13
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu diperoleh dari informasi kepustakaan selama melakukan penelitian untuk mendukung pembahasan dengan pengetahuan dan teori yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi penelitian.
Berikut beberapa jurnal terkait yang mendukung penelitian ini :
Penelitian pertama oleh Agung Sugeng Widodo, Susinggih Wijana, Djanny Septimawan Sutopo, dan Novita Adi Rohmana yang berjudul
”Perkembangan Kampung Tende, Bentiar Besar, Kutai Barat Menuju Desa Berdaya Berbasis Kerajinan Di Kawasan Perbatasan”. Penelitian tersebut membawa pokok masalah di kampung Tende yang merupakan salah satu dari tiga desa yang terisolir di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mengenai eksplorasi SDA yang belum optimal dan juga mengembangkan potensi unggulan daerah yaitu kerajinan anyaman rotan.15
15 Widodo, A, S., Wijana, S., Sutopo, D, S., Rohmana, N, A. et al. (2018). Pengembangan Kampung Tende, Bentian Besar, Kutai Barat Menuju Desa Berdaya Berbasisi Kerajinan Di Kawasan Perbatasan. Posiding Seminar Hasil Pengabdian, 422-426.
Penelitian ini berdasarkan dari hasil Pengabdian Kepada Masyarakat.
Dengan menjunjung potensi alam Kampung Tende yaitu kerajinan sebagai hasil yang akan dikembangkan, dengan mekanisme kerja pelatihan dan sosialisasi.
Diharapkan Kampung Tende dapat menjadi kampung yang berdaya dengan potensi besar yang ada. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan pemberdayaan Desa menggunakan program Desa Berdaya dengan fokus economic branding sehingga dapat mengangkat ikon desa.
Penelitian yang kedua Saihul Anam dengan judul “Implementasi Visi Desa Berdaya Kota Berjaya Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 3 Tahun 2018 Tentang RPJM Tahun 2017 - 2022” yang membahas tentang peraturan daerah Kota Batu yang menetapkan Visi Desa Berdaya Kota Berjaya sebagai kebijakan pemerintah sebagai kebijakan pembangunan tahun 2022.
Produk hukum yang telah dibentuk sebagai cerminan Pemerintah Kota Batu sebagai daerah otonom . Dengan sasaran penataan ruang dan infrastruktur kota yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas pembangunan pedesaan, dan meningkatkan kualitas lingkungan pedesaan.16
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode pendekatan penelitian hukum empiris yang merupakan penelitian yang mengamati konsekuensi dari perilaku manusia dalam hal jejak fisik maupun arsip. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian
16 Anam, S. (2021). Implementasi Visi Desa Berdaya Kota Berjaya Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 3 Tahun 2018 Tentang RPJMD Tahun 2017-2022. Jurnal Negara dan Keadilan, 10 (1), 75-82.
kualitatif deskriptif. Selain itu penelitian tersebut pemberdayaan dilihat dari sisi produk hukum apa saja yang mengatur undang undang desa untuk mewujudkan visi Desa Berdaya Kota Berjaya. Sedangkan penelitian ini dilihat dari pemberdayaan masyarakat desa untuk menumbuhkan atau menonjolkan ikon- ikon desa sehingga dapat menjadi desa yang madiri dan kreatif.
Penelitian ketiga oleh Kiki Endah “Pemberdayaan Masyarakat : Menggali Potensi lokal Desa”pada penelitian tersebut dapat diketahui bahwa menggali potensi desa sangat berguna bagi desa untuk mengembangkan dan memberdayakan desa. Dengan berlakunya Undang-Undang Desa, memberikan kesempatan untuk desa menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya dengan masyarakat dalam organisasi dan administrasi desa.17
Penelitian tersebut menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui kajian literature. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data dokumentasi, wawancara dan observasi yang mengharuskan peneliti untuk meneliti langsung permasalahan di lapangan. Dalam penelitian ini juga pemberdayaan masyarakat melalui program Desa Berdaya dengan memanfaatkan potensi desa.
