53
4.1 Profil PerusahaanBerikut ini adalah gambaran umum tentang PT Pustaka Kencana, perusahaan yag akan dianalisis mengenai strategi pengembangan bisnisnya.
PT PUSTAKA KENCANA adalah perusahaan percetakan penerbitan. Perusahaan ini didirikan berdasarkan Akte Notaris Nomor 1 pada tanggal 7 April 2006 oleh
Notaris Yulita Roestam. SH. PT PUSTAKA KENCANA beralamat di Ruko Graha Raya
Bintaro Blok.G10/10.B, Pakujaya-Serpong Tangerang.
Investasi awal yang dikeluarkan untuk pendirian perusahaan adalah sebesar Rp. 150.000.000,00 yang terbagi atas beberapa pemegang saham.
PROFIL PERUSAHAAN
Nama Perusahaan : PT PUSTAKA KENCANA
Alamat Kantor : Ruko Graha Raya Bintaro Blok G10/10B, Pakujaya
Serpong – Tangerang
Dasar Hukum
Nomor 1 Tanggal 7 April 2006
VISI DAN MISI PT PUSTAKA KENCANA
Visi :
Menjadi perusahaan yang profesional mandiri dan berlandaskan nilai-nilai kebenaran
Misi:
• Menciptakan kesejahteraan untuk masyarakat umum, dankhususny adalah pegawai atau karyawan perusahaan
• Meningkatkan kualitas SDM, bekerja dengan berpikir melingkarsemata-mata karena ibadah
4.2 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan cara observasi kegiatan operasional perusahaan dan memberikan kuesioner wawancara dan analisa SWOT perusahaan langsung kepada Direktur Utama perusahaan. Observasi bertujuan untuk mengetahui rutinitas kegiatan perusahaan serta skema operasional perusahaan sedangkan pemberian kuesioner wawancara bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal perusahaan, yaitu kelebihan dan kekuatan dan faktor eksternal perusahaan yaitu, peluang dan ancaman. Hasil dari observasi dan wawancara tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan strategi bisnis yang tepat bagi pengembangan bisnis PT Pustaka Kencana.
4.3 Analisa Lingkungan Eksternal
Analisa lingkungan eksternal dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang sejauh mana faktor-faktor lingkungan eksternal organisasi dapat menunjang atau mengancam perkembangan bisnis. Dalam penelitian ini, tentu saja faktor-faktor lingkungan eksternal yang dianalisis adalah faktor-faktor eksternal yang memiliki kaitan dengan bisnis percetakan dan penerbitan. Oleh karena itu, pengamatan terhadap situasi lapangan dapat berguna untuk mndapat informasi yang tepat dalam mengidentifikasikan peluang dan ancaman yang dihadapi oleh PT PUSTAKA KENCANA. Identifikasi terhadap peluang akan dapat membantu perusahan dalam meninjau prospek pengembangan bisnis yang tepat, sedangkan identifikasi terhadap ancaman akan dapat membantu perusahaan dalam hal mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang akan dihadapi perusahaan dalam usaha pengembangan bisnisnya. Analisa lingkungan eksternal dibagi menjadi 2 aspek, yaitu aspek lingkungan jauh yang menerangkan tentang peluang dan ancaman apa saja yang akan dihadapi perusahaan dari sektor hukum, ekonomi, teknologi, dan lainnya. Aspek industri akan menjelaskan peluang dan ancaman yang akan dihadapi dari industri penerbitan dan percetakan Indonesia. Hasil dari analisa lingkungan eksternal akan dapat membantu penulis dalam menentukan strategi apa yang cocok digunakan oleh PT PUSTAKA KENCANA dalam mengembangkan bisnisnya.
4.3.1 Aspek Lingkungan Jauh
Aspek lingkungan jauh dibagi menjadi beberapa faktor yaitu; inflasi, suku bunga, kurs valuta asing, hukum, dan teknologi.
4.3.1.1 Inflasi
Tingkat inflasi dapat mempengaruhi setiap kegiatan bisnis, termasuk juga usaha percetakan dan penerbitan. Pada perusahaan penerbitan, inflasi dapat berdampak pada harga bahan baku seperti harga kertas serta biaya operasional seperti listrik, dan BBM. Inflasi juga dapat mempengaruhi permintaan konsumen dikarenakan oleh harga barang yang semakin naik dapat mengurangi daya beli masyarakat sehingga berpotensi menyebabkan turunnya laba perusahaan. Berikut ini adalah data perkembangan inflasi Indonesia :
Tabel 4.1 Laporan Inflasi (Indeks Harga Konsumen)
Bulan Tahun Tingkat Inflasi Maret 2009 7.92 % Februari 2009 8.60 % Januari 2009 9.17 % Desember 2008 11.06 % November 2008 11.68 % Oktober 2008 11.77 % September 2008 12.14 % Agustus 2008 11.85 % Juli 2008 11.90 % Juni 2008 11.03 % Mei 2008 10.38 %
April 2008 8.96 %
Maret 2008 8.17 %
Februari 2008 7.40 %
Januari 2008 7.36 %
Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Inflasi/, 28 April 2009
Tingkat inflasi pada bulan Maret 2009 sebesar 7,92 % lebih rendah daripada bulan Februari 2009 yang berjumlah sebesar 8,6 %. Sementara itu dapat dilihat pada bulan Mei – Desember tahun 2008, inflasi berada pada kisaran diatas 10%.
Inflasi pada tahun 2009 menunjukan tren yang semakin menurun, diperkirakan bahwa laju inflasi pada tahun 2009 bisa menembus angka 5-6 persen. Menurunnya inflasi didukung oleh
Harga minyak dunia yang turun drastis dan berada pada kisaran 40-70 dolar AS per barel. Implikasi dari penurunan harga minyak dunia ini terhadap perekonomian Indonesia adalah harga BBM yang menurun sehingga mempengaruhi tarif transportasi dan harga komoditas lainnya.
Penurunan inflasi ini dapat berimbas pada menurunnya biaya operasional perusahaan sehingga dapat membantu perusahaan dalam mengoptimalkan laba.
4.3.1.2 Suku Bunga Tabel 4.2 : BI Rate Tanggal BI rate 3 April 2009 7.50% 4 March 2009 7.75% 4 Feb 2009 8.25% 7 Jan 2009 8.75% 4 Dec 2008 9.25% 6 Nov 2008 9.50% 7 Oct 2008 9.50% 4 Sept 2008 9.25% 5 Aug 2008 9.00% 3 July 2008 8.75% 5 June 2008 8.50% 6 May 2008 8.25% 3 April 2008 8.00% 6 March 2008 8.00% 6 Feb 2008 8.00% 8 Jan 2008 8.00%
Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/BI+Rate/, 13 April 2009
Jika dilihat dari table tersebut, ada indikasi bahwa BI rate tahun 2009 dapat terus menurun yang akan berefek pada naiknya pertumbuhan kredit perbankan. Penurunan BI
rate disebabkan perekonomian Indonesia yang tumbuh lebih lambat dari perkiraan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan sebesar 4,0-5,0% ternyata hanya sebesar 2,5%. Hal ini disebabkan oleh memburuknya perekonomian global pada periode kuartal 1-2009 sehingga menyebabkan kinerja ekspor yang turun, dan juga melemahnya daya beli masyarakat. Namun, Pemilu diperkirakan mampu menahan lebih jauh perlambatan ekonomi domestik.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah, dengan penurunan BI rate dapat mengarahkan kebijakan moneter yang kondusif bagi permintaan domestik dan stabilitas ekonomi dalam jangka menengah panjang tetap terjaga dengan baik sehingga dapat menunjang kegiatan industri dan bisnis Indonesia tidak terkecuali industri percetakan dan penerbitan.
4.3.1.3 Kurs Valuta Asing
Harga kertas dalam industri percetakan Indonesia sangat tergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dolar.Berikut adalah tabel grafik rekapilutasi data kurs rupiah terhadap dolar :
Tabel 4.3 Kurs dolar terhadap rupiah
Mata Uang Nilai Tukar Jangka Waktu
US Dollar
Rp
. 10.324,00 untuk setiap USD 1,00 29-06-2009 s.d. 05-07-2009 US Dollar Rp. 10.279,00 untuk setiap USD 1,00 22-06-2009 s.d. 28-06-2009 US Dollar Rp. 11.538,20 untuk setiap USD 1,00 30-03-2009 s.d. 05-04-2009 US Dollar Rp. 11.965,20 untuk setiap USD 1,00 23-02-2009 s.d. 01-03-2009 Sumber : http://www.beacukai.go.id/rates/exchRateID.phpBagi PT Pustaka Kencana, kurs dolar yang fluktuatif dan lebih dari kisaran Rp.9.500 merupakan sebuah ancaman. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya yang dibutuhkan untuk membeli bahan baku kertas.
