• Tidak ada hasil yang ditemukan

APBN YANG SAKIT, KETERGANTUNGAN, DAN TIDAK AMAN. Awalil Rizky Kepala Ekonom Institut Harkat Negeri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "APBN YANG SAKIT, KETERGANTUNGAN, DAN TIDAK AMAN. Awalil Rizky Kepala Ekonom Institut Harkat Negeri"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

APBN YANG SAKIT,

KETERGANTUNGAN, DAN TIDAK AMAN

Awalil Rizky

Kepala Ekonom Institut Harkat Negeri

(2)

KONDISI TERKINI APBN 2020 DAN RAPBN 2021, SESUAI PERTANYAAN TOPIK DISKUSI “APA KABAR APBN KITA?”

1. APBN sedang sakit, bahkan sakit keras.

2. APBN bersifat tidak mandiri. Sangat bergantung kepada penambahan utang baru.

3. APBN terindikasi kurang adil dari sisi Belanja 4. APBN sedang dalam kondisi tidak aman. Daya

antisipasi dan mitigasi atas perubahan keadaan fiscal bersifat sangat rendah.

2 / 14

(3)

BERLAWANAN DENGAN KLAIM PEMERINTAH

TENTANG APBN YANG SEHAT, MANDIRI, DAN AMAN (APBN 2019)

• Pada akhir 2018, Pemerintah memberi keterangan pers yang mengklaim APBN 2019 sebagai "Sehat, Adil, dan Mandiri".

• Sehat artinya APBN memiliki defisit yang semakin rendah dan keseimbangan primer menuju positif.

• Adil karena APBN digunakan sebagai instrumen kebijakan meraih keadilan, menurunkan tingkat kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan

mengatasi disparitas antarkelompok pendapatan dan antarwilayah.

• Dari sisi kemandirian, APBN 2019 dapat dilihat dari penerimaan perpajakan yang tumbuh signifikan sehingga memberikan kontribusi dominan terhadap pendapatan negara serta mengurangi kebutuhan pembiayaan yang

bersumber dari utang.

• Dalam berbagai kesempatan lainnya menyebut APBN (realisasi) dalam kondisi yang aman

3 / 14

(4)

403.4 495.2

667.13 757.65

985.73 937.4 1042.12 1295

1491.41 1650.56 1777.18 1806.52 1864.28 2007.35

2202.24 2304.3

2540.4 2613.8 2739.2 2747.53

427.2 509.6 636.15 706.11

981.61 848.76 995.27

1210.6 1338.11 1438.89 1550.49 1508.02 1555.93 1666.38

1928.44 1958.6

2233.2

1760.9 1699.5 1776.36

-23.8 -14.4 -29.20 -49.84 -4.13

-88.70 -46.85 -84.4 -153.3 -211.67 -226.69 -298.49 -308.34 -340.98 -259.9

-345.6 -307.2

-852.9

-1039.7 -971.17 -1500

-1000 -500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2020p1 2020p2 2021r

Belanja Negara Pendapatan Negara Defisit/Surplus

Sumber data: Kemenkeu; 2020: APBN, Perpres 54, Perpres 72; 2021: RAPBN

TENTANG TIDAK SEHAT. DEFISIT (BELANJA LEBIH BESAR DARI PENDAPATAN) MAKIN MENINGKAT

-1.05%

-0.21%

-0.87%

-1.26%

-0.08%

-1.58%

-0.68%

-1.08%

-1.78%

-2.22% -2.14%

-2.59% -2.49% -2.51%

-1.82%

-2.18%

-1.76%

-5.07%

-6.34%

-5.50%

-7.00%

-6.00%

-5.00%

-4.00%

-3.00%

-2.00%

-1.00%

0.00%

-1200 -1000 -800 -600 -400 -200 0

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2020p1 2020p2 2021r

Defisit (Rptriliun) %Defisit atas PDB

4 / 14

(5)

TENTANG TIDAK SEHAT. Keseimbangan Primer pada perpres 72/2020 sebesar Rp700,43 triliun (4,27% PDB), Tampak makin meningkat, bahkan jika dilihat dari rasio atas PDB

38 .4 59. 49 49. 94 29. 96 84 .3 5. 2 41.5 8. 9 -5 2. 8 -98 .6 -93.3 -14 2. 5 -12 5. 58 -12 4. 41 -11 .4 9 -7 0. 12 -12 .01 -5 17 .7 8 -7 00 .4 3 -5 97 .9

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2020P12020P2 2021R

KESEIMBANGAN PRIMER

Sumber data: Kemenkeu; 2020: APBN, Perpres 54, Perpres 72; 2021: RAPBN

5 / 14

(6)

TENTANG TIDAK MANDIRI. Penerimaan perpajakan TIDAK mencapai target

14045081,481,945 86.55%

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

100.00%

120.00%

0 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000 1,600,000 1,800,000 2,000,000

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2020per 2021r PENERIMAAN PERPAJAKAN APBN PENERIMAAAN PERPAJAKAN REALISASI PERSENTASI DARI TARGET

