4 BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. SNEDDS
Self-nanoemulsifying Drug Delivery Systems atau SNEDDS dapat
didefinisikan sebagai campuran isotropik dari minyak, surfaktan, kosurfaktan, dan zat aktif obat yang akan membentuk emulsi minyak dalam air dengan agitasi ringan. Ukuran partikel SNEDDS adalah ≤ 200 nm yang secara spontan akan membentuk nanoemulsi ketika setelah terjadi kontak dengan cairan dalam saluran gastrointestinal atau saluran cerna tanpa merusak profil dari obat(5)(6)(7). Berdasarkan penelitian sebelumnya SNEDDS secara signifikan dapat menurunkan energi aktifasi dan meningkatkan stabilitas dari sediaan sehingga waktu hidupnya lebih lama. Didalam tubuh SNEDDS juga mudah terdispersi dan dapat mencapai membran mukosa yang lebih luas dibanding sediaan konvensional, sehingga mampu meningkatkan efektitas terapi dari sediaan obat (8).
SNEDDS stabil dan cocok sebagai pembawa obat-obat hidrofobik atau obat-obat yang memiliki kelarutan buruk dalam air(9)(10). SNEDDS sebagai sistem penghantaran obat mempunyai beberapa kelebihan yaitu sediaan yang jernih, stabilitas yang tinggi, dan mudah dalam preparasinya(11). Sediaan SNEDDS juga dapat menghindari masalah yang biasa terjadi pada emulsi seperti creaming, flokulasi dan sedimentasi(12).
Komponen utama dari SNEDDS adalah minyak yang berperan sebagai pembawa dan pelarut zat aktif obat dengan kelarutan rendah dalam air atau bersifat hidrofobik, surfaktan atau molekul amphipilik yang merupakan kombinasi antara bagian hidrofilik dan bagian hidrofobik dalam satu molukel, berperan sebagai emulsifier atau emulgator minyak dan air dengan membentuk dan menstabilkan lapisan antar muka, menurunkan energi aktifasi, serta kosurfaktan yang membantu surfaktan sebagai emulgator(13).
SNEDDS juga mampu meningkatkan permeabilitas membran, serta ukuran partikel yang kecil (20 - 200 nm) mampu meningkatkan luas permukaan sehingga mampu meningkatkan absorpsi dan pelepasan dari obat. SNEDDS
memiliki stabilitas yang tinggi, penurunan dosis dan frekuensi yang digunakan, sehingga sediaan SNEDDS lebih efektif dan efisien yang didukung dengan adanya peningkatan bioavabilitas. Sistem nanoemulsi dalam air lebih banyak dipilih karena volume yang digunakan cukup kecil dan lebih stabil sehingga meningkatkan kemungkinan untuk dimasukkan dalam kapsul gelatin(14). Berdasarkan basis yang digunakan, salah satunya yaitu surfaktan, sediaan SNEDDS lebih membutuhkan sedikit surfaktan dibandingkan dengan SMEDDS, sehingga mampu mengurangi efek samping yang ditimbulkan dari pemakaian surfaktan tersebut, yaitu iritasi lambung dan toksisitas(3). SNEDDS dibuat dengan memperhatikan berbagai hal, beberapa diantaranya adalah sifat fisika-kimia dari zat aktif, minyak, surfaktan dan ko-surfaktan, termasuk jumlah yang diperbolehkan untuk ditambahkan dalam sediaan SNEDDS, pH, serta suhu. Sediaan SNEDDS lebih stabil jika dibandingkan dengan SMEDDS
(Self-Microemulsifying Drug Delivery Systems)(12)(13). Berikut komponen utama pembentuk SNEDDS :
2.1.1.1. Minyak
Fase minyak mempunyai manfaat dalam menentukan spontanitas emulsifikasi, ukuran partikel nanoemulsi, serta kelarutan dari zat aktif obat. Minyak yang dipilih dalam formulasi SNEDDS haruslah yang mampu melarutkan zat aktif obat secara maksimal dengan hasil ukuran partikel yang kecil(13).
