• Tidak ada hasil yang ditemukan

, :* \y-d KONSEPSI PEMBANGUNAN DALAM PJP II. Dengan Tinjauan Khusus Mengenai Peran lptek DOKUIVIENTASI & ARSIP BAFPENAS. Acc. I.lo.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan ", :* \y-d KONSEPSI PEMBANGUNAN DALAM PJP II. Dengan Tinjauan Khusus Mengenai Peran lptek DOKUIVIENTASI & ARSIP BAFPENAS. Acc. I.lo."

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEPSI

PEMBANGUNAN

DALAM PJP II

Dengan Tinjauan Khusus Mengenai Peran lptek

Q l e h : G i n a n d j a r K a r t a s a s m i t a M e n t e r i N e g a r a P e r e n c a n a a n P e m b a n g u n a n N a s i o n a l / K e t u a B a p p e n a s D O K U I V I E N T A S I & A R S I P

BAFPENAS

, :* \y-d

Acc. I.lo. Class D i s a m p a i k a n p a d a P e k a n l l m i a h N a s i o n a l V l l l U n i v e r s i t a s G a d j a h M a d a Yogyakarta, 24 Januari 1995

(2)

KONSEPSI

PEMBANGUNAN DALAM PJP II

. ' i , . : . . , . r . . : : t , : . : . - ' i . i ; l : r ; i . r . : ' : - ? '

Dengan Tinjauqt,K&Wn$

Mgngerui Peran lptek

' ' ., Oleh: G in andjb r Kartasas mita

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan, Nasional/. Ketua Bappenas

PENDAHULUAN

Pada hari ini saya diberi kesempatan untuk berbicara di muka pa13 peserta PIMNAS VIII ini tentang konsep dasar perencanaan pembanguq4n dan kaitannya dengan peran ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya ber-terima kasih atas kehormatan yang saya terima ini.

Untuk tujuan itu saya akan membagi pembahasan ini atas empat bagian, yaitu pertama, landasan falsafah pembangunan nasional; kedua, arahan GBHN 1993; ketiga, sasaran PJP II dan Repelita VI; dan keempat, peran iptek serta tantangan penguasaan iptek dalam PJP IL

II. LANDASAN E{LSAFAII PEMBANGUNAN NASIONAL

Pembangunan nasional yang kita laksanakan merupakan rangkaian pembangunan yang berkesinambungan, untuk mewujudkan tujuan nasional yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Tujuan nasional itu adalah (1) melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, serra (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

(3)

Konsepsi pembangunan nasional yang kita anut adalah pemikiran yang berlandaskan pada falsafah Pancasila dan semangat UUD 1945. Wujudnya adalah pembangunan yang dilaksanakan berdasarkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang merupakan amanat rakyat. Jadi pemikiran pembangunan yang kita tumbuh-kembangkan adalah pemikiran yang mengakar pada kehendak rakyat.

NI. ARAIIAN GBIIN 1993

Pasal 3 UUD 1945 menyatakan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara, serta perljelasan dari pasal ini menyatakan bahwa GBHN ditetapkan sekali dalam lima tahun dengan memperhatikan segala yang terjadi dan segala aliran pada waktu itu. Inilah sebenarnya landasan konseptual perencanaan pembangunan nasional kita berdasarkan konstitusi.

Dalam rangka ini, Repelita VI dan PJP II disusun berdasarkan Garis-garis Besar Haluan Negara yang telah ditetapkan pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat pada bulan Maret i993. Dengan demiki-an, untuk dapat memperoleh wawasan mengenai konsepsi pembangunan yang tertuang di dalam Repelita VI, terlebih dahulu harus dapat dipahami segala arahan GBHN 1993 tersebut.

