• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemodelan Arsitektur Bisnis Pada Pelayanan Publik Polres Bojonegoro dengan Pendekatan Enterprise Architecture

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pemodelan Arsitektur Bisnis Pada Pelayanan Publik Polres Bojonegoro dengan Pendekatan Enterprise Architecture"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Ilmu Komputer

Universitas Brawijaya 10054

Pemodelan Arsitektur Bisnis Pada Pelayanan Publik Polres Bojonegoro dengan Pendekatan Enterprise Architecture

Dea Ayu Permatasari1, Aditya Rachmadi2, Welly Purnomo3

Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak

Polres Bojonegoro adalah bagian dari sebuah organisasi yaitu Kepolisian Nasional Indonesia (POLRI) yang berbasis di wilayah Kabupaten/Kota. Tugas pokok Polres Bojonegoro telah dicapai dalam pelayanan publik. Untuk mewujudkan pelayanan publik yang terintegrasi, Polres Bojonegoro sebaiknya memiliki sebuah dokumen yang secara khusus menjelaskan infrastruktur bisnis organisasi pada Polres Bojonegoro saat ini. Dengan demikian, Polres Bojonegoro akan lebih adaptif dalam menyikapi perubahan yang terjadi pada organisasi. Sehingga, pemodelan arsitektur bisnis dilakukan untuk mengembangkan arsitektur bisnis di kantor Polres Bojonegoro dengan pendekatan enterprise architecture. Pemodelan arsitektur bisnis menggunakan Open Group Architecture Framework (TOGAF), metode yang digunakan adalah TOGAF ADM (Architecture Development Method).

Penelitian ini memiliki hasil berupa blueprint yang menggambarkan arsitektur bisnis saat ini (baseline) dan usulan (target) pada pelayanan publik Polres Bojonegoro. Kemudian diperoleh usulan pada penelitian ini, yaitu diselenggarakannya pelayanan publik Polres Bojonegoro yang terpadu satu pintu via mobile app. Terdapat juga usulan untuk melakukan input data secara otomatis dan pengarsipan data secara digital. Pada penelitian ini ditemukan 5 kesenjangan antara model arsitektur bisnis pelayanan publik Polres Bojonegoro saat ini dan usulan berdasarkan hasil gap analysis. Fase pada TOGAF ADM yang dilakukan terdiri dari phase preliminary, architecture vision dan business architecture.

Kata kunci: pemodelan, arsitektur bisnis, arsitektur perusahaan, TOGAF 9.1, archimate 3.1, polres bojonegoro

Abstract

Polres Bojonegoro is part of an organization called the Indonesian national police (POLRI) based in district/city areas. The fundamental task force of the Polres Bojonegoro has been achieved in public service. To achieve integrated public service, Polres Bojonegoro should have a document that specifically explains the business infrastructure of the organization to Polres Bojonegoro at the moment. Therefore, Polres Bojonegoro will be more adaptive in addressing the changes that occur in organizations. So, modeling business architecture is done to develop business architecture in the Polres Bojonegoro using enterprise architecture approach. Business architecture requires an Open Group Architecture Framework (TOGAF), The method used by the researcher are TOGAF ADM (architecture development method). The research has blueprints describing the existing business architecture (baseline) and (target) for the public service of Polres Bojonegoro. The modelling of the public service business model for the Polres Bojonegoro has target the creation of the united public service of the Polres Bojonegoro via mobile app. Other than that, There is also a target to automatically do data input and data archive digitally. In this research, 5 gaps were found between the baseline and target of architecture models on public services Polres Bojonegoro, models of these architecture consists of references from preliminary, architecture vision, and business architecture.

Keywords: modeling, business architecture, enterprise architecture, TOGAF 9.1, archimate 3.1, polres bojonegoro

1. PENDAHULUAN

Pelayanan publik pada suatu departemen

atau organisasi dilakukan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Idealnya, masyarakat dapat mencapai kepuasan dari pelayanan publik

(2)

tersebut. Badan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) memiliki misi untuk melaksanakan pelayanan publik yang prima pada organisasi kepolisian termasuk pada tingkat Kepolisian Resor (Polres). Mewujudkan layanan yang prima dengan melakukan revitalisasi POLRI, yang memiliki tiga komponen: inovasi, penguatan terhadap institusi, trobosan kreatif, dan berintegritas (Yanuarsasi et al., 2010).

