• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III. METODE PENELITIAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

3.1 Kerangka Pemikiran

Issu krusial dalam pengelolaan kawasan konservasi, yaitu: merancang kebijakan yang bermanfaat untuk pengelolaan kawasan tersebut dan masyarakat di sekitarnya (Dixon & Sherman 1990). Sebagai salah satu kawasan konservasi yang menyimpan informasi dan gudang pengetahuan, taman nasional harus diungkap kegunaannya dalam rangka pemanfaatan potensinya secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat (Basuni 2009). Pemanfaatan tersebut dapat dilakukan dengan tidak merusak bentang alam dan mengubah fungsi KSA dan KPA dalam bentuk kegiatan pemanfaatan kondisi lingkungan serta pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar ( PP 28/2011 pasal 32 ayat 2 dan 3).

Upaya pemanfaatan tersebut dapat berupa pengembangan produk hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan hutan. Produk dan jasa tersebut diharapkan menjadi unggulan sektor kehutanan di masa depan serta akan semakin diperdagangkan dan diinternalisasikan dalam mekanisme pasar baik ditingkat lokal, nasional, regional maupun global (Kemenhut 2011). Salah satu pendekatan tersebut, yaitu skema pembayaran jasa lingkungan (payments for environmental services) dalam rangka perlindungan dan pengawetan biodiversitas, penyerapan karbon, jasa hidrologi, dan preservasi keindahan alam sebagai daya tarik ekowisata (Ghazoul & sheil 2010). Produk dan jasa tersebut merupakan sumber pendapatan yang dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan taman nasional dan pemberian insentif bagi masyarakat di sekitarnya (Dixon & Sherman 1990).

Perlindungan kawasan konservasi yang efektif memerlukan manajemen, sedangkan manajemen memerlukan dana, dan keperluan ini seringkali menjadi kendala yang serius dalam perlindungan kawasan (Dixon & Sherman 1990). Konservasi adalah bisnis dimana biodiversitas merupakan sebuah komoditi yang dapat dibeli dan dijual (Nicholls 2004). Untuk mempertahankan keberadaan biodiversitas dalam jangka panjang, pendekatan bisnis dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan untuk menentukan dan menilai keberhasilan kegiatan pengelolaan (Possingham 2001). Pendekatan bisnis juga diharapkan mendorong

(2)

pengelola kawasan dilindungi untuk melakukan pengelolaan sebagai sebuah bisnis yang mempertimbangkan tiga elemennya, yaitu: produk, pelanggan, dan pemasaran (IUCN 2000). Salah satu pendekatan yang dapat membantu suatu organisasi dalam merumuskan pengelolaan tiga elemen bisnis tersebut ialah model bisnis (Osterwalder 2004). Elemen utama model bisnis, yaitu: 1) inovasi produk, terdiri dari proposisi nilai perusahaan yang diberikan kepada pelanggan, 2) hubungan pelanggan, terdiri dari menentukan kelompok pelanggan, saluran, dan strategi hubungan; 3) infrastruktur, merupakan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan internal dan jaringan kemitraan yang diperlukan untuk menghasilkan proposisi nilai; dan 4) aspek keuangan, yaitu aspek yang menentukan profitabilitas organisasi terdiri atas aliran pendapatan dan struktur biaya (Osterwalder & Pigneur 2002).

Hasil analisis dan desain model bisnis diharapkan dapat menghasilkan rancangan model bisnis yang sesuai dengan pengertian taman nasional mandiri, yaitu taman nasional efektif yang dapat menjamin fungsi ekologis dan sosial taman nasional serta diperkuat dengan investasi pemerintah dan swasta untuk pemanfaatan jasa lingkungan, penangkaran/budidaya satwa dan tumbuhan liar yang dari usahanya diperoleh pendapatan paling tidak 80 persen untuk membiayai pengelolaan taman nasional yang bersangkutan (Gelgel et al. 2011). Selain itu, rancangan model bisnis juga dapat menjadi bahan masukan dalam merencanakan sistem pengusahaan potensi dan pengelolaan taman nasional mandiri.

