• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Penerapan dan Kebijakan Ter

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Identifikasi Penerapan dan Kebijakan Ter"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

STUDIO INFRASTRUKTUR DAN TRANSPORTASI

IDENTIFIKASI PENERAPAN DAN KEBIJAKAN SISTEM

INTEGRASI TRANSPORTASI MULTIMODA DI TOKYO DAN

ADAPTASINYA DI INDONESIA

Oleh :

WINDYA DWI NANDA (15414095)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

SEKOLAH ARSITEKTUR, PERENCANAAN, DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan topik penulisan secara umum, meliputi latar belakang penulisan, rumusan masalah yang akan dibahas, tujuan dan sasaran penulisan yang ingin dicapai, ruang lingkup penulisan yang terdiri dari ruang lingkup materi dan ruang lingkup wilayah, serta metodologi penelitian yang digunakan selama penulisan, serta sistematika penulisan makalah.

1. 1 Latar Belakang

Bangsa Jepang sangat terkenal dengan sifatnya yang pekerja keras dan selalu tekun dalam bekerja serta selalu menjaga warisan budaya dan sejarahnya. Dedikasi dan kemampuan mereka untuk berinovasi menjadikan Jepang sebagai salah satu negara paling maju di dunia dalam segi ekonomi dengan PDRB perkapita sekitar USD 38.200 atau sekitar 509 juta rupiah pertahun. Hal tersebut juga sebanding dengan tingginya upah tenaga kerja yang ada disana, yaitu sekitar 200.000 yen (UMR Tokyo) atau setara dengan 24 juta rupiah di Indonesia yang diikuti dengan standard normal pengeluaran perbulan sebesar 80.000 yen atau 10 juta rupiah. Kondisi perekonomian Jepang yang maju ini juga mendorong tersedianya teknologi dan infrastruktur pendukung kehidupan masyarakat yang layak dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Hal tersebut juga dibuktikan dengan kenyataan bahwa Jepang adalah salah satu negara dengan teknologi yang paling canggih yang ada di dunia baik itu dalam dalam hal medis, perangkat komunikasi dan peralatan elektronik lainnya, serta teknologi pada penyediaan infrastruktur transportasi dan pendukungnya.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa salah satu infrastruktur yang mendapatkan pengaruh dari perkembangan teknologi di Jepang adalah infrastruktur transportasi. Berdasarkan pengertiannya yang menyatakan bahwa transportasi adalah perpindahan barang dan manusia dari suatu tempat (asal) ke tempat yang lain (tujuan) dengan menggunakan suatu alat angkut tertentu dapat diketahui bahwa semakin banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh manusia ataupun barang akan menyebabkan semakin banyaknya terjadi perpindahan atau pergerakan dari manusia atau barang tersebut. Oleh karena itu, di era global ini setiap daerah akan berupaya untuk memenuhi ketersediaan inrastruktur transportasinya sesuai dengan permintaan atau kebutuhan dari pergerakan aktivitas yang ada. Begitu pula dengan Jepang yang memang sudah unggul di bidang teknologi, Jepang adalah salah satu negara yang memberikan perhatian lebih pada penyediaan transportasi terlihat dengan perkembangan transportasinya yang terus melaju dengan pesat dengan berbagai inovasi-inovasi terbaru yang dikeluarkan. Jepang benar-benar menyadari bahwa dengan semakin baiknya kualitas infrastruktur yang mereka sediakan akan berkontribusi besar pada perkembangan perekonomian negaranya. Perkembangan sistem transportasi di Jepang tidak hanya terlihat dari budaya masyarakatnya yang lebih senang berjalan dan menggunakan sepeda untuk beraktivitas, sistem tata lalu lintas yang baik, serta moda trasnportasi yang mereka sediakan.

