• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS TALAK (TELAAH HUKUM ISLAM DAN HUKUM NASIONAL)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "STATUS TALAK (TELAAH HUKUM ISLAM DAN HUKUM NASIONAL)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Dr. Khoiri, S.Sy., M.H

Dosen Hukum Acara Peradilan Agama STAIN Bengkalis Jalan Lembaga, Bengkalis

Email: [email protected]

Abstract: This study aims to determine the status of talak according to fiqh and the provisions of national law and how to harmonize the provisions of fiqh and national law. As for the results of this research are that according to the rules of Islamic law and jurisprudence, it is explained that as long as the terms and conditions of divorce are met, wherever and whenever the husband says divorce, the divorce falls and is legal. However, in the national law as stated in article 38 paragrafh (1) of law number 1 of 1974 and article 115 of the Compilation of Islamic Law, the point is that divorce is considered valid and falls if it is pronounced in front of a court session. So to be careful so that religious rules are not violated, the judge must dig into the facts in court how many times the husband had pronounced divorce. If the husband has ever said divorce one then the verdict is to give permission to drop talak raji ‘, if talaq is two then the verdict gives permission to drop talak bain kubra and if divorce is three then the verdict gives permission to drop talak bain kubra. Like that, it seems the best solution so that religious regulations do not conflict with national rules.

Keywords: Divorce Status, Islamic Law and National Law

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status talak menurut fikih dan ketentuan hukum nasional dan bagaimana cara mengharmonisasikan antara ketentuan fikih dan hukum nasional. Adapun hasil penelitian ini adalah secara aturan hu- kum Islam dan fikih dijelaskan bahwa selama rukun dan syarat perceraian terpenuhi, dimanapun dan kapanpun ketika suami mengucapakan talak maka cerai tersebut jatuh dan sah. Namun dalam aturan hukum nasional sebagaimana disebutkan dalam pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 dan pasal 115 Kompilasi Hukum Islam yang intinya perceraian itu di- anggap sah dan jatuh jika diucapkan di depan sidang pengadilan. Maka untuk kehati-hatian agar aturan agama tidak dilanggar, hakim harus menggali dalam fakta-fakta di persidangan sudah berapa kali sang suami pernah mengucapkan talak. Jika sang suami pernah mengucapkan talak satu maka putusannya adalah memberikan izin menjatuhkan talak raji’, jika talak dua maka putusannya memberikan izin menjatuhkan talak bain kubra dan jika talak tiga maka putusannya memberikan izin menjatuhkan talak bain kubra. Seperti itu nampaknya solusi terbaik agar aturan agama tidak bertentangan dengan atura nasional.

Kata Kunci: Status Talak, Hukum Islam dan Hukum Nasional

107 Pendahuluan

Sayid Sabiq dalam Kitabnya Fiqih Sunnah mend- efinisikan talak yaitu sebuah upaya untuk melepaskan ikatan perkawinan dan selanjutnya mengakhir hubun- gan perkawinan itu sendiri.1

Talak akan dianggap sah jika memenuhi beberapa rukun dan syarat. Apabila rukun dan syarat talak ter- penuhi, maka kapanpun dan dimanapun talak diu-

capkan akan jatuh. Adapun rukun dan sayrat talak yaitu sebagai berikut:

1. Suami;

2. Istri;

3. Sighat talak;

4. Qasdhu (sengaja);

5. Suami berakal;2 6. Baligh;

(2)

7. Atas kemauan sendiri;

8. Isteri masih tetap dalam perlindungan suami;

9. Kedudukan isteri yang dicerai harus berdasarkan atas perkawinan yang sah;

10. Shigat yang diucapkan oleh suami terhadap is- teri menunjukkan talak, baik secara jelas maupun sindiran;

11. Ucapan talak yang dilakukan oleh suami memang bertujuan untuk talak bukan maskud lain.3

Menarik untuk dibahas disini adalah ketentuan pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 dan ketentuan pasal 115 Kompilasi Hukum Is- lam yang menyebutan bahwa: “Perceraian hanya da- pat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama set- elah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”.

