh (instep). Maka dari itu akan dijelaskan analisi gerakan passing bawah dengan sisi kaki bagian dalam.

Dalam melakukan passing bawah dengan kaki bagian dalam tingkat ketepatan umpan ke teman sangat besar, agar dapat mengirimkan bola dengan teliti kepada seroang kawan perlu dilatih terus dan diperhatikan selalu kecermatannya (Sneyers, 1989:83). Operan ini sering dipergunakan tim sepakbola yang mengandalkan kecepatan pemainnya untuk melakukan penyerangan maupun pertahanan. Teknik dasar ini dipergunakan untuk jenis operan datar. Operan ini relatif lebih cepat dibandingkan dengan opran lainnya. Secara umum teknik pelaksanaannya adalah berdiri dengan bahu menghadap sasaran, letakkan kaki tumpu disamping bola, letakkan kaki ayun menyamping dengan jari-jari kaki mengarah keatas, kemudian tendang bola tepat ditengahnya dengan menggunakan

(12)

kaki bagian sisi dalam ayun, lanjutkan gerakan tendangan ke arah depan dengan tetap menjaga posisi kaki.

Berikut ini tahapan dalam melakukan passing dengan menggunakan kaki bagian dalam (inside of the foot) menurut Luxbacher, (1998:12) Persiapan (1) berdiri menghadap target, (2) letakkan kaki yang menahan keseimbangan di samping bola, (3) arahkan kaki ke target, (4) bahu dan pinggul lurus dengan target, (5) tekukkan sedikit lutut kaki, (6) ayunkan kaki yang akan menendang kebelakang, (7) tempatkan kaki dalam posisi menyamping, (8) tangan direntangkan untuk menjaga keseimbangan, (9) kepala tidak bergerak, (10) fokuskan perhatian pada bola. Pelaksanaan (1) tubuh berada di atas bola, (2) ayunkan kaki yang akan menendang kedepan, (3) tendang bagian tengah bola dengan bagian samping dalam kaki, follow through (pindah berat badan kedepan), (4) lanjutkan gerakan searah dengan bola, (5) gerakan akhir berlansung dengan mulus.

d. Pertumbuhan dan Perkembangan Gerak

pada dasarnya perubahan kemampuan individu dalam penguasaan gerak ditentukan oleh adanya interaksi yang rumit antara faktor keturunan dan pengaruh lingkungan. Perkembangan individu berproses sebagai akibat adanya perubahan anatomis-fisiologis yang mengarah pada status kematangan. Pertumbuhan fisik yang menunjukkan pada pembesaran ukuran tubuh dan bagian-bagiannya, terkait dengan perubahan-perubahan fungsi faal dan sistem lain dalam tubuh. Perubahan tersebut berkembang dengan pola tertentu. Pola-pola perubahan tersebut pada gilirannya akan selalu diwarnai pola penguasaan gerakan, sebagai hasil proses belajar gerak.

Belajar gerak merupakan kegiatan belajar dimana gerakan tubuh merupakan titik sentral dari kegiatan yang dilakukan oleh siswa, dalam melakukan kegiatan belajar yang intinya berbentuk kegiatan melakukan gerakan tubuh, dengan tujuan menguasai pola-pola atau bentuk-bentuk gerakan tubuh yang dilakukan itu, dengan kata lain bisa dikemukakan bahwa belajar gerak bertujuan untuk meningkatkan kualitas kemampuan gerak tubuh. Melalui belajar gerak, siswa yang belum bisa melakukan bentuk-bentuk gerakan tertentu menjadi bisa

(13)

melakukannya. Siswa yang tadinya baru bisa melakukannya dengan bentuk gerakan yang kurang baik kemudian bisa menjadi semakin baik, dan yang tadinya baru bisa melakukan dengan belum lancar kemudian menjadi bisa semakin lancar.

Perkembangan individu dipengaruhi oleh perpaduan antara pengaruh kematangan dan pengalaman lingkungannya. Pola-pola perkembangan awal, lebih dipengaruhi oleh proses-proses yang terutama bersifat genetik. Namun pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, pengalaman akan lebih banyak mempengaruhi proses-proses pematangan kemampuan.

Kemampuan individu merupakan manifestasi adanya tahap perkembangan yang mengacu pada berfungsinya aspek-aspek genetik dan pengalaman- pengalaman belajar. Meskipun setiap individu memiliki bakat bawaan yang unik dan seperangkat pengalaman yang berbeda, namun pada tingkat perkembangan tertentu, semuanya akan menunjukkan perilaku umum yang sama. Tingkat perkembangan tersebut menjadi karakteristik yang melekat sejalan dengan perkembangan usia kronologis. Tahap dalam penelitian ini tergolong masuk dalam kategori tahap perkembangan Adolesensi, usia kronologis 10 sampai 18 tahun. Tahap Adolesensi ini merupakan tahap perkembangan dan pertumbuhan fisik yang pesat. Kesempatan pertumbuhan Adolesensi diikuti oleh semakin meningkatnya fungsi-fungsi fisiologis. Kecenderungan seperti ini membuka peluang Adolesensi untuk lebih mampu mengembangkan ketrampilan gerak secara pesat.

