DAFTAR ISI
ABSTRAK ………. i
KATA PENGANTAR ………. ii
UCAPAN TERIMA KASIH ………. iii
DAFTAR ISI ………. vi
DAFTAR TABEL ………. x
DAFTAR GAMBAR ………. xii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ………... 1
1.2 Rumusan Masalah ………... 6
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian ………... 6
1.3.2 Kegunaan Penelitian ………... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka ………... 8
2.1.1 Konsep Industri Kecil ………... 8
2.1.1.1 Pengertian Industri Kecil ………... 8
2.1.1.2 Karakteristik Industri Kecil ………. 9
2.1.1.3 Kekuatan dan Kelemahan Industri Kecil …….. 10
2.1.3 Pasar Persaingan Monopolistik …..……… 15
2.1.4 Harga Jual ……… 19
2.1.4.1 Konsep Harga ……… 19
2.1.4.2 Teori Harga ……… 22
2.1.4.3 Harga Jual ……… 25
2.1.4.4 Pengaruh Harga Jual terhadap Pendapatan ….. 27
2.1.5 Modal Kerja ………... 27
2.1.5.1 Pengertian Modal Kerja ………... 27
2.1.5.2 Jenis-Jenis Modal Kerja ………... 29
2.1.5.3 Unsur Modal Kerja ………... 30
2..1.5.4 Fungsi Modal Kerja ………... 31
2.1.5.5 Sumber dan Penggunaan Modal Kerja ………. 32
2.1.5.6 Pengaruh Modal Kerja terhadap Pendapatan ... 33
2.1.6 Penelitian Terdahulu ……….... 34
2.2 Kerangka Pemikiran ………... 35
2.3 Hipotesis ……… 39
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian ……… 40
3.2 Metode Penelitian ……… 40
3.3 Populasi dan Sampel ……… 41
3.4 Operasionalisasi Variabel ………... 43
3.5 Teknik Pengumpulan Data ……… 44
3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ……… 45
3.6.1 Teknik Analisis Data ……… 45
3.6.2 Pengujian Hipotesis ……… 45
3.6.2.1Uji Parsial (Uji t) ……… 46
3.6.2.2Uji Simultan (Uji F) ……… 46
3.6.2.3Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) ……… 47
3.7 Uji Asumsi Klasik ……… 48
3.7.1 Uji Multikolinearitas ……… 48
3.7.2 Uji Uji Heterokedastisistas ……… 49
3.7.3 Uji Autokorelasi ……… 50
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sentra Industri Tahu Cibuntu ……… 53
4.2 Deskripsi Data Hasil Penelitian ……… 54
4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ………... 54
4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ……….. 55
4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan …... 56
4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Usaha ……. 57
4.3 Data Variabel Penelitian ………. 59
4.3.1 Harga Jual ………. 59
4.3.3 Pendapatan ………. 64
4.4 Uji Hipotesis ………. 66
4.4.1 Koefisien Korelasi antara Variabel-Variabel X dan Y ………. 66
4.4.2 Koefisien Korelasi Ganda dan Koefisien Determinasi ……….. 67
4.4.3 Model Persamaan Regresi ……… 68
4.4.4 Uji Signifikasi ……… 69
4.4.4.1 Uji F ……… 69
4.4.4.2 Uji t ……… 70
4.4.5 Uji Asumsi Klasik ……… 72
4.4.5.1 Uji Multikolinearitas ……… 72
4.4.5.2 Uji Heterokedastis ……… 73
4.4.5.3 Uji Autokorelasi ……… 74
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ……… 75
4.5.1 Pengaruh Harga Jual terhadap Pendapatan ……… 75
4.5.2 Pengaruh Modal Kerja terhadap Pendapatan ……… 76
4.5.3 Implikasi Pendidikan ……… 78
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ………. 82
5.2 Saran ………. 82
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Produksi Tahu Cibuntu Periode Tahun 2007 – 2011 .…… 4
Tabel 1.2 Rata – Rata Pendapatan Perajin Tahu Cibuntu Bulan Juni – Juli 2012 ………. 5
Tabel 3.1 Oprasionalisasi Variabel ………. 43
Tabel 3.2 Ketentuan Nilai Durbin-Watson ……… 52
Tabel 4.1 Jenis Kelamin Responden ………. 54
Tabel 4.2 Usia Responden ………. 55
Tabel 4.3 Tingkat Pendidikan Responden ………. 57
Tabel 4.4 Pengalaman Usaha Responden ………. 58
Tabel 4.5 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah Harga Jual Tahu Kecil yang Diproduksi Bulan Juli 2012 ………. 59
Tabel 4.6 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah Harga Jual Tahu Besar yang Diproduksi Bulan Juli 2012 ………. 61
Tabel 4.7 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah Modal Kerja Bulan Juli 2012 ………. 62