Sistem pengusahaan, pola pengelolaan, dan organisasi yang sesuai dengan model bisnis yang dirancang diharapkan dapat menjadi alternatif solusi atas permasalahan manajemen kawasan konservasi. Pengelolaan kawasan hutan konservasi diharapkan dapat berkontribusi terhadap GNP atau PAD, serta memberikan manfaat kepada masyarakat dan sektor lainnya. Selain itu, kebutuhan manajemen kawasan hutan konservasi terhadap anggaran dari pemerintah serta dukungan dari masyarakat dan sektor lainnya akan terpenuhi. Hal ini diharapkan dapat memperkuat upaya perlindungan dan pengawetan di kawasan hutan konservasi. Kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 4.

(3)

Gambar 4 Kerangka pemikiran penelitian dikembangkan dari Basuni (2009). Keterangan: A-Anggaran; K-Kontribusi, D-Dukungan, M/B-Manfaat/Biaya

3.2 Definisi Operasional

3.2.1 Model Bisnis adalah pendekatan rasional tentang bagaimana proses organisasi berupaya menciptakan (create), menyampaikan (deliver) dan mengambil atau menangkap (capture) sesuatu yang bernilai (value) ekonomis maupun manfaat komersial lainnya;

(4)

3.2.2 Taman Nasional Mandiri adalah taman nasional efektif yang dapat menjamin fungsi ekologis dan sosial taman nasional serta diperkuat dengan investasi pemerintah dan swasta untuk pemanfaatan jasa lingkungan (wisata alam, air, karbon) penangkaran/budidaya satwa dan tumbuhan liar yang dari usahanya diperoleh pendapatan paling tidak 80 persen untuk membiayai pengelolaan taman nasional yang bersangkutan; 3.2.3 Pengelolaan taman nasional adalah upaya sistematis yang dilakukan untuk

mengelola kawasan melalui kegiatan perencanaan, perlindungan, pengawetan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian.

3.2.4 Pemanfaatan kondisi lingkungan adalah pemanfaatan potensi ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis, dan peninggalan budaya yang berada dalam KPA dan KSA;

3.2.5 KPH adalah wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya yang dapat dikelola secara efisien dan lestari;

3.2.6 KPHK adalah KPH yang luas wilayahnya seluruh atau sebagian besar terdiri dari kawasan hutan konservasi;

3.2.7 Badan Layanan Umum adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik- praktik bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

3.3 Lokasi dan Waktu

Penelitian dilaksanakan di Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara (KKU), Kalimantan Barat. Kegiatan penelitian direncanakan akan berlangsung selama ± 7 bulan, studi lapangan untuk pengumpulan data dan informasi (3 bulan), analisis data dan penulisan tugas akhir (4 bulan). Gambaran lebih lengkap tentang lokasi penelitian disajikan pada Gambar 5.

(5)

Gambar 5 Lokasi Taman Nasional Gunung Palung.

3.4 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan untuk penelitian ini, yaitu: panduan wawancara, sedangkan alat yang digunakan, yaitu: kamera digital, perekam suara, alat tulis, dan perangkat lunak untuk pengolahan data, yaitu: Open Office.org

3.5 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang difokuskan pada pengembangan taman nasional mandiri melalui pendekatan model bisnis meliputi perancangan model bisnis, perencanaan sistem pengusahaan, dan pola pengelolaan taman nasional mandiri. Tahapan dalam kegiatan penelitian ini meliputi: 1) pengumpulan data dan informasi melalui studi literatur; 2) brainstorming dengan pengelola TNGP dalam rangka prototyping model pengelolaan dan model bisnis; 3) wawancara mendalam dengan narasumber yang terlibat dalam kegiatan

(6)

pengelolaan dan pemanfaatan TNGP untuk mendapatkan tanggapan terhadap rancangan model bisnis; 4) wawancara pakar di bidang pengelolaan taman nasional untuk menguji dan meminta tanggapan terhadap rancangan model bisnis; dan 5) pemilihan model dan perumusan pola pengelolaan taman nasional mandiri. Bagan alur kegiatan penelitian lebih selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 6.

