Fisiologi Dan Produksi Karet Dengan Berbagai Sistem Sadap Dan Penggunaan Stimulan Gas Chapter III V

85 

Teks penuh

(1)

BAB III

IDENTIFIKASI HISTOLOGI DAN MORFOFISIOLOGI DUA KLON

KARET

Abstrak.

Produktivitas tanaman karet ditentukan oleh karakter morfo-fisiologi seperti lilit batang, tebal kulit, jumlah dan diameter pembuluh lateks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter anatomi, morfo-fisiologi yang berkaitan dengan produksi pada klon BPM 1 dan PB 260. Penelitian dilaksanakan di kebun sungai Putih PT. Perkebunan Nusantara III (Persero), pada areal tanaman klon PB 260 dan BPM 1 tahun tanam 1999 (umur karet 15 tahun). Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan peubah amatan morfologi (lilit batang, tebal kulit, panjang alur sadap) serta produksi lateks, sedangkan peubah amatan anatomi (jumlah dan diameter lateks) dan fisiologi (sukrosa, FA dan tiol). Hasil penelitian menunujukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dari jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan hasil antara klon PB 260 dan BPM 1 baik pada kulit pulihan maupun kulit perawan. Tetapi diperoleh kesimpulan khusus kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan dengan BPM 1.

Kata kunci: Klon PB260, BPM1,anatomi, histologi, morfo-fisiologi pembuluh lateks

IDENTIFICATION HISTOLOGY and MORPHO - PHYSIOLOGY TWO CLONES OF RUBBER

Abstract.

Rubber plant productivity is determined by the character morpho-phisiology were stem diameter, bark thickness, number and diameter of latex vessel. The objective of these research was to study anatomy, morpho-physiology character associated to BPM 1 and PB 260 productivity. The research was conducted at PTPN III (Persero) Sungai Putih, in the area of clones PB 260 and BPM 1 planting year 1999 (rubber age 15 years). The results of this research showed no- difference of number and diameter latex vessels, sucrose, inorganic phosphate, and yield among clones PB 260 with BPM 1on renewable bark and virgin. Thiol levels were higher in the renewable bark compared with virgin bark.

(2)

Pendahuluan

Produktivitas karet rakyat di Indonesia masih rendah, karena selain belum menggunakan klon unggul, sistem sadap yang diterapkan juga belum sesuai tipologi klon. Pada dasarnya masing-masing klon karet memiliki karakter histologi dan morfo-fisiologi yang berbeda.

Identifikasi histologi meliputi jumlah dan diameter pembuluh lateks, karena keduanya merupakan peubah amatan yang berkaitan dengan potensi produksi, karena lateks dihasilkan di dalam pembuluh lateks. Sel-sel pembuluh lateks berada di sekitar pembuluh tapis (floem) serta memiliki inti banyak dan menghasilkan butiran-butiran lateks pada bagian sitosol sel - sel tersebut (Jacob et al., 1998).

Identifikasi morfologi karet meliputi lilit batang, ketebalan kulit, karakteristik pertajukan tanaman, daun, percabangan, tajuk, tebal kulit, dan lain-lain. Selama ini, identifikasi morfologi klon karet hanya dilakukan oleh tenaga terlatih yang jumlah dan pengetahuannya sangat terbatas. Identifikasi hanya dilakukan berdasarkan perbedaan ciri morfologi, dan indikator yang digunakan masih dominan menggunakan pengalaman di lapangan bertahun - tahun.

Deskripsi mengenai morfologi beberapa penciri klon telah dirumuskan untuk setiap bagian tanaman (daun, percabangan, tajuk, batang,tebal kulit,dan lain-lain), tetapi sulit diimplementasikan karena harus mengingat semua karakter dan mengetahui karakter mana saja yang spesifik untuk setiap klon. Selain itu, beberapa karakter tidak dapat diidentifikasi karena tanaman belum berkembang secara sempurna. Disamping itu sifat morfologi mudah dipengaruhi oleh lingkungan sehingga mempersulit dalam membedakan

(3)

klon-klon yang ada. Akibatnya seringkali proses identifikasi klon kurang akurat (Woelan et al., 2007).