Maksudnya berdasarkan peraturan perundang- undangan bahwa perceraian antara suami dan istri dianggap putus dan sah secara hukum apabila telah diajukan ke Pengadilan Agama, baik cerai yang dis- ebabkan karena pengajuan gugatan cerai oleh istri maupun permohonan cerai talak oleh suami. Sepa- njang tidak ada pengajuan ke Pengadilan Agama, perkawinan antara suami istri masih dianggap ber- langsung dan belum terjadi perceraian, sampai salah satu pihak mengajukan gugatan atau permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama.

Telaah Pustaka

Talak menurut bahasa berasal dari kata Al-Furqah yang memiliki makna al-Iftiraaq (berpisah), jamknya ada- lah furaq. Sedangkan menurut istilah adalah terlepasnya ikatan perkawinan dan terputusnya hubungan diantara suami-istri akibat salah satu dari beberapa sebab.3

Ditinjau dari segi lafadz yang digunakan untuk mengucapkan talak, talak dapat dibagi menjadi dua, yaitu talak raj’i dan talak ba’in.

1. Talak raj’i

Adalah talak dimana suami masih mempunyai hak rujuk kepada bekas isterinya tanpa harus melalui akad nikah baru atau disebut sebagai talak satu atau dua.

Apabila isteri berstatus iddah talak raj’i, suami boleh rujuk kepada isterinya dengan tanpa akad nikah yang baru, tanpa persaksian dan tanpa mahar yang baru pula. Tetapi bila iddahnya sudah habis, maka suami tidak boleh rujuk atau kembali kepadanya kecuali dengan akad yang baru dan dengan membayar ma- har yang baru pula.5 Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 229:

Artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Set- elah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik”. (Q.SAl- Baqarah: 229).6

2. Talak ba’in

Adalah talak dimana suami tidak berhak rujuk kepada bekas isterinya kecuali dengan melalui akad nikah yang baru atau disebut juga sebagai talak tiga.

Apabila isteri berstatus talak ba’in, maka suami tidak boleh rujuk kepadanya. Suami boleh melaksanakan akad nikah baru kepada bekas isterinya itu dan mem- bayar mahar baru dengan menggunakan rukun dan syarat-syarat baru pula. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 230:

Artinya: “Kemudian jika si suami mentalaqnya se- sudah yang kedua, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain”. (QS. Al- Baqarah 230).7

Talak ba’in ada 2 macam, yaitu talak ba’in sughra dan talak ba’in kubra.

a. Talak ba’in sughra

Adalah talak yang menghilangkan hak-hak rujuk dari bekas suaminya, tetapi tidak menghilangkan hak nikah baru kepada bekas isterinya itu. Adapun yang termasuk kedalam talak ba’in sughra yaitu (1) talak yang dilakukan sebelum istri digauli suami, seba- gaimana firman Allah SWT dalam surat al Ahzab ayat 49, (2) Talak yang dilakukan dengan cara tebus dari pihak istri atau yang disebut dengan khuluk.Hal ini dapat dipahami dalam surat al baqarah ayat 229, (3)

1Sayyid Sabiq, Fiqhu Sunnah, Alih Bahasa Mohammad Thalib, (Band- ung: Alma’arif, 1980), Jilid 8, Hlm. 7

2Beni Ahmad Saebani, Fiqih Munakahat 2, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), Hlm. 201

3Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat, (Jakarta: Kencana Preneda Media Group, 2012), Hlm. 202-204

4Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Terjemah, Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2011), Jilid 9, Hlm. 311

5Djama’an Nur, Fiqh Munakahat, (Semarang: Dimas, 1993), Cet. ke-1, Hlm. 139

(3)

Perceraian melalui putusan hakim di pengadilan atau yang disebut fasakh.

b. Talak ba’in kubra

Adalah talak yang menghilangkan hak suami un- tuk menikah kembali kepada isterinya, kecuali bekas isterinya itu telah kawin dengan orang lain dan telah berkumpul tersebut telah menjalankan iddahnya dan iddahnya telah habis pula.8