5. Latihan

a. Definisi Latihan

Latihan merupakan salah satu sarana yang harus ditempuh untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam olah raga. Berikut ini disajikan beberapa difinisi latihan yang dikemukakan oleh beberapa ahli, sebagai berikut :

1) Menurut Suharno HP. (1985:7) latihan adalah “suatu proses penyempurnaan atau pendewasaan atlit secara sadar untuk mencapai mutu prestasi maksimal dengan memeberi beban-beban fisik, tenik, taktik dan

(14)

mental secara teratur dan terarah, meningkat, bertahap dan berulang-ulang waktunya”.

2) Menurut A. Hamdiyah Noer (1995:6) latihan adalah “suatu proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja yang dilakukan dengan berulang-ulang secara kontinyu dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan untuk mencapai tujuan”.

3) Menurtu Yusuf Adisasmita dan Aip Syarifudin (1996:145) latihan adalah

“proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihan serta intensitas latihannya”.

Berdasarkan batasan-batasan latihan diatas dapat disimpulkan bahwa, latihan secara sistematis dan kontinyu maksudnya dilakukan secara berencana, menurut pola dan system tertentu, menurut jadwal, teratur, metotis dari yang mudah ke yang lebih sukar, dari yang sederhana ke yang lebih rumit. Latihan berulang-ulang adalah setiap elemen teknik harus diulang sesering mungkin akan geraklan yang semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah dan menjadi otomatis pelaksanaannya sehingga semakin menghemat energi. Kian hari kian ditambah beban latihannya maksudnya, segera setelah tiba saatnya beban latihan harus ditambah atau ditingkatkan.

b. Aspek-Aspek Latihan

Tujuan serta sasaran dari latihan adalah membantu atlet untuk meningkatkan ketrampilan dan prestasi yang semaksimal mungkin. Untuk mencapai tujuan dari latihan tersebut selain melakukan latihan secara sistematis dan pengulangan secara konstan atau ajek ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Lebih lanjut aspek-aspek latihan menurut harsono (1988:100) meliputi : (a) latihan fisik, (b) latihan teknik, (c) latihan taktik, (d) latihan mental, adapun penjelasannya sebagai berikut :

1) Latihan Fisik

Kondisi fisik sangat penting dan diperlukan karena bisa mempengaruhi dapat dan tidaknya mengikuti suatu latihan. Tanpa kondisi fisik yang baik

(15)

tidak akan dapat mengikuti latihan dengan baik. Komponen fisik yang perlu diperhatikan adalah daya tahan, kekuatan, kelentukan (fleksebilitas), power, kecepatan (speed), daya tahan kardiovaskuler dan kelincahan (agility).

2) Latihan Teknik

Yang dimaksud latihan teknik adalah latihan untuk mempermahir teknik- teknik gerakan yang diperlukan untuk mampu melakukan salah satu cabang olahraga yang dilakukan. Misalnya menedang bola, manangkap bola, passing, dan sebagainya. Latihan teknik dimaksudkan untuk membentuk dan memperkembang kebiasaaan-kebiasaan motorik.

Kesempurnaan teknik dasar setiap gerakan adalah penting karena akan menentukan gerakan keseluruhan oleh karena itu teknik dasar harus dilatih dan dikuasai dengan sempurna.

3) Latihan Taktik

Teknik gerakan yang telah dikuasai dengan baik kini harus dituangkan dalam pola-pola permainan, bentuk permainan dan formasi serta strategi dan taktik-taktik bertahan dan penyerangan sehingga berkembang menjadi gerakan yang sempurna.

4) Latihan Mental

Perkembangan mental atlit tidak kalah pentingnya dari perkembangan ketiga faktor tersebut diatas, sebaba meskipun perkembangan fisik, taktik dan teknik sempurna tetapi mentalnya tidak berkeembang, prestasinya yang tinggi tidak akan dapat dicapai. Latihan mental adalah latihan yang menekankan pada perkembangan kedewasaan, perkembangan emosional dan impulsive : misalnya semangat bertanding, sikap pantang menyerah, sportif, percaya diri dan kejujuran dan sebagainya.

c. Prinsip-Prinsip Pengembangan Latihan

Kemampuan teknik seorang pemain dapat dikembangkan melalui latihan yang dilakukan secara sistematis, terencana dan mempertimbangkan prinsip-prinsip latihan. Tujuan latihan teknik adalah agar gerakan yang

(16)

dilakukan bias mencapai tingkat otomatisasi sesuai dengan yang dikehendaki dalam suatu cabang olahraga. Dalam hal ini Sudjarwo (1995:42) menyatakan

“pada hakekatnya pengembangan teknik merupakan bagian dari usaha meningkatkan ketrampilan menuju gerakan yang cermat efisien dan efektif ”.

Pendapat tersebut menunjukkan, suatu teknik dikatakan sudah mencapai tingkat otomatisasi apabila gerakan-gerakan yang dilakukan tanpa berfikir lagi dan hasilnya lebih cermat, efisien dan efektif. Upaya mengembangkan dan melatih teknik dalam cabang olahraga tertentu harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan yang benar. Menurut Harsono (1988:102-1012) prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam latihan olahraga yaitu :

1) Prinsip Beban Lebih (Overload Load Principle)

Prinsip beban lebih merupakan prinsip latihan yang harus dipenuhi.

