• Tidak ada hasil yang ditemukan

DARMILISANI /IM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DARMILISANI /IM"

Copied!
217
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI DAN PENGAWASAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS

KERJA KARYAWAN PRODUKSI MAWAR BAKERY DENGAN MOTIVASI SEBAGAI

VARIABEL MODERATING

TESIS

Oleh:

DARMILISANI 157019068/IM

MAGISTER ILMU MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ANALISIS PENGARUH TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI DAN PENGAWASAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS

KERJA KARYAWAN PRODUKSI MAWAR BAKERY DENGAN MOTIVASI SEBAGAI

VARIABEL MODERATING

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

DARMILISANI 157019068/IM

MAGISTER ILMU MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)

Judul Tesis : ANALISIS PENGARUH TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI DAN PENGAWASAN

KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS

KERJA KARYAWAN PRODUKSI MAWAR BAKERY DENGAN MOTIVASI SEBAGAI VARIABEL MODERATING

Nama Mahasiswa : DARMILISANI Nomor Pokok : 157019068

Program Studi : Ilmu Manajemen

Menyetujui, Komisi Pembimbing

K e t u a Anggota

(Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE) (Dr. Elisabet Siahaan, S.E., M.Ec)

Ketua Program Studi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

(Dr. Endang Sulistya Rini, S.E., M.Si.) (Prof Dr. Ramli, S.E., MSi.

Tanggal Lulus : 01 Februari 2018

(4)

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji pada Tanggal : 01 Februari 2018

DEWAN PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE.

Anggota : 1. Dr. Elisabet Siahaan, S.E., M.Ec.

2. Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M. Eng.

3. Dr. Arlina Nurbaity Lubis, S.E., MBA.

4. Dr. Yeni Absah, S.E., M.Si.

(5)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Dengan ini Saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul: “ANALISIS

PENGARUH TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI DAN

PENGAWASAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA

KARYAWAN PRODUKSI MAWAR BAKERY DENGAN MOTIVASI SEBAGAI VARIABEL MODERATING” adalah benar hasil karya Saya sendiri yang belum pernah dipublikasi oleh siapapun sebelumnya.

Adapun pengutipan-pengutipan yang Penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah Penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya Penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, Penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang Penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, Februari 2018 Yang Menyatakan,

DARMILISANI Nim. 157019068

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas nikmat karunia dan kasih sayang-Nya sehingga peneliti dapat menyusun dan menyelesaikan tesis ini dengan baik.

Penelitian ini merupakan tugas akhir pada Program Studi Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Judul dalam penelitian ini adalah “Analisis Pengaruh Tata Letak Fasilitas Produksi Dan Pengawasan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Produksi Mawar Bakery Dengan Motivasi Sebagai Variabel Moderating”.

Peneliti sangat menyadari bahwa dalam penelitian tesis ini banyak menerima masukan dari berbagai pihak yang membantu, membimbing serta memberi semangat pada peneliti untuk menyelesaikan tesis ini. Atas dasar itu peneliti menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Ramli, M.S., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, S.E., M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan waktu dan ilmu kepada Saya, serta dengan sabar membimbing dan mengarahkan Saya dalam menyelesaikan tesis ini dengan baik.

5. Ibu Dr. Elisabet Siahaan, S.E., M.Ec., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan waktu dan ilmu kepada Saya, serta dengan sabar membimbing dan mengarahkan Saya dalam menyelesaikan tesis ini dengan baik.

6. Bapak Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M. Eng., Ibu Dr. Arlina Nurbaity Lubis, S.E., MBA., Ibu Dr. Yeni Absah, S.E., selaku Komisi Pembanding

(7)

yang telah meluangkan waktu, memberikan kritikan, masukan serta pengarahan untuk kesempurnaan tesis ini.

7. Bapak dan Ibu pengajar Program Studi Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan banyak ilmu dan wawasan yang sangat bermanfaat bagi peneliti.

8. Bapak dan ibu pegawai administrasi Program Studi Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang membantu dan melayani peneliti khususnya mengenai administrasi.

9. Suami tercinta dan terkasih Muhammad Syafwan, S.H., M.H yang telah setia, penuh kasih sayang, pengertian dan sabar dalam membantu dan mendukung peneliti selama masa perkuliahan dan menyelesaikan tesis ini dengan baik.

10. Buah hatiku, sayangnya bunda, cintanya bunda seorang “Althafa Renanda” yang selalu memberi semangat dengan segala tingkahnya yang lucu, menemani bundanya tiap malam untuk menyelesaikan tesis ini dengan baik.

11. Orang tua tercinta, Ayahanda Sudarmadi, Ibunda Alm. Fatimah dan Ibunda Sukesih yang telah mencurahkan segenap perhatian, kasih sayang dan doanya yang tak terhingga kepada anak kebanggaan “Darmilisani”

hingga menyelesaikan pendidikan dengan baik.

12. Kakak tercinta Darmaherina, Spd, Dartarudino dan Adik Darjariyanu yang selalu memberikan doa serta dukungannya agar peneliti dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.

13. Kepada seluruh Karyawan dan pihak Manajemen Mawar Group kepada Ir.

Sandy yang telah membantu peneliti dalam menggambar design produksi Mawar, kepada Asisstenku yang sangat baik Neli Kesen Aleha, SH dan Dodi Irwansyah telah membantu dalam mensukseskan penelitian ini serta terkhusus untuk Ibu Dewi Wulandari yang telah mendukung untuk pelaksanaan penelitian ini dan telah memberi kesempatan yang sangat luar biasa kepada peneliti untuk menyelesaikan pendidikan dengan baik.

(8)

14. Seluruh mahasiswa Angkatan 2015 Program Studi Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara khususnya Bang Perkasa Alkhudri Ichwan, Dek Devidayanti Siregar, Dek Rusmewahni, Dek Nindya Yunita dan kepada Bang Ishbir Mujahid Adha yang selalu membantu dan memberikan semangat dalam menyelesaikan tesis ini.

15. Seluruh pihak yang terkait yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu dalam penelitian tesis ini.

Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari sempurna. Komentar, kritik, dan saran sangat penulis harapkan. Akhirnya, penulis berharap tesis ini membawa manfaat bagi kita semua.

Semoga Tuhan memberikan limpahan berkah dan anugerah-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moral maupun materil kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis ini.

Medan, Februari 2018 Penulis,

DARMILISANI Nim. 157019068

(9)

RIWAYAT HIDUP

Darmilisani, lahir di Bangun Bandar 30 Mei 1986, anak bungsu dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Sudarmadi dan Ibu Alm. Fatimah.

Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 1998 di SD Negeri 010189 Lima Puluh. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama pada tahun 2001 di MTs Islamiyah Gunung Bayu, kemudian menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas pada tahun 2004 di Taman Madya Perguruan Taman Siswa Tebing Tinggi dan pernah memperoleh prestasi Juara II Olimpiade Biologi sekota Tebing Tinggi dan Juara I Tes Uji Kemampuan. Pada tahun 2004 penulis memperoleh undangan dari Universitas Sumatera Utara diberi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan D-3 Analis Farmasi pada Fakultas Farmasi dan selesai di tahun 2007. Pada tahun 2007 hingga 2011 penulis pernah bekerja di PT Socfin Indonesia – Socfindo Seeds Production & Laboratory (SSP & Labs) Bangun Bandar sebagai Staf Lab. ID. Selama bekerja di tahun 2009 hingga 2011 penulis melanjutkan pendidikan S-1 Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Sumatera Utara. Di tahun 2012 penulis dilamar oleh seorang pemuda yang sangat tampan dan mapan Muhammad Syafwan, S.H., M.H., dan menikah ditahun tersebut, dikaruniai seorang buah hati yang sangat sempurna bernama Althafa Renanda. Tahun 2011 sampai dengan sekarang, penulis bekerja sebagai Manajer HRD & GA pada Mawar Group terdiri dari (Mawar Bakery, Oke Supermarket, Mawar Ice Cream, Mawar Coffee dan Mawar Coklat). Kemudian tahun 2016 penulis diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan pada Program Studi Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan dinyatakan lulus oleh Dewan Penguji pada tanggal 01 Februari 2018 dengan nilai yang sangat memuaskan.

