BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebijakan pendidikan yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 10 Tahun 2012 tentang Penyelengaraan
Pendidikan, selanjutnya perda ini disosialisasikan sebagai Kalteng Harati yang bermakna penyelengaraan pendidikan Kalimantan Tengah yang berkarakter. Kebijakan ini dibuat adalah untuk menciptakan pendidikan berkualitas dan terakses serta merata, meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, kualitas atau mutu dan relevansi, kesetaraan dan kepastian memperoleh layanan pendidikan dan meningkatkan pemenuhan 8 (delapan) standar nasional pendidikan (standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan; dan standar penilaian pendidikan). Kebijakan tersebut dibuat untuk mencapai visi pembangunan Kalimantan Tengah tahun 2010-2015 yaitu
“meneruskan dan menuntaskan pembangunan Kalimantan Tengah agar rakyat lebih sejahtera dan bermartabat demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”.
Dalam hal ini Dinas Pendidikan merupakan penggerak pencapaian kebijakan tersebut. Program yang dibuat seharusnya mampu mengatasi persoalan pendidikan ditengah keterbatasan sumberdaya. Fakta dilapangan menyebutkan bahwa terdapat permasalahan mengenai (1) masih banyaknya guru tidak pernah mendapatkan pelatihan; (2) tingkat kesejahteraan guru terutama yang bertugas di daerah pedalaman atau terpencil sangat kurang; (3)
adanya siswa berprestasi yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena faktor ekonomi tidak mampu; dan (4) kurangnya buku pelajaran pegangan siswa, guru dan perpustakaan sangat kurang dan tidak sesuai dengan tuntutan
kurikulum.
Seperti diketahui bersama bahwa pendidikan merupakan dasar untuk mencapai kemajuan dimasa depan. Visi Provinsi Kalimantan Tengah yang ingin membangun pendidikan berkualitas dan terakses serta merata harus mempunyai muara yang jelas. Kualitas dalam bidang pendidikan, terakses, serta merata di seluruh wilayah Kalimantan Tengah pastilah memerlukan usaha keras dan prioritas pemerataan. Keterbatasan sumberdaya merupakan permasalahan krusial sehingga prioritas pemerataan harus dibuat setahap demi setahap, sehingga proses pemerataan pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh penduduk Kalimantan Tengah.
Pendidikan menempati posisi penting dalam pembangunan sebuah bangsa. Pendidikan memberikan kontribusi pemecahan terhadap persoalan yang tidak bisa dipecahkan oleh masyarakat modern. Oleh karenanya, salah satu kebijakan dasar bangsa yang progresif, harus membangun, menyediakan, dan mendukung kualitas pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan kekinian warga negaranya (John & Morphet, 1975). Pemerintah melalui kebijakan pendidikan mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional dibidang masing-masing.
Terdapat empat isu kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang perlu direkonstruksi dalam rangka otonomi daerah. Menurut Sidi (2000)
mengemukakan empat isu kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang perlu direkonstruksi dalam rangka otonomi daerah. Hal tersebut berkaitan
pendidikan, peningkatan relevansi pendidikan dan pemerataan pelayanan pendidikan. Keempat hal itu dijelaskan sebagai berikut:
1) Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan dengan menetapkan tujuan dan standar kompetensi pendidikan, yaitu melalui konsensus nasional antara pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat. Standar kompetensi yang mungkin akan berbeda antar sekolah atau antar daerah akan menghasilkan standar kompetensi nasional dalam tingkatan
standar minimal, normal (mainstrem), dan unggulan.
2) Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan mengarah pada
pengelolaan pendidikan berbasis sekolah, dengan memberi kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk mengoptimalkan sumberdaya yang tersedia bagi terciptanya tujuan pendidikan yang diharapkan.
3) Peningkatan relevansi pendidikan mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat. Peningkatan peran serta orang tua dan masyarakat pada level kebijakan (pengambilan keputusan) dan level operasional melalui komite (dewan) sekolah. Komite ini terdiri atas kepala sekolah, guru senior, wakil orang tua, tokoh masyarakat dan perwakilan siswa. Peran komite meliputi perencanaan, implementasi, monitoring, serta evaluasi program kerja sekolah.
4) Pemerataan pelayanan pendidikan mengarah pada pendidikan yang berkeadilan. Hal ini berkenaan dengan penerapan formula pembiayaan pendidikan yang adil dan transparan, upaya pemerataan mutu pendidikan dengan adanya standar kompetensi minimal serta pemerataan pelayanan pendidikan bagi siswa pada semua lapisan masyarakat.
Disadari atau tidak, pendidikan mampu mengubah paradigma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kurangnya kompetensi dan daya saing juga dapat diubah melalui pendidikan sehingga jika Indonesia menginginkan kompetensi dan daya saing sumberdaya manusianya meningkat maka pendidikan harus mendapatkan porsi prioritas. Prioritas disini dimaksudkan agar pendidikan mendapatkan perhatian yang lebih, baik dalam segi sumber daya (potensi) untuk pendidikan itu sendiri maupun penunjang lainnya. Pendidikan sebagai proses dalam kehidupan memang sudah semestinya mendapatkan ruang yang lebih luas dalam arti yang sebenarnya.
Pemetaan pendidikan untuk kebutuhan masyarakat memegang peranan penting dalam penentuan kualitas pendidikan, menentukan prioritas
sangat penting dalam pencapaian program pendidikan di Provinsi Kalimantan Tengah.
Dalam pendidikan, hal penting yang tidak bisa diabaikan adalah pentingnya sumber daya (terutama manusia) yang harus mendapat perhatian serius dari semua stakeholder. Meningkatkan mutu sumber daya manusia harus melalui proses pendidikan pula, bukan secara tiba-tiba untuk menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan yang semakin hari semakin cepat. Proses peningkatan kualitas sumberdaya ini akan mampu mengadopsi perubahan dan memampukan anak didik untuk mengikuti perubahan atau bahkan bisa membuat perubahan ketika berkarya di tengah masyarakat.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam membuat kebijakan pendidikan dimana faktor tersebut mencakup pembentukan jiwa belajar seumur hidup bagi semua warga masyarakat, otonomi pendidikan yang dilakukan oleh institusi pendidikan, peningkatan kualitas tenaga pendidik, ketersediaan
anggaran pendidikan, sarana dan prasarana, mutu pendidikan yang dihasilkan, kesetaraan pendidikan dan kesempatan pendidikan bagi semua warga
masyarakat Kalimantan Tengah. Kualitas pendidikan seperti yang disebutkan dalam Kalteng Harati harus mempunyai makna, kualitas pendidikan tidak semata-mata pada pencapaian kemampuan anak didik untuk menguasai pelajaran yang diberikan oleh sekolah tetapi harus lebih luas maknanya.
Kurikulum pendidikan memegang peranan penting yaitu untuk mencapai tujuan pendidikan. Penerapan sebuah kurikulum akan membawa implikasi pada penerapan pembelajaran yang terarah sehingga tujuan dari pendidikan dapat terencana dengan baik.
kepada anak didik. Hal ini membutuhkan proses yang cukup panjang dan dapat melihat hasilnya 5 atau 10 tahun mendatang. Proses pendidikan ini mampu merubah anak didik sesuai dengan tujuan pembangunan bangsa.
Secara umum, jika sumber daya manusia telah dipersiapkan secara matang dan profesional, maka hal tersebut dapat memberikan dampak pada peningkatan mutu pendidikan. Hal yang menunjang dalam peningkatan mutu pendidikan bukan fasilitas gedung ataupun sinkronisasi antara kompetensi dengan sistem saja. Justru penunjang utama yaitu sumber daya manusia, peserta didik, proses, konteks, serta hasil pendidikan itu sendiri yang menentukan kesuksesan mutu pendidikan dalam sebuah Negara (Winarno 2003). Hal itu menunjukkan bahwa sumber daya manusia yang menjadi penentu dalam pendidikan. Dengan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang handal, serta berkompetensi dalam bidangnya, maka pendidikan akan semakin berkembang dan maju.
Pemerintah dalam hal ini harus benar-benar memperhatikan secara serius persoalan pendidikan. Bangsa yang maju, tidak terlepas dari kemajuan pendidikannya. Sistem pendidikan yang ada patut dibenahi oleh semua pihak yang berwenang. Pendidikan untuk kemajuan, itulah yang harus dicanangkan. Pendidikan untuk kemajuan dalam hal ini tentu saja bukan untuk golongan atau etnis tertentu, tetapi, pendidikan untuk kemajuan bersama yaitu kemajuan bangsa dan kemajuan pendidikan itu sendiri.
Pendidikan yang berkualitas, mudah diakses, serta merata pada semua lapisan masyarakat adalah sebuah dambaan bagi setiap masyarakat Indonesia dan sekaligus merupakan amanat penting yang harus diwujudkan oleh negara dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang
telah diatur dengan tegas antara lain pada Bab XIII pasal 31 ayat 1: setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; ayat 2: setiap warga negara wajib
mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; ayat 3: pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang Undang; ayat 4: negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; ayat 5: pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Jika kita cermati pasal 31 ini sungguh sangat dalam maknanya, dimana pasal ini mengamanatkan betapa penting dan mendesaknya persoalan “hak” bagi setiap warga negara Republik Indonesia untuk memperoleh jaminan pelayanan pendidikan yang berkualitas dan dapat diakses dengan mudah, merata dan tidak ada diskriminasi. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional pada pasal 3 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 yaitu “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab” sangat jelas bahwa sesungguhnya kualitas pendidikan tidak hanya ditujukan untuk
mengembangkan aspek intelektual tetapi juga mengembangkan karakter kepribadian peserta didik. Pendidikan nasional yang bermutu tidak hanya
dan kepribadian yang dapat mengantarkan Indonesia menuju bangsa yang modern dan madani.