(7)

3.6 Data dan Informasi

Data pokok yang dikumpulkan meliputi data yang terkait dengan pengelolaan taman nasional, yaitu: administrasi kawasan, organisasi, keuangan, kegiatan, sumberdaya manusia, dan kondisi pemanfaatan jasa lingkungan di TNGP. Selain itu, dikumpulkan juga informasi terkait aspek kebijakan dan peraturan perudangan di bidang pengelolaan kawasan konservasi, khususnya taman nasional. Sedangkan data penunjang yang dikumpulkan, antara lain kondisi biologi, fisik, organisasi pengelola, dan sosial ekonomi masyarakat. Data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian

No Data dan Informasi Sumber Data Teknik

1 Model Pengelolaan TN Mandiri - kondisi dan administrasi kawasan - kebijakan dan organisasi

- sumber anggaran dan pendapatan - struktur biaya pengeloaan

- jumlah wisatawan dan peneliti - kondisi pemanfaatan jasling

- dokumen BTNGP - peraturan perundangan - narasumber - kajian dokumen - wawancara narasumber - observasi

2 Model Bisnis TN Mandiri - segmen pelanggan

- proposisi nilai produk dan jasa - saluran komunikasi dan distribusi - hubungan pelanggan - rencana pendapatan - sumberdaya kunci - kegiatan kunci - kemitraan kunci - struktur biaya - narasumber - dokumen BTNGP - Koperasi Nasalis - Konsorsium SRCP - kajian dokumen - wawancara narasumber

3 Road Map TN Mandiri - regulasi dan strategi

- proyeksi bisnis dan keuangan

- peraturan perundangan - narasumber

- kajian dokumen - wawancara

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Data primer dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD), wawancara informan (narasumber), wawancara terhadap pakar, dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur serta studi data-data hasil-hasil penelitian dan dokumentasi instansi terkait.

(8)

3.7.1 Kajian Dokumen

Kajian dokumen dilaksanakan dengan mempelajari berbagai tulisan, gambar atau karya monumental yang terkait dengan topik penelitian (Sugiyono 2011). Kajian ini dilakukan untuk memperoleh data dan informasi terkait peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan kawasan konservasi, model bisnis, BLU, KPHK, dan pemasaran biodiversitas. Selain itu dikumpulkan juga data dan informasi pengelolaan TNGP, terkait kegiatan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan wisata alam, air, penelitian, dan potensi penyerapan karbon.

3.7.2 Observasi

Teknik pengumpulan data primer dengan cara mengamati terhadap suatu obyek dan berbagai peristiwa sebagai suatu alat untuk memperoleh informasi (Wahdi 2011; Rangkuti 2011). Observasi dilakukan di beberapa lokasi dalam kawasan TNGP yang merupakan obyek penelitian, yaitu: obyek wisata alam, stasiun riset penelitian, dan lokasi pemanfaatan air. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung dan mendokumentasikannya dengan kamera. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara nyata tentang obyek penelitian dan digunakan sebagai bahan untuk mendapatkan tanggapan dari responden. 3.7.3 Focus Group Discussion (FGD)

Pelaksanaan FGD dilakukan dalam rangka brainstorming untuk merumuskan gagasan model pengelolaan dan model bisnis TNGP sebagai taman nasional mandiri yang dituangkan dalam bentuk rancangan kanvas model bisnis. Peserta FGD merupakan perwakilan dari berbagai kelompok jabatan di BTNGP, latar belakang dan jumlah peserta FGD dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3 Latar belakang dan jumlah peserta FGD