Tabel 4.8 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Pendapatan Bulan Juli 2012 ……….. 64
Tabel 4.9 Koefisien Korelasi antara Variabel-Variabel X dengan Variabel Y ……….. 66
Tabel 4.11 Nilai Penduga Koefisien Regresi ……… 68
Tabel 4.12 Hasil Uji F ……… 70
Tabel 4.13 Hasil Uji t ……… 71
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Lingkaran Ketergantungan Usaha Kecil ……… 12
Gambar 2.2 Kurva TR, AR, dan MR dalam Pasar Persaingan Tidak Sempurna ……… 14
Gambar 2.3 Keseimbangan Pasar Persaingan Monopolistik Jangka Pendek yang Mengalami Keuntungan ……… 16
Gambar 2.4 Keseimbangan Pasar Persaingan Monopolistik Jangka Pendek yang Mengalami Kerugian ……… 17
Gambar 2.5 Keseimbangan Perusahaan Persaingan Monopolistik dalam Jangka Panjang ……… 18
Gambar 2.6 Grafik Harga dan Jumlah Barang yang diperjualbelikan …. 23 Gambar 2.7 Akibat Pergeseran Permintaan terhadap Keseimbangan …. 24 Gambar 2.8 Akibat Pergeseran Penawaran terhadap Keseimbangan ….. 25
Gambar 3.1 Uji Durbin-Watson d ……… 52
Gambar 4.1 Jenis Kelamin Responden ……… 55
Gambar 4.2 Usia Responden ……… 56
Gambar 4.3 Tingkat Pendidikan Responden ……… 57
Gambar 4.4 Pengalaman Usaha Responden ……… 58
Gambar 4.5 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah
Harga Jual Tahu Kecil yang Diproduksi Bulan Juli 2012 … 60
Gambar 4.6 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah
Gambar 4.7 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah
Modal Kerja Bulan Juli 2012 ……… 63
Gambar 4.8 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Pendapatan
Bulan Juli 2012 ……… 65
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Pemerintah Indonesia senantiasa melakukan pembangunan disegala
bidang, termasuk pembangunan di bidang ekonomi. Salah satu sektor dalam
bidang ekonomi yakni sektor perindustrian. Dalam era globalisasi, sektor
perindustrian menghadapi banyak tantangan. Salah satunya dengan adanya AFTA
(ASEAN Free Trade Area). Banyak sektor industri yang terkena dampak buruk
dari AFTA. Sektor industri yang paling terpuruk akibat imbas dari
diberlakukannya AFTA yaitu industri kecil.
Pada hakikatnya, peranan industri kecil dalam perekonomian memiliki
peranan penting terutama untuk membantu pemerintah dalam upaya peningkatan
kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan perekonomian pedesaan
dan peningkatan ekspor non-migas. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa industri
kecil memiliki banyak kelemahan.
Menurut Suryana (2006:121) kelemahan dalam industri kecil tersebut
dapat dikategorikan kedalam dua aspek :
1. Aspek kelemahan sruktural, yaitu kelemahan strukturnya, misalnya kelemahan
dalam bidang manajemen dan organisasi, kelemahan dalam pengndalian mutu, kelemahan dalam mengadopsi dan penguasaan teknologi, tenaga kerja masih lokal yang umumnya masih kurang atau tidak memiliki ketrampilan.
2. Kelemahan kultural mengakibatkan kurangnya akses informasi dan lemahnya
Kelemahan yang dimiliki industri kecil tersebut haruslah diantisipasi
dengan solusi kongkrit tidak hanya oleh pelaku industri tersebut namun didukung
juga dengan pemerintah serta masyarakatnya. Jika industri kecil terpuruk maka
akan mengakibatkan tergangunya stabilitas perekonomian nasional. Walaupun
pengaruhnya tidak sebesar industri menegah atau industri besar namun
dikarenakan kegiatan dari industri kecil menyentuh langsung pada kegiatan
ekonomi masyarakat maka sudah barang tentu akan berpengaruh langsung pada
masyarakat terutama masyarakat bawah dan menengah.
Masyarakat haruslah mencintai serta menghargai produk dalam negeri.
Dimulai dengan semangat tersebut akan menjadi motivasi pada industri dalam
negeri khusunya industri kecil supaya mampu bersaing dalam era globalisasi ini.