Minyak dengan trigliserida rantai menengah, monogliserida rantai menengah, ester asam lemah dengan jumlah rantai karbon antara 6 hingga 12, lebih mudah teremulsi dibanding minyak dengan rantai panjang hidrokarbon, atau trigliserida rantai panjang. seperti minyak nabati. Serta, minyak dengan rantai karbon 6 hingga 12 memiliki solvent capacity yang tinggi dan resisten atau tahan terhadap oksidasi(11). Sehingga dalam formulasi sediaan SNEDDS minyak dengan rantai trigliserida pendek dan menengah lebih banyak dipilih dan digunakan(14).
Minyak dengan trigliserida rantai panjang, yaitu dengan jumlah rantai karbon antara 13 hingga 21 mempunyai keunggulan dibanding
dengan trigliserida rantai menengah, yaitu mampu meningkatkan kemampuan transport obat melalui jalur limfatik sehingga mampu mengurangi first past effect. Tetapi, minyak dengan trigliserida rantai panjang sulit untuk teremulsifikasi dibandingkan dengan trigliserida rantai menengah atau medium(15). Penelitian kali ini digunakan 4 macam minyak, yaitu Capryol 90, Myristol 318, asam oleat, dan minyak zaitun.
2.1.1.2. Surfaktan
Surfaktan merupakan kombinasi antara bagian hidrofilik dan bagian hidrofobik dalam satu molukel yang memiliki nilai, ditunjukkan dengan istilah HLB (Hydrophile-lipophile balance). Surfaktan dalam formulasi sediaan SNEDDS berperan sebagai emulgator antara minyak dan air dengan membentuk dan menstabilkan lapisan antar muka serta menurunkan energi aktifasi. Jumlah surfaktan yang ditambahkan pada formulasi sediaan SNEDDS berpengaruh terhadap pembentukan ukuran partikel nano(13)(14)(15). Jenis surfaktan yang berasal dari alam lebih aman digunakan jika dibandingkan dengan surfaktan sintetis. Tetapi, surfaktan dari alam memiliki kekurangan dalam kemampuan emulsifikasi yang lebih rendah dan jarang digunakan dalam pembuatan sediaan SNEDDS(15).
Surfaktan yang dipilih untuk pembuatan sediaan SNEDDS adalah surfaktan nonionik dengan sifat yang lebih cenderung hidrofilik ditandai dengan nilai HLB antara 15-21(14). Surfaktan nonionik dipilih karena ketoksikan, efek samping yang rendah, kurang terpengaruh terhadap pH, serta aman. Struktur dari surfaktan yang mempengaruhi atau memiliki efek penetrasi minyak kedalam lapisan surfaktan untuk pembentukan ukuran partikel nano adalah gugus rantai alkil(31). Surfaktan yang digunakan dalm penelitian ini adalah Labrasol, Labrafil M1944CS, tween 20, tween 80, dan Cremophor RH 40.
2.1.1.3. Ko-surfaktan
Ko-surfaktan merupakan senyawa ampifilik yang memiliki afinitas terhadap air dan minyak. Ko-surfaktan dalam formulasi sediaan SNEDDS berperan membantu surfaktan sebagai emulgator. Selain itu, ko-surfaktan
berpengaruh terhadap peningkatan drug loading, emulsification time, serta membantu surfaktan untuk mengatur ukuran partikel nano(16). Ko-surfaktan yang digunakan pada penelitian ini adalah PEG 400 dan propilen glikol.
2.1.2. Ibuprofen
Asam 2-(p-Isobutilfenil) asam propionat merupakan nama lain dari ibuprofen, dengan rumus molekul C13H18O2 dan berat molekul 206,28 gram/mol. Ibuprofen mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 103,0% C13H18O2, dihitung terhadap zat anhidrat(9). Pemerian dari ibuprofen berbentuk serbuk hablur, putih hingga hampir putih, berbau khas lemah. Kelarutan, sangat mudah larut dalam etanol, metanol, aseton, dan kloroform. Sukar larut dalam etil asetat, serta praktis tidak larut dalam air. Titik lebur 75,0 ºC – 77,5 ºC (15). Berikut struktur kimia dari ibuprofen(17)(18).