Penelitian ke empat oleh Oman Sukmana dengan judul “Strategi Percepatan Pertumbuhan Lapangan Kerja Dan Pengentasan Kemiskinan Melalui Kebijakan Pengembangan Pariwisata” dalam penelitian tersebut pemerintah Indonesia
17 Endah, K. (2020). Pemberdayaan Masyarakat: Menggali Potensi Desa. Jurnal Moderat, 6 (1), 135-143.
memiliki komitmen yang kuat untuk mengatasi masalah kemiskinan. Upaya pemerintah Indonesia untuk mengurangi kemiskinan dituangkan dalam bentuk kebijakan dan program anggaran. Pariwisata merupakan sumberdaya penting bagi daerah yang menjadi tujuan wisata. Pariwisata dapat memebantu munculnya berbagai kegiatan bisnis dan ekonomi.
Dengan menerapkan kebijakan dalam bidang pengembangan pariwisata untuk penanggulangan kemiskinan ini membuka jalam bagi masyarakat miskin untuk aktif di sektor industry pariwisata. Perbedaan dengan penelitian ini adalah sektor kebijakan yang dipakai. Dalam penelitian tersebut, menjelaskan kebijakan pengentasan kemiskinan melalui pengembangan kota pariwisata.
Sedangkan dalam penelitian ini, meneliti temtang kebijakan pemberdayaan masyarakat dengan mengangkat ikon atau produk desa.18
B. Konsep Kebijakan
Kebijakan adalah seperangkat konsep dan prinsip yang menjadi pedoman dan dasar perencanaan kinerja, kepemimpinan, dan perilaku. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintah, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum, jika hukum dapat menegakkan atau melaranag perilaku, kebijakan ini hanya merupakan panduan untuk tindakan yang kemungkinan besar memiliki hasil yang diinginkan.19
18 Sukmana, O. (2018). Strategi Percepatan Pertumbuhan Lapangan Kerja Dan Pengentesan Kemiskinan Melalui Kebijakan Pengembangan Pariwisata. Sosio Informa, 4 (3), 490-492.
19 Kementerian Lingkungn hidup dan Kehutanan. (2015). Modul Kebijakan Kehutanan Terkait Tenurial. https://elearning.menlhk.go.id/pluginfile.php/845/mod_resource/content/1/index.html
Kebijakan dan kebijaksanan selalu dihubungkan dengan keputusan pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan, menjadi wewenang pemerintah dalam pelaksanaan tugas-tugas pemberdayaan dan pembangunan serta pelayanan publik.20 Kebijakan digunakan dalam aktifitas kehidupan sehari-hari masyarakat dalam berbagai kegiatan dan diberbagai tempat.
Kebijakan yang dibuat oleh negara berupa peraturan yang digunakan untuk kepentingan program dan tindakan pemeritah, yang erat dengan administrasi negara. Kebijakan dalam konteks politik pemerintahan, lembaga pemerintahan, dan rakyat sehingga ketertiban umum pada hakikatnya ditetapkan oleh pemerintahsesuai dengan tujuan pemerintah dan kepentingan umum.21
Berdasarkan wewenang dan tugas pemerintah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahaan yang berkaitan dengan kegiatan pemerintahan yang peda umumnya merupakan kegiatan ketertiban umum sebagai tugas pemerintah sebagai badan public. Kebijakan public tidak hanya dilakukan oleh pemerintah melalui instansi pemerintah, tetapi juga dapat dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat seperti organisasi swasta, organisasi/lembaga sosial politik, lembaga swasta, dan lain-lain.22
Kebijakan tidak hanya tentang potensi masalah, tetapi juga tentang masalah yang dapat dihadapi terlebih dahulu atau bagaimana serangkaian masalah dapat diselesaikan. Ada hal-hal yang perlu diprioritaskan agar
20 Ibrahim, A, H, H., Supriatna, T. (2020). Epistemologi Pemerintahan: Paradigma Manajemen, Birokrasi, dan Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gramasurya, 107.
21 Ibid. 109.
22 Ibid. 115.
ketertiban didahulukan. Daftar masalah yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Prioritas adalah proses pelaksanaan tuntutan masyarakat atau kelompok dalam masyarakat yang menjadi subjek konflik persaingan meminta peratian dari mereka yang menjalankan kebijakan.23
Menurut Willian N Dunn kebijakan memiliki tiga unsur dan setiap unsur tersebut memiliki hubungan timbal balik yaitu:
a. Pelaku dan pembuat kebijakan. Seseorang atau sekelompok individu atau organisasi yang memiliki peran tertentu dalam proses kebijakan, dapat memberi pengaruh dan menentukan kebijakan tersebut.
b. Kebijakan publik. Merupakan sebuag ketatapan dari beberapa pilihan yang terkait dengan tujuan dan sasaran tertentu.
c. Lingkungan atau kelompok sasaran kebijakan. Seseorang individu, sekelompok individu atau organisasi dalam masyarakat yang perilaku atau posisinya dimaksudkan untuk dipengaruhi oleh kebijakan yang relevan.24
C. Masyarakat.
Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem sosial. Suatu pola interaksi sosial yang terdiri dari unsur-unsur sosial yang terorganisir dan terlembaga.
