• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

5 A. Tinjauan Pustaka

1. Haid/Menstruasi a. Pengertian

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai pelepasan (deskuamasi) dari endometrium, yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi. Panjang siklus menstruasi yang normal dan dianggap sebagai siklus menstruasi klasik adalah 28 hari

(Bobak, 2005; Wiknjosastro, 2008).

Menstruasi pertama (menarche), biasanya terjadi pada umur 9-12 tahun, dan sebagian kecil terjadi pada umur 13-15 tahun. Faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya menarche antara lain kesehatan, nutrisi, berat badan, dan kondisi psikologis serta emosional. Faktor-faktor tersebut bisa mempengaruhi lamanya haid, yang normalnya terjadi antara 3-8 hari (Anurogo dan Wulandari, 2011).

b. Siklus menstruasi

Siklus menstruasi normal terjadi secara periodik setiap 28 hari atau rentang antara 21-30 hari. Sekitar 15% perempuan mengalami siklus haid selama 28 hari (Anurogo dan Wulandari, 2011; Yanti, 2011).

Untuk mengetahui siklus menstruasi secara pasti, sebaiknya setiap wanita membuat kalender menstruasi dengan cara menandai tanggal menstruasi setiap bulannya. Setelah beberapa bulan akan dapat diketahui siklus menstruasinya secara pasti sehingga dapat memperkirakan menstruasi pada bulan berikutnya dan dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan siklus menstruasi (Anurogo dan Wulandari, 2011).

Fase siklus menstruasi:

1) Fase proliferasi

Fase ini terjadi sebelum ovulasi dan bertujuan untuk mempertebal endometrium hingga mencapai ketebalan ± 3,5 mm atau sekitar 8-10 kali lipat dari semula, dan akan berakhir saat ovulasi.

(2)

Pada fase ini sel-sel tumbuh dengan cepat, berlangsung sejak hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid. Permukaan endometrium secara lengkap kembali normal sekitar empat hari atau menjelang perdarahan berhenti. Fase proliferasi tergantung pada stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium.

2) Fase sekretorik/luteal

Fase ini bertujuan menciptakan kondisi endometrium yang cocok untuk implantasi hasil fertilisasi. Berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar 3 hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Pada fase ini, hormon progesteron berperan lebih dominan daripada hormon estrogen.

Progesteron memberikan efek pembengkakan dan membantu perkembangan endometrium sehingga pada akhir fase sekresi, endometrium sekretorius mencapai ketebalan seperti beludru yang tebal, halus, kaya akan darah dan sekresi kelenjar.

3) Fase iskemi/pramenstrual

Ovum yang dibuahi akan berimplantasi sekitar 7-10 hari setelah ovulasi.

Jika tidak terjadi pembuahan korpus luteum yang mensekresi estrogen dan progesteron akan menurun, terjadi spasme arteri spiral sehingga suplai darah ke endometrium terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional terpisah dari lapisan basal dan perdarahan menstruasi dimulai.

4) Fase menstruasi

Fase ini terjadi jika ovum yang telah dilepaskan tidak dibuahi yang mengakibatkan korpus luteum berinvolusi sehingga estrogen dan progesteron menurun drastis. Hal ini mengakibatkan dilepaskannya vasokonstriktor prostaglandin sebagai mediator inflamasi. Jaringan deskuamasi, darah dalam kavum uteri, ditambah efek kontraksi dari prostaglandin dan zat-zat lain yang mengalami deskuamasi merangsang kontraksi uterus dan menyebabkan uterus mengeluarkan seluruh isinya.

Fase ini berlangsung sekitar 5 hari (rentang 3-6 hari).

(Bobak, 2005; Guyton dan Hall, 2007).

(3)

2. Dismenore (Nyeri Haid) a. Pengertian

Secara etimologi dismenore berasal dari bahasa Yunani kuno (Greek).

Dys berarti sulit, nyeri, abnormal; meno berarti bulan; dan rrhea berarti aliran atau arus. Dari kata-kata tersebut, secara singkat dismenore didefinisikan sebagai aliran menstruasi yang sulit atau menstruasi yang mengalami nyeri (Anurogo dan Wulandari, 2011).

Dismenore juga dapat diartikan sebagai kram, atau nyeri pada perut bagian bawah yang dialami oleh wanita sebelum maupun selama menstruasi tanpa disertai tanda patologi ( Chantler et al., 2009; Al-Jefout et al., 2014;

Seven et al., 2014).

Banyak wanita yang merasakan ketidaknyamanan pada awal menstruasi, tetapi tingkat ketidaknyamanan dismenore jauh lebih tinggi, dengan nyeri yang sering kali dirasakan di punggung bawah dan menjalar ke bawah hingga ke bagian atas tungkai (Andrews, 2010).

b. Jenis dismenore

Menurut Colin dan Shushan (2007) dikutip oleh Anurogo (2011) dismenore dibagi menjadi tiga tipe:

1) Primary (no organic cause), 2) Secondary (pathologic cause),

3) Membranous (cast of endometrial cavity shed as a single entity).

Menurut Wiknjosastro (2008) dismenore dibagi menjadi 2 macam yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder

1) Dismenore Primer (primary dismenore)

Dismenore primer, sering juga disebut dismenore spasmodik biasanya mulai 1-3 tahun setelah menarche, karena biasanya siklus pertama bersifat anovulatoir, tidak nyeri, dan mencapai maksimal antara usia 15-25 tahun. Frekuensi menurun sesuai dengan pertambahan usia dan biasanya berhenti setelah melahirkan

(Andrews, 2010; Llewellyn dan Jones, 2011).

Sifat rasa nyeri pada dismenore primer biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha

(4)

(Wiknjosastro, 2008). Lokasi nyeri dapat terjadi di daerah suprapubik, terasa tajam, menusuk, terasa diremas dan sangat sakit. Selain rasa nyeri, dapat disertai dengan gejala sistematik dan gangguan emosional (Mitayani, 2009).

Gejala lain yang terkait dengan dismenore primer dapat berupa mual/muntah, pucat/lemas, sakit kepala/migraine, gangguan usus dan iritabilitas kandung kemih (Andrews, 2010).