(3)

itu, ada banyak jenis moda transportasi umum yang digunakan di Jepang seperti bus, kereta listrik, kereta cepat, monorail, dan subway. Dimana dari seluruh moda transportasi umum tersebut didominasi oleh moda berbasis kereta dengan prinsip MRT (Mass Rapid Transportation) atau transportasi masal. Mengingat ada banyaknya moda transportasi yang digunakan di Jepang, Jepang menggunakan prinsip integrasi transportasi multimoda guna keberjalan pelayanan transportasi yang lebih efektif dan efisien. Transportasi multimoda adalah sistem transportasi yang secara berkesinambungan (single seamless service) dapat memindahkan penumpang maupun barang dari titik asal ke titik tujuan (dari pintu ke pintu) yang diarahkan pda keterpaduan jaringan pelayanan dan jaringan prasarana transportasi antarmoda yang efektif dan efisien dalam bentuk interkoneksi pada simpul transportasi yang berfungsi sebagai titik temu yang memfasilitasi alih moda yang memberikan nilai tambah pada sektor (Kemenristek RI, 2006). Prinsip integrasi transportasi multimoda ini banyak diterapkan di Jepang khususnya di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Yokohama. Sistem transportasi ini juga mendukung Jepang dalam mewujudkan konsep smart city yang ada di negaranya. Dimana sistem integrasi transportasi multimoda yang mereka gunakan tidak hanya berfokus pada pengangkutan penumpang yang didominasi oleh moda kereta, tetapi juga pada pengangkutan barang baik itu antar kota atau prefektur maupun untuk impor atau ekspor dari dan keluar negeri yang pada umumnya merupakan integrasi antara angkutan kereta barang dengan angkutan laut atau udara.

Dari seluruh rangkaian sistem transportasi yang berjalan di Jepang sehari-harinya, seperti kebanyakan daerah lain pada umumnya sistem lalu lintas Jepang dipenuhi oleh pergerakan pengangkutan penumpang menggunakan transportasi masal yang sebelumnya didahului dengan berjalan kaki atau bersepeda atau pergerakan sebagian kendaraan pribadi bermotor. Oleh karena itu, integrasi transportasi multimoda sangat dibutuhkan dalam mengatur sistem pengangkutan penumpang ini. Salah satu lokasi yang dapat dijadikan contoh kasus adalah ibukota Jepang, yaitu Kota Tokyo. Sebagai salah satu kota paling padat di dunia, Tokyo juga termasuk ke dalam salah satu kota paling sibuk di dunia dengan segala aktivitas ekonomi yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, Tokyo harus memiliki strategi transportasi yang baik guna menanggulangi besarnya jumlah pergerakan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Dimana saat ini Kota Tokyo berusaha menerapkan integrasi transportasi multimoda untuk pengangkutan penumpang.

(4)

dalamnya, khususnya di Kota Tokyo dengan aktivitas pergerakan yang sangat padat dan bagaimana kondisi tersebut menjadi preseden apabila diterapkan di Indonesia.

1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, berikut adalah rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah “Bagaimana pelaksanaan dan kebijakan-kebijakan terkait sistem integrasi transportasi multimoda yang diterapkan di Tokyo dan bagaimana Indonesia bisa mengadaptasi sistem tersebut?”. Dimana perumusan masalah tersebut diturunkan kepada beberapa pertanyaan masalah berikut ini:

1. Bagaimana strategi sistem integrasi tranportasi multimoda yang diterapkan sehari-hari di Kota Tokyo dalam menampung pergerakan yang padat?

2. Apa saja kebijakan terkait strategi sistem integrasi transportasi multimoda yang diterapkan di Kota Tokyo?

3. Bagaimana pelaksanaan dan adaptasi strategi sistem integrasi tranportasi multimoda di Kota Tokyo dapat diterapkan di Indonesia?

1. 3 Tujuan dan Sasaran

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi pelaksanaan dan kebijakan-kebijakan terkait sistem integrasi transportasi multimoda yang diterapkan di Tokyo serta adaptasi yang perlu dilakukan apabila sistem tersebut ingin diterapkan di Indonesia. Sementara itu, sasaran yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah:

1. Mengidentifikasi strategi sistem integrasi tranportasi multimoda yang diterapkan sehari-hari di Kota Tokyo dalam menampung pergerakan yang padat

2. Mengidentfikasi kebijakan-kebijakan terkait strategi sistem integrasi multimoda yang diterapkan di Kota Tokyo

3. Mengidentifikasi pelaksanaan dan adaptasi strategi sistem integrasi transportasi multimoda di Kota Tokyo untuk dapat diterapkan di Indonesia.

1. 4 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian atau penulisan makalah ini terdiri dari ruang lingkup materi dan ruang lingkup wilayah sebagai berikut.