Medan, Februari 2018 Penulis,

DARMILISANI

(10)

ANALISIS PENGARUH TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI DAN PENGAWASAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA

KARYAWAN PRODUKSI MAWAR BAKERY DENGAN MOTIVASI SEBAGAI VARIABEL MODERATING

Abstrak

Setiap perusahaan selalu menginginkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai aset berharga yang terus dicari dan dipertahankan. Untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal, perusahaan harus dapat mengoptimalkan faktor pendukung dari produktivitas karyawan itu sendiri.

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan produktivitas diantaranya tata letak fasilitas produksi dan pengawasan kerja yang ada di sebuah perusahaan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh tata letak fasilitas produksi dan pengawasan kerja yang ada pada karyawan produksi Mawar Bakery dengan penambahan motivasi sebagai variabel moderating, sehingga dapat menghasilkan produktivitas yang baik dari para karyawan produksi yang ada. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dan sifat penelitian merupakan penjelasan (eksplanatory research).

Populasi meliputi karyawan produksi yang berada pada Mawar Pinang Baris, Mawar Setia Budi dan Mawar Gatot Subroto berjumlah 132 orang dengan sampel sebanyak 100 orang yang diambil secara simple random sampling.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi dan menyebarkan daftar pertanyaan (kuesioner). Teknik analisis data dengan menggunakan analisis regresi MRA (Moderating Regression Analysis). Hasil pengujian tanpa efek moderasi menunjukkan bahwa tata letak fasilitas produksi dan pengawasan kerja masing-masing berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan produksi Mawar Bakery.

Pengawasan kerja menjadi faktor dominan dalam meningkatkan produktivitas dibandingkan dengan tata letak fasilitas produksi. Hasil pengujian dengan efek moderasi menunjukkan bahwa motivasi bukan sebagai variabel yang mampu memoderasi pengaruh dari variabel pengawasan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan produksi. Dengan demikian produktivitas karyawan produksi akan semakin meningkat jika tata letak fasilitas yang tersedia dan pengwasan kerja yang diterapkan pada Mawar Bakery telah sesuai dengan kebutuhan, sehingga karyawan produksi mampu bekerja secara efektif dan efisien.

Kata Kunci :Tata Letak Fasilitas Produksi, Pengawasan Kerja, Motivasi, Produktivitas Kerja

(11)

AN ANALYSIS ON THE INFLUENCE OF PRODUCTION FACILITY LAYOUT AND WORK MONITORING ON WORK PRODUCTIVITY

OF THE EMPLOYEES OF MAWAR BAKERY WITH MOTIVATION AS MODERATING VARIABLE

Abstract

Every company always desires quality human resources as a valuable asset sought for and maintained. In order to get optimal work output, a company has to optimize the supporting factors of its employees. One of the factors that can increase productivity is production facility layout and work monitoring in the company. The objective of the research was to find out and analyze the influence of production facility layout and work monitoring on the employees in the production unit of Mawar Bakery with motivation as moderating variable, so that good productivity can be achieved by the production employees. This is a quantitative descriptive research which is also an explanatory research. The population was employees in the production unit of Mawar Bakery Pinang Baris, Mawar Bakery Setia Budi and Mawar Bakery Gatot Subroto total 132 people and 100 people were taken as the samples by employing simple random sampling technique. The data were collected through document study and questionnaires. Moderating Regression Analysis was applied as the data analysis technique. The results of the testing without moderating effect demonstrated that production facility layout and work monitoring each had positive and significant influence on the productivity of the employees in production unit of Mawar Bakery. Work monitoring became the more dominant factor to increase productivity than production facility layout. The result of the testing with moderating effect demonstrated that motivation was the variable that was able to moderate the influence of work monitoring on productivity of the employees in the production unit. Therefore, productivity of the employees will be increase if the available facility layout and work monitoring implemented by Mawar Bakery in accordance with the needs, so that the employees would work effectively and efficiently.

Keywords: Production Facility Layout, Work Monitoring, Motivation, Work Productivity

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

RIWAYAT HIDUP ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 17

1.3 Tujuan Penelitian ... 17

1.4 Manfaat Penelitian ... 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 19

2.1. Teori Tentang Tata Letak ... 19

2.1.1. Pengertian Tata Letak ... 19

2.1.2. Tujuan Perencanaan dan Pengaturan Tata Letak ... 21

2.1.3. Perencanaan Tata Letak Produksi ... 25

2.1.4. Tipe Tata Letak Produksi ... 27

2.1.5. Pertimbangan Dalam Perencanaan Pabrik Baru ... 30

2.1.6. Pengertian Umum Material Handling ... 31

2.1.7. Tujuan Utama Kegiatan Material Handling ... 32

2.1.8. Dimensi Pengukuran Tata Letak ... 33

2.2. Teori Tentang Pengawasan ... 34

2.2.1. Pengertian Pengawasan ... 34

2.2.2. Prinsip Pengawasan ... 36

2.2.3. Proses Pengawasan ... 38

2.2.4. Teknik Pengawasan ... 39

2.2.5. Standar Pengawasan ... 41

2.2.6. Indikator Pengawasan ... 42

2.3. Teori Tentang Motivasi ... 43

2.3.1. Pengertian Motivasi ... 43

2.3.2. Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi ... 48

2.3.3. Tujuan Pemberian Motivasi ... 49

2.3.4. Jenis-Jenis Motivasi ... 50

2.3.4. Indikator Motivasi ... 51

2.4. Teori Tentang Produktivitas Kerja ... 54

2.4.1. Pengertian Produktivitas Kerja ... 54

2.4.2 Sumber Produktivitas Kerja ... 57

2.4.3. Prinsip-Prinsip Produktivitas Kerja ... 59

(13)

2.4.4. Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja ... 59

2.4.5. Faktor Yang Menyebabkan Turunnya Produktivitas ... 61

2.4.6. Faktor Yang Menentukan Produktivitas Kerja ... 62

2.4.7. Pengukuran Produktivitas Kerja ... 64

2.5. Penelitian Terdahulu ... 69

2.6. Kerangka Konseptual ... 79

2.6.1. Pengaruh Tata Letak Terhadap Produktivitas Kerja ... 79

2.6.2 Pengaruh Pengawasan Terhadap Produktivitas Kerja ... 79

2.6.3. Motivasi Sebagai Variabel Moderasi Menguatkan Pengaruh Pengawasan Terhadap Produktivitas ... 81

2.7. Hipotesis ... 82

BAB III METODE PENELITIAN ... 83

3.1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 83

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 84

3.3. Populasi dan Sampel ... 84

3.3.1. Populasi ... 84

3.3.2. Sampel ... 84

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 86

3.5. Jenis dan Sumber Data ... 87

3.6. Identifikasi dan Operasional Variabel ... 88

3.7. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ... 91

3.7.1. Uji Validitas ... 91

3.7.2. Uji Reliabilitas ... 93

3.8. Teknik Analisis Data ... 94

3.8.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 94

3.8.2. Analisis Statistik Inferensial ... 95

3.8.3. Pengujian Asumsi Klasik ... 95

3.8.3.1. Uji Normalitas ... 96

3.8.3.2. Uji Multikolinearitas ... 97

3.8.3.3. Uji Heteroskedastisitas ... 97

3.8.4. Pengujian Hipotesis ... 98

3.8.4.1. Pengujian Koefisien Determinasi (R2) ... 99

3.8.4.2. Pengujian Secara Serempak/Simultan (Uji F) .... 99

3.8.4.3. Pengujian Secara Parsial (Uji t) ... 100

3.8.4.4. MRA (Moderating Regression Analysis) ... 101

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 102

4.1. Hasil Penelitian ... 102

4.1.1. Deskripsi Objek Penelitian ... 102

4.1.1.1. Gambaran Umum Mawar Bakery ... 102

4.1.1.2. Struktur Organisasi ... 104

4.1.1.3. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab ... 104

4.1.2. Karakteristik Responden ... 108

4.1.2.1. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 108

4.1.2.2. Responden Berdasarkan Usia ... 109

4.1.2.3. Responden Berdasarkan Masa Kerja ... 110

(14)