Suatu sistem sosial yang memiliki ciri suatu struktur sosial yang status dan peran dalam suatu unit sosial yang menghasilkan nilai dan norma yang mengatur interaksi antara status dan peran sosial tersebut. Struktur sosial
23 Abdoellah, A, Y., Rusfiana, Y. (2016). Teori dan Analisis Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta, 20.
24 Ibrahim, A, H, H., Supriatna, T. Op. Cit. Hal 135.
memiliki unsur-unsur sosial dasar seperti aturan sosial, institusi sosial, dan kelas sosial. Masyarakat mengambil tindakan sosial sebagai bagian dari struktur sosial mereka dan mencapai tujuan yang diinginkan.25
Masyarakat (diterjemahkan dari istilah society) mengacu pada sekelompok orang yang membentuk system semi tertutup atau sebaliknya, dan sebagian besar interaksi terjadi di antara anggota kelompok. Kata masyarakat berakar pada bahasa Aarab ‘musyarakah’. Dalam arti yang lebih luas, masyarakat adalah jaringan hubungan antar makhluk. Masyarakat adalah kelompok atau komunitas atau individu yang saling berhubungan satu sama lain, hidup bersama yang terorganisir.26
Struktur sosial masyarakat desa adalah struktur kehidupan sosial yang sederhana untuk mata pencaharian mereka sebagian besar kegiatan pedesaan yang sama atau seragam. Bagaimana mempertahankan kehidupan, memenuhi kebutuhannya subsistemnya, dan mereka tidak mengambil resiko yang lebih besar untuk kebutuhan subsistem. Masyarakat pedesaan didefinisikan sebagai komunitas yang anggotanya tinggal ditempat tertentu, dimana individu merasa menjadi bagian suatu kelompok, yang kehidupan mereka mengandung tanggung jawab bersama dan masing-masing merasa tunduk pada norma-norma tertentu.27
Masyarakat desa memiliki ciri atau kebiasaan hidup bermasyarakat yang biasanya tercermin dalam perilaku kesehariannya. Seperti sederhana,
25 Jamaludin, A, N. (2015). Sosiologi Perdesaan. Bandung: Pustaka Setia, 53.
26 Akhmaddhian, S., Fathanudien, A. (2015). Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan Kuningan Sebagai Kabupaten Konservasi (Studi di Kabupaten Kuningan). Jurnal Unifikasi, 2 (1),78.
27 Waluya, B. (2012). Rural Community. Bandung : UPI, 1. http://file.upi.edu/
Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121- BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_DESAKOTA/Rural_Comunity.pdf
menjunjung tinggi norma dan kesopanan, gotong royong, rasa kekeluargaan yang besar, dan lain sebagainya.28 Penduduk kota menganggap ketenangan desa sebagai situasi yang menyenangkan dan tidak menanggung beban hidup yang berat. Prospek ini akan salah jika kita melihat beratnya beban yang dipikul oleh warga desa dan bagaimana kerja keras mereka dan hasil yang ada tidak sebanding.29
Ada beberapa ciri dalam semua jenis masyarakat pedesaan yaitu :
a. Penduduk desa cenderung terbagi menjadi desa-desa kecil, dan populasi mereka tidaklah banyak.
b. Dari segi latar belakang etnis masyarakat desa bersifat homogen.
c. Sebagian besar penduduk bekerja dibidang pertanian.
d. Perekonomian masyarakat pada umumnya merupakan produk yang dikonsumsi.30
Masyarakat desa saling berinteraksi satu sama lain. Banyak faktor yang mempengaruhi proses interaksi di desa yaitu imitasi, sugesti, identifikasi dan empati. imitasi akan mendorong untuk mematuhi aturan dan nilai yang ada.
Sugesti adalah proses di mana seseorang akan mengikuti pendapat orang lain, dan pribadi yang mengikuti pandangan ini cenderung emosional.31
28 Ibid. 2.
29 Jamaludin, A, N. Op. Cit, 65.
30 Murdianto, E. (2020). Sosiologi Perdesaan: Pengantar Untuk Memahami Masyarakat Desa.
Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran”, 57.