4.3.1.4 Hukum
Sebagai implikasi dari UU Republik Indonesia nomor 18 tahun 200 tentang perubahan kedua atas undang-undang nomor 8 tahun 1983 tentang pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah, pemerintah membebaskan pajak pertambahan nilai (PPN) pada PT Pustaka Kencana. Hal ini dikarenakan oleh PT Pustaka Kencana termasuk dalam perusahaan produk pendidikan.
Tidak adanya PPN dapat menjadi sebuah peluang bagi PT Pustaka Kencana karena perusahaan tidak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar pajak sehingga bisa meningkatkan jumlah laba.
Pemerintah memberlakukan kebijakan buku sekolah elektronik dimana pemerintah mengakuisisi ratusan hak cipta buku SD hingga SMA agar dapat di download oleh masyarakat. Hal ini mengakibatkan banyak perusahaan penerbitan buku SD – SMA berpindah segmen ke segmen anak TK yang merupakan segmen PT Pustaka Kencana, sehingga menimbulkan efek tidak langsung yaitu makin meramaikan persaingan antar penerbit buku TK.
4.3.1.5 Teknologi
Kemajuan teknologi disinyalir dapat menjadi sebuah peluang bagi PT Pustaka Kencana, terutama teknologi internet. Dengan teknomogi internet, PT Pustaka Kencana dapat melakukan komunikasi online terhadap sejumlah toko buku seperti Gramedia dalam hal stok barang, pembayaran dan lain-lain. Hal ini dapat menambah efektifitas operasional dari PT PT Pustaka Kencana.
4.3.2 Aspek Industri
Berikit ini adalah penjelasan industri percetakan dan penerbitan dalam gambar 5 kekuatan Porter :
Gambar 4.1 Analisis kekuatan Porter PT Pustaka Kencana
1. Persaingan antar perusahaan sejenis
Industri percetakan dan penerbitan buku Indonesia mayoritas dikuasai oleh Gramedia grup dengan jejeran perusahaan percetakan dan penerbitannya. Tidak terkecuali untuk segmen buku anak TK. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi PT Pustaka Kencana disebabkan oleh dukungan jaringan yang mantap dari Gramedia Grup terhadap usaha penerbitan dan percetakannya.
2. Potensi masuknya pendatang baru
Dalam industri penerbitan dan percetakan khususnya buku anak-anak TK, ancaman dari pendatang baru cukup besar. Terutama bila pendatang baru memiliki kreatifitas dalam membuat buku yang menarik dan berkualitas.
3. Potensi pengembangan produk pengganti
Produk subtitusi ialah permainan kreativitas anak-anak. Umumnya anak-anak TK lebih suka dibelikan mainan oleh orang tuanya dibandingkan buku pelajaran. Terlebih lagi jika mainan tersebut menunjang kreativitas anak, maka orang tuanya tidak ragu untuk membelikannya.
Daya tawar pembeli pada PT Pustaka Kencana sangat kecil karena harga buku pada tingkatan toko buku tidak dapat dirubah. Kecuali jika pembeli melakukan pembelian langsung di kantor PT Pustaka Kencana, maka daya tawar pembeli menjadi lebih tinggi. Gramedia sebagai distributor buku PT Pustaka Kencana menetapkan harga minimal bagi sebuah buku sebesar Rp. 15.000. Kebijakan Gramedia yang menetapkan harga minimal Rp. 15.000 bisa menjadi ancaman karena dapat menyebabkan buku-buku lama yang memiliki harga Rp. 15.000 tersingkir sehingga harus dialihkan ke toko buku lain.
5. kekuatan tawar menawar dengan supplier
PT Pustaka Kencana memiliki beberapa macam pemasok untuk memasok bahan cetak. Antara lain pemasok tinta dan bahan kimia lainnya, pemasok kertas, pemasok film, dan plat. Kendala terbesar ada di pemasok kertas. Pemasok kertas memiliki daya tawar yang tinggi sebab pembelian kertas tidak bisa melalui giro sehingga pembayaran harus di muka. Belum lagi harga kertas yang dipengaruhi oleh kurs rupiah-dolar menjadikan pemasok kertas tidak berani ambil resiko pembayaran giro karena takut harga kertasnya menjadi lebih rendah. Jadi jika tidak bisa bayar di muka, perusahaan tidak bisa membeli kertas yang diinginkan.
4.4 Analisa Lingkungan Internal
Analisa lingkungan internal dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang apa saja kelebihan-kelebihan serta kelemahan-kelemahan yang ada dalam tubuh perusahaan PT PUSTAKA KENCANA. Dalam penelitian ini faktor-faktor lingkungan internal yang dianalisis terdiri dari aspek keuangan, aspek pemasaran, aspek SDM, aspek produksi, dan aspek
manajemen. Identifikasi terhadap kekuatan akan dapat membantu perusahan agar perusahaan dapat menentukan strategi bisnis dengan menggunakan kekuatan yang ada,dan identifikasi terhadp kelemahan akan dapat membantu perusahaan mengeliminasi atau mengurangi kelemahan yang ada sehingga perusahaan tetap kompetitif .
4.4.1 Aspek Keuangan
Berikut ini adalah grafik rekapilutasi laba/rugi PT PUSTAKA KENCANA dari kuartal 1 2008 sampai kuartal 1 2009 :
Tabel 4.4 : Rekapilutasi laba/rugi PT Pustaka Kencana Januari 2008 – Maret 2009
Bulan Tahun Laba/Rugi
Januari 2008 Rp40,816,325.00 Februari 2008 (Rp30,195,078.00) Maret 2008 Rp7,780,532.00 April 2008 (Rp60,845,062.00) Mei 2008 (Rp9,523,456.00) Juni 2008 (Rp3,009,033.00) Juli 2008 (Rp16,542,675.00) Agustus 2008 Rp9,243,037.00 September 2008 (Rp8,793,163.00) Oktober 2008 (Rp1,832,350.00) November 2008 Rp1,612,886.00 Desember 2008 (Rp34,767,449.00) Januari 2009 (Rp2,735,633.00) Februari 2009 Rp15,101,380.00 Maret 2009 (Rp21,296,826.00)
Sumber : Laporan Laba Rugi PT Pustaka Kencana
Dari table ini dapat dilihat bahwa PT Pustaka Kencana mengalami kerugian pada bulan Februari 2008, April – Juli 2008, Spetember – Oktober 2008, Desember 2008 – Januari
2009, dan Maret 2009. Selain itu, perusahaan mempunyai kelemahan dari segi permodalan disebabkan oleh minimnya dana yang disediakan oleh investor, sehingga menyebabkan PT Pustaka Kencana kekurangan modal dalam mengembangkan usahanya. Seringnya mengalami kerugian dan minimnya pasokan modal menyebabkan terganggunya kondisi finansial PT Pustaka Kencana sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa PT Pustaka Kencana mempunyai kelemahan dari segi finansial.
4.4.2. Aspek Pemasaran
Berikut ini table strategi pemasaran PT Pustaka Kencana dari segi produk, promosi, harga, dan distribusi.
Tabel 4.5 : Strategi Pemasaran PT Pustaka Kencana
Produk Promosi Harga Tempat
1. Menggaet mitra/ penulis luar dalam menciptakan buku 2. Membeli hak cipta
karya orang lain 3. Menciptakan buku sendiri 4. Pemilik membuat buku sendiri 1. Promosi produk ke sekolah-sekolah TK 2. Bazar
3. Promosi produk ke toko-toko buku 4. Penjualan langsung ke konsumen • Harga kompetitif • Diskon • Penentuan harga: - Penentuan harga (buku perusahaan) - Penentuan harga buku orang lain. - Penentuan • Toko-toko buku besar (Gramedia, Gunung Agung, Utama) • Toko-toko buku kecil (Tisera, Pesona,
harga buku (pemilik)
Mineria,dll.)
• Sekolah TK Sumber : Observasi peneliti dan PT Pustaka Kencana
Untuk harga produk buku pada PT Pustaka Kencana bisa dilihat pada tabel berikut tabel berikut :
Tabel 4.6 : harga produk PT Pustaka Kencana dengan pesaing
Jenis Buku Harga (Rp) Harga pesaing (Rp)
Membaca 6.000-19.500 6.000-39.000 Menulis 7.000-20.000 5.000-25.000 Berhitung 7.500-17.500 7.500-45.000 Mewarnai 6.000-10.000 4.000-26.000 Sobek Tempel 9.500-19.500 12.000-20.000 Cerita, Dongeng 7.500-15.000 7.500-35.000 Rohani 6.500-13.500 6.500-20.000 Dwi-Lingual 7.000-18.500 8.000-20.000 Sumber : PT Pustaka Kencana
Dari tabel diatas dapat dilihat keterangan harga produk buku dari PT Pustaka Kencana. Harga buku ini relatif bersaing dengan para harga buku para pesaing sehingga dapat disimpulkan bahwa PT Pustaka Kencana memiliki harga produk yang kompetitif sebagai salah satu kelebihannya.