Kepolisian Nasional (POLRI) terdiri dari Polres yang berlokasi atau berkedudukan di daerah kabupaten/kota, berdasarkan undangan nomor 23 tahun 2010. Polres bertanggung jawab untuk memenuhi tugas pokok POLRI sesuai ketentuan perundang-undangan.

Pelaksanaan tugas pokok diwujudkan dalam pelayanan publik yang terdiri layanan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), layanan pelaporan atau pengaduan (SPK), layanan izin keramaian, layanan pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), layanan pengawalan, layanan pembuatan surat kendaraan bermontor (BPKB/STNK), dan layanan besuk tahanan.

Tentu pelaksanaan sistem layanan terpadu untuk Polres Bojonegoro akan sulit dengan adanya layanan-layanan tersebut. Sistem yang terintegrasi sebaiknya terwujud di dalam Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Bojonegoro, tetapi SPKT Polres Bojonegoro dalam melaksanakan pelayanan publik belum sesuai dengan dasar organisasi. Pelayanan publik pada Polres Bojonegoro saat ini masih beroperasi masing-masing belum berada pada layanan satu pintu yang terintegrasi. Hal ini disebabkan oleh sumber daya dan layanan yang tidak memadai.

Dalam mewujudkan pelayanan publik yang terintegrasi, Polres Bojonegoro sebaiknya memiliki sebuah dokumen yang secara khusus menjelaskan infrastruktur bisnis organisasi pada Polres Bojonegoro saat ini. Dengan demikian, Polres Bojonegoro akan lebih adaptif dalam menyikapi perubahan yang terjadi pada organisasi.

Dibutuhkan metodologi untuk pemodelan arsitektur bisnis pada Polres Bojonegoro.

Pendekatan Enterprise Architecture (EA) digunakan untuk pemodelan arsitektur bisnis.

EA yang baik dapat mengoptimalkan proses manual dan otomatis di dalam organisasi.

Sehingga, menciptakan lingkungan organisasi yang terintegrasi dan responsif terhadap perubahan yang terjadi pada organisasi (The Open Group, 2018).

Framework yang digunakan adalah TOGAF 9.2. Metode TOGAF yang digunakan adalah Architecture Development Method (ADM). TOGAF ADM menyediakan proses yang teruji dan berulang untuk pengembangan arsitektur. Dengan menggunakan Framework TOGAF ADM pemodelan arsitektur dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang diinginkan oleh organisasi. Untuk memodelkan arsitektur bisnis pelayanan publik Polres Bojonegoro digunakan bahasa pemodelan archimate 3.1.

Archimate memenuhi kebutuhan desain arsitektur perusahaan dan telah mencakup lapisan bisnis, aplikasi, dan teknologi.

Diharapkan pemodelan arsitektur bisnis dapat memudahkan Polres Bojonegoro dalam mengendalikan perubahan organisasi yang terjadi seiring waktu, mendukung dalam pengambilan keputusan SI/TI, dapat menyelaraskan antara bisnis dan teknologi, meningkatkan efektifitas dan efisiensi operasional organisasi, dan memudahkan dalam melakukan integrasi antar sistem.

2. LANDASAN KEPUSTAKAAN 2.1. Enterprise Architecture

Menurut (The Open Group, 2018) Enterprise Architecture dapat didefinisikan sebagai blueprint yang digunakan sebagai pendukung dalam pengambilan keputusan atau manajemen terhadap bisnis dan SI/TI untuk membantu pelaksanaan visi dan misi organisasi.

Enterprise Architecture membahas kebutuhan bisnis untuk secara efektif mengelola, menggunakan konten, dan transformasi digital untuk mencapai tujuan perusahaan. Enterprise Architecture dapat membantu perusahaan mencapai transformasi bisnis dan operasi perusahaan yang efisien dan berkelanjutan.

2.2. TOGAF (The Open Group Architecture Framework)

TOGAF (The Open Group Architecture Framework) adalah Framework arsitektur yang menawarkan metode dan tools untuk mempromosikan pengelolaan struktur organisasi, manajemen produksi, dan pemeliharaan (The Open Group, 2018).

TOGAF juga membantu mengurangi risiko dalam pengembangan arsitektur organisasi.