Karakteristik dismenore primer menurut Calis, et al (2014):

a) Onsetnya terjadi tidak lama setelah menarche,

b) Durasi nyeri antara 48-72 jam (sering dimulai beberapa jam sebelum atau sesudah menstruasi),

c) Rasa kram pada perut

d) Dimulai dari nyeri perut bagian bawah, kemudian menjalar ke punggung, paha tengah dan depan

e) Pemeriksaan pada panggul normal dan tidak ditemukan kelainan ginekologis

2) Dismenore Sekunder (secondary dismenore)

Dismenore sekunder berhubungan dengan kelainan kongenital atau kelainan organik di pelvic yang terjadi pada masa remaja. Rasa nyeri yang timbul disebabkan karena adanya kelainan pelvic, misalnya endometriosis, mioma uteri, stenosis serviks, dan malposisi uterus (Sasaki dan Miller, 2011).

Gejalanya berupa nyeri kram yang khas dimulai 2 hari atau lebih sebelum menstruasi, dan nyerinya semakin hebat pada akhir menstruasi.

Biasanya terjadi selama 2-3 hari dalam satu siklus dan sering terjadi pada wanita dengan siklus haid yang tidak teratur serta jarang terjadi sebelum usia 25 tahun (Mitayani, 2009; Llewellyn dan Jones, 2011).

Karakteristik dismenore sekunder menurut Calis, et al (2014) adalah sebagai berikut:

a) Onset pada usia 20 atau 30 tahun, setelah siklus haid yang relatif tidak nyeri di masa lalu,

b) Infertilitas,

(5)

c) Darah haid yang banyak (heavy menstrual flow) atau perdarahan yang tidak teratur,

d) Dyspareunia (sensasi nyeri saat berhubungan seks), e) Vaginal discharge,

f) Nyeri perut bawah atau pelvic di luar haid,

g) Nyeri yang tidak berkurang dengan terapi nonsteroidal anti- inflammatory drugs (NSAIDs),

h) Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah haid,

i) Sering ditemukan kelainan ginekologis. Misalnya endometriosis, pelvic inflammatory disease (PID), pelvic adhesion (perlengketan pelvic), dan adenomyosis,

j) Pengobatan sering memerlukan tindakan operatif.

c. Klasifikasi Nyeri Dismenore

Menurut Baziad (2008) nyeri dismenore dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :

1) Dismenore Ringan

Rasa nyeri yang berlangsung beberapa saat, hanya diperlukan istirahat sejenak (duduk, berbaring) sehingga tetap dapat melakukan kerja atau aktivitas sehari-hari.

2) Dismenore Sedang

Diperlukan obat untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa perlu meninggalkan aktivitas sehari-hari.

3) Dismenore Berat

Untuk menghilangkan keluhan membutuhkan istirahat beberapa hari sehingga mengakibatkan penderita meninggalkan aktivitas sehari-hari.

d. Etiologi dan Faktor Predisposisi Dismenore

Menurut Wiknjosastro (2008) dan Mitayani (2009), penyebab dismenore primer adalah sebagai berikut:

1) Faktor kejiwaan (psikologis)

Pada wanita yang secara emosional tidak stabil, mempunyai ambang nyeri yang rendah sehingga dengan sedikit rangsangan nyeri ia akan

(6)

sangat merasa kesakitan, apalagi jika mereka tidak mendapatkan penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenore.

2) Faktor konstitusi

Faktor ini erat hubungannya dengan faktor psikis, dapat menurunkan ketahanan terhadap nyeri. Faktor–faktor seperti anemia dan penyakit menurun dapat mempengaruhi terjadinya dismenore.

3) Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis

Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenore primer ialah stenosis kanalis servikalis. Pada perempuan dengan uterus hiperantefleksi mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis. Banyak perempuan menderita dismenore tanpa stenosis servikalis dan tanpa uterus hiperantefleksi. Sebaliknya terdapat perempuan tanpa keluhan dismenore, walaupun ada stenosis servikalis dan uterus hiperantefleksi atau hiperretofleksi

4) Faktor Endokrin

Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenore primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pengaruh hormonal. Peningkatan produksi prostaglandin akan menyebabkan terjadinya kontraksi uterus yang tidak terkoordinasi sehingga menimbulkan nyeri. Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan tonus dan kontraktilitas otot usus.

5) Faktor Alergi

Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismenore dengan urtikaria, migraine, dan asma bronkiale. Diduga bahwa sebab alergi adalah toksin haid.

Penyebab dismenore sekunder menurut Baziad (2008), adalah kelainan organik seperti:

1) Endometriosis pelvic dan adenosis.

2) Uterus miomatosus, terutama mioma submukosum.

3) Kelainan letak uterus, seperti retrofleksi, hiperantefleksi, dan retrofleksi terfiksasasi.

4) Penyakit radang panggul kronik.

(7)

5) Tumor ovarium, polip endometrium.

6) Anomali kongenital traktus genetalia.

7) Stenosis atau striktura kanalis servikalis, varitosis pelvic dan adanya AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim).

8) Faktor psikis seperti takut tidak punya anak dan ada konflik dengan pasangan.

e. Patofisiologi Dismenore

Belum ada kepastian mengenai patofisiologi terjadinya dismenore karena banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Namun yang paling dipercaya menyebabkan dismenore primer adalah pengaruh prostaglandin dan leukotrien (Harel, 2006).

Setelah terjadi proses ovulasi sebagai respons peningkatan produksi progesteron, asam lemak akan meningkat dalam fosfolipid membran sel.

Kemudian asam arakidonat dan asam lemak omega-7 lainnya dilepaskan, mulai mekanisme prostaglandin dan leukotrien dalam uterus. Hal ini berakibat pada termediasinya respons inflamasi, tegang saat menstruasi (menstrual cramps), dan gejala menstruasi lainnya (Hillard, 2006; Guyton dan Hall, 2007).

Hasil metabolisme asam arakidonat adalah prostaglandin (PGF2-alfa dan PGE2) Prostaglandin menyebabkan pembuluh darah mengalami vasokonstriksi, akibatnya terjadi iskemia uterus dan kontraksi uterus meningkat (Hillard, 2006; Chantler, 2009; Kannan dan Claydon, 2014).