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian literatur atau pene- litian kepustakaan (Ilibrary research). Bahan hukum primer berupa Undang-undang nomor 01 tahun 1974 dan bahan hukum skunder berupa, kitab, buku, jurnal, catatan yang berhubungan dengan penelitian. Tekh- nik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara membaca dan menganalisis terhadap putusan pengadilan, setelah itu dihubungan dengan maqashid syariah. Analisis data menggunakan metode diskripsi yaitu sebuah sistem penulisan dengan dengan cara mendeskripsikan realitas fenomena sebagai mana adanya yang dipilih dari persepsi subyek9 dan me- tode conten analisis yaitu metode yang di gunakan untuk mengidentifikasi, mempelajari dan kemudian melakukan analisis terhadap apa yang diselidiki 10.

Hasil Pembahasan

Terhadap kedudukan status jatuh atau tidaknya sebuah talak, terdapat perbedaan diantara aturan fikih dan aturan nasional yaitu sebagai berikut:

1. Perceraian Dalam Aturan Fikih

Dalam pandangan fikih atau hukum Islam, apabila rukun dan syarat perceraian terpenuhi, maka kapan- pun dan dimanapun ketika suami menjatuhkan talak kepada istrinya, maka hal itu bisa terjadi dan sah hu- kumnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bidayatul Mujtahid bahwa para ulama sepakat bahwa

seorang suami yang berakal, dewasa. Merdeka serta tidak dipaksa (boleh menjatuhkan talak).11 Kecuali da- lam keadaan tertentu ulama berbeda pendapat sep- erti talak dalam keadaan marah, talak dalam keadaan terpaksa, talak orang yang sakit dan talak orang yang belom dewasa, talak dalam keadaan mabuk, talak da- lam keadaan main-main dan salah dan talak dalam keadaan lalai atau lupa.

a. Talak dalam keadaan mabuk jumhur (a) fuqoha berpendapat bahwa hal itu terjadi;

(b) sekelompok ulama diantaranya Al Mu- zani dan sebagian para pengikut Abu Hanifah berpendapat tidak terjadi. Sebab perbedaan pendapat adalah apakah hukum orang mabuk adalah sama dengan hukum orang gila atau di antara keduanya terdapat perbedaan.12 b. Talak orang yang dipaksa (a) Imam Malik,

Syafii, Ahmad, Abu Daud dan sekelompok ulama berpendapat bahwa talaknya tidak terjadi, pendapat ini juga dikemukakan oleh Abdullah bin Umar, Ibnu Az-Zubair, Umar bin Al Khaththab, Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Ab- bas. Para pengikut Syafii membedakan antara orang tersebut berniat mentalak atau tidak ber- niat apapun, jika dia berniat mentalak maka terdapat dari mereka yang paling benar ialah menjadi keharusan baginya dan jika tidak ber- niat mentalak juga ada dua pendapat yang paling benar ialah bahwa hal itu tiak menjadi keharusan; (b) Abu Hanifah dan pengikutnya mengatakan, talaknya terjadi. Begitu juga me- merdekakan budaknya, sedangkan jual belin- ya tidak. Jadi mereka membedakan antara sta- tus hukum jual beli, talak dan memerdekakan budak.13

c. Talak anak kecil (a) pendapat yang mashur dari Malik yaitu tidak menjadi keharusan baginya hingga dewasa. Di dalam kitab Mukhtasar ma Laisa fi Al Mukhtasar dijelaskan bahwa men- jadi keharusan baginya jika telah menginjak

6Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahan- nya, (Jakarta: Syamil Qur’an 2007), Hlm. 12

7Ibid.,

8Ibid., Hlm. 140

9Seojono dan Abdurrahman, Metode Penelitian (Suatu Pengantar dan Penerapan), (Jakarta: Rieneka Cipta,1999), Hlm. 23

10Noeng Muhaadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogysksrta: Rake Sarasin, 1991), h. 49

11Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Jilid II, Takhrij Ahmad Abu Al Majdi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), Hlm. 160