Sumber data: Kementerian Keuangan ; 2020: APBN, perpres no 54, perpres no 72; 2021: RAPBN

16.36 17.19

15.74

17.76

13.47 12.9 13.8 14.59 14.31 13.7

11.58 10.84 10.66 11.53 10.69 11.56

9.14 9.05

12.51 12.25 12.43 13.3

11.04 10.5 11.2 11.9 11.86 11.36 10.75 10.36 9.89 10.32

8.42 9.4

7.46 7.38

0 5 10 15 20

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2020p1 2020p2

Tax Ratio definisi luas Tax Ratio definisi sempit

6 / 14

(7)

TENTANG TIDAK MANDIRI. Defisit dalam realisasi tidak sama dengan Pembiayaan Anggaran; PEMBIAYAAN UTANG (pembiayaan dengan menambah utang) meningkat

-23.8 -14.4 -29.2 -49.8 -4.1 -8 8.7 -46.9 -8 4.4 -153.3 -211.7 -226.7 -298.5 -308 .3 -341.0 -269. 4 -345.6 -307.2 -8 52.9 -10 39 .7 -97 1.17

20 .8 8.9 29. 4 42.5 84.1 112.6 91.6 130.9 175.2 237.4 248 .9 323.1 334.5 36 6. 6 305.7 39 8.9 307.2 852.9 1,039.7 97 1.2

21.2 12.3 9.4 33.3 70.7 90.1 95.3 10 6. 3 140 .8 223.2 255.7 380 .9 40 3.0 429.1 372.0 428 .7 351.85 1,006.4 1,220 .5 1,142.5

2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 2 0 1 1 2 0 1 2 2 0 1 3 2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7 2 0 1 8 2 0 1 9 2 0 2 0 2 0 2 0 P 1 2 0 2 0 P 2 2 0 2 1 R

Defisit Pembiayaan Anggaran Pembiayaan Utang

Sumber data: Kemenkeu; 2020: APBN, Perpres 54, Perpres 72

7 / 14

(8)

TENTANG TIDAK MANDIRI. Posisi Utang Pemerintah akan meningkat berdasar APBN 2020 (perpres 72) dan RAPBN 2021. Rasio atas PDB dan atas Pendapatan Negara naik

56.60%

28.37%

24.68%

30.23%

37.84%

42.19%

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

200 4 200 5 200 6 200 7 20 0 8 200 9 201 0 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 202 0p 202 1r

Posisi utang pemerintah akhir tahun Porsi dari PDB

322.46%

187.36%

168.31%

244.14%

364.88%

417.91%

0.00%

50.00%

100.00%

150.00%

200.00%

250.00%

300.00%

350.00%

400.00%

450.00%

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000

200 4 200 5 200 6 200 7 200 8 200 9 2010 2011 2012 20 13 2014 2015 2016 2017 2018 2019 202 0p 202 1r

Posisi utang pemerintah akhir tahun Porsi dari Pendapatan Negara

Sumber data: Kemenkeu. Realisasi 2004-2019, rasio diolah; 2020 (perpres 72) dan 2021 (RAPBN), diolah

8 / 14

(9)

TENTANG INDIKASI KURANG ADIL. TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA dalam RAPBN 2021 (Rp796,27 triliun). Porsinya cenderung turun dari total

Belanja.

150.5

226.2 253.3 292.4 308.6

344.7

411.3

480.6 513.3

573.7

623.1

710.3 742.0 757.8

813.0

763.93 796.27

29.52%

33.90% 33.43%

29.67%

32.92% 33.08%

31.76% 32.23% 31.10% 32.28%

34.49%

38.10% 36.96%

34.24% 35.20%

33.08%

28.98%

0.00%

5.00%

10.00%

15.00%

20.00%

25.00%

30.00%

35.00%

40.00%

45.00%

0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 700.0 800.0 900.0

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020p 2021r Transfer Ke Daerah dan Dana Desa Persentase dari Belanja Negara

Sumber data: Kemenkeu , persentase diolah; 2020: perpres 72; 2021: RAPBN

9 / 14

(10)

INDIKASI KURANG ADIL. Alokasi belanja Kementerian/Lembaga RAPBN 2021 dibanding dengan realisasi APBN 2009 (11 tahun sebelumnya): POLRI (Rp111,98 T) naik 337%; Badan Intelejen Negara (Rp9,27 Triliun) naik 857%; Kejaksaan RI (Rp9,23 triliun) naik 477%. Kurun waktu yang sama, kenaikan Total Belanja (193%) dan kenaikan K/L (236%)

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000

2 0 0 9 2 0 1 0 2 0 1 1 2 0 1 2 2 0 1 3 2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7 2 0 1 8 2 0 1 9 2 0 2 0 P 2 0 2 1 R BIN Kejaksaan POLRI

Sumber data: Kemenkeu; 2020: APBN, Perpres 54, Perpres 72

10 / 14

(11)

TENTANG INDIKASI KURANG ADIL.Belanja Pemerintah Pusat diklasifikasikan berdasarkan fungsi menjadi 11 fungsi. RAPBN 2021 dibandingkan APBN perpres

72/2020: Fungsi Kesehatan, Fungsi Pendidikan dan Fungsi Ekonomi tumbuh signifikan dan meningkatan porsinya. NAMUN, Fungsi Pertahanan dan fungsi Ketertiban dan Kemanan naik pesat.