. Penetapan GBHN 1993 bertepatan waktu dengan akan berakhirnya PJP I dan akan dimulainya PJP Ii. Karenanya arahan GBHN 1993 men-cerminkan hasil-hasil yang telah dicapai dalam PJP I maupun berbagai tantangan yang masih harus diatasi pada akhir PJP I dan harapan-harapan yang ingin diwujudkan dalam PJP IL

Sebagai pengamalan Pancasila kalau kita ingin mencari hakikat pembangunan nasional menurut GBHN 1993,kita akan menemukan bahwa

(4)

m a n u s i a i t u s e n d i r i m e r u p a k a n t i t i k s e n t r a l d a r i s e g a l a u p a y a p e m -bangunan. Manusia adalah sasaran pembangunan, yaitu sebagai makhluk T\rhan yang paling mulia di muka bumi ini, yang ingin kita bangun harkat dan martabatnya. GBHN 1993 juga berbicara mengenai manusia sebagai sumber daya pembangunan yang paling utama di antara sumber-sumber daya lain yang ingin kita bangun kemampuan dan kekuatannya sebagai pelaksana dan penggerak pembangunan.

Lebih lanjut GBHN 1993 menetapkan sasaran umum Pembangunan Jangka Panjang Kedua adalah terciptanya kualitas manusia dan kualitas masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri dalam suasana tenteram dan sejahtera lahir batin, dalam tata kehidupan yang serba berkeseimbangan.

Dengan sasaran pembangunan di atas, maka GBHN 1993 meletakkan titik berat Pembangunan Jangka Panjang Kedua pada bidang ekonomi, yang merupakan penggerak utama pembangunan! seiring dengan kualitas surnber daya mangsia dan didorong secara saling memperkuat, saling terkait dan t e r p a d u d e n g a n p e m b a n g u n a n b i d a n g - b i d a n g l a i n n y a ' T i t i k b e r a t pembangunan dalam PJP II sudah beranjak lebih maju dari PJP I yang meletakkan titik berat atau prioritas semata-matapada bidang ekonomi. Penetapan prioritas ini mencerminkan wawasan kita mengenai kemajuan dan tantangan yang dihadapi.

GBHN 1993 mengamanatkan pula bahwa dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua, bangsa Indonesia memasuki proses tinggal landas. pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Kedua merupakan masa ke-bangkitan nasional kedua bagi bangsa Indonesia yang tumbuh dan berkem-bang dengan makin mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri serta makin menggeloranya semangat kebangsaan untuk membangun bangsa Indonesia dalam upaya mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju'

(5)

l

GBHN 1993 menegaskan bahwa Pembangunan Jangka Paqjang 25 Thhun Kedua merupakan proses kelanjutan, peningkatan, perluasan dan pembaharuan dari Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Pertama. Petunjuk ini amat penting karena PJP II tidak terlepas dari PJP I dan Repe-lita VI harus merupakan kelanjutan dari Repelita V. Repelita VI harus rnerupakan juga pembaharuan terhadap Repelita V, dan PJP II mengandung pembaharuan terhadap PJP L Pembaharuan berarti koreksi, penyempur-naan sefta dimasukkannya nilai-nilai baru untuk memperbaiki nilai-nilai lama yang sudah tidak sesuai lagi. Dengan pembaharuan berarti kita ingin me.mbuat momentum baru untuk lebih cepat lagi menggerakkan upaya menirju kb arah cita-cita. Dengan pembaharuan kita menjamin bahwa pembangunantidak pernah lepas dari dinamika masyarakat dan senantiasa siap dan tanggap terhadap segala perkembangan yang terjadi.

Berdasarkan berbagai pokok pengarahan tersebut, dan dengan menjabarkan arahan-arahan yang lebih rinci mulai dari bidang-bidang sampai sektor yang ingin dibangun, kita menyusun rencana dan program-program pembangunan dalam Repelita VL Rencana dan program-program pembangunan tersebut harus mengarah kepada terwujudnya sasaran yang paling pokok dalam Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun tahap Kedua, yaitu membangun kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri. Singkatnya membangun bangsa Indonesia yang maju dan mandiri.

Tentunya kita harus menetapkan ukuran-ukuran kemajuan dan kemandirian tersebut, sehingga dapat merupakan sasaran yang terukur dan menjadi pedoman dalam pengerahan dan pengalokasian berbagai sumber daya pembangunan.