Pemerintah pun tidak kalah penting memiliki peranan dalam
mengembangkan industri kecil. Pemerintah dengan program-programnya sudah
semestinya melakukan bantuan baik moril (pembinaan, penyuluhan, kebijakan)
maupun materil seperti JPS (Jaringan Pengaman Sosial), PNPM (Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat), serta bantuan dana sektor rill lainnya
supaya industri kecil dapat berkembang dengan baik.
Seperti di kota Bandung, pemerintah kota Bandung senantiasa berusaha
meningkatkan sektor industrinya salah satunya dengan mengkelompokan
industri-industri yang ada di kota Bandung. Hal tersebut bertujuan supaya industri-industri-industri-industri
yang ada di kota Bandung dapat terkoordinir dengan baik sehingga dapat
Walikota Bandung Nomor 530/Kep.295-DISKUKM.PERINDAG/2009 yaitu
sebagai berikut :
1. Sentra Sepatu Cibaduyut
2. Sentra Jeans Cihampelas
3. Sentra Kaos dan Sablon Suci
4. Sentra Rajut Binong Jati
5. Sentra Tekstil dan Produk Tekstil Cigondewah
6. Sentra Tahu dan Tempe Cibuntu
Kemudian sentra industri kota Bandung hingga tahun 2010 bertambah 4 (empat) sentra yaitu sebagai berikut :
1. Sentra Spare Part Otomotif Kiaracondong
2. Sentra Boneka Warung Muncang
3. Sentra Boneka Sukamulya
4. Sentra Tas Leuwipanjang
Berdasarkan penjelasan diatas, sentra industri yang ada di kota Bandung
yakni 10 (sepuluh) sentra industri. Namun dari 10 (sepuluh) sentra industri
tersebut 7 (tujuh) sentra industri diantaranya dijadikan unggulan atau ciri khas
kota Bandung yaitu Sentra Industri dan Perdagangan Rajutan Binongjati, Sentra
Perdagangan Kain Cigondewah, Sentra Perdagangan Jeans Cihampelas, Sentra
Industri Kaos Suci, Sentra Industri Sepatu Cibaduyut, Sentra Industri Tahu
Cibuntu dan terakhir Sentra Industri Boneka Sukamulya Sukajadi.
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan tersebut, terdapat Sentra
Industri Tahu Cibuntu. Industri tahu di kota bandung sudah menjadi legenda.
Banyak usaha tahu yang berkembang di kota bandung dari zaman dahulu hingga
sekarang. Adapun usaha tahu di kota Bandung seperti Tahu Yun Yi, Tahu
Lembang (Tahu Tauhid dan Tahu Susu), Tahu Talaga Yun Sen, dan Tahu
Industri tahu di kota Bandung dalam menjalankan usahanya banyak
mengalami problematika. Salah satunya pada Sentra Industri Tahu Cibuntu.
Pertumbuhan produksi tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu relatif rendah dan
menurun pada akhir tahun ini. Hal tersebut dapat dilihat dari data rata-rata
produksi tahu cibuntu yaitu sebagai berikut :
Tabel 1.1
Produksi Tahu Cibuntu Periode Tahun 2007 – 2011
Tahun Rata – Rata Produksi / Unit Usaha
Pertumbuhan (%)
2007 8.691.720 -
2008 8.749.220 0.66
2009 8.827.750 0.89
2010 8.530.020 - 3.37
2011 7.984.460 - 6.39
Sumber : KOPTI Kota Bandung, diolah
Berdasarkan data diatas, rata-rata tahu yang diproduksi tahun 2008 sebesar
8.749.220 butir tahu dan pertumbuhannya sebesar 0,66%. Pada tahun 2009
rata-rata produksi sebesar 8.827.750 butir tahu dan pertumbuhannya meningkat
dibanding tahun 2008 yakni sebesar 0,89%. Namun pada tahun 2010 rata-rata
produksi sebesar 8.530.020 butir tahu mengalami penurunan yakni
pertumbuhannya -3,37%. Selanjutnya pada tahun 2011 rata-rata produksi sebesar
7.984.460 butir tahu mengalami penurunan kembali yakni pertumbuhannya
Rata-rata produksi tahu cibuntu relatif rendah dan terus menurun akan
mempengaruhi pendapatan perajin tahu. Rendahnya produksi tahu cibuntu
berdasarkan informasi yang berkembang saat ini disebabkan oleh ketergantuan
kedelai impor. Seperti yang telah diketahui bahwa harga kedelai impor semakin
naik. Hal tersebut mengakibatkan para perajin tahu kesulitan dalam proses
produksi karena mereka harus mempertimbangkan modal usaha dan harga jual
hasil produksinya. Puncak dari permasalahan tersebut terjadi pada tanggal 25-27
July 2012 seperti informasi dari media online kompas.com (2012, 25 July) berikut
ini :
“Sentra kerajinan tahu Cibuntu, Kota Bandung, resmi berhenti operasi sejenak sebagai bentuk solidaritas kepada gerakan mogok produksi
selama tiga hari terhitung mulai Rabu (25/7/2012)” (kompas.com)