12Ibid., Hlm. 162

13Ibid., Hlm. 160-161

14Ibid., Hlm. 161-162

15Ibid., Hlm. 163

(4)

usia dewasa. Pendapat ini dikemukakan oleh Ahmad bin Hambal, jika dia mampu berpuasa di bulan ramadhan; (b) Atha’ berpendapat jia mencapai dua belas tahun, maka talaknya dibolehkan, pendapat ini diriwayatkan dari Umar bin Khaththab;14

d. Adapun orang sakit yang mentalak dengan talak bain lalu meninggal karena sakitnya (a) Malik dan sekelompok ulama mengatakan istrinya mendapatkan warisan darinya; (b) Syafii dan sekelompok ulama berpendapat tidak menerima warisan.15

e. Talak dalam keadaan main--main atau salah menurut mayoritas ulama fikih, talak terse- but tetap sah, sebagaimana akad nikah yang dilakukan dengan main-main juga dianggap sah. Sebagai dasarnya adalah hadits yang diri- wayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majjah dan Tirmidzi;

f. Talak ketika lalai atau lupa hukumnya sama dengan orang yang main-main dan salah. Per- bedaan antara orang yang salah dengan orang main-main, talak orang yang main-main di- anggap sah oleh agama dan pengdilan agama, menurut ulama yang berpendapat demikian.

Sedangkan talak karena salah dianggap sah oleh pengadilan agama . Karenanya, tidak seyogyanya talak dijadikan permainan dan bahan gurauan.16

2. Talak Dalam Aturan Nasional

Dalam sistem hukum nasional kita dalam hal ini adalah Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang sudah di ubah dengan Undang-Un- dang Nomor 16 tahun 2019 dan Kompilasi Hukum Islam yang menjadi rujukan hakim Pengadilan Agama dalam memutus perkara, diantaranya tertuang dalam pasal 38 yang berbunyi: “Perkawinan dapat putus

karena (a) kematian, (b) perceraian, dan (c) keputu- san pengadilan”. Kemudian dalam pasal 39 ayat (1) disebutkan: “Perceraian hanya dapat dilakukan di de- pan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang ber- sangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”.17

Hal ini juga tertuang dalam Kompilasi Hukum Is- lam pasal 114 yang berbunyi: “Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi kar- ena talak atau berdasarkan gugatan perceraian”. Ke- mudian pasal 115 berbunyi: “Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak ber- hasil mendamaikan kedua belah pihak”.18

Artinya dari pasal tersebut dapat dipahami bahwa percerian seseorang dapat terjadi dan jatuh karena kematian baik matinya suami atau istri, perceraian (permohonan oleh suami dan gugatan oleh istri). Ber- dasarkan ketentuan ini talak di luar pengadilan tidak berkekuatan hukum, artinya Apabila ada suami men- jatuhkan talak di luar pengadilan sekalipun itu mung- kin menurutnya telah menjatuhkan talak bain baik bain sugro atau kubra, namun belum pernah diaju- kan di pengadilan maka apabila diperiksa nanti oleh pengadilan agama, kemungkinan dalam putusannya adalah talak satu atau talak raj’i.

Memang sebenarnya perceraian adalah perbuatan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci oleh Allah SWT. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

Artinya: “Perbuatan yang halal namun ssangat dibenci oleh Allah SWT adalah talak (cerai)”. (HR.

Abu Daud)19

Sehingga sebenarnya wajar-wajar saja dalam pros- es percerian seseorang di persulit dengan cara harus di daftarkan dulu di Pengadilan, kemudian dilakukan pemeriksaan di persidangan dan barulah diputus oleh majelis hakim dan diberi lagi tenggang waktu 6 bulan untuk berfikir-fikir mengucapkan ikrar talak.

3. Harmonisasi Aturan Fikih dan Nasional Adapun yang jadi masalah, ketika seorang suami sudah menceraikan istrinya dengan talak bain su-

16Sayid Sabiq, Fikih Sunnah Jilid 4, Tahkik dan Takhrij Muhammad Na- sirudiin Al Albani, (Jakarta: Cakrawala Puplishing, 2009), Hlm. 14-16

17Lihat adalah Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkaw- inan yang sudah di ubah dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019

18Lihat Kompilasi Hukum Islam dan Kepres Nomor 1 tahun 1991 ten- tang PenyebarLuasan KHI

19Imam Abu Daud, Sunan Abu Daud, (Bairut: Dar Al Fikri, tt), Hlm.

