1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertambahan jumlah penduduk dalam suatu wilayah tengah menjadi tantangan di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada dokumen Statistik Indonesia 2020, jumlah penduduk Indonesia pada data terakhir yaitu tahun 2019 adalah 268.074.600 (268 juta) jiwa. Angka pertumbuhan di Indonesia menurut data tahun 2010-2019 adalah 1,31%
di mana angka ini termasuk ke dalam pertumbuhan penduduk sedang.
Faktor kependudukan mengacu pada perspektif demografi. Jumlah penduduk kota khususnya di negara berkembang seperti Indonesia mempunyai tingkat pertumbuhan jumlah penduduk kota yang masih jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan penduduk nasional. Pertambahan penduduk kota yang terus-menerus dan masih tergolong tinggi ini membawa konsekuensi spasial yang serius bagi kehidupan kota, yaitu adanya tuntutan akan ruang yang terus-menerus pula untuk dimanfaatkan sebagai tempat hunian. Pengaliran penduduk ke kota menyebabkan terjadinya proses densifikasi permukiman maupun bangunan nonpermukiman di kota yang tidak terkendali. (Yunus, 2005).
Selanjutnya, peningkatan tuntutan akan ruang di kota tersebut akan mengakibatkan munculnya konsekuensi-konsekuensi spasial lainnya yang juga harus diperhatikan. Salah satu konsekuensi spasial tersebut secara horizontal adalah bahwa proses pertumbuhan penduduk beserta akibatnya yaitu densifikasi permukiman dan non permukiman menjadi penentu bertambahnya areal kekotaan dan makin padatnya bangunan di dalam kota sehingga dapat dirumuskan sebagai proses penambahan ruang yang terjadi secara mendatar dengan cara menempati ruang-ruang yang masih kosong, baik di daerah pinggiran kota maupun bagian dalam dari kota. (Yunus, 2005).
Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang mulai kompleks aktivitas kotanya. Bila dilihat dari segi penggunaan lahan di Kota Surakarta tahun 2018, berdasarkan data dari BPS Kota Surakarta bahwa sebesar 82,4% dari luas total merupakan lahan terbangun. Hal ini berarti lahan nonterbangun yang masih ada di Kota Surakarta hanya sebesar 17,6% di mana angka ketersediaan ini lebih rendah dari yang seharusnya yaitu 30% untuk ruang terbuka hijau. Dampak dari keterbatasan lahan ini akhirnya muncul di beberapa wilayah sekitarnya yang menempel, seperti Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. Apabila dilihat pada setiap kecamatan di wilayah peri urban, perubahan paling besar adalah pada Kartasura dan Grogol.
commit to user
digilib.uns.ac.id
2 Perubahan lahan ini (khususnya pada Sukoharjo bagian utara) memunculkan inisiasi dalam pembentukan pusat-pusat pelayanan sebagai penyangga perkembangan Kota Surakarta. Daniastri (2016) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pada Kecamatan Grogol, tepatnya Solo Baru mempunyai arah pengembangan sebagai pusat penggerak baru atau Central Business District di Kabupaten Sukoharjo. Pentingnya pengembangan kawasan pusat bisnis di Solo Baru salah satunya disebut dalam Usandy, dkk (2015) yang mengatakan bahwa terdapat perubahan pola pergerakan belanja dari zona tujuan Kota Surakarta menjadi Solo Baru (2000-2015) akibat kecenderungan pemilihan berdasarkan lokasi yang strategis, sehingga perlu adanya pengembangan pusat kawasan perdagangan di Solo Baru agar pergerakan belanja yang semakin dominan di sini dapat terakomodir dengan baik.
Awalnya, Solo Baru merupakan kawasan di peri-urban Kota Surakarta yang memiliki tujuan pembangunan yaitu penyediaan perumahan skala besar sebagai tindak lanjut dari pertumbuhan Kota Surakarta yang tinggi. Seiring berjalannya waktu, saat ini beberapa penelitian menyebutkan bahwa Kawasan Solo Baru merupakan kota satelit baru bagi Surakarta. Hingga akhirnya tercantum pada perencanaan Kabupaten Sukoharjo dalam RTRW Kabupaten Sukoharjo 2011-2031 yang direvisi pada tahun 2020 di mana disebutkan bahwa Kecamatan Grogol yang awalnya adalah PKLp (Pusat Kegiatan Lokal Promosi) dipromosikan menjadi PKL (Pusat Kegiatan Lokal). Fungsi pelayanan ini dikarenakan berkembang pesatnya kegiatan kota terutama kegiatan perekonomian di sepanjang Jalan Ir. Soekarno sebagai pusat kawasan Solo Baru (Astuti, 2015). Selain itu, pada tahun 2016-2019 pemerintah baru memfokuskan peningkatan kualitas infrastruktur di pusat Solo Baru. Namun, memang belum ada rencana khusus untuk mengatur kawasan Solo Baru ini (Daniastri, 2016).