No Latar Belakang Jumlah Keterangan

1 Kepala Resort 1 Pejabat Fungsional Polhut di Resort Sempurna

2 Pengendali Ekosistem Hutan

(PEH) 3 PEH Pelaksana Lanjutan

3 Polisi Kehutanan (Polhut) 4 Polhut Pelaksana dan Pelaksana Lanjutan

4 Penyuluh Kehutanan 1 Penyuluh Pertama

5 Non-Struktural 2 Penerbit SPM, Verifikator Keuangan

(9)

3.7.4 Wawancara Narasumber

Narasumber (informan) dalam penelitian ini ialah individu atau organisasi yang diidentifikasi terlibat dalam pengelolaan TNGP, baik sebagai pemanfaat, pengguna, pembeli, atau calon pelanggan pada setiap produk dan jasa yang menjadi obyek penelitian. Penentuan narasumber menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang cocok digunakan dalam penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono (2011) sampel dalam penelitian kualitatif ialah narasumber yang dianggap mengetahui dan memiliki informasi tentang fokus penelitian yang diharapkan.

Wawancara dilakukan secara mendalam (indepth interview) dengan materi wawancara difokuskan untuk menggali pandangan narasumber terhadap pengelolaan TNGP, khususnya pemanfaatan jasa lingkungan, yaitu: wisata alam, penelitian, pemanfaatan air, dan penyerapan karbon. Pertanyaan yang diajukan berdasarkan panduan wawancara yang redaksinya bersifat luwes sesuai kebutuhan. Wawancara tersebut bertujuan memperoleh tanggapan terhadap rancangan model bisnis dan pola pengelolaannya. Narasumber dalam penelitian yang terdiri dari berbagai latar belakang dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Latar belakang dan jumlah narasumber

No Latar Belakang Jumlah

(orang) Keterangan

1 Pejabat Struktural BTNGP 1 Kepala Balai

2 Kepala Desa 2 Pampangharapan,Gunungsembilan

3 Bappeda Kabupaten Kayong Utara

(KKU)

1 Kepala Badan

4 Dinas Kehutanan dan Perkebunan KKU 1 Sekretaris Dinas

5 Bagian Ekonomi dan Pembangunan KKU

1 Kepala Seksi

6 Bappeda Ketapang 1 Staf

7 Dinas Kehutanan Ketapang 1 Kepala Bidang Perlindungan Hutan

8 Forum Tirta Palung Lestari (FORTIPARI) 1 Ketua Forum

9 Lembaga Swadaya Masyarakat 2 Direktur Yayasan Palung dan ASRI

10 Koperasi Nasalis 1 Manajer Tour dan Travel

11 Pengelola Stasiun Riset Cabang Panti 1 Manajer Stasiun Riset

12 Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan 3 Pemilik

13 Masyarakat 3 Ketua Kelompok Tani

(10)

3.7.5 Wawancara Pakar

Wawancara pakar dilakukan secara semi-terstruktur dan tidak terstruktur dalam rangka mendapatkan tanggapan serta menguji rancangan model pengelolaan dan model bisnis TNGP sebagai taman nasional mandiri. Selain itu, wawancara juga dilakukan untuk mengumpulkan informasi dan tanggapan terhadap materi yang terkait dengan pengelolaan taman nasional, yaitu: 1) konsep taman nasional mandiri, 2) identifikasi masalah, 3) kebutuhan manajemen; 4) identifikasi indikator-indikator yang ada serta potensi untuk mengevaluasi efektivitas manajemen; 5) validasi model dan indikator; dan 6) evaluasi dan merumuskan rekomendasi pengelolaan taman nasional mandiri, faktor-faktor penghambat, dan kekuatan pendorong yang mempengaruhi pelaksanaan rekomendasi. Pakar yang dimintai tanggapan dalam penelitian berasal dari berbagai latar belakang sebagaimana disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Latar belakang pakar