Prinsip beban lebih merupakan prinsip latihan yang mendasar untuk memperoleh peningkatan kemampuan kerja. Kemampuan sesorang dapat meningkat jika mendapat rangsangan berupa beban latihan yang cukup berat, yaitu di atas dari beban latihan yang biasa diterimanya. Andi Suhendro (1999 : 3.7) menyatakan, “seorang atlet tidak akan meningkat prestasinya apabila dalam latihan mengabaikan prinsip beban lebih.” Menurut M. Satojo (1995 : 43) “prinsip beban lebih tersebut akan merangsang penyesuaian fungsi fisiologis dalam tubuh.” Sedangkan Rusli Lutan dkk (1992 : 95) berpendapat:

Setiap bentuk latihan untuk keterampilan teknik, taktik, fisik dan mental sekalipun harus berpedoman pada prinsip beban lebih. Kalau beban latihan terlalu ringan, artinya di bawah kemampuannya, maka berapa lama pun atlet berlatih, betapa sering pun dia berlatih atau sampai bagaimana capek pun dia mengulang-ulang latihan itu, prestasinya tidak akan meningkat.

Berdasarkan tiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, prinsip beban lebih bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kemampuan tubuh.

Pembebanan latihan yang lebih berat dari sebelumnya akan merangsang tubuh untuk beradaptasi dengan beban tersebut, sehingga kemampuan tubuh

(17)

akan meningkat. Kemampuan tubuh yang meningkat mempunyai peluang untuk mencapai prestasi yang lebih baik.

Salah satu hal yang harus tetap diperhatikan dalam peningkatan beban latihan harus tetap berada di atas ambang rangsang latihan. Beban latihan yang terlalu berat tidak akan meningkatkan kemampuan atlet, tetapi justru sebaliknya yaitu kemunduran kemampuan kondisi fisik atau dapat mengakibatkan atlet menjadi sakit.

2) Prinsip Perkembangan Menyeluruh

Pada prinsipnya komponen kondisi fisik merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan baik dalam peningkatan maupun dalam pemeliharaannya. Perkembangan menyeluruh dari kemampuan kondisi fisik merupakan dasar dalam pembentukan prestasi, meskipun pada akhirnya tujuan dalam latihan adalah kemampuan yang bersifat khusus, namun kemampuan yang bersifat khusus tersebut harus didasari oleh kemampuan kondisi fisik secara menyeluruh. Harsono (1999 : 3.11) menggambarkan prinsip perkembangan menyeluruh sebagai berikut :

Gambar 4. Jenjang Latihan Olahraga (Andi Suhendro, 1999 : 3.11)

Gambar di atas menunjukkan bahwa, perkembangan menyeluruh merupakan dasar (pondasi) bagi pelaksanaan program latihan setiap cabang olahraga. Prinsip perkembangan menyeluruh harus diberikan kepada atlet- atlet muda sebelum memilih spesialisasi dalam cabang olahraga tertentu dan mencapai prestasi puncak. Ketika perkembangan ini mancapai tingkat yang

Penampilan Puncak Spesialisasi

Perkembangan Menyeluruh

(18)

memuaskan, khususnya perkembangan fisik, maka atlet memasuki jenjang perkembangan kedua, yaitu spesialisasi pada olahraga tertentu. Jenjang ini akan membimbing atlet menggeluti karier olahraga yang paling tinggi, yaitu penampilan puncak yang merupakan prestasi atlet dalam bidang olahraga.

3) Prinsip Spesialisasi

Pada dasarnya pengaruh yang ditimbulkan akibat latihan itu bersifat khusus, sesuai dengan karakteristik gerakan keterampilan, unsur kondisi fisik dan sistem energi yang digunakan selama latihan. Sadoso Sumosardjuno (1994 : 10) menyatakan, “latihan harus dikususkan pada olahraga yang dipilih.” Menurut Soekarman (1996 : 60) “latihan itu harus khusus untuk meningkatkan kekuatan.” Pendapat lain dikemukakan Bompa dalam Andi Suhendro (1999 : 3.13) menyatakan :

Spesialisasi latihan olahraga dianjurkan sebagai aktivitas-aktivitas motorik khusus. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam spesialisasi yaitu (1) melakukan latihan-latihan khusus sesuai dengan karakteristik cabang olahraga. Misalnya pemain sepakbola melakukan latihan secara khusus terhadap kemampuan passing, dribble, shooting, dan (2) melakukan latihan mengembangkan kemampuan motorik yang dibutuhkan oleh cabang olahraga yang menjadi spesialisasinya. Misalnya latihan-latihan fisik khusus sesuai dengan cabang olahraga yang diketahui.

Berdasarkan prinsip spesialisasi latihan dapat disimpulkan bahwa, program latihan yang dilaksanakan harus bersifat khusus, disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai. Bentuk latihan yamg dilakukan harus memiliki ciri-ciri tertentu sesuai dengan cabang olahraga yang akan dikembangkan, baik pola gerak, jenis kontraksi otot maupun kelompok otot yang dilatih harus disesuaikan dengan jenis olahraga yang dikembangkan.

