TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Kebijakan Pendidikan Tingkat Daerah
Ada tiga persoalan mendasar yang patut diantisipasi dalam desentralisasi pembangunan pendidikan, yaitu:
1. Pemberian otonomipada daerah akan menjamin setiap warga negara memperoleh haknya dalam pendidikan;
2. Pemberiaann kewenangan penyelenggaraan pendidikan kepada daerah dapat menjamin peningkatan peran serta masyarakat;
3. Penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan di daerah dapat mencapai hasil-hasil pendidikan yang bermutu.
Karakteristik yang relatif melekat pada UU No. 32/2004 telah membawa implikasi terhadapmanajemen pendidikan nasional. Implikasi tersebut
diantaranya bahwaproses penyelenggaraan pendidikan harus pula
berlandaskanbottom up approach, karena disamping pembangunan pendidikan nasional harus accceptable bagi masyarakatnya, juga harus accountabledalam melayani publik terhadap kebutuhan pendidikan. Secara teknis operasional, pembangunan pendidikan tingkat atas eksistensinya tergantung rekomendasi kebutuhan pada tingkat bawahnya secara berjenjang, dalam arti subtansi, proses dan konteks penyelenggaraan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota mutlak sama baik dengan daerah Iainnya yang sederajat maupun dengan daerah provinsi. Secara teoretis, keragaman itu akan memunculkan sinergisme yang didukung oleh keunggulan komparatif dan kompetitif masing-masing daerah dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
Dengan demikian, bahwa besar dan luasnya kewenangan dalam penyelenggaraan pendidikan akan tergantung kepada sistem politik dalam memberikan keleluasaan tersebut. Akan tetapi, sekalipun keleluasaan itu diberikan tidak dapat diartikan sebagai pemberian kebebasan mutlak tanpa mempertimbangkan kepentingan nasional, sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara administrator pendidikan pada tingkat pusat dengan administrator pendidikan di tingkat kelembagaan satuan pendidikan.
Sesungguhnya konflik kepentingan tersebut tidak perlu terjadi apabila para administrator tersebut memahami hakikat dan urgensi perlunya desentralisasi dalam pembangunan, yang walaupun terjadi tarik menarik kepentingan tersebut harus berdasarkan pada prinsip saling ketergantungan untuk menghasilkan sinergitas bagi tujuan-tujuan pembangunan pendidikan yang lebih luas.
Secara teoretis struktur organisasi desentralisasi ditunjukkan dengan tingkat pengambilan keputusan yang terjadi dalam organisasi. Dalam struktur desentralisasi, sebagian keputusan diambil pada tingkat hierarki organisasi tertinggi, dan apabila sebagian besar otoritas didelegasikan pada tingkatan yang rendah dalam organisasi, maka organisasi tersebut tergolong pada organisasi yang terdesentralisasi. Dengan demikian, inti dari desentralisasi adalah adanya pembagian kewenangan oleh tingkat organisasi di atas kepada organisasi di bawahnya. Implikasi dari hal tersebut adalah desentralisasi akan membuat tanggung jawab yang lebih besar kepada pimpinan di tiap level organisasi dalam melaksanakan tugasnya serta memberikan kebebasan dalam bertindak. Dengan desentralisasi akan meningkatkan independensi para administrator untuk berpikir dan bertindak dalam satu tim tanpa mengorbankan kebutuhan organisasi. Desentralisasi membutuhkan keseimbangan antara independensi para administrator serta komitmennya terhadap kelangsungan hidup organisasi.
Desentralisasi mengandung makna bahwa proses pendelegasian atau pelimpahan kekuasaan atau wewenang dalam sistem organisasi diberikan dari pimpinan atau atasan ke tingkat bawahan. Secara umum tujuan desentralisasi manajemen di dalam kehidupan berorganisasi adalah untuk meningkatkan efisiensi manajemen dan kepuasan kerja pegawai melalui pemecahan masalah- masalah yang berhubungan langsung dengan daerah lokal. Dengan demikian desentralisasi manajemen pendidikan adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada daerah untuk membuat keputusan manajemen dan
menyusun perencanaan sendiri dalam mengatasi masalah pendidikan, dengan mengacu kepada sistem pendidikan nasional. Dengan demikian, dalampraktik desentralisasi manajemen pendidikan dapat diterapkan di dalam beberapa tingkat dan struktur organisasi penyelenggara mulai dari tingkat nasional sampai tingkat satuan pendidikan.
Rondinelli dan Cheema (1988) lebih luas memaparkan maksud-maksud perlunya desentralisasi, dengan batasan bahwa:
Decentralization in the transfer of planning, decision making, or adminis- trative authority from the central government to its field organizations, local administrative units, semi-autonomous and parastatal organizations, local government, or non government organization.different forms of decentralization can be disintingished primary by the extent to which authority to plan, decide and manage is transferred from central government to other organization and the amount of autonomy the `decentralized organizations' achieved in carrying out their tasks.