Selama beberapa dekade ini dipahami bahwa pendidikan sebagai bentuk pelayanan sosial yang harus diberikan oleh pemerintah kepada
masyarakat. Dalam konteks ini pelayanan pendidikan sebagai bagian dari public service atau jasa layanan umum dari negara kepada masyarakat yang tidak
memberikan dampak langsung bagi perekonomian masyarakat, dan karenanya tidak perlu memperoleh anggaran yang cukup untuk pembangunan pendidikan. Di samping itu juga, tidak menarik untuk menjadi tema utama dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.
Pemerintah berkeyaninan bahwa pendidikan merupakan pondasi bagi kemajuan pembangunan di segala sektor. Penetapan minmal anggaran Negara sebesar 20% untuk sektor pendidikan penulis pahami sebagai cara berpikir pemerintah memahami dan memposisikan manusia sebagai kekuatan utama sekaligus prasyarat bagi kemajuan pembangunan sektor-sektor pembangunan lainnya. Pemikiran ilmiah dalam pidato Theodore Schultz (1960) menyatakan bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi. Perkembangan tersebut telah memengaruhi pola pemikiran berbagai pihak, termasuk pemerintah, perencana, lembaga-lembaga internasional, para peneliti dan pemikir modern lainnya, serta para pelaksana dalam pembangunan sektor pendidikan dan pengembangan SDM. Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investment), dan menjadi "leading sector" atau salah satu sektor utama. Oleh karenanya perhatian pemerintah
dengan sektor lainnya akibatnya keberhasilan investasi pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.
Beberapa peneliti neoklasik lain, telah dapat meyakinkan kembali secara ilmiah akan pentingnya manusia yang terdidik guna menunjang pertumbuhan ekonomi secara langsung pada seluruh sektor pembangunan makro lainnya. Atas dasar keyakinan ilmiah itulah, akhirnya Bank Dunia kembali merealisasikan program bantuan internasionalnya di berbagai negara. Kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ini menjadi semakin kuat setelah memperhitungkan efek interaksi antara pendidikan dan investasi fisik lainnya. Artinya, investasi modal fisik akan berlipat ganda nilai tambahnya di kemudian hari jika pada saat yang sama dilakukan juga investasi sumber daya manusia (SDM), yang secara langsung akan menjadi pelaku dan pengguna dalam investasi fisik ini.
Sekarang telah diakui oleh banyak negara bahwa pengembangan sumber daya manusia suatu negara adalah unsur pokok bagi kemakmuran, pertumbuhan dan untuk penggunaan yang efektif atas sumber daya modal fisiknya. Investasi dalam bentuk modal manusia adalah suatu komponen integral dari semua upaya pembangunan. Pendidikan harus meliputi suatu spektrum yang luas dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Sejak awal para ekonom sering mengaitkan antara pendidikan (tempat melakukan pengembangan sumber daya manusia) dan pertumbuhan ekonomi. Adam Smith sebagai ekonom terkenal menitikberatkan pada tindakan
pengetahuan dan keterampilan, sehingga pekerja hanya dibekali tentang kesamaan.
Sarana prasarana pendidikan akhir-akhir ini berkembang secara pesat. Persoalan pokok yang perlu mendapat perhatian adalah pertanggungjawaban pengelolaannya. Apakah sudah mengarah pada pembentukan human capital, di mana lulusan benar-benar memiliki: keterampilan-keterampilan, kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan secara mandiri, keuletan ketakwaan, motivasi, kepribadian, loyalitas, kesetiakawanan, berjiwa sosial, dan lain-lainnya. Dari banyak penelitian (Schultz, Harbison dan lain-lain) membuktikan bahwa pendidikan yang efisien (efektif & ekonomis) berdampak pada kemampuan tenaga kerja dalam berperan di bidangnya masing-masing. Akibat lebih lanjut hasil kerja mereka akan optimum, sehingga lembaga di mana mereka bekerja meningkat produktifitasnya. Dengan peningkatan produktivitas ini jelas akan mengangkat produktivitas nasional. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dan bidang lain pun akan mengalami kenaikan.
Realita ini telah membuktikan bahwa melakukan pembangunan di bidang pendidikan adalah salah satu kunci utama bagi pertumbuhan ekonomi dan percepatan pencapaian kesejahteraan masyarakat. Di Jepang dan negara tetangganya Korea dan Taiwan telah membuktikan terjadi kenaikan pendapatan perkapita sehubungan dengan adanya peningkatan pendidikan. Hal ini
hendaknya dijadikan contoh nyata dalam mengambil kebijakan dalam
pembangunan. Dengan mengesampingkan pembangunan di dunia pendidikan akan berakibat runtuhnya pondasi atau dasar pembangunan bangsa. Investasi pada dunia pendidikan merupakan investasi yang tidak dapat dituntut untuk menghasilkan barang dalam waktu dekat. Pengalokasian dana di dunia
dunia pendidikan akan berjalan setapak demi setapak. Pada diri manusia yang telah terdidik terbentuk kemampuan dasar untuk pengembangan diri sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia terdidik dapat melakukan pembelajaran sendiri sehingga kemampuannya dapat meningkat terus. Hal seperti ini, menuntut kesabaran dan ketelitian dalam studi yang mengukur efisiensi penanaman modal di dunia pendidikan.
Lembaga pendidikan sebagai sarana penting pembentuk manusia di masa depan dalam operasionalnya tidak dapat dilepaskan dari unsur pendanaan. Masing-masing negara mempunyai prospektif yang berbeda terhadap fungsi lembaga pendidikan. Konsekuensinya pengalokasian anggaran pendidikan juga berbeda-beda. Semakin tinggi tingkat kesadaran pejabat negara atas
kepentingan lembaga pendidikan, semakin tinggi penetapan anggaran
pendidikan dalam kebijakannya, demikian sebaliknya (kesadaran pejabat negara terhadap kepentingan pendidikan mempunyai hubungan positif dengan besar anggaran dunia pendidikan). Sumber pembiayaan pendidikan dapat
dikategorikan menjadi dua yaitu dari pemerintah dan masyarakat. Pihak
pemerintah pun dapat dikelompokkan menjadi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Adapun di kalangan masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai:
masyarakat umum dan orang tua siswa. Mengingat adanya beberapa pihak yang harus terlibat dalam hal penyandang dana pendidikan maka perlu dicermati unsur kejelasan dalam kontribusinya.
berbagai ketidaksiapan pelaksanaannya, sehingga menimbulkan banyak polemik.
Pendidikan kejuruan menuntut adanya anggaran yang tinggi, karena dana untuk mendukung terlaksananya praktik sangat besar. Di samping itu peralatan yang digunakan praktik harus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga penggantian mesin-mesin atau alat-alat praktik berganti terus. Semakin maju dan cepat perkembangan teknologi, semakin cepat pula penggantian peralatan praktikum. Pendidikan di bidang eksakta yang memerlukan praktik maupun workshop mempunyai tipe yang sama dengan pendidikan kejuruan dalam masalah penyediaan alat-alat praktikum. Di samping peralatan yang harus cepat disesuaikan dengan perkembangan teknologi, bahan-bahan yang akan digunakan untuk praktik pun tidak murah.
Permasalahan pendidikan yang dihadapi Pemerintah Indonesia
memang sangat kompleks, selain menyediakan pendidikan bagi penduduk usia belajar yang jumlahnya begitu besar, kita menghadapi perubahan dan
perkembangan teknologi dan informasi yang begitu deras, yang tidak diimbangi peningkatan mutu sumber daya pembelajaran, termasuk dalam hal peningkatan mutu guru, kurikulum, alat pembelajaran, dan lainnya.
Ketertinggalan dalam hal mutu sumber daya pembelajaran ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah. Melihat kompleksnya isu pendidikan yang dihadapi pada Abad 21 ini dan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, diperlukan kajian terhadap sistem pendidikan di Indonesia beserta kebijakan yang mendukungnya.
dapat diidentifikasi dari masalah yang disebabkan oleh kebijakan pendidikan yang ada, termasuk isu-isu pendidikan yang berkembang. Kelemahan peningkatan pendidikan yang telah dilaksanakan pada periode 1998-2004 terletak dari sudut pandang pengelolaan pendidikan.