1. Menggaet mitra/ penulis luar dalam menciptakan buku. Keuntungan dari cara ini adalah jumlah buku yang dihasilkan dapat lebih banyak daripada memproduksi buku sendiri. Sedangkan kerugiannya adalah PT Pustaka Kencana wajib membayar royalti bagi pengarang lain.
2. PT Pustaka Kencana membeli hak cipta buku karya orang lain. Keuntungan dari cara ini adalah jika harga pembelian hak cipta lebih murah daripada biaya royalti saat buku tersebut terjual. Cara ini merugikan jika harga pembelian cipta lebih mahal daripda royalti saat buku tersebut terjual.
3. PT Pustaka Kencana menciptakan buku sendiri. Keuntungan dari cara ini adalah perusahaan tidak perlu membayar royalti kepada pihak lain, sehingga keuntungan PT Pustaka Kencana lebih besar. Kerugian dari cara ini adalah jumlah buku yang dihasilkan tidak sebanyak dengan cara menggaet mitra/penulis luar.
4. Pemilik membuat buku sendiri. Perbedaan cara ini dengan cara-cara yang lain adalah, pada cara ini perusahaan tetap membayar royalti, namun royalti tersebut tidak masuk kedalam kas perusahaan melainkan masuk kepada kas pemilik perusahaan dimana pemilik perusahaan bisa menggunakan kembali uang tersebut kepada perusahaan atau untuk kepentingan pribadi.
Dana Promosi buku yang dilakukan PT Pustaka Kencana belum banyak, hal ini disebabkan oleh terbatasnya dana operasional perusahaan sehingga dalam mempromosikan buku secara luas, perusahaan hanya mengandalkan promosi yang dilakukan toko buku dan
tidak melakukan promosi sendiri kecuali promosi kepada sekolah TK, dan hanya dilakukan pada saat bazar saja.
Memiliki jaringan toko buku yang luas sangat penting untuk mendistribusikan buku-buku yang dijual oleh PT Pustaka Kencana karena jaringan toko buku-buku yang luas akan dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan buku yang diinginkan. Berikut ini adalah tabel daftar jaringan toko buku PT Pustaka Kencana, beserta jumlah jaringan toko yang bekerja sama dengan PT Pustaka Kencana :
Tabel 4.7 Jaringan Toko Buku PT Pustaka Kencana
No Toko Buku Jumlah Cabang yang
Bekerjasama 1. Gramedia 31 2. Intermedia 9 3. Utama 13 4. Gunung Agung 30 5. Kharisma 3 6. Tisera 7
Sumber : PT Pustaka Kencana
Selain memiliki jaringan toko buku yang luas, PT Pustaka Kencana juga memiliki koneksi dengan TK-TK yang cukup luas dikarenakan oleh latar belakang dari salah satu pemilik dan Direktur Utama PT Pustaka Kencana memiliki latar belakang pegawai negeri dalam bidang kependidikan sehingga memiliki relasi yang luas dengan kepala sekolah negeri. Selain relasi dengan toko buku dan sekolah TK, memiliki variasi buku yang luas juga penting, karena variasi buku yang luas dapat menyebabkan konsumen dapat memilih jenis buku yang
lebih luas sehingga dapat membantu dalam meningkatkan penjualan. Dalam hal ini PT Pustaka Kencana memiliki kelemahan, yaitu variasi buku yang sedikit. Variasi buku yang sedikit yang dimaksud adalah, PT Pustaka Kencana memiliki keragaman judul buku yang lebih sedikit dibanding pesaing-pesaingnya. Keragaman jenis buku yang sedikit ini disebabkan oleh minimnya dana untuk produksi buku baru, sedangkan tuntutan untuk produksi buku baru sangat tinggi untuk menggantikan stok buku lama yang tidak laku.
Berikut ini adalah tabel perbandingan varian buku TK PT Pustaka Kencana dengan pesaing :
Tabel 4.8 perbandingan variasi buku
Jumlah judul Variasi Buku
PT Pustaka Kencana 40-60
Gramedia Pustaka Utama 50-100
Wahyumedia 50-60
Bhuana Ilmu Populer 50-80
Sumber : Survey Lapangan bersama Tim Marketing PT Pustaka Kencana
4.4.3 Aspek SDM
PT Pustaka Kencana memiliki jumlah karyawan sebanyak 11 orang. Jumlah ini tidak banyak, namun cukup untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan. Berikut ini adalah tabel komposisi jumlah karyawan PT Pustaka Kencana dan divisi yang diisi. Namun, latar belakang pendidikan ditengarai menjadi salah satu kelemahan SDM PT Pustaka Kencana. Mayoritas SDM PT Pustaka Kencana memiliki latar belakang pendidikan SMA sehingga kurang
dapat memaksimalkan kinerja operasional perusahaan. Berikut ini adalah tabel pendidikan terakhir karyawan PT Pustaka Kencana :
Tabel 4.9 Pendidikan karyawan PT Pustaka Kencana
Pendidikan Jumlah S2 1 S1 1 D3 1 SMA 4 SMP 3 SD 1 Sumber : PT Pustaka Kencana
Namun, berdasarkan wawancara dan observasi lapangan yang dilakukan, meskipun PT Pustaka Kencana memiliki SDM yang memiliki latar belakang pendidikan rendah, umumnya para karyawan PT Pustaka Kencana memiliki motivasi tinggi. Motivasi kerja yang tinggi ini dapat membantu berjalannya operasional perusahaan berjalan secara optimal.
4.4.4 Aspek Produksi
Mencetak buku terdiri dari beberapa proses. Setiap proses percetakan buku harus tidak memiliki kesalahan, karena kesalahan sekecil apapun dapat menyebabkan kualitas buku tidak bagus dan buku tersebut akan diretur oleh toko buku. Berikut ini adalah proses produksi buku dari perusahaan Pustaka Kencana :
T
Y
Y
T
Gambar 4.2 : Proses Produksi Cetak PT PUSTAKA KENCANA
Sumber : Divisi Produksi PT PUSTAKA KENCANA Pembuatan dummy Pembuatan film
Persiapan
bahan
untuk
mencetak
Pembuatan
plat
Dummy disetujui/tid akCetak
dimulai
Finishing
Penyesuaian hasil cetak dengan dummy sesuai/tidaksesuai
Buku siap
jual
Pendesainan Layout buku
Penjelasan Gambar :
1. Tahap pertama adalah melakukan desain lay out buku yang akan dicetak pada komputer dengan menggunakan software pengolah gambar,
2. Setelah desain selesai dibuat, kemudian desain awal buku di-print untuk dibuat sebagai dummy yang berfungsi sebagai melihat isi buku atau naskah buku sudah layak cetak atau koreksi harus dikoreksi lagi. Dengan konsep dummy ini, dapat membantu PT PUSTAKA KENCANA dalam mengurangi resiko kesalahan cetak yang bisa berakibat bertambahnya biaya yang tidak perlu karena, jika kesalahan cetak baru diketahui saat buku telah selesai dicetak, maka biaya yang telah dikeluarkan untuk mencetak buku tersebut jadi sia-sia karena harus cetak ulang dari awal. Jika dummy tidak disetujui karena terdapat kesalahan dalam dummy, desain buku masih bisa dikoreksi ulang pada komputer sehingga perusahaan tidak rugi karena mencetak buku yang salah. Jika dummy sudah disetujui, maka berlanjut ada tahap pembuatan film. Konsep dummy ini memberikan andil yang besar terhadap hasil cetak PT PUSTAKA KENCANA sehingga perusahaan jarang sekali melakukan kesalahan cetak. 3. Film berguna untuk pembuatan plat yang nantinya plat tersebut akan dipasang pada
mesin cetak. PT PUSTAKA KENCANA tidak memiliki mesin film maker, mesin potong kertas, dan plat maker sehingga perusahaan harus meng-outsource pembuatan film, pemotongan kertas, dan plat ke perusahaan lain. Ketidak adaan mesin film maker tidak penting karena masih bisa ditolerir dikarenakan oleh mesin tersebut memiliki harga yang sangat mahal dan peningkatan efisiensi yang rendah, namun keberadaan mesin plat maker dan mesin potong kertas penting karena dapat meningkatkan efisiensi biaya secara signifikan.
4. Setelah plat selesai dibuat, maka proses cetak siap dimulai, bahan-bahan untuk cetak seperti kertas, tinta, dan bahan lainnya disiapkan. Setelah kertas, tinta, dan plat dipasang, cetak siap dimulai.
5. Setelah cetak dimulai, hasil cetak yang sudah jadi kemudian diperiksa apakah masih terjadi kesalahan atau tidak. Jika masih terjadi kesalahan, maka PT PUSTAKA KENCANA harus mengulang produksi dari tahap pembuatan film tetapi jika benar, maka proses cetak dapat dilanjutkan, dan apabila telah selesai cetak, produksi dapat berlanjut ke tahap finishing.
