• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH HARGA JUAL DAN MODAL KERJA TERHADAP PENDAPATAN PERAJIN TAHU:Studi Kasus pada Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH HARGA JUAL DAN MODAL KERJA TERHADAP PENDAPATAN PERAJIN TAHU:Studi Kasus pada Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung."

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ………. i

KATA PENGANTAR ………. ii

UCAPAN TERIMA KASIH ………. iii

DAFTAR ISI ………. vi

DAFTAR TABEL ………. x

DAFTAR GAMBAR ………. xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ………... 1

1.2 Rumusan Masalah ………... 6

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian ………... 6

1.3.2 Kegunaan Penelitian ………... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka ………... 8

2.1.1 Konsep Industri Kecil ………... 8

2.1.1.1 Pengertian Industri Kecil ………... 8

2.1.1.2 Karakteristik Industri Kecil ………. 9

2.1.1.3 Kekuatan dan Kelemahan Industri Kecil …….. 10

(2)

2.1.3 Pasar Persaingan Monopolistik …..……… 15

2.1.4 Harga Jual ……… 19

2.1.4.1 Konsep Harga ……… 19

2.1.4.2 Teori Harga ……… 22

2.1.4.3 Harga Jual ……… 25

2.1.4.4 Pengaruh Harga Jual terhadap Pendapatan ….. 27

2.1.5 Modal Kerja ………... 27

2.1.5.1 Pengertian Modal Kerja ………... 27

2.1.5.2 Jenis-Jenis Modal Kerja ………... 29

2.1.5.3 Unsur Modal Kerja ………... 30

2..1.5.4 Fungsi Modal Kerja ………... 31

2.1.5.5 Sumber dan Penggunaan Modal Kerja ………. 32

2.1.5.6 Pengaruh Modal Kerja terhadap Pendapatan ... 33

2.1.6 Penelitian Terdahulu ……….... 34

2.2 Kerangka Pemikiran ………... 35

2.3 Hipotesis ……… 39

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Subjek Penelitian ……… 40

3.2 Metode Penelitian ……… 40

3.3 Populasi dan Sampel ……… 41

(3)

3.4 Operasionalisasi Variabel ………... 43

3.5 Teknik Pengumpulan Data ……… 44

3.6 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ……… 45

3.6.1 Teknik Analisis Data ……… 45

3.6.2 Pengujian Hipotesis ……… 45

3.6.2.1Uji Parsial (Uji t) ……… 46

3.6.2.2Uji Simultan (Uji F) ……… 46

3.6.2.3Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) ……… 47

3.7 Uji Asumsi Klasik ……… 48

3.7.1 Uji Multikolinearitas ……… 48

3.7.2 Uji Uji Heterokedastisistas ……… 49

3.7.3 Uji Autokorelasi ……… 50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sentra Industri Tahu Cibuntu ……… 53

4.2 Deskripsi Data Hasil Penelitian ……… 54

4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ………... 54

4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ……….. 55

4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan …... 56

4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Usaha ……. 57

4.3 Data Variabel Penelitian ………. 59

4.3.1 Harga Jual ………. 59

(4)

4.3.3 Pendapatan ………. 64

4.4 Uji Hipotesis ………. 66

4.4.1 Koefisien Korelasi antara Variabel-Variabel X dan Y ………. 66

4.4.2 Koefisien Korelasi Ganda dan Koefisien Determinasi ……….. 67

4.4.3 Model Persamaan Regresi ……… 68

4.4.4 Uji Signifikasi ……… 69

4.4.4.1 Uji F ……… 69

4.4.4.2 Uji t ……… 70

4.4.5 Uji Asumsi Klasik ……… 72

4.4.5.1 Uji Multikolinearitas ……… 72

4.4.5.2 Uji Heterokedastis ……… 73

4.4.5.3 Uji Autokorelasi ……… 74

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ……… 75

4.5.1 Pengaruh Harga Jual terhadap Pendapatan ……… 75

4.5.2 Pengaruh Modal Kerja terhadap Pendapatan ……… 76

4.5.3 Implikasi Pendidikan ……… 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ………. 82

5.2 Saran ………. 82

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Produksi Tahu Cibuntu Periode Tahun 2007 – 2011 .…… 4

Tabel 1.2 Rata – Rata Pendapatan Perajin Tahu Cibuntu Bulan Juni – Juli 2012 ………. 5

Tabel 3.1 Oprasionalisasi Variabel ………. 43

Tabel 3.2 Ketentuan Nilai Durbin-Watson ……… 52

Tabel 4.1 Jenis Kelamin Responden ………. 54

Tabel 4.2 Usia Responden ………. 55

Tabel 4.3 Tingkat Pendidikan Responden ………. 57

Tabel 4.4 Pengalaman Usaha Responden ………. 58

Tabel 4.5 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah Harga Jual Tahu Kecil yang Diproduksi Bulan Juli 2012 ………. 59

