Valuasi Entitas Bisnis dalam rangka Merg

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Valuasi Entitas Bisnis dalam rangka Merger Pada

Bank Perkreditan Rakyat ABC

Dosen : Sri Gunawan, DBA

Oleh :

Bobby Permana 041324353030

Program Studi Magister Manajemen

(2)

I.1. Pendahuluan

Perekenomian suatu negara bisa menjadi acuan untuk melihat apakah negara tersebut makmur dan sejahtera atau tidak. Aktivitas perekonomian suatu negara saat ini tidak lagi dibatasi dengan batas negara. Hal ini dikarenakan para pelaku bisnis suatu negara bisa mengembangkan usaha bisnisnya di negara lainnya selain di negara dimana mereka berasal. Dengan adanya hal tersebut maka diperlukan peran dari perbankan untuk mengatur lalu lintas pembayaran maupun penerimaan dari hasil kegiatan usaha para pelaku bisnis.

Perbankan sendiri selain berfungsi menyalurkan kredit dan menghimpun dana, mereka juga berfungsi sebagai bank devisa yang artinya bisa memberikan fasilitas bagi pengusaha eksportir maupun importir untuk melakukan perdagangan dengan perusahaan di negara lain. Perbankan di indonesia sudah ada sejak tahun 1828 dengan berdirinya De Javasche Bank, NV yang didirikan di Batavia dengan berfungsi sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi dalam negeri dan penjualan ke luar negeri (

http://www.bi.go.id/id/tentang-bi/museum/sejarah-bi/pra-bi/Documents/e5623c7159474dd0a0b23d1befc1c491SejarahPerkembanganBankSentraldiNu santara.pdf). Pada perkembangannya, muncullah bank sentral yakni Bank Indonesia yang bertugas untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran dan memelihara stabilitas sistem keuangan dengan bertujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah (Undang-Undang Nomer 10 Tahun 1998).

Indikator kesuksesan perekonomian suatu negara bisa dilihat dari aktivitas perbankan dan sistem keungan di negara tersebut. Krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada tahun 1998 di awali dari rontoknya perbankan dan sistem keuangan di Indonesia sehingga mengakibatkan Ekonomi Indonesia saat itu mengalami depresiasi Rupiah yang tajam dan inflasi harga-harga barang.

Perbankan di Indonesia secara garis besar dibagi menjadi dua kategori besar yakni Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Perbedaan di antara keduanya yakni bahwa Bank Perkreditan Rakyat tidak diperbolehkan memberikan jasa lalu lintas pembayaran. Mereka hanya dibatasi dengan kegiatan menyalurkan dan menghimpun dana dari masyarakat. Dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya, Bank Perkreditan Rakyat juga bisa menerepakan strategi korporasi dan bisnis sama dengan usaha bisnis lainnya.

(3)

Differentiation. Namun, pada perkembangannya strategi integrasi merupakan bagian dari strategi bisnis (Rothaermael, Hal. 155).

Merger merupakan strategi untuk menggabungkan dua usaha atau lebih dimana hanya membiarkan satu usaha tetap berdiri (Rothaermael, Hal 238). Merger bertujuan untuk mengembangkan perusahaan untuk menjadi lebih besar baik dari segi asset, omzet penjualan dan cakupan luas wilayah yang dilayani untuk aktivitas bisnis.

Bank Mandiri merupakan contoh sukses merger dari sektor perbankan. Bank mandiri merupakan hasil merger dari empat bank yang dimiliki oleh pemerintah yakni Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), Bank Ekspor Impor (Bank Exim) dan Pembangunan Indonesia (Bapindo). Kesuksesan tersebut bisa dilihat dari asset, pinjaman, laba yang dihasilkan dan deposit yang ada pada Bank Mandiri dimana Bank Mandiri dinobatkan menjadi salah satu Bank Terbesar di Indonesia.

Aktivitas merger saat ini dianggap peluang dan kesempatan bagi usaha perbankan di tengah-tengah melambatnya ekonomi dan juga jawaban dari tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal ini dikarenakan merger berfungsi untuk melakukan konsolidasi di antara bank-bank yang melakukan merger. Merger juga berfungsi untuk melakukan penghematan biaya, hal ini dikarenakan ketika merger terjadi maka standar biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan di seragamkan untuk semua entitas bisnis yang tergabung dalam merger.