Gambar 2.1. Struktur Ibuprofen
Panjang gelombang maksimum ibuprofen dalam larutan NaOH 0,1 N adalah pada 265 nm dan 273 nm(18). Ibuprofen merupakan obat golongan NSAID (Non Steroid Anti Inflammation Drugs) turunan asam aril asetat yang mempunyai aktivitas antiinflamasi dan analgesik yang tinggi, terutama digunakan dalam pengobatan lini pertama arthritis dan reumatik sebagai anti nyeri. Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan ibuprofen ini adalah iritasi hingga ulcerasi atau peradangan di saluran cerna(17)(18). Ibuprofen diabsorpsi cepat dalam saluran cerna, kadar serum tertinggi dicapai 1-2 jam setelah pemberian oral, dengan waktu paruh 1,8-2 jam. Dosis terapi ibuprofen 400 mg dengan frekuensi 3-4 kali sehari(18).
Ibuprofen bekerja dengan menghambat secara langsung dan selektif enzim siklooksigenase pada system saraf pusat yang mengkatalis biosintesis
prostaglandin sehingga mencegah sensitasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator inflamasi seperti bradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion hidrogen dan kalium yang dapat merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi(20). Mekanisme kerja ibuprofen melalui penghambatan sintesis prostaglandin dan menghambat siklooksigenase-I (COX I) serta siklooksigenase-II (COX II)(20).
2.1.3. Capryol 90
Capryol 90 atau propilen glikol monocaprylat, dengan rumus molekul C11H22O3 dan berat molekul 202,29. Capryol 90 merupakan larutan tidak berwarna dan kental, tidak larut air, yang digunakan secara luas untuk formulasi SEDDS, SMEDDS, dan SNEDDS. Bentuk dari capryol 90 adalah cair dengan nilai HLB 5(19).
Gambar 2.2. Struktur Capryol 90
Propilen glikol monocaprylat diaplikasikan dalam berbagai bidang termasuk sebagai pelarut di industri, plastic, detergen, surfaktan, dan bakterisida. Menurut USP (United State Pharmacope), Capryol 90 bisa digunakan dalam makanan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, Capryol 90 memiliki kemampuan yang baik dalam melarutkan berbagai zat aktif obat yang akan dibuat dalam sediaan SNEDDS, salah satunya adalah kemampuannya dalam melarutkan ropinirol dengan nilai kelarutan hingga 183,12 mg/mL dibandingkan dengan Sefsol-218, isopropyl miristat, triasetin, minyak wijen, dan minyak zaitun(26). Capryol 90 dilihat dari strukturnya, memiliki struktur dengan trigliserida rantai menengah, sehingga mudah teremulsi dan mampu melarutkan zat aktif obat yang memiliki kelarutan rendah dalam volume kecil(29).
2.1.4. Mirystol 318
Mirystol 318 merupakan trigliserida asam lemak jenuh dengan rantai karbon C8-C10, berbentuk cair kekuningan dan tidak berbau. Bersifat polar dengan viskositas pada suhu 20°C adalah 27-33 mPas. Nilai densitasnya adalah 0,945-0,949 gram/cm3(20). Nama lain dari myristol 318 adalah caprylic atau capric trigliserida. Myristol 318 digunakan secara luas sebagai minyak dasar pada sediaan kosmetik modern. Penyimpanannya, paling kurang satu tahun dengan menjaga mirystol 318 dari kelembapan dibawah 30 °C(21).
Gambar 2.3. Struktur Mirystol 318
2.1.5. Asam Oleat
Asam oleat merupakan asam lemak bebas dengan pemerian warna kekuningan hingga coklat pucat, berbentuk cairan berminyak dengan bau dan rasa khas seperti lemak babi dengan rumus kimia CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH. Kelarutan asam oleat, larut dalam benzena, kloroform, ethanol 95%, eter, heksana,
volatile oil, serta praktis tidak larut dalam air. Asam oleat dapat teroksidasi
menjadi warna gelap dan bau yang lebih jelas. Terdapat beberapa nama lain dari asam oleat yaitu, Cis-9-Octadecenoic acid, Cis-Oleic acid, Elaidoic acid. Berat molekul dari asam oleat adalah 282,46 gram/mol(28).