Tabel 4.6 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah Harga Jual Tahu Besar yang Diproduksi Bulan Juli 2012 ………. 61

Tabel 4.7 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah Modal Kerja Bulan Juli 2012 ………. 62

Tabel 4.8 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Pendapatan Bulan Juli 2012 ……….. 64

Tabel 4.9 Koefisien Korelasi antara Variabel-Variabel X dengan Variabel Y ……….. 66

(6)

Tabel 4.11 Nilai Penduga Koefisien Regresi ……… 68

Tabel 4.12 Hasil Uji F ……… 70

Tabel 4.13 Hasil Uji t ……… 71

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Lingkaran Ketergantungan Usaha Kecil ……… 12

Gambar 2.2 Kurva TR, AR, dan MR dalam Pasar Persaingan Tidak Sempurna ……… 14

Gambar 2.3 Keseimbangan Pasar Persaingan Monopolistik Jangka Pendek yang Mengalami Keuntungan ……… 16

Gambar 2.4 Keseimbangan Pasar Persaingan Monopolistik Jangka Pendek yang Mengalami Kerugian ……… 17

Gambar 2.5 Keseimbangan Perusahaan Persaingan Monopolistik dalam Jangka Panjang ……… 18

Gambar 2.6 Grafik Harga dan Jumlah Barang yang diperjualbelikan …. 23 Gambar 2.7 Akibat Pergeseran Permintaan terhadap Keseimbangan …. 24 Gambar 2.8 Akibat Pergeseran Penawaran terhadap Keseimbangan ….. 25

Gambar 3.1 Uji Durbin-Watson d ……… 52

Gambar 4.1 Jenis Kelamin Responden ……… 55

Gambar 4.2 Usia Responden ……… 56

Gambar 4.3 Tingkat Pendidikan Responden ……… 57

Gambar 4.4 Pengalaman Usaha Responden ……… 58

Gambar 4.5 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah

Harga Jual Tahu Kecil yang Diproduksi Bulan Juli 2012 … 60

Gambar 4.6 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah

(8)

Gambar 4.7 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Jumlah

Modal Kerja Bulan Juli 2012 ……… 63

Gambar 4.8 Pengklasifikasian Responden Berdasarkan Pendapatan

Bulan Juli 2012 ……… 65

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pemerintah Indonesia senantiasa melakukan pembangunan disegala

bidang, termasuk pembangunan di bidang ekonomi. Salah satu sektor dalam

bidang ekonomi yakni sektor perindustrian. Dalam era globalisasi, sektor

perindustrian menghadapi banyak tantangan. Salah satunya dengan adanya AFTA

(ASEAN Free Trade Area). Banyak sektor industri yang terkena dampak buruk

dari AFTA. Sektor industri yang paling terpuruk akibat imbas dari

diberlakukannya AFTA yaitu industri kecil.

Pada hakikatnya, peranan industri kecil dalam perekonomian memiliki

peranan penting terutama untuk membantu pemerintah dalam upaya peningkatan

kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan perekonomian pedesaan

dan peningkatan ekspor non-migas. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa industri

kecil memiliki banyak kelemahan.

Menurut Suryana (2006:121) kelemahan dalam industri kecil tersebut

dapat dikategorikan kedalam dua aspek :

1. Aspek kelemahan sruktural, yaitu kelemahan strukturnya, misalnya kelemahan

dalam bidang manajemen dan organisasi, kelemahan dalam pengndalian mutu, kelemahan dalam mengadopsi dan penguasaan teknologi, tenaga kerja masih lokal yang umumnya masih kurang atau tidak memiliki ketrampilan.

2. Kelemahan kultural mengakibatkan kurangnya akses informasi dan lemahnya

(10)

Kelemahan yang dimiliki industri kecil tersebut haruslah diantisipasi

dengan solusi kongkrit tidak hanya oleh pelaku industri tersebut namun didukung

juga dengan pemerintah serta masyarakatnya. Jika industri kecil terpuruk maka

akan mengakibatkan tergangunya stabilitas perekonomian nasional. Walaupun

pengaruhnya tidak sebesar industri menegah atau industri besar namun

dikarenakan kegiatan dari industri kecil menyentuh langsung pada kegiatan

ekonomi masyarakat maka sudah barang tentu akan berpengaruh langsung pada

masyarakat terutama masyarakat bawah dan menengah.

Masyarakat haruslah mencintai serta menghargai produk dalam negeri.

Dimulai dengan semangat tersebut akan menjadi motivasi pada industri dalam

negeri khusunya industri kecil supaya mampu bersaing dalam era globalisasi ini.