31 Jamaludin, A, N. Loc. Cit.
D. Pemberdayaan Masyarakat
Tujuan pemberdayaan adalah untuk membantu klien membuat keputusan dan mengambil tindakan dalam hidup mereka dangan mengurangi dampak hambatan sosial dan pribadi dalam pelaksanaan kekuasaan, kemampuan, dan kepercayaan diri mereka untuk menjalankan atau menggunakan kekuasaan mereka. Kemudian menggunakan kekuasaan dan kekuatan ke orang lain yang lemah.32 Pemberdayaan adalah upaya memperkuat kekuatan dengan mendorong, memotivasi, dan sadar akan potensi yang dimiliki.
Lee (2001) pemberdayaan tidak hanya merupakan praktik klinis yang berhubungan dengan individu dan keluarga, tetapi juga berupaya untuk focus pada komunitas. Ada tiga konsep dalam hal ini yaitu: pertama membangun harga diri yang lebih positif dan potensial. Kedua menciptakan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai prespektif kritis tentang realitas sosial dan politik. Ketiga mengelola sumberdaya, strategi, dan keterampilan untuk mencapai tujuan pribadi dan kelompok.33
Dalam pemberdayaan masyarakat memberikan kekuatan atau power kepada orang yang kurang mampu atau miskin atau powerless memang merupakan tanggungjawab pemerintah, namun seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak, terutama masyarakat itu sendiri yang
32 Payne, M. (2016). Teori Pekerjaan Sosial Modern. Edisi ke 4. Terjemahan: Susiladiharti., Admiral Nelson. Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru. Hal 249.
33 Ibid. 261-162.
menjadi kelompok sasaran yaitu dengan ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan setiap program / kegiatan pemberdayaan.34
Pemberdayaan tidak hanya untuk anggota masyarakat dan individu, tetapi juga institusinya. Penguatan nilai-nilai budaya modern seperti keterbukaan, akuntabilitas, dan kerja keras merupakan komponen penting dari pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya mengembangkan potensi masyarakat dan mengatasi berbagai permasalahan di masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat merupakan cara membangun kapasitas dengan mengajak, memotivasi, dan menghidupkan kembali potensi yang dimiliki dan berupaya untuk mengembangkannya. Pemberdayaan bukan untuk menjadikan masyarakat semakin tergantung pada program yang diberikan, sebab setiap apa yang dinikmati wajib didapatkan atas perjuangan sendiri.
Dengan demikian tujuan akhirnya merupakan memandirikan masyarakat, meningkatkan kapasitas, serta mengembangkan kemampuan demi meningkatkan diri kearah kehidupan yang lebih baik.
Di dalam konteks pekerjaan sosial, dapat dilakukan tiga dimensi atau matra pemberdayaan (empowerment setting) yaitu mikro, mezzo, dan makro.
1. Level Mikro. Pendekatan yang dilakukan terhadap klien individu dengan konseling, bimbingan, manajemen stress yang memiliki tujuan untuk melatih klien mengerjakan atau menjalankan tugas yang ada dikehidupannya.
34 Hamid, H. (2018). Manajemen Pemberdayaan Masyarakat. Makasar: De La Macca, 9.
2. Level Mezzo. Pendekatan ini dilakukan kepada kelompok sebagai media interfensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kemlompok umum digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan pengetahuan, ketampilan, dan sikap klien untuk memiliki kemampuan untuk memcahkan maasalah.
3. Level Makro. Pendekatan ini juga dikenal sebagai Strategi Sistem Bersar karena tujuan perubahan difokuskan pada lingkungan system yang lebih luas. Perumusan kebijakan, aksi sosial, manajemen konlflik, lobbying adalah beberapa strategi dari pendekatan ini, dalan strategi ini melihat klien sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk memahami situasi mereka sendiri memilih dan menentukan strategi tindakan yang tepat.35
Pada dasarnya pemberdayaan masyarakat tidak hanya ditujukan pada individu, tetapi juga pada kelompok sebagai bagian perwujudan eksistensi manusia. Oleh karena itu manusia atau masyarakat dapat dijadikan tolak ukur normatif, menjadikan konsep pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan individu, keluarga, bahkan bangsa sebagai perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Menurut Dhahama dan Bhantnagar pemberdayaan masyarakat memiliki prinsip sebagai berikut :
1) Minat dan kebutuhan. Dalam pemberdayaan masyarakat diperlukan minat dari masyarakat dan juga kebutuhan dari masyarakat itu sendiri, prioritas
35 Suharto, Edi. (2009). Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat (Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial). Bandung: Refika Aditama, 66.
kebutuhan masyarakat harus disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya yang ada.