Kawasan CBD (Central Business District) dideskripsikan sebagai wilayah yang mengintegrasikan bisnis dan banyak fasilitas pendukung seperti bangunan kantor bisnis, hotel dan apartemen, lalu lintas yang sempurna dan nyaman, lingkungan pengembangan ekonomi yang menguntungkan, dan tempat yang nyaman untuk kegiatan komersial.
(Yaguang, 2011). Istilah kawasan CBD ini dikenalkan oleh E. Burgess yang berpendapat bahwa kota bisa dipandang terdiri dari 5 zona konsentris yang dimulai dari pusat kota dan zona utama dari teori konsentris ini adalah CBD tersebut. Hingga definisi berkembang menjadi yang telah disebut di awal paragraf ini.
Lestari (2014) mencatat bahwa kawasan Solo Baru semakin diperhatikan perkembangannya dengan penyediaan fasilitas penunjang kehidupan, seperti sarana- prasarana, pendidikan, kesehatan, ekonomi bisnis, rekreasi, dan lain-lain, sangat
commit to user
digilib.uns.ac.id
3 diperhatikan. Hal ini bisa dilihat dari fakta lapangan bahwa fasilitas-fasilitas penunjang permukiman sudah mulai bermunculan di Solo Baru, yaitu di antaranya adalah sarana pendidikan berkelas seperti TK-SD Tarakanita, sarana kesehatan berupa rumah sakit Indriati Solo Baru, sarana olahraga berupa GOR Solo Baru hingga sarana rekreasi berupa wisata air Pandawa Lima Water Park. Namun, dilihat dari fakta lapangan pula bahwa keadaan sarana komersial di Solo Baru terdapat beberapa di antaranya yang menjadi kurang diperhatikan. Keadaan ini terlihat pada bangunan komersial di koridor Jl Ir.
Soekarno Timur yang banyak di antaranya sudah tidak digunakan dengan keadaan yang lalai (banyak kerusakan) padahal kunci dari kawasan CBD adalah terletak pada aktivitas komersial di dalamnya. Kemudian, ditemukan pula pada bagian belakang dari ruang komersial yaitu permukiman yang tidak teratur sehingga mengurangi citra dari kawasan CBD. Selain itu, Solo Baru masih ditemui sebagai wilayah yang semi-dependen karena masih terdapat ketergantungan terhadap Kota Surakarta. (Daniastri, 2016).
CBD sering dianggap sebagai jantung kota, berisi dengan hiruk-pikuk kehidupan.
Hal ini yang sering menjadikan anggapan pula bahwa CBD merupakan mesin pertumbuhan kota yang dapat berdampak bagi sekitarnya. Maka dalam pengembangannya dibutuhkan perencanaan yang matang bagi Solo Baru untuk mencapai tujuan pengembangannya. Berdasarkan isu yang sudah dipaparkan di atas, terlebih pada perencanaan atau arahan pengembangan Solo Baru sebagai kawasan CBD dan kondisi lapangan sarana komersialnya serta ketergantungan pada Kota Surakarta, maka sebuah pertanyaan timbul yaitu mengenai tingkat kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru untuk direncanakan menjadi Central Business District di Kabupaten Sukoharjo.
1.2 Rumusan Masalah
Perencanaan adalah serangkaian alternatif strategi untuk pengarahan atas kondisi yang ada, di mana hal ini berkaitan dengan tujuan di masa depan serta pemecahan masalahnya. Kawasan Solo Baru diarahkan oleh pemerintah untuk dikembangkan menjadi Central Business District di mana CBD ini dianggap sebagai mesin pertumbuhan kota.
Perencanaan itu pun perlu ditinjau mulai dari kesiapannya agar dalam perkembangannya dapat berjalan mencapai tujuan. Terlebih lagi, pada lapangannya masih terdapat beberapa sarana atau fasilitas yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, sebuah penelitian menerangkan bahwa kawasan Solo Baru masih memiliki ketergantungan terhadap Surakarta. Maka, pertanyaan yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana tingkat kesiapan kawasan perdagangan Solo Baru untuk dikembangkan menjadi Central Business District di Kabupaten Sukoharjo” .
commit to user
digilib.uns.ac.id
4 1.3 Tujuan dan Sasaran
1.3.1 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah timbul tersebut maka disusun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesiapan kawasan perdagangan- jasa Solo Baru sebagai Central Business District di Kabupaten Sukoharjo.