Dalam konsepnya, desentralisasi manajemen pendidikan merupakan upaya untuk mendelegasikan sebagian atau seluruh wewenang dimanajemen pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh unit atau pejabat organisasi di tingkat pusat kepada unit atau pejabat di bawahnya atau dari pemerintah pusat pada pemerintah daerah atau dari pemerintah pada masyarakat. Salah satu wujud dari desentralisasi manajemen pendidikan itu ialah terlaksananya proses keleluasaan dalam manajemen penyelenggaraan pendidikan.
Namun demikian, dalam praktiknya tidak seluruh kewenangan tersebut dapatdidesentralisasikan. Kewenangan perumusan atau pembuatan
kebijaksanaan nasional mengenai pendidikan yang meliputi kurikulum, persyaratan-persyaratan pokok tentang jenjang pendidikan, persyaratan pembukaan program baru, persyaratan tentang guru atau penndidik di setiap jenjang pendidikan, dan kegiatan-kegiatan strategis lainnya yang dipandang lebih efektif, efisien, dan tepat jika tidak didesentralisasikan masih dilakukan dan diperlukan sentralisasi. Sedangkaan setiap kewenangan implementasi dan
evaluasi kebijakan nasional, dalam hal-hal tertentu, dilakukan oleh pemerintah pusat dan dapat pula diserahkan atau didesentralisasikan ke unit di bawah, di daerah atau kepada masyarakat. Demikian juga kewenangan pembuatan kebijakan yang berdimensi daerah tidak dilakukan oleh pemerintah pusat, melainkan bisa segera didesentralisasikan.
UU No. 32/2004 dan kitab UU No. 33/2004 menjadi dasar implementasi desentralisasi pemerintahan. Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi, kabupaten dan kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut kebutuhan, kemampuan dan tingkat perkembangan sendiri. Pembaruan sistem
pemerintahan tersebut mempunyai implikasi langsung terhadap sistem
pendidikan nasional, terutama yang berkaitan dengan masalah substansi, proses dan konteks manajemen penyelenggaraan pembangunan pendidikan. Namun, penyelenggaraan sistem pendidikan nasional untuk masa-masa mendatang, walaupun telah memiliki perangkat pendukung perundang-undangan, juga masih dihadapkan pada sejumlah faktor yang menjadi tantangan dalam penerapan desentralisasi pendidikan di daerah. Seperti tingkat perkembangan ekonomi dan sosial budaya setiap daerah, tipe dan kualitas kematangan SDM yang diperlukan oleh daerah setempat, perkembangan ilmu dan teknologi, perkembangan dunia industri dan tingkat perkembangan lembaga-lembaga satuan pendidikan di setiap daerah. Ini semua mengisyaratkan perlunya pemikiran dan kajian yang lebih matang dalam menyiapkan situasi lokal atau lembaga satuan pendidikan, agar desentralisasi dalam manajemen penyelenggaraan sistem pendidikan nasional dapat dilaksanakan dengan baik.
Apabila UU No. 32/2004 dilaksanakan secara konsisten, secara teoretis kehendak Pasal 31 ayat (1) kitab UUD/1945 kemungkinan besar dapat terealisasikan, karena pelayanan pemerintah kepada masyarakat di bidang
pendidikan dan pengajaran, rentangnya tidak terlalu jauh. Dengan demikian, peranan proses manajemen dalam pembangunan pendidikan akan semakin strategis.
Kembali ketiga pertanyaan di muka: Apakah pemberian otonomi kepada daerah akan menjamin setiap warga negara memperoleh haknya dalam
pendidikan? Dan apakah dengan pemberian kewenangan menyelenggarakan pendidikan kepada daerah dapat menjamin peranserta masyarakat akan
meningkat? Dan apakah penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan di daerah dapat mencapai hasil-hasil pendidikan yang bermutu? Dalam konteks ini, desentralisasi menjamin penanganan variasi tuntutan masyarakat secara cepat. Rondinelli & Cheema (1988)" mengemukakan bahwa:
"...central planning was not only complex and difficult to implement, but may also have been inappropriate for promoting equitable growth and self sufficiency among low in corm groups and communicaties within developing societies."