Selain morfologi jumlah pembuluh lateks memiliki kolerasi positif dan berpengaruh langsung yang besar terhadap produksi lateks. Secara genetik tanaman karet berproduksi rendah disebabkan oleh jumlah pembuluh lateks yang sedikit demikian pula sebaliknya. Dari hasil penelitian Woelan et al. (2004), Sayurandi dan Woelan (2015) menyatakan bahwa jumlah pembuluh lateks, diameter pembuluh lateks, tebal kulit dan lilit batang berpengaruh signifikan terhadap produksi karet, sehingga dengan adanya peningkatan komponen produksi lateks maka lateks yang dihasilkan akan lebih tinggi. Hal sama sejalan dengan hasil penelitian Aidi-Daslin et al.(2009) bahwa jumlah dan diameter pembuluh lateks merupakan variabel yang memiliki korelasi positif dengan potensi produksi lateks.

Pengetahuan mengenai histologi dan morfo-fisiologi berguna untuk keberlanjutan produktivitas dan memperpanjang umur tanaman karet. Oleh karena itu, morfo-fisiologi tanaman karet perlu dikaji lebih lanjut untuk melihat tingkat korelasi sifat tersebut terhadap produksi tanaman karet.

(4)

Bahan dan Metode

Tempat dan Waktu

iatan penelitian dilaksanakan di dua lokasi yang berbeda yaitu di kebun Percobaan Balai Penelitian Sungai Putih Pusat Penelitian Karet dan kebun Sungai Putih, PT. Perkebunan Nusantara III (Persero). Kedua lokasi berada di kecamatan Galang,

kabupaten Deli Serdang pada ketinggian 25 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah ultisol. Penelitian ini terdiri dari 2 percobaan yakni percobaan 1: Mengidentifikasi dua

Klon Karet dilaksanakan di Kebun Sungai Putih, PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) dari April sampai Juli 2014. Kegiatan penelitian meliputi pengamatan, anatomi (jumlah dan diameter pembuluh lateks), morfologi (tajuk tananaman, lilit batang, posisi bidang sadap, tebal kulit dan kesehatan tanaman) dan produktivitas lateks (produksi lateks g p-1ha-1) serta pengamatan fisiologi kadar sukrosa, mM, Fosfat Anorganik, FA, mM dan Tiol, mM yang dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Sungai Putih.

Bahan dan Alat yang Digunakan

Bahan untuk kegiatan di lapangan antara lain tanaman karet yang berumur 15 tahun (tahun tanam 1999), dengan jarak tanam 2,5 x 5 m untuk klon BPM 1 dan klon PB 260. Alat pengamatan di lapangan terdiri dari Tap SP, stop watch, cat, kuas, meteran, timbangan analitik, botol - botol untuk tempat contoh lateks dan kulit, alat untuk pengambilan kulit (cork-borer), alat tulis, kamera dan alat-alat pendukung lainnya. Bahan untuk analisis fisiologi di laboratiorium yaitu TCA (asam trikloro-asetat), asam sulfat (H2SO4 70%), asam dithiobis-nitrobenzoat (DNTB), asam semut (formid acid), alkohol

96%, glycerine, KOH 50%, HN03 65%, dan aquadest.

(5)

Metode

Perlakuan yang diuji sebanyak 2 klon yaitu klon yang mewakili metabolisme rendah (BPM 1) dan klon yang mewakili metabolisme tinggi (PB 260) dengan sistem sadap S/2 d3. Menggunakan Uji -t untuk peubah amatan morfologi (lilit batang, tebal kulit, panjang alur sadap) dan produksi lateks, sedangkan peubah amatan anatomi (jumlah dan diameter lateks) dan fisiologi (sukrosa, FA dan tiol) menggunakan Uji F pada taraf 5% untuk mengetahui perbedaan, dan apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan

Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Masing-masing diulang sebanyak

tiga kali dengan menggunakan sepuluh pohon setiap satuan percobaan.