Dalam menetapkan ukuran tersebut kita dapat menggunakan indika-tor yang umum dipakai untuk mengukur kemajuan suatu bangsa. Ukuran

(6)

yang paling umum dipakai adalah tingkat pendapatan dan pemerataan pendapatan. Negara yang maju umumnya adalah negara di mana industi-nya sudah berkembang dan menjadi tulang punggung ekonomi. Bangsa yang maju pada umumnya tingkat kecerdasan penduduknya, yaitu pendi-dikannya, serta tingkat kesehatannya tinggi. Bangsa yang maju lebih mengandaikan kualitas sumber daya manusia ketimbang sumber daya alam, dan tercermin antara lain dalam penguasaan teknologi, kreativitas dan produktivitasnya.

Bangsa yang maju pada umumnya adalah bangsa yang mandiri. Seperti diamanatkan dalam GBHN 1993 kemandiriarr yang ingin kita tuju adalah kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dengan makin mengan-dalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri. Dari sisi ekonomi ini berarti terpenuhinya beberapa syarat, antara lain:

kualitas sumber daya manusia semakin tinggi, yang tercermin antara lain dari kemampuan tenaga-tenaga profesionalnya untuk memenuhi kebutuhan pembangunan serta penguasaan teknologi;

semakin mengandalkan sumber-sumber pembiayaan dalam negeri yang berarti ketergantungan kepada sumber pembangunan dari luar negeri semakin kecil;

memiliki kemampuan untuk memenuhi sendiri kebutuhan yang paling pokok atau mengatasi ketergantungannya agar tidak menim-bulkan kerawanan;

secara umum memiliki ekonomi yang tangguh dan memiliki daya saing tinggi.

Kemajuan dan kemandirian mencerminkan tingkat kemampuan suafu bangsa dalam perkembangannya. Kemajuan dan kemandirian

mencerrnin-a ,

b .

s

L l .

(7)

kan tingkat kemajuan ekonomi suatu bangsa. Tetapi kemajuan dan keman-dirian mencerminkan juga sikap seseorang atau suatu bangsa mengenai dirinya, masyarakatnya serta tantangan-tantangan yang dihadapinya. Oleh karena itu kemandirian adalah juga sebuah masalah budaya.

GBHN 1993 juga mengarahkan pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang Kedua tetap bertumpu kepada Trilogi Pembangunan. Dengan Trilogi Pembangunan kita ingin memacu pembangunan yang makin merata dengan lebih memberi peluang kepada rakyat untuk berperanserta aktif dijiwai semangat kekeluargaan, didukung oleh stabilitas nasional yang mantap dan dinamis sehingga dapat menggerakkan pembangunan di segala bidang dan membangkitkan kekuatan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

GBHN 1993 mengarahkan pembangunan ekonomi pada terwujudnya perekonomian nasional yang mandiri dan andal berdasarkan demokrasi ekonomi untuk meningkatkan kemakmuran seluruh rakyat secara selaras, adil dan merata. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi harus merupa-kan hasil darr meningkatnya kegiatan ekonomi masyarakat secara lebih merata serla semakin berkurangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Berbagai amanat GBHN 1993 tersebut di atas menunjukkan kepada kita kuatnya penekanan yang diberikan pada pembangunan yang makin berkeadilan dalam PJP IL Semangat keadilan dan pemerataan ini harus melekat pada setiap langkah dan kebijaksanaan pembangunan di tahun-tahun mendatang. GBHN 1993 menunjukkan pemihakan yang nyata kepada kesejahteraan rakyat kecil dan tekad untuk membangun perekono-mian yang makin mewujud ke arah Demokrasi Ekonomi seperti yang d i k e h e n d a k i o l e h p a r a p e n d i r i Republik ini. Pembangunan y a n g berkeadilan ini, yang memperhatikan segenap aspek dan didukung oleh

(8)

lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, menjamin pembangunan yang berkelanf utan.