Menurut pernyataan tersebut bahwa di dalam negara yang sedang bererkembang, perencanaan yang terpusat bukan saja rumit dan sulit ntuk dilaksanakan, melainkan juga sudah tidak sesuai dengan kebutuhan, baik untuk meningkatkan pertumbuhan yang seimbang maupun untuk memenuhi kebutuhan yang mandiri di antara masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Keith Griffin (1988) menyatakan bahwa:
Development cannot easily be centrally planned. Consequently . . .
mobilization of local human and material resources has been accompanied by a reduced emphases on national planning and a growing awareness of the need to devise an administrative structure that would permit regional decentralization, local autonomy in making decision of primary concern to the locality and greater local responsibility for designing and implementing development programs. Such changes, evidently, are not just technical and administrative; they are political. They involve a transfer of power from the groups who dominate the centre to those who have control at the local level.
Menurut pernyataan tersebut dapat ditafsirkan bahwa pembangunan tidak dapat begitu saja direncanakan dari pusat. Pendayagunaan sumber daya
alam dan manusia yang berada di daerah hendaknya dilakukan denganbaik, dengan upaya mengurangi kegiatan yang menitikberatkan pada perencanaan secara nasional serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melakukan desentralisasi dan memberikan otonomi kepada daerah untuk mengambil keputusan yang menyangkut kepentingandaerah, di samping memberikan tanggung jawab yang lebih Iacar kepada daerah untuk merencanakan dan melaksanakan programPerubahan seperti itu kenyataannya memang bukan hanya menyangkut soal teknis dan administratif semata-mata melainkan juga soal politik, yaitu berkenaan dengan pelimpahan wewenang dari sekelompok pengambil keputusan yang berkuasa di pusat kepada pemegang kekuasaan pemerintahan di tingkat daerah.
Pernyataan Griffin tersebut menunjukkan bahwa persoalan
desentralisasi dan otonomi daerah berkaitan dengan persoalan pemberdayaan (empowerment). dalam arti memberikan keleluasaan dan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk berprakarsa dan mengambil keputusan.
Empowermentakan menjamin hak dan kewajiban serta wewenang dan tanggung jawab organisasi pemerintahan di daerah untuk dapat menyusun program, memilih alternatif, dan mengambil keputusan dalam mengurus kepentingan daerahnya sendiri. Dengan empowerment, institusi pemerintah daerah dan masyarakat akan mampu memberikan akses bukan hanya terhadap pengambilan keputusan di tingkat daerah, maupun di tingkat pusat.
Seperti dikatakan oleh Osborne dan Gaebler (1992) bahwa: Hierarchical, centralized bureaucracies designed in the 1930s or 1940ssimply do not function well in the rapidly changing, information rich, knowledge intensive society and economy of the 1990s.
Digambarkan oleh Osborne dan Gaebler bahwa birokrasi yang hierarkis dan terpusatkan semacam itu ibarat sebuah kapal penumpang raksasa di zaman zet supersonik dalam ukuran besar, tidak praktis, mahal, dan sangat sulit untuk
bergerak. Karenanya dalam birokrasi pada era sekarang ini dituntut untuk mentransformasikan semangat kewiraswastaan (enterpreneurial spirit) ke dalam sektor pemerintah.
Atas dasar alasan-alasan itu, desentralisasi merupakan sarana untuk mengembangkan organisasi karena organisasi dapat bergerak lebih luwes dan alur informasi lebih bebas sesuai dengan karakteristik pembuatan keputusannya. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan pembangunan daerah, desentralisasi adalah pola yang paling dianggap tepat dan relevan dengan tuntutan otonomi tersebut.
Kebijakan yang berdimensi lokal adalah semua hal yang sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat daerah. Kebijakan seperti ini sebaiknya rakyat (baik melalui DPRD maupun kelompok-kelompok kepentingan daerah) dan pemerintah daerah yang memutuskannya
Konsep retriksi administrasi, menganggap bahwa implementasi kebijakan desentralisasi dalam manajemen pendidikan, dapat dipandang dari sebuah penerapan teori dan prinsip-prinsip pengembangan organisasi. Dalam konsep pengembangan organisasi, setiap pembaruan dalam tatanan kebijakan selalu diidentikKan dengan penerapan ilmu perilaku dalam usaha jangka panjang untuk meningkatkan kemampuan organisasi mengatasi pembaruan dalam ngkungan eksternnya dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah intern
organisasinya atau dianggap sebagai peningkatan kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya dengan memanfaatkan potensi manusia secara lebih efektif dan mengevaluasi setiap pembaruan dan mengarahkannya secara konstruktif.
Desentralisasi pembangunan pendidikan berusaha untuk mengurangi campur tangan atau intervensi pejabat atau unit pusat terhadap persoalan- persoalan pembangunan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit di tataran bawah, pemerintah daerah, atau masyarakat.
Sehingga diharapkan terjadi pemberdayaan peran unit di bawah atau peran rakyat dan masyarakat daerah. Akan tetapi, walaupun begitu luasnya otonomi dalam pembangunan pendidikan diberikan kepada daerah, tetap harus konsisten dengan sistem konstitusi.