1.4. 1 Ruang Lingkup Materi

(5)

1.4. 2 Ruang Lingkup Wilayah

Orientasi wilayah studi yang digunakan sebagai studi kasus dari penulisan makalah ini adalah Ibukota Negara Jepang, yaitu Kota Tokyo yang pada dasarnya merupakan salah satu kota paling padat dengan aktivitas ekonomi paling sibuk di dunia.

1. 5 Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian pada penulisan makalah ini terbagi ke dalam dua jenis metode, yaitu metode pengumpulan data yang mendukung konten penulisan serta metode analisis data yang akan dituangkan ke dalam pembahasan makalah. Adapun metode pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data sekunder yang diambil dari beberapa website dan tulisan-tulisan akademik yang ada di media intenet dan melalui pengamatan dan pengalaman langsung oleh penulis. Sementara itu, metode analisis yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif dalam mengidentifikasi dan menggambarkan topik yang akan dibahas.

1. 6 Sistematikan Penulisan

Untuk mempermudah pembaca dalam memahami penulisan makalah ini, berikut adalah sistematika penulisan yang digunakan penulis unutk menyusun makalah ini. Dimana makalah terdiri dari 4 bab besar dan masing-masing subbab di setiap babnya dengan penjelasan sebagai berikut:

Bab I berisi mengenai penjelasan terkait topik penulisan secara umum, meliputi latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan dan sasaran penulisan, ruang lingkup penulisan yang terdiri dari ruang lingkup materi dan ruang lingkup wilayah, serta metodologi penelitian, serta sistematika penulisan makalah.

Bab II berisi mengenai penjelasan terkait teori-teori dasar yang akan digunakan pada pembahasan penulisan ini sesuai dengan tema dan identifikasi yang dibutuhkan.

Bab III berisi mengenai penjelasan terkait pembahasan tema yang diangkat dalam penulisan makalah ini yang bersesuaian dengan rumusan permasalahan yang dibahas di bab sebelumnya.

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori dasar yang akan digunakan pada pembahasan penulisan ini sesuai dengan tema dan identifikasi yang dibutuhkan. Adapun teori yang akan dibahas di dalam tinjauan pustaka ini adalah teori dasar terkait sistem transportasi secara umum dan sistem integrasi transportasi multimoda.

2. 1 Sistem Transportasi

Menurut Salim, transportasi adalah aktivitas perpindahan barang maupun penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Transportasi merupakan kebutuhan turunan (derived demand) dan bukan merupakan tujuan akhir. Dimana pergerakan yang terjadi pada transportasi timbul karena adanya kebutuhan akan barang dan jasa yang tidak dapat dipenuhi di tempat kita berada (tempat asal). Sementara itu, menurut Fadiah sistem transportasi meliputi beberapa sistem yang saling berkaitan dan saling memengaruhi. Dimana sistem-sistem tersebut antara lain terdiri dari sistem-sistem pergerakan, sistem-sistem jaringan dan sistem-sistem aktivitas dan juga terdapat sistem kelembagaan yang berfungsi sebagai penunjang dan yang memengaruhi berbagai sistem tersebut yang dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan.

Pada pelaksanaannya, transportasi akan berjalan apabila didukung oleh keberadaan alat angkut atau moda transportasi yang mampu mengangkut penumpang atau barang yang hendak dipindahkan. Pada makalah ini, alat angkut atau moda transportasi yang dibahas adalah moda transportasi darat atau pengangkutan darat. Dimana menurut Warpani pengangkutan darat pengangkutan yang menggunakan prasarana jalan raya, jalan rel (kereta api, monorel dan trem), kabel (angkutan gantung di kawasan pegunungan) dan angkutan pipa. Dimana angkutan-angkutan darat tersebut dapat dibagi ke dalam dua jenis moda yaitu moda angkutan pribadi (milik pribadi pengguna) atau moda angkutan umum atau publik yang dapat digunakan oleh masyarakat umum secara bersama-sama dengan dikenakan suatu biaya tertentu yang dibebankan kepada penggunanya. Dimana angkutan umum ini dapat terbagi ke dalam subsistem jalan raya dengan moda bus konvensional atau bus rapid transit seperti

busway dan subsistem berbasis jalan rel dengan moda kereta seperti LRT, MRT, monorel dan kereta komuter.