Pemerintah pun tidak kalah penting memiliki peranan dalam

mengembangkan industri kecil. Pemerintah dengan program-programnya sudah

semestinya melakukan bantuan baik moril (pembinaan, penyuluhan, kebijakan)

maupun materil seperti JPS (Jaringan Pengaman Sosial), PNPM (Program

Nasional Pemberdayaan Masyarakat), serta bantuan dana sektor rill lainnya

supaya industri kecil dapat berkembang dengan baik.

Seperti di kota Bandung, pemerintah kota Bandung senantiasa berusaha

meningkatkan sektor industrinya salah satunya dengan mengkelompokan

industri-industri yang ada di kota Bandung. Hal tersebut bertujuan supaya industri-industri-industri-industri

yang ada di kota Bandung dapat terkoordinir dengan baik sehingga dapat

(11)

Walikota Bandung Nomor 530/Kep.295-DISKUKM.PERINDAG/2009 yaitu

sebagai berikut :

1. Sentra Sepatu Cibaduyut

2. Sentra Jeans Cihampelas

3. Sentra Kaos dan Sablon Suci

4. Sentra Rajut Binong Jati

5. Sentra Tekstil dan Produk Tekstil Cigondewah

6. Sentra Tahu dan Tempe Cibuntu

Kemudian sentra industri kota Bandung hingga tahun 2010 bertambah 4 (empat) sentra yaitu sebagai berikut :

1. Sentra Spare Part Otomotif Kiaracondong

2. Sentra Boneka Warung Muncang

3. Sentra Boneka Sukamulya

4. Sentra Tas Leuwipanjang

Berdasarkan penjelasan diatas, sentra industri yang ada di kota Bandung

yakni 10 (sepuluh) sentra industri. Namun dari 10 (sepuluh) sentra industri

tersebut 7 (tujuh) sentra industri diantaranya dijadikan unggulan atau ciri khas

kota Bandung yaitu Sentra Industri dan Perdagangan Rajutan Binongjati, Sentra

Perdagangan Kain Cigondewah, Sentra Perdagangan Jeans Cihampelas, Sentra

Industri Kaos Suci, Sentra Industri Sepatu Cibaduyut, Sentra Industri Tahu

Cibuntu dan terakhir Sentra Industri Boneka Sukamulya Sukajadi.

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan tersebut, terdapat Sentra

Industri Tahu Cibuntu. Industri tahu di kota bandung sudah menjadi legenda.

Banyak usaha tahu yang berkembang di kota bandung dari zaman dahulu hingga

sekarang. Adapun usaha tahu di kota Bandung seperti Tahu Yun Yi, Tahu

Lembang (Tahu Tauhid dan Tahu Susu), Tahu Talaga Yun Sen, dan Tahu

(12)

Industri tahu di kota Bandung dalam menjalankan usahanya banyak

mengalami problematika. Salah satunya pada Sentra Industri Tahu Cibuntu.

Pertumbuhan produksi tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu relatif rendah dan

menurun pada akhir tahun ini. Hal tersebut dapat dilihat dari data rata-rata

produksi tahu cibuntu yaitu sebagai berikut :

Tabel 1.1

Produksi Tahu Cibuntu Periode Tahun 2007 – 2011

Tahun Rata – Rata Produksi / Unit Usaha

Pertumbuhan (%)

2007 8.691.720 -

2008 8.749.220 0.66

2009 8.827.750 0.89

2010 8.530.020 - 3.37

2011 7.984.460 - 6.39

Sumber : KOPTI Kota Bandung, diolah

Berdasarkan data diatas, rata-rata tahu yang diproduksi tahun 2008 sebesar

8.749.220 butir tahu dan pertumbuhannya sebesar 0,66%. Pada tahun 2009

rata-rata produksi sebesar 8.827.750 butir tahu dan pertumbuhannya meningkat

dibanding tahun 2008 yakni sebesar 0,89%. Namun pada tahun 2010 rata-rata

produksi sebesar 8.530.020 butir tahu mengalami penurunan yakni

pertumbuhannya -3,37%. Selanjutnya pada tahun 2011 rata-rata produksi sebesar

7.984.460 butir tahu mengalami penurunan kembali yakni pertumbuhannya

(13)

Rata-rata produksi tahu cibuntu relatif rendah dan terus menurun akan

mempengaruhi pendapatan perajin tahu. Rendahnya produksi tahu cibuntu

berdasarkan informasi yang berkembang saat ini disebabkan oleh ketergantuan

kedelai impor. Seperti yang telah diketahui bahwa harga kedelai impor semakin

naik. Hal tersebut mengakibatkan para perajin tahu kesulitan dalam proses

produksi karena mereka harus mempertimbangkan modal usaha dan harga jual

hasil produksinya. Puncak dari permasalahan tersebut terjadi pada tanggal 25-27

July 2012 seperti informasi dari media online kompas.com (2012, 25 July) berikut

ini :