6. Pada tahap finishing, hasil cetak dikawat atau disteaples untuk disatukan agar menjadi buku, setelah pengkawatan selesai, buku lalu ditekuk dan setelah ditekuk dengan rapi, buku-buku tersebut disisir(dipotong) dengan ukuran yang ditentukan. PT PUSTAKA KENCANA juga tidak memiliki mesin potong kertas (hanya menggunakan alat potong sederhana) sehingga menuntut kejelian karyawan produksi saat memotong buku. Setelah tahap finishing selesai, maka buku siap untuk dijual.
Ketidak adaan mesin potong kertas, film maker, plat maker pada PT Pustaka Kencana memiliki beberapa dampak yaitu :
1. Kecepatan produksi menjadi kurang optimal karena untuk melakukan proses potong, pembuatan film, dan plat tidak bisa dilakukan didalam kantor, tetapi harus diluar.
2. Biaya operasional yang dihasilkan lebih mahal karena perusahaan harus membayar jasa potong, pembuatan film, dan plat.
Berikut ini adalah perhitungan pengeluaran yang harus dibayar oleh PT Pustaka Kencana sekaligus manfaat dan kerugian yang akan didapatkan antara memiliki mesin sendiri dengan outsource.
Tabel 4.10 : Perbandingan antara memiliki mesin sendiri dengan outsource
Memiliki mesin sendiri Outsource Keterangan
Mesin potong kertas
- Biaya potong gratis - Range harga mesin potong kertas baru (2 juta – 5 juta) - Range harga mesin potong kertas second (Rp. 500.000 – Rp. 2.000.000 - Biaya potong 1 Kg buku = Rp. 1000 - Asumsi 1000 buku = 100 kg - Asumsi produksi/tahun = 36.000–60.000 buku = 360Kg-600Kg buku x Rp. 1000 = Rp. 360.000 – Rp. 600.000
Membeli mesin potong kertas dianjurkan karena :
- Biaya operasional lebih murah - Pekerjaan lebih teliti
- Membeli mesin potong kertas second jika dana yang ada tidak memadai untuk beli mesin baru
Memiliki plat maker sendiri
- Membeli plat maker
baru (Rp. 14.000.000 – Rp.
Outsource plat maker
- Membeli plat kosong + jasa cetak plat = Rp. 16.000 (asumsi 1 buku butuh 70 plat = 70 x
Membeli plate maker dianjurkan karena :
- Biaya operasional lebih murah - Pekerjaan lebih teliti
20.000.000) - Membeli plat maker
second (Rp. 3.000.000 – Rp. 5.000.000) - Membeli plat kosong Rp. 8.000 (asumsi 1 buku butuh 70 plat = 70 x Rp. 8000 = Rp. 560.000) Rp.16.000 = Rp. 1.120.000)
second jika dana yang ada tidak memadai untuk beli mesin baru
Memiliki film maker sendiri - Biaya pembelian roll film Rp. 250.000 (4-6 buku) - Biaya ekspos film gratis - Range harga mesin UV maker > Rp. 100.000.000
Outsource film maker
- Biaya pembelian roll film Rp. 250.000 (4-6 buku)
- Biaya ekspos film
asumsi 33cm x 21cm x Rp. 15/cm x 1 warna = Rp. 10.395
Membeli mesin UV maker tidak dianjurkan karena :
- Biaya pembelian mesin yang terlalu besar
Pembelian yang dianjurkan adalah pembelian mesin potong kertas dan mesin plat maker karena masih bisa dijangkau oleh perusahaan.
4.4.5 Aspek Manajemen
Struktur organisasi PT Pustaka Kencana adalah sebagai berikut :
Gamber 4.3 : Struktur organisasi PT Pustaka Kencana
Sumber : PT Pustaka Kencana
Komisaris Utama
- Bertanggung jawab dalam memilih Direktur Utama, Direktur Keuangan, dan Direktur
Operasional
KOMISARIS UTAMA
DIREKTUR UTAMA
DIREKTUR KEUANGAN DIREKTUR OPERSIONAL
ADMINISTRASI KEUANGAN KOORDINATOR PEMASARAN KOORDINATOR PRODUKSI DESAIN CETAK PEMASARAN PENAGIHAN PENGIRIMAN
- Melakukan pengawasan kinerja manajemen perusahaan
Direktur Utama
- Mengatur kinerja manajemen perusahaan secara keseluruhan - Menentukan visi misi perusahaan
- Merencanakan kegiatan masa depan perusahaan
- Berdiskusi dengan Direktur Keuangan dan Direktur Operasional tentang beragam
masalah seperti : keuangan, produksi, pemasaran, kepegawaian, dan masalah perusahaan lainnya
Direktur Keuangan
- Mengatur administrasi keuangan perusahaan, seperti pembayaran royalti, gaji,
pembiayaan operasional, dan masalah keuangan lainnya.
- Menjalin koordinasi dengan bagian penagihan untuk masalah penagihan piutang
penjualan buku
Direktur Operasional
- Mengawasi kinerja bagian produksi dan pemasaran
- Menjalin koordinasi dengan koordinator produksi untuk menangani masalah produksi - Menjalin koordinasi dengan koordinator pemasaran untuk menangani masalah
pemasaran, penagihan, dan pengiriman. Koordinator Produksi
- Membantu Direktur Operasional dalam mengatur manajemen produksi seperti
mengatur jadwal produksi
Koordinator Pemasaran
- Membantu Direktur Operasional dalam mengatur manajemen pemasaran, distribusi,
dan penagihan penjualan
- Melakukan pengawasan kinerja bagian pemasaran, distribusi, dan penagihan
Manajemen PT Pustaka memiliki kelebihan yaitu struktur perusahaan dan rantai komado yang tidak rumit sehingga dapat mengoptimalkan kinerja dari keseluruhan perusahaan sedangkan kelemahan dari aspek manajemennya yaitu, pengawasan internal masih lemah. Hal ini ditandai oleh lemahnya pelaporan kegiatan dan keuangan yang dilakukan karyawan sehingga berpotensi menyebabkan kurang optimalnya karyawan bekerja karena merasa kurang diawasi dan berpotensi menimbulkan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan.
4.5 Rekapilutasi Kelebihan dan Kelemahan Internal serta Peluang dan Ancaman
Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat diperoleh informasi tentang kelebihan dan kelemahan internal PT Pustaka Kencana serta peluang dan ancaman yang dihadapi yang disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 4.11 Rekapilutasi Kelebihan dan Kelemahan Internal PT Pustaka Kencana
Kelebihan Kelemahan 1. Koneksi jaringan toko buku luas
2. Harga produk yang kompetitif
3. SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi
4. Relasi dengan sekolah TK luas
1. Kondisi finansial yang buruk 2. Variasi buku sedikit
3. SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
5. Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit
4. Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
5. Pengawasan internal masih lemah Sumber : PT PUSTAKA KENCANA
4.6 Hasil Kuesioner Pembobotan Faktor Internal dan Eksternal PT PUSTAKA KENCANA
Berikut ini adalah hasil kuesioner pembobotan untuk faktor internal dan faktor eksternal PT PUSTAKA KENCANA.
Tabel 4.12 Hasil Kuesioner Pembobotan faktor internal PT PUSTAKA KENCANA
No Keterangan (a/b) Bobot
1 Koneksi jaringan toko buku luas a 3
Harga produk yang kompetitif
2 Koneksi jaringan toko buku luas b 2
SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi
3 Koneksi jaringan toko buku luas a 2
Relasi dengan sekolah TK luas
4 Koneksi jaringan toko buku luas a 3
Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit
5 Koneksi jaringan toko buku luas b 3
Kondisi finansial yang buruk
6 Koneksi jaringan toko buku luas a 2
Variasi buku sedikit
7 Koneksi jaringan toko buku luas b 2
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
8 Koneksi jaringan toko buku luas a 3
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
9 Koneksi jaringan toko buku luas b 2
Pengawasan internal yang lemah
10 Harga produk yang kompetitif b 3
SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi
11 Harga produk yang kompetitif a 2
Relasi dengan sekolah TK luas
12 Harga produk yang kompetitif a 2
Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit
Kondisi finansial yang buruk
14 Harga produk yang kompetitif b 2
Variasi buku sedikit
15 Harga produk yang kompetitif b 3
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
16 Harga produk yang kompetitif b 3
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
17 Harga produk yang kompetitif b 3
Pengawasan internal yang lemah
18 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi a 3
Relasi dengan sekolah TK luas
19 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi a 3
Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit
20 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi b 3
Kondisi finansial yang buruk
21 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi a 2
Variasi buku sedikit
22 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi a 2
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
23 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi a 2
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
24 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi b 1
Pengawasan internal yang lemah
25 Relasi dengan sekolah TK luas a 1
Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit
26 Relasi dengan sekolah TK luas b 3
Kondisi finansial yang buruk
27 Relasi dengan sekolah TK luas b 2
Variasi buku sedikit
28 Relasi dengan sekolah TK luas b 2
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
29 Relasi dengan sekolah TK luas b 2
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
30 Relasi dengan sekolah TK luas b 2
Pengawasan internal yang lemah
31 Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit b 3
Kondisi finansial yang buruk
32 Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit b 1
Variasi buku sedikit
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
34 Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit b 2
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
35 Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak rumit b 3
Pengawasan internal yang lemah
36 Kondisi finansial yang buruk a 3
Variasi buku sedikit
37 Kondisi finansial yang buruk a 1
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
38 Kondisi finansial yang buruk a 3
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
39 Kondisi finansial yang buruk a 2
Pengawasan internal yang lemah
40 Variasi buku sedikit b 2
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
41 Variasi buku sedikit a 3
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
42 Variasi buku sedikit b 2
Pengawasan internal yang lemah
43 SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim a 2
Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker
44 SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim b 2
Pengawasan internal yang lemah
45 Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker b 2
Pengawasan internal yang lemah
Sumber : wawancara dengan Direktur Utama Pustaka Kencana
Keterangan :
1. (a) Koneksi jaringan toko buku yang luas lebih berpengaruh daripada harga produk yang kompetitif disebabkan oleh jaringan toko buku yang luas sangat berpengaruh pada distribusi buku PT Pustaka Kencana kepada konsumen. Mayoritas jaringan toko buku PT Pustaka Kencana adalah melalui toko-toko buku
besar seperti Gramedia dan Gunung Agung yang memiliki konsumen yang umumnya tidak sensitif terhadap harga.