Para perajin tahu cibuntu melakukan aksi mogok produksi. Hal tersebut
menyebabkan pendapatan para perajin tahu menurun. Hal tersebut dapat dilihat
dari data rata-rata pendapatan perajin tahu cibuntu (sampel penelitian 40
responden) sebagai berikut :
Tabel 1.2
Rata-Rata Pendapatan Perajin Tahu Cibuntu
Bulan Juni – July 2012
Bulan Rata-Rata
Pendapatan / Unit Usaha
Pertumbuhan
(%)
Juni Rp 36.000.000 -
July Rp 24.000.000 - 33.33 %
Sumber : Pra-Penelitian di Sentra Industri Tahu Cibuntu
Berdasarkan data tersebut, pendapatan perajin tahu mengalami penurunan
sebesar -33,33%. Banyak faktor yang mempengaruhi pendapatan perajin tahu
pendapatan perajin tahu menurun. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
dipaparkan maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil
judul : PENGARUH HARGA JUAL DAN MODAL KERJA TERHADAP
PENDAPATAN PERAJIN TAHU DI SENTRA INDUSTRI TAHU
CIBUNTU KOTA BANDUNG.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka penulis
akan membatasi lingkup dari penelitian ini dalam bentuk identifikasi masalah
berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh harga jual terhadap pendapatan perajin tahu ?
2. Bagaimana pengaruh modal kerja terhadap pendapatan perajin tahu ?
3. Bagaimana pengaruh harga jual dan modal kerja terhadap pendapatan perajin
tahu ?
1.3Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini berdasarkan masalah yang telah
dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh harga jual terhadap pendapatan perajin tahu.
2. Untuk mengetahui pengaruh modal kerja terhadap pendapatan perajin tahu.
3. Untuk mengetahui pengaruh harga jual dan modal kerja terhadap pendapatan
1.3.2 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1. Kegunaan Teoritis
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan khususnya bidang kajian ekonomi mikro.
2. Kegunaan Praktis
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi
tambahan untuk pengambilan kebijakan dalam instansi terkait untuk
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek dan Subjek Penelitian
Setiap penelitian membahas mengenai objek dan subjek yang ditelitinya.
Dalam penelitian ini yang menjadi objek terdiri dari dua variabel bebas (X) yaitu
Harga Jual (X1) dan Modal Kerja (X2) serta satu variabel terikat (Y) yaitu
pendapatan.
Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah para perajin tahu
di Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung.
3.2 Metode Penelitian
Metode merupakan cara yang dilakukan atau yang diambil oleh peneliti
untuk mengkaji persoalan-persoalan atau masalah yang dihadapi. Supaya masalah
tersebut dapat dipecahkan dengan tepat, sebuah penelitian harus memilih satu
metode penelitian yang sesuai.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
analitik. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 136) mengemukakan bahwa metode
deskriptif adalah suatu cara penelitian yang tertuju pada pemecahan masalah yang
ada pada masa sekarang mengenai masalah yang sedang aktual. Data yang
Metode deskriptif analitik yaitu metode penelitian yang menggambarkan
dan membahas objek yang diteliti berdasarkan faktor yang ada, kegiatannya
meliputi pengumpulan data, pengolahan data, dan informasi data serta menarik
kesimpulan.
3.3Populasi dan Sampel 3.3.1Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 130) populasi adalah keseluruhan
subjek penelitian. Populasi yang dimaksud dalam suatu penelitian adalah
sekelompok objek yang dapat dijadikan sumber penelitian, dapat berupa
benda-benda, manusia, gejala, peristiwa, atau hal-hal lain yang memiliki karakteristik
tertentu untuk memperjelas masalah penelitian.
Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah perajin tahu yang ada
di Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung sebanyak 261 unit usaha yang
terdapat pada tiga kelurahan yaitu Kelurahan Warung Muncang, Kelurahan
Babakan Ciparay, dan Kelurahan Sukahaji. Adapun jumlah unit usaha tersebut
berdasarkan data yang ada di Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI)
Kota Bandung.