O
OH
Asam oleat merupakan asam lemah tidak jenuh rantai panjang dalam bentuk trigliserida. Asam oleat banyak terdapat dalam berbagai lemak nabati dan lemak hewani yang digunakan dalam berbagai bidang industri oleokimia(19). Asam oleat banyak terdapat dalam minyak zaitun. Asam ini tersusun dari 18 atom C dengan satu ikatan rangkap di antara atom C ke-9 dan ke-10. Selain dalam minyak zaitun, asam lemak ini juga terdapat dalam minyak bunga matahari, minyak raps, serta minyak biji anggur. Di Indonesia, asam oleat dapat diperoleh dari kelapa sawit. Jumlah asam oleat dalam minyak kelapa sawit sekitar 39% - 45% dengan titik didih 285°C, titik lebur 14°C(19). Asam oleat memiliki sifat yang mudah terbakar, serta menggangu kesehatan jika tertelan dalam jumlah yang besar(18).
2.1.6. Minyak Zaitun
Minyak zaitun merupakan campuran asam lemak dan gliserida yang diperoleh dari buah masak Olea europaea Linne (Familia Oleaceae). Pemerian dari minyak zaitun ini, minyak kuning pucat atau kuning kehijauan terang dengan bau dan rasa khas lemah, serta agak pedas. Kelarutannya, sukar larut dalam ethanol, bercampur dengan eter, kloroform, dan karbon disulfida. Bobot jenis antara 0,910 sampai 0,915 gram/mL(19).
Minyak zaitun digunakan secara luas sebagai pelembab dan pembawa berbagai bentuk sediaan, seperti krim, salep, dan gel. Salah satu kandungan dalam minyak zaitun adalah antioksidan, sehingga banyak digunakan sebagai kosmetik untuk melembabkan dan mencegah penuaan dini akibat radikal bebas(20). Berikut adalah struktur dari minyak zaitun(19).
2.1.7. Labrasol
Caprylocaproyl macrogolgliserida, caprylocaproyl polyoxylgliserida, PEG-8 caprylic merupakan nama lain dari labrasol. Labrasol adalah satu jenis surfaktan nonionik, terdiri dari polietilen glikol (PEG), sedikit fraksi dari gliserida dan PEG bebas. Berbentuk cair dengan nilai HLB 12(18).
Gambar 2.6. Struktur Labrasol
2.1.8. Labrafil M1944CS
Labrafil M1944CS merupakan surfaktan yang terdispersi di air, terdiri dari ester PEG dan fraksi gliserida. Apabila terjadi kontak dengan media air akan membentuk dispersi kasar seperti Self Emulsifying Drug Delivery Systems (SEDDS). Labrafil M1944CS juga digunakan secara luas sebagai surfaktan dalam formulasi sediaan SMEDDS. Kemampuannya sebagai surfaktan mampu meningkatkan kelarutan dari zat aktif obat baik secara in vitro maupun in vivo(22).
Gambar 2.7. Struktur Labrafil M1944CS
2.1.9. Tween 20
Tween 20 adalah turunan dari Sorbitan mono-9-octadecanoate poly(oxy-1,2-ethanediyl) yang merupakan kompleks campuran dari polioxiethilen ether yang biasa digunakan secara luas sebagai emulsifier atau agen pengemulsi atau
agen pendispersi pada suatu sediaan farmasi(22). Nama lain dari tween 20 adalah polysorbate 20, polyoxyethylene sorbitan. Tween 20 memiliki berat molekul 522.6692 gram/mol dengan rumus kimia C26H50O10(18).
Gambar 2.8. Struktur Tween 20
Berdasarkan penelitian sebelumnya, tween 20 memiliki kemampuan untuk melarutkan zat aktif obat yang memiliki kelarutan rendah dengan sangat baik, seperti ropinirol dengan kelarutan mencapai 184 mg/mL(28). Tween 20 juga merupakan surfaktan yang aman untuk digunakan dalam formulasi SNEDDS, hal ini didukung dengan nilai HLB yang dimiliki yaitu 16,7 yang cenderung hidrofilik dan bersifat nonionik dengan efek samping yang rendah(3).