Tahapan Pelaksanaan

Pemilihan Tanaman

Identifikasi anatomi pada klon BPM 1 dan PB 260 dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Dari tiap klon dipilih sebanyak 500 tanaman dengan homogenitas relatif tinggi (koefisien keragaman ≤ 15%) (Gomez, 1998). Pengukuran lilit batang dilakukan dengan cara mengukur lilit batang pada ketinggian 130 cm dari sambungan okulasi. Untuk klon BPM 1 dan PB 260 lilit batang yang dibutuhkan memiliki kisaran (60 - 75 cm). Disamping pengukuran lilit batang juga dilakukan pengamatan yang meliputi: posisi bidang sadap, panjang alur sadap, tebal kulit, kondisi tajuk, kesehatan tanaman (bebas dari penyakit akar, daun dan batang). Untuk data peubah hasil lateks diambil dari data sekunder yang bersumber dari kebun PTPN III Sungai Putih. Sistem S/2 d3 BI-1 dapat dilihat pada Gambar 1.

(6)

Gambar 3.1. Sistem sadap (S/2d3 BI-1)

Penghitungan jumlah dan diamater pembuluh lateks

Untuk pengamatan jumlah dan diamater pembuluh lateks, maka dilakukan pengambilan contoh jaringan kulit. Metode pengambilannya adalah membuat tusukan (menggunakan cork-borer) dengan diameter 8mm dan ketebalan 5-7mm. Pengambilan tusukan dilakukan sebanyak dua kali pada tiap tanaman. Setiap tusukan akan menghasilkan 0,6g bobot segar jaringan kulit. Jaringan kulit segar ini kemudian dibawa ke laboratorium untuk analisis histologi menggunakan metode Gomez et al.(1972), yakni pengamatan jaringan kulit melalui fiksasi FAA (asam lemak bebas) selama sehari semalam ( 24 jam).

Setelah direndam, selanjutnya dilakukan pencucian pada air mengalir selama 5 menit, kemudian dikeringkan dengan kertas saring lalu dimasukkan kedalam larutan KOH 15% selama 1 jam. Setelah itu, jaringan dicuci kembali dengan air mengalir selama 5 menit, dikeringkan dan dimasukkan kedalam larutan HNO3 selama 2 jam. Setelah 2

jam, jaringan kulit dicuci kembali dengan air mengalir selama 5 menit, dikeringkan

(7)

dengan kertas saring dan dimasukkan kedalam alkohol 70% selama 15 menit. Pekerjaan selanjutnya adalah memasukkan sampel kulit kedalam larutan Sudan III selama 30 menit. Setelah itu jaringan diiris tipis melintang atau membujur menggunakan pisau silet untuk diamati dibawah mikroskop. Jumlah pembuluh lateks diamati dengan menghitung jumlah pembuluh langsung pada objek yang terlihat di bawah mikroskop. Sedangkan diameter pembuluh lateks diamati dengan mengukur diameter subs centere (dl) dan

subscribe (db) dari pembuluh lateks yang terlihat di bawah mikroskop. Dengan

menggunakan rumus Gomez et al.,(1972) (dl)x 2,5+ (db) x 2,5 Diameter =

2

Hasil dan Pembahasan

a. Anatomi Klon PB 260 dan BPM 1

Dari hasil perhitungan dengan rumus :

�� � � = � 2,5 +2 � 2,5

diperoleh nilai jumlah dan diameter pembuluh lateks (Lampiran 1) kemudian dianalisis dengan uji F. Hasil secara statistik diperoleh tidak terdapat perbedaan yang nyata pada peubah amatan jumlah dan diameter pembuluh lateks.

Untuk lebih jelas pada Gambar (3.2.a dan 3.3.b) memperlihatkan anatomi pembuluh lateks klon PB 260 dan BPM 1 pada umur 15 tahun.

Pembuluh Lateks

Gelembung Udara

Pembuluh Lateks

Gelembung Udara

Gambar 3.2. Anatomi pembuluh lateks dari klon PB 260 dan BPM 1

a. PB 260 b. BPM 1

(8)

Hasil analisis jaringan kulit yang telah dilakukan pada klon BPM 1 dan PB 260 umur 15 tahun pada kulit perawan dan pulihan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Anatomi, Morfo-fisiologi dan Produksi Klon PB 260 dan BPM 1 pada umur 15 tahun.