Selain itu, prostaglandin juga meningkatkan respon miometrial yang menstimulasi hormon oksitosin dan hormon prolaktin. Kedua hormon ini mampu menstimulasi uterus untuk berkontraksi sehingga menyebabkan vasokonstriksi darah uterus (Marliana, 2014). Wanita yang mengalami dismenore memproduksi prostaglandin 10 kali lebih banyak daripada wanita yang tidak mengalami dismenore sehingga menyebabkan rasa nyeri yang lebih berat (Ernawati, 2010). Selanjutnya, peran leukotrien dalam terjadinya dismenorea primer adalah meningkatkan sensitivitas serabut saraf nyeri uterus (Hillard, 2006).

(8)

Dismenore terjadi pada saat fase pramenstruasi (sekresi). Pada fase ini terjadi peningkatan hormon prolaktin dan hormon estrogen. Sesuai dengan sifatnya, prolaktin dapat meningkatkan kontraksi uterus (Marliana, 2014).

Selain peranan hormon, leukotrien, dan prostaglandin, ternyata dismenorea primer juga bisa diakibatkan oleh adanya tekanan atau faktor kejiwaan. Stres atau tekanan jiwa bisa meningkatkan kadar vasopresin dan katekolamin yang berakibat pada vasokonstriksi kemudian iskemia pada sel (Hillard, 2006).

f. Diagnosis Dismenore

Menurut Calis, et al (2014), untuk mendiagnosis dismenore diperlukan pemeriksaan fisik yang lengkap. Untuk remaja yang belum aktif secara seksual, pemeriksaan dilakukan dengan hati-hati dan tidak melibatkan pemeriksaan dalam dan sebaliknya untuk wanita yang aktif secara seksual.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

1) Pemeriksaan genitalia eksterna: melihat apakah ada ruam, pembengkakan dan perubahan warna.

2) Pemeriksaan vagina: melihat kondisi lendir, darah, dan benda asing 3) Pemeriksaan serviks: seperti pemeriksaan di atas, ditambah dengan

apakah ada nyeri goyang, nyeri adneksa atau teraba massa di panggul.

Pada wanita dengan dismenore primer, biasanya tidak ditemukan kelainan ginekologi, sebaliknya, wanita dengan dismenore sekunder sering dijumpai kelainan pelvic dan sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan USG.

g. Penatalaksanaan Dismenore

Menurut Wiknjosastro (2008), ada beberapa penanganan dismenore, yaitu : 1) Penerangan dan Nasihat

Memberikan penjelasan bahwa dismenore adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan, serta nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga.

Mitayani (2009) menambahkan, intervensi mandiri yang dapat dilakukan antara lain:

(9)

a) Menghangatkan bagian perut: dapat menyebabkan terjadinya vasodilatasi dan mengurangi kontraksi spasmodik uterus

b) Masase daerah perut yang terasa nyeri: mengurangi nyeri karena adanya stimulus sentuhan terapeutik

c) Melakukan latihan ringan seperti jalan kaki atau senam: dapat memperbaiki aliran darah ke uterus dan tonus otot

d) Teknik relaksasi: mengurangi tekanan sehingga bisa merasa rileks e) Memberikan vitamin, tidur, dan istirahat: untuk mengurangi kongesti 2) Pemberian obat analgetik

Sekitar 1 dari 4 remaja cenderung menggunakan obat antinyeri tanpa resep dari dokter untuk mengatasi nyeri haid yang tidak tertahankan (Zannoni et al. 2014). Obat analgetik yang sering digunakan jenis paracetamol, piroxicam, diklofenak, asam mefenamat, ibuprofen, naproxen, dan ketoprofen (Aziato et al. 2014; Calis et al, 2014).

3) Terapi Hormonal

Tujuan terapi hormonal ialah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar dismenore primer atau memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan.

Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.

Hendaknya pengobatan diberikan sebelum haid mulai yaitu pada 1–3 hari sebelum haid dan pada hari pertama haid.

4) Dilatasi kanalis servikalis

Dapat memberi keringanan karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya. Neurektomi prasakral (pemotongan urat saraf sensorik antara uterus dan susunan saraf pusat) ditambah dengan neurektomi ovarial (pemotongan urat saraf sensorik yang ada di ligamentum infundibulum) merupakan tindakan terakhir, apabila usaha-usaha lain gagal.

(10)

3. Nyeri

a. Pengertian Nyeri

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan, dapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

Kozier et al (2009) mengartikan nyeri sebagai sensasi ketidaknyamanan, dimanifestasikan sebagai penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman, dan fantasi luka.

Menurut Mc Caffery (1980) dikutip oleh Prasetyo (2010) menyatakan bahwa nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri dan terjadi kapan saja saat seseorang merasakan nyeri.

Nyeri adalah perasaan tidak nyaman, baik secara psikis maupun fisik akibat kerusakan jaringan maupun psikogenik.

Untuk memudahkan tenaga kesehatan dalam memahami nyeri dan melakukan pengkajian nyeri terhadap pasien, Prasetyo (2010) memberikan gambaran yang berkaitan dengan nyeri:

1) Nyeri hanya dapat dirasakan dan digambarkan secara akurat oleh individu yang mengalami nyeri itu sendiri

2) Seorang pasien mengatakan bahwa dia nyeri, maka dia benar merasakan nyeri meskipun tidak ditemukan adanya kerusakan jaringan.

3) Nyeri mencakup dimensi psikis, emosional, kognitif, sosiokultural dan spiritual

4) Nyeri sebagai peringatan terhadap adanya ancaman yang bersifat aktual maupun potensial.

b. Fisiologi Nyeri

Nyeri selalu dikaitkan dengan adanya stimulus (rangsang nyeri) dan reseptor, biasanya disebut dengan nosireseptor. Nosireseptor adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri, yaitu ujung saraf bebas dalam kulit yang berespon terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Stimulus nyeri bermacam-macam, dapat berupa zat biologis, kimia, panas, listrik, dan mekanis. Nosireseptor, secara anatomis

(11)

ada yang bermielin dan ada juga yang tidak bermielin dari saraf aferen (Tamsuri, 2007: Prasetyo, 2010).

Berdasarkan jenis rangsang yang dapat diterima oleh tubuh, nosireseptor dikelompokkan menjadi:

1) Temoreseptor: reseptor yang menerima sensasi suhu (panas atau dingin) 2) Mekanoreseptor: reseptor yang menerima stimulus mekanik

3) Nosiseptor:reseptor yang menerima stimulus-stimulus nyeri 4) Kemoreseptor: reseptor yang menerima stimulus kimiawi (Prasetyo, 2010)

Rangkaian proses terjadinya nyeri diawali dengan tahap transduksi, terjadi ketika nosiseptor yang terletak pada bagian perifer tubuh distimulasi oleh berbagai stimulus, seperti faktor biologis, mekanis, listrik, thermal, dan radiasi. Serabut saraf tertentu bereaksi atas stimulus tertentu

(Prasetyo, 2010).