3.3.2Sampel
Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 131) sampel adalah sebagian atau
wakil populasi yang diteliti. Sedangkan menurut Riduwan (2010: 56) sampel
adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang
Adapun rumus untuk menentukan jumlah sampel yang harus diteliti yaitu
sebagai berikut :
�
=
��.�2+ 1 (Riduwan, 2010: 65)
Dimana : n = ukuran sampel keseluruhan
N = ukuran populasi sampel
d = tingkat presisi yang diharapkan
maka :
�= �
�.�2+ 1
�= 261
261. (0,1)2+ 1
�= 261
261.0,01 + 1
�= 261
2,61 + 1
�= 261
3,61
�= 72,29 ≈ ��
Berdasarkan uraian diatas maka sampel yang akan diambil adalah 73 unit
usaha tahu Cibuntu.
3.4 Operasionalisasi Variabel
Pada dasarnya variabel yang akan diteliti dikelompokkan dalam konsep
teoritis, empiris, dan analitis. Konsep teoritis adalah penelitian yang menggunakan
dari konsep teoritis. Sedangkan konsep analitis adalah perolehan data untuk
meneliti konsep yang telah dijabarkan dalam konsep empiris. Adapun
operasionalisasi variabel dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep Teoritis Konsep Empiris Konsep Analitis Skala
3.5Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan maka suatu penelitian
menggunakan teknik dalam pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kuesioner
Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 225) kuesioner atau penyebaran daftar
pertanyaan (angket) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya
atau hal -hal yang ia ketahui.
2. Wawancara
Riduwan (2010:74) mengemukakan bahwa wawancara adalah suatu cara
pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari
sumbernya. Wawancara merupakan sebuah aktifitas yang dilakukan oleh dua
pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang
diwawancarai (responden) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
3. Dokumentasi
Suharsimi Arikunto (2006: 105) memberikan pengertian bahwa dokumentasi
berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Selanjutnya
Suharsimi Arikunto (2006: 231) mengemukakan bahwa metode dokumentasi
yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip,
buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan
3.6Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis 3.6.1Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui pengaruh dari variabel penelitian Harga Jual (X1),
Modal Kerja (X2), dan Pendapatan (Y) maka pengujian hipotesis dapat dilakukan
dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda untuk menguji pengaruh
variabel X terhadap variabel Y.
Regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh langsung
antara sebagai (X1) dan (X2) sebagai variabel independen (bebas) terhadap
Pendapatan (Y) sebagai variabel dependen (terikat). Adapun bentuk persamaan
dari variabel diatas adalah sebagai berikut:
Y = βο + β 1 X1 + β 2 X2 + e
Keterangan :
Y = Pendapatan
1
= Harga Jual
2
= Modal Kerja
e = variabel pengganggu
β1 β2 = Koefisien masing – masing variabel
3.6.2Pengujian Hipotesis
Dalam penelitian ini, untuk menguji hipotesis digunakan uji statistik
berupa uji parsial (uji t), uji simultan (uji f), dan uji koefisien determinasi
3.6.2.1Uji Parsial (Uji t)
Pengujian hipotesis secara individu dengan uji t bertujuan untuk
mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas X terhadap variabel
terikat Y. Pengujian hipotesis secara individu dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus :
Kriteria uji t adalah :
1. Jika �hitung > �tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima (variabel bebas X
berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Y).
2. Jika thitung < ttabel maka H0 diterima dan H1 ditolak (variabel bebas X tidak
berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Y). Dalam penelitian ini
tingkat kesalahan yang digunakan adalah 0,05 (5%) pada taraf signifikasi
95%.
3.6.2.2Uji Simultan (Uji F)
Pengujian hipotesis secara keseluruhan merupakan penggabungan
(overall significance) variabel bebas X terhadap variabel terikat Y, untuk
mengetahui seberapa pengaruhnya. Uji t tidak dapat digunakan untuk menguji
hipotesis secara keseluruhan. Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan
rumus :
Kriteria uji F adalah :
1. Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima dan Ha ditolak (keseluruhan
variabel bebas X tidak berpengaruh terhadap variabel terikat Y).
2. Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan Ha diterima (keseluruhan
variabel bebas X berpengaruh terhadap variabel terikat Y).
3.6.2.3Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)
Koefisien Determinasi (R) merupakan cara untuk mengukur ketepatan
suatu garis regresi. Menurut Gujarati (2006: 98) dijelaskan bahwa koefisien
determinasi (R2) yaitu angka menunjukan besarnya derajat kemampuan
menerangkan variabel bebas terhadap terikat dari fungsi tersebut.
Pengaruh secara simultan variabel X terhadap Y dapat dihitung dengan
koefisien determinasi secara simultan melalui rumus :
�2 = 1 1 22 2
dengan variabel terikat semakin erat/dekat, atau dengan kata lain model
tersebut dapat dinilai baik.
b. Jika R2 semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikat jauh/tidak erat, atau dengan kata lain model tersebut
3.7 Uji Asumsi Klasik
Ada tiga pengujian yang akan dilakukan untuk pengujian asumsi klasik
yaitu sebagai berikut :
3.7.1 Multikolinieritas
Menurut Agus Widarjono (2007: 131) bahwa uji multikolinieritas adalah
adanya suatu hubungan linear antara variabel independen dalam satu garis regresi.
