SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU PTN Oleh : Ki Supriyoko
Hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) Tahun 1990 diumumkan secara serentak melalui seluruh PTN yang tersebar di seluruh wilayah Nusantasa; itu berarti bahwa sekarang ini masing-masing kandidat mahasiswa baru PTN sudah mengetahui hasil akhir dari sebuah perjuangan yang penuh romantika, berhasil atau gagal.
Apabila kita membuat semacam peraturan tak tertulis (unwrited regulation) yang mewajibkan bagi kandidat yang berhasil untuk tertawa sekeras-kerasnya dan bagi kandidat yang gagal untuk menangis sejadi-jadinya, maka dapat dipastikan bahwa ke- rasnya tawa dari para kandidat yang berhasil akan tertutup oleh kerasnya tangis dari para kandidat yang gagal. Mengapa? Karena setiap ditemui satu orang yang tertawa maka di sekitarnya akan dijumpai lima orang yang menangis.
"Upacara" akademis UMPTN 1990 kali ini diikuti oleh 450.000-an kandidat, sedangkan yang diterima melalui jalur ujian tertulis UMPTN hanya sekitar 75.000 kandidat (angka ini tidak termasuk kandidat yang diterima melalui jalur "PMDK", politeknik, PGSD, dsb); jadi untuk dapat berhasil menundukkan UMPTN 1990 ini maka setiap kandidat harus dapat "mengalahkan" lima kandidat yang lainnya.
Itulah gambaran tentang relatif sulitnya menembus dinding PTN di negara kita;
apalagi faktor "lucky" masih dipercayai oleh sementara orang sebagai faktor yang ikut berbicara dalam sistem seleksi masuk PTN di negara kita.
Sejak beberapa tahun terakhir ini kompetisi masuk PTN memang sangat ketat;
hal ini disebabkan karena relatif tingginya jumlah lulusan SMTA di satu pihak, serta terbatasnya daya tampung PTN di pihak yang lain. Itulah sebabnya maka banyak kandidat yang persiapannya untuk berkompetisi pada UMPTN sudah dilakukan sejak berbulan-bulan sebelumnya; misalnya dengan mengikuti pendidikan prauniversitas, bimbingan tes, dan sebagai-nya.
Permasalahannya bagi yang berhasil diterima UMPTN seka-rang ini adalah apakah mereka benar-benar sudah siap belajar pada PTN? Sejauh mana mereka telah mengenal PTN? Dsb! Artikel ini mencoba memberikan informasi mengenai dunia ke- PTN-an kepada masyarakat pada umumnya, dan pada mereka yang berhasil menundukkan UMPTN pada khususnya agar lebih siap memasuki dunia baru di PTN.
Kekhasan PTN
Oleh sementara anggota masyarakat sampai sekarang ini pada umumnya PTN masih didudukkan setingkat lebih tinggi dibanding PTS, baik di dalam mutu penyelenggaraan pendidikannya maupun mutu lulusannya. Pandangan masyarakat ini tentu saja tidak menutup adanya kenyataan bahwa secara kasus per kasus cukup banyak pula PTS yang mempunyai kedudukan sepadan dengan PTN, atau bahkan justru lebih tinggi dibandingkan PTN.
Atas pandangan masyarakat yang tidak 100% benar tersebut di atas maka acapkali mahasiswa PTN didudukkan setingkat lebih tinggi daripada mahasiswa PTS; mahasiswa PTN dianggap lebih berkualitas, lebih "super", dan sebagainya.
Anggapan ini seolah-olah lebih "afdol" manakala ditemui kenyataan tentang sulitnya menembus dinding PTN; sebagaimana dengan ilustrasi tersebut di atas untuk bisa menembus dinding PTN maka seorang kandidat harus sanggup mengalahkan lima kandidat yang lain.
Kenyataan tersebut dengan mudahnya telah membentuk persepsi masyarakat luas bahwa mahasiswa (baru) PTN memang mahasiswa yang "pilih tanding", atau mahasiswa yang benar-benar "selected".
Secara empiris kompetisi masuk pada PTS pada umumnya memang tidak seketat PTN, bahkan ada PTS yang kekurangan mahasiswa baru dari target yang direncanakan oleh lembaganya sehingga kompetisi masuknya sangat longgar. Hal itu memang benar, meski demikian realita di lapangan juga menunjukkan bahwa banyak pula PTS yang karena telah memiliki kredibilitas dan bonafiditas sangat tinggi maka kompetisi masuknya sangat ketat, bahkan lebih ketat dari pada PTN. Pada beberapa PTS untuk dapat diterima sebagai mahasiswa baru maka seorang kandidat harus mampu menyisihkan belasan kandidat lainnya.