456

(5)

gro (talak dua), secara aturan agama jika ingin rujuk maka diperlukan akad nikah yang baru. Atau seorang suami sudah menceraikan istrinya dengan talak bain kubro (talak tiga), dan secara aturan agama jika ingin kembali sang istri harus menikah dulu dengan laki-laki lain dan pernikahanya tidak boleh direncanakan. Se- hingga pernikahan mantan istri itu benar-benar dari hati sang istri ingin menikah dengan laki-laki lain dan setelah cerai dengan laki-laki tersebut, barulah boleh mantan suami pertamanya menikahinya lagi. Seba- gaimana dapat dilihat dalam penjelasan tafsir surat al-Baqarah ayat 229 dan ayat 229.

Namun ketika sampai ke pengadilan kasus per- ceraiannya ternyata majleis hakim menjatuhkan ta- lak raj’i (talak satu) yang notabenennya adalah talak yang boleh rujuk tanpa harus akad baru dan sang istri menikah dengan lak-laki lain. Apakah tidak terjadi perzinahan?. Jika talak dibawah tangan yang diucap- kan oleh suami sah secara aturan agama, sementara yang dijadikan rujukan adalah talak yang dijatuhkan di depan sidang pengadilan dalam mereka menjalin hubungan suami istri.

Maka oleh karena itu, untuk kehati-hatian dan agar tidak terjadi perzinahan ketika pasangan suami istri menjalin hubungan rumah tangga, nantinya bisa berakibat kepada status wali anak, nafkah anak, nafkah istri, warisan dan lainnya.

Penulis memberikan sebuah solusi bahwa, keten- tuan pasal 39 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan dan ketentuan pasal 115 KHI tetap berlaku yaitu percerian dianggap sah jika di ucapkan di depan sidang pengadilan. Karena diantara tujuan pasa ini aadalah untuk mencegah banyaknya terjadi talak liar, maka majelis hakim benar-benar men- cari informasi atau menggali keterangan kepada para pihak dalam proses persidangan. Apakah suami pernah mengucapakan kata-kata talak, jika di dalam fakta persidangan pernah mengucapkan talak satu maka diputusannya dibunyikan bahwa:

“Memberikan izin kepada Pemohon untuk men- jatuhkan talak satu raj’i terhadap termohon”. Jika di dalam fakta persidangan pernah menjatuh- kan talak dua maka diputusannya dibunyikan bahwa: “Memberikan izin kepada Pemohon un- tuk menjatuhkan talak dua bain sugra terhadap

termohon. Begitu juga ketika di dalam fakta per- sidangan pernah mengucapkan talak tiga maka diputusannya dibunyikan bahwa: “Memberikan izin kepada Pemohon untuk menjatuhkan talak tiga bain kubra terhadap termohon”.

Meskipun permohonan itu baru pertama kali di- ajukan di Pengadilan yang secara logika akal mung- kin talak satu, tapi di lapangannya adalah bukan talak yang pertama. Inilah di antara salah satu cara mengharmonisasikan aturan-aturan agama biar se- jalan dengan aturan umum (nasonal). Jangan sam- pai ingin menegakkan aturan umum, tapi aturan agama dilanggar dan begitu juga sebaliknya. Ke- mudian jika aturan nasional salah dalam menerap- kan hukum dan yang benar adalah aturan agama, apakah majelis hakim akan mau menanggung dosa perzinahan pasangan suami istri akibat salah dalam mengambil sebuah keputusan tentang talak.

Penutup

Status talak menurut fikih dan ketentuan hukum nasional dan bagaimana cara mengharmonisasi- kan antara ketentuan fikih dan hukum nasional.