No Nama Latar Belakang

1. Prof. Dr. Ir. Chafid Fandeli, MS Guru Besar Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada

2. Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodiharjo, MS

Guru Besar Kebijakan Kehutanan, Fakultas Kehutanan, IPB

3. Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA

Guru Besar Ekonomi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB

4. Dr. Ir. Bahruni, MS Staf Pengajar Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB

5. Ir. Haryanto R. Putro, MS Staf Pengajar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB

6. Iben Y. Ismarson, SP, MBA, MSc Senior Manager Human Resources Development (HRD), PT. Sari Husada 7. Petrus Gunarso Ph.D Direktur Program Tropenbos International 8. Ir. Adi Susmianto, MSc Kepala Pusat Penelitian Pengembangan

Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan

9. Dr. Ir. Bambang Supriyanto, MSc Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Lindung, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan

(11)

3.8 Metode Analisis Data

Berdasarkan data pokok yang terkumpul, dilakukan proses tabulasi, dan pengelompokan data untuk dijadikan sumber data. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif yang disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

3.8.1 Analisis Model Bisnis

Perancangan model bisnis BTNGP menggunakan pendekatan Model Bisnis Kanvas (MBK) menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), yaitu kerangka model bisnis berbentuk kanvas yang divisualisasikan dalam susunan sembilan kotak yang saling berkaitan. Kotak tersebut berisikan komponen-komponen penting yang menggambarkan bagaimana organisasi menciptakan manfaat untuk pelanggannya dan mendapatkan manfaat dari para pelanggannya. Deskripsi komponen pembangun model bisnis tersebut disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Deskripsi komponen model bisnis (PPM Manajemen 2012)

No Komponen Deskripsi

1 Kelompok Pelanggan Pihak yang menggunakan jasa/produk dan berkontribusi pada organisasi

2 Proposisi Nilai Manfaat yang ditawarkan organisasi kepada kelompok pelanggan 3 Saluran Sarana untuk menyampaikan proposisi nilai pada pelanggan 4 Hubungan Pelanggan Cara organisasi menjalin ikatan dengan pelanggannya

5 Aliran Dana Deskripsi bagaimana organisasi memperoleh uang dari pelanggan 6 Sumberdaya Kunci Sumberdaya organisasi yang digunakan mewujudkan proposisi nilai 7 Kegiatan Kunci Kegiatan utama organisasi untuk dapat menciptakan proposisi nilai 8 Kemitraan Kunci Mitra kerjasama pengoperasian organisasi

9 Struktur Biaya Komposisi biaya untuk mengoperasikan organisasi mewujudkan proposisi nilai

Perancangan MBK dilakukan melalui 3 (tiga) tahap, yaitu: 1) pemetaan potret kondisi model bisnis saat ini (BTNGP); 2) penilaian kekuatan, kelemahan, tantangan, dan ancaman (SWOT) komponen model bisnis BTNGP; dan 3) penyempurnaan model bisnis BTNGP. Hasil penyempurnaan model bisnis tersebut merupakan rancangan model bisnis BTNGP Mandiri, yaitu model bisnis yang dirancang dapat membiayai paling tidak 80 persen pengelolaan taman nasional dari hasil pemanfaatan kondisi lingkungan melalui sistem pengusahaan yang diperkuat dengan investasi pemerintah dan swasta sehingga dapat menjamin keberlanjutan pendanaan serta mendukung upaya perlindungan dan pengawetan.