Sasaran Umum Pembangunan Lima Tahun Keenam sebagai tahap awal PJP II, adalah tumbuhnya sikap kemandirian dalam diri manusia dan masyarakat Indonesia melalui peningkatan peran serta, efisiensi dan produktivitas ralryat dalam meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kese-jahteraan lahir batin.

ry. SASARAN PJP II DAN REPELITA VI

Dalam mewujudkan tujuan nasional yang kita cita-citakan berbagai sasaran pembangunan yang kita tetapkan tentunya harus berada dalam batas kemampuan kita untuk mencapainya. Dari petunjuk GBHN 1993, kata-kata kunci dalam PJP II adalah kemajuan, kemandirian, dan peningkatan kese-jahteraan rakyat.

untuk mencapai kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan seperti yang diinginkan, kegiatan ekonomi harus berkembang dengan cepat. Kita punya sasaran yang cukup ambisius dalam PJP II. Kita ingin melipatkan empat kali pendapatan perkapita bangsa Indonesia dan menghapus ke-miskinan. Kita ingin pada akhir PJP II Indonesia sudah menjadi bangsa industri yang maju.

S e h u b u n g a n d e n g a n i t u d a l a m P J P l l p e r t u m b u h a n e k o n o m i diproyeksikan cukup tinggi, yaitu rata-rata 7 persen per tahun. Pertum-buhan ekonomi itu diiringi oleh penurunan laju pertumbuhan penduduk h i n g g a d i b a w a h 0 , g p e r s e n p e r t a h u n m e n j e l a n g a k h i r P J P l l . D e n g a n kedua sasaran itu maka sasaran pendapatan perkapita Indonesia pada akhir pJP II diharapkan akan meningkat menjadi sekitar us$ 2.600 pada harga

(9)

tahun 1989/90. Sebagai negara industri pada akhir PJP II, peranan industri dalam perekonomian akan menjadi sepertiga dari seperlima pada awal PJP II. Pada akhir PJP II, sektor ini akan menyerap seperlima tenaga kerja produktif dibanding seperdelapan dewasa ini. Pada saat itu ekonomi kita sudah menjadi salah satu ekonomi yang besar di kawasan ini.

Dalam Repelita VI dengan tingkat pertumbuhan rata-rata6,2 persen per tahun, kita mengharapkan dapat mencapai pendapatan perkapita pada harga yang berlaku sebesar US$ 1.000, yang akan menempatkan Indonesia pada kelompok negara indusfi baru memasuki tahun 2000.

Kita tidak hanya puas dengan pertumbuhan yang tinggi. Pertum-buhan ekonomi yang tinggi baru ada artinya kalau terjadi bersama pening-katan kesejahteraan rakyat yang adil dan merata. Salah satu sasaran pokok-nya adalah diselesaikanpokok-nya masalah kemiskinan secara mendasar dalam PJP II. Sasaran penanggulangan kemiskinan dalam Repelita VI adalah berkurangnya penduduk miskin absolut menjadi sekitar 12 julz orang, atau 6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Pada ak3ir Repelita VII masalah kemiskinan absolut diharapkan sebagian besar sudah teratasi. Dalam Repelita-repelita selanjutnya kita akan makin menuntaskan persoalan kemiskinan itu.

Seiring dengan pembangunan ekonomi, titik berat pembangunan dalam PJP II adalah kualitas sumber daya manusia. Kebijaksanaan di bidang pendidikan, kesehatan dan kesempatan kerja adalah unsur-unsur utama dalam pengembangan sumber daya manusia. Semua unsur tersebut sangat erat keterkaitannya dan memerlukan upaya yang bersungguh-sungguh untuk meningkatkannya dalarn2l tahun yang akan datang.

Di bidang pendidikan, pada akhir PJP II diharapkan seluruh anak Indonesia sudah mengikuti pendidikan dasar sembilan tahun. Angka

(10)

partisipasi peqdidikan SLIA sudah mencapai 80 persen dari sekarang 35 persen, dan pendidikan tinggi sudah mencapai 25 persen dari sekarang 10 persen. Pendidikan juga sudah harus makin mengarah dan tanggap tetl$.qp kebutuhan pasar kerja. Sementara itu, di bidang kesehatan, peningkatan pelayanan kesehatan dan perbaikan gizi masyarakat akan meningkatkan usia harapan hidup menjadi di atas 70 tahun, dari sekarang.sekitar 6t tahun.

Untuk mencqpai sasaran-sasaran itu bukan *gu, yungtringan. Tetapi dengan kerja keras tidak mustahil bagi kita untuk mewujudkannya. Untuk itu, penguasaan iptek berperan besar sekali.