Adapun hasil penelitian ini adalah secara aturan hukum Islam dan fikih dijelaskan bahwa selama rukun dan syarat perceraian terpenuhi, dimanapun dan kapanpun ketika suami mengucapakan talak maka cerai tersebut jatuh dan sah. Namun dalam aturan hukum nasional sebagaimana disebutkan dalam pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 dan pasal 115 Kompilasi Hukum Is- lam yang intinya perceraian itu dianggap sah dan jatuh jika diucapkan di depan sidang pengadilan.

Maka untuk kehati-hatian agar aturan agama tidak dilanggar, hakim harus menggali dalam fakta-fakta di persidangan sudah berapa kali sang suami per- nah mengucapkan talak. Jika sang suami pernah mengucapkan talak satu maka putusannya adalah memberikan izin menjatuhkan talak raji’, jika talak dua maka putusannya memberikan izin menjatuh- kan talak bain kubra dan jika talak tiga maka pu- tusannya memberikan izin menjatuhkan talak bain kubra. Seperti itu nampaknya solusi terbaik agar aturan agama tidak bertentangan dengan atura na- sional.

(6)

Daftar Pustaka

Abdul Rahman Ghozali, Fiqih Munakahat, (Jakar- ta: Kencana Preneda Media Group, 2012).

Beni Ahmad Saebani, Fiqih Munakahat 2, (Band- ung: Pustaka Setia, 2001).

Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Syamil Qur’an 2007).

Djama’an Nur, Fiqh Munakahat, (Semarang: Di- mas, 1993), Cet. ke-1.

Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Jilid II, Takhrij Ah- mad Abu Al Majdi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011).

Imam Abu Daud, Sunan Abu Daud, (Bairut: Dar Al Fikri, tt).

Kompilasi Hukum Islam dan Kepres Nomor 1 ta- hun 1991 tentang PenyebarLuasan KHI.

Noeng Muhaadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogysksrta: Rake Sarasin, 1991).

Sayid Sabiq, Fikih Sunnah Jilid 4, Tahkik dan Takhrij Muhammad Nasirudiin Al Albani, (Jakarta:

Cakrawala Puplishing, 2009).

Sayyid Sabiq, Fiqhu Sunnah, Alih Bahasa Moham- mad Thalib, (Bandung: Alma’arif, 1980), Jilid 8.

Seojono dan Abdurrahman, Metode Penelitian (Suatu Pengantar dan Penerapan), (Jakarta: Rieneka Cipta,1999).

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan yang sudah di ubah dengan Undang- Undang Nomor 16 tahun 2019.

Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Ter- jemah, Abdul Hayyie al-Kattani, dkk, (Jakarta: Gema Insani, 2011), Jilid 9.

Referensi

Dokumen terkait

Karena itu, perlu dibahas tentang akibat hukum dari pelanggaran taklik talak, faktor – faktor yang menyebabkan suami melanggar taklik talak, dan upaya hukum yang ditempuh oleh

Terkait dengan status talak yang dijatuhkan suami terhadap istri yang sedang haid, Ibnu Qayyim memandangnya sebagai sesuatu yang diharamkan, kemudian pelaku akan berdosa

Tanpa harus mensyaratkan di mana terjadinya talak itu, sedangkan dalam pandangan Hukum Positif yaitu , perceraian yang dilakuakan di luar Pengadilan Agama oleh

Implikasi hukum yang dapat ditimbulkan adalah apabila suami melanggar ikrar taklik talak, maka dapat dikategorikan sebagai pelanggaran, dan pelanggaran tersebut dapat dijadikan

Walaupun dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) menjelaskan tentang talak dan apabila seorang suami mengucapkan kata talak kepada istrinya maka sudah haram baginya untuk

Talak 3 ini adalah dimana talak yang tidak bias kembali lagi membina keluarga akan tetapi jika mantan sepasang suami istri tersebut ingin kembali lagi maka harus

Dokumen ini membahas tentang pengertian, faktor penyebab, dan dalil talak dalam hukum

TINJAUAN HUKt;M TERHADAP PENGUCAPAN TALAK DI LUAR PENGADILAN MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM Studi KUA Percut Sei Tuan SKRIPSI D'a;ui... \IB \R PtRSETLJLAN SKRLPSI