Di samping berbagai kekhasan yang dimiliki oleh PTN tersebut di atas, menurut pandangan masyarakat, maka ada pula fenomena yang oleh sementara pengamat dipandang menjadi kendala bagi pengembangan kreativitas mahasiswa PTN; yaitu ketatnya birokrasi yang melilit lembaga pendidikan tinggi tersebut.
Pada kenyataannya struktur organisasi PTN memang telah diseragamkan, artinya antara lembaga yang satu dengan yang lainnya harus sama. Ketatnya birokrasi sangat terasa manakala pola komunikasi antar dosen sampai pola surat-menyurat pun harus disamakan. Lebih dari itu ada pengamat yang secara kritis dan sinis mengatakan bahwa penempatan tong sampah di PTN pun harus disamakan antara lembaga yang satu dengan yang lainnya.
Berbagai ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa PTN memang sedang dililit oleh ketatnya birokrasi, baik yang diciptakan oleh "atasan"-nya maupun yang diciptakan oleh civitas PTN itu sendiri.
Ketatnya lilitan birokrasi tersebut di atas dalam hal-hal tertentu memang cukup efektif dan menguntungkan, akan tetapi dalam hal pengembangan kreativitas mahasiswa kiranya memang terasa kurang menguntungkan; dengan kata lain lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya.
Kelebihan dan Kekurangan
Apabila dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta, PTS, maka PTN mempunyai berbagai kelebihan sekaligus kekurangannya; hal ini disebabkan karena adanya kekhasan pada masing-masing jenis lembaga tersebut.
Dalam hal daya tampung mahasiswa secara keseluruhan maka daya tampung PTN lebih kecil daripada PTS; daya tampung PTN hanya sekitar 50%-nya daya tampung PTS. Sebagai misal pada tahun 1988/1989 maka seluruh PTN di negara kita hanya mampu menampung 498.169 (35,5%) mahasiswa program S0 dan S1 dari keseluruhan mahasiswa Indonesia yang jumlahnya mencapai 1.403.599 orang.
Dari sisi daya tampung mahasiswa baru pun PTN masih kalah bersaing dibanding dengan PTS; dari tahun per tahun daya tampung mahasiswa baru PTN hanya berkisar pada angka 25% s/d 30% dari keseluruhan mahasiswa baru di negara kita. Meskipun demikian arus kelulusannya relatif lebih lancar daripada arus lulus-an pada PTS; kiranya hal ini merupakan kelebihan tersendiri bagi PTN. Hal ini disebabkan oleh banyak hal: kualitas dosennya, sarana dan fasilitas belajarnya, sistem manajerialnya, dsb.
Kriteria lancarnya arus kelulusan pada PTN tersebut bisa dilihat dari tingkat produktivitas lembaga yang mencapai 13,4%; dalam satu tahun ajaran sebanyak 66.582 dari 498.169 mahasiswa PTN berhasil menamatkan studinya. Tingkat produktivitas PTN ini lebih tinggi dari tingkat produktivitas perguruan tinggi kita yang baru 10,2%.
Salah satu kelemahan PTN di Indonesia sebagaimana yang dialami oleh perguruan tinggi kita pada umumnya adalah kurang berani mengembangkan bidang- bidang eksakta dan teknologi. Dari keseluruhan mahasiswa PTN maka 65,5% di antaranya berasal dari bidang pendidikan, dan sekitar 12,6% berasal dari bidang sosial. Mahasiswa yang berasal dari bidang teknologi, pertanian, MIPA dan kesehatan secara berturut-turut hanya 13,6%, 3,2%, 2,9% dan 1,0%.
Keadaan tersebut di atas menyebabkan distribusi lulusannya mengikuti pola yang hampir sama; yaitu sebagian besar merupakan lulusan dari bidang ilmu pendidikan dan sosial, jumlahnya mencapai 71,0%.
Andaikata saja kita mau jujur maka mengelompoknya lulusan PTN pada bidang ilmu pendidikan dan sosial tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya pengangguran sarjana lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang angkanya cukup tinggi. Seperti kita ketahui pada Pelita V ini diperkirakan akan terdapat sekitar 650.000 (baca: enam ratus lima puluh ribu) sarjana yang menganggur; dan itu
sebagian besar adalah sarjana sosial dan pendidikan.
