BAB II
LANDASAN TEORI
TENTANG ULAMA DAN PERILAKU BERAGAMA REMAJA
A. Ulama
1. Pengertian Ulama
Pengertian ulama sering terbentuk dengan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Nampaknya pengertian yang diberikan berbeda-beda, walaupun pada prinsipnya sama jika dilihat dari segi isinya. Mungkin hal ini dilatar belakangi oleh pengalaman pendidikan dan lingkungan yang mereka temui.
Kata Ulama berasal dari bahasa Arab, yaitu
ﺀﺎَﻤَﻠُﻋ
, kata ini adalah bentuk jamak dariَﻢِﻟﺎَﻋ
(‘Aalim) yang artinya telah mengetahui atau telah mengerti. Ulama berarti orang yang tahu atau orang yang memiliki ilmu agama dan ilmu pengetahuan kealaman yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT. Ensiklopedi Islam (2003 : 120).Di dalam Al-Qur’an kata ulama terdapat dalam surat Al-Fathir (35 : 28), yang berbunyi :
Artinya : “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba- hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. Departemen Agama RI (2007 : 437).
Juga terdapat dalam Firman Allah surat Asy Syu’araa (26 : 96-97) yaitu sebagai berikut :
Artinya : “Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab- Kitab orang yang dahulu. Dan Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa Para ulama Bani Israil mengetahuinya?”. Depag RI (2007 : 375).
Di sini arti ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan agama. Dari kedua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu kealaman dan ilmu agama, dan pengetahuan yang dimilikinya itu dipergunakan untuk mengantarkannya pada rasa khosyyah (takut dan tunduk) kepada Allah.
Di Indonesia istilah Ulama atau ‘Alim ulama dimaksudkan sebagai bentuk jama’, berubah pengertiannya menjadi bentuk tunggal, pengertian ulama juga lebih sempit karena diartikan sebagai orang yang memiliki pengetahuan ilmu keagamaan dalam bidang fiqih, di Indonesia ulama identik dengan fuqaha.
Bahkan dalam pengertian awam sehari-hari ulama adalah fuqaha dalam ibadah saja.
Betapapun sempitnya pengertian ulama dari dahulu hingga sekarang namun ciri khasnya tetap tidak dilepaskan, yakni ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu diajarkan dalam rangka khasyyah (adanya rasa takut dan tunduk) kepada Allah SWT. Oleh karena itu seorang ulama harus orang islam. Seseorang yang baru memiliki ilmu keagamaan (keislaman) seperti para ahli ketimuran (orentalis) tidak dikatakan sebagai ulama.
Menurut A. Mujab Mahali dan Umi Mujawazah Mahali (1987 : 11-55), mengungkapkan bahwa pengertian ulama ada dua macam, yaitu :
a. Ulama Dunia, ialah para ilmuwan muslim yang mengorientasikan ilmunya kepada kepentingan duniawi melupakan kepentingan ukhrowi.
b. Ulama Akhirat, ialah para ilmuwan muslim yang mengorientasikan ilmunya kepada kepentingan – kepentingan ukhrowi, yaitu mencari keridhoan Allah SWT, demi kemaslahatan umum, tanpa mengabaikan dunia yang dibutuhkan sebagai sarana menuju ukhrawi.
Dalam definisi diatas terdapat perbedaan antara ulama dunia dengan ulama akhirat. Ulama dunia sepanjang waktunya hanya dihabiskan untuk mengajar keduniaan dengan melupakan tanggung jawab terhadap umat dan amanah Allah SWT. Sedangkan ulama Akhirat dalam segala perilaku selalu menghindarkan diri dari sifat-sifat yang tercela seperti mereka selalu menghindarkan diri dari sifat sombong dan takabur, mereka selalu tawadlu (merendahkan diri), dan berakhlak mulia sebab mereka adalah cermin dan panutan bagi masyarakat.
Selanjutnya pengertian ulama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang yang memiliki pengetahuan agama islam yang luas dan berfungsi sebagai pengayom, panutan dan pembimbing umat atau masyarakat serta memiliki lembaga pendidikan islam.
2. Fungsi dan Peran Ulama
Ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan luas tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyyah (fenomena alam) maupun bersifat Qur’aniyyah yang mengantarkan manusia kepada pengetahuan tentang kebenaran Allah, taqwa, tunduk dan takut pada-Nya. Al-Munawwar (Mimbar : 1999 : 34).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 245) : “Fungsi adalah jabatan (pekerjaan) yang dilakukan. Berfungsi adalah kedudukan atau bertugas sebagai, sedangkan peran adalah seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat. Peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan”.