2. 2 Sistem Integrasi Transportasi Multimoda

Mengingat semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan moda transportasi, perlu dilakukan suatu strategi agar sistem transportasi yang ada dapat dikelola secara efisien. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2011 tentang Angkutan Multimoda, secara singkat angkutan multimoda adalah angkutan transportasi yang menggunakan paling sedikit menggunakan dua moda angkutan yang berbeda. Keberjalanannya dapat dilakukan dengan meningkatkan keterpaduan jaringan prasarana dan pelayanannya. Adapun manfaat yang dapat dirasakan pada penggunaan transportasi multimoda adalah:

1. Efisiensi waktu, karena akan mengurangi waktu yang hilang pada transhipment point

(7)

3. Hemat biaya karena tarif rata-rata cenderung lebih rendah

BAB III

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pembahasan terkait tema yang diangkat dalam penulisan makalah ini yang bersesuaian dengan rumusan permasalahan yang dibahas di bab sebelumnya. Secara umum, bab ini membahas mengenai strategi dan kebijakan penerapan sistem integrasi transportasi multimoda di Tokyo dan penerapannya di Indonesia.

3. 1 Strategi Sistem Integrasi Transportasi Multimoda di Tokyo

Sebagai kota dengan penduduk terpadat di Jepang dan salah satu yang terpadat di dunia, Kota Tokyo menampung begitu banyak pergerakan sebagai dampak dari bermacam aktivitas yang dilakukan oleh penduduknya. Ditambah lagi Kota Tokyo merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi Jepang dan dunia yang menjadikannya sebagai salah satu negara tersibuk yang ada di dunia. Kondisi tersebut menyebabkan Kota Tokyo tak pernah tampak diam dari hilir mudik gerakan manusia dan gemerlapnya lampu dan listrik pusat kota. Untuk menangani hal tersebut, pemerintah Jepang dan Tokyo tidak hanya berhenti pada proses penyediaan moda transportasi yang mampu menampung seluruh permintaan warganya tetapi juga pada strategi efisiensi pelaksanaan sistem transportasi yang ada secara keseluruhan. Oleh karena itu, disediakanlah transportasi umum yang lebih bersifat kepada transportasi masal yang kapasitasnya mampu menampung banyak orang untuk sekali angkut yang akan terus berjalan dengan tepat waktu sepanjang harinya untuk melayani para penumpang. Hal tersebut menjadikan Tokyo sebagai kota dengan transportasi umum yang paling komprehensif sekaligus paling rumit. Transportasi umum Tokyo ini berbasis kereta yang hampir sama dengan kondisi keseluruhan daerah yang ada di Jepang, baik itu kereta listrik biasa, subway yang ada di bawah tanah, monorel yang hanya memiliki satu rel, dan kereta cepat yang menghubungkan Tokyo dengan prefektur lainnya yang ada di Jepang dengan perjalanan yang sangat cepat. Selain itu, dapat juga ditemukan beberapa bus dalam kota yang menghubungkan rute-rute dalam yang tidak dihubungkan oleh kereta atau bus antar kota yang menghubungkan Tokyo ke kota atau prefektur lain yang ada di Jepang.

Melalui banyaknya moda transportasi yang tersedia baik itu moda pribadi dan umum, Tokyo berusaha untuk melakukan integrasi transportasi multimoda. Bukan hanya untuk megintervensi keragaman moda agar lebih efisien, tetapi integrasi transportasi multimoda ini juga dilakukan untuk mengurangi emisi karbondioksida yang pada umumnya dikeluarkan oleh kendaraan pribadi bermotor yang akan mencemari lingkungan dan berkontribusi pada

global warming dan perubahan iklim. Selain itu, konsep transportasi multimoda ini juga menjadi salah satu faktor penting yang menjadikan Tokyo sebagai salah satu Smart City yang sukses di dunia dan dinobatkan sebagai kota layak huni berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Majalah Monocle Inggris sejak tahun 2006.