4.1.3. Analisis Statistik Deskriptif ... 112

4.1.3.1. Penjelasan Responden Variabel Tata Letak ... 112

4.1.3.2. Penjelasan Responden Variabel Pengawasan ... 119

4.1.3.3. Penjelasan Responden Variabel Motivasi ... 126

4.1.3.4. Penjelasan Responden Variabel Produktivitas .... 134

4.1.4. Analisis Statistik Inferensial ... 140

4.1.4.1. Pengujian Asumsi Klasik Tanpa Moderasi ... 140

4.1.4.2. Hasil Regresi Model Tanpa Moderasi ... 145

4.1.4.3. Pengujian Asumsi Klasik Dengan Moderasi ... 147

4.1.4.4. Hasil Regresi Model Dengan Moderasi ... 152

4.1.5. Evaluasi Efek Moderasi ... 154

4.1.6. Hasil Pengujian Hipotesis ... 154

4.2. Pembahasan Hasil Penelitian ... 157

4.2.1. Pengaruh Tata Letak Produksi Terhadap Produktivitas .. 157

4.2.2. Pengaruh Pengawasan Kerja Terhadap Produktivitas ... 159

4.2.3. Moderasi Motivasi dalam Pengaruh Pengawasan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan ... 162

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 165

5.1. Kesimpulan ... 165

5.2. Saran ... 166

DAFTAR PUSTAKA ... 171

LAMPIRAN ... 175

(15)

DAFTAR TABEL

No. Judul Hal.

1.1. Perkembangan Produksi Mawar Bakery Tahun 2014 – 2016 ... 5

1.2. Waktu Transportasi ... 7

1.3. Data Jumlah Gagal Produk, Jumlah Tester, Jumlah Barang Sisa Pada Mawar Bakery Tahun 2014 – 2016 ... 9

1.4. Data Pelanggaran Karyawan Produksi Mawar Bakery ... 12

1.5. Peraturan Hukuman Surat Peringatan Mawar Bakery ... 13

1.6. Pernyataan Karyawan Terhadap Pengawasan Mawar Bakery ... 14

2.1. Penelitian Terdahulu ... 77

3.1. Daftar Karyawan Produksi Mawar Bakery ... 84

3.2. Daftar Sampel ... 85

3.3. Operasionalisasi Variabel Penelitian ... 89

3.4. Hasil Uji Validitas ... 91

3.5. Hasil Uji Reliabilitas ... 94

4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 109

4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja ... 110

4.3. Hasil Jawaban Responden atas Variabel Tata Letak (X1)... 113

4.4. Hasil Jawaban Responden atas Variabel Pengawasan Kerja (X1)... 119

4.5. Hasil Jawaban Responden atas Variabel Motivasi (Z)... 127

4.6. Hasil Jawaban Responden atas Variabel Produktivitas Kerja (Y)... 134

4.7. Uji Kolmogrof-Smirnov Model Tanpa Moderasi ... 141

4.8. Statistik Kolinearitas Model Tanpa Moderasi ... 143

4.9 Uji Glejser Model Tanpa Moderasi ... 144

4.10. Koefisien Determinasi Model Tanpa Moderasi ... 145

4.11. ANOVA Model Tanpa Moderasi ... 146

4.12. Koefisien Regresi Model Tanpa Moderasi ... 146

4.13. Uji Kolmogrof-Smirnov Model Tanpa Moderasi ... 148

4.14. Statistik Kolinearitas Model Tanpa Moderasi ... 150

4.15. Uji Glejser Model Tanpa Moderasi ... 151

4.16. Koefisien Determinasi Model Tanpa Moderasi ... 152

4.17. ANOVA Model Tanpa Moderasi ... 152

4.18. Koefisien Regresi Model Tanpa Moderasi ... 153

4.19. Pengujian Hipotesis Penelitian ... 155

(16)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Hal.

2.1. Kerangka Konseptual ……… 82

4.1. Struktur Organisasi Mawar Group ……… 104

4.2. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ……… 108

4.3. Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ………. 111

4.4. Rata-Rata Indikator Variabel Tata Letak Fasilitas Produksi …… 118

4.5. Rata-Rata Indikator Variabel Pengawasan Kerja ………. 126

4.6. Rata-Rata Indikator Variabel Motivasi ………. 133

4.7. Rata-Rata Indikator Variabel Produktivitas Kerja ……… 139

4.8. P-p Plot Residual Model Tanpa Moderasi ……… 141

4.9. Grafik Histogram Model Tanpa Moderasi ………... 142

4.10. Uji Heteroskedastisitas Model Tanpa Moderasi ………... 145

4.11. P-p Plot Residual Model Dengan Moderasi ………. 148

4.12 Grafik Histogram Model Dengan Moderasi ………. 149

4.13 Uji Heteroskedastisitas Model Dengan Moderasi ……… 151

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Hal.

1 Denah Ruang Produksi Mawar Bakery ... 175

2 Kuesioner Penelitian ... 181

3 Distribusi Jawaban Validitas dan Reliabilitas ... 186

4 Distribusi Jawaban Responden Penelitian ... 188

5 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 192

6 Uji Asumsi Klasik ... 196

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya setiap perusahaan yang didirikan mempunyai harapan bahwa kelak akan mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam lingkup usaha dari perusahaan tersebut. Perusahaan itu menginginkan tercapainya produktivitas yang tinggi dalam bidang kerjanya. Dalam usaha pencapaian tujuan tersebut, maka perlu adanya peningkatan produktivitas kerja karyawan.

Produktivitas kerja pada hakekatnya meliputi sikap yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa metode kerja hari ini harus lebih baik dari pada metode kerja hari kemarin, dan hasil yang dapat diraih esok hari harus lebih banyak atau lebih bermutu daripada hasil yang diraih hari ini.

Produktivitas kerja adalah perbandingan antara hasil (output) yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja (input) persatuan waktu, (Schroeder, 2007).

Produktivitas kerja merupakan motif ekonomi untuk memperoleh hasil maksimal dengan biaya tertentu, dimana dalam pelaksanaannya produktivitas banyak terletak pada faktor sebagai pelaksana kegiatan perusahaan yaitu, para anggota, karyawan atau pekerja.

Suatu perusahaan atau organisasi tidak dapat mencapai tujuannya secara efisien dan efektif apabila produktivitas kerja karyawan rendah. Oleh sebab itu produktivitas menjadi penting yang selalu ingin ditingkatkan karena dapat menggambarkan tingkat efesiensi kerja karyawan. Dalam mencapai target produktivitas sumber daya manusia memegang peran penting, karena kegiatan

1

(19)

perusahaan tidak mungkin dapat dilakukan dengan baik tanpa didukung oleh sumber daya manusia. Maka diperlukan suatu rangsangan untuk meningkatkan produktivitas kerja, agar memperoleh hasil untuk mencapai tujuan perusahaan

Dalam hal peningkatan produktivitas kerja rangsangan tersebut dapat berupa motivasi, dimana perbedaan perilaku diantara karyawan membuat manager harus memahami motivasi yang dimiliki oleh masing-masing karyawan, bagaimana memotivasi karyawan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Motivasi ini akan terlihat melalui perilaku karyawan. Karyawan akan melaksanakan tugasnya dengan maksimal jika ia memiliki motivasi yang kuat, sebaliknya ia akan tidak bersungguh-sungguh dan tidak serius dalam melaksanakan tugasnya bahkan melakukan pelanggaran jika ia tidak memiliki motivasi yang kuat. Sesuai dengan pendapat Siagian (2011), menyatakan bahwa dalam kehidupan berorganisasi, aspek motivasi mutlak mendapatkan perhatian serius dari para pimpinan, karena empat pertimbangan utama yaitu (1) Filasafat hidup manusia berkisar pada prinsip “quit pro quo”, yang dalam bahasa awam dicerminkan dalam pepatah “ada ubi ada talas, ada budi ada balas”, (2) Dinamika kebutuhan manusia sangat kompleks, tidak hanya soal materi tetapi juga psikologis, (3) Tidak ada titik jenuh dalam pemenuhan kebutuhan manusia, (4) Perbedaan karakteristik individu dalam perusahaan mengakibatkan tidak ada satupun teknik motivasi yang sama efektif untuk semua orang dalam organisasi juga untuk seseorang pada waktu dan kondisi yang berbeda-beda.