(3)

2.3. Arsitektur TOGAF

Framework TOGAF memiliki 4 domain arsitektur umum yaitu (arsitektur bisnis) yang terdiri dari pemodelan proses bisnis utama, strategi bisnis, dan tata kelola organisasi.

(Arsitektur data) yang terdiri dari pemodelan data sumber daya dan data logis maupun fisik.

(Arsitektur aplikasi) yang terdiri dari pemodelan struktur aplikasi organisasi dan interaksinya. (Arsitektur teknologi) yang menggambarkan kemampuan software dan hardware yang terdiri dari network, infrastruktur TI, middleware, pemrosesan, dan komunikasi.

2.4. TOGAF ADM (Architecture Development Method)

TOGAF ADM (Architecture Development Method) menawarkan proses pengembangan arsitektur yang diuji dan berulang. Proses yang dilakukan diantaranya yaitu mengembangkan arsitektur konten, membangun arsitektur framework, proses transisi arsitektur, dan merealisasikan arsitektur. Berikut fase-fase pada TOGAF ADM (The Open Group, 2018):

1. Preliminary Phase

Tahap awal perencanaan dan persiapan untuk melakukan perancangan enterprise architecture.

2. Phase A (Architecture Vision)

Tahap pendefinisian stakeholder, ruang lingkup, memperoleh persetujuan pekerjaan arsitektur, dan mengembangkan arsitektur visi.

3. Phase B (Business Architecture)

Tahap ini melibatkan strategi organisasi, desain strategi bisnis organisasi, dan informasi proses bisnis utama.

4. Phase C (Information Systems Architecture) Tahap identifikasi sistem informasi, dan pengembangan sasaran arsitektur data dan aplikasi.

5. Phase D (Technology Architecture)

Tahap ini mengambarkan software dan hardware atau infrastruktur IT organisasi.

6. Phase E (Opportunities and Solutions) Tahap ini merupakan perencanaan implementasi awal dan menemukan solusi tren teknologi.

7. Phase F (Migration Planning)

Tahap ini dilakukan perencanaan untuk melakukan perpindahan dari arsitektur baseline ke arsitektur target.

8. Phase G (Implementation Governance) Tahap ini dilakukan implementasi tata kelola dan pengawasan terhadap implementasi arsitektur baru.

9. Phase H (Architecture Change Management)

Tahap ini dilakukan penentuan prosedur perubahan untuk arsitektur baru.

10. Requirements Management

Tahap ini memastikan persyaratan pada setiap fase TOGAF ADM terpenuhi.

2.5. Bahasa Pemodelan Archimate

ArchiMate adalah bahasa pemodelan populer dikembangkan oleh The Open Group yang menyediakan seperangkat entitas dan hubungannya terkait kerangka enterprise architecture.

3. METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 1 merupakan metodologi untuk melakukan pemodelan arsitektur bisnis pada pelayanan publik Polres Bojonegoro.

(4)

Gambar 1. Metodologi pemodelan arsitektur bisnis pelayanan publik Polres Bojonegoro

3.1. Data Collection

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, data diperoleh dengan teknik wawancara, observasi, dan pengumpulan dokumen pendukung.

3.2. Preliminary

Fase preliminary adalah tahap awal dan persiapan dalam melakukan pemodelan arsitektur bisnis pada pelayanan publik Polres Bojonegoro. Tahapan ini memastikan bahwa proses pemodelan sesuai dengan yang diharapkan. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi ruang lingkup organisasi yang terkena dampak

2. Memperoleh persetujuan pekerjaan arsitektur

3. Mendefinisikan tim arstektur

4. Menetapkan tool pemodelan arsitektur 5. Identifikasi arsitektur prinsip

3.3. Architecture Vision

Fase ini adalah tahap untuk merancang batasan ruang lingkup, strategis SI/TI, dan strategi bisnis. Langkah-langkah yang dilakukan pada fase architecture vision adalah sebagai berikut:

1. Menetapkan dan menentukan arsitektur proyek

2. Identifikasi stakeholder, business driver, dan assessment

3. Menetapkan scope

4. Pengembangan arsitektur visi 5. Identifikasi nilai bisnis

3.4. Business Architecture

Pada tahap ini terdiri dari perancangan terkait proses bisnis utama. Fase ini bertujuan

untuk mengembangkan arsitektur bisnis organisasi untuk mendukung arsitektur visi.