“Sentra kerajinan tahu Cibuntu, Kota Bandung, resmi berhenti operasi sejenak sebagai bentuk solidaritas kepada gerakan mogok produksi

selama tiga hari terhitung mulai Rabu (25/7/2012)” (kompas.com)

Para perajin tahu cibuntu melakukan aksi mogok produksi. Hal tersebut

menyebabkan pendapatan para perajin tahu menurun. Hal tersebut dapat dilihat

dari data rata-rata pendapatan perajin tahu cibuntu (sampel penelitian 40

responden) sebagai berikut :

Tabel 1.2

Rata-Rata Pendapatan Perajin Tahu Cibuntu

Bulan Juni – July 2012

Bulan Rata-Rata

Pendapatan / Unit Usaha

Pertumbuhan

(%)

Juni Rp 36.000.000 -

July Rp 24.000.000 - 33.33 %

Sumber : Pra-Penelitian di Sentra Industri Tahu Cibuntu

Berdasarkan data tersebut, pendapatan perajin tahu mengalami penurunan

sebesar -33,33%. Banyak faktor yang mempengaruhi pendapatan perajin tahu

(14)

pendapatan perajin tahu menurun. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah

dipaparkan maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil

judul : PENGARUH HARGA JUAL DAN MODAL KERJA TERHADAP

PENDAPATAN PERAJIN TAHU DI SENTRA INDUSTRI TAHU

CIBUNTU KOTA BANDUNG.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka penulis

akan membatasi lingkup dari penelitian ini dalam bentuk identifikasi masalah

berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh harga jual terhadap pendapatan perajin tahu ?

2. Bagaimana pengaruh modal kerja terhadap pendapatan perajin tahu ?

3. Bagaimana pengaruh harga jual dan modal kerja terhadap pendapatan perajin

tahu ?

1.3Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini berdasarkan masalah yang telah

dirumuskan adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh harga jual terhadap pendapatan perajin tahu.

2. Untuk mengetahui pengaruh modal kerja terhadap pendapatan perajin tahu.

3. Untuk mengetahui pengaruh harga jual dan modal kerja terhadap pendapatan

(15)

1.3.2 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

1. Kegunaan Teoritis

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu

pengetahuan khususnya bidang kajian ekonomi mikro.

2. Kegunaan Praktis

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi

tambahan untuk pengambilan kebijakan dalam instansi terkait untuk

(16)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek dan Subjek Penelitian

Setiap penelitian membahas mengenai objek dan subjek yang ditelitinya.

Dalam penelitian ini yang menjadi objek terdiri dari dua variabel bebas (X) yaitu

Harga Jual (X1) dan Modal Kerja (X2) serta satu variabel terikat (Y) yaitu

pendapatan.

Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah para perajin tahu

di Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung.

3.2 Metode Penelitian

Metode merupakan cara yang dilakukan atau yang diambil oleh peneliti

untuk mengkaji persoalan-persoalan atau masalah yang dihadapi. Supaya masalah

tersebut dapat dipecahkan dengan tepat, sebuah penelitian harus memilih satu

metode penelitian yang sesuai.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif

analitik. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 136) mengemukakan bahwa metode

deskriptif adalah suatu cara penelitian yang tertuju pada pemecahan masalah yang

ada pada masa sekarang mengenai masalah yang sedang aktual. Data yang

(17)

Metode deskriptif analitik yaitu metode penelitian yang menggambarkan

dan membahas objek yang diteliti berdasarkan faktor yang ada, kegiatannya

meliputi pengumpulan data, pengolahan data, dan informasi data serta menarik

kesimpulan.

3.3Populasi dan Sampel 3.3.1Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 130) populasi adalah keseluruhan

subjek penelitian. Populasi yang dimaksud dalam suatu penelitian adalah

sekelompok objek yang dapat dijadikan sumber penelitian, dapat berupa

benda-benda, manusia, gejala, peristiwa, atau hal-hal lain yang memiliki karakteristik

tertentu untuk memperjelas masalah penelitian.

Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah perajin tahu yang ada

di Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung sebanyak 261 unit usaha yang

terdapat pada tiga kelurahan yaitu Kelurahan Warung Muncang, Kelurahan

Babakan Ciparay, dan Kelurahan Sukahaji. Adapun jumlah unit usaha tersebut

berdasarkan data yang ada di Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI)

Kota Bandung.

3.3.2Sampel

Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 131) sampel adalah sebagian atau

wakil populasi yang diteliti. Sedangkan menurut Riduwan (2010: 56) sampel

adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang

(18)

Adapun rumus untuk menentukan jumlah sampel yang harus diteliti yaitu

sebagai berikut :

=

�.�2+ 1 (Riduwan, 2010: 65)

Dimana : n = ukuran sampel keseluruhan

N = ukuran populasi sampel

d = tingkat presisi yang diharapkan

maka :

�= �

�.�2+ 1

�= 261

261. (0,1)2+ 1

�= 261

261.0,01 + 1

�= 261

2,61 + 1

�= 261

3,61

�= 72,29 ≈ ��

Berdasarkan uraian diatas maka sampel yang akan diambil adalah 73 unit

usaha tahu Cibuntu.