(20)

Faktor penting lainnya dalam meningkatkan produktivitas adalah pengawasan kerja, dimana setiap perusahaan memerlukan pengawasan dari pihak manajer. Pengawasan ini dilakukan oleh manajer sebagai suatu usaha membandingkan apakah yang dilakukan sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Hal ini berarti juga pengawasan merupakan tindakan atau kegiatan manajer yang mengusahakan agar pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil kerja yang dikehendaki.

Menurut Manullang (2014) pengawasan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menetapkan standar pekerjaan apa yang akan dilaksanakan, menilainya, dan perlu mengoreksi dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula. Pengawasan merupakan bentuk perhatian yang tepat sehingga para karyawan merasa dihargai, merasa bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya hingga akhirnya mereka merasakan kepuasan batin.

Oleh karena itu, pihak perusahaan harus melakukan pengawasan yang lebih baik lagi agar tidak terjadinya penyimpangan ataupun hal-hal yang tidak diinginkan. Pelaksanaan pengawasan sangatlah penting dalam sebuah perusahaan, terutama terhadap karyawan. Pada dasarnya, setiap instruksi yang disampaikan kepada bawahan harus diawasi oleh pimpinan sehingga pimpinan pun mampu mengambil tindakan apabila ada terjadi kesalahan, kelalaian akan tugas yang dijalani oleh para karyawannya sehingga produktivitas karyawan semakin meningkat.

Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas tersebut adalah tata letak fasilitas produksi. Perencanaan tata letak fasilitas produksi ini merupakan aspek yang penting karena hal ini sangat berpengaruh terhadap

(21)

kelancaran proses produksi, efisiensi dan efektivitas kerja perusahaan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.

Perencanaan tata letak adalah fase yang termasuk dalam desain dari suatu sistem produksi. Tujuan dari tata letak adalah untuk memperkembangkan sistem produksi, sehingga dapat mencapai kebutuhan kapasitas dan kualitas dengan rencana yang paling ekonomis. Perencanaan tata letak yang baik dapat membantu kita dalam produksi, di mana dengan penempatan fasilitas yang baik, maka material handing dan material movement dapat ditekan sedikit mungkin sehingga menurunkan cost yang berarti perusahaan lebih efisien. Menurut Heizer dan Barry (2016), Tata letak adalah salah satu keputusan mengenai penataan letak fasilitas produksi untuk efisiensi operasi perusahaan dalam jangka panjang. Masalah di dalam pengaturan tata letak dapat mengakibatkan ketidaknyamanan karyawan pada saat bekerja dan mengganggu aliran produksi pada suatu perusahaan.

Semakin lama, desain tata letak perlu dipandang sebagai suatu yang dinamis. Hal ini berarti mempertimbangkan peralatan yang kecil, mudah dipindahkan dan fleksibel sehingga dapat merespon dengan cepat dan mudah terhadap perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada saat proses produksi.

Untuk mendapatkan fleksibilitas dalam tata letak, diperlukan adanya suatu pelatihan karyawan secara bersilang, merawat peralatan, menjaga investasi tetap rendah, menempatkan sel kerja secara berdekatan dan menggunakan peralatan yang kecil dan mudah dipindahkan. Apabila hal tersebut dapat terpenuhi dengan baik, maka kebutuhan karyawan dalam kegiatan proses produksi akan menghasilkan produktivitas yang optimal pada karyawan tersebut.

(22)

Begitu pula pada Mawar Bakery merupakan perusahaan bergerak dibidang makanan. Dalam kegiatan usahanya Mawar Bakery harus mampu beroperasi agar target produksi dapat tercapai, dengan hasil produk yang berkualitas, cita rasa yang sesuai serta aman untuk dikonsumsi. Perusahaan ini melakukan kegiatan produksinya secara semi manual, banyak mesin produksi yang dioperasikan oleh tenaga kerja manusia, sehingga perlu dilakukan pengukuran produktivitas tenaga kerja untuk mengetahui seberapa besar tingkat efisiensi penggunaan sumberdaya manusia tersebut, karena produktivitas tenaga kerja manusia cenderung lebih tidak stabil dibandingkan dengan mesin.

Berdasarkan survey yang dilakukan adanya indikasi penurunan produktivitas kerja karyawan Mawar Bakery yang dapat dilihat dari perkembangan produktivitas dalam hal ini ditunjukkan berdasarkan perkembangan produksi pada Tabel 1.1 berikut ini:

Tabel 1.1

Perkembangan Produksi Mawar Bakery Tahun 2014 - 2016

Tahun Target Produksi (ton)

Pencapaian Produksi (ton)

Jumlah Karyawan (orang)

Produktivitas Karyawan (perorang perton) Mawar Pinang Baris

2014 430 411 54 7,61

2015 430 431 54 7,98

2016 430 356 54 6,59

Mawar Setia Budi

2014 400 408 48 8,50

2015 400 397 48 8,27

2016 400 350 48 7,29

Mawar Gatot Subroto

2014 300 294 30 9,80

2015 300 285 30 9,50

2016 300 250 30 8,33

Sumber : Departemen Keuangan Mawar Bakery (2017).

Tabel 1.1 dapat dijelaskan bahwa data produktivitas karyawan dapat diukur secara parsial (pencapaian produksi dibagi dengan jumlah karyawan), sehingga terlihat jelas bahwa adanya penurunan produktivitas kerja karyawan

(23)

produksi Mawar Pinang Baris, Mawar Setia Budi dan Mawar Gatot Subroto dilihat dari tahun 2014, 2015 dan 2016. Selain itu dari ketiga tempat produksi Mawar tersebut, Mawar Pinang Baris memiliki produktivitas lebih rendah dibanding dengan Mawar Setia Budi dan Mawar Setia Budi memiliki produktivitas lebih rendah dibanding dengan Mawar Gatot Subroto. Kemudian dilihat dari tahun ke-tiga yaitu tahun 2016 hampir semua tempat produksi mengalami penurunan produktivitas. Hal ini jika tidak diperhatikan oleh manajemen Mawar Bakery maka bukan mustahil dimasa yang akan datang turunnya produktivitas akan menjadi masalah bagi manajemen perusahaan.

Mawar Bakery selalu memberikan beragam produk yang berkualitas untuk semua konsumennya. Saat ini tersedia lebih dari 400 jenis produk yang disajikan dengan kualitas yang baik dan selalu fresh from the oven setiap harinya (Mawar Bakery, 2017). Dalam kegiatan proses produksi karyawan dituntut agar mampu memproduksi dengan kualitas yang baik, yaitu dari cita rasa dan bentuk hasil produk sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) perusahaan. Selain itu, karyawan dituntut agar dapat menyelesaikan produknya dengan cepat. Sehingga, produk yang cepat diselesaikan dapat segera dijual kepada konsumen.

Dengan adanya tugas pokok tersebut, sering mengalami kendala pada kegiatan proses produksi. Dimana kondisi ruang produksi dalam bentuk rumah toko (ruko) dan bentuk ruko yang dirancang, dalam hal penempatan mesin-mesin produksi dirasa kurang efektif dan efisien. Dalam proses produksinya Mawar Bakery menggunakan tipe tata letak yang diatur dengan mengkombinasi antara tata letak berdasarkan aliran produk dan tata letak berdasarkan aliran proses.