2) Organisasi masyarakat bawah. Pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dengan efektif juga menggandeng organisasi yang ada di masyarakat mulai dari keluarga, RT, RW, Karang Taruna dan lain sebagainya.
3) Keberagaman budaya. Pemberdayaan masyarakat harus memperhatikan keberagaman masyarakat pada saat menentukan program apa yang akan di jalankan, karena keberagaman masyarakat bisa menjadi kekuatan, namun juga dapat menjadi hambatan yang besar jika tidak diperhatikan atau dikaji secara mendalam.
4) Perubahan budaya. Tujuan dari pemberdayaan masyarakat adalah membangun masyarakat kerah yang lebih baik. Dalam pemberdayaan masyarakat pasti akan terjadi perubahan budaya di masyarakat, oleh karena itu pemberdayaan masyarakat harus selalu menyesuaikan dengan budaya lokal yang beraneka ragam.
5) Kerja sama serta partisipasi. Pemberdayaan masyarakat tidak dapat dijalankan oleh satu pihak saja, partisipasi dan kerja sama masyarakat dan semua unsur yang ada sangat diperlukan agar pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dengan baik.
6) Demokrasi dalam pelaksanaan ilmu. Dalam melakukan pemberdayaan masyarakat masyarakat diberikan kesempatan untuk memeberikan ilmu atau alternatif yang ingin diterapkan, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil keputusan.
7) Belajar sambil bekerja. Pemberdayaan masyarakt tidak hanya tentang bagaimana msayarakat menerima program, menerima teori maupun konsep, tetapi masyarakat juga mencoba untuk memperoleh ilmu maupun pengalaman baru yang didapat dari pelaksanaan pemberdayaan masyarakat itu sendiri.
8) Menggunkan metode yang sesuai. Metode diterapkan dengan melihat situasi dan kondisi lingkungan di mana pemberdayaan itu akan dilaksanakan.
Karena tidak semua metode dan teori yang ada akan efektif dan efisien di masyarakat.
9) Kepemimpinan. Dalam pemberdayaan masyarakat dibutuhkan sosok pemimpin yang dapat menggerakkan masyarakat. Pemimpin masyarakat ini yang akan membantu jalannya pemberdayaan masyarakat.
10) Spesialis yang terlatih. Penyuluh atau pendamping program pemberdayaan masyarakat merupakan orang yang telah terlatih. Mereka harus sudah memperoleh pelatihan khusus dan profesional.
11) Segenap keluarga. Pemberdayaan masyarakat tidak hanya menguntungkan satu pihak saja, tetapi juga mempengaruhi seluruh anggota keluarga, pelayanan terhadap keluarga tercukupi baik sosial, ekonomi dan budaya.
12) Kepuasan. Pemberdayaan masyarakat harus mampu mencapai kepuasan setiap masyarakat, karena kepuasan masyarakat akan menjadi penentu program pemberdayaan yang selanjutnya.36
36 Mardikanto, T., Soebianto, P. Op. Cit, 106-108.
E. Kesejahteraan Sosial
Ilmu kesejahteraan sosial berbeda dengan kebanyakan ilmu interdisipliner terapan. Ilmu kesejahteraan sosial memiliki tiga pilar utama yaitu: pengetahuan ilmiah (body of knowledge), pilar keterampilan (body of skill), pilar nilai (body of values). Ketiganya harus dibangun dengan kekuatan yang sama.37
Menurut UU Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial pasal 1 kesejahteraan sosial adalah kondisi dimana terpenuhinya kebutuhan spiritual, material, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan berkembang sehingga dapat memenuhi kewajiban sosialnya. Pemerintah melakukan penyelenggaraan kesejahteraan bagi warga negara dengan berkelanjutan, terarah dan terpadu dalam pentuk pelayanan sosial supaya kebutuhan warga negara dapat terpenuhi.38
Semua orang menginginkan hidup yang sejahtera, maka dari itu salah satu tujuan pemerintah adalah mensejahterakan masyarakatnya. Upaya kesejateraan sosial sebenarnya dilakukan oleh semua pihak, baik pmerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kebijkan dan program yang terkait dengan pelayanan sosial, rehabiliai sosial, dukungan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Kesejahteraan sosial memiliki fungsi untuk mendorong adanya perubahan sosial. Dalam profesinya pekerjaan sosial bukan melakukan kegiatan amal, tetapi berhubungan dengan disiplin dan pendekatan professional. Pekerjaan
37 Jahidin, A. (2016). Epistimologi Ilmu Kesejahteraan Sosial: Perjalanan Dialektika Memahami Anatomi Pekerjaan Sosial Profesional. Yogyakarta: Samudra Biru, 10.