Peubah BPM 1 PB 260

Kulit

Perawan Pulihan Perawan Pulihan Jumlah Pembuluh Lateks 11,50 15,30 14,63 18,57 Diameter Pembuluh Lateks(µm) 22,12 24,11 24,23 24,31

Sukrosa (mM) 10,10 9,13 7,87 7,85 berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. (Angka antar kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf P=0.05 berdasarkan uji-Duncan). Untuk membandingkan antar perlakuan pada peubah amatan morfologi dan hasil lateks digunakan uji-t.

b. Morfologi

Rataan lilit batang, tebal kulit dan panjang alur sadap pada kulit perawan maupun pulihan pada klon BPM 1 tidak ada perbedaan yang nyata, begitu juga pada klon PB 260 rataan lilit batang, tebal kulit dan panjang alur sadap pada kulit perawan maupun tidak ada perbedaan yang nyata, (Tabel 4). Pada kedua klon (BPM 1 dan PB 260) rataan lilit batang, tebal kulit dan panjang alur sadap pada kulit perawan maupun pulihan tidak ada perbedaan yang nyata.

Hal ini disebabkan pemilihan kedua klon dilakukan berdasarkan lilit batang yang sama, tanaman dengan lilit batang yang sama akan memiliki panjang alur sadap yang sama juga. Secara genetis tebal kulit antara klon QS dan SS berbeda, kulit klon SS lebih tebal dibandingkn dengan QS. Akan tetapi hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat perbedaan ketebalan kulit antara dua klon. Hal ini diduga, karena pengamatan penelitian dilakukan pada umur tanaman 15 tahun. Umur tanaman, diketahui mempengaruhi

(9)

ketebalan kulit, semakin bertambahnya umur tanaman maka ketebalan kulit juga semakin meningkat (Jacob et al., 1989)

c. Histologi

Hasil analisis Tabel 4. menunjukkan bahwa rataan jumlah pembuluh lateks pada kulit perawan maupun pulihan pada klon BPM 1 tidak ada perbedaan yang nyata, begitu juga halnya pada diameter pembuluh lateks di kulit perawan maupun pulihan pada klon BPM 1 tidak ada perbedaan yang nyata.

Pada klon PB 260 rataan jumlah pembuluh lateks pada kulit perawan maupun pulihan tidak ada perbedaan yang nyata, juga pada diameter pembuluh lateks di kulit perawan maupun pulihan tidak ada perbedaan yang nyata (Tabel 3.1).

Pada kedua klon (BPM 1 dan PB 260) jumlah pembuluh dan diameter lateks pada kulit perawan maupun pulihan tidak ada perbedaan yang nyata. Secara genetik Klon PB 260 memiliki jumlah dan diamater pembuluh lateks yang lebih banyak dan besar dibandingkan dengan BPM 1 (Daslin, 2002). Akan tetapi, sejalan dengan pertambahan umur tanaman, maka jumlah dan diameter pembuluh lateks juga mengalami peningkatan. Hal ini, yang menyebabkan tidak terdapat perbedaan jumlah dan diameter pembuluh lateks antara dua klon yang dicobakan.

d. Fisiologi

Hasil analisis peubah amatan fisiologi (sukrosa, FA, tiol) pada klon PB 260 dan BPM 1disajikan pada Tabel 4. Rataan kadar sukrosa dan FA pada kulit perawan maupun pulihan pada klon BPM 1 tidak ada perbedaan yang nyata, begitu juga pada klon PB 260 kadar sukrosa dan FA tidak ada perbedaan yang nyata, (Tabel 4). Pada kedua klon (BPM 1 dan PB 260) rataan kadar sukrosa dan fosfat anorganik FA pada kulit perawan maupun tidak ada perbedaan yang nyata. Berbeda halnya dengan kadar tiol,baik pada

(10)

klon BPM 1 maupun PB 260 lebih tinggi pada kulit pulihan dibandingkan kulit perawan (Tabel 4).