Dari ungkapan diatas dapat dirumuskan bahwa fungsi ulama adalah potensi ulama yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuannya sesuai perannya sebagai ulama.
Sebagai pewaris Nabi, Sebagaimana hadits nabi yang dikutip oleh Suprapto di dalam kata pengantarnya (Ensiklopedi Ulama Nusantara 2010 : xxxv).
bahwa ulama adalah penerus para nabi dan pewaris ajaran mereka. Ulama mengemban beberapa fungsi, antara lain:
1. Tabligh, yaitu menyampaikan pesan-pesan agama yang menyentuh hati dan memberi stimulasi bagi orang yang melakukan pengamalan agama, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah (5 : 67),sebagai berikut :
A
A
Artinya : “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” Depag RI (2007 : 119).
Pada fungsi ulama sebagai tabligh ini harus mengacu beberapa tugas yaitu memberi ketenangan jiwa kepada pendengarnya, memberikan motivasi dengan ikhlas, merancang materi tabligh dan metode penyampaian yang dapat membangkitkan intensitas imaniyah, untuk kemudian direalisasikan dalam bentuk tingkah laku.
2. Tibyan, yaitu menjelaskan masalah-masalah agama berdasarkan referensi secara lugas, jelas dan tegas.
Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl (16 : 44) :
A
Artinya : “dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.
dari Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” Depag RI (2007 : 272).
Dalam menjalankan tugas tibyan, ketika menyampaikannya, ulama memerlukan nalar yang jernih, untuk dapat memaparkan ajaran agama secara jelas, sederhana dan mudah dipahami.
3. Tahkim, yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi atau panduan utama dalam memutuskan perkara dengan bijaksana dan adil. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah (2 : 213), sebagai berikut :
A
Artinya : “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus Para Nabi (untuk)menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran , untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang diberi (kitab), setelah bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian diantara mereka sendiri. Maka dengan hendak- Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yag Dia kehendaki ke jalan yang lurus”. Depag RI (2007 : 33).
4. Uswatun Hasanah, yaitu menjadikan dirinya sebagai suri tauladan yang baik dalam pengamalan agama. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al- Ahzab (33 : 21), sebagai berikut :
A
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.Depag RI (2007 : 420).
Menurut keterangan di atas bahwa ulama sebagai uswatun hasanah, ulama harus menjadi panutan, pimpinan dan suri tauladan yang baik bagi masyarakat dalam segala hal, khususnya dalam pengamalan ibadah.
Mengambil pelajaran dari uraian di atas, maka fungsi dan peran ulama dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Keterlibatan para ulama dalam masyarakat.
2. Keterlibatan mereka dalam pengembangan pendidikan agama (perencanaan pendidikan, penyelenggaraan, pengelolaan dan mengontrol serta mengevaluasi pendidikan).
3. Mengembangkan karya-karya yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan islam.
Sesuai dengan fungsinya, baik sebagai pewaris para Nabi, pemimpin keagamaan maupun sebagai pemimpin masyarakat, maka situasi dan kondisi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat akan banyak diwarnai oleh sikap dan ketokohan ulamanya. Karena itu adalah bagian dari tugas mereka, yaitu mengarahkan dan bahkan mengubah pandangan serta wawasan keagamaan dan sosial masyarakat setempat.
B. Pembinaan Keagamaan
Secara harfiah pembinaan berarti pemeliharaan secara dinamis dan berkesinambungan (Departemen Pendidikan dan Nasional, 1995 : 504). Didalam konteksnya dengan suatu kehidupan beragama, maka pengertian pembinaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran memlihara secara terus menerus terhadap tatanan nilai agama agar segala perilaku kehidupannya senantiasa diatas norma-norma yang ada dalam tatanan itu. Namun
perlu dipahami bahwa pembinaan tidak hanya berkisar pada usaha untuk mengurangi serendah-rendahnya tindakan-tindakan negatif yang dilahirkan dari suatu lingkungan yang bermasalah, melainkan pembinaan harus merupakan terapi bagi masyarakat untuk mengurangi perilaku buruk dan tidak baik serta sekaligus bisa mengambil manfaat dari potensi masyarakat, khususnya ibu-ibu pedagang.