2. (b) SDM memiliki motivasi tinggi lebih berpengaruh daripada koneksi jaringan toko buku yang luas, karena pemanfaatan jaringan toko buku yang luas tergantung dari SDM perusahaan. Jika SDM rajin dalam memanfaatkan jaringan toko buku yang ada, tentunya dapat membantu meningkatkan penjualan perusahaan.
3. (a) Koneksi jaringan toko buku yang luas lebih berpengaruh daripada relasi dengan sekolah TK yang luas karena mayoritas distribusi buku ditempatkan melalui toko buku, bukan TK.
4. (a) Koneksi jaringan toko buku yang luas lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana, karena koneksi jaringan toko buku langsung mempengaruhi penjualan sehingga tingkat kepentingannya menjadi lebih krusial daripada manajemen yang sederhana.
5. (b) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada koneksi jaringan toko buku yang luas. Kondisi finansial yang buruk dapat menyebabkan terganggunya seluruh aktivitas perusahaan sehingga bisa mempengaruhi kemampuan pemanfaatan dari jaringan toko buku yang luas.
6. (a) Koneksi jaringan toko buku yang luas lebih berpengaruh daripada variasi buku yang sedikit. Jaringan toko buku dan jumlah variasi buku memiliki pengaruh terhadap omset. Namun dalam kasus PT Pustaka Kencana jumlah jaringan toko buku dianggap lebih berpengaruh karena menyangkut persoalan distribusi buku. 7. (b) SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang
minim lebih berpengaruh daripada koneksi jaringan toko buku yang luas karena SDM yang minim pendidikan dan pengalaman dapat menyebabkan kurang
optimalnya kegiatan operasional perusahaan sehingga pemanfaatan jaringan toko buku yang luas pun bisa saja tidak optimal jika tidak ditunjang oleh kemampuan SDM dalam memanfaatkan jaringan toko buku yang luas tersebut.
8. (a) Koneksi jaringan toko buku yang luas lebih berpengaruh daripada tidak adanya mesin potong kertas dan plat maker disebabkan oleh ketidak adaan mesin-mesin ini masih bisa disiasati perusahaan dengan melakukan outsource yaitu memotong, membuat film dan plat di perusahaan percetakan lain. Sedangkan keberadaaan jaringan toko buku merupakan sesuatu yang krusial yang tidak bisa tidak ada.
9. (b) Pengawasan internal yang masih lemah lebih berpengaruh daripada koneksi jaringan toko buku yang luas karena dengan pengawasan internal yang lemah akan memicu tidak lancarnya seluruh kegiatan operasional perusahaan.
10. (b) SDM yang memiliki motivasi dan daya juang tinggi lebih berpengaruh daripada harga produk yang kompetitif karena untuk menghasilkan produk yang memiliki harga yang kompetitif diperlukan semangat dan daya juang tinggi dalam berkreasi menciptakan produk.
11. (a) Harga produk yang kompetitif relasi dengan sekolah TK yang luas lebih berpengaruh daripada karena mayoritas buku-buku PT Pustaka Kencana didistribusikan melalui jaringan toko buku yang ramai persaingan sehingga harga yang kompetitif dapat membantu memenangkan persaingan produk.
12. (a) Harga produk yang kompetitif lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana karena harga produk yang kompetitif lebih dibutuhkan untuk memenangkan persaingan.
13. (b) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada harga produk yang kompetitif, karena kondisi finansial yang buruk dapat mempengaruhui
keseluruhan operasional perusahaan sehingga berpotensi menyulitkan perusahaan dalam menciptakan prooduk yang memiliki harga yang kompetitif. 14. (b) Variasi buku yang sedikit lebih berpengaruh daripada harga produk yang
kompetitif karena mayoritas pelanggan utama buku Pustaka Kencana adalah orang-orang yang membeli buku pada toko buku besar (Gramedia, Gunung Agung)pada sekolah TK yang sangat mementingkan harga. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa konsumen pada toko buku besar umumnya tidak sensitif terhadap harga buku. Untuk menarik konsumen ini dalam jumlah besar lebih diperlukan variasi buku yang bermacam-macam daripada harga buku yang kompetitif.
15. (b) SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim lebih berpengaruh daripada harga buku yang kompetitif karena SDM yang minim pengalaman dan latar belakang pendidikan memiliki dampak terhadap keseluruhan kinerja operasional perusahaan sehingga berpotensi menyulitkan perusahaan dalam menghasilkan produk yang memiliki harga produk yang kompetitif.
16. (b) Tidak adanya mesin potong kertas dan plat maker lebih berpengaruh daripada harga produk yang kompetitif karena tidak adanya mesin-mesin ini berdampak pada borosnya biaya yang digunakan untuk outsource sehingga pengaruhnya terhadap laba keseluruhan lebih banyak dibandingkan harga produk yang kompetitif.
17. (b) Pengawasan internal yang lemah lebih berpengaruh daripada harga produk yang kompetitif karena kinerja operasional perusahaan yang optimal tentu harus didukung pengawasan yang optimal. Dalam kasus PT Pustaka Kencana, kinerja
operasional secara keseluruhan yang baik dapat lebih mempengaruhi omset daripada harga produk yang kompetitif.
18. (a) SDM yang memiliki motivasi dan daya juang tinggi lebih berpengaruh daripada relasi dengan sekolah TK yang luas karena tanpa motivasi tinggi, relasi dengan sekolah TK yang luas bisa terbengkalai, sehingga pemanfaatan relasi dengan sekolah TK untuk menjual buku menjadi kurang optimal.
19. (a) SDM yang memiliki motivasi dan daya juang tinggi lebih berpengaruh daripada Manajemen yang sederhana dengan rantai komando yang tidak rumit, karena tanpa motivasi, rantai komando yang tidak rumit pun bisa percuma karena kurang optimalnya hubungan atasan bawahan sebagai akibat dari motivasi yang kurang.
20. (b) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi karena finansial perusahaan yang buruk dapat mempengaruhi keseluruhan internal perusahaan termasuk motivasi para pegawainya.
21. (a) SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi lebih berpengaruh daripada variasi buku yang sedikit karena motivasi SDM dapat mempengaruhi keseluruhan kegiatan operasional perusahaan.
22. (a) SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi lebih berpengaruh daripada SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan karena banyaknya pengalaman pengalaman karena motivasi yang tinggi dapat menimbulkan semangat belajar sehingga bisa menutupi kelemahan dari segi minimnya latar belakang pendidikan dan pengalaman.
23. (a) SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi lebih berpengaruh daripada tidak adanya mesin potong kertas dan plat maker karena ketidak adaan mesin ini
bisa disiasati dengan cara outsource sehingga perusahaan masih bisa beroperasi walaupun tidak secepat memiliki mesin sendiri, sedangkan jika para SDM perusahaan tidak memiliki motivasi tinggi maka keseluruhan operasional perusahaan menjadi terganggu.
24. (b) Pengawasan internal yang lemah lebih berpengaruh daripada SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi karena motivasi yang tinggi jika tidak didukung oleh pengawasan internal yang lemah akan berpotensi menurunkan motivasi itu sendiri. Karyawan dapat merasa bahwa mereka kurang diawasi sehingga lama-kelamaan mereka akan menjadi malas.
25. (a) Relasi dengan sekolah TK yang luas lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana karena relasi dengan sekolah TK yang luas dapat membuka peluang kerjasama antara perusahaan dengan TK sehingga dapat meningkatkan berpotensi penjualan. Manajemen yang sederhana dalam hal ini kalah berpengaruh karena kontribusinya terhadap peningkatan pendapatan diasumsikan lebih kecil daripada relasi dengan sekolah TK.