3.4 Operasionalisasi Variabel

Pada dasarnya variabel yang akan diteliti dikelompokkan dalam konsep

teoritis, empiris, dan analitis. Konsep teoritis adalah penelitian yang menggunakan

(19)

dari konsep teoritis. Sedangkan konsep analitis adalah perolehan data untuk

meneliti konsep yang telah dijabarkan dalam konsep empiris. Adapun

operasionalisasi variabel dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Konsep Teoritis Konsep Empiris Konsep Analitis Skala

(20)

3.5Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan maka suatu penelitian

menggunakan teknik dalam pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Kuesioner

Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 225) kuesioner atau penyebaran daftar

pertanyaan (angket) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya

atau hal -hal yang ia ketahui.

2. Wawancara

Riduwan (2010:74) mengemukakan bahwa wawancara adalah suatu cara

pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari

sumbernya. Wawancara merupakan sebuah aktifitas yang dilakukan oleh dua

pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang

diwawancarai (responden) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

3. Dokumentasi

Suharsimi Arikunto (2006: 105) memberikan pengertian bahwa dokumentasi

berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Selanjutnya

Suharsimi Arikunto (2006: 231) mengemukakan bahwa metode dokumentasi

yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip,

buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan

(21)

3.6Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis 3.6.1Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh dari variabel penelitian Harga Jual (X1),

Modal Kerja (X2), dan Pendapatan (Y) maka pengujian hipotesis dapat dilakukan

dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda untuk menguji pengaruh

variabel X terhadap variabel Y.

Regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis pengaruh langsung

antara sebagai (X1) dan (X2) sebagai variabel independen (bebas) terhadap

Pendapatan (Y) sebagai variabel dependen (terikat). Adapun bentuk persamaan

dari variabel diatas adalah sebagai berikut:

Y = βο + β 1 X1 + β 2 X2 + e

Keterangan :

Y = Pendapatan

1

= Harga Jual

2

= Modal Kerja

e = variabel pengganggu

β1 β2 = Koefisien masing – masing variabel

3.6.2Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian ini, untuk menguji hipotesis digunakan uji statistik

berupa uji parsial (uji t), uji simultan (uji f), dan uji koefisien determinasi

(22)

3.6.2.1Uji Parsial (Uji t)

Pengujian hipotesis secara individu dengan uji t bertujuan untuk

mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas X terhadap variabel

terikat Y. Pengujian hipotesis secara individu dapat dilakukan dengan

menggunakan rumus :

Kriteria uji t adalah :

1. Jika �hitung > �tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima (variabel bebas X

berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Y).

2. Jika thitung < ttabel maka H0 diterima dan H1 ditolak (variabel bebas X tidak

berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Y). Dalam penelitian ini

tingkat kesalahan yang digunakan adalah 0,05 (5%) pada taraf signifikasi

95%.

3.6.2.2Uji Simultan (Uji F)

Pengujian hipotesis secara keseluruhan merupakan penggabungan

(overall significance) variabel bebas X terhadap variabel terikat Y, untuk

mengetahui seberapa pengaruhnya. Uji t tidak dapat digunakan untuk menguji

hipotesis secara keseluruhan. Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan

rumus :

(23)

Kriteria uji F adalah :

1. Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima dan Ha ditolak (keseluruhan

variabel bebas X tidak berpengaruh terhadap variabel terikat Y).

2. Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan Ha diterima (keseluruhan

variabel bebas X berpengaruh terhadap variabel terikat Y).

3.6.2.3Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)

Koefisien Determinasi (R) merupakan cara untuk mengukur ketepatan

suatu garis regresi. Menurut Gujarati (2006: 98) dijelaskan bahwa koefisien

determinasi (R2) yaitu angka menunjukan besarnya derajat kemampuan

menerangkan variabel bebas terhadap terikat dari fungsi tersebut.

Pengaruh secara simultan variabel X terhadap Y dapat dihitung dengan

koefisien determinasi secara simultan melalui rumus :

�2 = 1 1 22 2

dengan variabel terikat semakin erat/dekat, atau dengan kata lain model

tersebut dapat dinilai baik.

b. Jika R2 semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel bebas

dengan variabel terikat jauh/tidak erat, atau dengan kata lain model tersebut

(24)

3.7 Uji Asumsi Klasik

Ada tiga pengujian yang akan dilakukan untuk pengujian asumsi klasik

yaitu sebagai berikut :

3.7.1 Multikolinieritas

Menurut Agus Widarjono (2007: 131) bahwa uji multikolinieritas adalah

adanya suatu hubungan linear antara variabel independen dalam satu garis regresi.