Pendidikan membutuhkan proses yang panjang, bukan hanya target-target instan yang tak akan bertahan dalam jangka panjang apalagi berhenti pada angka capaian ujian. Saat ini capaian rata-rata nilai ujian nasional murni tahun 2010/2011 adalah 6,8 atau peringkat 32 diantara seluruh Provinsi di Indonesia. Tujuan pendidikan yang terdapat dalam undang-undang tidak dapat dilaksanakan dengan sudut pandang pragmatis atau realistis. Mutu pendidikan di Indonesia tidak akan dapat melampaui mutu pendidikan negara lain, atau tujuan pendidikan nasional tidak akan dapat dicapai tanpa perencanaan jangka panjang dan jangka menengah yang berkesinambungan.Tujuan pendidikan selama ini tidak pernah diterjemahkan secara operasional. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan, efisien, dan efektif akan mampu mendukung terlaksananya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan bangsa dan memajukan budaya nasional.
pendidikan nasional (Maskuri; 2006), pendidikan kejuruan dengan sistem
kemitraan antara dunia usaha industri, Sekolah Menengah Kejuruan dan Majelis Sekolah dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia dilakukan oleh Yunus (2006) dan perencanaan jangka panjang agar tujuan pendidikan tercapai seperti yang dicita-citakan (Irianto; 2009).
Permasalahan diatas dikerucutkan pada isu besar yaitu mutu pendidikan, kualitas guru, relevansi pendidikan, pemerataan pelayanan pendidikan dan anggaran. Isu-isu tersebut harus dikelola dengan baik agar capaian pendidikan dapat memberikan nilai tambah bagi Provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini semakin menarik ketika pada tahun 2010 muncul gagasan baru di bidang pendidikan yang di namakan “Kalteng Harati” yang diartikan sebagai Kalteng yang cerdas dan berkarakter. Program ini memiliki beberapa fokus penting, yaitu masalah kesejahteraan guru, beasiswa untuk siswa berprestasi, penyediaan dan pendistribusian buku-buku pelajaran serta meningkatkan kualitas mutu belajar-mengajar. Seperti dikutip dari Harian Tabengan, Palangka Raya, 1 Juli 2010 disebutkan bahwa lahirnya gagasan tersebut dilatarbelakangi
tiga persoalan mendasar yaitu hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2010, persoalan keterbatasan guru yang masih terjadi di Kalimantan Tengah dan tantangan ke depan yang lebih berat seiring makin gencarnya arus globalisasi.
Gagasan Kalteng Harati sesuai dengan visi Kementerian Pendidikan Nasional untuk membentuk insan Indonesia, cerdas dan komprehensif dan kebijakan pendidikan yang didasarkan pada lima pilar (5 K): ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan dan kepastian. Gagasan ini paralel dengan gagasan Walikota untuk menjadikan Kota Palangka Raya sebagai kota
(kesadaran diri), empati dan asertif. Sikap atau perbuatan demikian lahir dari suatu kecerdasan dan kepekaan perasaan.
Agar suatu pendidikan dapat terarah dengan baik dan dapat mencapai suatu tujuan yang diharapkan maka diperlukan suatu kebijakan yang terorganisir. Dalam dunia pendidikan, para perumus kebijakan selain membuat kebijakan sesuai dengan kondisi yang ada juga dapat memberikan peran yang besar dalam memberikan koreksi terhadap berbagai ketidaktepatan dalam perumusan
berbagai kebijakan pendidikan yang telah dihasilkan oleh pemerintah selama ini. Beberapa peraturan daerah yang telah berjalan guna meningkatkan kualitas pendidikan di Kalimantan Tengah sebagaimana penulis kutip dari website Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, diantaranya adalah upaya peningkatan mutu pendidikan dengan program Kurikulum PAUD diarahkan pada perkembangan perilaku, dan kemampuan dasar anak usia dini, kurikulum yang ditawarkan merujuk kepada panduan yang disusun BSNP. Kurikulum SD/MI/Sederajat diarahkan untuk membentuk peserta didik agar memiliki kemampuan membaca dan menulis, kecakapan
berhitung, kemampuan berkomunikasi, moral dan akhlak mulia; Kurikulum yang ditawarkan merujuk kepada panduan yang disusun
BSNP;Pembelajaran bahasa asing seperti Inggris, Arab, Mandarin dan sebagainya disampaikan secara aktif (active speaking) dalam pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas;Mata pelajaran yang bersifat
keterampilan (skill) seperti seni, olahraga, kerajinan tangan, pertanian dan sebagainya diarahkan kepada pembentukan kecakapan
psikomotorik;Kurikulum tambahan sebagai keunggulan madrasah/sekolah; Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dilakukan
Pembelajaran (RPP); Materi muatan lokal diarahkan untuk menunjang kompetensi dasar dan mata pelajaran utama; danPenguatan kompetensi dan skill peserta didik diarahkan pada potensi daerah atau kearifan lokal.
Kebijakan yang dilakukan adalah upaya untuk meningkatkan kelulusan dengan program kompetensi lulusan diarahkan pada pembentukan sikap mandiri, berani, bersosialiasi, berinteraksi dengan lingkungannya. Kompetensi lulusan diarahkan pada peletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Kemudian peningkatan mutu pendidik juga cukup di perhatikan oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah hal ini tercermin dari beberapa program pemerintah daerah yang mengacu pada peningkatan kualitas pendidik seperti program rekruitmen tenaga pendidik harus memenuhi standar: a) lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang terakreditasi; b) berkualifikasi minimal sarjana/S1/D-IV; c) memiliki sertifikat profesi guru; d) memiliki minat dan bakat untuk menjadi guru; e) memiliki kepribadian yang menarik dan unggul; f) sehat jasmani dan rohani; dan g) lulus tes dan/atau assesment skolasti.
Kemudian Kriteria untuk menjadi Kepala Sekolah SMP/MTs/SMA/MA berstatus sebagai guru SMP/MTs, SMA/MA/SMK/MAK : diantaranya adalah pengalaman mengajar di SMP/MTs, SMA/MA/ SMK/MAK minimal 5 tahun menurut jenis dan jenjang sekolah/madrasah; memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S1)/D-IV kependidikan;khusus untuk kepala SMA/MA/SMK sederajat diutamakan memiliki kualifikasi pendidikan magister (S2) dari perguruan tinggi yang terakreditasi; memiliki kompetensi sebagai agen
pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi guru yang bukan PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang dibuktikan dengan SK inpasing; memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan; lulus seleksi dan orientasi kepala sekolah yang dibuktikan dengan sertifikat; lulus sertifikasi guru sesuai bidang;
memperoleh nilai baik sebagai guru dalam daftar penilaian prestasi pegawai (DP3) bagi PNS atau penilaian yangsejenis DP3 bagi bukan PNS dalam 2 (dua) tahun terakhir; lulus uji kepatutan (fit and proper test) oleh tim pertimbangan pengangkatan kepala sekolah.
Dalam setiap Program di atas didalamnya sudah cukup jelas terlihat pengaturan penyelenggaraan pendidikan di Provinsi Kalimantan Tengah. Jika peraturan tersebut mampu dilaksanakan secara benar dan bijaksana, maka pembangunan pendidikan akan merata, kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan terjamin serta mengalami peningkatan secara kualitas kerja dan prestasi, dan lebih penting juga yaitu dukungan dalam peningkatan kualitas peserta didik di setiap jenjang dan jenis pendidikan. Sehingga dengan sumber daya manusia yang berkualitas, khususnya dalam hal ini pada aspek pendidikan maka diharapkan mampu mendukung pengembangan daerah sekaligus
pembangunan nasional.
Dalam peraturan diatas dijelaskan secara rigit pasal per pasal mengenai Kurikulum PAUD; Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Sederajat; Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sederajat; Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sederajat; Kurikulum SMK/MAK; Kompetensi Lulusan PAUD/RA/Sederajat; Kompetensi Lulusan SD/MI/Sederajat; Kompetensi Lulusan SMP/MTs/Sederajat; Kompetensi Lulusan SMA/MA/Sederajat; Kompetensi Lulusan SMK/MAK; Rekrutmen Guru;
Pengangkatan Kepala Sekolah/Madrasah; Kriteria Pengangkatan Kepala
Sekolah/Madrasah; Kriteria Pengangkatan; serta Pengawas Sekolah/Madrasah. Table di atas disusun untuk mengklasifikasikan beberapa poin mengenai hal-hal yang tersebut diatas, berdasarkan jenjang pendidikan yaitu PAUD/RA/Sederajat, SD/MI/Sederajat, SMP/MTs/Sederajat, SMA/MA/Sederajat, dan SMK/MAK. Karena masing-masing jenjang memiliki pengaturan masing-masing yang beberapa point sama, namun ada juga yang berbeda.
Implementasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan di Provinsi Kalimantan Tengah, sebagai sebuah provinsi dengan luas daerah yang cukup besar (153.564 Km2 setara dengan 1,5 kali pulau Jawa) dan jumlah penduduk 2.384.700 jiwa (data BPS Kalteng tahun 2013), tidaklah semudah yang
dibayangkan. Dengan kerapatan penduduk Kalimantan Tengah yang hanya 15 per Km 2 jiwa pada 1.569 desa, tersebar di 13 Kabupaten dan 1 Kota dengan rata-rata jumlah penduduk per desa 1.520, fenomena geografis dan demografis yang dimiliki Provinsi Kalteng cenderung memiliki karakteristik masalah tersendiri dalam pengelolaan pendidikan.