(24)

Melalui survey yang dilakukan kondisi tata letak fasilitas produksi Mawar Bakery kurang efektif dan efisien. Hal ini ditandai dengan adanya ketidaknyamanan karyawan produksi pada saat bekerja, kondisi dilapangan kegiatan produksi berada pada lantai yang berbeda yaitu untuk Mawar Pinang Baris dan Mawar Setia Budi ruang produksi berada di lantai 2 dan di lantai 3, sedangkan Mawar Gatot Subroto berada dilantai 2. Perbedaan lantai produksi menyebabkan tingkat kelelahan yang tinggi terjadi pada karyawan produksi.

Volume produksi setiap jenis produk sedikit, variasi produknya banyak, lama proses produksi setiap jenis produk agak panjang, selain itu perpindahan material dilakukan secara manual tidak menggunakan alat bantu khusus. Hal tersebut yang menyebabkan kelelahan pada karyawan produksi. Dapat dijelaskan dari waktu transportasi yang harus dilalui karyawan produksi dalam memproduksi satu jenis produk Mawar Bakery, yang dapat ditunjukkan pada Tabel 1.2 berikut:

Tabel 1.2 Waktu Transportasi

Chart From To

No. Fasilitas Waktu

Dari Ke Pinang Baris Setia Budi Gatot Subroto 1. Gudang Bahan

Baku

Penimbangan 18 menit 17 detik

9 menit 51 detik

5 menit 8 detik 2. Penimbangan Mesin Pengadukan

Bahan

15 detik 8 detik 5 detik 3. Mesin

Pengadukan Bahan

Pencetakkan Bahan 10 detik 9 detik 5 detik

4. Pencetakkan Bahan

Mesin

Panggang/Kukus

6 menit 10 detik

8 menit 12 detik

9 menit 14 detik 5. Mesin

Panggang/Kukus

Pengemasan Produk

8 detik 8 detik 4 detik 6. Pengemasan

Produk

Toko/Marketing 11 menit 14 detik

13 menit 4 detik

4 menit 48 detik

TOTAL 36 menit 14

detik

30 menit 32 detik

18 menit 24 detik Sumber : Departemen Produksi Mawar Bakery (2017).

Pada tabel 1.2 dapat dijelaskan bahwa waktu transportasi dalam membuat satu produk, yang membutuhkan waktu terbanyak berada pada Mawar Pinang

(25)

Baris yaitu 36 menit 14 detik. Selain itu, dari fasilitas gudang bahan baku ke penimbangan dan fasilitas dari pengemasan produk ke toko untuk dipasarkan pada Mawar Pinang Baris, Setia Budi dan Gatot Subroto membutuhkan waktu transportasi yang lama. Hal tersebut disebabkan karena tata letak pada Mawar Bakery untuk ruang bahan baku berada pada gedung yang berbeda dengan ruang kegiatan proses produksi. Kemudian tempat kegiatan pemasaran produk Mawar berada pada lantai yang berbeda pula. Alur produksi Bakery adapun prosesnya tahap awal yaitu pengangkutan bahan baku dari gudang kemudian bahan yang akan diolah ditimbang setelah itu proses pengadukan bahan-bahan menggunakan mesin mixer kemudian di panggang dengan mesin oven atau dikukus, selanjutnya proses pengemasan dan setelah dikemas diantar ke toko untuk dipasarkan.

Penjelasan ini dapat tunjukkan dari Denah produksi Mawar Bakery Pinang Baris, Setia Budi dan Gatot Subroto yang dapat ditunjukkan dalam bentuk Denah yang terdapat dalam Lampiran 1.

Pada Denah Lampiran 1 untuk Mawar Pinang Baris jarak antara gudang bahan baku dengan ruang produksi sangat jauh, selain itu perbandingan antara luas ruang produksi, jumlah mesin yang digunakan dengan jumlah karyawan tidak efektif, oleh karena ruang produksi yang tidak memenuhi standar menyebabkan karyawan yang sedang melakukan proses produksi bersinggungan satu karyawan dengan yang lain. Untuk Mawar Setia Budi ruang gudang bahan baku berada dilantai 2, jarak antara bahan baku dan ruang produksi tidak begitu jauh, hanya saja perbedaannya pada ruang produksi lebih luas, penempatan mesin dan peralatan produksi yang sejenis ditempatkan secara terpisah berdasarkan lantai yang ada, namun jarak antara ruang produksi menuju toko (ruang memasarkan

(26)

produk) sangat jauh. Sedangkan pada Mawar Gatot Subroto ruang produksi dirancang tersendiri, untuk penempatan bahan baku dan ruang produksi berada di lantai 3, namun bentuk ruang produksi belum tepat karena dalam menyelesaikan produk masih adanya arus bolak balik (backtracking) dan jarak ruang produksi menuju ruang pemasaran masih jauh.

Diantara 400 jenis produk ada beberapa produk Mawar dalam proses pembuatan tidak efektif dan efisien karena penempatan mesin dan peralatan berada pada lantai yang berbeda. Karyawan tersebut harus naik turun tangga untuk menyelesaikan produk mereka, selain itu karyawan produksi sering mengalami kecelakaan kecil disaat sedang membuat produk maupun pada saat penurunan hasil produksi ke toko. Kualitas produk yang dibuat banyak yang tidak sesuai (dari segi penampilan, bentuk, warna dan cita rasa), pengantaran hasil produk ke toko yang dilakukan secara manual melebihi standar yang ditetapkan, sering terjadi kecelakaan kecil ditangga yang menyebabkan produk yang dibawa terjatuh. Hal ini menyebabkan perusahaan mengalami kerugian yang dapat ditunjukkan dalam Tabel 1.3 berikut ini :

Tabel 1.3

Data Jumlah Gagal Produk, Jumlah Tester, Jumlah Barang Sisa (BS) Pada Mawar Bakery Tahun 2014 – 2016

Tahun

Jumlah

Gagal Produk (ton) Jumlah Tester (ton)

Jumlah BS (ton)

Total (ton) Karyawan R & D

Mawar Pinang Baris

2014 16,44 5,10 3,12 12,33 36,99

2015 21,55 5,34 3,28 12,93 43,1

2016 24,92 4,41 2,71 10,68 42,72

Mawar Setia Budi

2014 16,32 5,06 3,10 12,24 36,72

2015 19,85 4,92 3,02 11,91 39,7

2016 21 4,34 2,66 10,5 38,5

Mawar Gatot Subroto

2014 11,76 3,65 2,23 8,82 26,46

2015 14,25 3,53 2,17 8,55 28,5

2016 15 3,10 1,90 7,5 27,5

Total (ton) 161,09 39,46 24,18 95,46 320,19

Sumber : Departemen Keuangan Mawar Bakery (2017).

(27)

Tabel 1.3 menunjukkan bahwa jumlah gagal produk yang dilakukan karena kesalahan dari karyawan untuk Mawar Pinang Baris, Mawar Setia Budi dan Mawar Gatot Subroto angka tertinggi terjadi di tahun 2016, gagal produk disebabkan karena banyaknya produk yang rusak pada saat pengantaran ke toko dan saat sedang proses pembuatan produk, selain itu adanya produk yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan baik dari kualitas dan kuantitas produk tersebut. Sedangkan gagal produk karena kesalahan R & D dari tahun 2014 hingga 2016 mengalami penurunan. Kemudian jumlah tester tertinggi terjadi di tahun 2014, hal ini disebabkan karena pada tahun 2014 Mawar Bakery mengembangkan produk-produknya dengan inovasi terbaru, selain itu banyaknya karyawan yang ingin mencoba/mencicipi produk baru tersebut. Tetapi pada umumnya produk tester ini dikeluarkan untuk pengembangan dan inovasi produk serta untuk tamu- tamu (baik dari instansi pemerintah, supplier, dan organisasi lainnya). Kemudian jumlah barang sisa atau BS adalah produk yang tidak terjual tertinggi pada tahun 2014, hal ini kemungkinan disebabkan terhadap selera pasar yang berubah-ubah, selain itu adanya produk-produk baru yang belum banyak dikenal atau disesuaikan dengan selera konsumen.