Fast pain dicetuskan oleh reseptor tipe mekanis atau thermal (yaitu serabut saraf A-delta), sedangkan slow pain biasanya dicetuskan oleh serabut saraf C. Serabut saraf A-delta mempunyai karakteristik mengantarkan nyeri dengan cepat serta bermielinasi, dan serabut saraf C yang tidak bermielinasi, berukuran sangat kecil dan bersifat lambat dalam mengantarkan nyeri. Serabut A mengirimkan sensasi tajam, terlokalisasi, dan jelas dalam melokalisasi sumber nyeri dan mendeteksi intensitas nyeri.

Serabut C menyampaikan impuls yang tidak terlokalisasi (bersifat difusi), viseral dan terus-menerus (Prasetyo, 2010).

Tahap selanjutnya adalah transmisi, di mana impuls nyeri kemudian ditransmisikan serat afferen (A delta dan C) ke medulla spinalis melalui dorsal horn dan impuls akan bersinapsis di substantia gelatinosa (lamina II dan III). Impuls akan melewati traktus spinothalamus, kemudian masuk ke formasi retikularis yang akan menimbulkan efek slow pain atau masuk ke thalamus yang akan menimbulkan efek fast pain.(Prasetyo, 2010).

(12)

Secara singkat, proses terjadinya nyeri dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2. 1. Proses terjadinya nyeri c. Klasifikasi Nyeri

Tamsuri (2007) mengklasifikan nyeri menjadi beberapa bagian:

1) Berdasarkan durasi/waktu

a) Nyeri akut, yaitu nyeri yang terjadi dalam waktu dari 1 detik sampai kurang dari 6 bulan. Umumnya terjadi pada cedera, penyakit akut, pembedahan dengan waktu cepat, dan tingkat keparahan bervariasi.

b) Nyeri kronis, yaitu nyeri yang terjadi dalam waktu lebih dari 6 bulan.

Timbulnya tidak teratur, intermiten, bahkan persisten.

2) Berdasarkan lokasi

a) Cutaneus/superfisial, yaitu nyeri yang mengenai kulit/jaringan subkutan. Biasanya bersifat burning (seperti terbakar)

Stimulus nyeri: biologis, zat kimia, panas, listrik, serta mekanik

Stimulus nyeri menstimulasi nosiseptor di perifer

Impuls nyeri diteruskan oleh serat afferen (A-delta dan C ke medulla spinalis melalui dorsal horn)

Impuls bersinapsis di substansia gelatinosa (lamina II &

III)

Impuls melewati traktus spinothalamus

Impuls masuk ke formatio retikularis

Impuls langsung masuk ke thalamus

Fast pain Sistem

limbik Slow pain

(13)

b) Deep somatic/nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari otot, tulang, dan struktur penyokong lainnya. Umumnya nyeri bersifat tumpul dan distimulasi dengan adanya peregangan dan iskemia

c) Visceral (pada organ dalam), yaitu nyeri yang disebabkan oleh kerusakan organ internal. Stimulasi reseptor nyeri dari dalam rongga abdomen, cranium dan thorak. Durasi nyeri cukup lama

d) Nyeri sebar (radiating pain) yaitu sensasi nyeri yang meluas dari daerah asal ke jaringan sekitar. Dirasakan oleh pasien seperti bergerak dari daerah asal nyeri ke bagian tubuh yang lain

e) Nyeri fantom (phantom pain) yaitu nyeri khusus yang dirasakan oleh pasien yang mengalami amputasi. Nyeri dipersepsi berada pada organ yang telah diamputasi seolah-olah organnya masih ada.

f) Nyeri alih (referred pain) yaitu nyeri yang dirasakan pada bagian tubuh tertentu yang diperkirakan berasal dari jaringan penyebab, sehingga dirasakan nyeri pada beberapa tempat atau lokasi.

3) Berdasarkan organ a) Nyeri organik

Terjadi akibat adanya kerusakan organ. Penyebabnya biasanya mudah dikenali sebagai akibat cedera, penyakit, dan pembedahan terhadap organ

b) Psikogenik

Manifestasi nyeri yang timbul tidak disebabkan karena adanya kerusakan jaringan saraf maupun jaringan lainnya di dalam tubuh. Hal ini terjadi karena faktor kejiwaan atau kecemasan, misalnya pada orang yang mengalami stress.

c) Nyeri neurogenik

Nyeri akibat gangguan neuron, yang dapat terjadi secara akut maupun kronis

d. Faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri

Menurut Potter dan Perry (2006), Prasetyo (2010) perasaan nyeri yang dirasakan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor:

(14)

1) Usia

Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan takut kalau mengalami penyakit berat.

2) Kultur

Orang belajar dari budaya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri. Misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.

3) Makna nyeri

Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan bagaimana mengatasinya.

4) Perhatian

Tingkat orang dalam memfokuskan perhatian pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Apabila orang tersebut fokus pada nyeri, maka nyeri yang dirasakan semakin meningkat, sedangkan upaya distraksi dapat menurunkan respon nyeri. Teknik relaksasi, guided imagery merupakan teknik untuk mengatasi nyeri

5) Ansietas

Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas. Orang yang hidup dengan nyeri kronis kemungkinan mengalami nyeri lebih sering dan berisiko kecacatan jika mereka juga sering mengalami depresi, kecemasan, atau keduanya.

6) Pengalaman masa lalu

Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

(15)

7) Pola koping

Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptif akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.

8) Support keluarga dan sosial

Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan.

e. Intensitas Nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subyektif dan individual (Tamsuri, 2007). Tingkat keparahan subjek penelitian tentang nyeri merupakan karakteristik yang paling subyektif (Prasetyo, 2010).

Beberapa alat untuk mengukur tingkat keparahan nyeri, yaitu:

1) Skala Intensitas Nyeri Numerik

Gambar 2.2 Skala Intensitas Numerik

Skala Numerik ( Numerical Rating Scale, NRS ) menggunakan angka 0 sampai 10. Angka 0 diartikan kondisi subjek penelitian tidak merasakan nyeri, angka 10 mengindikasikan nyeri paling berat yang dirasakan subjek penelitian. Skala ini efektif untuk mengkaji intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi terapeutik (Prasetyo, 2010).