26. (b) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada relasi dengan sekolah TK yang luas karena kondisi finansial yang buruk dapat mempengaruhi keseluruhan operasional perusahaan sehingga pemanfaatan relasi dengan sekolah TK menjadi kurang optimal.
27. (b) Variasi buku yang sedikit lebih berpengaruh daripada relasi dengan sekolah TK yang luas karena sebagian besar buku-buku PT Pustaka Kencana didistribusikan melalui toko buku dimana beragamnya variasi produk dapat membantu meningkatkan penjualan.
28. (b) SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim lebih berpengaruh daripada relasi dengan sekolah TK yang luas karena
SDM yang minim pengalaman dan latar belakang pendidikan dapt mempengaruhi keseluruhan perusahaan.
29. (b) Tidak ada mesin potong kertas dan plat maker karena dampak kekurangan modal lebih berpengaruh daripada relasi dengan sekolah TK yang luas karena mayoritas buku PT Pustaka Kencana didistribusikan melalui toko buku. Keberadaan mesin potong kertas dan plat maker, lebih penting karena dapat mengoptimalkan kinerja produksi dan mengefisiensikan biaya perusahaan.
30. (b) Pengawasan internal yang lemah lebih berpengaruh daripada relasi dengan sekolah TK yang luas karena hambatan yang disebabkan oleh pengawasan internal yang lemah dapat menyebabkan operasional perusahaan tidak berjalan dengan optimal.
31. (b) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana dengan rantai komando yang tidak rumit karena kondisi finansial yang buruk dapat mempengaruhi keseluruhan operasional perusahaan.
32. (b) Variasi buku sedikit lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana dengan rantai komando yang tidak rumit karena untuk meningkatkan penjualan dan laba lebih dibutuhkan variasi buku yang luas daripada manajemen yang sederhana.
33. (b) SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana dengan rantai komando yang tidak rumit karena minimnya pengalaman dan latar belakang pendidikan lebih dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas produksi sehingga produksi yang dihasilkan minim kesalahan dan lebih optimal.
34. (b) Tidak ada mesin potong kertas, film maker, plat maker lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana dengan rantai komando yang tidak rumit
karena untuk meningkatkan kualitas produksi lebih dibutuhkan kelengkapan fasillitas mesin daripada manajemen yang sederhana.
35. (b) Pengawasan internal yang lemah lebih berpengaruh daripada manajemen yang sederhana dengan rantai komando yang tidak rumit karena manajemen yang sederhana manfaatnya akan kurang terasa jika pengawasan yang dilakukan oleh atasan lemah dan tidak optimal.
36. (a) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada variasi buku sedikit karena untuk menghasilkan buku yang bervariasi membutuhkan modal dan dukungan dari kondisi finansial yang baik.
37. (a) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim karena kondisi finansial yang buruk memiliki potensi menimbulkan kebangkrutan yang lebih besar daripada SDM yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman minim.
38. (a) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada tidak adanya mesin potong kertas, film maker, plat maker karena untuk membeli fasilitas-fasilitas mesin tersebut membutuhkan dukungan dari kondisi finansial yang baik.
39. (a) Kondisi finansial yang buruk lebih berpengaruh daripada pengawasan internal yang lemah. Keduanya memiliki dampak yang menyeluruh namun dalam kasus PT Pustaka Kencana, finansial yang buruk dapat menyebabkan potensi kebangkrutan sehingga efek dari kondisi finansial yang buruk lebih besar daripada pengawasan internal yang lemah.
40. (b) SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim lebih berpengaruh daripada variasi buku yang sedikit karena latar belakang
pendidikan dan pengalaman berpengaruh terhadap meningkatkan produksi karya buku sehingga dapat membantu menghasilakan produkn yang beragam.
41. (a) Variasi buku yang sedikit lebih berpengaruh daripada Tidak ada mesin potong kertas, film maker, plat maker karena variasi buku yang luas lebih berpotensi meningkatkan laba perusahaan daripada penghematan yang diperoleh dari pengadaan mesin-mesin ini.
42. (b) pengawasan internal yang lebih berpengaruh daripada lemah variasi buku yang sedikit karena untuk menunjang produktivitas membutuhkan pengawasan internal, termasuk juga untuk meningkatkan produktivitas pembuatan karya buku.
43. (a) SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim lebih berpengaruh daripada tidak ada mesin potong kertas, film maker, plat maker karena minimnya pengalaman dan pendidikan menimbulkan dampak secara keseluruhan terhadap operasional perusahaan, dibandingkan ketidak adaan mesin potong kertas, film maker, plat maker yang masih bisa di-outsource.
44. (b) Pengawasan internal yang lemah lebih berpengaruh daripada SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim karena minim pengawasan internal dapat menimbulkan efek karyawan menjadi malas sehingga potensi terganggunya produktivitas perusahaan lebih besar daripada minimnya SDM yang minim pengalaman dan pendidikan.
45. (b) Pengawasan internal yang lemah lebih berpengaruh daripada tidak adanya mesin potong kertas, film maker, plat maker, karena dampak dari ketidakoptimalan kinerja yang ditimbulkan oleh Pengawasan internal yang lemah lebih besardaripada tidak adanya mesin potong kertas, film maker, plat maker.
Tabel 4.13 Rekapilutasi Peluang dan Ancaman PT PUSTAKA KENCANA
Peluang Ancaman 1. Inflasi menurun
2. Teknologi internet memudahkan
komunikasi dengan toko buku 3. Tren suku bunga menurun 4. Tidak ada PPN
1. Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group
2. Potensi kerugian dari Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 yang dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir 3. Munculnya penerbit baru 4. Kurs dolar tidak stabil Sumber : Wawancara dengan Direktur Utama PT PUSTAKA KENCANA
Tabel 4.14 Hasil Kuesioner Pembobotan faktor eksternal PT PUSTAKA KENCANA
No Keterangan a/b skor
1 Inflasi menurun b 2
Teknologi internet, memudahkan komunikasi dengan toko buku
2 Inflasi menurun a 1
Tren suku bunga menurun
3 Inflasi menurun b 3
Tidak ada PPN
4 Inflasi menurun b 3
Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group
5 Inflasi menurun b 3
Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir
6 Inflasi menurun b 2
Munculnya penerbit baru
7 Inflasi menurun b 3
Kurs dolar tidak stabil
8 Teknologi internet, memudahkan komunikasi dengan toko buku a 3
Tren suku bunga menurun
9 Teknologi internet, memudahkan komunikasi dengan toko buku b 1
Tidak ada PPN
Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group
11 Teknologi internet, memudahkan komunikasi dengan toko buku b 2
Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir
12 Teknologi internet, memudahkan komunikasi dengan toko buku b 1
Munculnya penerbit baru
13 Teknologi internet, memudahkan komunikasi dengan toko buku b 2
Kurs dolar tidak stabil
14 Tren suku bunga menurun b 2
Tidak ada PPN
15 Tren suku bunga menurun b 3
Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group
16 Tren suku bunga menurun b 2
Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir
17 Tren suku bunga menurun b 2
Munculnya penerbit baru
18 Tren suku bunga menurun b 3
Kurs dolar tidak stabil
19 Tidak ada PPN b 1
Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group
20 Tidak ada PPN a 1
Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir
21 Tidak ada PPN a 2
Munculnya penerbit baru
22 Tidak ada PPN b 2
Kurs dolar tidak stabil
23 Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group b 1
Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir
Munculnya penerbit baru
25 Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group a 2
Kurs dolar tidak stabil
26 Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir a 1
Munculnya penerbit baru
27 Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir b 1
Kurs dolar tidak stabil
28 Munculnya penerbit baru b 3
Kurs dolar tidak stabil
Sumber : wawancara dengan Direktur Utama PT Pustaka Kencana
Keterangan :
1. (b) Teknologi internet lebih berpengaruh daripada inflasi menurun karena manfaat dari teknologi internet dapat menunjang keseluruhan operasional perusahaan sehingga manfaat yang dirasakan bisa lebih besar daripada penurunan inflasi.
2. (a) Inflasi menurun lebih berpengaruh daripada tren suku bunga menurun karena PT Pustaka Kencana jarang berurusan dengan bunga bank sehingga manfaat yang dirasakan oleh inflasi yang menurun seperti penurunan biaya operasional dan kenaikan daya beli masyarakat lebih terasa bagi PT Pustaka Kencana dibanding tren suku bunga yang menurun yang banyak berguna jika perusahaan ingin meminjam uang ke bank.
3. (b) Tidak ada PPN lebih bermanfaat dibandingkan dengan inflasi yang menurun karena penghematan biaya yang dihasilkan oleh tidak adanya PPN ini lebih besar daripada penurunan inflasi karena nilai penjualan perusahaan tidak dikurangi sebesar 10%.