Berdasarkan penjelasan diatas mengenai tata letak produksi Mawar belum memenuhi sebuah pabrik yang baik, dimana ruang produksi untuk kegiatan proses produksi dalam ruang yang terpisah, sehingga mesin dan peralatan yang digunakan berada di tempat terpisah. Hal ini menyebabkan ketidakefisien karyawan dalam bekerja, karena ketidaknyamanan lalu lintas karyawan untuk memproduksi produk yang harus diselesaikan, tingkat kelelahan yang tinggi, selain itu jumlah karyawan dengan ruang produk khususnya Mawar Pinang Baris

(28)

yang berada di lantai 3 belum tepat. Untuk Mawar Pinang Baris dan Mawar Setia Budi kondisi ruang produksi berbentuk Ruko, aliran untuk keluar masuk udara belum baik, karena minimnya ventilasi udara yang ada. Hal-hal tersebut yang menyebabkan tingkat produktivitas kerja karyawan produksi menurun.

Aghazadeh, et al (2011) dalam penelitiannya menemukan bahwa facility layout tidak berpengaruh pada produktivitas, penelitian tersebut menjelaskan bahwa tata letak yang ada dirasa tidak efisien akan menurunkan produktivitas. Adanya inkonsistensi dengan penelitian Patrick et al (2015), Gisela (2012) dan Ridwan (2010) menemukan bahwa tata letak fasilitas produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas karyawan.

Pada saat ini Mawar Bakery mengevaluasi produktivitas karyawan produksi dengan diberi pelatihan internal dari Manager produksi kepada Kepala produksi dan wakil kepala produksi pada masing-masing cabang Mawar Bakery, karena minimnya pengawasan dari Kepala produksi. Sehingga, banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan karyawan produksi yaitu beberapa karyawan yang sudah lama bekerja dalam memproduksi, bahan baku yang digunakan tidak ditimbang terlebih dahulu, jika lupa dengan komposisi bahan yang digunakan karyawan malas untuk melihat resep, sehingga menyebabkan gagal produk, dari hasil survey gagal produk tersebut disebabkan yaitu proses pemanggangan yang terlalu lama, sehingga produk yang diolah tidak layak untuk dijual, kurang menambahkan salah satu komposisi dari produk tersebut terutama produk yang memiliki resiko yang tinggi, selain itu proses pengembangan yang dibiarkan terlalu lama, masih ada juga ditemukan karyawan lalai dalam bekerja yaitu bekerja sambil ngobrol dengan rekan kerja lainnya bermain HP dan kurang

(29)

bertanggung jawab atas pekerjaannya, Berdasarkan hal tersebut karyawan produksi yang mendapatkan sanksi dari perusahaan berupa peringatan lisan atau memperoleh Surat Peringatan (SP). Dapat ditampilkan pada Tabel 1.4 berikut ini :

Tabel 1.4

Data Pelanggaran Karyawan Produksi Mawar Bakery Tahun 2014 - 2016

Tahun Jumlah

Karyawan

Peringatan Lisan (orang)

Surat Peringatan (orang)

I II III

Mawar Pinang Baris

2014 54 11 4 1 0

2015 54 14 4 0 0

2016 54 22 6 3 0

Mawar Setia Budi

2014 48 9 2 1 0

2015 48 14 5 2 1

2016 48 21 4 1 0

Mawar Gatot Subroto

2014 30 5 1 1 0

2015 30 8 2 2 0

2016 30 10 2 0 0

Sumber : Departemen Personalia Mawar Bakery (2017).

Tabel 1.4 diketahui dari bagian Personalia Mawar Bakery memberi sanksi kepada karyawan produksi berupa peringatan lisan, adanya peningkatan yaitu dari tahun 2014 hingga tahun 2016, peringatan lisan diberikan kepada karyawan produksi yang melakukan tindakan tidak disiplin dalam bekerja yaitu kesalahan dalam membuat produk, bekerja tidak berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

Kemudian dilihat dari tahun ke-tiga yaitu tahun 2016 hampir semua tempat produksi yaitu di Mawar Pinang Baris, Setia Budi dan Gatot Subroto mendapatkan peringatan lisan tertinggi. begitupula karyawan produksi yang mendapatkan SP dari tahun 2014 hingga 2016 juga mengalami peningkatan. SP diberikan kepada karyawan yang melakukan pelanggaran secara terus menerus yang tidak bisa ditoleransi, diantaranya seringnya melakukan gagal produk, jam masuk dan pulang kerja tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan, tidak bisa bekerja sama dengan rekan kerja, bekerja sambil bermain HP, tidak menjalankan

(30)

perintah yang telah diinstruksikan oleh kepala produksi, dan sebelumnya sudah diberikan peringatan secara lisan. Adapun sanksi bagi karyawan yang mendapatkan Surat Peringatan (SP) dalam bentuk Tabel 1.5 berikut ini :

Tabel 1.5

Peraturan Hukuman Surat Peringatan Mawar Bakery

Surat Peringatan Keterangan

I Tidak Mendapatkan Tunjangan Komisi selama 3 (tiga) bulan II Tidak Mendapatkan Tunjangan Komisi selama 6 (enam) bulan III Tidak Mendapatkan Tunjangan Komisi selama 1 (satu) tahun Sumber : Manajemen Mawar Bakery (2017).

Sistem pengawasan yang diterapkan pada Mawar Bakery, dalam hal ini yang berperan dalam menjalankan pengawasan adalah Manager Produksi untuk semua cabang Mawar dan untuk masing-masing cabang diawasin oleh Kepala produksi dan Wakil Kepala Produksi. Kondisi dilapangan Kepala produksi belum mampu mengawasin anggotanya, dimana masih banyak karyawan yang melakukan tindakan undisipliner yang telah dijelaskan pada Tabel 1.4 dan Tabel 1.5.

Untuk menciptakan keberhasilan kerja seorang karyawan, pengawasan menjadi suatu unsur yang terpenting dalam pembinaan individu didalam organisasi, karena pengawasan merupakan tenaga penggerak bagi para bawahan atau karyawan agar dapat bertindak sesuai dengan apa yang telah direncanakan menurut aturan yang berlaku. Pengawasan yang dilakukan secara baik dan tepat sesuai dengan ketetapan perusahaan akan memberikan hasil yang positif pada kinerja karyawan yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Omotayo, et al (2015) dan Murnawantika (2014) dalam penelitiannya menemukan bahwa pengawasan kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas karyawan.

Dalam penelitiannya dengan adanya pengawasan yang dilakukan secara langsung dan tidak langsung sangat mampu dalam meningkatkan produktivitas kerja.

(31)

Adanya inkonsistensi dengan penelitian Jimoh, et al (2017) menemukan bahwa pengawasan kerja tidak berpengaruh terhadap produktivitas kerja.

Pengawasan merupakan kewajiban setiap atasan untuk mengawasi bawahannya yang bersifat pembinaan. Dengan adanya pengawasan dapat mengetahui kegiatan-kegiatan nyata dari setiap aspek dan setiap permasalahan pelaksanaan tugas-tugas dalam lingkungan satuan organisasi yang masing-masing selanjutnya bilamana terjadi penyimpangan, maka dapat dengan segera langsung mengambil langkah perbaikan dan tindakan seperlunya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan penjelasan tersebut berikut hasil pra survey mengenai tanggapan karyawan produksi terhadap pengawasan yang diterapkan oleh Kepala produksi dapat ditunjukkan dalam daftar pernyataan Tabel 1.6 :

Tabel 1.6

Pernyataan Karyawan Terhadap Pengawasan Pada Mawar Bakery N

o. Pernyataan Jumlah

Karyawan

Keterangan Setuju Tidak Setuju 1. Kepala produksi selalu mengawasi anggota

selama bekerja 132 59 orang 73 orang

2. Kepala produksi memperhatikan kualitas produk

yang dihasilkan 132 57 orang 75 orang

3. Kepala produksi memberikan sanksi yang tegas

terhadap pelanggaran yang dilakukan anggota 132 98 orang 34 orang 4.