2) Skala Analog Visual

Gambar 2.3 Skala Analog Visual

Skala Analog Visual ( Visual Analog Scale, VAS ) merupakan suatu garis lurus yang memiliki alat pendeskripsi pada setiap ujungnya. Skala ini memberikan kebebasan penuh pada pasien untuk mengidentifikasi tingkat keparahan nyeri yang dirasakan. VAS dapat merupakan

Tidak ada nyeri

Nyeri sangat berat

(16)

pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena subjek penelitian dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2006).

3) Skala Deskriptif Verbal

Gambar 2.4 Skala Deskriptif Verbal

Skala Deskriptif Verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan salah satu alat ukur tingkat keparahan berupa sebuah garis yang terdiri dari beberapa kalimat pendeskripsi yang tersusun dalam jarak yang sama sepanjang garis (Prasetyo, 2010).

4) Skala Nyeri Menurut Bourbanis

Gambar 2.5 Skala Nyeri Bourbanis Keterangan :

0 : Tidak nyeri 1-3 : Nyeri ringan.

4-6 : Nyeri sedang.

7-9 : Nyeri berat.

10 : Nyeri sangat berat

(Bourbanis dikutip oleh Smeltzer, 2002).

Respon perubahan perilaku terhadap nyeri menurut Barbara (1997) dikatagorikan sebagai berikut.

a) Tidak nyeri

b) Nyeri ringan, secara obyektif subjek penelitian dapat berkomunikasi dengan baik, tindakan manual dirasakan sangat membantu.

c) Nyeri sedang, secara obyektif akan mendesis, menyeringai dan dapat menunjukkan lokasi nyeri dengan tepat dan dapat sekaligus

Tidak ada nyeri

Nyeri ringan

Nyeri sedang

Nyeri hebat

Nyeri sangat hebat

Nyeri paling hebat

(17)

mendeskripsikannya. Subjek penelitian dapat mengikuti perintah dengan baik, dan responsif terhadap tindakan manual.

d) Nyeri berat, secara obyektif subjek penelitian terkadang tidak dapat menunjukkan lokasi nyeri tetapi masih responsif terhadap tindakan manual, dapat menunjukkan lokasi nyeri tetapi tidak dapat mendeskripsikannya.

e) Nyeri sangat berat, secara obyektif subjek penelitian tidak mampu berkomunikasi dengan baik, berteriak histeris tidak dapat dikendalikan, menarik apa saja yang dapat digapai, memukul-mukul benda disekitarnya, tidak responsif terhadap tindakan dan tidak dapat menunjukkan lokasi nyeri.

f. Penanganan Nyeri

Penangangan nyeri terbagi menjadi beberapa cara, yaitu secara farmakologi, non farmakologi, dan penggunaan fitofarmaka.

1) Secara farmakologi

Penangan nyeri secara farmakologi biasanya menggunakan obat- obatan NSAIDs (Non-Steroid Anti Inflamatory Drugs) berupa analgesik seperti paracetamol, piroxicam, ibuprofen, diclofenak dan asam mefenamat (Aziato et al, 2014).

Penggunaan obat-obatan tersebut harus terpantau dan memperhatikan dosis, karena jika dikonsumsi terus menerus dalam dosis yang tidak terkontrol, akan merusak lapisan lambung, ginjal, dan hati.

Dosis penggunaan obat semakin lama biasanya akan semakin meningkat.

Oleh karena itu lebih baik jika penggunaan obat-obatan tersebut disertai dengan resep dokter (Anurogo dan Wulandari, 2011).

2) Secara non farmakologi

Menurut Tamsuri (2007), Prasetyo (2010), dan Marliana (2014), ada beberapa cara yang biasa digunakan untuk mengurangi nyeri secara non farmakologi, yaitu:

a) Istirahat yang cukup

b) Olah raga yang teratur (terutama berjalan). Beberapa wanita melakukan olah raga dapat mengurangi stress dan meningkatkan

(18)

produksi endorphin di otak yang merupakan penawar sakit alami tubuh. Tidak ada pembatasan aktifitas selama haid. Olahraga latihan aerobik, seperti jalan cepat, bersepeda, dan berenang, membantu memproduksi bahan alami yang dapat memblok rasa sakit

c) Aroma terapi dan pemijatan juga dapat mengurangi rasa tidak nyaman. Pijatan yang ringan dan melingkar dengan menggunakan telunjuk pada perut bagian bawah akan membantu mengurangi nyeri haid. Pijatan lembut pada bagian tubuh subjek penelitian yang nyeri dengan menggunakan tangan akan menyebabkan relaksasi otot dan memberikan efek sedasi.

d) Yoga

Yoga merupakan teknik relaksasi yang mengajarkan seperangkat teknik seperti pernafasan, meditasi, pengaturan posisi tubuh untuk meningkatkan kekuatan dan keseimbangan. Teknik relaksasi dalam yoga dapat merangsang tubuh untuk melepaskan opioid endogen yaitu endorphin dan enkefalin (senyawa yang berfungsi untuk menghambat nyeri).

e) Orgasme pada aktivitas seksual

f) Kompres hangat di daerah perut. Suhu panas dapat memperingan keluhan. Lakukan pengompresan dengan handuk panas, botol air panas atau mandi dengan air hangat

g) TENS (Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulation). Tindakan ini dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non-nosiseptor) dalam area yang sama seperti pada serabut yang menstramisikan nyeri. TENS menggunakan unit yang dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang di pasang pada kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau mendengung pada area nyeri.

h) Distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Teknik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri. Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung dengan

(19)

partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran dan sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera saja.

i) Relaksasi

Relaksasi merupakan teknik pengendoran atau pelepasan ketegangan. Teknik relaksasi yang sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Contoh: bernafas dalam-dalam dan pelan.

j) Imajinasi

Imajinasi merupakan khayalan atau membayangkan hal yang lebih baik.

k) Akupunktur

Akupunktur merupakan terapi pengobatan dari Cina, dengan menstrimulasi titik-titik tertentu pada tubuh untuk meningkatkan aliran energi di sepanjang jalur yang disebut meridian. Titik-titik akupunktur dapat distimulasi dengan memasukkan dan mencabut jarum, menggunakan panas, tekanan/pijatan, laser atau stimulasi elektrik.