Selanjutnya Agus Widarjono (2007: 113) mengemukakan ada beberapa

cara untuk mendeteksi keberadaan multikolinieritas dalam model regresi OLS

yaitu sebagai berikut :

a. Mendeteksi nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai thitung. Jika R2

tinggi (biasanya berkisar 0,7 – 1,0) tetapi sangat sedikit koefisien

regresi yang signifikan secara statistik, maka kemungkinan ada gejala

multikolinieritas.

b. Melakukan uji korelasi derajat nol. Apabila koefisien korelasinya

tinggi, perlu dicurigai adanya masalah multikolinieritas. Akan tetapi

tingginya koefisien korelasi tersebut tidak menjamin terjadi

multikolinieritas.

c. Menguji korelasi antar sesama variabel bebas dengan cara meregresi

setiap Xi terhadap X lainnya. Dari regresi tersebut, kita dapatkan R2

dan F. Jika nilai Fhitung melebihi nilai kritis Ftabel pada tingkat derajat

(25)

d. Regresi Auxiliary, untuk menguji multikolinieritas hanya dengan

melihat hubungan secara individual antara satu variabel independen

dengan satu variabel independen lainnya.

e. Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance, merupakan pedoman

untuk menentukan model regresi bebas dari multikolinieritas yaitu

sebagai berikut :

- Mempunyai angka VIF dibawah 10.

- Mempunyai angka tolerance mendekati 1

Dalam penelitian ini untuk memprediksi ada atau tidaknya

multikolinieritas yakni dengan menggunakan uji Variance Inflation Factor (VIF)

dan Tolerance.

Apabila terjadi Multikolinieritas menurut Gujarati (2006: 45) disarankan

untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Adanya informasi sebelumnya (informasi apriori).

b. Menghubungkan data cross sectional dan data urutan waktu, yang dikenal

sebagai penggabung data (pooling the data).

c. Mengeluarkan satu variabel atau lebih.

d. Transformasi variabel serta penambahan variabel baru.

3.7.2 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke

(26)

tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut

heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau

tidak terjadi heteroskedastisitas.

Kriteria pengujian untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas

dapat dilakukan melalui analisis grafik hasil output SPSS dengan kriteria berikut :

1) Jika grafik mengikuti pola tertentu misal linier, kuadratik atau

hubungan lain berarti pada model tersebut terjadi heteroskedastisitas.

2) Jika pada grafik plot tidak mengikuti pola atau aturan tertentu maka

pada model tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas.

Adapun beberapa akibat yang ditimbulkan akibat adanya

heteroskedastisitas (Sumodiningrat, 2001:266) :

a) Penaksir-penaksir OLS tidak akan bias (unbiased)

b) Artinya, penaksir-penaksir kuadrat terkecil adalah unbiased, sekalipun dalam kondisi heteroskedastisitas. Hal ini disebabkan karena di sini tidak digunakan asumsi homoskedastisitas.

c) Varian dari koefisien-koefisien OLS salah.

d) Penaksir-penaksir OLS akan menjadi tidak efisien.

Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan metode grafik

plot. Jika grafik plot untuk tidak menunjukkan pola tertentu maka tidak terjadi

heteroskedastisitas, sebaliknya jika grafik plot menunjukkan suatu pola tertentu,

misalnya maka terjadi heteroskedastisitas.

3.7.3 Autokorelasi

Menurut Agus Widarjono (2007: 155) secara harafiah autokorealsi berarti

adanya korelasi antara anggota observasi satu dengan observasi lain yang

(27)

merupakan korelasi antara satu variabel gangguan dengan variabel gangguan satu

dengan variabel gangguan lain.

Autokorelasi menggambarkan tidak adanya korelasi antara variabel

pengganggu disturbance term. Faktor-faktor penyebab autokorelasi antara lain

kesalahan dalam menentukan model, pengggunaan lag dalam model dan tidak

dimasukannya variabel penting. Akibatnya parameter yang diestimasi menjadi

bias dan varian tidak minimum sehingga tidak efisien.

Konsekuensi dari adanya gejala autokorelasi dalam model regresi OLS

dapat menimbulkan :

a. Estimator OLS menjadi tidak efisien karena selang keyakinan melebar

b. Variance populasi �2 diestimasi terlalu rendah (underestimated) oleh varians

residual taksiran.

c. Akibat butir 2, R2 bisa ditaksir terlalu tinggi (overestimated)

d. Jika �2 tidak diestimasi terlalu rendah, maka varians estimator OLS ( ^� )

e. Pengujian signifikan (t dan F) menjadi lemah.