V. PERAN IPTEK SERIA TANTANGAN PENGUASAAN IPTEK

DALAM PJP TI

Pembangunan iptek memegang peranan penting serta akan sangat mempengaruhi perkembangan dalam masa PJP II.

Oleh karena itu, dapat dimengerti bila iptek di dalam GBHN 1993 telah diangkat menjadi salah satu bidang tersendiri dalam pembangunan nasional. Iptek juga telah ditempatkan sebagai salah satu asas penting dalam kita melaksanakan pembangunan. Hal ini mengandung makna bahwa pembangunan di semua bidang harus didasarkan juga pada iptek.

Memasuki abad ke-21, yaitu abad perdagangan bebas yang ditandai makin ketatnya persaingan, bagi kita tidak ada jalan lain selain memacu penguasaan iptek. Kemampuan bersaing suatu negara sudah tidak lagi semata-mata ditentukan oleh keunggulan komparatif yang didasarkan pada pemilikan sumber daya alam dan ketersediaantenaga kerja murah, tetapi akan ditentukan oleh penguasaan informasi, teknologi, dan keahlian rnana-jerial.

(11)

Penguasaan iptek oleh suatu bangsa untuk membangun masyarakat maju dan'mandiri, mengandung makna yang dalam. Kita bisa mengartikan-nya dari dua sisi, sebagai pengguna iptek dan sebagai penghasil iptek.

Seo-agai pengguna iptek dengan sendirinya penguasaan iptek berarti kesiapan'sumber daya manusia dan institusi-institusi pembangunan untuk menyerap dan memanfaatkan iptek yang telah berkembang baik di negeri kita sendiri maupun di negara lain. Kita memang tidak ada niat untuk m e i l e m u k a n k e m b a l i r o d a . O l e h k a r e n a i t u k e m a m p u a n u n t u k memanfaatkan iptek yang telah tercipta menjadi sangat penting.

Kalau kita lihat sejarah negara-negara maju di Asia, mulai dari Jepang, Korea, Taiwan dan negara industri baru lainnya, kemajuan negara-negara itu dimulai dari pengembangan kemampuan untuk menggu-nakan iptek yang telah berkembang di tempat lain. Di Jepang kita ketahui proses itu berlangsung sejak reformasi Meiji. Proses alih teknologi di Jepang dikenal sebagai proses imitasi teknologi luar yang inovatif (innova-tive irnitation). Oleh perusahaan-perusahaan Jepang teknologi itu diimpor, kemudian dikembangkan sesuai dengan kondisi setempat, bahkan mereka mampu memperbaiki teknologi yang asalnya dari luar tersebut.

Ada beberapa contoh ,trari innovative imitation tersebut. Misalnya TV Zenith buatan Amerika Serikat yang berukuran besar, pada tahun 1951 telah dikembangkan oleh perusahaan Jepang, Sony, menjadi suatu TV yang berukuran kecil sehingga lebih sesuai dengan kondisi rumah masyarakat Jepang yang umumnya tidak terlalu luas.

Contoh lain, mobil penumpang yang besar hasil impor dari Amerika Serikat pada tahun 1960-an telah dikembangkan oleh perusahaan industri mobil di Jepang menjadi mobil yang berukuran kecil, karena lebih sesuai dengan kondisi jalan-jalan di Jepang yang pada waktu itu tidak terlalu lebar. Pada tahun 1947 produksi mobil Jepang hanya 110 buah dan

(12)

ruhnya untuk pasar dalam negeri. Tahun 1960 produksinya meningkat menjadi 500.000 dan yang diekspor sebesar 0,1 persen. Selanjutnya tahun 1973 produksi meningkat tajam menjadi 3,5 juta buah dengan sebesar 0,5 peiden yang diekspor. Akibat terjadinya krisis minyak dunia, pada tahun 1974 produksi mobil meningkat menjadi 4,6 juta buah dan 45 persen di an-taranya untuk diekspor. Kenaikan ekspor yang melonjak ini disebabkan oleh permintaan pasar Amerika Serikat yang meningkat secara tajam, karena harga minyak bumi yang naik sebesar 3 kali lipat tersebut telah menuntut jenis kendaraan yang beroperasi secara ekonomis.