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap business architecture adalah sebagai berikut:

1. Menentukan viewpoints

2. Definisi arsitektur bisnis baseline 3. Definisi arsitektur bisnis target 4. Melakukan gap analysis

3.5. Blueprint

Penelitian ini menghasilkan blueprint yang menggambarkan kondisi arsitektur bisnis saat ini dan arsitektur bisnis usulan pada pelayanan publik Polres Bojonegoro yang terdiri dari fase preliminary, architecture vision dan business architecture.

3.6. Kesimpulan dan Saran

Setelah dilakukan langkah-langkah dalam penelitian ini, maka dihasilkan kesimpulan.

Selain itu juga dihasilkan saran untuk dilakukan perbaikan pada penelitian selanjutnya.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Preliminary

1. Identifikasi ruang lingkup organisasi yang terkena dampak

Ruang lingkup organisasi yang terkena dampak dari pemodelan arsitektur bisnis pelayanan publik Polres Bojonegoro terdiri dari stakeholder, business driver, dan assessment.

Stakeholder yang terdampak terdiri dari:

1. unsur pimpinan

2. unsur pengawas dan pembantu pimpinan 3. unsur pelaksana tugas pokok

4. unsur pendukung.

Business driver (pendorong bisnis) pelayanan publik Polres Bojonegoro yaitu:

1. Layanan sesuai dengan prosedur 2. Layanan yang tranparan

3. Kepuasan masyarakat

2. Memperoleh persetujuan pekerjaan arsitektur

Setelah melakukan konfirmasi dengan pihak Polres Bojonegoro, maka diperoleh persetujuan pekerjaan arsitektur sebagai berikut:

• Pemodelan arsitektur bisnis dilakukan pada pelayanan publik Polres Bojonegoro yang

(5)

terdiri dari layanan permohonan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), layanan pelaporan atau pengaduan (SPK), layanan izin keramaian, layanan pengawalan, layanan permohonan pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), layanan terkait permohonan pembuatan surat kendaraan bermontor (BPKB/STNK), Layanan besuk tahanan.

• Metode yang digunakan yaitu Framework TOGAF ADM

• Pemodelan arsitektur bisnis yang diusulkan yaitu:

a. Pelayanan terpadu satu pintu pada pelayanan publik Polres Bojonegoro b. Pengarsipan data secara digital pada

pelayanan publik Polres Bojonegoro 3. Mendefinisikan tim yang terlibat dalam

pekerjaan arsitektur

Pihak-pihak yang terlibat dalam pemodelan arsitektur bisnis Polres Bojonegoro dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Tim Pemodelan Arsitektur Bisnis Pelayanan Publik Polres Bojonegoro

No Nama Jabatan Keterlibatan

1 Dea Ayu Permatasari

Mahasiswa Responsible 2 Aditya Rachmadi,

S.ST., M.TI.

Dosen Consulted

3 Welly Purnomo, S.T., M.Kom

Dosen Consulted

4 AKBP Ary Fadli S.I.K., M.H., M.Si

Kepala Kepolisian Polres Bojonegoro

Accountable 5 IPDA Samsul Anam

S. H.

Kabagsumda Polres Bojonegoro

Informed 6 IPDA Joko Sutrisno Kaur Bin Ops

Intelkam Polres Bojonegoro

Informed

7 IPDA Supriyanto Ka SPKT Polres Bojonegoro

Informed 8 IPDA Heru Susanto Kaur Regident

Satlantas Polres Bojonegoro

Informed

9 AIPTU Buntoro Baur Sim Satlantas Polres Bojonegoro

Informed 10 IPTU Watipah Kasat Tahti Polres

Bojonegoro

Informed 11 PENDA Haris Seno

Ali

Kasitipol Polres Bojonegoro

Informed

4. Mendefinisikan tool untuk pemodelan arsitektur bisnis

Pemodelan arsitektur pada penelitian ini menggunakan single tool yaitu archi versi 3.1.

Archi adalah tool pemodelan yang dapat digunakan untuk mevisualisasikan, menggambarkan, menganalisis, dan mengkomunikasikan berbagai macam permasalahan arsitektur perusahaan. Archi

menyediakan seperangkat entitas dan hubungannya yang sesuai untuk mendeskripsikan arsitektur perusahaan. Archi juga memenuhi kebutuhan dalam pemodelan arsitektur bisnis.