2.1.10. Tween 80
Tween 80 adalah ester asam lemak polioksietilen sorbitan, dengan nama kimia polioksietilen 20 sorbitan monooleat. Rumus molekulnya adalah C64H124O26 dan rumus strukturnya adalah sebagai berikut(17).
Pada suhu 25ºC, Tween 80 berwujud cair, berwarna kekuningan dan berminyak, memiliki aroma yang khas, dan berasa pahit. Larut dalam air dan etanol, tidak larut dalam minyak mineral. Kegunaan Tween 80 antara lain sebagai zat pembasah, emulgator, dan peningkat kelarutan(18). Polysorbate 80 yang sering dikenal dengan nama tween 80 merupakan agen pengemulsi, surfaktan, pembasah, maupun solubilizing agent yang dapat digunakan dalam pembuatan sediaan oral. Bobot molekul dari tween 80 adalah 1310 gram/mol dengan pH 6,0-8,0. Tween 80 memiliki karakteristik berupa cairan kental berwarna kuning pada suhu 25oC, bau khas dan hangat, rasa agak pahit. Larut dalam etanol dan air, tidak larut dalam minyak mineral dan minyak nabati. Polisorbat (tween) stabil dalam elektrolit, asam dan basa lemah, membentuk reaksi penyabunan dengan asam dan basa kuat. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya , di tempat yang sejuk dan kering(15).
Berdasarkan penelitian sebelumnya, tween 80 dipilih sebagai surfaktan dalam pembuatan formulasi SNEDDS ibuprofen yang dikombinasikan dengan span 20 mampu menghasilkan ukuran partikel hingga 58 nm(6). Tween 80 bersifat hidrofilik dengan nilai HLB 15,0 dan sediaan SNEDDS yang dihasilkan memiliki nilai %transmittan diatas 90%(3).
2.1.11. Cremophor RH 40
Cremophor RH 40 atau macrogol glycerolhydroxystearat atau polyoxyl 40 hydrogenated castor oil merupakan surfaktan nonionic dan agen emulsifier yang dihasilkan dari 1 mol hydrogenated castor oil dengan 40 mol etilen oxide. Komposisi utama dari cremophor 40 adalah gliserol polietilen hidroksistearat, dimana akan membentuk produk hidrofobik yang terdiri dari polietilen glikol dan gliserol ethoksilat. Pemerian dari cremophor RH 40 berbentuk pasta dengan warna putih hingga kekuningan pada suhu 20°C. nilai HLB antara 14 dan 16 yang menunjukkan sifat cenderung hidrofilik(4). Bau lemah dan pada bentuk cairan hampir tidak berasa(18).
Kelarutan dari cremophor RH 40, larut dalam air, ethanol-e-propanol, n-propanol, etil asetat, kloroform, karbon tetraklorida, toluene dan xilen. Tetapi
akan menjadi berawan ketika temperature meningkat. Cremophor RH 40 dapat dicampur dengan semua jenis cremophor. Pada suhu yang tinggi akan membentuk campuran cairan jernih dengan asam lemak dan lemak alkohol(19).
Cremophor RH 40 murni merupakan senyawa yang sangat stabil. Terpapar suhu tinggi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan pemisahan fase cair dan padat, tetapi dengan proses pendinginan, cremophor dapat kembali kebentuk semula. Cremophor RH 40 dapat disterilkan denngan pemanasan sampai 120 °C.Penyimpanan dari Cremophor RH 40 ditutup rapat. Pada pengambilan bahan berulang akan meningkatkan resiko pertumbuhan dari mikroorganisme, terutama apabila peralatan yang digunakan tidak steril(25).
2.1.12. Polietilen Glikol 400
PEG 400 atau polietilen glikol 400 memiliki nama lain makrogol 400, merupakan polimer dari etilen oksida dan air. Memiliki berat molekul antara 380 sampai 420 gram/mol. Rumus molekul dari PEG 400 adalah H(O-CH2CH2)nOH, dengan harga rata-rata n antara 8,2-9,1(20)(21). Pemeriannya, cairan kental jernih, tidak berwarna atau praktis tidak berwarna, bau khas lemah, serta agak higroskopis. Kelarutan, larut dalam air, ethanol, dan aseton(18).