Sistem Kredit Semester
Sebagaimana dengan perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya maka dalam menjalankan proses belajar mengajarnya PTN mengaplikasikan Sistem Kredit Semester, SKS, yang ditandai dengan adanya beban di dalam bentuk satuan kredit semester, sks, pada setiap mata kuliahnya.
Di dalam menjalankan perputaran SKS maka PTN mem- punyai beberapa kelebihan dibandingkan PTS, antara lain me-nyangkut fasilitas belajar, ratio dosen- mahasiswa, kualitas dosen, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan pelaksanaan sistem kredit dapat berjalan lebih lancar, meskipun belum mencapai titik yang optimal.
Dewasa ini ratio mahasiswa-ruang kuliah pada PTN sekitar 1:1,2; artinya untuk setiap mahasiswa disediakan ruang kuliah seluas 1,2 m2. Pada PTS luasnya jauh lebih kecil; bahkan ada PTS yang kapasitas ruang kuliahnya sangat terbatas bila dibanding dengan jumlah mahasiswanya. Sementara itu ratio dosen-ruang kuliah pada PTN mencapai 1:2,6; artinya setiap dosen rata-rata mempunyai kantor seluas 2,6 m2.
Di PTS luasnya jauh lebih sempit; bahkan banyak PTS yang "menumpuk" dosen- dosennya pada ruangan yang sangat sempit dan kurang memenuhi syarat kesehat-an.
Dari sisi ratio dosen-mahasiswa maka PTN berhasil menunjukkan prestasinya, yaitu 1:13,9; dalam arti setiap dosen PTN rata-rata membimbing 13 atau 14 mahasiswa. Di PTS angkanya mencapai 1:38,5; artinya setiap dosen PTS rata-rata harus membimbing 38 atau 39 mahasiswa. Secara teoretis makin kecil jumlah mahasiswa yang dibimbing akan semakin efektif proses belajar mengajarnya.
Karena bidang ilmu pendidikan dan sosial pada PTN sangat mendominasi dalam pengembangannya maka distribusi dosennya pun mengikuti pola yang serupa. Dari sebanyak 35.923 dosen yang tersebar pada PTN di seluruh Indonesia maka 29,4% di antaranya merupakan dosen bidang ilmu pendidikan, 25,1% dosen bidang ilmu sosial.
Sementara itu dosen pada bidang ilmu pertanian, teknologi, kesehatan, dan MIPA secara berturut-turut ialah 16,8%, 10,7%, 12,2% dan 5,5%.
Secara kualitatif maka kualitas dosen PTN memang belum memuaskan karena mayoritas dosen PTN masih berada pada kualifikasi asisten (pembantu). Adapun rincian datanya adalah sbb: dosen yang paling senior, yaitu guru besar, baru sekitar 683 (1,9%) orang. Sementara itu dosen PTN dengan kualifikasi lektor kepala, lektor, lektor muda, dan asisten secara berturut-turut adalah 10,9%, 14,1%, 24,6%, dan 48,5%.
Meskipun demikian secara komparatif kualitas dosen PTN tersebut jauh lebih baik daripada mutu dosen PTS. Indikatornya antara lain jumlah guru besar pada PTS masih dapat dihitung dengan jari, dan kebanyakan merupakan "pinjaman" dari PTN;
sekitar 80,0% dosennya masih berkualifikasi asisten, dan sebagai-nya. Sementara itu
jumlah dosen yang berpendidikan master/ma-gister (S2) dan doktor (S3) juga masih sangat sedikit; sedangkan pada PTN dari 35.923 dosen maka sekitar 8.442 (23,5%) di antara-nya sudah berpendidikan S2 dan atau S3.
Itulah berbagai kelebihan PTN pada berbagai aspek yang mendukung pelaksanaan sistem kredit semester; tentu saja kelebih-an tersebut harus benar-benar dimanfaatkan oleh segenap civitas akademika, termasuk mahasiswanya.
Nah, marilah kita sambut dan kita ucapkan selamat datang bagi para mahasiswa baru PTN !!!*****
________________________________________________________
BIODATA SINGKAT;
nama: DR. Drs. Ki Supriyoko, SDU, M.Pd.
pek.: Ketua Litbang Pendidikan Majelis Luhur Tamansiswa, dan Ketua Pusat Kerja Sama Ilmiah (PKSI) KOPERTIS Wilayah V Yogyakarta
prof: Pengamat dan peneliti masalah-masalah pendidikan