Dalam hal ini pembinaan dimaksudkan adalah pembinaan keagamaan yang mempunyai sasaran pada remaja, maka tentu aspek yang ingin dicapai dalam hal ini adalah sasaran kejiwaan setiap individu. Sehingga mampu menanamkan nilai-nilai dan konsep pembinaan, khususnya dalam hal pembinaan akhlak melalui ajaran tasawuf dalam merubah perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Abuddin Nata, 2003 : 218).
Pembinaan yang bercorak keagamaan atau keislaman akan selalu bertumpu pada dua aspek, yaitu aspek spiritualnya dan aspek materialnya. Aspek spiritual ditekankan pada pembentukan kondisi batiniah yang mampu mewujudkan suatu ketentraman dan kedamaian didalamnya (Andi Mappiare, 1984 : 68). Dan dari sinilah memunculkan kesadaran untuk mencari nilai-nilai yang mulia dan bermartabat yang harus dimilikinya sebagai bekal hidup dan harus mampu dilakukan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-harinya saat ini untuk menyongsong kehidupan kelak, kesadaran diri dari seorang remaja sangat dibutuhkan untuk mampu menangkap dan menerima nilai-nilai spiritual tersebut, tanpa adanya paksaan dari luar dirinya. Sedangkan pada pencapaian aspek materialnya ditekankan pada kegiatan konkrit yaitu berupa pengarahan diri melalui kegiatan yang bermanfaat, seperti organisasi, olahraga, sanggar seni dan lain-lainnya. Kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dimaksudkan agar mampu berjiwa besar dalam membangun diri dari dalam batinnya, sehingga dengan kegiatan tersebut, maka tentu dia akan mampu memiliki semangat dan kepekatan yang tinggi dalam kehidupannya(Netty Hartaty, 2004 :441).
Dari pembahasan di atas pembinaan yang dimaksudkan oleh penulis yaitu pembinaan keagamaan pada remaja.
a. Bentuk – Bentuk Kegiatan keagamaan 1. Pengajian
Pengajian merupakan salah satu unsur pokok dalam syiar dan pengembangan agama Islam kepada masyarakat luas. Apabila ditinjau dari segi bahasa, pengajian berasal dari kata kaji, yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an yang berarti ajaran, pengajaran, pembacaan Al-Quran, penyelidikan (pelajaran agama Islam yang mendalam). Menurut istilah, pengajian adalah penyelenggaraan atau kegiatan belajar agama Islam yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat yang dibimbing atau diberikan oleh seorang guru ngaji (da’i) terhadap beberapa orang. (Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989 : 433)
Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam waktu dan tempat tertentu, dengan tujuan agar orang-orang yang mengikuti dapat mengerti, memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupannya. Sasaran yang ingin dicapai dengan penyelenggaraan pengajian agama Islam, agar senantiasa melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT.
Untuk itu, maka pengajian tersebut juga merupakan salah satu solusi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan pengajaran, tuntunan dan binaan mengenai ilmu agama.
Pengajian menurut para ahli berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengajian ini, diantara pendapat-pendapat mereka adalah menurut Muhzakir mengatakan bahwa pengajian adalah istilah umum yang digunakan untuk menyebut berbagai kegiatan belajar dan mengajar agama. Menurut Pradjarta Dirdjosanjoto mengatakan bahwa pengajian adalah kegiatan yang bersifat pendidikan kepada umum. (Pradjarta Dirdjosanjoto, 1999 : 3).
Dari beberapa definisi-definisi di atas adapun definisi tentang kelompok pengajian adalah kelompok belajar untuk mendalami ajaran agama Islam secara bersama. Kelompok ini biasanya menyelenggarakan kegiatan belajar rutin di bawah bimbingan orang yang dipandang lebih mengetahui tentang ajaran agama. Adapun pengajian sebagai bentuk
pengajaran kyai terhadap para santri. Pembimbingan disapa dengan gelar kyai, ustadz (ustadzah untuk perempuan), Da’i, tuan guru, atau sapaan penghormatan lainnya.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat diambil suatu pernyataan bahwa pengajian merupakan kelompok atau jama’ah yang berupaya untuk belajar tentang agama. Sebab pengajian merupakan kelompok dari masyarakat yang berarti milik masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu hakekat dari kegiatan atau aktivitas pengajian itu sendiri adalah pembangunan nilai-nilai agama.