38 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial. Pasal 1.
sosial didefinisikan sebagai profesi atau keahlian dalam bantuan kemanusiaan.
Didasarkan pada pengetahuan, keterampilan, dan nilai melalui pendidikan formal dan pengalaman praktik nyata.39
Perubahan sosial membauat masyarakat kita berpindah dari ekonomi mandiri ke ekonomi yang sangat bergantung pada uang membeli makanan, tempat tinggal, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Perubahan individu memenuhi kebutuhan mereka untuk sosialisasi, perkembangan intelektual dan emosional, dan kepuasan hubungan. Dari ketergantungan pada diri mereka sendiri menjadi ketergantungan pada jaringan sosial yang lebih luas. Dengan adanya peribahan ini ada kebutuhan atau layanan yang akan membantu orang mengatasi masalah keberfungsian sosial.40
Kebijakan sosial merupakan bagian dari sistem kesejahteraan sosial.
Kesejahteraan sosial terdiri dari upaya dan struktur yang terorganisir untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Dalam bentuknya yang paling sederhana, sisitem kesejahteraan sosial dapat dipahami sebagai empat bagian yang saling berhubungan yaitu: masalah sosial, tujuan kebijakan, aturan atau regulasi, program kesejahteraan. Sistem kesejahteran sosial dimulai dengan mengenali masalah-masalah sosial.
Kesejahteraan sosial memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan kesejahteraan, kualitas, dan keberlanjutan hidup.
2. Mencapai pemulihan fungsi sosial dan kemandirian.
39 Wibhawa, B., Raharjo, S, T., Budiarti S, M. (2015). Pengantar Pekerjaan Sosial. Bandung: Unpad Press, 45.
40 Ibid, 40.
3. Ketahanan sosial masyarakat, pencegahan dan penanganan masalah sosial 4. Meningkatkan keterampilan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial dalam dunia
usaha pelaksanaan kesejahteraan sosial terlembaga dan berkelanjutan.
5. Meningkatkan keterampilan dan ksadaran masyarakat tentang penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara berkelanjutan dan terlembaga.
6. Meningkatkan kualitas menejemen implementasi kesejahteran sosial.41
F. Pengertian Desa
Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut nama lain, selanjutnya disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan / atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.42
Desa merupakan bagian dari pemerintahan daerah. Desa memiliki otonomi daerahnya sendiri sehingga desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan kepentingan masyarakat. Pemerintahan desa dilaksanakan berdasarkan partisipasi masyarakat, secara historis desa adalah pemerintahan yang tumbuh berdasarkan kepentingan masyarakat. Desa merupakan kesatuan wilayah permukiman oleh sejumlah keluarga yang menetap dengan bergantung pada sumberdaya
41 Undang-Undang Nomor 11. Op.Cit, pasal 3
42 Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Sekertariat Negara
sekitarnya demi kesejahteraan dan mempertahankan hidup. Desa merupakan unit pemerintahan dibawah kabupaten/kota.
Dalam sejarahnya istilah desa di temukan di Jawa, desa-desa di Jawa terbentuk dibawah pengaruh agama hindu, jika dilihat ada kemiripan dengan keadaan di India. Tetapi beberapa daerah, diyakini desa dibuat oleh orang Indonesia. Banyak ahli yang mengungkapkan kapan terbentuknya desa, namun tidak dapat dengan pasti dimana dan kapan desa itu dimulai.43
Tetapi bagai manapun juga menurut penelitian para ahli bahwa desa dari abad ke abad telah berkembang menjadi kesatuan hukum dimana kepentingan bersama dari pada penduduknya menurut hukum adat dilindungi dan dikembangkan. Dan hukum itu membuat dua hal penting yaitu hak untuk mengurus kepentingan daerahnya sendiri (hak otonomi) dan untuk memiliki kepala desanya sendiri.