Merujuk pada Perda Kalteng No. 10 tahun 2012 yang mensyaratkan bahwa idealnya rasio guru dan siswa adalah 1 : 32, jumlah minimal guru yang harus ada pada tiap-tiap jenjang sekolah dasar menengah, serta distribusi penduduk yang menyebar dengan kondisi geografis kurang didukung oleh saran prasarna transportasi memadai, maka dari hasil pengamatan penulis dipahami bahwa hal ini akan menjadi masalah tersendiri.
Tabel 1.1 Jumlah Sekolah, Siswa dan Guru Provinsi Kalimantan Tengah
JENJANG
PENDIDIKAN SEKOLAHJUMLAH JUMLAHSISWA JUMLAHGURU
RASIO SISWA THDP SEKOLAH
RASIO SISWA THDP GURU
RASIO SEKOLAH
THDP GURU
SD/MI 2,650 291,474 3,739 1 : 110 1 : 78 1 : 1,4
SMP/MTs 589 101,228 7,978 1 : 172 1 : 13 1 : 13
SMA/SMK/MA 298 68,961 5,878 1 : 231 1 : 12 1 : 20
Sumber : Data statistik Kalimantan Tengah 2012 yang telah diolah
Ilustrasi jumlah sekolah yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah apabila dibandingkan dengan provinsi lain, sebagai contoh Provinsi Jawa Timur, akan memperlihatkan hal menarik. Sebagai contoh, setingkat sekolah dasar di Kalimantan Tengah terdapat 2.650 sekolah sedangkan di Jawa Timur justru hanya 1.906 sekolah. Seperti diketahui bersama jumlah penduduk Jawa Timur yang berkisar 30-an juta jiwa, hampir 10 kali lebih besar dari Kalimantan Tengah, memiliki jumlah sekolah dasar yang lebih sedikit, dengan kata lain dapat
dikatakan bahwa SD-SD di provinsi Kalimantan Tengah mendidik siswa yang sangat sedikit namun membangun jumlah SD yang cukup banyak untuk
menjangkau penduduk di daerah-daerah dengan biaya operasional, pengadaan sarana prasarana dan pemenuhan minimal tenaga pendidik dan kependidikan yang cukup besar.
sisanya memilih untuk berhenti sekolah. Hal ini penulis temui selama kurun waktu lebih 10 tahun di beberapa kabupaten seperti Lamandau, Kotawaringain Barat, Kotawaringin Timur, Gunung Mas, Pulang Pisau, Katingan, Barito Selatan, Barito Timur dan Murung Raya.
Pengamatan yang penulis lakukan di beberapa desa mendapatkan kenyataan bahwa masih terdapat SD, SLTP dan SLTA yang diajar oleh guru honor dengan kualifikasi pendidikan SLTA sederajat karena keterbatasan jumlah guru yang ada. Selanjutnya terdapat pula fenomena guru yang mengajar dengan sistim bergantian tiap bulan dengan rekan guru lainnya dengan modus 1 guru mengajar 2-3 kelas sekaligus. Hal ini mereka lakukan karena keterisolasian dan jauhnya desa tempat mengajar guru yang keluarganya kebanyakan tinggal di kota kabupaten terdekat. Sehingga bukan hal yang mengjutkan jikalau penulis menemui kejadian pada salah satu SD di kecamatan Jabiren Raya Kabupaten Pulang Pisau, yang berjarak tidak lebih dari 35 km dari kota Palangka Raya, ditemukan lebih dari 5 siswa kelas 4 yang belum bisa membaca.
Seperti diketahui bersama semangat Kalteng Harati yang tertuang pada Perda Provinsi Kalimantan Tengah No 10 tahun 2012 memiliki fungsi dan tujuan penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut :
Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta pengawasan penyelenggaraan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan yang bermutu di wilayah provinsi Kalimantan Tengah (Pasal 3).
Peraturan Daerah Penyelenggaraan Pendidikan bertujuan untuk percepatan tercapainya mutu pendidikan, pemerataan pelayanan pendidikan di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah serta meningkatkan daya saing mutu pendidikan di daerah pedalaman/pinggiran, pesisir, terhulu sehingga tidak terjadi ketimpangan pelayanan, fasilitas serta mutu pendidikan (Pasal 4).
pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah menjadi titik tolak penulis menganalisis kebijakan pendidikan di Kalimantan Tengah.
Analisis kebijakan menjadi sangat penting dalam rangka memastikan dan meramalkan bahwa suatu kebijakan akan menjadi sebuah kebijakan yang baik dan berhasil baik. Informasi kondisi awal obyek kebijakan dengan merujuk berbagai bidang kajian ilmu diyakini dapat mereduksi kemungkinan kegagalan sebuah kebijakan. Perda No. 10 tahun 2012 dari hasil wawancara penulis dengan salah satu staf Biro Hukum Provinsi Kalimatan Tengah mengisyaratkan bahwa analisis prospektif tidak dilaksanakan dengan baik. Hal ini terbukti dari penuturan staf tersebut dengan menunjukan ketidaksenangannya terehadap pangajuan Perda No. 10 tahun 2012 yang tiba-tiba muncul tanpa keterlibatan mereka sesuai prosedur.
Dalam pencapaian penyelenggaraan pendidikan di Kalimatan Tengah perlu untuk memahami kondisi Kalimantan Tengah dengan sangat jeli agar capaian pendidikan tersebut yang merupakan harapan bagi seluruh wilayah Kalimantan Tengah dapat tercapai dengan baik. Penulis tertarik untuk
menganalisis kebijakan Kalteng Harati ini (Perda Provinsi Kalimantan Tengah No. 10 tahun 2012) dalam rangka untuk mengkaji pelaksanaan dan pencapaian kebijakan dan pada akhir penelitian ini akan membangun model pembangunan pendidikan yang terfokus isu tentang pemerataan pelayanan pendidikan, kualitas guru dan pembiayaan pendidikan. Oleh karenanya, penelitian ini berjudul
1.2 Rumusan Masalah
Latar belakang diatas memberikan gambaran kepada kita untuk melihat kembali kondisi pendidikan yang ada di Kalimantan Tengah saat ini dan
kebijakan apa saja yang dibuat untuk meningkatkan kualitas dan pencapaian pendidikan. Capaian-capaian yang terjadi saat ini perlu ditinjau ulang agar mampu memberikan alternatif percepatan pencapaian pendidikan di masa mendatang. Kondisi yang ada tersebut kemudian dianalisis dan membandingkan dengan kebijakan pendidikan yang ada agar diperoleh gambaran apakah
kebijakan pendidikan yang dibuat benar-benar untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan tidak lupa mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah seperti keterbatasan
sumberdaya manusia. Hasil analisis tersebut kemudian menjadi input
permasalahan untuk membuat model pengembangan kebijakan yang terbaik untuk saat ini. Permasalahan yang dikemukakan diatas menghasilkan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi dan upaya kebijakan pendidikan di Provinsi Kalimantan Tengah saat ini?
2. Bagaimana ketepatan kebijakan pendidikan Kalteng Harati di Kalimantan Tengah?
3. Bagaimana model pengembangan kebijakan pendidikan di Provinsi Kalimantan Tengah?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan kebijakan pendidikan di Provinsi Kalimantan Tengah.
2. Untuk mengetahui ketepatan kebijakan Pendidikan Kalteng Harati di Kalimantan Tengah.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tentang kebijakan pendidikan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi dari segi akademis maupun dari segi praktis sebagai berikut:
1. Bermanfaat dalam pengembangan teori ilmu Administrasi Publik terutama yang terkait dengan analisis kebijakan, khsususnya di bidang pendidikan.
2. Mengembangkan kajian mengenai kebijakan dalam hal ini mengembangkan model analisis kebijakan pendidikan;
3. Sebagai cermin hasil pembangunan pendidikan di Provinsi Kalimantan Tengah dan masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Fincher, Mark, 2007 Governments as human capital providers, A rationale for strong government support of broad higher education
access.CedarValley College, Le Tourneau University, Lancaster, Texas, USA
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyediakan analisis kasus untuk dukungan pemerintah terhadap akses pendidikan tinggi ke arah peningkatan daya saing Nasional dan untuk mengembangkan pemahaman tentang dampak dari kebijakan nasional pendidikan tinggi pada strategi investasi kapital untuk profit perusahaan.
Perselisihan serius pada dampak tindakan pemerintah pada strategi perusahaan. ekonomi dunia menjadi lebih terintegrasi, berkurangnya kontrol pemerintah atas ekonomi telah menyebabkan banyak pengamat percaya bahwa perusahaan-perusahan tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Salah satu daerah di mana pemerintah nasional, negara bagian, dan lokal yang berdaulat mempertahankan kendali akses ke pendidikan tinggi. Kebijakan pemerintah dapat memiliki dampak yang mendalam pada akses warganya untuk pendidikan dan pelatihan lanjutan. Dampak ini dapat lebih terlihat jelas dalam penyediaan kesempatan untuk bekerja bagi dewasa yang sekolah di pendidikan tinggi.
disekitarnya apakah akan mencari tenaga kerja murah, terlatih, produktif, ataupun karena alasan lainnya.
Sutrisno dan Muhammad Rusdi. Analisis Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Dan Menengah Di Provinsi Jambi. Jurnal Pendidikan Inovatif 3
(1), September 2007.