Gambar 2.10. Struktur PEG 400
Berdasarkan penelitian sebelumnya, PEG 400 digunakan sebagai ko-surfaktan dalam pembuatan SNEDDS kurkumin dengan ukuran partikel yang dihasilkan adalah 43,82 nm dan polidispers indeks atau kehomogennya yang baik yaitu 0,389 Ð(31)
2.1.13. Propilen Glikol
Propilen glikol atau propilen glikol atau 1,2-Propanadiol mengandung tidak kurang dari 99,5% C3H8O2 dengan berat molekul 76,09 gram/mol(18).
Pemerian, cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara yang lembab. Kelarutan, dapat bercampur dengan air, aseton, dan dengan kloroform. Larut dalam eter, dan dalam beberapa minyak esensial, tidak dapat bercampur dengan minyak lemak. Bobot jenis dari propilen glikol adalah antara 1,035 sampai 1,037 gram/mL(22)(23).
Pada suhu dingin propilen glikol stabil dalam wadah yang tertutup baik, sedangkan pada suhu yang tinggi akan teroksidasi menjadi senyawa lain. Propilen glikol stabil jika dicampur dengan etanol 95%, gliserin, atau air. Propilen glikol bersifat higroskopis dan harus disimpan pada wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, ditempat yang sejuk dan kering. Propilen glikol tidak boleh dicampur (incompatible) dengan agen pengoksidasi seperti potassium permanganate(18).
OH
HO
Gambar 2.11. Struktur Propilen Glikol
2.1.14. Transmittan
Transmittan didefinisikan sebagai intensitas cahaya setelah melewati sampel, dengan satuan persen (%). Nilai transmittan dapat juga diamati secara fisik. Semakin jernih sediaan, semakin tinggi nilai transmittan (80%-100%). Nilai transmittan pada sediaan formula SNEDDS mengindikasikan bahwa sediaan SNEDDS tersebut terdispersi sempurna dengan ukuran nano (<200 nm), jernih dan transparan(32). Transmitan (T) yang dirumuskan dalam hukum Lambert-beer berikut(32):
T=
Ket :
I : Intensitas cahaya setelah melewati sampel Io : Intensitas cahaya awal
Berikut persamaan hubungan antara absorbansi dan transmittan(33): A = -log T = -log ( )
Transmitan merupakan salah satu parameter kualitas untuk mengkarakterisasi sediaan SNEDDS. Hal ini meningkatkan luas permukaan area sehingga pelepasan dan absorbsi obat di saluran gastrointestinal berlangsung lebih cepat. Analisa hasil nilai transmittan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Spektrofotometer merupakan alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, sebagai fungsi panjang gelombang(31)(32)(33).
Metode spektroforometri UV-Vis adalah pengukuran intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk mempromosikan elektron pada kulit. terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektroforometri UV-Vis biasanya digunakan untuk molekul organik di dalam larutan. Spektrum UV-Vis mempunyai daerah yang lebar dan hanya sedikit informasi tentang struktur yang bisa didapatkan dari spektrum ini. Tetapi spektrum ini sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan hukum LambertBeer. Sinar ultraviolet berada pada panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan visible berada pada panjang gelombang 400-800 nm(26).
2.1.15. Ukuran Partikel
SNEDDS merupakan sediaan campuran isotropik minyak, surfaktan, ko-surfaktan, serta air yang stabil dan jernih. Hal tersebut tidak terlepas dari ukuran partikel pada SNEDDS dibawah 200 nm. Sehingga, SNEDDS mampu menjadi
sistem penghantaran obat yang mempunyai kejernihan dan kestabilan yang tinggi(3).
Ukuran partikel pada SNEDDS yang sangat kecil membuat sediaan yang dihasilkan jernih dan transparan. Selain itu, ukuran partikel dibawah 200 nm mengakibatkan gerak brown yang dimiliki SNEDDS mampu mencegah dari sedimentasi atau creaming yang menjadi masalah umum pada sediaan emulsi, sehingga sediaan SNEDDS mempunyai stabilitas yang tinggi. Pengukuran ukuran partikel SNEDDS dilakukan dengan pembacaan pada PSA (Particle Size
Analizer)(26).