Proses ini berlanjut, sehingga menghasilkan kemampuan yang cukup kuat untuk suatu masyarakat yang bukan hanya bisa menggunakan teknolo-gi y"og siap pakai, tetapi yang lebih penting lagi adalah mampu mengem-bangkannya. Tahap ini merupakan tahap transformasi dari pengguna menjadi penghasil iptek.

Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada yang bisa langsung menjadi penghasil iptek, tanpa melalui proses tersebut. OIeh karena mungkin saja ada teknologi "pribumi" yang telah berkembang sejak sebelum masuknya teknologi modern (yang sebenarnya dibawa kembali oleh dunia barat ke dunia timur). Misalnya teknologi pengairan di Bali, yaitu Subak. Namun proses di atas itulah yang banyak ditempuh oleh negara-negara yang seka-rang disebut NIC, masing-masing dengan gay^, cara, dan kecepatannya sendiri.

Pengalaman Korea, juga menunjukan hal itu dengan jelas' Strategi penguasaan teknologi yang berhasil telah mendorong kemajuan dan indus-trialisasi negara itu. Korea telah mencapai berbagai tingkat kemajuan teknologi secara bertahap dengan terus menerus mengadaptasi berbagai proses dan produk sesuai dengan perkembangan keadaan' Selain ini, upaya ekspornya telah dikaitkan dengan peningkatan teknologi baru. Upaya itu

(13)

ditempuh dengan menyesuaikan produk ekspornya dengan kehendak pembelinya di luar negeri.

Saya mengemukakan contoh Korea selain Jepang, karena kita d:pat membandingkannya dengan keadaan kita di Indonesia. Kita juga sedang mendorong ekspor dengan sekuat tenaga, dan kita harus juga berupaya mengkaitkan peningkatan ekspor dengan peningkatan kemampuan tekno-logi.

Pembangunan selama PJP I telah menghasilkan banyak kemajuan. Dalam masa itu telah terjadi proses transformasi dari ekonomi agraris ke ekonomi industri. Selain dari itu, yang lebih mendasar lagi adalah terjadi-nya proses transformasi dari masyarakat agraris menuju masyarakat indus-tri. Tidak dapat disangkal lagi, besarnya peran iptek dalam keseluruhan proses tersebut.

Walaupun perfumbuhan industri cukup pesat selama PJP I, harus kita akui bahwa dilihat dari sudut penguasaan iptek kita masih pada tahap sangat awal. Sebagian besar dari proses pengalihan teknologi yang terjadi baru sampai pada tahap pemanfaatan teknologi yang terkandung dalam berbagai sistem dan peralatan yang digunakan, Sebagai konsekuensinya industri kita masih besar ketergantungannya pada paket-paket teknologi yang didapat melalui proses impor atau lisensi, sehingga tampaknya indus-tri nasional merupakan perpanjangan atau perluasan pasar dari produk-produk teknologi luar. Strukfur industri nasional saat ini daya saingnya masih tergantung pada produk yang kandungan teknologinya relatif rendah dengan mengandalkan faktor biaya produksi yang rendah, terutama biaya tenaga kerja yang rendah. Misalnya industri tekstil sebagai industri andalan kita dewasa ini. Selain itu dunia industri belum terintegrasi secara kuat dengan dunia riset dan pendidikan nasional, demikian pula sebaliknya. Situasi seperti ini kurang membangkitkan suasana sinergis antara industri

(14)

dan dunia penelitian serta dunia pendidikan, Kita juga belum memiliki lembaga riset di lingkungan industri yang memiliki kemampuan.inventif dan inovatif, tercermin antara lain pada masih rendahnya jumlah paten dan produk yang bernilai tambah tinggi.

Kondisi di atas menunjukan kepada kita betapa besarnya tantangan yang kita hadapi dalam upaya meningkatkan penguasaan teknologi dalam PJP II.

Penyebab utama ketertinggalan kita dibanding negara-negara industri baru yang sebenarnya " staFt" -nya kurang lebih bersamaan dengan kita, tetapi majunya lebih cepat, pertama-tama adalah masalah kualitas sumber daya manusia.