Tiol merupakan senyawa yang berfungsi sebagai anti oksidan, sehingga tekanan oksidatif sebagai akibat aktifnya metabolisme dalam sel dapat ditekan (Lo Conte and Kate, 2012). Kadar tiol yang tinggi pada kulit pulihan menunjukkan kemampuan kulit ini menanggulangi cekaman akibat stres. Hasil ini mengindikasikan bahwa kulit pulihan memiliki kemampuan yang lebih untuk menghambat terjadinya stres akibat perlakuan dibandingkan kulit perawan. Kemampuan yang tinggi pada kulit pulihan ini diduga disebabkan pembagian asimilat pada kulit pulihan lebih banyak, sehingga mampu untuk membentuk tiol (Blohm, 2005).

e. Hasil Lateks (gp-1s-1)

Hasil lateks klon BPM 1 dan PB 260, secara statistik tidak berbeda nyata. (Tabel 4). Rataan hasil lateks pada kulit perawan maupun pulihan pada klon BPM 1 tidak ada perbedaan yang nyata, begitu juga pada klon PB 260 hasil lateks tidak ada perbedaan yang nyata, (Tabel 4). Pada kedua klon (BPM 1 dan PB 260) rataan hasil lateks pada kulit perawan maupun tidak ada perbedaan yang nyata.

Hasil lateks dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah jumlah dan diameter pembuluh lateks. Jika jumlah dan diameter pembuluh lateksnya sama makan akan menghasilkan produksi yang sama. Walaupun secara genetik klon PB 260 memiliki potensi hasil yang lebih tinggi, akan tetapi pada penelitian ini, tidak terdapat perbedaan produksi dengan klon BPM 1. Hal ini diduga disebabkan pengamatan yang dilakukan, pada umur karet 15 tahun. Terdapat perbedaan puncak produksi antara klon PB 260 (QS) dengan BPM 1 (SS).

30

(11)

KESIMPULAN

1. Tidak terdapat perbedaan jumlah dan diameter pembuluh lateks, kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan hasil lateks antara klon PB 260 dengan BPM 1 pada kulit perawan maupun pulihan

(12)

BAB IV

FISIOLOGI DAN PRODUKSI LATEKS DARI KLON BPM1 DAN PB 260 DENGAN PERLAKUAN SISTEM EKSPLOITASI

Abstrak.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sistem eksploitasi yang dapat memacu klon BPM 1dan PB 260 untuk mencapai hasil lateks yang optimal. Penelitian dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara III, pada areal tanaman karet klon BPM 1 dan PB 260 tahun tanam 1999 (umur tanaman 15 tahun). Penelitian dilaksanakan pada 2 klon, yakni PB 260 sebagai klon yang mewakili Quick Stater dan BPM 1 mewakili klon Slow

Starter, dengan menggunakan Rancangan Tersarang (Nested Design). Pada kedua klon

diuji 4 perlakuan yaitu panjang dan arah sadap S/4, S/2, S/2U dan S/4U, dan frekuensi stimulan yakni stimulan cair ET2,5%, dan gas ETG/9d, ETG/18d, ETG/27d. Sehingga kombinasi perlakuan yang diuji adalah S/4 d3 ET/15d, S/4 d3 ETG/9d, S/4 d3 ETG/18d, S/4d3 ETG/27d, S/2d3 ET/15d, S/2 d3 ETG/9d, S/2 d3 ETG/18d, S/2 d3 ETG/27d, S/2U d3 ET/15d, S/2U d3 ETG/9d, S/2U d3 ETG/18d, S/2U d3 ETG/27d, S/4U d3 ET/15d, S/4U d3 ETG/9d, S/4U d3 ETG/18d, S/4U d3 ETG/27d.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar sukrosa lebih tinggi pada klon BPM 1 dibandingkan PB 260. Kadar sukrosa yang tinggi untuk klon BPM 1 menggunakan irisan pendek S/4 d3 ETG/18d (bulan kering). Kadar FA lebih tinggi pada klon BPM 1 di bulan basah ( S/2U d3 ETG/18d), dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi pada bulan kering (S/2U d3 ETG/18d) dan lembab (S/2U d3 ETG/9d) kadar FA lebih tinggi pada klon PB 260. Kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 di bulan basah dan kering (S/2U d3 ETG/9d) di bulan lembab perubahan panjang, arah sadap dan stimulan tidak mempengaruhi kadar tiol pada klon PB 260. Kadar Karet Kering di bulan kering (S/4 d3 ETG/9d) dan lembab (S/4 d3 ET/15d) klon BPM 1 lebih tinggi dibandingkan PB 260. Kecuali di bulan basah klon PB 260 lebih tinggi dari BPM 1 (S/2 d3 ETG/9d). Indeks penyumbatan pada klon BPM 1 lebih rendah di bulan basah (S/2U d3 ET/15d), kering (S/4U d3 ETG/9d) dan lembab (S/4 d3 ETG/18d) dibandingkan klon PB 260. Hasil lateks dan indek hasil pada klon BPM 1 lebih tinggi di bulan lembab dengan sistem sadap (S/2U d3 ETG/27d) dibandingkan klon PB 260. Akan tetapi di bulan basah dan kering (S/2U d3 ET/15d) hasil lateks dan indeks hasil tertinggi pada klon PB 260. Panjang dan arah sadap (S/2U d3 ET/15d) pada klon PB 260 di bulan basah dapat meningkatkan hasil lateks 135,51%. Panjang dan arah sadap (S/2U d3 ETG/27d) pada klon BPM 1 dapat meningkatkan hasil lateks 39,52% di bulan kering dan 185,67% di bulan lembab. Selama satu tahun pengujian pemberian semua perlakuan stimulan pada klon BPM 1 dan PB 260 belum menunjukkan cekaman eksploitasi yang berlebihan yang tercermin dari kadar tiol 0.30-0.48 mM.