(8)

layanan transportasi. Dimana mayoritas masyarakat Jepang lebih memilih untuk berjalan kaki atau bersepeda sebelum menaiki transportasi umum, hanya sebagian kecil diantara mereka yang memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi bermotor untuk mencapai angkutan umum. Oleh karena itu, sirkulasi jaringan jalan serta pedestrian dan trotoar yang baik sangat diperlukan untuk mendukung keberjalanan transportasi multimoda. Yang kedua, adalah simpul trasportasi multimoda itu sendiri, yaitu dalam kasus angkutan umum di Tokyo dengan dilengkapi oleh tersedianya stasiun atau sarana transit penghubung yang berkesinambungan dan komprehensif dalam mendukung terciptanya keberjalanan sistem transportasi yang lebih efisien. Sementara itu, pemberhentian bus juga pada umumnya terletak di sekitar stasiun yang cenderung berukuran kecil atau dalam bentuk halte atau kantor kecil. Yang ketiga adalah terkait trayek atau media jalan untuk transportasi multimoda itu sendiri serta sistem yang menaunginya. Keterpaduan antara ketiga hal tersebut akan berkontribusi pada terwujudnya sistem integrasi transportasi yang efisien.

Gambar 3.1 Jalur Sepeda dan

Pedestrian Tokyo Gambar 3.2 Stasiun Tokyo

Gambar 3.3 Contoh Trayek Rel Kereta Shinkansen

Sumber: www.google.com

(9)

Selain itu, hal yang sangat penting adalah penggunaan kereta di Tokyo yang menggunakan energi listrik (KRL) menyumbang emisi karbon yang lebih rendah.

3. 2 Kebijakan Penyokong Sistem Integrasi Transportasi Multimoda di Tokyo

Pada keberjalanan pelaksanaan sistem integrasi transportasi multimoda yang ada di Tokyo pasti didukung atas keberadaan kebijakan-kebijakan yang terkait dengannya. Salah satunya adalah kebijakan terkait penggunaan kendaraan pribadi bermotor dan angkutan umum masal.

Gambar 3.4 Kegiatan di Penyebrangan Shibuya (Shibuya Crossing), Tokyo

Sumber: www.for91days.com

Pada gambar tersebut dapat diketahui bahwa jumlah pejalan kaki yang sedang menyebrangi jalan untuk menuju stasiun jauh lebih ramai ketimbang pengguna kendaraan pribadi bermotor yang tengah menunggu perubahan warna lampu lalu lintas dibalik garis

zebra cross persimpangan. Hal tersebut menunjukkan partisipasi masyarakat dalam menggunakan angkutan umum lebih besar daripada menggunakan angkutan pribadi bermotor. Hal ini diiringi dengan kebijakan pemerintah dalam mengalihkan pengguna kendaraan pribadi agar berganti pada penggunaan angkutan transportasi umum massal. Pada dasarnya pemerintah Tokyo dan Jepang secara umum tidak membatasi atau melarang secara langsung masyarakatnya untuk memiliki kendaaan bermotor, tetapi pemerintah melakukan intervensi dari segi eksternal. Adapun intervensi yang dilakukan oleh pemerintah adalah sebagai berikut:

1. Keberadaan lahan parkir yang terbatas, terlebih lagi kondisi lahan di Jepang secara umum sangat terbatas dan Tokyo yang padat penduduk memiliki lahan terbuka yang terbatas untuk memarkir kendaraan. Sementara itu, di Tokyo sendiri ditetapkan peraturan kapasitas parkir yang diberlakukan untuk beberapa aktivitas tertentu. Contohnya adalah untuk gedung pemerintahan berkapasitas parkir hanya sekitar 20-40 kendaraan setara sedan dan untuk gedung perdagangan dengan kapasitas 50-100 kendaraan.

(10)

3. Biaya masuk jalan toll yang cukup mahal dengan rentang harga sekitar 600-3000 yen atau 75 ribu – 360 ribu rupiah di Indonesia.

4. Harga BBM yang relatif tinggi per liternya tergantung dengan jenis BBM yang dikonsumsi.

5. Denda yang tinggi bagi pengemudi yang melakukan pelanggaran, bahkan untuk beberapa kasus tertentu pengemudi dapat dikenakan hukuman kurungan penjara. 6. Prosedur pengurusan perizinan kendaraan yang sulit dan ketat serta pajak

kendaraan yang cukup tinggi mempersulit pengguna kendaraan bermotor untuk mendapatkan izin atas kepemilikan kendaraannya. Selain itu, pemilik kendaraan juga harus menjamin keberadaan lahan parkir kendaraan miliknya sebelum dia membeli dan mengurus perizinan kendaraan tersebut.