Di bidang iptek, salah satu indikator untuk mengukurnya adalah banyaknya tenaga peneliti dibanding jumlah penduduk. Karena Korea sudah kita ambil sebagai contoh, jumlah tenaga penelitinya per 10.000 penduduk pada tahun 1989 adalah 15,6' Sedangkan di Indonesia hanya sekitar 1,8 per 10.000 penduduk.

Demikian pula halnya dengan pembiayaan pengembangan ristek. Kita baru mampu membiayai riset sekitar 0,3 persen dari produksi nasional kita (PDB), sedangkan Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan Cina, telah menyediakan biaya ristek antara L,0 persen sampai 1,9 persen dari PDB (angka tahun 1991).

Pengembangan iptek sebagai bagian dari upaya meningkatkan kuali-tas sDM memerlukan peningkatan jangkauan dan mutu pendidikan, dimu-lai dengan pendidikan dasar. Kemajuan iptek juga memerlukan pendidikan tinggi yang bermutu dan mampu mengikuti perkembangan iptek yang terus berkembang pesat serta sesuai dengan permintaan pasar kerja. Permintaan

(15)

ini juga berkembang pesat sesuai dengan perkembangan dunia usaha, Secara nasional kita juga masih mempunyai masalah besar mengenai ini. SDM yang berpendidikan tinggi yang kita miliki masih timpang, dan sedi-kit menyimpang dari komposisi ideal bidang keahlian yang dibutuhkan untuk mendukung proses industrialisasi. Dalam tahun 1992 jumlah maha-siswa mencapai kurang lebih I,92 juta. Dari jumlah tersebut lebih dari 51 persen adalah mahasiswa di bidang ilmu-ilmu sosial, dan hanya sekitar

12,6 percen di bidang sains dan teknologi.

Dalam PJP II keadaan ini akan berubah. Bersamaan dengan trans-formasi sosial ekonomi yang kita arahkan akan terjadi dalam PJP II, demikian pula kita harapkan akan terjadi transformasi dalam penguasaan iptek kita.

Dalam naskah Repelita VI sasarannya telah kita gariskan secara jelas, baik kualitatif maupun kuantitatif. Sasaran kuantitatif amat penting untuk ditetapkan agar kita dapat secara tepat mengerahkan sumber daya yang dibutuhkan dan dari waktu ke waktu mengukur seberapa jauh keberha-silan kita dalam mencapainya.

Pada saat ini diperkirakan sekitar 80 persen dari total biaya kegiatan penelitian dan pengembangan bersumber dari anggaran pemerintah. Dalam PJP II diharapkan akan terjadi pergeseran, yaitu peran anggaran pemerin-tah diharapkan menjadi hanya sekitar 20-30 persen. Pada saat ini sekitar 70 persen biaya iptek tersebut dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan di lembagalembaga pemerintah. Pada akhir PJP II diharapkan 60-70 persen dari total biaya kegiatan iptek dipergunakan oleh dunia usaha untuk meningkatkan mutu produk dan mutu proses produksi agar meningkatkan daya saing di pasar internasional. Pergeseran tersebut diharapkan pula akan meningkatkan pangsa biaya kegiatan pengembangan iptek terhadap PDB dari 0,3 persen pada akhir PJP I menjadi sekitar 2 persen pada akhir

(16)

PJP II. Dengan demikian pembiayaan riset kita relatif juga makin membe-sar sejalan dengan akan makin pesatnya perkembangan iptek dan mening-katnya kualitas SDM.

Untuk mencapai critical mass yang dibutuhkan dan mengejar kemampuan yang setara dengan negara-negara tetangga dan negara industri di Asia Pasifik, jumlah sarjana MiPA dan perekayasaan dalam derajat S-1 akan ditingkatkan dari 15 ribu per tahunnya pada awal PJP II, menjadi 65 ribu sarjana per tahunnya pada akhir PJP IL Selain itu, tenaga teknik lulusan D-3 dan politeknik diharapkan terus meningkat pula sehingga pada akhir PJP II jumlah tenaga peneliti, pengajar, teknisi, operator, dan penye-lia dengan berbagai derajat pendidikan yang berkemampuan dan andal di bidang iptek mendekati 1 persen dari jumlah pendrduk Indonesia'

Pengembangan iptek bukan hanya persoalan pembiayaan' Pengua-saan iptek juga merupakan masalah budaya, karena iptek tidak tumbuh dalam ruang hampa. Medium-nya adalah budaya. Maka membangun nilai-nilai budaya iptek dalam budaya bangsa amatlah strategis sifatnya.