5. Mengidentifikasikan dan menetapkan arsitektur prinsip

Tabel 2 adalah prinsip Polres Bojonegoro dalam menjalankan pelayanan publik bedasarkan peraturan perundang undangan.

Tabel 2. Principle catalog

Kategori Prinsip

No Prinsip

Prinsip bisnis 1 Profesional, prosedural, akuntabel, transparan, dan nesesitas.

2 Integratif, proporsional, efektif dan efisien, transparansi, dan akuntabilitas.

3 Prinsip cepat, tepat waktu, dan hemat biaya.

4 Dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.

Prinsip data 1 Dijamin keamanannya dan jika sampai terjadi manipulasi data akan dapat diidentifikasi dan ditelusuri (traceable).

2 Menjamin kerahasiaan data Prinsip

aplikasi

1 Aplikasi yang dibangun dapat diinstal pada semua operating system komputer.

2 Prinsip interoperabilitas yaitu dua atau lebih sistem yang digunakan harus memiliki kemampuan integrasi.

Prinsip teknologi

1 Teknologi tinggi harus disertai dengan sertifikasi standardisasi dan mutu.

2 Hardware yang digunakan harus dapat mengikuti dan disesuaikan dengan pola operasional kepolisian.

4.2. Architecture Vision

1. Menetapkan arsitektur proyek

Proyek yang dilakukan yaitu Pemodelan arsitektur bisnis pada pelayanan publik Polres Bojonegoro untuk menghasilkan sebuah blueprint yang menggambarkan entitas dan hubungan aspek-aspek dari arsitektur domain bisnis yang ada pada organisasi. Pemodelan terdiri dari kondisi saat ini dan usulan.

2. Identifikasi stakeholder, business driver, dan assessment

Dilakukan identifikasi dan pemodelan yang menggambarkan hubungan antara stakeholder, business driver, dan assessment

(6)

pada pelayanan publik Polres Bojonegoro saat ini dan usulan. Model yang diusulkan dapat dilihat pada Gambar 3.

3. Menetapkan ruang lingkup

Pemodelan arsitektur pada penelitian ini hanya dilakukan pada pelayanan publik Polres Bojonegoro, layanan tersebut antara lain yaitu layanan permohonan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), layanan pelaporan atau pengaduan (SPK), layanan izin keramaian, layanan pengawalan, layanan permohonan pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), layanan terkait permohonan pembuatan surat kendaraan bermontor (BPKB/STNK), Layanan besuk tahanan.

Penelitian ini hanya berfokus pada arsitektur domain bisnis. Pemodelan arsitektur terdiri dari kondisi saat ini dan usulan dari pelayanan publik Polres Bojonegoro. Usulan arsitektur pada Polres Bojonegoro lebih kepada menciptakan layanan yang terpadu, dimana proses layanan dilakukan secara terintegrasi dan dilakukan pada satu pintu. Selain itu, diusulkan juga untuk melakukan pengarsipan data secara digital untuk mengurangi risiko kehilangan data dan mempermudah dalam penelusuran data (traceable).

4. Mengembangkan arsitektur visi

Pada tahap ini dilakukan pemodelan strategi Polres Bojonegoro dalam menjalankan pelayanan publik, pemodelan terdiri dari strategi Polres Bojonegoro saat ini dan usulan.

Model strategi Polres Bojonegoro yang diusulkan dapat dilihat pada Gambar 5.

5. Menentukan nilai bisnis (value proposition) Pada tahap ini dilakukan penentuan value proposition yaitu manfaat yang diperoleh stakeholder terhadap pelayanan publik Polres Bojonegoro. Pemodelan value proposition pada pelayanan publik Polres Bojonegoro terdiri dari stakeholder, value, dan business service.

Dilakukan pemodelan value proposition saat ini dan usulan.

4.3. Business Architecture

1. Memilih dan mendefinisikan viewpoints Tahap ini dilakukan penetapan viewpoint dalam pemodelan arsitektur bisnis pelayanan publik Polres Bojonegoro saat ini dan arsitektur bisnis Polres Bojonegoro usulan. Viewpoint

yang dimodelkan antara lain yaitu business product viewpoint, organisation viewpoint, business function viewpoint, dan business process viewpoint.

