Kompetensi Guru yang Kedelapan Mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
Dalam tugas dan peranannya di sekolah guru juga sebagai pembimbing ataupun konselor/penyuluh. Itulah sebabnya guru harus mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah serta harus menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah, agar kegiatan interaksi belajar-mengajarnya bersama para siswa menjadi lebih tepat dan produktif.
Bimbingan dan penyuluhan terdiri dari dua kata “bimbingan” dan “penyuluhan” yang masing-masing memiliki makna tersendiri yang cukup mendasar, walaupun oprasionalnya masing-masing saling berkaitan sangat erat. Menurut Jear Book of Education, bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemapuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial. Sedangkan penyuluhan (counseling) menurut James F. Adams yang dikutip oleh Ibrahim Hadi adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu di mana yang seorang (counselor), membantu yang lain (counselee) supaya ia dapat lebih memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah-masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan pada waktu yang akan datang. Adapun prinsip-prinsip konseling yang dapat digunakan untuk mengembangkan program bimbingan dan penyuluhan di lembaga pendidikan/sekolah, yakni:
Konseling/penyuluh merupakan bantuan yang diberikan secara sengaja.
Prosesnya dilaksanakan melalui hubungan antar personal.
Sasaran counseling adalah counselee atau klien, yakni (siswa) agar dapat mengatasi hambatan yang dialami pada proses perkembangannya.
Tujuannya memberikan tuntunan agar counselee atau klien tadi, mampu memilih dan menentukan cara-caranya sendiri untuk mengatasi hambatannya.
bermasyarakat yang dilandasi dengan rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan umum. Dengan demikian, guru di sekolah tidak hanya semata-mata sebagai pembimbing dan membantu anak didik dalam hal pemecahan problema atau pelajaran, tetapi juga membantu menunjukkan jalan pemecahan persoalan pribadi anak didik yang menggangu studi dan kegiatan hidup lainnya.
Kompetensi Guru Ke-9 Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
Guru di sekolah di samping berperan sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing juga sebagai administrator. Dengan demikian, guru harus mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah. Hal ini sebagai
upaya pemuasan layanan terhadap para siswa.
Admistrasi sekolah berasal dari dua kata, administrasi dan sekolah. Administrasi dapat diartikan sebagai kegiatan penyusunan keterangan-keterangan secara sitematis dan pencatatan secara tertulis dengan maksud untuk memperoleh sesuatu ikhtisar mengenai keterangan-keterangan itu dalam keseluruhan dalam kaitannya satu sama lain. Jadi pendidikan administrasi secara luas adalah suatu proses pemanfaatan semua sumber materiil dan personal secara luas adalah suatu proses pemanfaatan semua sumber materiil dan personal secara efektif untuk
tujuan tertentu.
khusus yang perlu bagi siswa. Adapun catatan-catatan yang penting bagi guru antara lain: silabus mata pelajaran, persiapan mengajar/PPSI, buku batas pelajaran, kumpulan soal-soal ujian dan tugas, catatan-catatan hasil evaluasi siswa, buku notulen rapat, buku agenda. 2. Kegiatan reporting (lapor-melapor) bagi guru ini meliputi laporan kepada kepala sekolah dan laporan kepada orang tua siswa. Mengenai laporan kepada kepala sekolah, hampir semua kegiatan recording seperti diuraiakn di atas, perlu dilaporkan kepada kepala sekolah. Di samping itu guru juga melaporkan kepada kepala sekolah hal-hal misalnya soal pengorganisasian siswa, inventaris kelas, keuangan kelas, mutasi, kenaikan dan tamat belajar, perkembangan prestasi atau hasil belajar siswa.
Kompetensi Guru yang terakhir Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. Dalam rangka menumbuhkan penalaran dan mengembangkan proses belajar-mengajar, setiap mata pelajaran diharapkan dapat memancing baik siswa maupun guru untuk terus dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Dengan demikian, akan menambah wawasan bagi guru. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan prinsip “hasrat ingin tahu” dari manusia itu sendiri. Dengan demikian, manusia akan mencari jawab atas berbagai pertanyaan tersebut. Dari dorongan ingin tahu itulah manusia berusaha mendapatkan pengetahuan mengenai hal-hal yang dipertanyakan. Maka manusia akan terdorong melakukan penelitian untuk mencari jawab dan kebenaran dari problema atau pertanyaan yang
dihadapi tersebut.
Selain itu hal yang penting lagi adalah guru juga harus dapat membaca dan menfasirkan hasil-hasil penelitan pendidikan. Dengan ini berarti guru akan mendapat masukan yang bisa diterapkan untuk keperluan proses belajar-mengajar.
Read more:
http://gioakram13.blogspot.com/2013/06/10-kompetensi-guru.html#ixzz4f6zWCVVG
3. Beberapa komponen keterampilan mengajar
1) Aspek materi
bagaimana urutan penyajian bahan, bagaiman menciptakan hubungan dalam rangka membahas, dan bagaimana mengakhiri pembahasan. Untuk ini akan dibahas satu per satu.
(1) Interes, dalam hal ini interes adalah usaha guru untuk menarik atau membawa
perhatian siswa pada materi pelajaran yang baru.