(12)

Teknik yang digunakan dalam merancang model bisnis dalam penelitian ini ialah teknik ideation yang memiliki dua fase. Fase pertama: pembangkitan ide (idea generation). Fase kedua: sintesis dimana ide-ide dibahas, digabungkan, dan dipersempit ke sejumlah kecil pilihan yang layak. Epicenter yang digunakan sebagai titik awal dalam inovasi model bisnis tersebut ialah resources-driven, yaitu inovasi yang bertitik tolak dari infrastruktur organisasi yang sudah ada atau kemitraan untuk memperluas atau mengubah model bisnis (Osterwalder & Pigneur 2010). Selanjutnya Osterwalder dan Pigneur (2010) merinci tahapan kegiatan yang dilakukan dalam merancang MBK yaitu:

1) brainstorming : mengeksplorasi latar belakang, gagasan, dan tanggapan sebagai langkah untuk menghasilkan alternatif model bisnis terbaik;

2) prototyping : merancang model bisnis berdasarkan hasil pembahasan gagasan yang dituangkan ke dalam diagram model bisnis untuk dilakukan pengujian;

3) testing (pengujian) : menguji rancangan model bisnis yang potensial dengan para pakar, klien, atau calon klien untuk mendapatkan umpan balik;

4) selecting (pemilihan) : pemilihan dan penentuan rancangan model bisnis yang sesuai dengan konsep dan kebijakan pengembangan taman nasional mandiri.

Model bisnis divisualisasikan dalam susunan sembilan kotak dalam bentuk kanvas dimana satu kotak dengan yang lain saling memperkokoh bentuk rencana bangunan usaha yang akan dieksplorasi (Osterwalder dan Pigneur 2010). Kanvas tersebut digunakan untuk menuntun pengisian setiap kotak dengan hal-hal yang relevan. Format MBK disajikan pada Gambar 7.

(13)

3.8.2 Anaslisis SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi, menilai, dan memperbandingkan suatu obyek dalam organisasi secara internal dan eksternal (Rangkuti 1998). Kombinasi analisis SWOT dan model bisnis menjadi cara yang efektif dalam pengambilan keputusan untuk melakukan inovasi model bisnis. Analisis SWOT menyediakan empat perspektif untuk menilai unsur-unsur model bisnis, sedangkan diagram model bisnis memberikan fokus yang diperlukan sebagai bahan diskusi secara terstruktur (Ostelwalder & Pigneur 2010). Keempat perspektif tersebut, yaitu: 1) kekuatan; 2) kelemahan; 3) peluang; dan 4) ancaman yang teridentifikasi dalam komponen model bisnis.

Analisis SWOT dilakukan pada setiap komponen MBK BTNGP melalui wawancara terhadap lima orang pegawai BTNGP yang dianggap mengetahui kondisi pengelolaan TNGP, yaitu: Kepala Balai TNGP, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kordinator PEH, Penyuluh Kehutanan, dan Polisi Kehutanan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan penilaian model bisnis yang diadopsi dari Osterwalder dan Pigneur (2010). Setiap jawaban pada kuisioner telah diberikan nilai bobot yang berkisar antara 1-5. Kemudian nilai bobot tersebut dihitung dalam bentuk persentase dan diperbandingkan berdasarkan aspek internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) komponen model bisnis BTNGP.

Hasil analisis SWOT setiap komponen model bisnis BTNGP digunakan sebagai bahan penyempurnaan model bisnis BTNGP yang hasilnya merupakan rancangan model bisnis BTNGP Mandiri. Selain itu, hasil analisis SWOT juga digunakan sebagai input atau masukan dalam perumusan anternatif strategi pengembangan BTNGP Mandiri. Proses perumusan alternatif strategi tersebut dilaksanakan melalui penggabungan faktor-faktor utama pada aspek kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman komponen model bisnis BTNGP. Salah satu alat yang sering digunakan pada tahap penggabungan faktor-faktor tersebut ialah matriks SWOT. Pada matriks SWOT daftar peluang dan ancaman diletakan pada sumbu Y, sedangkan daftar kekuatan dan kelemahan diletakan pada sumbu X. Matriks SWOT memiliki sembilan kolom dengan satu kotak dibiarkan kosong. Bentuk matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 7 dibawah ini.