4) Prinsip Individual

Manfaat latihan akan lebih berarti, jika di dalam pelaksanaan latihan didasarkan pada karakteristik atau kondisi atlet yang dilatih. Perbedaan antara atlet yang satu dengan yang lainnya tentunya tingkat kemampuan dasar serta prestasinya juga berbeda. Oleh karena perbedaan individu harus diperhatikan dalam pelaksanaan latihan. Sadono Sumosardjuno (1994 : 13) menyatakan,

(19)

“meskipun sejumlah atlet dapat diberi program pemantapan kondisi fisik yang sama, tetapi kecepatan kemajuan dan perkembangannya tidak sama.”

Menurut Andi Suhendro (1999 : 3.15) bahwa, “Prinsip individual merupakan salah satu syarat dalam melakukan olahraga kontemporer. Prinsip ini harus diterapkan kepada setiap atlet, sekali atlet tersebut memiliki prestasi yang sama. Konsep latihan ini harus dengan kekhususan yang dimiliki setiap individu agar tujuan latihan dapat tercapai.”

Berdasarkan dua pendapat tentang prinsip individual dapat disimpulkan bahwa, latihan yang diterapkan harus bersifat individu. Manfaat latihan akan lebih berarti jika program latihan yang diterapkan direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan karakteristik dan kondisi setiap atlet. Seperti dikemukakan Patte Rotella Mc. Clenaghan (1993 : 318) bahwa, “faktor umum, seks (jenis kelamin), kematangan, tingkat kebugaran saat itu, lama berlatih, ukuran tubuh, bentuk tubuh dan sifat-sifat psikologis harus menjadi bahan pertimbangan bagi pelatih dalam merancang peraturan latihan bagi tiap olahragawan.”

d. Tahapan Dalam Latihan Teknik

Suatu teknik olahraga dapat dikuasai melalui latihan secara baik dan teratur. Di dalam pelaksanaan latihan teknik melalui beberapa tahapan.

Menurut M. Furqon . (1995:113) tahapan dalam latihan teknik terdiri atas:

1) Tahap Pengembangan Koordinasi Kasar

Pada tahap anak mencoba gerakan yang diajarkan, sehingga gerakan yang dilakukan masih kasar dan sering kali gerakannya tidak benar. Menurut Rusli Lutan (1988 : 305) “. . . bukan mustahil siswa yang bersangkutan mencoba-coba dan kemudian juga salah dalam melaksanakan tugas gerak.” Menurut M. Furqon H. (1995 : 113) “bentuk gerakan-gerakan kasar dapat dikarakteristikan sebagai penguasaan teknik-teknik kasar yang berkenaan dengan kuantitas gerakan-gerakan yang diperlukan seperti :

(1) Pengaruh kekuatan yang tidak memadai, pemborosan energi, kram otot (koordinasi otot yang rendah) dengan konsekuensi kelelahan yang cepat.

(20)

(2) Unsur-unsur gerakan tunggal tidak digabungkan dengan lancar, karena kurangnya koordinasi.

(3) Gerakan-gerakan belum cukup tepat.

(4) Kurangnya keharmonisan dan ritme gerakan-gerakan yang diamati.”

Pada tahap ini anak aktif berpikir tentang gerakan yang dipelajari. Anak berusaha mengetahui dan memahami gerakan dari informasi yang diberikan kepadanya. Informasi yang diberikan dapat berbentuk penjelasan dengan kata-kata atau dengan gambar (visual) atau gerakan-gerakan yang dapat dilihat oleh anak.

Menurut M. Furqon H. (1995 : 113) “didalam tahap pengembangan koordinasi kasar, hanya kesalahan-kesalahan utama yang dibetulkan, sebagian besar melalui demonstrasi-demonstrasi (imajinasi yang berhubungan dengan penglihatan).”

Informasi yang diterima kemudian diproses dalam mekanisme perseptual sehingga memperoleh gambaran tentang gerakan yang dipelajari untuk selanjutnya mengambil keputusan. Menurut Sugiyano dan Sudjarwo (1992 : 272)

“setelah memperoleh gambaran tentang gerakan, maka gambaran tersebut diperoleh dalam mekanisme pengambilan keputusan.”

2) Tahap Pengembangan Koordinasi Halus

Pada tahap ini tingkat penguasaan gerakan lebih halus dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Gerakan-gerakan yang dipelajari dapat dilakukan dengan lancar, lebih halus, menjadi semakin efektif dan efisien. Menurut Rusli Luran (1988 : 308) “tahap asosiatif ditandai oleh semakin efektif cara-cara siswa melaksanakan tugas gerak, dan dia mulai mampu menyesuaikan diri dengan keterampilan yang dilakukan.” Menurut M. Furqon H. (1995 : 113-114) aspek- aspek tahap pengembangan koordinasi halus dicirikan sebagai berikut :

a) Teknik-teknik dilakukan hampir tanpa kesalahan.

b) Gerakan-gerakan distabilkan. Ini berarti bahwa pelaksanaan gerakan-gerakan itu sukses dalam tiap usaha.

c) Gerakan-gerakan lebih berguna dan hemat, tidak ada pemborosan energi.

d) Beberapa gerakan tidak benar yang terjadi dalam tahap pertama, tidak tampak lagi.

(21)

e) Urutan gerakan-gerakan menjadi lancar dan harmonis.

f) Gerakan-gerakan tersebut tepat.