(13)

PHYSIOLOGY AND LATEX PRODUCTION OF CLONES BPM1 AND PB 260 ON SYSTEM EXPLOITATION TREATMENT

Abstract.

The objective of this research was to get combination of exploitation systems that can to increase clone PB 260 and BPM 1 yeild. The research was conducted at PTPN III Sungai Putih, in the area of rubber trees clone PB 260 and BPM1 planting year 1999 (15 years old). This research was prepared using a Nested Design, with three factor. The first factor is the type of clone consists of two type: BPM 1 and PB 260, while the second factor is a tapping system that consists of four levels are S / 4, S / 2 S / and S 2U / 4U. The third factor is a stimulant that consists of four levels were liquid stimulant ET2,5%, and gas ETG / 9d, ETG / 18d, ETG / 27d. The results showed that tapping system for clones BPM 1 in wet and humid, upward tapping produce high levels of sucrose, FA, latex flow rate, yield, yield potential and high yield index. In the dry season using downward tapping produces high DRC and TSC. The use of stimulant gas on clone BPM 1 can increase yield 39.52% in the dry season and 185.67% in humid than liquid stimulant. Tapping system for clones PB 260 in wet, dry and humid season, using upward tapping produce high levels of sucrose, FA, DRC, TSC, latex flow rate, yield, yield potential and high yield index. The use of liquid stimulant on clone PB 260 can increase 135.51% yield. Interval stimulant gas treatment in the wet and humid season more better aplication twenty-seven days on BPM 1 and PB 260. During one year of research, all stimulant treatment at BPM1 and PB 260 clones have not show symptoms of stress, which is reflected in the low levels of thiol (0.30-0.48 mM).

(14)

Pendahuluan

Klon BPM 1

Penyadapan merupakan suatu tindakan pembukaan pembuluh lateks agar lateks yang terdapat didalam kulit karet keluar (Junaidi dan Kuswanhandi, 2002).

Setelah penyadapan aliran lateks akan berhenti secara perlahan. Berhentinya aliran lateks disebabkan oleh adanya pembekuan (koagulasi) partikel karet yang menyumbat luka irisan sadap (Jacob et al., 1989). Upaya yang dilakukan untuk menghambat penyumbatan sehingga lateks mengalir lebih lama adalah dengan menggunakan stimulan (Khasanah, 2012).Pemakaian stimulan akan meningkatkan hasil dan menurunkan biaya tenaga kerja. Penggunaan jenis stimulan dan frekuensi aplikasi yang tepat merupakan upaya untuk mencapai optimalisasi hasil tanaman.

Sistem eksploitasi adalah rangkaian penyadapan yang diterapkan sepanjang waktu produksi (TM) tanaman karet umur (20 - 25 tahun). Keuntungan dan produksi yang dihasilkan sangat ditentukan oleh sistem eksplotasi. Oleh karenanya upaya dalam meningkatkan hasil dan keuntungan, penelitian sadap dan stimulan terus dilakukan untuk mencari sistem yang paling tepat dan memberikan hasil tinggi dengan efek negatif minimum terhadap tanaman. Faktor utama yang menentukan intensitas eksploitasi adalah panjang irisan, frekuensi sadap, dan aplikasi stimulan (Junaidi dan Kuswanhadi, 1998). Ketiga faktor ini saling interaksi terhadap klon, umur tanaman dan variasi musiman, sehingga setiap klon memiliki sistem eksploitasi yang berbeda (Sumarmadji et al., 2003).