2. Mendefinisikan arsitektur bisnis saat ini Dilakukan pemodelan arsitektur yang ada saat ini yang terdiri dari organisation viewpoint, business product viewpoint, business function viewpoint, dan business process viewpoint pada pelayanan publik Polres Bojonegoro. Untuk model organisation viewpoint pelayanan publik Polres Bojonegoro saat ini dapat dilihat pada Gambar 4.

3. Mendefinisikan arsitektur bisnis usulan Dilakukan pemodelan arsitektur usulan yang terdiri dari business product viewpoint, business function viewpoint, dan business process viewpoint pada pelayanan publik Polres Bojonegoro. Model business product viewpoint yang diusulkan dapat dilihat pada Gambar 7 dan Model business process viewpoint pelayanan publik Polres Bojonegoro yang diusulkan dapat dilihat pada Gambar 6.

4. Melakukan gap analysis

Ditemukan kesenjangan antara arsitektur yang ada saat ini dan arsitektur yang diusulkan berdasarkan gap analysis. Hasil dari gap analysis dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Gap Analysis

No Arsitektur Bisnis Saat Ini (as is)

Analisis Arsitektur Bisnis Usulan (to be) 1 Pelayanan publik

Polres Bojonegoro (SPK, SKCK, SIM, STNK/BPKB, pengawalan, izin keramaian, dan besuk tahanan) belum terintegrasi

Integrasi Pelayanan publik Polres Bojonegoro pada satu pintu via mobile app

Pelayanan publik Polres Bojonegoro (SPK, SKCK, SIM, STNK/BPKB, pengawalan, izin keramaian, dan besuk tahanan) terintegrasi pada satu pintu via mobile app 2 Proses registrasi

pelayanan publik Polres Bojonegoro dilakukan pada masing-masing pelayanan publik (belum terintegrasi)

Integrasi proses registrasi pelayanan publik Polres Bojonegoro pada satu pintu via mobile app

Proses registrasi pelayanan publik Polres Bojonegoro dilakukan secara terintegrasi pada satu pintu via mobile app

3 Informasi persyaratan administrasi pelayanan publik Polres Bojonegoro belum terintegrasi

Integrasi Informasi persyaratan administrasi Pelayanan publik Polres Bojonegoro pada satu pintu via mobile app

Informasi persyaratan administrasi pelayanan publik Polres Bojonegoro terintegrasi pada satu pintu via mobile app

(7)

4 Proses input data pemohon (masyarakat) dilakukan oleh petugas secara manual

Proses Input data dilakukan secara digital (otomatis)

Proses Input data pemohon (masyarakat) dilakukan secara digital via mobile app. Input data dilakukan oleh pemohon ketika melakukan registrasi online

5 Tidak terdapat pengarsipan dokumen secara digital untuk memudahkan dalam penelusuran dokumen pemohon (masyarakat)

Dilakukan pengarsipan dokumen secara digital sehingga mudah untuk ditelusuri (traceable)

pengarsipan dokumen pemohon (masyarakat) dilakukan secara digital, dokumen mudah untuk ditelusuri (traceable)

Gambar 2. Model hubungan antara goal, outcome, principle, requirement, dan constraint pada Polres Bojonegoro

Gambar 3. Model hubungan antara stakeholder, pendorong bisnis (driver), dan assessment pada

pelayanan publik Polres Bojonegoro

(8)

Gambar 4. Organisation viewpoint pada pelayanan publik Polres Bojonegoro saat ini

Gambar 5. Strategi layanan kepolisian Polres Bojonegoro usulan

(9)

Gambar 6. Business process viewpoint pada pelayanan publik Polres Bojonegoro usulan

Gambar 7. Business product viewpoint pada pelayanan publik Polres Bojonegoro usulan

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Dihasilkan sebuah blueprint yang menjelaskan infrastruktur bisnis pelayanan publik Polres Bojonegoro saat ini yang terdiri dari preliminary, architecture vision dan business architecture. Manfaat dari blueprint tersebut adalah menjadikan Polres Bojonegoro lebih adaptif terhadap perubahan organisasi yang terjadi, menyelaraskan antara bisnis dan teknologi,

mengurangi risiko dalam pengambilan keputusan SI/TI, dan kemudahan dalam integrasi sistem.