Selanjutnya Agus Widarjono (2007: 113) mengemukakan ada beberapa
cara untuk mendeteksi keberadaan multikolinieritas dalam model regresi OLS
yaitu sebagai berikut :
a. Mendeteksi nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai thitung. Jika R2
tinggi (biasanya berkisar 0,7 – 1,0) tetapi sangat sedikit koefisien
regresi yang signifikan secara statistik, maka kemungkinan ada gejala
multikolinieritas.
b. Melakukan uji korelasi derajat nol. Apabila koefisien korelasinya
tinggi, perlu dicurigai adanya masalah multikolinieritas. Akan tetapi
tingginya koefisien korelasi tersebut tidak menjamin terjadi
multikolinieritas.
c. Menguji korelasi antar sesama variabel bebas dengan cara meregresi
setiap Xi terhadap X lainnya. Dari regresi tersebut, kita dapatkan R2
dan F. Jika nilai Fhitung melebihi nilai kritis Ftabel pada tingkat derajat
d. Regresi Auxiliary, untuk menguji multikolinieritas hanya dengan
melihat hubungan secara individual antara satu variabel independen
dengan satu variabel independen lainnya.
e. Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance, merupakan pedoman
untuk menentukan model regresi bebas dari multikolinieritas yaitu
sebagai berikut :
- Mempunyai angka VIF dibawah 10.
- Mempunyai angka tolerance mendekati 1
Dalam penelitian ini untuk memprediksi ada atau tidaknya
multikolinieritas yakni dengan menggunakan uji Variance Inflation Factor (VIF)
dan Tolerance.
Apabila terjadi Multikolinieritas menurut Gujarati (2006: 45) disarankan
untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Adanya informasi sebelumnya (informasi apriori).
b. Menghubungkan data cross sectional dan data urutan waktu, yang dikenal
sebagai penggabung data (pooling the data).
c. Mengeluarkan satu variabel atau lebih.
d. Transformasi variabel serta penambahan variabel baru.
3.7.2 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke
tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau
tidak terjadi heteroskedastisitas.
Kriteria pengujian untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas
dapat dilakukan melalui analisis grafik hasil output SPSS dengan kriteria berikut :
1) Jika grafik mengikuti pola tertentu misal linier, kuadratik atau
hubungan lain berarti pada model tersebut terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika pada grafik plot tidak mengikuti pola atau aturan tertentu maka
pada model tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas.
Adapun beberapa akibat yang ditimbulkan akibat adanya
heteroskedastisitas (Sumodiningrat, 2001:266) :
a) Penaksir-penaksir OLS tidak akan bias (unbiased)
b) Artinya, penaksir-penaksir kuadrat terkecil adalah unbiased, sekalipun dalam kondisi heteroskedastisitas. Hal ini disebabkan karena di sini tidak digunakan asumsi homoskedastisitas.
c) Varian dari koefisien-koefisien OLS salah.
d) Penaksir-penaksir OLS akan menjadi tidak efisien.
Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan metode grafik
plot. Jika grafik plot untuk tidak menunjukkan pola tertentu maka tidak terjadi
heteroskedastisitas, sebaliknya jika grafik plot menunjukkan suatu pola tertentu,
misalnya maka terjadi heteroskedastisitas.
3.7.3 Autokorelasi
Menurut Agus Widarjono (2007: 155) secara harafiah autokorealsi berarti
adanya korelasi antara anggota observasi satu dengan observasi lain yang
merupakan korelasi antara satu variabel gangguan dengan variabel gangguan satu
dengan variabel gangguan lain.
Autokorelasi menggambarkan tidak adanya korelasi antara variabel
pengganggu disturbance term. Faktor-faktor penyebab autokorelasi antara lain
kesalahan dalam menentukan model, pengggunaan lag dalam model dan tidak
dimasukannya variabel penting. Akibatnya parameter yang diestimasi menjadi
bias dan varian tidak minimum sehingga tidak efisien.
Konsekuensi dari adanya gejala autokorelasi dalam model regresi OLS
dapat menimbulkan :
a. Estimator OLS menjadi tidak efisien karena selang keyakinan melebar
b. Variance populasi �2 diestimasi terlalu rendah (underestimated) oleh varians
residual taksiran.
c. Akibat butir 2, R2 bisa ditaksir terlalu tinggi (overestimated)
d. Jika �2 tidak diestimasi terlalu rendah, maka varians estimator OLS ( ^�� )
e. Pengujian signifikan (t dan F) menjadi lemah.