2. Marhabanan
Marhabanan merupakan senandung pembacaan shalawat-shalawat barjanji. Dalam hal ini pembinaan keagamaan pada remaja melalui kegiatan marhabanan dengan dibubuhi dengan siraman rohani.
3. Shalawatan
Sholawat merupakan lafadz dari kata Sholat. Sholawat merupakan bahasa arab, yang artinya adalah doa, rahmat dari tuhan, memberi berkah, dan ibadah. Sholawat berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan sholawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah Swt, serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad Saw, bahwa orang yang bersholawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik sholawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).
4. Pesantren Ramadhan
Merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap pada bulan ramadhan.
Kegiatan selama bulan ramadhan sudah pasti bernuansa rohani, seperti siraman rohani dan bimbingan khusus untuk menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk. Salah satu kegiatan positif yang dapat memperdalam ilmu- ilmu agama adalah pesantren kilat. Pesantren kilat sering diadakan oleh
lembaga-lembaga pendidikan formal, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dengan cara mewajibkan para siswa/siswinya untuk mengikuti pesantren kilat.
Tempat untuk mengadakan pesantren kilat tidak hanya dilaksanakan di dalam gedung-gedung sekolah atau ruang masjid tetapi ada juga yang mengadakan pesantren kilat di ruang terbuka, seperti pegunungan dan di padepokan-padepokan taman wisata yang jauh dari kerumunan orang-orang banyak yang tujuan utamanya adalah supaya bisa khusyuk dan serius dalam menjalankan ibadah. Pesantren kilat umumnya dilaksanakan selama satu atau dua minggu pada awal bulan ramadhan. Materi yang diberikan pada pesantren kilat biasanya kegiatan-kegiatan yang bernafaskan rohani dan pendalaman ilmu-ilmu agama, misalnya membaca Al-Qur’an, praktik wudlu, shalat, tayamum, adzan, menghafal surat-surat pendek dan ayat-ayat pilihan, doa- doa, mendengarkan ceramah, dan berdiskusi tentang keislaman.
5. Istighasah
Istighosah sama dengan berdoa akan tetapi bila disebutkan kata istighosah konotasinya lebih dari sekedar berdoa, karena yang dimohon dalam istighotsah adalah bukan hal yang biasa biasa saja. Oleh karena itu, istighotsah sering dilakukan secara kolektif dan biasanya dimulai dengan wirid-wirid tertentu, terutama istighfar, sehingga Allah SWT berkenan mengabulkan permohonan itu. Istighotsah adalah meminta pertolongan ketika keadaan sukar dan sulit.
C. Karakteristik Remaja
Remaja berasal dari bahasa latin yaitu Adolesence yang artinya
“tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. istilah Adolesence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh piaget yang dikutip dari Mohammad Asrori (2010 : 9) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat
dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Masa remaja merupakan masa peralihan yang dilalui oleh seorang anak menuju masa kedewasaannya, atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa anak-anak sebelum mencapai masa dewasa. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Dzakiah Darajat (1993 : 68-69) bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas, dalam artian remaja bukanlah termasuk anak-anak dan juga bukan tergolong orang dewasa. Sedangkan menurut Ujang Saefulloh (2012 : 263) bahwa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan pada perkembangan masa dewasa yang sehat.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada fase remaja, anak mengalami berbagai perubahan yang mengantarnya menuju kedewasaannya. Perubahan remaja tersebut dapat dilihat dari ciri-cirinya seperti yang dikemukakan oleh Drs. Zulkifli L. (1993 : 65-67) , yaitu sebagai berikut : a. Pertumbuhan Fisik
Masa remaja merupakan salah satu di antara dua masa rentangan kehidupan individu, dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Fisik remaja yang penulis amati, hampir menyerupai orang dewasa namun terkadang mereka masih terlihat seperti anak-anak.
b. Perkembangan seksual
Tanda-tanda perkembangan seksual pada anak laki-laki diantaranya : alat produksi spermanya mulai berproduksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa sadar mengeluarkan sperma. Sedangkan pada anak perempuan bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi yang pertama.