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kebijakan dengan menggunakan model pendekatan penelitian kebijakan yakni dengan mengacu kepada kaidah-kaidah penelitian kebijakan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi beberapa kebijakan strategis dan implementatif yang telah dan sedang dibuat oleh pemerintah kota/kabupaten di Provinsi Jambi yang
difokuskan dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan pada jenjang sekolah dasar dan menengah.
Hasil dari penelitian ini yaitu pertama, provinsi Jambi belum memiliki perda yang tertuang secara spesifik untuk mengayomi upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan. Keberadaan perda ini diperlukan untuk dapat memberikan jaminan keberlanjutan program peningkatan mutu pendidikan. Kedua, pemerintah Provinsi Jambi masih terus berupaya untuk dapat meningkatkan anggaran pendidikan, sebagai wujud implementasi amandemen UUD 1945. Ketiga, kebijakan pendidikan yang dijalankan masih bersifat incidental sporadic dan belum terencana dengan baik. Hal ini disebabkan oleh pembangunan database yang belum berorientasi pada pengembangan mutu. Keempat,
koordinasi antara BAPPEDA dengan diknas sangat diperlukan dalam menetapkan sasaran peningkatan mutu dan pengalokasian dana untuk
Dosen. Keenam, peningkatan keterlibatan masyarakat dalam membangun mutu pendidikan perlu ditingkatkan dalam wadah komite sekolah dan dewan
pendidikan. Ketujuh, memberdayakan pengawas sekolah sebagai agen pengontrol kualitas (qualitycontrol) pendidikan di satuan pendidikan perlu
diintensifkan secara berkelanjutan. Kedelapan, satuan pendidikan perlu didorong untuk memiliki income generating activities, sehingga dapat dijadikan sumber dana untuk peningkatan mutu pendidikan. Kesembilan, kebijakan yang transparan dan akuntabel perlu diimplementasi secara luas, sebagai bentuk pertanggungjawaban pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan.
Ng Pak Tee, 2008, Education policy rhetoric and reality gap: a reflection, Policy and Leadership Academic Group, National Institute of Education, Nanyang Technological University, Singapore.
Makalah ini bertujuan untuk membahas mengapa sering ada perbedaan antara kebijakan retorika dan realitas. Secara khusus, penelitianberusaha untuk mengeksplorasi masalah dengan retorika kebijakan, pelaksanaan proses dan lensa yang melaluinya dimana realitas dirasakan, menjelaskan mengapa masalah ini dapat membuka celah kebijakan retorika-Realita. Artikel ini juga menunjukkan kerangka sederhana matriks untuk menganalisis perbedaan retorika-Realita.
oleh sekolah, perguruan tinggi dan pihak otoritas dan menengahi masalah pelayanan eksternal, kendali pemerintah, kepemimpinan internalnya, komunikasi yang berulang, pengambilan keputusan, pelaksanaan dan pemantauan. Satu karakteristik pemerintahan pendidikan adalah bahwa sering kesenjangan terjadi antara retorika kebijakan dan realitas sebenarnya.
Dari pengalaman reformasi pendidikan di banyak negara, jelas terdapat kesenjangan antara retorika dan realitas kebijakan. Penyebutan desentralisasi, otonomi sekolah, kualitas pendidikan dan sekolah khusus semuanya mempunyai tujuan mulia, inspeksi secara dekat, dinamika perubahan dan interaksi beberapa aktor pada tingkatan berbeda dalam sistem juga berarti bahwa retorika masih dapat dikompromikan dalam realitas.
Asep Mahpudz, Amirudin Kade, Haerudin dkk. Analisis Kebijakan Dan Kelayakan Mutu Tenaga Pendidik Dalam Rangka Meningkatkan Mutu
Penyelenggaraan Pendidikan Dasar Di Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Media
Litbang Sulteng 2 (2): 75 – 85, Desember 2009.
Salah satu kebijakan pembangunan pendidikan di Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan.
Studi analisis kebijakan yang dilakukan ini merupakan upaya untuk mengkaji beberapa aspek implementasi arah kebijakan pembangunan pendidikan nasional di Provinsi Sulawesi Tengah, terutama dalam aspek
kelayakan mutu tenaga pendidik pada penyelenggaraan pendidikan dasar di Provinsi Sulawesi Tengah.
Studi analisis kebijakan pendidikan ini bertujuan: (1) Mendeskripsikan secara konkret kebijakan pembangunan pendidikan di Provinsi Sulawesi Tengah dalam upaya perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh masyarakat, (2) Mengembangkan alternatif kebijakan dalam meningkatkan kemampuan akademik dan profesional tenaga pendidik sebagai langkah mengembangkan mutu penyelenggaraan pendidikan dasar di Provinsi Sulawesi Tengah, (3) Mengembangkan alternatif kebijakan aspek tatakelola dan manajemen pengelolaan tenaga pendidik secara komprehensif dan sistematik, agar sesuai dengan tiga pilar pembangunan pendidikan nasional, yakni: (1) peningkatan dan penguatan akses pendidikan, (2) peningkatan relevansi dan daya saing mutu pendidikan, dan (3) peningkatan tatakelola dan citra publik pengelola pendidikan, sekaligus relevan dengan visi dan misi pembangunan Provinsi Sulawesi Tengah.
Lingkup wilayah kegiatan ini adalah 7 (tujuh Kabupaten/Kota) di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah yakni : Kabupaten Morowali, Poso, Tojo Unauna, Tolitoli, Donggala, Buol dan Kota Palu. Metode pelaksanaan studi ini dilakukan menerapkan pendekatan penelitian kualitatif secara deskriptif dalam prospektif emik alamiah, dengan menggunakan teknik survei, studi dokumentasi dan wawancara.
pengembangan program dan dukungan secarasinergis pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah maupun di Kabupaten dan Kota dalam rangka mendukung peningkatan mutu pembangunan pendidikan dasar secara berkesinambungan.
Aminuddin Bakry.Kebijakan Pendidikan Sebagai Kebijakan PublikJurnal MEDTEK 2(1). April 2010
Visi dan misi pendidikan merupakan penjabaran dari pandangan tentang hakikat manusia atau filsafat manusia yang menganggap manusia sebagai mahluk pribadi dan sosial sekaligus. Dengan demikian, perumusan visi dan misi pendidikan sangat tergantung pada aspek-aspek politik, sosial, ekonomi dan budaya dimana dia hidup. Oleh karena pendidikan merupakan suatu
pengetahuan praksis maka analisis kebijakan pendidikan merupakan salah satu input penting dalam perumusan visi dan misi pendidikan.Dalam konteks inilah
kebijakan pendidikan harus di pandang berdasarkan pendidikan sebagai suatu pengetahuan praksis dimana visi dan misi pendidikan mengakomodasi esensi filsafat manusia, filsafat politik, sosial, ekonomi dan budaya. Dengan demikian, kebijakan pendidikan merupakan pengejewantahan dari visi dan misi pendidikan bernuansa esensi manusia berdasarkan filsafat manusia dan politik dalam konteks situasi politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakatnya.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah kebijakan pendidikan merupakan salah satukebijakan publik. Metode penelitian dengan menggunakan studi kasus pada kasus Jembrana dan menganalisis dengan pendekatan filsafat moral dan ekonomi politik disimpulkan bahwa kebijakan pendidikan sebagai kebijakan publik bukan kebijakan pendidikan bagian dari kebijakan publik.
adalah penjabaran dari visi dan misi dari pendidikan dalam masyarakat tertentu. Sedangkan validasinya terletak pada seberapa besar sumbangan kebijakan tersebut bagi proses pemerdekaan individu dan pengembangan pribadi individu yang kreatif dalam mentransformasikan masyarakat serta kebudayaannya. Kedua, kebijakan pendidikan lahir dari ilmu praksis pendidikan sehingga kebijakan pendidikan meliputi proses analisis kebijakan, perumusan kebijakan, implementasi dan evaluasi kebijakan. Proses kebijakan tersebut dapat
menggunakan model-model yang telah baku, walaupun model-model tersebut mempunyai kelemahan dan kekurangan, namun dengan kombinasi berbagai model dapat dihasilkan proses kebijakan yang layak. Ketiga, pendidikan milik masyarakat (barang publik) maka suaramasyarakat dalam berbagai tingkat perumusan, pelaksanaan dan evaluasi kebijakan perlu didengar dan
diakomodasi. Selain itu, pendidikan sebagai barang publik hendaknya ditangani oleh pemerintah dan upaya menyerahkan pendidikan ke pasar merupakan suatu proses komersialisasi dan hal ini akan merugikan kepentingan bangsa yang lebih luas melebihi semata-mata pertimbangan kelangkaan sumber
dana.Keempat, merujuk kepada filsafat moral maka kebijakan pendidikan sebagai kebijakan publik bukan kebijakan pendidikan bagian dari kebijakan publik. Selain alasan filsafat moral yang memosisikan kebijakan pendidikan sebagai kebijakan publik, juga didukung oleh teori kegagalan pasar dalam teori ekonomi politik.