2.1.16. Polidispers Indeks (PI)
Polidispers indeks merupakan suatu nilai yang menunjukkan tingkat homogenitas dari sediaan SNEDDS. Nilai polydisperse indeks atau homogenitas dibawah 0,7 mengindikasikan sediaan SNEDDS yang bersifat homogen. Analisis hasil polidispers indeks dilakukan dengan membaca sediaan formula SNEDDS pada PSA (Particle Size Analyzer). Formula SNEDDS yang terdiri dari minyak, surfaktan, dan ko-surfaktan di ultrasonifikasi yang kemudian ditambahkan kedalam aquabideslata dan dibaca nilai polidispers indeks dengan PSA(26).
2.1.17. Zeta Potensial
Zeta potensial yang tinggi akan lebih stabil karena zeta potensial tersebut akan melawan terjadinya agregasi suatu sediaan. Secara umum, nilai zeta potensial ≥ 30 mV menggambarkan sediaan yang cukup stabil(11)
. Nilai negatif pada zeta potensial menggambarkan adanya asam lemak bebas pada sediaan tersebut. Nilai negatif pada zeta potensial juga mengindikasikan bahwa sediaan tersebut bermuatan negatif sehingga terjadi penolakan yang cukup besar antar tetesan untuk bergabung. Hal ini yang menyebabkan sistem emulsi tersebut menjadi stabil(12). Pembacaan nilai zeta potensial dilakukan dengan menggunakan PSA (Particle Size Analyzer)(26).
2.2.Landasan Teori
Ibuprofen merupakan obat golongan NSAID (Non-Steoidal
Antiinflamation Drugs) yang sering digunakan masyarakat luas sebagai antipiretik
dana analgesik dengan efek samping yang ringan dibanding dengan obat golongan NSAID yang lain. Menurut penelitian Kang dan Jung, ibuprofen memiliki kelarutan yang rendah dengan klasifikasi BCS kelas 2, sehingga diperlukan metode khusus untuk meningkatkan kelarutannya. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah SNEDDS (Self-nanoemulsifying drug delivery systems) yang
merupakan campuran isotropik dari minyak, surfaktan, kosurfaktan, dan zat aktif obat yang akan membentuk emulsi minyak dalam air dengan agitasi ringan. Ukuran partikel SNEDDS adalah antara 20-200 nm.
Berdasarkan penelitian sebelumnya mampu SNEDDS mampu meningkatkan bioavabilitas obat oral. Skrining dan optimasi komponen pembentuk SNEDDs perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, baik dalam formulasi, serangkaian uji SNEDDs serta uji stabilitas. Komponen utama SNEDDS yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak (Capryol 90, Myristol 318, asam oleat, dan minyak zaitun), Surfaktan (Labrasol, Labrafil M1944CS, tween 20, tween 80, Cremophor RH 40), dan ko-surfaktan (PEG 400 dan propilen glikol). Skrining dan optimasi dilakukan dengan melihat kelarutan, perbandingan Smix dari surfaktan dan kosurfaktan nilai %transmittan, ukuran partikel, polidispers indeks (PI), nilai zeta potensial, serta daerah persebaran nanoemulsi yang tergambarkan pada diagram fase terner. Analisis %transmittan dilakukan dengan spektrofotometer UV, ukuran partikel, PI dan zeta potensial dari sediaan yang dihasilkan ditentukan dengan menggunakan PSA (particle size
analyzer). Oleh karena itu, perlu dilakukannya skrining dan optimasi awal dalam
pembuatan formulasi sediaan SNEDDS ibuprofen untuk mendapatkan hasil yang stabil dan terbaik.
2.3. Hipotesis
Skrining dan optimasi yang dilakukan pada komponen utama SNEDDS yaitu minyak, surfaktan, dan kosurfaktan mampu menghasilkan formulasi sediaan SNEDDS yang optimal dan stabil dilihat nilai %transmittan, ukuran partikel, polidispers indeks (PI), nilai zeta potensial, serta daerah persebaran nanoemulsi yang tergambarkan pada diagram fase terner.