Syamsu Yusuf (2004 : 194) mengemukakan bahwa dalam perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan dua ciri yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Uraian lebih lanjut sebagai berikut :
1) Ciri-ciri seks primer
Pada remaja laki-laki Testis mulai tumbuh, penis mulai bertambah panjang, pembuluh mani dan kelenjar prostat semakin membesar. Hal tersebut mengakibatkan remaja laki-laki (usia 14-15 tahun) mengalami mimpi basah.
Pada remaja wanita, kematangan organ-organ seksnya dengan tumbuhya rahim, vagina, dan ovarium (indung telur) secara cepat. Pada masa inilah (sekitar usia 11-15 tahun), untuk pertama kalinya remaja wanita mengalami
“menarche” atau menstruasi pertama.
2) Ciri – ciri seks sekunder
Ciri-ciri seks sekunder pada masa remaja baik pria maupun wanita dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :
TABEL 1
Ciri Seks Sekunder Pada Remaja
WANITA PRIA
- Tumbuh rambut pubik atau bulu kapok di sekitar kemaluan dan ketiak
- Bertambah besar buah dada - Bertambah besarnya pinggul
- Tumbuh rambut pubik atau bulu kapok di sekitar kemaluan atau ketiak.
- Terjadi perubahan suara - Tumbuh kumis
- Tumbuh gondok laki (jakun)
c. Cara berpikir kausalitas
Remaja sudah mulai berpikir kritis sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya sebagai anak kecil. Bila orang tua tidak memahami cara berpikir remaja, akibatnya timbullah kenakalan remaja berupa perkelahian dan semacamnya.
Dari beberapa kriteria remaja yang dikemukakan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan remaja dapat terlihat dari beberapa aspek seperti pertumbuhan fisik yang pesat dengan ditandai oleh bentuk fisik yang terlihat seperti orang dewasa (semi dewasa). Begitu juga cara berpikirnya yang mulai kritis menandakan bahwa seseorang sedang berada dalam fase remaja.
Hal ini juga sebagaimana dikemukakan oleh U. Saefullah (2012 : 266 - 274) bahwa Semua individu khususnya remaja akan mengalami perkembangan, baik fisik maupun psikis yang meliputi aspek intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama.
1) Perkembangan Fisik
Dalam perkembangan remaja, perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik. Tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh seperti orang dewasa disertai dengan berkembangnya kapasitas reproduktif.
2) Perkembangan Psikis a. Aspek intelektual
Perkembangan intelektual pada remaja bermula pada umur 11 atau 12 tahun. Remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkret, mereka mulai mampu berhadapan dengan aspek – aspek yang realita. Oleh karena itu dengan Kemampuan berpikir yang baru ini memungkinkan mereka untuk berpikir abstrak yang akan memberikan peluang pada individu untuk berimajiasi.
b. Aspek sosial
Pada masa remaja berkembang kemampuan untuk memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat, nilai- nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja untuk bersosialisasi lebih akrab
dengan lingkungan sebaya atau lingkungan masyarakat, baik melalui persahabatan atau percintaan.
c. Aspek emosi
Perkembangan aspek emosi berjalan konstan, kecuali pada masa remaja awal (13-14 tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun). Masa remaja awal ditandai oleh rasa optimis dan keceriaan dalam hidupnya, diselingi rasa bingung menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya. Pada masa remaja tengah, rasa senang datang silih berganti dengan rasa duka, kegembiraan berganti dengan kesedihan. Gejolak ini berakhir pada masa remaja akhir (18-21 tahun).
Elizabeth B Hurlock seperti yang dikutip dari Syamsu Yusuf (2004 : 197) mengemukakan bahwa remaja empat belas tahun sering kali mudah marah, mudah terangsang, dan emosinya cenderung “meledak”, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya remaja enam belas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak mempunyai keprihatinan”. Jadi adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang berakhirnya masa remaja.
Pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa proses pencapaian emosi remaja sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan teman sebayanya. Apabila lingkungan tersebut cukup kondusif, dalam arti kondisinya diwarnai oleh hubungan yang harmois, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung mencapai kematangan emosionalnya. Sebaliknya apabila kurang dipersiapkan untuk memahami peran-perannya dan kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tua atau pengakuan dari teman sebaya, maka mereka akan cenderung mengalami kecemasan.
d. Aspek Bahasa
Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun lingkungan lingkungan teman sebaya.Pola bahasa remaja lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Penggunaan bahasa lebih sempurna dan perbendaharaan kata lebih banyak.
e. Aspek moral
Remaja adalah fase dimana seseorang sedang dalam masa labil, Remaja lebih mengenal nilai-nilai moral, kejujuran, keadilan, kesopanan dan kedisiplinan. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam membantu moral remaja. Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan- perbuatan yang dinilai baik oleh orang lain. Remaja berperilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasan fisiknya, tetapi psikologis (rasa puas dengan adanya penerimaan dan penilaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).
f. Aspek Agama
Pemahaman remaja dalam beragama semakin matang. Kemampuan berpikir abstrak memungkinkan remaja untuk mentransformasi keyakinan beragama serta mengapresiasikan kualitas keabstrakan Tuhan.
Menurut Sarlito W.S (2002 : 24-25), bahwa karakteristik remaja terbagi dalam 3 tahap :
1. Early Adolescence (remaja awal)
Remaja pada masa ini masih terheran-heran akan perubahan- perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis dan mudah terangsang secara teoritis.
2. Middle Adolescence (Remaja Madya)
Pada tahap-tahap ini remaja ada kecenderungan “narcistis”, yaitu mencintai diri sendiri dan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat- sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu ia berada dala kondisi kebingungan karena ia tidak harus memilih yang sama.
3. Late Adolescence
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal:
1. Minat yang mantap terhadap fungsi-fungsi intelektual
2. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang dan dengan pengalaman-pengalaman baru
3. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
4. Egisentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain
5. Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public)
Sedangkan menurut Sahilun A. Nasir (2002 : 65-66) karakteristik remaja dibagi menjadi dua :
a. Ciri – ciri Remaja Awal :
1. Perasaan dan emosi remaja tidak stabil
2. Mengenai status remaja masih sangat sulit ditentukan 3. Kemampuan mental dan daya pikir mulai agak sempurna
4. Hal dan sikap moral menonjol pada menjelang akhir remaja awal 5. Remaja awal banyak masalah yang dihadapi
b. Ciri Remaja Akhir :
1. Stabilitas mulai timbul dan meningkat 2. Citra diri dan sikap pandangan lebih realistis 3. Perasaannya lebih tenang
4. Dalam menghadapi masalah, dihadapi secara lebih matang
Menurut hemat penulis, masalah yang sebenarnya dihadapi remaja awal dan akhir relatif sama. Perbedaannya hanya terletak pada cara menghadapi dan memecahkan masalah tersebut. Kalau dalam masa remaja awal masalah itu dihadapi dengan sikap bingung, maka dalam masa remaja akhir dihadapi dengan lebih matang. Langkah-langkah pemecahan problem yang lebih matang itu mengarahkan remaja pada tingkah laku yang lebih dapat menyesuaikan diri dalam situasi lingkungan dan perasaan-perasaan sendiri.
Mengenai perilaku beragama remaja, Allah SWT sebagai Khaliq (pencipta) alam semesta telah menurunkan wahyu (agama) kepada para utusan- Nya sebagai pedoman hidup bagi manusia di dunia ini, agar memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Kaidah-kaidah yang terkandung dalam agama selaras dengan fitrah manusia sebagai makhluk beragama, yaitu makhluk yang memiliki naluri beragama, rasa keagamaan dan kemampuan untuk memahami serta mengamalkan nilai-nilai agama tersebut.
Syamsu Yusuf (2003 : 13) mengemukakan bahwa Apabila seseorang mempedomani agama sebagai dasar rujukan berperilaku, dan sebagai kompas dalam mencapai tujuan hidupnya, maka dia telah menjadi seorang yang terbebaskan dari belenggu kebodohan yang sangat diwarnai hawa nafsu dan memperoleh pencerahan hidup yang sarat dengan nurilahi.
Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim 14 : 1 Allah berfirman :
Artinya : “Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. Depag RI (2007 : 255).
Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa agama merupakan cahaya bagi manusia dan pemberi arah bagi manusia agar manusia tidak sampai tersesat dalam hidupnya.
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif. Masa remaja merupakan masa peralihan yang dilalui oleh seorang anak menuju kedewasaannya, atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa anak-anak sebelum mencapai dewasa.