3) Penggunaan fitofarmaka

Hariana (2007), Anurogo dan Wulandari (2011), berpendapat ada beberapa obat herbal yang bisa digunakan untuk mengurangi nyeri dismenore, antara lain:

a) Kayu manis

Rempah yang beraroma manis ini mengandung asam sinemik yang bermanfaat untuk meredakan berbagai nyeri, termasuk nyeri haid.

b) Kedelai

Kaya akan kandungan phytoestrogens yang mampu menyeimbangkan hormon tubuh saat haid

(20)

c) Cengkeh

Campuran bunga cengkeh kering, ketumbar, kunyit dan bubuk pala bisa membantu mengatasi nyeri haid

d) Kunyit

Bahan kimia yang terkandung di dalam kunyit salah satunya adalah caffeic acid. Efek farmakologi yang dimilikinya antara lain melancarkan darah, menghilangkan sumbatan, meluruhkan kentut dan haid, serta sebagai anti inflamasi.

e) Jahe

Jahe sama efektifnya dengan asam mefenamat dan ibuprofen untuk mengurangi rasa nyeri pada wanita dengan dismenore primer.

Pemakaian maksimal adalah 6 gram pada perut yang kosong.

4. Senam haid a. Pengertian

Menurut asal kata, senam (gymnastics) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya: "untuk menerangkan bermacam-macam gerak yang dilakukan oleh atlet-atlet.". Dalam abad Yunani kuno, senam dilakukan untuk menjaga kesehatan dan membuat pertumbuhan badan yang harmonis, dan tidak dipertandingkan. Baru pada akhir abad 19, peraturan-peraturan dalam senam mulai ditentukan dan dibuat untuk dipertandingkan. Pada awal modern Olympic Games, senam dianggap sebagai suatu demonstrasi seni daripada sebagai salah satu cabang olahraga yang teratur (Koni, 2009).

Hidayat (1970) dikutip oleh Koni (2009) mengatakan bahwa senam ialah latihan tubuh yang diciptakan dengan sengaja, disusun secara sistematik dan dilakukan secara sadar dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis.

Senam haid merupakan rangkaian gerakan secara dinamis yang dilakukan untuk mengurangi keluhan nyeri saat haid. Gerakan yang dilakukan dapat dikerjakan secara mandiri, berkelompok atau dengan bantuan instruktur (Agussafutri, 2011).

(21)

Latihan-latihan olahraga yang ringan sangat dianjurkan untuk mengurangi dismenore. Olahraga/senam merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri karena saat melakukan olahraga/senam tubuh akan menghasilkan endorphin. Endorphin dihasilkan di otak dan susunan syaraf tulang belakang. Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi otak sehingga menimbulkan rasa nyaman (Puji, 2010). Selain itu, menurut Agussafutri (2011), senam haid lebih efektif dalam mengurangi dismenore dibandingkan metode relaksasi.

b. Teknik pelaksanaan senam haid

Menurut Hayah (2005) dikutip oleh Agussafutri (2011), setidaknya ada 5 gerakan yang akan membantu mengurangi rasa nyeri saat haid.

Gerakan ini dilaksanakan pada saat haid.

1) Gerakan pertama

a) Baringkan badan di lantai dengan mata terpejam b) Letakkan tangan di samping badan

c) Rapatkan kaki dan tekuk

d) Mulailah dengan menarik napas dalam-dalam bersamaan dengan menarik otot perut

e) Kemudian lepas pelan-pelan f) Lakukan sebanyak 4 kali 2) Gerakan kedua

a) Selanjutnya tetap pada posisi berbaring, angkat kaki sebatas paha dengan tetap ditekuk

b) Pada waktu mengangkat kaki tahan dengan otot perut

c) Angkat tangan lurus ke atas kepala bersama kaki dan kembali ke posisi semula

d) Lakukan sebanyak 4 kali 3) Gerakan ketiga

a) Posisi badan, angkat pinggul dengan lutut sebagai penyangganya b) Letakkan kepala di atas lengan

(22)

c) Kemudian tekan dada ke lantai dengan pinggul tetap di atas dan angkat seperti posisi semula

d) Lakukan sampai rasa tegang berkurang 4) Gerakan keempat

a. Memutar badan

b. Baringkan badan dengan tangan lurus ke samping, kaki rapat dan lurus

c. Kemudian angkat kaki kiri, letakkan di sebelah kanan badan.

Sedangkan muka tetap menghadap ke atas, hingga terasa tertarik pada bagian punggung

d. Lakukan pelan-pelan sebanyak tiga kali ke kanan dan ke kiri 5) Gerakan kelima

a) Posisi badan berlutut dengan tangan menyangga badan dan kepala tertunduk

b) Kemudian angkat kaki lurus ke belakang atas bersamaan dengan mengangkat kepala

c) Lakukan 4 kali kaki kanan dan kaki kiri c. Manfaat senam haid

Menurut Puji (2010) dan Agussafutri (2011), manfaat senam haid adalah :

1) Mengurangi keluhan nyeri pada saat haid 2) Membuat tubuh menjadi rileks

3) Meningkatkan kondisi otot rahim

4) Memicu otak untuk menghasilkan hormon endorphin sebagai obat penenang alami

5) Melancarkan aliran darah ke rahim

5. Kunyit Asam

Minuman kunyit asam merupakan salah satu jenis minuman tradisional yang sudah sangat populer di masyarakat, khususnya daerah Jawa. Minuman ini berbahan baku utama kunyit dan asam. Saat ini minuman kunyit asam bisa

(23)

diperoleh dengan jalan membuat sendiri atau membeli produk jadi yang diproduksi pabrik (Anindita, 2010).

Minuman kunyit asam yang beredar di masyarakat biasanya terdiri dari setengah kilogram kunyit, setengah kilogram asam jawa, seperempat kilogram gula jawa, dan dua liter air. Kunyit yang telah dipersiapkan harus dibersihkan, diparut kemudian diperas untuk diambil airnya. Air kunyit yang diperoleh, direbus dan dimasukkan asam jawa, air, serta gula jawa. Setelah itu harus dididihkan dan akan diperoleh minuman kunyit asam (Anindita, 2010).