(14)

Tabel 7 Matriks SWOT Kekuatan (S) S1: S2: S3: dst Kelemahan (W) W1: W2: W3: dst Peluang (O) O1: O2: O3: dst Strategi S – O 1. 2. 3. dst Strategi W – O 1. 2. 3. dst Ancaman (T) T1: T2: T3: dst Strategi S – T 1. 2. 3. dst Strategi W – T 1. 2. 3. dst

Strategi yang diperoleh dari matriks dibagi dalam empat macam strategi, yaitu: 1) strategi S-O (Strengths-Opportunities), yaitu alternatif strategi yang memaksimalkan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada; 2) strategi W-O (Weaknesess-Opportunities), yaitu alternatif strategi yang miminimalkan kelemahan yang dimiliki untuk mengambil peluang yang ada; 3) strategi S-T (Strengths-Threats), yaitu alternatif strategi yang menggunakan kekuatan untuk menghadapi ancaman; dan 4) strategi W-T (Weaknesses-Threaths), yaitu alternatif strategi yang meminimalkan kelemahan untuk menghadapi ancaman. Langkah penyusunan matriks SWOT tersebut, yaitu: 1) daftarkan peluang utama komponen model bisnis BTNGP;

2) daftarkan ancaman utama komponen model bisnis BTNGP; 3) daftarkan kekuatan utama komponen model bisnis BTNGP; 4) daftarkan kelemahan komponen model bisnis BTNGP;

5) cocokkan kekuatan utama dengan peluang utama komponen model bisnis BTNGP dan menghasilkan kolom strategi S-O;

6) cocokkan kelemahan utama dengan peluang utama komponen model bisnis BTNGP dan menghasilkan kolom strategi W-O;

7) cocokkan kekuatan utama dengan ancaman utama komponen model bisnis BTNGP dan menghasilkan kolom strategi S-T;

8) cocokkan kelemahan utama dengan ancaman utama komponen model bisnis BTNGP dan menghasilkan kolom strategi W-T.

Faktor Internal

(15)

3.8.3 Kelayakan Finansial

Kelayakan finansial dilakukan dengan menggunakan analisis laba rugi, metode Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). NPV dan IRR digunakan untuk menilai kelayakan rencana investasi, sedangkan analisis laba rugi dilakukan untuk menilai kinerja keuangan rencana pengusahaan kondisi lingkungan.

(1) Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi adalah bentuk laporan keuangan yang memuat hal-hal yang berhubungan dengan hasil usaha perusahaan selama waktu tertentu. Hasil usaha tersebut diperoleh dengan cara membandingkan semua penerimaan dengan semua pengeluaran (Rangkuti 2000). Proyeksi laba rugi dibuat berdasarkan atas pendapatan yang besarnya disesuaikan dengan proyeksi penjualan dan harga jual produk, serta selisihnya terhadap biaya produksi atau biaya operasional setiap tahun. Pembuatan proyeksi laba rugi ditetapkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan masa pengembalian kredit dan umur ekonomis dari peralatan dan perlengkapan yang dipakai.

(2) Net Present Value (NPV)

Kriteria untuk menerima dan menolak rencana investasi dengan metode NPV, yaitu : 1) terima kalau NPV > 0; tolak kalau NPV < 0; dan kemungkinan diterima kalau NPV = 0. NPV > 0 berarti proyek tersebut dapat menciptakan cash flow dengan persentase lebih besar dibandingkan opportunity cost modal yang ditanamkan. Rumus untuk menghitung Nilai NPV sebagai berikut:

n

NPV = Σ Ct _ Co t=1 (1 + k)t

Ct = net cash flow tahun ; n = perkiraan umur proyek; Co = biaya investasi; t = tingkat bunga.