Dalam penelitian ini, cara yang digunakan untuk mengkaji autokorelasi

adalah dengan uji d Durbin-Watson, yaitu dengan cara membandingkan nilai

statistik Durbin-Watson hitung dengan Durbin Watson tabel. Mekanisme uji

Durbin-Watson adalah sebagai berikut :

a. Lakukan regresi OLS dan dapatkan residual ei

b. Hitung nilai d (Durbin-Watson)

c. Dapatkan nilai kritis dL dan dU

(28)

Gambar 3.1

e. Ketentuan nilai Durbin Watson d, penentu ada tidaknya autokorelasi dapat

dilihat dengan jelas dalam tabel 3.2 sebagai berikut :

Tabel 3.2

Ketentuan Nilai Uji Durbin-Watson d

Nilai Statistik d Hasil

0 < d < dL Menolak hipotesis nol; ada autokorelasi positif

(29)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan adapun kesimpulan

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Harga jual berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan perajin

tahu Cibuntu. Artinya jika harga jual produk tahu naik maka pendapatan

akan naik pula. Begitu pula sebaliknya, jika harga jual produk tahu turun

maka pendapatan akan menurun.

2. Modal kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Hal

tersebut berarti, besar kecilnya modal kerja yang dimiliki maka akan

mempengaruhi besar-kecilnya pendapatan yang diperoleh.

5.2 Saran

Adapun saran-saran yang dapat penulis rekomendasikan adalah sebagai

berikut :

1. Harga jual produk tahu tidak dapat dinaikan begitu saja walaupun biaya

produksi naik pula. Dengan mengecilkan ukuran produk tahu yang dilakukan

oleh perajin tidak selamanya dapat menjadi solusi untuk mengatasi

problematika tersebut. Oleh sebab itulah, perlu upaya peningkatan kualitas

produk dengan cara berwirausaha dengan jujur (tidak menggunakan formalin,

tidak mengurangi takaran bahan atau bumbu, melakukan proses produksi sesuai

(30)

BUMN atau perusahaan swasta untuk mengatasi problematika usahanya

sehingga dapat berkembang dengan baik. Karena dengan berperan aktif,

pengusaha akan mendapatkan informasi usaha, ilmu pengetahuan, serta

bantuan dana. Sehingga dapat mengefisiensikan biaya produksi tanpa harus

menaikkan harga jual produk. Jika harga jual produk tahu memang harus

dinaikan karena tidak dapat dilakukan upaya apapun, jangan takut akan

berdampak pada turunnya permintaan tahu sehingga pendapatan usaha juga

rendah. Dengan kualitas produk tahu yang terjamin hal tersebut tidak akan

terjadi begitu parah. Karena pada hakikatnya, konsumen memang menyukai

harga yang murah namun yang perlu dipahami oleh para pengusaha, konsumen

lebih tertarik pada produk yang kualitasnya terjamin.

2. Modal kerja sebaiknya dialokasikan secara efektif dan efisien supaya kegiatan

usaha dapat berjalan dengan baik. Sebaiknya pengusaha membuat laporan

usaha sehingga tidak tercampur dengan keuangan pribadi serta kegiatan usaha

dapat terdata dengan baik untuk kepentingan administrasi yang nantinya akan

membantu untuk memajukan usahanya karena terkonsep dengan baik pula.

3. Kendala utama perajin tahu adalah ketergantungan kepada kedelai impor yang

harganya semakin naik. Oleh karena itu, pemerintah perlu lebih mengkaji

solusi yang terbaik untuk menangani masalah ini. Selain itu, untuk

mengurangi bahkan tidak tergantung lagi pada kedelai impor, maka petani

kedelai lokal perlu dibina serta didukung dengan baik oleh pemerintah

(31)

4. Kebutuhan akan ketersediaan air yang berkualitas baik untuk dapat

menghasilkan tahu yang unggul perlu dibenahi dengan baik oleh pihak-pihak

terkait karena selain kedelai, air merupakan faktor vital dalam proses

produksi.

5. Pemerintah disarankan untuk lebih memperhatikan kelangsungan usaha kecil

melalui kebijakan-kebijakan yang tidak berat sebelah kepada usaha kecil serta

lebih serius lagi dalam melaksanakan pembinaan kepada UKM (Usaha Kecil

Menengah).

6. Pengusaha disarankan berpartisipasi aktif untuk mengikuti program

peningkatan usaha rakyat seperti mengikuti pelatihan, seminar, dll.

7. Sentra Industri Tahu Cibuntu Kota Bandung sudah dijadikan sebagai tempat

wisata kuliner. Oleh karena itu, dari segi fisik lingkungan usahanya perlu

dibenahi dengan baik oleh pihak-pihak terkait terutama seperti sistem

pembuangan limbah produksi supaya sentra tersebut dapat benar-benar layak

dikunjungi dan meninggalkan kesan yang baik kepada para pengunjungnya.