Kunyit memiliki agen-agen aktif alami yang berfungsi sebagai analgetika, antipiretika, dan antiinflamasi sedangkan asam jawa memiliki agen- agen aktif yang juga berfungsi sebagai antipiretika dan penenang atau pengurang tekanan psikis. Agen aktif dalam kunyit yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan antipiretik adalah curcumine, sebagai analgetika adalah curcumenol. Buah asam jawa, memiliki agen aktif alami anthocyanin sebagai antiinflamasi dan antipiretika. Selain itu buah asam jawa juga memiliki kandungan tannins, saponins, sesquiterpenes, alkaloid, dan phlobotamins untuk mengurangi aktivitas sistem saraf (Anindita, 2010).

Pada saat menstruasi, saat tidak ada pembuahan ovum pasca ovulasi, hormon-hormon reproduksi wanita turun drastis karena korpus luteum berinvolusi. Hal ini berakibat segala kondisi endometrium yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk implantasi hasil fertilisasi menjadi luruh juga.

Semua kelenjar meluruh, terjadi penurunan nutrisi, dan vasospasme pembuluh darah di endometrium (Guyton dan Hall, 2007). Vasospasme akan menyebabkan reaksi inflamasi yang akan mengaktifkan metabolisme asam arakhidonat dan pada akhirnya akan melepaskan prostaglandin (PG). Terutama PGF2-alfa yang akan menyebabkan vasokonstriksi dan hipertonus pada miometrium. Hipertonus inilah yang akan menyebabkan dismenore primer (Hillard, 2006).

Kandungan bahan alami minuman kunyit asam bisa mengurangi keluhan dismenore primer. Curcumine dan anthocyanin akan bekerja dalam menghambat rekasi cyclooxygenase (COX) sehingga menghambat atau mengurangi terjadinya inflamasi (Wieser, et al., 2007; Hoppe, 2010), mengurangi atau bahkan menghambat kontraksi uterus (Thaina, et al., 2009). Mekanisme penghambatan

(24)

kontraksi uterus melalui curcumine adalah dengan mengurangi influks ion kalsium (Ca2+) ke dalam kanal kalsium pada sel-sel epitel uterus (Thaina, et al., 2009).

Kandungan tannins, saponins, sesquiterpenes, alkaloid, dan phlobotamins akan mempengaruhi sistem saraf otonom sehingga bisa mempengaruhi otak untuk bisa mengurangi kontraksi uterus, dan sebagai agen analgetika, curcumenol akan menghambat pelepasan prostaglandin yang berlebihan (Anindita., 2010).

6. Kompres hangat a. Pengertian

Kompres hangat memberikan rasa hangat untuk mengurangi nyeri dengan menggunakan cairan yang berfungsi melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah lokal (Bonde, et al, 2014).

Kompres hangat dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi uterus dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera, meningkatkan aliran menstruasi, dan meredakan vasokongesti pelvic (Bobak, 2005). Menurut Perry dan Potter (2005), prinsip kerja kompres hangat dengan mempergunakan buli-buli panas yang dibungkus kain adalah secara konduksi terjadi pemindahan panas dari buli- buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri haid yang dirasakan akan berkurang atau hilang.

b. Manfaat

Tamsuri (2007) dan Bonde, et al (2014) menyatakan bahwa penggunaan panas, selain memberikan efek mengatasi atau menghilangkan sensasi nyeri, teknik ini juga memberikan reaksi fisiologis antara lain:

1) Meningkatkan respon inflamasi dan dilatasi pembuluh darah

2) Meningkatkan aliran darah dalam jaringan. Tekanan O2 dan CO2 di dalam darah akan meningkat sedangkan pH darah akan mengalami penurunan.

(25)

3) Meningkatkan pembentukan edema 4) Menurunkan ketegangan otot

c. Prosedur pelaksanaan kompres hangat

Penggunaan metode kompres panas ada beberapa cara, diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Handuk/waslap dicelupkan ke dalam air hangat dan diletakkan pada bagian tubuh (handuk ditutup dengan plastik di sekitar daerah kompres agar panas tidak menyebar)

2) Menggunakan kantong atau buli-buli panas 3) Mandi air panas

4) Berjemur di bawah sinar matahari

5) Menggunakan selimut panas atau bantal panas

6) Menggunakan lampu penghangat, yaitu lampu 60 watt dengan leher angsa yang diletakkan pada jarak 45-60 cm di daerah yang akan diberikan aplikasi hangat.

(Tamsuri, 2007)

Kusyati (2006) dan Indrawan (2013), menyatakan prosedur kompres hangat adalah sebagai berikut:

1) Siapkan peralatan

2) Mengukur suhu air pada rentang 37-410 C.

3) Mengisi sekitar dua pertiga botol dengan air hangat

4) Mengeluarkan udara dari botol. Udara yang tetap berada di botol akan mencegah botol mengikuti bentuk tubuh yang sedang dikompres.

5) Menutup botol dengan kencang.

6) Membalikkan botol dan memeriksa adanya kebocoran 7) Mengeringkan botol.

8) Membungkus botol dengan handuk atau sarung botol air panas.

9) Mengompreskan botol pada bagian abdomen saat mengalami nyeri haid

10) Melakukan kompres selama 30 menit, dan ulangi prosedur jika nyeri belum reda

(26)

B. Penelitian Terdahulu yang Relevan

1. Andika, V (2010), dengan judul Pengaruh Hipnoterapi terhadap Intensitas Nyeri Dismenore Pada Mahasiswa Prodi D III Kebidanan Semarang Poltekkes Kemenkes Semarang Tahun 2010. Jenis penelitiannya adalah penelitian analitik quasy experiment. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perpedaan intensitas nyeri haid sebelum dan setelah pemberian hipnoterapi.

Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dengan hasil penelitian didapatkan p value sebesar 0,001 (p<0,05) dan nilai Z hitung 6,260 (Zhitung<1,96) yang berarti ada pengaruh hipnoterapi terhadap Intensitas Nyeri Dismenore Pada Mahasiswa Prodi D III Kebidanan Semarang Poltekkes Kemenkes.