Hal ini yang terpenting untuk meningkat pada tahap belajar teknik berikutnya yaitu anak harus mampu merangkaikan gerakan yang dipelajari secara harmonis dan terpadu. Hal ini disebabkan karena akan menentukan kejenjang tahap berikutnya. Koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan sangat penting, sehingga anak mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Hal ini sangat penting agar anak tidak mengulang kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

3) Tahap Stabilitas dan Otomatisasi

Tahap otomatisasi merupakan tahap akhir dari belajar teknik.

Dikatakan tahap otomatis karena anak mampu melakukan gerakan keterampilan tanpa terpengaruh walaupun saat melakukan gerakan. Menurut M. Furqon H. (1995 : 114) “pada tahap stabilitasi dan otomatisasi atlet mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi yang sulit dan berubah-ubah dari suatu kompetisi (penonton yang bermusuhan, keadaan lampu yang buruk, lingkungan yang asing, lawan-lawan yang kasar dsb).” Tahap otomatis ditandai dengan tingkat penguasaan gerakan keterampilan yang sudah baik, dimana anak mampu melakukan gerakan keterampilan secara otomatis serta energi yang dikeluarkan lebih efektif dan efisien.

Menurut Sudjarwo (1995:46) menyatakan bahwa dalam usaha pencapaian hasil teknik olahraga diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :

a) Penyusunan kemahiran (acquissition) b) Penghalusan (refenement)

c) Penggabungan (consolidation) d) Penerapan (aplication)

e) Penyusunan variabel (variabledisposition)

Berdasarkan tahapan-tahapan latihan teknik tersebut diatas menunjukkan, dalam mempelajari teknik olahraga pada dasarnya harus dilakukan dari tahapan yang lebih mudah, dan secara berangsur-angsur ditingkatkan sesuai dengan kemampuan yang telah dimiliki sebelumnya.

(22)

Dengan kata lain, untuk menguasai suatu teknik olahraga hendaknya dilakukan dari tahap yang lebih mudah, kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga suatu teknik dapat dikuasai dengan baik dan otomatis.

e. Program Latihan

Dalam menyusun program latihan perlu memperhatikan beberapa faktor, diantaranya beban latihan atau loading. Beban latihan harus ditentukan dengan tepat agar proses latihan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang optimal. Beban latihan atau loading merupakan suatu bentuk latihan jasmani dan rohani atlit untuk mencapai prestasi olahraga. Adapun ciri-ciri beban latihan jasmani menurut Sudjarwo (1992:15) adalah sebagai berikut :

1) Intensitas

Adalah merupakan ukuran kesungguhan dalam melakukan latihan yang betul pelaksanaannya. Apabila kita dapat melaksanakan penuh sesuai dengan kemampuan ini berarti kita menjalankan intensitas 100%

(maksimal), tingkat intensitas dapat dibedakan : - 100% atau lebih : kategori super maksimal.

- 100% penuh : kategori maksimal.

- 80% s/d 99% : kategori sub maksimal.

- 60% s/d 79% : kategori medium.

- 59% s/d kebawah : kategori rendah.

2) Duration

Adalah lamanya waktu latihan seluruhnya (penuh) setelah dikurangi dengan waktu yang dipergunakan untuk latihan.

3) Frekuensi

Adalah berapa kali suatu latihan dilakukan setiap minggunya.

4) Ritme

Merupakan irama dari latihan atau repetisi yang dipergunakan misalnya berat dan ringannya latihan atau tinggi rendahnya tempo latihan.

Pada penelitian ini program yang dimaksud adalah suatu program latihan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan teknik passing dalam permainan sepakbola. Selain untuk meningkatkan keterampilan melakukan

(23)

passing juga bertujuan untuk memupuk kebiasaan bergerak dan memperbaiki sikap agilitas serta ketrampilan dalam bergerak.

Frekuensi dalam melakukan latihan sebaiknya tiga kali dalam seminggu. Hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad Yunus (1992:264) bahwa :

Secara teoritis latihan yang efektif untuk meningkatkan prestasi, minimal tiga kali dalam seminggu. Dalam menyusun program latihan mingguan ini dibuat berselang sehingga ada hari-hari untuk istirahat (interval) untuk memulihkan kesegaran fisik agar pada akhir latihan berikutnya benar-benar dalam keadaan yang sehat.

Pada penelitian ini ditetapkan frekuensi latihan tiga kali dalam seminggu yang dilakukan selama satu setengah bulan atau enam minggu yang terdiri dari 18 kali pertemuan. Setiap pertemuan beban latihan ditingkatkan dalam intensitasnya. Dan jumlah setnya ditetapkan sebanyak 3 set.

f. Kegiatan Latihan

Kegiatan latihan dalam penelitian ini meliputi tiga kegiatan yaitu : 1) Warning up atau pemanasan

Sebelum melakukan suatu latian atau pertandingan, sangatlah penting untuk melakukan persiapan-persiapn baik fisik maupun psikis.