1.3.2 Sasaran
Adapun sasaran guna mencapai tujuan tersebut adalah:
1. Mengidentifikasi konsep kesiapan kawasan CBD
2. Mengidentifikasi karakteristik atau elemen CBD di kawasan perdagangan-jasa Solo Baru berdasarkan teori dan konsepnya.
3. Mengukur tingkat kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru sebagai CBD
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian merupakan bagian yang memaparkan tentang luasan atau cakupan penelitian, baik dari segi wilayah, waktu, mau pun substansi sehingga penelitian ini bersifat fokus dan terarah sehingga dapat berjalan mencapai tujuannya dengan efisien dan efektif sebagaimana mestinya.
1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah merupakan batasan wilayah dalam penelitian di mana cakupan ruang wilayah penelitian kawasan Solo Baru sebagai kawasan CBD ini adalah pada pusat Solo Baru yaitu sepanjang koridor jalan utama di Solo Baru seperti tercantum pada RTBL Koridor Jalan Ir. Soekarno dan Jl. Palem Raya Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh pihak DPUPR Kabupaten Sukoharjo bidang Penataan Ruang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.1 Peta Ruang Lingkup Wilayah Penelitian.
1.4.2 Ruang Lingkup Waktu
Ruang lingkup waktu adalah rentang waktu yang dibutuhkan oleh penelitian ini yaitu tahun 2018-2020. Input data yang digunakan untuk penelitian ini mayoritas merupakan data terbaru (tahun terakhir) yaitu tahun 2020. Hal ini dikarenakan penelitian dilakukan setelah adanya arahan pengembangan yang ditujukan pada
commit to user
digilib.uns.ac.id
5 kawasan Solo Baru dan untuk menilai kondisi kawasan saat ini (eksisting) sehingga diketahui kesiapannya di masa ini. Namun, peneliti juga menggunakan data tahun 2018 sebagai salah satu data acuan untuk diproyeksikan pada tahun ini.
1.4.3 Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup substansi merupakan batasan mengenai bahasan dalam penelitian ini yaitu fokus pada konsep atau teori atas kawasan Central Business District (CBD). Ada pun substansi yang dibahas disesuaikan dengan topik yang diangkat, mulai dari latar belakang munculnya penelitian, dilanjutkan dengan perumusan masalah berikut tujuan dan sasaran penelitian. Selanjutnya adalah eksplorasi dari teori-teori yang digunakan, mulai dari pemahaman awal fenomena penelitian yaitu urbanisasi hingga peri-urban, teori growth center, teori CBD (Central Business District), dan teori mengenai pengukuran bentuk kesiapan. Hal ini ditetapkan agar pembahasan penelitian dari awal hingga akhir terfokus untuk menjawab rumusan masalah.
commit to user
digilib.uns.ac.id
6 Gambar 1.1 Peta Ruang Lingkup Penelitian
Sumber : Peneliti, 2020
commit to user
digilib.uns.ac.id
7 1.5 Posisi Penelitian
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai posisi penelitian dalam ranah ilmu PWK dan posisinya terhadap penelitian-penelitian sebelumnya yang nantinya juga akan membahas mengenai persamaan serta perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya (yang telah dilakukan peneliti lain).
1.5.1 Posisi Penelitian Terhadap Ranah Perencanaan Wilayah dan Kota
Perencanaan berdasarkan ruang lingkupnya terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu perencanaan nasional, wilayah, dan kota, Pada penelitian ini akan membahas perencanaan dalam lingkup wilayah. Bahasan utama yang dimunculkan dalam perencanaan tata ruang adalah mengenai pola ruang dan struktur ruang. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Maka, pada bahasan struktur ruang ini akan lebih menyinggung pada pusat-pusat dari suatu wilayah di mana salah satu bentuk pusat adalah biasa disebut dengan CBD.
Dari pemaparan di atas, maka penelitian dengan judul “Tingkat Kesiapan Kawasan Perdagangan-Jasa Solo Baru Sebagai Central Business District di Kabupaten Sukoharjo” mempunyai hubungan dengan ilmu perencanaan wilayah dan kota. Posisi lebih jelasnya lagi dapat dilihat pada bagan berikut :
Gambar 1.2 Skema Posisi Penelitian Terhadap Ranah Ilmu PWK Sumber: Penulis, 2020
Perencanaan (Rencana Tata Ruang)
Stuktur Ruang Pola Ruang
Jaringan Sarana- Prasarana
Pusat-Pusat Aktivitas
CBD
commit to user
digilib.uns.ac.id
8 1.5.2 Posisi Penelitian Terhadap Penelitian Sebelumnya
Posisi penelitian yang dibahas pada sub bab ini adalah posisi penelitian terhadap penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Selain itu, akan dijelaskan pula mengenai perbedaan serta persamaan antara penelitian yang akan dilakukan ini dengan penelitian sebelumnya. Tujuannya adalah agar penelitian ini terbukti keasliannya serta menghindari adanya kesamaan topik bahasan sekaligus lokasi penelitian, dan lainnya.