Cangkupan hak otonomi desa berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 72 Tahun 2005 desa memiliki kewenangan untuk :
a. Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul desa.
b. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/ kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa adalah urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
43 Beratha, N, I. (1982). Desa, Mayarakat Desa dan Pembangunan Desa. Jakarta: Ghalia Indonesia, 11.
c. Tugas pembantu dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/ Kota. Wajib disertai dengan dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dan berpedoman pada peraturan perundang-undangan.
d. Urusan pemerintahan yang lainnya oleh peraturan perundang-undangan diserahkan kepada desa.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2016 pasal 8 desa memiliki kewenangan lokal berskala desa adalah : pengelolaan tambatan perahu, pengelolaan pasar desa, pengelolaan pemandian umum, pengelolaan jaringan irigasi, pengelolaan permukiman masyarakat desa, pembinaan kesehatan masyarakat dan pengelolaan pos pelayanan terpadu, pengembangan dan pembinaan sanggar seni dan belajar, pengelolaan perpustakaan desa dan taman bacaan, pengelolaan embung desa, pengelolaan air minum berskala desa, dan pembuatan jalan desa antar permukiman ke wilayah pertanian.44
Penyebutan desa diberbagai daerah berbeda menunjukkan kepribadian atau ciri khas masing-masing desa yang sesuai dengan adat atau budaya setempat. Penyebutan beberapa desa secara konseptual dapat tidak memiliki makna politik, tetapi juga dapat berarti situasi politik sekaligus situasi bagi pihak atau kekuatan lain. Dengan adanya otonomi untuk desa ini diharapkan agar desa tetap bertumpu pada budaya lokal, adat istiadat yang telah lama dijunjung.
44 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 44 Tahun 2016 Tentang Kewenangan Desa. Pasal 8
Setiap desa harus mencapai tingkatannya dalam tahapan pembangunan dam pengembangan desa. Oleh karena itu, desa dibedakan dalam klasifikasi desa menurut perkembangannya. Perkembangan desa dapat dilihat dari masyarakat desa yang tinggal, selain tingkatan ekonomi, sarana dan prasarana juga dapat menggambarkan status perkembangan desa. Desa membutuhkan dukungan internal dan eksternal untuk mengembangkan desa, oleh karena itu desa harus bisa bekerja sama dengan masyarakat dan pihak luar untuk memanfaatkan semua fasilitas yang ditawarkan dengan baik. Jika desa dapat memanfaatkan segala fasilitasnya dengan baik tentu desa akan berkembang pesat. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 2015 tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pemerintahan Desa, klasifikasi desa menurut perkembangannya dibagi menjadi 3 jenis antara lain :
a. Desa Swasembada dapat disebut dengan desa maju maupun desa berkembang.
Masyarakat dapat mengelola dan mengembangkan potensi yang ada. Mata pencaharian masyarakat lebih variatif tidak hanya pertanian dan perdagangan kecil, tapi juga menjangkau industri yang lebih besar. Tingkat pendidikan masyarakat yang tinggi dan maju. Masyarakat memiliki pola pikir yang modern dan kreatif. Fasilitas sarana dan prasarana yang baik dapat dijangkau oleh siapapun, masyarakat berperan aktif dalam pembangunan desa.
b. Desa Swakarya atau yang disebut desa transisi. Mata pencaharian masyarakat sebagian besar berada disektor industri kecil atau perdagangan. Desa swakarya mulai mengerti dengan potensi yang dimiliki dan mulai mengelolanya.
Masyarakat juga sadar akan pentingnya pembangunan sehingga mereka mau melaksanakan pembangunan dibawah kepemimpinan kepala desa. Masyarakat mulai mengerti pentingnya tingkat pendidikan, sehingga tingkat pendidikan
masyarakat desa swakarya berada di atas desa swadaya. Lembaga pemerintahan sudah mulai berfungsi dengan benar.
c. Desa Swadaya atau yang disebut desa tradisional, tradisi masyarakat masih sangat kental, potensi desa masih belum terolah, pertanian masyarakat masih menggunakan cara tradisional, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah, dan juga sarana prasarana desa yang masih minim atau dapat dikatakan desa masih sulit dijangkau kendaraan.45
45 Permendagri Nomor 84 Tahun 2015 Tentang Susuna Organisasi Dan Tata Kerja Pemerintah Desa.
Pasal 11. Ayat 1.