Persiapan-persiapan demikian dapat dilakukan dengan pemanasan atau warning up. Menurut Sudjarwo (1995:85) pemanasan adalah proses adanya perubahan-perubahan fisiologis guna menyiapkan organisme tubuh untuk menghadapi tugas yang lebih berat. Karena sifatnya menyiapkan organisme tubuh untuk menghadapi tugas yang lebih berat, maka gerakan- gerakan yang dilakukan adalah gerakan-gerakan ringan dan sederhana serta tidak memakan tenaga yang banyak. Adapun gerakan-gerakannya dapat berbentuk jogging atau lari-lari kecil, senam yang mencakup kekuatan, kelentukan dan peregangan. Apabila pemanasan ini dilakukan dengan sungguh-sungguh akan dapat membantu atlit untuk mendapatkan keadaan siap dan kondisi yang baik untuk dapat melakukan kerja yang maksimal. Tujuan dari pemanasan adalah :

(24)

a) Terbentuknya koordinasi gerakan.

b) Mengurangi kemungkinan cidera.

c) Menaikkan suhu badan.

d) Memperlancar sirkulasi darah, melebarkan kapiler memperlancar pergantian udara di paru-paru.

2) Latihan inti

Latihan inti ditujukan kepada materi atau masalah yang akan diteliti, dalam hal ini dua latihan yang akan dibandingkan. Latihan untuk kelompok eksperimen satu adalah latihan passing bawah dengan jarak bertahap, sedangkan latihan untuk eksperimen dua latihan passing bawah dengan jarak tetap.

3) Warming down atau penenangan

Penenangan dilakukan oleh pemain setelah melakukan latihan atau pertandingan dengan tujuan :

a) Mengurangi ketegangan-ketegangan setelah bertanding.

b) Menghindari rasa sakit atau kekakuan otot esok harinya.

c) Mengembalikan kondisi tubuh seperti semula.

d) Membawa suhu badan dan kerja organ-organ tubuh kembali ke keadaan yang normal.

1. Latihan Untuk Meningkatkan Kemampuan Passing Bawah a. Prinsip Dasar Latihan Teknik Passing Bawah

Latihan passing bawah merupakan salah satu teknik dasar dalam permainan sapak bola,karena passing yang menentukan baik dan tidaknya suatu permainan apabila passingnya bagus dan tepat pada teman bermain maka lawan tidak mudah untuk mengambil bola dan tim akan mudah untuk membut gol kegawang lawan.mengingat kemampuan passing bawah sangat besar pengaruh nya dalam usaha peningkatan kualitas pemain,kualitas kesebelasan dan kemampuan pemain secara menyeluruh maka para pemain harus menguasai kemampuan passing bawah secara baik.Untuk menguasai teknik dasar passing bawah yang baik harus melalui latihan yang dilakukan

(25)

secara berulang-ulang atau terus-menerus berdasarkan prinsip-prinsip latihan yang benar.Prinsip-prinsip dalam melakukan latian menurut Jef Sneyers (1988:11): Ada beberapa hal yang harus dilakukan seoramg pelatih:

1) Ulangilah melatih suatu garakan sampai terlihat dapat dikuasai dengan sempurna.

2) Perbaikilah segera kalau ada gerakan yang salah.

3) Adakah variasi pada materi latihan.

b. Bentuk latihan kemampuan Passing bawah.

Dalam melakukan latihan passing bawah diperlukan bentuk latihan yang sesuai.Adapun bentuk latihan yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan Passing bawah dengan kaki bagian dalam menurut Suekatamsi(1988:54):

1) Latihan menendang bola dengan kaki bagian dalam pada tembok atau dinding yang diberi tanda gambar atau sasaran.

2) Passing bawah dengan berpasangan yang di tengah-tengahnya terdapat pancang tiang gawang lebar 1 sampai 2 meter.

3) Passing bawah dengan berpasangan berdiri saling berhadapan dengan jarak 8 – 20 meter.

4) Latihan belajar passing bawah pertama kali sikap berdiri tidak memakai ancang-ancang pandangan kearah sasaran.

Dengan melalui latihan yang sistematis, teratur dan kontinyu serta dengan bentuk latihan yang sesuai maka penguasaan kemampuan passing bawah akan dapat tercapai dengan mudah.

(26)

2. Latihan Passing Bawah Dengan Sasaran

a. Pelaksanaan latihan kemampuan passing bawah dengan berpasangan.

Latihan passing bawah yang sering digunakan adalah dengan cara berpasangan. Pelaksanaan latihan passing bawah berpasangan ini menurut Soekatamsi (1988:63) adalah sebagai berikut :

Dua orang pemain berpasangan berdiri saling berhadapan dengan jarak masing-masing 8 meter sampai 20 meter. Bola berhenti dengan ditendang menggunakan kaki bagian dalam dan arah bola mendatar kearah depan pasangannya yang pada tempat diberi sasaran dua buah tiang lembing dan bola diusahakan dapat melewati sasaran dengan tepat yang mempunyai lebar 1 meter dengan tingginya 1,5 meter.