Di lain pihak perkembangan iptek yang pesat terutama di bidang teknologi informasi yang mempercepat proses globalisasi dapat membawa dampak negatif terhadap nilai-nilai kepribadian bangsa kita, terutama di kalangan generasi muda. Di sini kita semua, terutama para mahasiswa sebagai kader kepemimpinan bangsa ditantang untuk membangun daya tangkal agaf generasi muda kita tangguh menghadapi tekanan negatif globa-lisasi itu.

vI. PENUTT]P

Khususnya bagi forum PIMNAS VIII ini ada beberapa pesan yang ingin saya samPaikan'

(17)

Pertama, berhasilnya pembangunan nasional dalam duapuluhlima tahun mendatang membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Sumber daya manusia serupa ini harus memiliki semangat pembaharuan dan tekad yang kuat unf,uk merubah keadaan dan memperbaikinya.

Kedua, sumber daya manusia ydng berkualitas, adalah yang kuat akar pengetahuannya. Dengan demikian penguasaan iptek merupakan sisi yang penting dalam strategi pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu di kalangan generasi muda terutama parumahasiswa harus terus menerus dikembangkan minat dan naluri iptek.

Ketiga, untuk mendorong kemajuan iptek perlu ada rangsangan motivasi dan kreativitas. Untuk itu diperlukan kebebasan yang memung-kinkan orang berprakarsa dan menembus cakrawala yang membatasi diri dan masyarakatnya. Suasana kebebasan ini harus disertai rasa tanggung jawab dan komitmen kepada kepentingan bangsa upaya memajukannya, dengan senantiasa menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.

Keempat, pema{rfaatan, pengembangan, dan penguasaan iptek tidak bisa terlepas dari nilai spiritual, moral, dan etik yang didasarkan pada nilai keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai kepribadian bangsa,

Demikian pandangan kita mengenai manusia Indonesia yang berbu-daya iptek, sebagai sumber insani pembangunan bangsa yang berkualitas.

Yogyakarta, V1 I anuari 1995

Referensi

Dokumen terkait

hukum. Dalam kasus tindak pidana Kepabeanan dalam hal ini tindak pidana penyelundupan barang elektronik tanpa izin paling sering terjadi karena tertangkap

Dalam hal penjualan batubara dilakukan secara jangka tertentu (term), harga batubara mengacu pada rata-rata 3 (tiga) Harga Patokan Batubara terakhir pada bulan dimana

H G X D E D K Z D W L Q G D N D Q P R U D O VHVHRUDQJ VXGDK OHELK UDVLRQDO ZDODXSXQ PDVLK NHNDQDNNDQDNDQ 0RWLYDVL GDODP WLQGDNDQ PRUDO DGDODK XQWXN PHQFDSDL

Konsepsi perlindungan anak dari berbagai bentuk kejahatan seperti Eksploitasi Seksual Komersial Anak (selanjutnya disebut ESKA) telah dipertegas dalam berbagai ketentuan

Dengan demikian, secara langsung pangkalan data tersebut mampu menjadi sumber acuan atau rujukan data bagi pengembangan metode konservasi budaya Indonesia yang berwujud

2) Penyuluhan Bimbimbing Jabatan adalah kegiatan pemberian informasi tentang jabatan dan dunia kerja kepada pencari kerja dan/atau masyarakat serta proses membantu

Umat Allah yang hidup pada zaman ini dapat disebut sebagai ’umat zaman akhir’, sebab mereka telah ditebus dan dipindahkan dari kerajaan kegelapan ke dalam kerajaan

Pemerintah Provinsi Ke- pulauan Bangka Belitung akan melakukan kunjungan balik ke Konjen Republik Rakyat Tiong- kok di Medan pada awal Tahun 2020, untuk menjajaki dan menjalin