2020 2021 Perubahan

FUNGSI Perpres 72 Porsi RAPBN Porsi 2020-2021

PELAYANAN UMUM *) 757980,3 38,37% 527659,9 27,04% -30,39%

PERTAHANAN 117957,5 5,97% 137040,8 7,02% 16,18%

KETERTIBAN DAN KEAMANAN 141275,9 7,15% 165882,2 8,50% 17,42%

EKONOMI 435969,2 22,07% 492443 25,24% 12,95%

LINGKUNGAN HIDUP 13911,5 0,70% 16736,5 0,86% 20,31%

PERUMAHAN DAN FASILITAS UMUM 20648,7 1,05% 33228,5 1,70% 60,92%

KESEHATAN 81621,1 4,13% 111666,7 5,72% 36,81%

PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF **) 3062,8 0,16% 5479 0,28% 78,89%

AGAMA 9679,8 0,49% 11075,9 0,57% 14,42%

PENDIDIKAN 142433,5 7,21% 190022,4 9,74% 33,41%

PERLINDUNGAN SOSIAL 250699,9 12,69% 260025,5 13,33% 3,72%

JUMLAH 1975240,2 100,00% 1951260 100,00% -1,21%

Sumber data: Kementerian Keuangan, angka porsi dan pertumbuhan diolah

11 / 14

(12)

TENTANG TIDAK AMAN. Hasil Reviu atas Kesinambungan Fiskal dari BPK:

Pemerintah telah menyusun analisis kesinambungan fiskal jangka panjang yang

menimbang skenario-skenario yang akan diambil dan indikator yang dimonitor. Namun, terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.

• Analisis keberlanjutan fiskal jangka panjang yang disusun Pemerintah perlu disempurnakan sebagaimana direkomendasikan International Public Sector

Accounting Standard Board IPSASB pada Recommended Practice Guide (RPG);

• Pemerintah belum membuat Debt Sustainability Analysis (DSA) yang diantaranya memperhitungkan risiko atas kewajiban kontinjensi;

• Pemerintah belum menyajikan pengungkapan memadai terkait proyeksi kesinambungan fiskal pada LKPP secara khusus.

• Pemerintah tidak dapat mencapai target Tahun 2019 atas rasio utang terhadap PDB di bawah 30%, rasio defisit terhadap PDB di bawah 1%, dan primary balance positif sebagaimana ditetapkan RPJMN 2014-2019, sehingga dapat menimbulkan risiko fiskal dalam jangka panjang.

• Terdapat beberapa indikator kerentanan utang yang telah melampaui batas praktik terbaik yang ditetapkan IMF dan International Debt Relief. Indikator tersebut antara lain rasio debt service terhadap penerimaan, rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan dan rasio utang terhadap penerimaan.

12 / 14

(13)

TENTANG TIDAK AMAN. Hasil reviu BPK (gambar disalin dari LHP BPK)

13 / 14

(14)

PENUTUP

• Jika sakit, bergantung utang, kurang adil dan berisiko besar, maka rekomendasinya diobati dan diperbaiki.

• APBN 2020 dan RAPBN 2021 perlu perubahan sangat mendasar, tidak bisa dikelola seperti biasanya

• Yang paling bisa segera dilakukan adalah PENGURANGAN BELANJA

• APBN defisit bersifat ekspansif lebih bersifat asumsi. Sebenarnya bergantung belanja seperti apa

• Belanja yang perlu ditingkatkan adalah yang secara langsung meningkatkan daya beli masyarakat

• Cara pembiayaan APBN perlu perabahan mendasar.

14 / 14

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan PP no.32 tahun 2011, Analisis dampak lalu lintas adalah Berdasarkan PP no.32 tahun 2011, Analisis dampak lalu lintas adalah serangkaian kegiatan kajian

Penyebaran pengaruh kebudayaan daerah di Indonesia berwujud fisik dan nonfisik. Penduduk yang tinggal di suatu daerah dapat melakukan migrasi dan membawa pengaruh kebudayaan

Untuk meningkatkan pengendalian keuangan, maka diciptakanlah suatu sistem yang dapat meningkatkan kehandalan ( reliability ) informasi keuangan yang disebut dengan Sistem

Hal ini diduga akibat arah angin diubah oleh deflector sehingga sudut serang ( α ) yang dibentuk dari vektor kecepatan absolute ( U ) dengan garis chord bilah

diupayakan pada bangunan kantor untuk meningkatkan kiner-ja/aktifitas yang lebih optimal. 2) Perlunya studi/penelitian lanjutan dengan sampel ruang dan waktu

DiRoom Navigation merupakan sistem navigasi di dalam toko dengan platform Android yang berbasis Augmented Reality (AR), dimana aplikasi ini memiliki tujuan untuk