Gambar 5. Latihan Passing bawah berpasangan Soekatamsi (1988:63) Latihan kemampuan passing bawah ini dapat dilakukan dengan jarak tetap atau dengan jarak bertahap

b. Latihan kemampuan passing bawah dengan jarak bertahap

Pelaksanaan latihan kemampuan passing bawah dengan jarak bertahap ini didasarkan pada prinsip dasar belajar ketrampilan dengan prinsip beban lebih (over load prinsiple) yaitu bahwa agar prestasi dapat meningkat atlit harus selalu berusaha untuk berlatih dengan beban kerja yang lebih berat dari pada yang mampu dilakukannya saat itu (Harsono, 1988:103). Contoh pemain sepak bola yang sudah mampu untuk lari menempuh jarak 300 meter dalam 12 menit harus diberi latihan yang lebih berat (misalnya dalam 12 menit harus lari 3100 meter) agar prestasi, daya tahan meningkat. Latihan teknik kemampuan passing bawah dengan jarak bertahap ini dilakukan dengan bola

(27)

diam secara berpasangan dengan jarak yang mula-mula dekat kemudian ditingkatkan sedikit demi sedikit. Jarak yang digunakan dalam latihan ini adalah 5 - 10 meter. Untuk usia 14 sampai 16 tahun.

1) Keuntungan latihan passing bawah dengan jarak bertahap

Latihan passing bawah dengan jarak bertahap ini dapat memeberikan beberapa keuntungan diantaranya adalah :

a) Latihan dengan jarak bertahap ini sangat efektif bagi pemain pemula, sebab yang dilakukan dari yang mudah menuju yang sukar.

b) Tingkat keberhasilan dalam penguasaan teknik dasarnya cukup besar karena dilakukan dari yang mudah kemudian ditingkatkan kearah yang lebih sukar.

c) Bagi pemain yang belum memiliki kemampuan passing bawah yang baik, latihan ini sangat cocok sebab latihannya dilakukan dari jarak yang dekat kemudian ditingkatkan yang jarak sesungguhnya.

2) Kekurangan latihan passing bawah dengan jarak bertahap

Berdasarkan palaksanaanya latihan passing bawah dengan jarak bertahap dapat dianalisis kekurangannya sebagai berikut :

a) Bagi pemain yang sudah menguasai teknik kemampuan passing bawah kurang bermanfaat sehingga membosankan.

b) Bagi pemain yang sudah bisa latihan ini akan kurang bermanfaat c. Latihan kemampuan passing bawah dengan jarak tetap

latihan teknik kemampuan passing bawah dengan jarak tetap ini dilakukan secara berpasangan dengan jarak tertentu yang ditetapkan. Jarak yang digunakan dalam latihan ini untuk usia 14-16 tahun adalah 10 meter tetapi bola bergerak dengan kombinasi teknik yang diberikan pelatih. Hal ini berdasarkan pada pedoman latihan seperti yang dijelaskan diatas yaitu diambil pada jarak maksimalnya.

Latihan teknik kemampuan passing bawah dengan jarak tetap ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Berdasarkan pelaksanaannya latihan ini dapat dianalisis mengenai kelebihan dan kekurangannya sebagai berikut :

(28)

1) Keuntungan latihan kemampauan passing bawah dengan jarak tetap

Latihan kemampuan passing bawah dengan jarak tetap ini memberikan beberapa keuntungan diantaranya yaitu :

a) Merangsang pemain untuk segera memiliki kemampuan passing bawah dengan baik dan benar.

b) Membiasakan pemain untuk melakukan passing bawah dengan tepat sasaran, karena sejak awal telah dirangsang melakukan latihan passing dengan jarak yang sesungguhnya.

2) Kekurangan latihan passing bawah dengan jarak tetap.

Berdasarkan pelaksanaannya, latihan kemampuan passing bawah dengan jarak tetap dapat dianalisis kekurangannya sebagai berikut :

a) Bagi pemain pemula atau pemain yang belum menguasai teknik passing bawah dalam melakukan latihan ini pada awal latihan akan sulit dijalankan karana banyak yang kurang tepat sasaran dalam menendang bola.

b) Dalam latihan konsentrasinya hanya tertuju pada penggunaan tenaga, sedangkan penggunaan teknik yang baik sering terabaikan sehingga penguasaan terhadap teknik tendangan passing bawah sulit tercapai.

B. Kerangka Pemikiran

Dengan berdasarkan uraian dalam tinjauan pustaka diatas, maka dapat ditarik kerangka pemikiran sebagai berikut :

1. Perbedaan pengaruh latihan passing bawah dengan jarak bertahap dan jarak tetap

Latihan passing bawah dengan jarak bertahap dan jarak tetap merupakan latihan yang sesuai dengan karakteristik keterampilan passing yang sebenarnya. Berdasarkan pelaksanaanya, kedua latihan tersebut jelas berbeda, sehingga hal ini akan mempunyai dampak pengaruh yang berbeda terhadap kemampuan passing. Latihan passing menggunakan kaki bagian dalam dengan jarak bertahap merupakan bentuk latihan yang dilakukan dengan jarak yang mula- mula dekat kemudian ditingkatkan sedikit demi sedikit jaraknya sampai dengan

(29)

jarak yang sesungguhnya. Latihan jarak bertahap akan memberikan kemudahan dalam melakukan gerakan tendangan passing karena siswa akan merasakan termotivasi dengan jarak dekat kemudian ditingkatkan jaraknya yang lebih jauh.