Berikut merupakan tabel dari posisi penelitian terhadap penelitian sebelumnya:
commit to user
digilib.uns.ac.id
9 Tabel 1.1 Posisi Penelitian Terhadap Penelitian Sebelumnya
Nama Peneliti Judul Penelitian Tahun
Penelitian Tujuan Penelitian Metode Analisis Penelitian
Lokasi
Penelitian Output Persamaan dan Perbedaan
Salsabila Daniastri
Kota Solo Baru : Ketergantungan
atau Kemandirian?
2016
Untuk mengevaluasi ketergantungan unsur Kota Solo Baru saat ini dan
menggambarkan proses
perkembangannya untuk mengetahui prospek
perkembangan Kota Solo Baru di masa depan
Metode Analisis Evaluasi Formatif
Deskripsi Kualitatif
Kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo
Tingkat ketergantung- an Solo Baru terhadap Kota Surakarta
Proses perkembang- an Solo Baru di tahun penelitian
Persamaan : Lokus penelitian, yaitu kawasan Solo Baru
Perbedaan : Penelitian Daniastri ditujuan untuk mengetahui
ketergantungan Solo Baru terhadap Kota Surakarta, sedangkan penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kesiapan Solo Baru sebagai kawasan CBD
Dina Arifia
Pengaruh Perkembangan
Kegiatan Perdagangan dan
Jasa Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan
Solo Baru
2016
Mengetahui pengaruh dari perkembangan kegiatan perdagangan dan jasa terhadap penggunaan lahan Kawasan Solo Baru
Metode analisis eksplanasi kualitatif dan deskriptif spasial
Kawasan Solo Baru
Perkembang- an
perdagangan dan jasa yang dilihat dari jumlah sarana, jangkauan kegiatan, serta luas lantai bangunan
Persamaan :
Lokasi penelitian yang sama, yaitu Solo Baru.
Tema besarnya juga cenderung sama yaitu berbicara mengenai aspek ekonomi wilayah/kota
Perbedaan : Penelitian Arifia berfokus untuk mengetahui
perkembangan salah satu
commit to user
digilib.uns.ac.id
10
Pengaruh yang ditimbulkan bernilai rendah pada luas lahan, dan bernilai sedang pada intensitas lahan
komponen CBD yaitu perdagangan dan jasa berikut pula pengaruhnya terhadap tata guna lahan Solo Baru, sedangkan penelitian ini akan meneliti kesiapan Solo Baru sebagai kawasan CBD
Muh Rizal Fernandita Pamungkas
Kesiapan Pengembangan
Kawasan Commercial Strip di Kota Surakarta
Bagian Utara
2017
Untuk mengetahui kesiapan wilayah Surakarta Utara sebagai kawasan Commercial Strip dilihat dari aspek fisik dan nonfisik kawasan
Metode teknik analisis statistik deskriptif dan overlay peta tematik
Wilayah Surakarta Bagian Utara
Tingkat kesiapan pengembang- an kawasan commercial strip di Surakarta bagian utara
Persamaan :
Tujuannya sama-sama untuk mengetahui kesiapan suatu wilayah atau kawasan sebagai kawasan tertentu.
Tema besar penelitian juga cenderung sama yaitu pada aspek ekonomi
Perbedaan :
Lokasi penelitian yang berbeda yaitu Surakarta pada penelitian
Pamungkas, dan
Sukoharjo pada penelitian ini.
Konsep yang diangkat pada lokasi penelitian juga berbeda walau masih dalam payung tema yang
commit to user
digilib.uns.ac.id
11 sama yaitu Commercial Strip pada penelitian Pamungkas, dan CBD pada penelitian ini.
Sumber: Peneliti, 2020
commit to user
digilib.uns.ac.id
12 1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian dilakukan tentu berusaha atau diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masa yang akan datang. Manfaat dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu manfaat secara teoritis dan secara praktisnya.
1.6.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, manfaat penelitian ini adalah untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota yaitu dengan menambah pengetahuan mengenai kesiapan sebuah wilayah terhadap arah pengembangannya.
Selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi praktisi maupun masyarakat dalam menambah wawasan, memahami mengenai CBD, dan sebagai referensi penelitian-penelitian selanjutnya.
1.6.2 Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru sebagai kawasan CBD, sehingga diharapkan pula setelahnya dapat bermanfaat bagi pemerintah, perencana, maupun stakeholder lainnya terutama dalam melakukan pengembangan kawasan CBD Solo Baru ini dengan sebaik-baiknya. Hasil akhir dari penelitian ini pun dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk memperbaiki apa yang kurang dari keadaan sekarang untuk menjadikan kawasan CBD Solo Baru berhasil di masa yang akan datang.
commit to user
digilib.uns.ac.id
13 1.7 Alur Penelitian
Alur penelitian merupakan alur yang akan dilakukan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian ini, adapun alur tersebut sebagai berikut:
Tujuan dan Sasaran Rumusan Masalah Latar Belakang
Fenomena urbanisasi di Kota Surakarta yang berdampak pada perubahan fisik di periurban bagian
selatannya, yaitu Solo Baru yang pada awal pengembangannya memiliki arah sebagai permukiman
skala besar berlanjut pada kota mandiri
Keadaan lapangan yang kurang mendapat perhatian dari pengelola
dan kawasan Solo Baru masih memiliki ketergantungan Kota Surakarta (Daniastri,
2016).
Bagaimana kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru untuk dikembangkan menjadi Central Business District di Kabupaten Sukoharjo?
Tujuan : Mengetahui kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru sebagai Central Business District di Kabupaten Sukoharjo
Sasaran :
1. Mengidentifikasi konsep kesiapan pengembangan kawasan CBD
2. Mengidentifikasi karakteristik atau elemen CBD di kawasan perdagangan-jasa Solo Baru berdasarkan teori dan konsepnya.
3. Mengukur tingkat kesiapan kawasan Solo baru sebagai kawasan CBD Dalam
perkembangannya, kawasan perdagangan-jasa Solo Baru memiliki
perubahan arah yaitu menjadi kawasan CBD
Teori
1. Urbanisasi 4. CBD
2. Peri Urban 5. Kesiapan
3. Growth Center 6. Kesiapan Kawasan CBD
Data
Kondisi Eksisting Kawasan CBD Solo Baru, Grogol, Sukoharjo
Analisis
1. Analisis kesiapan kawasan dari setiap variabel Kesiapan Kawasan CBD 2. Analisis skoring tingkat kesiapan kawasan CBD
Kesimpulan
Tingkat kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru sebagai Central Business District di Kabupaten Sukoharjo
Gambar 1.3 Alur Penelitian Sumber: Peneliti, 2020
commit to user
digilib.uns.ac.id
14 1.8 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam tugas akhir ini tersusun dalam 6 bab dengan penjelasan dari masing-masing bab sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang mengapa penelitian dilakukan, rumusan masalah, tujuan, sasaran, manfaat, posisi penelitian, ruang lingkup penelitian mulai dari ruang lingkup wilayah, waktu, dan substansi, serta terdapat pula alur penelitian yang akan dilakukan dan sistematika penulisan.
BAB II. TINJAUAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang digunakan sebagai acuan penelitian sehingga penelitian lebih mudah untuk dipahami. Adapun tinjauan teori ini akan membahas tentang urbanisasi, periurban, growth center, CBD, dan pengukuran kesiapan.
BAB III. METODE PENELITIAN
Uraian mengenai pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan yaitu pendekatan deduktif dengan jenis penelitian kuantitatif. Selain itu bab ini juga menguraikan variabel operasional yang diuji sebagai indikator penilaian kesiapan kawasan pusat bisnis, kebutuhan data dan teknik pengumpulannya, serta teknik analisis yang akan digunakan.
BAB IV. DATA DAN ANALISIS
Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum dari kondisi wilayah cakupan penelitian dan analisis pengukuran tingkat kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru sebagai CBD.
BAB V. PEMBAHASAN
Pada bab ini lah pembahasan dari hasil seluruh rangkaian analisis yang sudah dilakukan di bab sebelumnya akan dijelaskan sehingga diketahui di dalamnya mengenai kondisi kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru sebagai Central Business District.
BAB VI. KESIMPULAN
Bab terakhir pada produk penelitian yang berisi sintesis dan jawaban mengenai bagaimana tingkat kesiapan kawasan perdagangan-jasa Solo Baru sebagai Central Business District di Kabupaten Sukoharjo. Selain itu akan dipaparkan pula mengenai rekomendasi atau usulan-usulan dari studi yang sudah dilakukan dari penelitian ini
commit to user
digilib.uns.ac.id