Merger yang tidak direncanakan dengan baik dan tidak tepatnya valuasi nilai perusahaan bisa menimbulkan masalah pasca merger sebagaimana yang terjadi pada AOL-Time Warner, Vodafone-Mannesmann, France Telecom-Orange, Qwest-US West, Daimler Benz-Chrysler, Deustche Telecom-Voicestream, JDS Uniphase-SDL. (Rothaermael, Hal. 242). Oleh karena itu, perlu dilakukan perencanaan yang baik dan valuasi nilai perusahaan yang tepat guna menjamin kesuksesan merger pasca merger.

(4)

Rencana merger yang akan dijalankan oleh BPR ABC akan melibatkan 4 entitas bisnis yakni BPR ABC, BPR DEF, BPR GHI, BPR JKL dimana dalam merger tersebut mengizinkan BPR Wilis Arta Makmur untuk berdiri dan beroperasi secara komersial pasca merger. Sedangkan, BPR DEF, BPR GHI, BPR JKL dan BPR ABC melebur menjadi BPR XYZ.

Berdasarkan Simon Kwan dalam FRBSF Economic Letter mengenai Banking Consolidation mengungkapkan bahwa ada empat faktor yang mendorong dilakukannya merger bagi perbankan. Yakni, Economic of Scale, Economic of Scope, Potential for Risk Diversification, bank managements’ personal incentives. (Kwan, Simon. FRBSF Economic Letter Number 2004-15, June 18, 2004)

Dengan adanya Merger diharapkan bisa melipatgandakan total pendapatan perusahaan dan mendapatkan kapitalisasi pasar yang besar. Berikut data kinerja keuangan empat entitas bisnis yang akan melakukan merger sebagaimana kinerja perusahaan pada tahun 2014 yang ditampilkan pada tabel di bawah ini :

Nama BPR Total Asset Total Hutang Total Ekuitas

ABC 143.328.510.092 126.414.351.423 16.914.158.670

DEF 101.418.134.689 88.830.008.257 12.588.126.432

GHI 42.371.594.991 36.931.906.409 5.439.688.583 JKL 25.744.188.656 22.927.329.771 2.816.858.885

Nama BPR Pendapatan DEF 12.323.150.989 8.507.310.988 69,04% 3.022.447.568 GHI 5.565.796.030 3.990.742.254 71,7% 1.249.436.714 JKL 5.829.509.854 4.941.220.663 84,76% 807.048.124 Sumber : Data diolah dari Laporan Keuangan masing-masing entitas bisnis

Merujuk pada tabel di atas perlu dilakukan valuasi nilai perusahaan dari empat entitas bisnis yang terlibat dalam merger sehingga bisa memaksimalkan nilai perusahaan pasca merger, mencapai Economic of Scale, Economic of Scope dan meminimalkan potensi resiko dengan diversfikasi sehingga bisa menguntungkan bagi pemegang saham, kreditur, debitur dan para karyawan entitas bisnis tersebut. Oleh karena itu, maka dengan ini saya mengajukan

judul thesis

“Valuasi Entitas Bisnis dalam rangka Merger Pada Bank

(5)

I.2. Rumusan Masalah

a) Bagaimana valuasi entitas bisnis yang melakukan merger guna menghasilkan nilai perusahaan yang optimal?

b) Bagaimana proses merger yang akan dilalui perusahaan?

I.3. Tujuan Penelitian

a) Untuk mengetahui valuasi entitas bisnis yang paling optimal

b) Untuk menjelaskan proses merger yang akan digunakan perusahaan

I.4. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang akan diambil oleh penulis, yakni Kantor BPR ABC yang beralamatkan di Jember.

I.5. Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka manfaat penelitian yang bisa diambil, yakni :

a) Bagi peneliti

 Untuk mengetahui valuasi bisnis yang optimal bagi perusahaan yang melakukan merger.

 Untuk mengetahui tahapan merger yang dijalani oleh perusahaan yang melakukan merger.

b) Bagi perusahaan

 Dapat dijadikan acuan untuk melakukan merger pada saat proses merger dilakukan.

I.6. Batasan Penelitian

Penelitian ini menganalisa objek penelitian yang hanya berkaitan dengan PT. BPR ABC, PT. BPR DEF, PT. BPR GHI, PT. BPR JKL.

I.7. Design Penelitian

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...