Prasojo, Lantip Diat. Financial ResourcesSebagai Faktor Penentu Dalam Implementasi Kebijakan Pendidikan. Jurnal Internasional: Manajemen
Pendidikan 2010.
saat ini masih merupakan dilema. Begitu juga dengan masalah pendidikan di Indonesia, pada satu sisi tuntutan pemerataan sesuai dengan pasal 31 UUD 1945 harus diwujudkan, dan pada sisi lain mutu pendidikan sebagai upaya dalam menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas pun merupakan tuntutan yang haus seiring dengan laju pembangunan bangsa. Semua permasalahan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut, jika ditelaah secara mendalam akhirnya akan mengarah pada satu bagian yang mendasar, yaitu penyediaan dana atau anggaran pendidikan yang umumnya diperlukan dalam jumlah nominal yang cukup besar.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah financialresources dapat menentukan implemantasi kebijakan pendidikan. Metode penelitian yaitu dengan menganalisis kebijakan yang ada pada dunia pendidikan.
Hasil dari penelitian ini bahwa berdasarkan isu strategis, konsep dasar dan kajian kritis analisis financialresources sebagai faktor penentu dalam
implemantasi kebijakan pendidikan diperoleh kenyataan sumber dana, SDM dan stakeholders merupakan tiga faktor yang sangat penting dan terkait langsung
dalam implementasi kebijakan pendidiakn. Selain memperhatikan tiga faktor tersebut, implementasi kebijakan pendidikan juga harus memperhatikan sarana dan prasarana pendidikan agar implementasinya lebih sempurna dan tepat sasaran.
Sun, Mianto, 2010.Education system reform in China after 1978: some practical implications. Research Institute of Educational Economics and
Administration. Shengyang Normal University, Liaoning, China.
menjaga perubahan politik dan ekonomi yang terjadi, komite pusat dari partai komunis china mengadakan konferensi tentang pendidikan pada bulan mei tahun 1985, yang melahirkan dokumen kebijakan yang disebut “keputusan tentang reformasi sistem pendidikan yang dibuat oleh komite pusat partai komunis China setelah keputusan ini dibuat diharapkan akan membawa reformasi pendidikan di China. Esensi utama dari reformasi pendidikan ini adalah untuk meningkatkan kualitas nasionalisme dan untuk menghasilkan pribadi-pribadi penduduk China untuk mewujudkan modernisasi sosialis di China. Walaupun sebagian besar dari reformasi pendidikan yang ditujukan untuk sistem pendidikan telah dilakukan, sebenarnya sistem pendidikan telah didirikan sebelum tahun 1980, namun sistem itu tidak cocok dengan keperluan pelatihan ratusan dari jutaan masyarakat terdidik dan pekerja terdidik dan petani, kemudian ribuan tenaga ahli dan manajer dengan spesialisasi pengetahuan dalam ilmu dan tekonologi akhirnya pemerintah mengkonsentrasikan sistem pendidikan pada sistem pendidikan di sekolah dan reformasi manajemen sistem pendidikan.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ada dua gaya pendidikan di China setelah 1978. Model pertama adalah reformasi pendidikan mengenai sistem pendidikan di sekolah. Model kedua adalah reformasi sistem menajemen pendidikan. Untuk model/gaya reformasi yang pertama ada dua macam
Irianto, Agus. 2009. Perencanaan Pendidikan Tingkat
Kabupaten/Kota(Studi Evaluatif Tentang Efektivitas Sistem Pencanaan PendidikanMenuju Tahun 2025 di Kabupaten Bandung)
Perencanaan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota merupakan bagian integral dari systemperencanaanpembangunandaerah yang mempunyai peran sangat signifikan dalam meningkatkan derajat dan kualitas sumber daya manusia. Perencanaan pendidikan padatingkat kabupaten/kota menuju tahun 2025 perlu adanya desain sistem yangdidasarkan pada konteks
kebermaknaantujuan-tujuanpendidikan bagi kepentingan masyarakat di masa depan secara menyeluruh melalui proses yang strategis berbasis pada potensi wilayah secara kooperatif, komprehensif, konkrit dan berkelanjutan. Disain sistem tersebut perlu disertai perangkat sistem pengendalian dan evaluasi yang
didukung oleh asumsi-asumsi dengan performa indikator pencapaian tujuan yang jelas, ketersediaan sarana dan prasarana, pembiayaan, sertakeberanian politik dari pemerintah daerah untuk menjadikan rencana pendidikan menuju tahun 2025 tersebut sebagai produk kebijakan yang mempunyai ketetapan hukum. Untuk meningkatkan efektivitas implementasi sistem perencanaan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota menuju tahun 2025 perlu adanya perubahan mendasar dalam peningkatan profesionalisasi para perencana dan pengelola pembangunan pendidikan berbasis pendidikan tinggi dalam bidang administrasi dan manajemen pendidikan. Dengan demikian, siapa pun yang menjadi pimpinan perencana di Bapeda, siapa pun yang menjadi pimpinan di SKPD pengelola pendidikan, dan siapa pun yang menjadi pimpinan Dewan Pendidikan,
Demikian pula dalam aspek implementasi rencana-rencana yang disusun,Bapeda dan Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kotamasih mempunyai kewajiban untuk pengamanan dan pengendalian implementasiMaster
PlanPendidikan, melalui penyusunan dan penyiapan perangkat sistem
pendukung, melalui penyiapanProsedur Operasional Standar pengendalian dan evaluasi setiap butir-butir program yang termaktub dalam rumusanMaster PlanPendidikan tersebut. Oleh karena itu pula, diperlukan komitmen
bersamaantara pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Bandung untuk menumbuhkan kekuatan kolektif(collective power) dengan senantiasa
menjadikanMaster PlanPendidikan sebagai rujukan utama dalam merumuskan, melaksanakan, mengendalikan dan mengevaluasi program-program strategis pendidikan sesuai dengan posisi, peran dan kewenangannya.
Yunus, Mohammad. 2006. Kebijakan Kemitraan Pendidikan Kejuruan Analisis lmplementasi Kebijakan Praktik Industri dalam Rangka Peningkatan Relevansi dan Mutu Lulusan SMK di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Timur, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya.
Kebijakan kemitraan dalam lingkup pendidikan kejuruan dalam hal ini SMK, pada dasarnya melibatkan tiga komponen panting yaitu pihak rnajelis sekolah. Pihak dunia usaha industri (DUDI) yang akan memakai siswa dan pihak sekolah menengah kejuruan (SMK). Ketiga institusi itulah yang melaksanakan kemitraan untuk dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia rnelalui mekanisme pendidikan sistem ganda (PSG), dalam hal ini praktik industri di dunia usaha industri. Kurang tercapainya sasaran kebijakan kemitraan SMK yang terjadi sebagai akibat tidak berjalannya mekanisme implementasi yang telah dirancang sebelumnya dapat dinyatakan sebagai terjadinya belum tercapainya kinerja irnplementasi. Hal tersebut mengindikasikan kurang sesuainya
dibutuhkan suatu analisis yang mendalam mengenai proses implementasi tersebut rnuiai dari awal hingga hasil dan dampak akhirnya.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan, rnenganalisis, dan
menginterpretasikan hal-hal berikut: 1) Persiapan implementasi kebijakan praktik industri di Kota Tarakan; 2) Proses pelaksanaan kebijakan praktik industri di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Timur; 3) Berbagai faktor yang memengaruhi proses pelaksanaan kebijakan praktik industri di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Timur; 4) Dampak (outcome) implementasi kebijakan praktik industri terhadap sekolah, siswa (target group), dunia usaha industri, dan Pemerintah Daerah Kota Tarakan.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif naturalistis dengan pendekatan studi kasus. Peneliti bertindak sebagai instrurnen penelitian yang teriibat secara aktif dan langsung di lokasi penelitian (human as instrument). Lokasi penelitian berada di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Timur. Penulis mengurnpulkan data lewat metode in-depth interview serta melakukan observasi partisipatif di dua SMK yakni SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 2 Tarakan. Penulis juga terjun langsung di beberapa perusahaan (DUDI) untuk menghimpun data dengan cara ini. Jenis data ada bersifat primer (hasil wawancara) dan sekunder (dokumentasi). Sumber data diseleksi lewat metode purposive sampling. Data dianalisis lewat analisis data situs tunggai menurut Miles dan Huberman (1984) sehingga menghasilkan simpulan-simpulan sementara dan kemudian dianalisis secara lintas situs untuk menghasilkan simpulan akhir.
dilaksanakannya otonomi daerah pada tahun 2001-2005 belum berjalan secara optimal.
Walaupun pelaksanaan otonomi daerah telah berjalan selama masa implementasi, tetapi acuan pelaksanaan kebijakan kemitraan masih tetap menggunakan juknis dan juklak pemerintah pusat, yaitu Kepmendikbud No. 323/1996, sehingga proses implementasi belum terlaksana secara optimal. Beberapa faktor yang memengaruhi proses implementasi kebijakan praktik industri di Kota Tarakan, di antaranya faktor komunikasi antara pelaksana program (implementer) SMK dan dunia usaha industri serta perumus program (decision maker) Dinas Pendidikan belum terbangun sehingga pencapaian sasaran program praktik industri yang dilakukan oleh SMK dan dunia usaha industri meialui kerjasama praktik industri selama lima tahun terakhir tidak optimal. Dampak implementasi praktik industri yang diharapkan yaitu tercapainya mutu lulusan yang lebih berkualitas sehingga dapat memperkecil angka
pengangguran pada tingkat pendidikan SMK belum optimal dicapai lewat implementasi kebijakan kemitraan tersebut.