4. (b) Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group lebih berpengaruh daripada inflasi menurun. Keduanya sama-sama berpengaruh terhadap laba yang akan dihasilkan oleh perusahaan. Namun pengaruh dari pesaing terutama pesaing yang tergabung dalam Gramedia Group terhadap laba lebih besar daripada inflasi. Hal ini disebabkan jumlah pesaing yang tergabung dalam Gramedia Group cukup banyak dan umumnya memiliki kualitas buku yang lebih baik sehingga dapat menyulitkan PT Pustaka Kencana. 5. (b) Potensi kerugian dari toko buku gramedia yang menetapkan harga minimal
Rp. 15.000 lebih berpengaruh dibanding inflasi menurun karena dampak negatif dari potensi kerugian yang ditimbulkan adalah tersingkirnya buku-buku lama yang memiliki harga dibawah Rp. 15.000 sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya lagi untuk membuat buku-buku baru.
6. (b) Munculnya penerbit baru dapat mengurangi omset PT Pustaka Kencana karena semakin meramaikan persaingan pada industri penerbitan dan percetakan khusus buku anak TK.
7. (b) Kurs dolar tidak stabil lebih berpengaruh terhadap PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan inflasi yang menurun. Karena ketidakstabilan kurs dolar dapat memicu ketidakstabilan biaya yang dampaknya lebih besar dibandingkan penurunan biaya yang dihasilkan oleh inflasi yang turun.
8. (a) Manfaat yang dihasilkan oleh internet dapat menunjang kemudahan operasional perusahaan sehingga menjadikan operasional perusahaan lebih efektif. Sedangkan manfaat dari suku bunga yang menurun
9. (b) Tidak adanya PPN dapat menghemat dana perusahaan secara signifikan sehingga manfaatnya lebih besar dibandingkan manfaat suku bunga yang menurun.
10. (b) Ancaman dari dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group lebih besar pengaruhnya daripada manfaat tingkat suku bunga yang semakin turun. Hal ini disebabkan oleh perusahaan jarang berurusan dengan bunga bank karena seluruh modal murni dari pemegang saham, dan juga dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group ini dapat mengurangi menyebabkan PT Pustaka Kencana kalah bersaing karena perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Gramedia Group memiliki dukungan dari toko buku Gramedia.
11. (b) Potensi kerugian dari toko buku gramedia yang menetapkan harga minimal Rp. 15.000 lebih berpengaruh dibanding tren suku bunga menurun karena dampak yang ditimbulkan langsung terhadap laba yang diterima perusahaan lebih besar jumlahnya jika buku-buku yang dijual di Gramedia diretur.
12. (b) Munculnya penerbit baru dapat mengurangi omset perusahaan dan menyebabkan terganggunya finansial perusahaan.
13. (b) Dampak negatif yang ditimbulkan oleh ketidakstabilan kurs dolar lebih besar dibandingkan dengan dampak positif yang ditimbulkan oleh penggunaan teknologi internet karena ketidakstabilan dolar dapat memicu pembengkakan biaya yang signifikan.
14. (b) Manfaat yang dirasakan PT Pustaka Kencana dari tidak adanya PPN lebih besar daripada tingkat suku bunga yang menurun karena pengurangan biaya yang ditimbulkan oleh tidak adanya PPN lebih besar daripada pengurangan biaya yang ditimbulkan oleh suku bunga yang menurun.
15. (b) Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group Potensi kerugian dari toko buku gramedia yang menetapkan
harga minimal Rp. 15.000 lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan tren suku bunga menurun.
16. (b) Kebijakan toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 lebih berpengaruh dibandingkan dengan tren suku bunga yang menurun karena potensi kerugian yang ditimbulkan oleh kebijakan ini sangat besar disebabkan oleh mayoritas buku PT Pustaka Kencana dibawah Rp. 15.000
17. (b) Munculnya penerbit baru memiliki pengaruh lebih besar daripada tren suku bunga yang menurun karena persaingan yang semakin keras dapat mempersulit posisi perusahaan dalam bisnis percetakan dan penerbitan buku anak.
18. (b) Kurs dolar yang tidak stabil lebih berpengaruh daripada tren suku bunga yang menurun.
19. (b) Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia
Group lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan
t
idak ada PPN karena umumnya perusahaan percetakan dan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group lebih diutamakan oleh toko buku Gramedia dibandingkan dengan perusahaan lain.20. (a) Tidak ada PPN lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingki
21. (a) Tidak ada PPN lebih berpengaruh daripada munculnya penerbit baru.
22. (b) Kurs dolar tidak stabil lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan tidak ada PPN.
23. (b) Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan potensi kerugian dari toko buku gramedia yang menetapkan harga minimal Rp. 15.000. 24. (a) Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia
Group lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan
m
unculnya penerbit baru.25. (a) dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan Kurs dolar tidak stabi
26. (a) Potensi kerugian dari toko buku gramedia yang menetapkan harga minimal Rp. 15.000 lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan munculnya penerbit baru. Munculnya pesaing baru dan kebijakan toko buku Gramedia ini memiliki potensi menyingkirkan produk PT Pustaka Kencana dari pasar, hanya saja dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan Gramedia lebih besar karena perusahaan terancam kehilangan jaringan yang bersifat nasional.
27. (b) Kurs dolar tidak stabil lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan potensi kerugian dari toko buku gramedia yang menetapkan harga minimal Rp. 15.000.
28. (b) Kurs dolar tidak stabil lebih berpengaruh bagi PT Pustaka Kencana dibandingkan dengan munculnya penerbit baru.
Tabel 4.15 Penentuan Bobot dengan Perbandingan Berpasangan Faktor Internal PT Pustaka Kencana
Sumber : PT Pustaka Kencana
Tabel 4.16 Normalisasi Bobot Faktor Internal PT Pustaka Kencana
Sumber : Olahan Data Peneliti
Tabel 4.17 Penentuan Bobot dengan Perbandingan Berpasangan Faktor Eksternal PT Pustaka Kencana
Tabel 4.18 Normalisasi Bobot Faktor Eksternal PT Pustaka Kencana
Sumber : Olahan data Peneliti
4.7 Tahap Input
Pada tahap ini matriks IFE dan EFE digunakan untuk menilai seberapa besar kekuatan internal PT Pustaka Kencana dan seberapa besar kemampuan PT Pustaka Kencana dalam merespon faktor eksternal.
4.7.1 Matriks IFE
Dalam matriks IFE data yang digunakan berasal dari tabel perbandingan berpasangan faktor internal dan berasal dari hasil kuesioner wawancara penilaian faktor internal PT Pustaka Kencana.
Tabel 4.19 Matriks IFE PT Pustaka Kencana
No. Keterangan Bobot Skor B*S
Kekuatan
1 Koneksi jaringan toko buku luas 0.102756 4 0.411025
2 Harga produk yang kompetitif 0.051192 3 0.153577
4 Relasi dengan sekolah TK luas 0.04611 3 0.138331 5
Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak
rumit 0.043844 3 0.131533
Kelemahan
1 Kondisi finansial yang buruk 0.203357 1 0.203357
2 Variasi buku sedikit 0.077971 2 0.155943
3 SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim 0.125029 1 0.125029 4 Tidak ada mesin potong kertas kertas dan plat maker 0.069428 1 0.069428
5 Pengawasan internal masih lemah 0.139423 2 0.278845
1 2.089734
Sumber : PT Pustaka Kencana dan Olahan Data Peneliti
4.7.2 Matriks EFE
Dalam EFE, data yang digunakan berasal dari tabel perbandingan berpasangan faktor eksternal dan berasal dari hasil kuesioner wawancara penilaian faktor eksternal PT Pustaka Kencana.
Tabel 4.20 Matriks EFE PT Pustaka Kencana
No Keterangan bobot skor B*S
1 Inflasi menurun 0.053161 2 0.106322
2 Tren suku bunga menurun 0.108966 1 0.108966
3 Teknologi internet memudahkan komunikasi dengan toko buku 0.057255 2 0.114511
4 Tidak ada PPN 0.141373 2 0.282747
5 Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group 0.203161 2 0.406323
6
Potensi kerugian dari Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 yang dapat menyebabkan buku yang
memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir 0.154107 2 0.308214
7 Munculnya penerbit baru 0.095154 2 0.190309
8 Kurs dolar tidak stabil 0.186821 2 0.373643
1 1.891034
4.7.3 Kesimpulan Kondisi Perusahaan Berdasarkan Matriks IFE & EFE
Dari data diatas, dapat dilihat bahwa skor IFE PT Pustaka Kencana sebesar 2,089734 atau dibawah 2,5. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kondisi internal PT Pustaka Kencana lemah. Dapat dilihat juga bahwa skor EFE PT Pustaka Kencana sebesar 1.891034 atau dibawah 2,5. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa respon PT Pustaka Kencana terhadap faktor eksternal lemah.