Selain beberapa kebijakan yang dinyatakan di atas, pemerintah Tokyo dan Jepang secara umum juga lebih berpihak kepada penggunaan angkutan umum yang terlihat dari besarnya kompensasi yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan penyedia jasa angkutan umum. Hal tersebut dapat berupa kemudahan dan keringan pajak serta pemberian subsidi pada harga tiket angkutan umum agar lebih terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, pemerintah juga dengan rutin melakukan pengawasan terhadap kualitas sarana prasana dari angkutan umum terkait demi mempertahankan keamanan dan kenyamanan masyarakat yang menggunakan angkutan umum. Keberadaaan moda transportasi umum di Tokyo atau di Jepang secara umum tidak terlepas dari pengaruh perusahaan private dalam menyediakan moda dan jalur transportasi khususnya kereta yang mandiri secara finansial sehingga operasionalisasi moda-moda transportasi ini cenderung memberikan keuntungan dalam segi bisnis dan ekonomi. Berikut adalah skema pengelolaan sistem transportasi yang ada di Tokyo dan pemetaan bidang-bidang atau faktor-faktor yang berperan dalam pengembangan sistem transportasi yang ada di Tokyo.

Gambar 3.5 Skema The Quad

Helix Gambar 3.6 Pemetaan Bidang atau Faktor Utamadalam Sistem Transportasi Tokyo

Sumber: blog.bearing-consulting.com

(11)

yang menggunakan infrastrukturnya, transportasi itu sendiri sebagai objek utama, serta kondisi ekonomi lokal dan pembangunan yang mendukung infrastruktur transportasi tersebut.

3. 3 Adaptasi Penerapan Sistem Integrasi Transportasi

Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk menyatukan wilayah Indonesia secara terpadu antara satu dengan lainnya. Sampai kepada keluarnya arahan Kota Palembang sebagai model sistem transportasi multimoda yang terpadu. Namun, sampai saat ini Indonesia belum berhasil untuk melakukan hal tersebut. Apabila dibandingkan dengan kondisi Jepang seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya terdapat beberapa perbedaan antara Jepang dan Indonesia dalam menjalankan sistem transportasi multimoda terpadu ini. Hal tersebut menyebabkan sistem transportasi Jepang atau Tokyo secara spesifik tidak dapat diterapkan langsung di Indonesia mengingat keberadaan beberapa constraint. Oleh karena itu, salah satu hal yang dapat dilakukan Indonesia untuk meniru sistem transportasi Jepang adalah mengadapatasinya dengan bentuk yang masih mungkin diterapkan di Indonesia. Pada makalah ini, adaptasi tersebut akan dilihat dari tiga komponen pada sistem transportasi Jepang, yaitu seebagai berikut:

1. Sirkulasi jaringan jalan untuk pengguna angkutan umum sebelum mencapai angkutannya. Hal ini sangat berbeda dengan Indonesia mengingat masyarakat Indonesia didominasi oleh pengguna kendaraan pribadi bermotor. Sementara itu, sebagian besar kendaraan umum di Indonesia dapat dijangkau bahkan langsung di depan rumah pengguna. Hal ini dapat disiasati juga dengan kebijakan intervensi Jepang terhadap pengguna kendaraan pribadi bermotor yang dilakukan melalui intervensi sisi eksternalnya tidak dengan larangan penggunaan kendaraan bermotor secara langsung. Selain itu, membangun jalur sepeda dan pejalan kaki yang ramah lingkungan akan meningkatkan minat masyarakat untuk memilih berjalan atau bersepeda dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi bermotor yang pada akhirnya akan berkontribusi pada kemacetan dan cenderung memakan waktu yang panjang.

2. Simpul transportasi. Mengingat transportasi umum di Indonesia sangat berbeda dengan Jepang maka terkait sistem simpul transportasi ini sangat berbeda. Jepang yang didominasi oleh kendaraan umum berkapasitas banyak orang mempermudahnya dalam mengorganisir dan mengelola simpul transportasinya. Namun, Indonesia yang cenderung memiliki kendaraan umum berkapasitas kecil juga akan tetap menyumbang potensi kemacetan lalu lintas yang sangat tinggi ditambah dengan pengemudi atau pengguna kendaraan umum tersebut yang melanggar aturan atau minimnya ketersediaan halte atau terminal tempat kendaraan umum berhenti sementara untuk menarik penumpang sehingga kendaraan umum tidak berhenti sembarangan di tengah-tengah trayek atau jalan dan menimbulkan kemacetan.