Maskuri, 2006. Implementasi Kebijakan Sistem Pendidikan Nasional di Pendidikan Tinggi Islam (Studi Multisitus Proses Pembelajaran Berdasarakan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional di Universitas Islam Negeri Malang, Universitas Islam Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang) Pascasarjana Universitas Brawijaya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis serta memberikan interpretasi terhadap komponen-komponen yang ditetapkan
pemerintah dalam implementasi kebijakan UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional terkait proses pembelajaran di PTI, sistem implementasinya, keunikannya, faktor-faktor pendukung dan penghambat serta model
implementasi kebijakan proses pembelajaran.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif (pos positivisme), fokus penelitian ini menyangkut komponen pembelajaran,
implementasi proses pembelajaran, keunikan pembelajaran di PTI, faktor pendukung dan penghambat serta model implementasi proses pembelajaran. Subyek penelitian meliputi Yayasan, Rektorat, Kepala Biro, Kepala Bagian, Dekanat, Ketua Jurusan, Dosen, mahasiswa dan masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen pembelajaran terdiri dari pendidik, peserta didik dan sumber belajar. Untuk mengembangkan kualitas lulusan, PTI telah meletakkan dasar perencanaan yang terumuskan melalui visi, misi, orientasi, sasaran, tujuan dan strategi untuk menghasilkan lulusan "insan kamil, memiliki integritas fikr, dzikr dan amal shaleh yang didukung dengan manajamen internal dan ekstemal yang profesional dengan spirit Islam. Namun ketika dilihat dari standar pelaksanaan pembelajaran; kurikulum yang tersedia secara substansi cukup baik, namun belum disertai dengan bobot SKS/MK yang cukup; rendahnya kualitas pendidik dalam penguasaan strategi pembelajaran; input (peserta didik) yang tidak selektif mengakibatkan kemampuan fikr, dzikr dan
waktu shalat tiba semua aktifitas kampus dihentikan agar sivitas melaksanakan shalat, namun kenyataannya ada di antara dosen yang tidak menghentikan aktifitas mengajar pada waktu shalat. Hal itu terjadi pula pada sebagian pimpinan dan karyawan tanpa ada teguran walaupun itu hak pribadi. Selama ini dana penyelenggaraan pendidikan bersumber dari mahasiswa 70-95%, jasa 2-5%, venture 2-4% dan pemerintah 1-26%.
Dalam penyelenggaraan proses pembelajaran diawali dengan koordinasi atau memberi surat edaran pada para dosen untuk menyatukan persepsi terhadap berbagai tugas yang harus dilaksanakan dosen. Namun beberapa tugas dosen seperti mempersiapkan perangkat dan rencana pembelajaran belum diIaksanakan secara optimal. Ada beberapa kelemahan sistem pembelajaran di PTI selama ini, yaitu; interaksi pendidik dengan peserta didik masih monolog, pembelajaran baru menyentuh aspek fikir (kognitif) peserta didik, cenderung sekuler, matakuliah agama kehilangan kesegarannya karena hanya sebatas sebagai pelajaran atau pengetahuan tentang agama, krisisnya keteladanan, tidak semua dosen memahami integrasi ilmu dan agama,
terbatasnya laboratorium, sistem berpakain dari sebagian dosen dan mahasiswa belum menunjukkan performance Islami. Terkait dengan penciptaan nuansa spiritualisme di sebagian PTI cukup baik, namun belum diikuti secara kontinu dan optimal oleh sivitas yang ada. Pengembangan potensi minat, bakat dan
kegemaran peserta didik telah terfasilitasi dengan baik, hanya di beberapa PTI masih terkendala oleh sumber biaya, sistem evaluasi hasil belajar oleh pendidik terhadap peserta didik baru menyentuh aspek kognitif (fikr) itupun tidak
Sebagai wujud dan bentuk tanggung jawab PTI agar menghasilkan lulusan yang memiliki integritas fikr (kognitif), dzikr (afektif) dan amal sholeh (psikomotorik), PTI telah membentuk kantor jaminan mutu agar memperbaiki proses pembelajaran, namun karena unit tersebut baru terbentuk dan masih mencari model serta mempersiapkan perangkatnya sehingga belum
menghasilkan hasil yang optimal.
Arifin La Ndolo, 2010. Analisis Kebijakan Pendidikan GratisDi Kabupaten Dompu. Universitas Muhamadiyah Malang.
Kehadiran Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 membawa sejumlah perubahan dalam tatanan pemerintahan, terutama dengan diserahkannya sejumlah kewenangan kepada daerah, yang semula menjadi urusan pemerintah pusat. Salah satunya adalah di bidang pendidikan. Kewenangan tersebut
menuntut adanya perubahan berupa pembaruan sistem pendidikan yang sekian lama dikelola secara sentralistik oleh pemerintah pusat dengan menafikan keragaman, perbedaan, kultur, agama, dan sebagainya yang menyebabkan terpuruknya kualitas pendidikan kita.
Pemerintah Kabupaten Dompu mengeluarkan kebijakan yang populis yaitu Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis dan Pendidikan Gratis. Sejak Dikeluarkannya SK Bupati Dompu No 04 Tentang Program Pelaynan Dasar Pendidikan dan Kesehatan Gratis dikabupaten Dompu, Oleh Karena dalam SK Bupati Dompu No 193 Tahun 2007, menunjuk LenSA (Lembaga studi
Tabel 2.1: Penelitian Terdahulu N
NO TOPIK METODE
TUJUAN PENELITIAN HASIL PERSAMAAN PERBEDAAN 1 1 Fincher, Mark, 2007 Governments as human capital providers, A rationale for strong government support of broad higher education access. Cedar Valley College, Le Tourneau
University, Lancaster, Texas, USA
Kualitatif Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menyediakan analisis kasus untuk dukungan
pemerintah terhadap akses pendidikan tinggi ke arah lebih lanjut yaitu daya saing Nasional
Perselisihan serius ada pada dampak dari tindakan
pemerintah pada strategi perusahaan. ekonomi dunia menjadi lebih terintegrasi, berkurangnya kontrol pemerintah atas ekonomi telah
menyebabkan banyak pengamat percaya bahwa perusahaan-perusahan tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Salah satu daerah di mana pemerintah nasional, negara bagian, dan lokal yang berdaulat mempertahankan kendali akses ke pendidikan tinggi. Kebijakan pemerintah dapat memiliki dampak yang mendalam pada akses warganya untuk
pendidikan lanjutan dan pelatihan Membahas tentang pendidikan Penelitian Fincher, Mark lebih mengarah pada analisis kebijakan terhadap akses pendidikan tinggi ke arah lebih lanjut. Sedangkan penelitian yang saya lakukan yaitu untuk menganalisis kebijakan pada semua jenjang dan tingkat pendidikan. 2 2 Sutrisno dan Muhammad Rusdi. Analisis Kebijakan Peningkatan Mutu Pendidikan
Kualitatif Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi beberapa kebijakan strategis dan implementatif yang
Hasil dari penelitian ini yaitu pertama, Provinsi Jambi belum memiliki perda yang tertuang secara spesifik untuk
mengayomi upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan.
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN PENELITIAN HASIL PERSAMAAN PERBEDAAN Dasar Dan Menengah Di Provinsi Jambi. Jurnal Pendidikan Inovatif 3 (1), September 2007.
telah dan sedang dibuat oleh pemerintah kota/kabupaten di provinsi Jambi yang difokuskan dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan pada jenjang sekolah dasar dan menengah.
Kedua, pemerintah Provinsi Jambi masih terus berupaya untuk dapat meningkatkan anggaran pendidikan, sebagai wujud implementasi amandemen UUD 1945. Ketiga, kebijakan pendidikan yang dijalankan masih bersifat incidental sporadic dan belum terencana dengan baik. Keempat,
koordinasi antara BAPPEDA dengan diknas sangat diperlukan dalam menetapkan sasaran peningkatan mutu dan pengalokasian dana untuk pencapaian sasaran yang sudah ditentukan. Kelima, kebijakan peningkatan mutu pendidikan yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia pendidikan perlu mendapatkan perhatian serius. Keenam, peningkatan
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN
PENELITIAN HASIL
PERSAMAAN PERBEDAAN
memberdayakan pengawas sekolah sebagai agen pengontrol kualitas
(qualitycontrol). Kedelapan, satuan pendidikan perlu
didorong untuk memiliki income generating activities.
Kesembilan, kebijakan yang transparan dan akuntabel perlu diimplementasi secara luas. 3 Ng Pak Tee,
2008, Education policy rhetoric and reality gap: a reflection, Policy and Leadership Academic Group, National Institute of Education, Nanyang Technological University, Singapore.