Bidang pembangunan pendidikan merupakan salah satu bidang yang diserahkan dan wajib dilaksanakan oleh pemerintahan daerah, namun perlu adanya ketegasan bidang-bidang garapan mana yang menjadi wewenang masing-masing tingkatan pemerintahan. Oleh karena itu, dapat ditafsirkan bahwa aspek-aspek pendidikan yang berkaitan dengan identitas dan integritas bangsa memerlukan standardisasi nasional melalui komitmen politik. Sedangkan pembangunan pendidikan pada aspek-aspek spesifik dan model-model
penyelenggaraan pendidikan menjadi wewenang masing-masing pemerintahan daerah, sehingga keinginan, kebutuhan dan harapan semua pihak dapat terpenuhi. Artinya, pencapaian warga negara yang bermutu dapat diprediksi mempunyai kapabilitas dan keunggulan kompetitif dalam percaturan global.
Sesuai tuntutan reformasi dalam pembangunan di Indonesia, tampaknya pelaksanaan desentralisasi pembangunan pendidikan merupakan suatu
keharusan, di samping memang sejumlah peraturan perundang-undangan yang sudah ditetapkan menuntut untuk segera dilaksanakan. Juga, untuk
melaksanakan desentralisasi pembangunan pendidikan secara nasional di seluruh wilayah Indonesia tampaknya bukanlah hal yang mudah, termasuk penyerahan seluruh urusan pendidikan kepada daerah kabupaten/kota, bukanlah hal yang gampang, dibutuhkan tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya, karena menyangkut sejumlah masalah dan kendala perlu diatasi, termasuk kesiapan sumber pembiayaan, SDM, dan sumber pendukung lainnya.
Karena itu, pelaksanaan desentralisasi pendidikan sampai ke tingkat lembaga satuan pendidikan berdasarkan jenjang pendidikan yang selama ini kita
anut, yakni meliputi jenjang pendidikan dasar, pendidikan faatkan potensi manusia secara lebih efektif dan mengevaluasi setiap pembaruan dan mengarahkannya secara konstruktif.
Desentralisasi pembangunan pendidikan berusaha untuk mengurangi campur tangan atau intervensi pejabat atau unit pusat terhadap persoalan- persoalan pembangunan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit di tataran bawah, pemerintah daerah, atau masyarakat. Sehingga diharapkan terjadi pemberdayaan peran unit di bawah atau peran rakyat dan masyarakat daerah. Akan tetapi, walaupun begitu luasnya otonomi dalam pembangunan pendidikan diberikan kepada daerah, tetap harus konsisten dengan sistem konstitusi.
Bidang pembangunan pendidikan merupakan salah satu bidang yang diserahkan dan wajib dilaksanakan oleh pemerintahan daerah, namun perlu adanya ketegasan bidang-bidang garapan mana yang menjadi wewenang masing-masing tingkatan pemerintahan. Oleh karena itu, dapat ditafsirkan bahwa aspek-aspek pendidikan yang berkaitan dengan identitas dan integritas bangsa memerlukan standardisasi nasional melalui komitmen politik. Sedangkan pembangunan pendidikan pada aspek-aspek spesifik dan model-model
penyelenggaraan pendidikan menjadi wewenang masing-masing pemerintahan daerah, sehingga keinginan, kebutuhan dan harapan semua pihak dapat terpenuhi. Artinya, pencapaian warga negara yang bermutu dapat diprediksi mempunyai kapabilitas dan keunggulan kompetitif dalam percaturan global.
Sesuai tuntutan reformasi dalam pembangunan di Indonesia,
tampaknya pelaksanaan desentralisasi pembangunan pendidikan merupakan suatu keharusan, di samping memang sejumlah peraturan perundang-undangan yang sudah ditetapkan menuntut untuk segera dilaksanakan. Juga, untuk
seluruh wilayah Indonesia tampaknya bukanlah hal yang mudah, termasuk penyerahan seluruh urusan pendidikan kepada daerah kabupaten/kota, bukanlah hal yang gampang, dibutuhkan tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya, karena menyangkut sejumlah masalah dan kendala perlu diatasi, termasuk kesiapan sumber pembiayaan, SDM, dan sumber pendukung lainnya. Karena itu, pelaksanaan desentralisasi pendidikan sampai ke tingkat lembaga satuan pendidikan berdasarkan jenjang pendidikan yang selama ini kita anut, yakni meliputi jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Diperlukan pola-pola desentralisasi manajemen yang relevan. Desentralisasi jenjang pendidikan bisa dipilih apakah semua jenjang pendidikan bisa ditangani oleh pemerintah daerah, atau hanya terbatas jenjang pendidikan tertentu sesuai dengan kemampuan pemerintah di daerah.\