Dalam penelitian ini, cara yang digunakan untuk mengkaji autokorelasi
adalah dengan uji d Durbin-Watson, yaitu dengan cara membandingkan nilai
statistik Durbin-Watson hitung dengan Durbin Watson tabel. Mekanisme uji
Durbin-Watson adalah sebagai berikut :
a. Lakukan regresi OLS dan dapatkan residual ei
b. Hitung nilai d (Durbin-Watson)
c. Dapatkan nilai kritis dL dan dU
Gambar 3.1
e. Ketentuan nilai Durbin Watson d, penentu ada tidaknya autokorelasi dapat
dilihat dengan jelas dalam tabel 3.2 sebagai berikut :
Tabel 3.2
Ketentuan Nilai Uji Durbin-Watson d
Nilai Statistik d Hasil
0 < d < dL Menolak hipotesis nol; ada autokorelasi positif
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan adapun kesimpulan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Harga jual berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan perajin
tahu Cibuntu. Artinya jika harga jual produk tahu naik maka pendapatan
akan naik pula. Begitu pula sebaliknya, jika harga jual produk tahu turun
maka pendapatan akan menurun.
2. Modal kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Hal
tersebut berarti, besar kecilnya modal kerja yang dimiliki maka akan
mempengaruhi besar-kecilnya pendapatan yang diperoleh.
5.2 Saran
Adapun saran-saran yang dapat penulis rekomendasikan adalah sebagai
berikut :
1. Harga jual produk tahu tidak dapat dinaikan begitu saja walaupun biaya
produksi naik pula. Dengan mengecilkan ukuran produk tahu yang dilakukan
oleh perajin tidak selamanya dapat menjadi solusi untuk mengatasi
problematika tersebut. Oleh sebab itulah, perlu upaya peningkatan kualitas
produk dengan cara berwirausaha dengan jujur (tidak menggunakan formalin,
tidak mengurangi takaran bahan atau bumbu, melakukan proses produksi sesuai
BUMN atau perusahaan swasta untuk mengatasi problematika usahanya
sehingga dapat berkembang dengan baik. Karena dengan berperan aktif,
pengusaha akan mendapatkan informasi usaha, ilmu pengetahuan, serta
bantuan dana. Sehingga dapat mengefisiensikan biaya produksi tanpa harus
menaikkan harga jual produk. Jika harga jual produk tahu memang harus
dinaikan karena tidak dapat dilakukan upaya apapun, jangan takut akan
berdampak pada turunnya permintaan tahu sehingga pendapatan usaha juga
rendah. Dengan kualitas produk tahu yang terjamin hal tersebut tidak akan
terjadi begitu parah. Karena pada hakikatnya, konsumen memang menyukai
harga yang murah namun yang perlu dipahami oleh para pengusaha, konsumen
lebih tertarik pada produk yang kualitasnya terjamin.
2. Modal kerja sebaiknya dialokasikan secara efektif dan efisien supaya kegiatan
usaha dapat berjalan dengan baik. Sebaiknya pengusaha membuat laporan
usaha sehingga tidak tercampur dengan keuangan pribadi serta kegiatan usaha
dapat terdata dengan baik untuk kepentingan administrasi yang nantinya akan
membantu untuk memajukan usahanya karena terkonsep dengan baik pula.
3. Kendala utama perajin tahu adalah ketergantungan kepada kedelai impor yang
harganya semakin naik. Oleh karena itu, pemerintah perlu lebih mengkaji
solusi yang terbaik untuk menangani masalah ini. Selain itu, untuk
mengurangi bahkan tidak tergantung lagi pada kedelai impor, maka petani
kedelai lokal perlu dibina serta didukung dengan baik oleh pemerintah
4. Kebutuhan akan ketersediaan air yang berkualitas baik untuk dapat
menghasilkan tahu yang unggul perlu dibenahi dengan baik oleh pihak-pihak
terkait karena selain kedelai, air merupakan faktor vital dalam proses
produksi.
5. Pemerintah disarankan untuk lebih memperhatikan kelangsungan usaha kecil
melalui kebijakan-kebijakan yang tidak berat sebelah kepada usaha kecil serta
lebih serius lagi dalam melaksanakan pembinaan kepada UKM (Usaha Kecil
Menengah).
6. Pengusaha disarankan berpartisipasi aktif untuk mengikuti program
peningkatan usaha rakyat seperti mengikuti pelatihan, seminar, dll.
7. Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung sudah dijadikan sebagai tempat
wisata kuliner. Oleh karena itu, dari segi fisik lingkungan usahanya perlu
dibenahi dengan baik oleh pihak-pihak terkait terutama seperti sistem
pembuangan limbah produksi supaya sentra tersebut dapat benar-benar layak
dikunjungi dan meninggalkan kesan yang baik kepada para pengunjungnya.
8. Sebagai warga negara yang baik, masyarakat Indonesia haruslah member
dukungan dengan cara mencintai produk dalam negeri. Jika ada kelemahan
misalnya dari aspek kualitas terhadap produk dalam negeri janganlah langsung
beralih pada produk lain namun dengan cara memberikan saran yang
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Kamaruddin. (1997). Dasar-Dasar Manajemen Modal Kerja. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Ahman, Eeng & Yana Rohmana. (2009). Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Bandung:
Laboratorium Ekonomi dan Koperasi
Alma, Buchari. (2003). Pengantar Bisnis. Bandung: CV Alfabeta
Anoraga, P dan Sudantoko, D. (2002). Koperasi, Kewirausahaan, dan Usaha Kecil.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta
Rineka Cipta
Case, Karl E. & Fair, Ray C. (2002). Prinsip-Prinsip Ekonomi Mikro. Jakarta:
Prenhallindo
Gujarati, Damodar. (2006). Ekonometria Dasar. Terjemahan: Sumarno Zain,
Jakarta: Erlangga.
Hasibuan, M. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Hatminingsih, Rahdwi. (2010). Pengaruh Persaingan, Harga Jual, dan Diversifikasi
Produk terhadap Pendapatan Pedagang Kuliner Jenis Minuman di Kota
Komarudin. (1994). Ensiklopedia Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara
Lipsey, R.G & Steiner P.O. (2003). Pengantar Mikro Ekonomi Edisi Kesepuluh.
Jakarta: Binarupa Aksara
Musselman, Vernon A & Jakson. (1992). Pengantar Ekonomi Perusahaan Jilid I
Edisi 9. Jakarta: Erlangga
Pressman, Steven. (2002). Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. Jakarta: Murai
Kencana PT. Raja Grafindo Persada
Riduwan. (2010). Dasar-Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta
Riyanto, Bambang. (1995). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi
Keempat. Yogyakarta: BPFE UGM
Sadono, Sukirno. (2002). Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo
Persada
Saladin, Djaslim. (2004). Manajemen Pemasaran- Analisis Perencanan, Pelaksanaan
dan Pengendalian. Bandung: Linda Karya
Samuelson, Paul A & Nordhaus, William D. (1999). Mikro Ekonomi. Jakarta:
Erlangga
Santosa, Purbayu B. & Ashari. (2005). Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan
SPSS. Semarang: Andi
Sari, Ratna. (2012). Pengaruh Harga Jual dan Produk terhadap Laba Pengusaha
Topi di Desa Rahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung. Skripsi.
Singarimbun, Masri. (1989). Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ES dan Anggota
IKAPI
Subagia, Osa. (2010). Pengaruh Harga Jual dan Diferensiasi Produk terhadap Laba
Pengusaha Tas di Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Skripsi. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia
Sumodiningrat, Gunawan. (2001). Pengantar Ekonometrika. Yogyakarta: BPFE
Supranto, J. (2005). Ekonometri. Bogor: Ghalia Indonesia
Suryana. (2006). Kewirausahaan Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses.
Jakarta: Salemba Empat
Syahyunan. (2003). Analisis Modal Kerja. [Online]. Tersedia di:
http://library.usu.ac.id/download/fe/manajemen-syahyunan3.pdf
Tati S, Joesron & M. Fathorrozi (2002). Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Salemba
Empat
Tulus TH, Tambunan. (2002). Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia Beberapa Isu
Penting. Jakarta: Salemba Empat
BPS – Profil Industri Kecil Kerajinan dan Rumah Tangga. (online),
(http//:www.bps.go.id)
Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Bandung – Laporan Rapat
Pujianti, Yuli. (2006). Analisis Pengaruh Harga Jual Diferensiasi Produk, dan
Saluran Distribusi terhadap Pendapatan Usaha Kerajinan Anyaman Bambu di
Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka. Skripsi. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia
Pemerintah Daerah Kota Bandung – SK Walikota Bandung Nomor
530/Kep.295-DISKUKM.PERINDAG/2009
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah
www.kompas.com
www.wikipediaindonesia.com
Widarjono, Agus. (2007). Ekonometrika Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Ekonisia
FE UII
Yunus, Hadori . (2005). Pengaruh Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Pada
Perusahaan Sektor Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di