(15)

tebal, sehingga potensial untuk dimanfaatkan. Karakteristik klon SS ini tertera pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1.Karekteristik klon Slow Stater

Morfologi Fisiologi Kelebihan (+) Kekurangan(-)

Sumber : Sumarmadji (2008).

Secara umum sistem eksploitasi pada klon SS ini, modifikasi penyadapan pada kulit pulihan (BI) yang dikombinasikan dengan panel atas (H0) berupa sadapan ganda irisan pendek. Irisan ganda yaitu (double cut) (2x S/4UD d3.ET.2.5%) pada panel H0-1 dan BI-1 serta H0-2 dan BI-2, setelah panel B0-1 dan B0-2. Klon karet dengan metabolisme rendah relatif lebih tahan terhadap tekanan eksploitasi yang agak berat sehingga aplikasi stimulan dapat dilakukan maksimal 18 kali pertahun dengan interval dua kali perbulan (Siregar et al., 2008).

Salah satu klon SS yaitu BPM 1 yang merupakan hasil seleksi dari persilangan Avros 163 dengan Avros 308 oleh Balai Penelitian Perkebunan Medan, Klon ini dirilis menjadi klon anjuran pada tahun 1937, lebih sesuai pada daerah lembab sampai kering dengan pertumbuhan relatif sedang sejak fase TBM sampai TM, dan berpotensi sebagai penghasil kayu (Woelan et al., 2011).

(16)

Beberapa keunggulan yakni, pertumbuhannya sangat baik, dapat menghasilkan kayu, serta toleran terhadap serangan penyakit gugur daun yang disebabkan oleh

Colletotricum. Akan tetapi tidak tahan terhadap penyakit gugur daun(Phytopthora) yang

disebabkan oleh cendawan Phytopthora palmivoraug. Kelemahan lainnya dari klon ini gugur daun (Oidium) disebabkan oleh jamur Oidium hevea (Balai Penelitian Sembawa, 2000).

Klon PB260

Indonesia umumnya hanya menggunakan klon karet QS sekitar 40% sementara Malaysia 90%, Thailand 95%, India 99%, dan Vietnam 100% dari seluruh pertanaman karet (Ditjenbun, 2007).

Siregar et al. (2001) memberikan karakteristik klonQS (Tabel 4.2), yang merupakan kompilasasi dari beberapa hasil penelitian sifat spesifik klon QS adalahkurang tanggap terhadap stimulan, rentan akan KAS, kulit pulihan yang kurang potensial (tipis dan benjol - benjol), dan umumnya lilit batang kecil sampai sedang. Sistem eksplotasi yang umum digunakan untuk klon QS tidak menggunakan kulit pulihan dan menerapkan irisan pendek ke arah atas (S/4Ud3. ET.2.5%).

(17)

Tabel 4.2. Karekteristik klon QuickStarter

Morfologi Fisiologi Kelebihan (+) Kekurangan (-) -Lilit batang Klon yang paling banyak di budidayakan di Sumatera Utara adalah klon PB 260. Hal ini dikarenakan klon ini memiliki keunggulan seperti potensi hasil yang tinggi.Klon ini juga merupakan satu dari beberapa tanaman karet penghasil getah yang direkomendasikan sebagai klon karet unggul periode 2010 -2015.

Grafik 4.1. Pola produksi klon Quick Starter dan Slow Starter (Siregar et al. 2008)

Klon - klon QS dan SS memiliki pola hasil yang berbeda Gambar 4.1 Puncak hasil pada klon QSberada pada awal penyadapan (7 - 9 tahun), rata - rata hasil dapat di capai

(18)

2.700 - 2.800 kgha-1.Untuk klon SS puncak hasil berada pada 12 – 13 setelah tanam(Azwar dan Suhendry,1998).