8. Sebagai warga negara yang baik, masyarakat Indonesia haruslah member

dukungan dengan cara mencintai produk dalam negeri. Jika ada kelemahan

misalnya dari aspek kualitas terhadap produk dalam negeri janganlah langsung

beralih pada produk lain namun dengan cara memberikan saran yang

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Kamaruddin. (1997). Dasar-Dasar Manajemen Modal Kerja. Jakarta: PT.

Rineka Cipta

Ahman, Eeng & Yana Rohmana. (2009). Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Bandung:

Laboratorium Ekonomi dan Koperasi

Alma, Buchari. (2003). Pengantar Bisnis. Bandung: CV Alfabeta

Anoraga, P dan Sudantoko, D. (2002). Koperasi, Kewirausahaan, dan Usaha Kecil.

Jakarta: PT. Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta

Rineka Cipta

Case, Karl E. & Fair, Ray C. (2002). Prinsip-Prinsip Ekonomi Mikro. Jakarta:

Prenhallindo

Gujarati, Damodar. (2006). Ekonometria Dasar. Terjemahan: Sumarno Zain,

Jakarta: Erlangga.

Hasibuan, M. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Hatminingsih, Rahdwi. (2010). Pengaruh Persaingan, Harga Jual, dan Diversifikasi

Produk terhadap Pendapatan Pedagang Kuliner Jenis Minuman di Kota

(33)

Komarudin. (1994). Ensiklopedia Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara

Lipsey, R.G & Steiner P.O. (2003). Pengantar Mikro Ekonomi Edisi Kesepuluh.

Jakarta: Binarupa Aksara

Musselman, Vernon A & Jakson. (1992). Pengantar Ekonomi Perusahaan Jilid I

Edisi 9. Jakarta: Erlangga

Pressman, Steven. (2002). Lima Puluh Pemikir Ekonomi Dunia. Jakarta: Murai

Kencana PT. Raja Grafindo Persada

Riduwan. (2010). Dasar-Dasar Statistika. Bandung: Alfabeta

Riyanto, Bambang. (1995). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi

Keempat. Yogyakarta: BPFE UGM

Sadono, Sukirno. (2002). Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo

Persada

Saladin, Djaslim. (2004). Manajemen Pemasaran- Analisis Perencanan, Pelaksanaan

dan Pengendalian. Bandung: Linda Karya

Samuelson, Paul A & Nordhaus, William D. (1999). Mikro Ekonomi. Jakarta:

Erlangga

Santosa, Purbayu B. & Ashari. (2005). Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan

SPSS. Semarang: Andi

Sari, Ratna. (2012). Pengaruh Harga Jual dan Produk terhadap Laba Pengusaha

Topi di Desa Rahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung. Skripsi.

(34)

Singarimbun, Masri. (1989). Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ES dan Anggota

IKAPI

Subagia, Osa. (2010). Pengaruh Harga Jual dan Diferensiasi Produk terhadap Laba

Pengusaha Tas di Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Skripsi. Bandung:

Universitas Pendidikan Indonesia

Sumodiningrat, Gunawan. (2001). Pengantar Ekonometrika. Yogyakarta: BPFE

Supranto, J. (2005). Ekonometri. Bogor: Ghalia Indonesia

Suryana. (2006). Kewirausahaan Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses.

Jakarta: Salemba Empat

Syahyunan. (2003). Analisis Modal Kerja. [Online]. Tersedia di:

http://library.usu.ac.id/download/fe/manajemen-syahyunan3.pdf

Tati S, Joesron & M. Fathorrozi (2002). Teori Ekonomi Mikro. Jakarta: Salemba

Empat

Tulus TH, Tambunan. (2002). Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia Beberapa Isu

Penting. Jakarta: Salemba Empat

BPS – Profil Industri Kecil Kerajinan dan Rumah Tangga. (online),

(http//:www.bps.go.id)

Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Bandung – Laporan Rapat

(35)

Pujianti, Yuli. (2006). Analisis Pengaruh Harga Jual Diferensiasi Produk, dan

Saluran Distribusi terhadap Pendapatan Usaha Kerajinan Anyaman Bambu di

Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka. Skripsi. Bandung: Universitas

Pendidikan Indonesia

Pemerintah Daerah Kota Bandung – SK Walikota Bandung Nomor

530/Kep.295-DISKUKM.PERINDAG/2009

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,

Kecil, dan Menengah

www.kompas.com

www.wikipediaindonesia.com

Widarjono, Agus. (2007). Ekonometrika Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Ekonisia

FE UII

Yunus, Hadori . (2005). Pengaruh Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Pada

Perusahaan Sektor Industri Makanan dan Minuman yang Terdaftar di

Gambar

Tabel 4.14  Nilai VIF dan Tolerance …………………………………… 72
Gambar 4.9  Grafik Scatter Plot
Tabel 1.2        Rata-Rata Pendapatan Perajin Tahu Cibuntu
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel
+2

Referensi

Dokumen terkait