Kepala produksi membedakan perlakuan pengawasan antara satu anggota dengan anggota lain

132 86 orang 46 orang

5. Kepala produksi memberikan kesempatan

kepada anggota untuk mengembangkan produk 132 55 orang 77 orang 6. Kepala produksi selalu mengevaluasi hasil kerja

karyawan 132 51 orang 81 orang

Sumber : Hasil Pra Survey (2018).

Tabel 1.6 menunjukkan bahwa dari jumlah karyawan produksi sebanyak 132 menyatakan sistem pengawasan yang dilakukan oleh Kepala produksi belum memenuhi kebutuhan karyawan produksi dalam bekerja, sehingga karyawan belum mampu bekerja secara efektif dan efisien. Jawaban dari daftar pernyataan

(32)

sebagian besar karyawan produksi menolak pernyataan yang diajukan. Kondisi dilapangan pengawas lebih memfokuskan dalam membuat produk dibanding mengawasin anggotanya dan sikap leadership yang masih dirasakan karyawan belum sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan karyawan merupakan suatu hal penting yang harus diperhatikan dari peusahaan. Kebutuhan yang terpenuhi merupakan sebagian dari motivasi karywan dalam dalam bekerja.

Dengan adanya motivasi, seseorang akan memiliki tujuan tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan, dengan antusias dan penuh semangat termasuk dalam pencapaian cita-cita yang dinginkan. Minat dan motivasi mempunyai hubungan yang erat, karena motivasi merupakan dorongan atau penggerak bagi seseorang dalam pencapaian sesuatu yang diinginkan dan berhubungan langsung dengan sesuatu yang menjadi minatnya.

Hasil wawancara singkat kepada karyawan produksi Mawar Bakery, mengatakan karyawan produksi Mawar Bakery termotivasi dalam bekerja karena adanya tanggung jawab moril maupun materil, adanya keinginan untuk sukses, keinginan untuk membahagiakan keluarga, keinginan untuk dihargai, selain itu terkadang dengan pujian dari atasan mereka merasa senang sehingga menimbulkan kegairahan/semangat dalam bekerja, merasakan kesejahteraan dengan diikutsertakan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, termotivasi dengan penghasilan ataupun reward yang diperoleh, merasa diberi kesempatan untuk memberi kreasi dalam produk-produk yang mereka buat/masak, termotivasi untuk lebih tekun dalam bekerja karena produk yang dibuat terjual habis.

Menurut Armstrong (2010) motivasi adalah kekuatan yang membangkitkan, mengarahkan dan menopang perilaku. Istilah motivasi berhubungan dengan

(33)

tujuan-tujuan yang dimiliki oleh individu, cara-cara yang dilakukan individu untuk mencapai tujuannya, dan cara-cara yang dilakukan oleh orang lain berusaha mengubah perilakunya.

Dalam penelitian ini menggunakan motivasi sebagai variabel moderating, hasil penelusuran belum menemukan penelitian sebelumnya yang membahas pengawasan kerja berpengaruh terhadap produktivitas kerja dengan motivasi sebagai variabel moderating. Sehingga dalam hal ini peneliti merasa tertarik untuk menambahkan motivasi sebagai variabel moderating. Penambahan terhadap variabel motivasi memberikan kontribusi yang nyata sebagai pendukung suatu perbuatan, sehingga menyebabkan seseorang mempunyai kesiapan untuk melakukan serangkaian kegiatan. Motivasi yang tinggi akan membangkitkan individu untuk melakukan aktivitas tertentu yang lebih fokus dan lebih intensif dalam proses pengerjaan dan sebaliknya, sehingga tinggi rendahnya motivasi terhadap diri individu mampu membangkitkan seberapa besar keinginan dalam bertingkah laku atau cepat lambatnya terhadap suatu pekerjaan. Robbins (2017), Pace dan Faules (2012) motivasi merupakan keadaan dalam diri seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melaksanakan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi individu timbul karena adanya kebutuhan dalam diri seseorang yang dituntut adanya pemuasan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Kebutuhan yang terpenuhi maka akan memotivasi karyawan untuk bekerja lebih baik yang pada akhirnya produktivitas kerja dari karyawan akan meningkat.

(34)

1.2 Perumusan Masalah

Rumusan masalah yang dibuat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Tata Letak Fasilitas Produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produktivitas Kerja karyawan produksi Mawar Bakery?

2. Apakah Pengawasan Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produktivitas Kerja karyawan produksi Mawar Bakery?

3. Apakah Motivasi sebagai variabel moderasi menguatkan pengaruh Pengawasan Kerja terhadap Produktivitas Kerja karyawan produksi Mawar Bakery?

1.3. Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah yang dibuat, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Tata Letak Fasilitas Produksi terhadap Produktivitas Kerja karyawan produksi Mawar Bakery.

2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Pengawasan Kerja terhadap Produktivitas Kerja karyawan produksi Mawar Bakery.

3. Mengetahui dan menganalisis Motivasi sebagai variabel moderasi yang menguatkan pengaruh Pengawasan Kerja terhadap Produktivitas Kerja karyawan produksi Mawar Bakery.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat - manfaat sebagai berikut :

(35)

1. Mawar Bakery

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi, saran dan kontribusi bagi pemilik Mawar Bakery serta departemen manajemen di dalam meningkatkan produktivitas kerja karyawan khususnya departemen produksi, dengan memperhatikan faktor tata letak fasilitas produksi, pengawasan kerja dan pemberian motivasi sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan produksi pada Mawar Pinang Baris, Mawar Setia Budi dan Mawar Gatot Subroto.

2. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini memberikan pengetahuan tentang tingkat produktivitas kerja karyawan khususnya departemen produksi Mawar Bakery, dinilai dari bentuk motivasi karyawan, pengawasan kerja dan perencanaan tata letak fasilitas produksi yang efektif dan efisien dari pemilik atau pimpinan perusahaan terhadap seluruh karyawan produksi. Sehingga, saat ditemukan penurunan produktivitas kerja karyawan dapat diatasi dengan memperhatikan faktor motivasi, tata letak fasilitas produksi dan pengawasan kerja yang diberikan kepada para karyawan produksi Mawar Bakery.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji masalah yang sama atau yang berkaitan pada masa yang akan datang.

(36)

2.1. Teori Tentang Tata Letak 2.1.1. Pengertian Tata Letak

Heizer dan Render (2016) Tata letak adalah salah satu keputusan mengenai penataan letak fasilitas produksi untuk efisiensi operasi perusahaan dalam jangka panjang. Tata letak memiliki implikasi strategis karena ia menciptakan prioritas kompetitif sehubungan dengan kapasitas, proses, fleksibitas, dan biaya, dan begitu pula dengan kualitas kehidupan kerja, kontak pelanggan, dan citra. Suatu tata ruang yang efektif dapat membantu organisasi mencapai strategi yang menunjang diferensiasi, biaya rendah, dan tanggapan.

Menurut Russell dan Bernard (2010) bahwa, Effective layout also : a) Minimize material handling costs, b) Utilize space efficiently, c) Utilize labor efficiently, d) Eliminate bottlenecks, e) Facilitate communication and interaction between workers, between workers and their supervisor, or between workers and customers, f) Reduce manufacturing cycle time and customer service time, g) Eliminate wasted or redundant movement, h) Facilitate the entry, exit, and placement of material, products, and people, i) Incorporate safety and security meansures, j) Promote product and service quality, k) Encourrage proper maintenance activities, l) Provide a visual control af activities, m) Provide flexibility to adapt to changing conditions, n)Increase capacity.