Kualitatif Untuk membahas mengapa sering ada perbedaan antara kebijakan retorika dan realitas. Secara khusus, penelitianberusaha untuk mengeksplorasi masalah dengan retorika kebijakan, pelaksanaan proses dan lensa yang melaluinya dan realitas dirasakan, menjelaskan mengapa masalah ini dapat membuka
Meskipun kebijakan retorika selalu memiliki tujuan terpuji, dinamika yang mendasari perubahan dan interaksi di antara pelbagai aktor pada tingkat yang berbeda dari sistem sering diartikan bahwa retorika dapat dikompromikan dalam kenyataan. Namun,
dimungkinkan juga bahwa bahkan ketika implementasi realitas mungkin tidak sesuai dengan kebijakan retorika, adaptasi dari kebijakan memungkinkan untuk lebih cocok dengan konteks lokal sementara memungkinkan retorika kebijakan untuk
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN
PENELITIAN HASIL
PERSAMAAN PERBEDAAN
celah retorika-Realita kebijakan. Artikel ini juga menunjukkan kerangka sederhana matriks untuk menganalisis perbedaan retorika-Realita. mempertahankan nilainya menggugah untuk keadaan ideal
4 Asep Mahpudz, Amirudin Kade, Haerudin dkk. Analisis Kebijakan Dan Kelayakan Mutu Tenaga Pendidik Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Penyelenggaraan Pendidikan Dasar Di Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Media Litbang Sulteng 2 (2) : 75 – 85 , Desember 2009.
Kualitatif Studi ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan data yang akurat terutama tentang implementasi arah kebijakan penyelenggaraan pendidikan dasar dan kelayakan mutu tenaga pendidik pada
penyelenggaraan pendidikan dasar di Provinsi Sulawesi Tengah.
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN PENELITIAN HASIL PERSAMAAN PERBEDAAN tidak hanya terbatas pada mutu tenaga pendidik tetapi pada semua aspek yang terkait dalam pendidikan dan permasalahan yang melingkupinya serta disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang berlaku 5 Aminuddin Bakry.
Kebijakan Pendidikan Sebagai Kebijakan PublikJurnal MEDTEK 2(1). April 2010
Kualitatif Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah kebijakan pendidikan merupakan salah satukebijakan publik.
Hasil dari penelitian ini adalah pertama, kebijakan pendidikan berkaitan dengan upaya pemberdayaan peserta didik. Kedua, kebijakan pendidikan lahir dari ilmu praksis pendidikan sehingga kebijakan pendidikan meliputi proses analisis
kebijakan, perumusan kebijakan, implementasi dan evaluasi kebijakan. Ketiga, pendidikan
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN
PENELITIAN HASIL
PERSAMAAN PERBEDAAN
milik masyarakat (barang publik) maka suara masyarakat dalam berbagai tingkat perumusan, pelaksanaan dan evaluasi kebijakan perlu di dengar dan di akomodasi. Keempat, merujuk kepada filsafat moral maka kebijakan pendidikan sebagai kebijakan publik bukan kebijakan pendidikan bagian dari kebijakan publik. Sedangkan penelitian yang saya lakukan lebih memfokuskan terhadap analisis kebijakan pendidikan yang mempengaruhi pendidikan di Kalimantan Tengah. 6 Prasojo, Lantip
Diat. Financial ResourcesSebag ai Faktor Penentu Dalam Implementasi Kebijakan Pendidikan. Jurnal Internasional: Manajemen Pendidikan 2010
Kualitatif Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah financialresources dapat menentukan implemantasi kebijakan pendidikan.
Hasil dari penelitian ini bahwa berdasarkan isu strategis, konsep dasar dan kajian kritis analisis financialresources sebagai faktor penentu dalam implemantasi kebijakan
pendidikan diperoleh kenyataan sumber dana, SDM dan
stakeholders merupakan tiga faktor yang sangat penting dan terkait langsung dalam
implementasi kebijakan pendidikan. Selain
memperhatikan tiga faktor
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN
PENELITIAN HASIL
PERSAMAAN PERBEDAAN
tersebut, implementasi kebijakan pendidikan juga harus
memperhatikan sarana dan prasarana pendidikan agar implementasinya lebih sempurna dan tepat sasaran.
pendukung pendidikan dan kebijakan pendidikan.
7 Sun, Mianto, 2010.Education system reform in China after 1978: some practical implications. Research Institute of Educational Economics and Administration. Shengyang Normal University, Liaoning, China.
Kualitatif Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
model/gaya sistem pendidikan di China setelah reformasi tahun 1978
Ada dua model sistem reformasi pendidikan yaitu pertama adalah reformasi di sekolah untuk berbagai level, termasuk reformasi sistem pendidikan wajib di sekolah, dan reformasi sistem pendidikan lanjutan. Reformasi kedua adalah
reformasi sistem di sekolah dan berbagai macam, termasuk reformasi untuk pendampingan dan teknik sistem
pendidikan,dan reformasi sistem pendidikan sekolah swasta
Membahas tentang pendidikan Pada penelitian Sun, Mianto topic yang dibahas lebih mengarah pada model/gaya sistem pendidikan. Pada penelitian ini lebih condong pada analisis kebijakan pendidikan. 8 Irianto, 2009Perencanaa n Pendidikan Tingkat Kabupaten/Kota (Studi Evaluatif Deskriptif
Kualitatif Tujuanpenelitian iniialah:(1)Deskripsi terintegrasi tentang sistem
perencanaan jangka panjang
Hasil penelitian ini adalah :1) Pertama,substansi
perencanaan pendidikandi Kabupaten Bandung merujuk kebijakan pendidikan
sebagaimana telah dituangkan
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN PENELITIAN HASIL PERSAMAAN PERBEDAAN Tentang Efektivitas Sistem Pencanaan Pendidikan Menuju Tahun 2025 di Kabupaten Bandung) pembangunan bidang pendidikan di Kabupaten Bandung; (2)Analisis efektivitas proses perencanaan jangka panjang pembangunan bidang pendidikan di Kabupaten Bandung;(3)Analisis posisi proses perencanaan jangka panjang pembangunan bidang pendidikan di Kabupaten Bandung;(4)Disain sistem perencanaan pendidikan yang dapat dijadikan pedoman dalam pembangunan pendidikan di tingkat
dalam PP.No.38 tahun 2007.2)sasaran dan ruang lingkup pendidikan yang direncanakan tidak hanya terbatas pada satuan pendidikan yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, tetapi mencakup satuan-satuan pendidikan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan Departemen Agama. 3), pihak-pihak yang dilibatkan dalam proses perencanaan
pembangunan pendidikan, di samping pihak tenaga perencana dari lingkungan Bapeda, juga melibatkan tenaga ahli perencana dari perguruan tinggi, dinas
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN
PENELITIAN HASIL
PERSAMAAN PERBEDAAN
kabupaten/kota menuju tahun 2025. 9 Muhammad Yunus, 2006. Kebijakan Kemitraan Pendidikan Kejuruan Analisis lmplementasi Kebijakan Praktik Industri dalam Rangka Peningkatan Relevansi dan Mutu Lulusan SMK di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Timur.
Kualitatif Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan, rnenganalisis, dan menginterpretasikan hal-hal berikut.1).Persiapan implementasi kebijakan praktik industri 2). Proses pelaksanaan
kebijakan praktik; 3) Berbagai faktor yang memengaruhi proses pelaksanaan kebijakan praktik industri; 4) Dampak (outcome)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persiapan implementasi kebijakan tersebut telah berjalan sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan sebagaimana
Kepmendikbud No.323/1996 tentang pendidikan sistem ganda (PSG), namun jika diiihat persiapan tersebut dari sisi konteks otonomi daerah di mana kewenangan pengelolaan pendidikan menjadi kewenangan pemerintah daerah sejak
dilaksanakannya otonomi daerah pada tahun 2001-2005 belum berjalan secara optimal.
Membahas tentang kebijakan pendidikan Pada penelitian Muhammad Yunus membahas pada kebijakan kemitraan pendidikan kejuruan analisis implementasi kebijakan sedangkan penelitian ini membahas tentang analisis kebijakan pendidikan secara umum dan menyeluruh. 10 Maskuri, 2006.
Implementasi Kebijakan Sistem
Kualitatif adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis serta
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen pembelajaran terdiri dari pendidik, peserta
N
NO TOPIK METODE
TUJUAN PENELITIAN HASIL PERSAMAAN PERBEDAAN Pendidikan Nasional di Pendidikan Tinggi Islam (Studi Multisitus Proses Pembelajaran Berdasarakan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional di Universitas Islam Negeri Malang, Universitas Islam Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang) memberikan interpretasi terhadap komponen-komponen yang ditetapkan pemerintah dalam implementasi kebijakan UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional terkait proses pembelajaran di PTI, sistem implementasinya, keunikannya, faktor-faktor pendukung dan penghambat serta model implementasi kebijakan proses pembelajaran
didik dan sumber belajar. Untuk mengembangkan kualitas lulusan, PTI telah meletakkan dasar perencanaan yang terumuskan melalui visi, misi, orientasi, sasaran, tujuan dan strategi untuk menghasilkan lulusan "insan kamir, memiliki integritas fikr, dzikr dan amal shaleh yang didukung dengan manajamen internal dan ekstemal yang profesional dengan spirit Islam.
pendidikan membahas Implementasi kebijakan Sistem Pendidikan Nasional pada Pendidikan Tinggi Islam sedangkan pada penelitian ini membahas tentang analisis kebijakan pendidiakn secara umum dan pada semua jenjang pendidikan.
11 Abdul Kadir Karding 2008 EvaluasiPelaksan aan ProgramBantuan Operasional Deskiptif Kualitatif
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
sebenarnya peran yang dilakukan oleh
Gambar
Dokumen terkait