(12)
(13)

BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari hasil penulisan sesuai dengan hasil pembahasan tema yang diangkat dan rekomendasi terkait topik penulisan tersebut.

4. 1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Tokyo sebagai salah satu kota yang paling padat dan paling sibuk di dunia mampu mengendalikan keberjalanan sistem transportasinya dengan tetap memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang banyak dengan pelayanan dan pengawasan yang baik. Hal tersebut dilakukan Tokyo dengan menerapkan sistem integrasi transportasi multimoda dalam mengangkut masyarakatnya yang hendak berkegiatan. Keberhasilan sistem tersebut juga didorong dengan jumlah pengguna angkutan umumnya lebih besar dibandingkan dengan pengguna kendaraan pribadi bermotor. Keadaan tersebut juga tidak dapat terlepas dari intervensi pemerintah lokal maupun nasional dalam mengarahkan masyarakat untuk lebih memilih kendaraan umum. Selain itu, adanya kerjasama antara berbagai pihak membantu semakin lancarnya sistem transportasi terintegrasi ini. Namun, mengingat karakteristik fisik lingkungan, ekonomi, sosial, sarana prasarana serta kelembagaan dan pembiayaan yang ada di Indonesia berbeda dengan karakteristik yang ada di Jepang atau Tokyo secara khusus, Indonesia tidak dapat langsung mengadopsi sistem transportasi mereka. Melainkan Indonesia harus melakukan evaluasi dan adaptasi sistem transportasi tersebut guna menyesuaikannya dengan kondisi eksisting yang dihadapi di Indonesia.

4. 2 Rekomendasi

(14)

DAFAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2013. Langkah Pemerintah Jepang Alihkan Pengguna Kendaraan Pribadi ke Angkutan Umum. Tersedia dalam hubdat.dephub.go.id/berita/1186-langkah-pemerintah-jepang-alihkan-pengguna-kendaraan-pribadi-ke-angkutan-umum

Islam, Shamas Ul, dkk. A Dynamic Multi-modal Transport Simulation Model.

Nirmala. 2017. Mengapa Harus Angkutan Multimoda?. Tersedia dalam business-law.binus.ac.id/2017/06/30/mengapa-harus-angkutan-multimoda/

Novitasari, Shanila Dwi. 2010. Sistem Transportasi Publi dan Hubungannya dengan Efisiensi dan Keberlanjutan Lingkungan.

Roic, Maja. 2015. Multimodal Transport and Railway Systems – Tokyo Station City.

Gambar

Gambar 3.1 Jalur Sepeda dan
Gambar 3.4 Kegiatan di Penyebrangan Shibuya (Shibuya Crossing), Tokyo
Gambar 3.5 Skema The Quad

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu untuk mengidentifikasi kebijakan pemerintah dan kesiapan masyarakat terkait pembangunan BIJB perlu adanya penelitian mengenai mengidentifikasi kebijakan

Bagi yayasan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk menilai kebijakan dan merumuskan kembali kebijakan yang tepat terkait dengan pelaksanaan strategi

Bagi yayasan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk menilai kebijakan dan merumuskan kembali kebijakan yang tepat terkait dengan pelaksanaan strategi

Berdasarkan apa yang sudah disampaikan pada pembahasan di atas, maka penulis berkesimpulan bahwa kedudukan kebijakan asimilasi dan hak integrasi bagi warga binaan

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan, maka peneliti mencoba untuk memberikan beberapa rekomendasi yang terkait dengan implementasi kebijakan izin mendirikan

Hasil penelitian mewujudkam bahwa kebijakan asimilasi dan hak integrasi bagi narapidana dalam hukum penetensier atau hukum pelaksanaan pemidanaan adalah merupakan bagian

Sedangkan upaya-upaya terkait perubahan iklim yang dilakukan di tingkat kota antara lain adalah dengan sinkronisasi kebijakan, yaitu integrasi Rencana Aksi Daerah Pengurangan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karya utama dari pelaksanaan kegiatan pengabdian ini yaitu pemaparan materi terkait aplikasi Quizziz, yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan dan pendampingan