Masa remaja, jika dilihat tubuhnya, dia seperti orang dewasa, jasmaninya jelas berbentuk laki-laki atau perempuan. Organ-organnya dapat pula menjalankan fungsinya . dari segi lain, sebenarnya remaja belum berkembang menjadi dewasa, dan kecerdasan pun sedang mengalami perkembangan . mereka ingin berdiri sendiri, tidak lagi bergantung pada orang tua atau orang dewasa lainnya. Akan tetapi belum mampu bertanggung jawab dalam soal ekonomi dan sosial. Apalagi jika dalam masyarakat, dimana ia hidup memiliki sayarat-syarat
untuk dapat diterima dan dihargai sebagai orang dewasa, seperti keterampilan dan kepandaian, serta pengetahuan dan kebijakan tertentu.
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan perkembangan tersebut.
Perkembangan agama pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W.
Starbuck sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin (2003 : 74 -77) : a. Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
b. Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual.
c. Perkembangan Sosial
Corak keagamaan pada remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.
d. Perkambangan Moral
Perkembangan moral pada masa remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga mencakupi :
1. Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2. Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3. Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4. Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
5. Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
e. Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya). Sikap dan minat remaja dalam masalah ekonomi, keuangan, material, dan sukses pribadi memiliki kecenderungan yang besar dibandingkan dengan sikap dan minat terhadap masalah keagamaan.
Oleh karena itu menurut hemat penulis apabila masa kecil anak mendapatkan perhatian yang lebih terhadap masalah keagamaan, maka hal ini sangat berperan terhadap perkembangan keagamaan di masa remajanya, mengingat masa ramaja adalah masa yang labil dan mudah tergiur dengan hal-hal yang menurutnya menarik walaupun hal tersebut mengarah kepada perbuatan yang negatif. Maka dari itu perhatian dan kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan oleh anak yang sedang berada dalam masa remaja.
Lebih lanjut Ramayulis mengemukakan (2013 : 66-74) bahwa perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat melalui pengalaman dan ekspresi keagamaan yang tercermin dari sikap keagamaannya, antara lain sebagai berikut :
1. Percaya secara ikut-ikutan
Kebanyakan remaja percaya kepada Tuhan dalam menjalankan ajaran agamanya karena terdidik dalam lingkungan beragama. Karena ibu dan bapaknya selalu ada dekat di sekelilingnya melaksanakan ibadah, maka mereka ikut melaksanakan ibadah, dan mempercayai ajaran-ajaran agama sekedar mengikuti suasana lingkungan di mana ia hidup.
2. Percaya dengan kesadaran
Remaja melihat agama dengan pandangan yang kritis, sehingga kadang-kadang mereka memberontak dengan adat kebiasaan yang ada dalam masyarakat yang dipandang oleh mereka kurang masuk akal. Ia berusaha mengembangkan dan meningkatkan keagamaannya sesuai dengan perkembangan pribadinya. Mereka cenderung ingin mengadakan pembaruan. Karena itu seringkali mereka melancarkan pendapat terhadap kebiasaan yang mereka anggap tidak relevan dengan perkembangan zaman, dan mereka tidak segan-segan menyerang tokoh-tokoh atau pemimpin keagamaan yang selama ini membimbingnya.
3. Percaya tapi bimbang
Kebimbangan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua : a. Keraguan yang disebabkan adanya goncangan dalam jiwanya akibat proses
perubahan pada dirinya.
b. Keraguan yang disebabkan adanya kontradiksi antara kenyataan-kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya sesuai dengan pengetahun yang dimiliki.
Menurut Zakiah Daradjat yang dikutip oleh ramayulis (2013 : 69) mengemukakan bahwa kebimbangan itu disebabkan oleh dua faktor penting, yaitu keadaan jiwa orang yang bersangkutan, dan keadaan sosial serta budaya yang melingkupinya.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku beragama pada remaja selaras dengan jiwanya yang sedang berada dalam masa transisi dari
anak-anak menuju kedewasaan, maka pada masa remaja berada dalam keadaan peralihan dari kehidupan beragama anak-anak menuju kemantapan beragama. Hal ini selaras dengan yang dikemukakan Abdul Aziz Ahyadi (2001 : 48) bahwa di samping keadaan jiwa yang labil dan mengalami kegoncangan, daya pemikiran yang abstrak, logik dan kritik mulai berkembang, emosinya semakin berkembang, motivasinya mulai otonom dan tidak dikendalikan oleh dorongan biologis semata.
Kehidupan agamanya mudah goyah, timbul kebimbangan, kerisauan dan konflik batin.