Tata letak yang efektif memiliki yaitu : a). Meminumkan cost material handling, b). Menggunakan ruangan secara efisien, c). Menggunakan tenaga kerja secara efisien, d). Mengurangi bottlenecks, e). Memberikan fasilitas komunikasi dan interaksi antara pekerja, antara pekerja dan supervisor, atau antara pekerja dan konsumen, f). Mengurangi waktu manufaktur dan waktu layanan konsumen, g).

Mengurangi pergerakan yang berlebih–lebihan, h). Memberikan fasilitas

(37)

masukan, jalan keluar, dan penggantian dari material, produk, dan orang, i).

Keselamatan kerja dan keamanan, j). Mempromosikan kualitas produk dan jasa, k). Mendorong aktivitas–aktivitas maintenance yang sesuai, l). Mempermudah aktivitas supervisi (pengawasan kerja), m). Menyediakan fleksibilitas kepada kondisi yang berubah–ubah, dan n). Peningkatan kapasitas.

Menurut Wignjosoebroto (2009), Tata letak pabrik dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas–fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi. Pengaturan tersebut akan memanfaatkan luas area (space) untuk penempatan mesin atau fasilitas penunjang produksi lainnya, kelancaran gerakan–

gerakan material, penyimpanan material (storage) baik yang bersifat temporer maupun permanen, personil pekerja dan sebagainya.

Dalam tata letak pabrik ada 2 (dua) hal yang diatur letaknya yaitu pengaturan mesin (machine layout) dan pengaturan departemen yang ada dari pabrik (department layout). Bilamana kita menggunakan istilah tata letak pabrik, seringkali hal ini kita artikan sebagai pengaturan peralatan/fasilitas produksi yang sudah ada (the existing arrangement) ataupun bisa juga diartikan sebagai perencanaan tata letak pabrik yang baru sama sekali (the new layout plan).

Tata letak pabrik adalah suatu rancangan fasilitas, menganalisis, membentuk konsep dan mewujudkan sistem pembuatan barang dan jasa.

Rancangan ini pada umumnya digambarkan sebagai rancangan lantai, yaitu satu susunan fasilitas fisik (perlengkapan, tanah, bangunan dan sarana lain) untuk mengoptimalkan hubungan antara petugas pelaksana, aliran barang, aliran informasi dan tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan usaha secara ekonomis dan aman.

(38)

Menurut Sanders (2009), layout planning is deciding on the best physical arrangement of all resources that consume space within a facility. Perencanaan tata letak menentukan susunan fisik terbaik dari semua sumber daya yang menggunakan fasilitas di dalam sebuah ruangan.

Dapat disimpulkan bahwa fasilitas tata letak suatu perencanaan yang menyeluruh dari tata letak fasilitas produksi yang ada, sehingga pelaksanaan proses produksi di dalam perusahaan tersebut akan dapat dilaksanakan dengan seoptimal mungkin.

2.1.2. Tujuan Perencanaan dan Pengaturan Tata Letak Produksi

Secara garis besar tujuan utama dari tata letak produksi ialah mengatur area kerja dan segala fasilitas produksi yang paling ekonomis untuk beroperasi produksi aman, dan nyaman sehingga akan dapat menaikkan moral kerja dan performance dari karyawan. Lebih spesifik lagi tata letak yang baik akan dapat memberikan keuntungan–keuntungan dalam sistem produksi, yaitu antara lain sebagai berikut :

1) Menaikkan output produksi.

Suatu tata letak yang baik akan memberikan keluaran (output) yang lebih besar atau lebih sedikit, man hours yang lebih kecil, dan/atau mengurangi jam kerja mesin (machine hours).

2) Mengurangi waktu tunggu (delay).

Mengatur keseimbangan antara waktu operasi produksi dan beban dari masing–masing departemen atau mesin adalah bagian kerja dari mereka yang bertanggung jawab terhadap desain tata letak pabrik. Pengaturan tata

(39)

letak yang terkoordinir dan terencana baik akan dapat mengurangi waktu tunggu (delay) yang berlebihan.

3) Mengurangi proses pemindahan bahan (material handling).

Proses perencanaan dan perancangan tata letak pabrik akan lebih menekankan desainnya pada usaha–usaha memindahkan aktivitas–

aktivitas pemindahan bahan pada saat proses produksi berlangsung.

4) Penghematan penggunaan areal untuk produksi, gudang dan service.

Jalan lintas, material yang menumpuk, jarak antara mesin–mesin yang berlebihan, dan lain–lain semuanya akan menambah area yang dibutuhkan untuk pabrik. Suatu perencanaan tata letak yang optimal akan mencoba mengatasi segala masalah pemborosan pemakaian ruangan ini dan berusaha untuk mengkoreksinya.

5) Pendaya guna yang lebih besar dari pemakaian mesin, tenaga kerja, dan/atau fasilitas produksi lainnya.

Faktor–faktor pemanfaatan mesin, tenaga kerja, dan lain–lain adalah erat kaitannya dengan biaya produksi. Suatu tata letak yang terencana baik akan banyak membantu pendayagunaan elemen–elemen produksi secara lebih efektif dan lebih efisien.

6) Mengurangi inventory in process.

Sistem produksi pada dasarnya menghendaki sedapat mungkin bahan baku untuk berpindah dari suatu operasi langsung ke operasi berikutnya secepat–cepatnya dan berusaha mengurangi bertumpuknya bahan setengah jadi (material in process). Problem ini terutama bisa dilaksanakan dengan

(40)

mengurangi waktu tunggu (delay) dan bahan yang menunggu untuk segera diproses.

7) Proses manufacturing yang lebih singkat.

Dengan memperpendek jarak antara operasi satu dengan operasi berikutnya dan mengurangi bahan yang menunggu serta storage yang tidak diperlukan maka waktu yang diperlukan dari bahan baku untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam pabrik dapat diperpendek sehingga secara total waktu produksi akan dapat pula diperpendek.

8) Mengurangi resiko bagi kesehatan dan keselamatan kerja dari operator.

Perencanaan tata letak pabrik adalah juga ditujukan untuk membuat suasana kerja yang nyaman dan aman bagi mereka yang bekerja didalamnya. Hal–hal yang bisa dianggap membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan kerja dari operator haruslah dihindari.

9) Memperbaiki moral dan kepuasan kerja.

Pada dasarnya orang menginginkan untuk bekerja dalam suatu pabrik yang segala sesuatunya diatur secara tertib, rapi dan baik. Penerangan yang cukup, sirkulasi yang enak, dan lain–lain akan menciptakan suasana lingkungan kerja yang menyenangkan sehingga moral dan kepuasan kerja akan dapat lebih ditingkatkan. Hasil positif dari kondisi ini tentu saja berupa performance kerja yang lebih baik dan menjurus kearah peningkatan produktivitas kerja.

10) Mempermudah aktivitas supervisi.

Gambar

Tabel 1.2  Waktu Transportasi
Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1. Kerangka Konseptual
Tabel 3.2. Daftar Sampel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh tata letak Departemen Filter yang mampu menampung semua mesin dan fasilitas produksi, memperoleh tata letak mesin produksi

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui konsep sistem produksi dan model tata letak mesin produksi serta untuk mengetahui berapa besar tingkat

Peran manajer produksi sangat penting dalam menentukan tata letak fasilitas, maka tata letak fasilitas produksi merupakan salah satu tahap dalam perencanaan suatu fasilitas

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rancangan tata letak fasilitas pabrik yang efisien dengan menggunakan metode ARC dan menganalisis secara kuantitatif

Tata letak pabrik atau disebut juga sebagai tata letak fasilitas adalah tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik untuk menunjang proses produksi, dengan

Dengan terlebih dahulu menganalisis luasan yang dibutuhkan (lihat Tabel 3 ) dan memperhatikan REL diagram (lihat Gambar 1). Penempatan fasilitas produksi menggunakan tipe

Tata letak pabrik atau disebut juga tata letak fasilitas adalah tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas fisik pabrik untuk menunjang kelancaran proses produksi,

tata letak pabrik atau tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi, dimana dengan