2. Arsitektur bisnis yang dilakukan terdiri dari usulan yaitu pelayanan publik Polres Bojonegoro diintegrasikan pada satu pintu via platform mobile app, input data secara otomatis, pengarsipan data secara digital.

Kemudian dilakukan analisis gap dan ditemukan 5 kesenjangan antara model arsitektur bisnis pelayanan publik Polres Bojonegoro saat ini dan yang diusulkan.

5.1. Saran

Saran bagi penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat dilakukan pemodelan pada domain data, aplikasi, dan teknologi pada Polres Bojonegoro.

2. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat ditambahkan layanan-layanan lain yang mendukung yang ada pada Polres Bojonegoro.

6. DAFTAR PUSTAKA

Nugraha, D.C.A., Aknuranda, I., Andarini, S.

and Roebijoso, J., 2017. A Business Architecture Modeling Methodology to Support The Integration Of Primary Health Care: Implementation of Primary Health Care in Indonesia.

Internetworking Indonesia Journal, 9(1), pp.39–45. [online] Available at: <

https://www.researchgate.net/publicatio n/316253840>[Diakses 03 Mei 2019].

Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor 23 tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Resort dan

(10)

Kepolisian Sektor. Jakarta: Kepolisian Republik Indonesia.

Santoso, J.B. and Affandi, A., 2016. Model Arsitektur Enterprise Institusi Pengujian Dan Kalibrasi Alat Kesehatan.

Teknologi, 6(1), p.1. [online] Available at: < https://pdfs.semanticscholar.org /bb0b/1f260519d84b9ff305a99359994b5 33be404.pdf>[Diakses 04 Februari 2019].

Suryadi and Andry, J.F., 2017. Perancangan Enterprise Architecture Mengunakan Togaf Architecture Development Method ( Studi Kasus : Yakuza Gym Jakarta Barat). Seminar Nasional Teknoka, pp.137–150. [online]

Available at: <http ://journal.uhamka.

ac.id/index.php/teknoka/article/view/74 8> [Diakses 13 Agustus 2018].

The Open Group, 2018. Open Group Standard The Open Group. [online] The TOGAF® Standard, Version 9.2.

Available at: <https://pubs.opengroup .org/architecture/togaf9-doc/arch/>.

Yanuarsasi, P.D., Ribawanto, H., Rengu, S.P., Publik, J.A., Administrasi, F.I. and Brawijaya, U., 2010. Revitalisasi POLRI Menuju Pelayanan Prima Studi pada Polres Tulungagung. [online] 2(1), pp.182–188. Available at: <https://media.

neliti.com/media/publications/77343-ID- revitalisasi-POLRI-menuju-pelayana n- prim.pdf>[Diakses 15 Juni 2018].

Yunizal, E., 2010. Evolusi Framework Arsitektur Enterprise. Information Systems, (979), pp.2–8.

Referensi

Dokumen terkait

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Interaksi Komunikatif dalam Pelayanan Publik di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polres Jember: Suatu Studi

a) Membuat daftar kandidat aplikasi dan definisi aplikasi. Setelah fungsi-fungsi bisnis didefinisikan dan arsitektur data untuk masa depan dibangun maka dorongan

Masalah yang akan dipecahkan adalah kualitas pelayanan yang diberikan Sat Lantas Polres Sukoharjo, sehingga dapat meningkatkan kepuasan publik, khususnya pengguna

Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan EAP ini menghasilkan blueprint (cetak biru) yang digunakan untuk mengintegrasikan proses bisnis dan teknologi informasi, dapat

Hasil dari perancangan enterprise architecture ini berupa blueprint dari arsitektur bisnis dan teknologi informasi saat ini serta usulan/rekomendasi dalam

Manfaat menggunakan metode Enterprise Architecture Planning adalah dapat mendefinisikan proses bisnis yang lebih baik, menggambarkan arsitektur data untuk mendukung

Pengaturan Kode Etik Pelayanan Publik lingkungan Polres Tabanan bertujuan untuk menjamin kelancaran pelaksanaan tugas pelayanan yang harmonis dan kondusif sesuai

Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu Model M-Government Dalam Pelayanan Publik Melalui Aplikasi Polisi Karimun Di Polres Kabupaten Karimun belum terlaksana sepenuhnya