Latihan ini jaga memberikan pengaruh yang positif jika ditinjau dari segi piskologis. Keberhasilan yang dicapai pada tahap awal bisa meningkatkan motivasi untuk mencapai keberhasilan selanjutnya. Dalam melakukan latihan ini tenaga yang digunakan tidak lansung dengan kekuatan yang berlebihan sehingga dalam tekniknya dapat diawasi atau terkontrol benar atau belum. Sedangkan latihan passing bawah jarak tetap merupakan bentuk latihan yang yang sudah ditetapkan dan tidak ada perubahan jarak dan diambil jarak maksimalnya. Latihan passing jarak tetap ini akan dapat merangsang pemain untuk segera memiliki kemampuan passing bawah, sehingga dalam melakukan latihan ini hanya menekan pada tenaga yang besar, sedangkan teknik yang benar dalam gerakan ini sering terabaikan. Dalam pelaksanaanya kedua latihan ini siswa melakukan passing dengan pengulangan yang telah ditentukan menggunakan kaki kanan dan kiri secara bergantian.

Berdasarkan karakteristik latihan menggunakan jarak bertahap dan tetap tersebut, tentu akan berdampak pada perbedaan pengaruh terhadap peningkatan kemampuan passing dengan menggunakan kaki bagian dalam. Perbedaan perlakuan tentu akan menimbulkan respon yang berbeda pula pada diri siswa, dengan demikian diduga, antara latihan passing menggunakan jarak bertahap dan tetap memiliki perbedaan pengaruh terhadap kemampuan passing bawah dalam permainan sepak bola.

2. Pengaruh yang lebih baik antara latihan passing bawah dengan jarak bertahap dan tetap .

Setiap latihan yang diterapkan tentu mempunyai kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Latihan bertahap memiliki kelebihan antara lain: teknik passing jarak bertahap sangat efektif bagi siswa pemula sebab yang dilakukan dari yang mudah ke yang sukar, tingkat keberhasilan dalam penguasaan teknik dasar cukup besar karena dilakukan dari yang mudah ke yang sukar. Bagi siswa yang belum memiliki teknik passing bawah dengan baik maka latihan ini sangat cocok

(30)

karena latihan dimulai dari jarak yang dekat. Kelemahan latihan ini adalah membosankan bagi yang sudah menguasai teknik passing bawah,dan kurang bermanfaat. Sedangkan latihan passing jarak tetap untuk merangsang pemain untuk malakukan passing bawah dengan baik dan benar, membiasakan pemain melakukan passing dengan tepat sasaran karena jarak yang sesungguhnya.

Kelemahan latihan ini sulit dijalankan bagi pemain pemula karena banyak yang kurang tepat sasaran waktu menendang bola, kosentrasinya hanya fokus pada penguasaan tenaga dan teknik terabaikan. Berdasarkan kelebihan dan kelemahan yang dimiliki masing- masing bentuk latihan diatas menunjukkan bahwa perbedaan tesebut akan menimbulkan pengaruh yang lebih baik terhadap passing bawah dalam permainan sepak bola.

C. Rumusan Hipotesis

Berdasarkan dari kajian teoritis dan kerangka pemikiran diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

1. Ada perbedaan pengaruh latihan kemampuan passing bawah antara menggunakan jarak bertahap dan tetap terhadap kemampuanpassing bawah pada LPSB Harimau Bekonang Usia 14-16 Tahun.

2. Latihan kemampuan passing bawah menggunakan jarak bertahap memiliki pengaruh yang lebih baik daripada latihan passing bawah dengan jarak tetap pada LPSB Harimau Bekonang Usia 14-16 Tahun.

D.

Gambar

Gambar 1 :  letak kaki tumpu
Gambar 3 : sikap badan menendang bola dengan kaki bagian dalam  (Soekatamsi, 1988:52)
Gambar 4. Jenjang Latihan Olahraga  (Andi Suhendro, 1999 : 3.11)
Gambar 5. Latihan Passing bawah berpasangan Soekatamsi (1988:63)  Latihan  kemampuan  passing  bawah  ini  dapat  dilakukan  dengan  jarak  tetap  atau dengan jarak bertahap

Referensi

Dokumen terkait

Pemanfaatan sistem informasi ini diharapkan dapat membantu untuk efektifitas dan efisiensi usaha minimarket dalam pengolahan barang masuk, supplier, transaksi pengadaan

Educational data mining (EDM) merujuk kepada teknik, alat dan penyelidikan yang di reka untuk mengekstrak aspek dan corak baharu set data raya dengan menggunakan kaedah mesin

Perjanjian penyelesaian sengketa tanah yang diselesaikan oleh Kantor Badan Pertanahan Nasional dibuat dengan isi konsep Perjanjian penyelesaian sengketa tanah

Begitu juga dengan kala ulang 5 tahun dengan dimensi yang sama, sumur resapan masih dapat menampung semua volume curah hujan. Tapi untuk Curah hujan kala ulang 10 tahun sumur

Teknik Passing merupakan teknik dasar permainan bola basket yang harus kamu kuasai betul agar bisa bermain secara kolektif.. Teknik passing / mengumpan merupakan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan modifikasi bola karet pada pembelajaran PJOK, dapat meningkatkan keterampilan

Kabupaten Humbang Hasundutan adalah daerah otonom sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten

Meningkatkan peranan dan menjalin kerjasama dengan institusi- institusi (pendidikan dan penyelidikan) lain untuk memberi kesedaran dan kefahaman kepada masyarakat mengenai