2. Anindita, A.Y (2010). Judul penelitiannya adalah Pengaruh Kebiasaan Mengkonsumsi Minuman Kunyit Asam Terhadap Keluhan Dismenore Primer pada Remaja Putri Di Kotamadya Surakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh mengkonsumsi minuman kunyit asam terhadap keluhan dismenore pada remaja putri di Kotamadya Surakarta. Jenis penelitiannya adalah observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Analisis data menggunakan metode Chi Square dan diperoleh X2 hitung 25,4542 sedangkan X2 tabel 3,841, taraf signifikansi 0,05. Dari hasil tersebut terdapat pengaruh kebiasaan mengkonsumsi minuman kunyit asam terhadap keluhan dismenore primer pada remaja putri di Kotamadya Surakarta.

3. Puji, I. (2010). Efektifitas Senam Dismenore dalam Mengurangi Dismenore pada Remaja Putri di SMAN 5 Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektivitasan senam haid dalam mengurangi nyeri dismenore pada remaja. Jenis penelitian ini adalah quasy eksperiment dengan uji analisis paired t test. Hasil penelitiannya adalah nilai t hitung 4,525 dan nilai t tabel 1,761 sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa senam haid efektif untuk mengurangi nyeri dismenore pada remaja.

4. Oktaviana, A dan Imron, R. (2012). Menurunkan nyeri dismenorea dengan kompres hangat. Jurnal Keperawatan, volume VIII No.2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres hangat terhadap penurunan nyeri dismenore pada mahasiswi kebidanan Tanjung Karang. Jenis

(27)

penelitiannya adalah quasi eksperiment dengan menggunakan analisis uji paired t test. Hasil penelitiannya adalah p value 0,00.<0,05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres hangat

5. Aziato, L. et al. (2014). Dysmenorrhea management and coping among students in Ghana: A qualitative exploration. Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology. Tujuan penelitannya adalah untuk mengetahui secara mendalam managemen koping dismenore pada wanita muda di Ghana. Jenis penelitiannya adalah studi kualitatif fenomenologi. Hasil penelitiannya adalah managemen koping wanita dewasa Ghana terhadap dismenore adalah dengan cara farmakologi (konsumsi obat dan herbal) dan non farmakologi (kompres hangat, senam, dan diet).

6. Marliana, M.T. (2014) Pengaruh Yoga Terhadap Tingkat Dysmenorhea pada Mahasiswi Tingkat I DIII Kebidanan STIKes Kuningan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yoga terhadap dysmenorhea pada mahasiswi DIII Kebidanan STIKes Kuningan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode experimental, rancangan yang digunakan adalah quasy-experimental menggunakan pretest-posttest with control group design.

Dengan menggunakan uji statistik Mann Whitney, diperoleh hasil p value 0,00 maka terdapat pengaruh yoga terhadap dysmenorhea pada mahasiswi D III Kebidanan STIKes Kuningan.

7. Zannoni, L. et al., 2014. Original Study Dysmenorrhea , Absenteeism from School , and Symptoms Suspicious for Endometriosis in Adolescents. Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dismenore dan tingkat absensi sekolah/kerja pada wanita (umur 14-20 tahun). Tempat penelitian adalah di Ravenna, Imola, dan Lugo, Italia. Jenis penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Hasil dari penelitian tersebut adalah 68% (170/250) subjek penelitian mengeluhkan dismenore, 12% (30/250) tidak masuk sekolah/kerja, 13% (33/250) tidak bisa beraktivitas secara maksimal. Dengan menggunakan Odd Ratio dapat diketahui bahwa tingkat absensi sekolah/kerja wanita yang mengalami dismenore adalah 28 kali lebih besar daripada yang tidak mengalami dismenore.

(28)

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian di atas adalah terletak pada variabel, tempat penelitian, desain penelitian dan uji statistik yang digunakan.

Kebanyakan penelitian di atas menggunakan desain quasy experiment dan ada yang merupakan penelitian kualitatif, sedangkan penelitian ini menggunakan rancangan analitik experimental dengan desain Randomized Controlled Trial (RCT). Uji statistik yang digunakan juga berbeda, penelitian di atas menggunakan t test atau Chi Square untuk mencari pengaruh/perbedaan, sedangkan penelitian ini menggunakan Kruskal Wallis.

(29)

C. Kerangka berpikir

Keterangan:

Menyebabkan/menstimulasi Menghambat/mengurangi

Gambar 2.6 Kerangka berpikir Hipotalamus

Prostaglandin

Endorphin Senam Haid

Vasokonstriksi Iskemia uterus

Kontraksi uterus

Nyeri haid menstruasi

Peluruhan endometrium

Kompres hangat Kunyit

asam

curcumenol

Tannins, saponins, sesquiterpenes

,alkaloid, phlobotamins

Serabut saraf nyeri inflamasi

Oksitosin

prolaktin Leukotrien

(30)

C. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

a. Senam haid lebih efektif dalam mengurangi nyeri haid dibandingkan metode intervensi yang lain.

b. Ada perbedaan intensitas nyeri haid antara penatalaksanaan senam haid, konsumsi kunyit asam dan kompres hangat pada mahasiswi Prodi D III Kebidanan Stikes Kusuma Husada Surakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan pada diagnosa keperawatan pertama adalah setelah diberikan asuhan keperawan diharapkan pasien menunjukkan berdasarkan NOC:

Reseptor nyeri (nosiseptor) adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang berespons hanya pada stimulus yang kuat, yang secara potensial merusak, dimana stimuli tersebut sifatnya

Pemilihan tindakan merupakan tahap terakhir dari proses analisa RCM. Dari tiap mode kerusakan dibuat daftar tindakan yang mungkin untuk dilakukan dan selanjutnya memilih

Portofolio Optimal merupakan sekumpulan asset yang telah dipilih agar menghasilkan return optimal yang diharapkan dan menurunkan risiko secara optimal.Pembentukan

Target arus adalah mengaktivasi serabut saraf berdiameter kecil dimana jaringan yang teraktivasi adalah nosiseptor. Sensasi yang diinginkan adalah intensitas

Serabut otot (muscle fibre) bervariasi antara satu otot dengan yang lainnya. Beberapa diantaranya mempunyai gerakan yang lebih cepat dari yang lainnya dan hal ini terjadi pada

Hipotesis tindakan adalah suatu dugaan yang akan terjadi jika akan dilakukan suatu tindakan Hipotesis dalam penelitian ini yang telah dirumuskan yaitu “dengan

Dalam konteks motif pelakunya, Max Weber membagi teori tindakan sosial menjadi empat bagian yaitu tindakan tradisional, tindakan afektif, tindakan rasionalitas instrumental, dan