(3) Internal Rate of Return (IRR)

IRR digunakan untuk mengukur suatu tingkat investasi, yaitu suatu tingkat bunga dimana seluruh net cash flow setelah dikalikan discount factor atau telah di-

(16)

present value-kan, nilainya sama dengan initial investment (biaya investasi). Nilai IRR dapat dihitung dengan mencari tingat bunga (discount rate) yang akan menghasilkan NPV = 0, sedangkan apabila IRR > suku bunga cost of funds maka rencana investasi tersebut layak untuk dilakukan. Rumus untuk menghitung IRR sebagai berikut:

IRR = i1 + PV (i1 - i2) PV(+)+ PV(-) IRR = Internal Rate of Return

PV(+) = Present value positif dengan discount rate tertentu yang lebih rendah (i1) PV(-) = Present value negatif dengan discount rate tertentu yang lebih tinggi (i2)

3.8.4 Analisis Isi

Analisis isi adalah teknik untuk mengumpulkan dan menganalisis isi teks. Teks dapat berupa kata-kata, frasa, kalimat, paragraf, gambar, simbol, atau ide (Neuman 2006). Teknik analisis tersebut dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif (Ekomadyo 2006). Terdapat dua cara dalam melakukan analisis isi, yaitu: isi tersurat (manifest content) dan isi tersirat (latent content). Analisis isi tersurat dilakukan melalui identifikasi sumber data berdasarkan arti yang dapat dipahami secara langsung, sedangkan analisis isi tersirat dilakukan dengan membuat kesimpulan terhadap sumber data yang dilihat berdasarkan komposisi, maner, dan ordernya (Pratiwi 2008).

Analisis isi digunakan untuk mengkaji kata, paragraf, dan teks yang tertulis dalam suatu dokumen yang terkait dengan fokus penelitian. Dokumen yang dianalisis berupa peraturan perundangan dan dokumen perencanaan yang terkait dengan pengelolaan taman nasional dan pengembangan taman nasional mandiri. Analisis isi dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1) identifikasi dokumen terkait dengan fokus penelitian; 2) identifikasi isi dokumen yang relevan; 3) review teori dan penelitian sebelumnya; dan 4) memberikan kesimpulan terhadap isi dokumen yang relevan. Hasil analisis isi dijadikan masukan dalam perumusan rencana sistem pengusahaan dan pola pengelolaan taman nasional mandiri.

Gambar

Gambar 4  Kerangka pemikiran penelitian dikembangkan dari Basuni (2009).
Gambar 5  Lokasi Taman Nasional Gunung Palung.
Gambar 6  Alur kegiatan penelitian.
Tabel 2 Data dan informasi yang dikumpulkan dalam penelitian
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian proses penelitiannya tidak hanya mencari makna yang terdapat pada sebuah teks, melainkan menggali lebih dalam wacana apa yang terdapat di balik naskah

Kota Makassar merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai ibu kota yang juga merupakan pintu gerbang dari Indonesia bagian timur yang merupakan

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka ketentuan lain yang berkaitan dengan Retribusi Tanda Daftar Perusahaan di Kabupaten Kuantan Singingi yang bertentangan dengan

1) Game edukasi ini terdiri dari menu papan permainan yang di ambil dari judul sub tema buku anak autis, menu pertama yaitu mengenalkan rumah bersih dan rumah kotor, terdapat

Berdasarkan dari hasil observasi yang sudah dilakukan peneliti pada saat pembelajaran sebelum diterapkannya startegi pembelajaran crossword puzzle, hasil belajar

Untuk meningkatkan penguasaan kosakata anak ditandai dengan aktivitas guru yang terampil mengelola proses pembelajaran yang menggunakan metode bernyanyi dalam

pemasaran yang lebih agresif. Secara umum, penetrasi pasar dapat dibedakan atas tiga bentukyaitu: 1) Perusahaan dapat mencoba untuk merangsang konsumen agar mereka meningkatkan

Secara umum tahapan penelitian menurut Moleong (2013: 85), terdiri atas empat tahap, yaitu: (1) tahap pra-lapangan, dimana kegiatan yang dilakukan adalah mencari isu-isu