4.8 Tahap Pencocokan
Tahap pencocokan menggunakan matriks SWOT, Matriks IE, matriks SPACE, dan Matriks Grand Strategy. Masing-masing dari matriks ini akan memberikan usulan yang akan diseleksi setelahnya dengan menggunakan matriks QSP.
4.8.1 Matriks SWOT
Tabel 4.21 Matriks SWOT PT Pustaka Kencana
Strengths (S) Weakness (W)
S1
Koneksi jaringan toko
buku luas W1 Kondisi finansial yang buruk S2 kompetitif Harga produk yang W2 Variasi buku sedikit S3 SDM memiliki motivasi dan daya juang tinggi W3
SDM yang minim pengalaman dan memiliki latar belakang pendidikan yang minim
S4 Koneksi sekolah TK luas W4 Tidak ada mesin potong kertas dan maker plat
S5
Manajemen yang sederhana, rantai komando yang tidak
rumit W5 Pengawasan internal masih lemah
Opportunities (O) Strategi SO Strategi WO
O2 Tren suku bunga menurun
O3
Teknologi internet memudahkan komunikasi dengan toko buku
O4 Tidak ada PPN
internet untuk melancarkan komunikasi dengan jaringan toko buku (S1,O3)
maker dengan cara kredit karena tingkat suku
bunga yang menurun (W4, O2)
Threats (T) Strategi ST Strategi WT
T1
Dominasi perusahaan percetakan penerbitan yang tergabung dalam Gramedia Group
T2
Potensi kerugian dari Toko buku Gramedia menetapkan harga minimal Rp. 15.000 yang dapat menyebabkan buku yang memiliki harga <Rp. 15.000 tersingkir T3 Munculnya penerbit baru T4 Kurs dolar tidak stabil
1. Menggunakan strategi harga murah dan
memanfaatkan jaringan toko buku selain Gramedia serta relasi dengan sekolah TK untuk menggaet pasar dari kalangan menengah kebawah dan bersaing dengan kompetitor (S1,S2,T1,T3) 2. Memanfaatkan relasi dengan sekolah tk untuk menjual buku kepada anak-anak sehingga dapat membantu perusahaan dalam menghadapi persaingan keras pada buku-buku yang dijual di toko buku (S4,T1,T3) 3. Memanfaatkan relasi dengan sekolah tk sebagai tempat menjual buku-buku perusahaan yang memiliki harga < Rp. 15.000 (S4,T2) 4. Memanfaatkan semangat dan daya juang tinggi dari SDM untuk menggenjot produksi buku dengani harga > 15.000 (S3,T2)
1. Memperbaiki kondisi finansial untuk membiayai penambahan produk baru yang memiliki harga diatas Rp. 15.000
(W1,W2,T2) 2. Meningkatkan pengawasan internal
terutama pada bagian produksi agar kesalahan cetak bisa diminimalkan sehingga perusahaan bisa bersaing dengan perusahaan lain termasuk perusahaan yang tergabung dalam Gramedia Group (W5,T1,T3) 3. Memberikan pelatihan dan bimbingan bagi para karyawan agar perusahaan bisa menghasilkan produk yang berkualitas untuk bersaing dengan kompetitor lain (W3,T1,T3)
Sumber : PT Pustaka Kencana Keterangan :
a. Strategi SO
1. Dengan memanfaatkan teknologi internet untuk melancarkan komunikasi dengan jaringan toko buku (S1,O3) dapat diperoleh manfaat-manfaat antara lain :
- Melancarkan transaksi pembayaran
- PT Pustaka Kencana dapat mengetahui buku-buku mana saja yang telah terjual dan belum terjual
b. Strategi ST
1. Menggunakan strategi harga murah dan memanfaatkan jaringan toko buku selain Gramedia serta relasi dengan sekolah TK untuk menggaet pasar dari kalangan menengah kebawah dan bersaing dengan kompetitor (S1,S2,T1,T3)
2. Memanfaatkan koneksi dengan sekolah tk untuk menjual buku kepada anak-anak sehingga dapat membantu perusahaan dalam menghadapi persaingan keras pada buku-buku yang dijual di toko buku-buku (S4,T1,T3)
3. PT Pustaka Kencana memanfaatkan koneksi dengan sekolah tk sebagai tempat menjual buku-buku perusahaan yang memiliki harga < Rp. 15.000 (S4,T2).
4. Memanfaatkan semangat dan daya juang tinggi dari SDM perusahaan untuk menggenjot produksi buku yang memiliki harga > 15.000 (S3, T2)
c. Strategi WO
Membeli mesin potong kertas dan plat maker dengan cara kredit karena tingkat suku bunga yang menurun (W4, O2)
d. Strategi WT
1. Memperbaiki kondisi finansial untuk membiayai penambahan produk baru yang memiliki harga diatas Rp. 15.000 (W1,W2,T2). Perbaikan kondisi finansial bisa dilakukan dengan cara:
a. Pemilik menambahkan modal, cara ini merupakan cara paling bagus karena dapat meningkatkan kepedulian pemilik terhadap perusahaan, namun
kendala yang dihadapi adalah kemampuan dana dari pemilik lama yang sangat terbatas sehingga kucuran dana yang dihasilkan kurang optimal. b. Mencari investor baru, cara ini baik diterapkan karena dengan investor baru,
kucuran dana yang dihasilkan bisa lebih banyak.Kendala yang dihadapi adalah tidak mudah dalam mencari investor baru yang ingin berinvestasi pada PT Pustaka Kencana. Oleh karena itu jika diperlukan, PT Pustaka Kencana hendaknya membuat Business Plan dalam menawarkan investasi kepada calon investor.
c. Meminjam dana dari bank, cara ini merupakan cara paling buruk, karena akan menyulitkan kondisi keuangan PT Pustaka Kencana yang sering mengalami kerugian. Selain itu, akan sulit mencari bank yang ingin meminjamkan dananya kepada PT Pustaka Kencana karena berbagai macam persyaratan yang rumit serta kondisi keuangan PT Pustaka Kencana yang kurang baik.
2. Meningkatkan pengawasan internal terutama pada bagian produksi agar kesalahan cetak bisa diminimalkan sehingga perusahaan bisa bersaing dengan perusahaan lain
termasuk perusahaan yang tergabung dalam Gramedia Group (W5,T1,T3) 3. Memberikan pelatihan dan bimbingan bagi para karyawan agar perusahaan bisa
menghasilkan produk yang berkualitas untuk bersaing dengan kompetitor lain (W3,T1,T3)
4.8.2 Matriks IE
Berikut ini adalah posisi PT Pustaka Kencana pada matriks IE,
Total Rata-rata tertimbang IFE
Total rata-rata tertimbang EFE
Gambar 4.4 : Matriks IE PT Pustaka Kencana
Sumber : PT Pustaka Kencana
Berdasarkan analisis matriks IFE dan EFE, PT Pustaka Kencana memasuki sel VIII. Pada sel VIII, strategi yang paling cocok diterapkan pada PT Pustaka Kencana adalah strategi tuai atau divestasi. Berikut ini adalah alternatif strategi tuai atau divestasi :
1. Strategi Turnaround. PT Pustaka Kencana melakukan perbaikan efisiensi
operasional dengan cara mengurangi biaya-biaya perusahaan, contohnya berupa pengurangan karyawan dan pengeluaran untuk hal-hal yang dianggap kurang perlu
I II III IV V VI VII VIII Pustaka Kencana IX
4,0
3,0
2,0
1,0
3,0 2,0 1,0
Tumbuh dan
kembangkan
Jaga dan
pertahankan
Tuai atau
divestasikan
Tinggi 3,0-4,0 Menengah 2,0-2,99 Rendah 1,0-1,99serta melakukan konsolidasi, yaitu pengembangan program-program untuk menstabilkan perusahaan yang sudah mengalami perampingan tersebut.
2. Strategi Captive Company. PT Pustaka Kencana mengurangi aktivitas yang
dianggap kurang menarik, kemudian diusahakan agar fungsi-fungsi lain menjadi lebih menarik sehingga diharapkan ada calon investor yang mau menginvestasikan modalnya di perusahaan ini.
3. Strategi Sell Out/Divestment. PT Pustaka Kencana terpaksa harus dijual
4. Strategi Bankruptcy. PT Pustaka Kencana mengajukan Stategi Bankcruptcy
(pailit) sehingga membantu perusahaan menghindar dari tanggung jawab atas utang-utang dan juga dapat menyatakan tidak berlakunya kontrak-kontrak kerja yang telah disetujui.
5. Strategi Liquidation. PT Pustaka Kencana terpaksa dilikuidasi karena sudah tidak
memiliki prospek lagi.
4
.
8.3 Matriks SPACE Tabel 4.22 Matriks SPACESkor
Financial Strength
Sering mengalami kerugian 2
Minim modal 1
Rasio Utang rendah 4
Industrial Strength
Potensi pertumbuhan 4
Perkembangan teknologi internet mendukung relasi dengan toko
buku 3
Potensi Laba 3
Penguasaan teknologi 4