(2) Titik Pusat, titik pusat adalah bahwa apa yang diuraikan, dikemukakan dan
dijelaskan oleh guru benar-benar terpusat pada hal yang sedang di garap bersama.
(3) Rantai Kognitif, rantai kognitif adalah urutan-urutan atau sistematika dalam
menyampaikan bahan pelajaran.
(4) Kontak, kontak dalam hal ini menyangkut hubungan batiniah antara guru dan
siswa dalam kaitanya dengan bahan yang sedang dibahas.
(5) Penutup, penutup disini adalah cara guru dalam mengakhiri penjelasan atau
pembahasan suatu pokok bahasan 2) Model Kesiapan
Pada bagian ini akan diuraikan mengenai berbagai sikap yang harus diperhatikan guru selama memimpin belajar siswa. Sikap yang diperhatikan meliputi sikap tubuh saat mengajar, sikap terhadap kondisi ruang atau jumlah siswa, dan lain sebagainya. Berikut uraiannya:
(1) Gerak, gerak anggotaa badan dalam memberikan bahan pelajaran.
(2) Suara, dalam pengertian suara ini ialah kekuatan atau kekerasan, intonasi, tekanan
bicara, dan kelancaran bicara.
(3) Titik perhatian, yang dimaksud dengan titik perhatian ialah pengamatan guru
terhadap masing-masing siswa selama interaksi belajar-mengajar berlangsung.
(4) Variasi menggunakan media, alat-alat pengajaran yang dapat digunakan dalam
kegiatan belajar-mengajar.
(5) Variasi interaksi, yang dimaksud dengan variasi interaksi ialah frekuensi atau
banyak-sedikitnya pergantian aksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa secara tepat.
(6) Isyarat verbal, yang dimaksud dengan isyarat verbal ialah ucapan yang singkat
(7) Waktu selang, yang dimaksud dengan waktu selang ialah tenggang waktu antara
suatu ucapan atau pembicaraan dengan ucapan atau pembicaraanberikutnya. 3) Keterampilan oprasional
Berbagai keterampilan dalam interaksi belajar-mengajar yang perlu dikembangkan meliputi dalam pembukaan pembelajara, memberikan motivasi dan melibatkan siswa, mengajukan pertanyaan, menggunakan isyarat nonverbal, menanggapi siswa, dan menggunakan waktu.
(1) Membuka pelajaran, yang dimaksud dengan membuka pelajaran ialah seberapa
jauh kemampuan guru dalam memulai interaksi belajar-mengajar untuk suatu jam pelajaran tertentu.
(2) Mendorong dan melibatkan siswa, maksud dari mendorong dan melibatkan siswa
ialah siswa bukan sebagi objek melainkan sebagai subjek dalam proses belajar-mengajar.
(3) Mengajukan pertanyaan, dalam belajar-mengajar mengajukan pertanyaan bagi
guru merupakan perangsang yang mendorong siswa untuk giat berfikir dan belajar.
(4) Menggunakan isyarat nonverbal, isayarat nonverbal ialah gerakan-gerakan
anggota badan untuk memberikan gambaran tentang sesuatu untuk memperjelas maksud atau penjelasan yang diucapkan guru.
(5) Menanggapi siswa, guru yang cakap dan bijaksana akan mampu membawa
sebagian besar siswanya untuk menerima interaksi dengan senang hati dan penuh perhatian dengan cara menanggapi siswa.
(6) Menggunakan waktu, yang menggunakan waktu dalam hal ini ialah ketepatan
guru dalam mengalokasikan waktu yang tersedia dalam suatu interaksi belajar-mengajar.
(7) Mengakhiri pelajaran, belajar dapat dikatakan suatu proses yang tidak pernah
berakhir karena merupakan proses yang berkelanjutan, berakhirnya pelajaran antara guru dan siswa hanya merupakan suatu terminal untuk beranjak pada pembelajaran selanjutnya.
Terkait dengan pengelolaan interaksibelajar-mengajar penting juga diperkenalkan tentang pendekatan dan strategi kontekstual dalam pembelajaran.
Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran lebih dikenal dengan Contextual
Teaching and Learning. pendekatan kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi ajar dengan situasi dunia nyata siswa.
Dalam pembelajaran yang kontekstual, siswa didorong untuk mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya dan bagaimana mencapai tujuan belajar. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.tugas guru adalah mengelola kelas menjadi kondusif untuk belajar siswa, untuk penerapanya ada tujuh aspek dalam pembelajaran kontekstual yang perlu mendapatkan perhatian yaitu:
(1) Teori kontrukstivisme, teori yang merupakan landasan berfikir bagi pendekatan
kontekstual.
(2) Menemukan, maksudnya adalah belajar adalah proses menemukan atau inkuiri.
(3) Bertanya, bagi siswa bertanya merupakan salah satu strategi penting dalam
pendekatan kontekstual.
(4) Masyarakat belajar, yang dimaksud masyarakat belajar yaitu semua sumberdaya
manusia yang berada di sekolah.
(5) Pemodelan, model dalam pendekatan kontekstual dapat dirancang dengan
melibatkan siswa.
(6) Refleksi, yaitu bagian penting dalam pembelajaran, karena merupakan cara
berfikir atau perenungan tentang apa yang baru dipelajari dan yang telah dipelajari.
(7) Penilaian yang autentik, yaitu proses pengumpulan data yang memberikan