Klon PB 260 merupakan klon yang dominan digunakan pekebun untuk peremajaan dan perluasan kebun karetnya. Klon ini memiliki produksi tinggi pada awalnya dan selanjutnya terus meningkat, disamping itu ketahanannya terhadap penyakit daun cukup baik. Hanya saja kulit PB 260 lebih tipis daripada GT 1 dan rentan terhadap penyakit kering alur sadap (Siregar et al., 2007). Selain ituhasil penelitian Anwar (2008) menyatakan bahwa klon PB260 mempunyai hasil lateks dan tingkat produktivitas tinggi dari semua jenis klon yang ada, serta potensi hasil lateks yang dihasilkan PB 260 mulai bisa dideres rata-rata umur 5 tahun. Hal yang samapendapat Nurlaili, (2009) bahwa bibit karet klon PB 260 juga mempunyai keunggulan dari sisi hasil lateks lebih tinggi dibandingkan dengan jenis klon lainnya.

Bahan dan Metode Penelitian

Tempat dan Waktu

Penelitian dilaksanakan pada dua lokasi yaitu di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sungai Putih dan Pusat Penelitian Karet dan Kebun Sungai Putih, PT. Perkebunan Nusantara III (Persero).Kedua lokasi tersebut berada di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang dengan ketinggian 25 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah Ultisol. Penelitian dimulai bulan Agustus 2014 hingga Juli 2015.

Bahan dan Alat

Bahan

(19)

Bahan di Lapangan

Bahan untuk kegiatan di lapangan antara lain tanaman karet yang berumur 15 (tahun tanam 1999), dengan jarak tanam 2,5 x 5 m ( populasi awal setiap klon 800 pohon ha-1). Klon yang digunakan disesuaikan dengan perlakuan yang mewakili tingkat metabolisme lateks yaitu metabolisme tinggi (PB 260), dan metabolisme rendah (BPM1).

Bahan di Laboratorium

Stimulan yang diberikan adalah berbahan aktif etepon (asam 2-cloro etil pospate) 2,5% dan stimulan gas (±100%). Bahan yang digunakan untuk analisis fisiologi di Laboratiorium yaitu TCA (asam trikloro-asetat), asam sulfat (H2SO4 70%), asam

dithiobis-nitrobenzoat (DNTB) dan asam semut (formid acid), alkohol 96%, glycerine, KOH 50%, HN03 65%, aquadest. Alat yang digunakan untuk pengamatan di lapangan

terdiri atas Tap SP, stop watch, cat, kuas, meteran, timbangan analitik, botol untuk tempat contoh lateks dan kulit, alat tulis, kamera dan computer, peralatan sadap antara lain pisau sadap, mangkok penampung, talang, ember, aplikator regulator gas, soket dan alat-alat pendukung lainnya.

Alat

(20)

Tabel 4.3. Alat dan Bahan yang digunakan untuk Penelitian

- Alat Sadap (pisau sadap, mangkok

penampung,talang, ember, aplikator regulator, soket, jiregen).

- Alat Pengamatan (Tap SP, stop watch, cat, kuas, meteran, timbangan analitik, botol film), alat tulis, kamera dan computer.

- Tanaman karet berumur 15 tahun (TT 1999). - metabolisme tinggi (PB 260), dan metabolisme

rendah (BPM1).

Laboratorium:

- TCA (asam trikloro-asetat), - asam sulfat (H2SO4 70%),

- asam dithiobis-nitrobenzoat (DNTB) asam

semut (formid acid),

(21)

sadap empat taraf dan faktor stimulan empat taraf.Rincian masing - masing faktor Gas pemberian 18 hari sekali (ETG/18d) Gas pemberian 27 hari sekali (ETG27d)

Keterangan :BPM1 Tahun Tanam 1999 Klon Metabolisme Rendah PB260 Tahun Tanam 1999 Klon Metabolisme Tinggi

3.3.2.b. Model Persamaan dalam pengolahan data :

Model linier yang digunakan (Suhendry, 1998) adalah :

keterangan

kδj / = Pengaruh interaksi sistem sadap dan stimulan di dalam setiap klon ijk = Pengaruh kekeliuran percobaan

Data hasil percobaan dianalisis dengan Uji F pada taraf 5% (analisis ragam), dan apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test

(DMRT) pada taraf 5%.

Data sekunder diperoleh dari PTPN III Sungai Putih yaitu data Curah Hujan selama 13 tahun (2002 - 2015) yaitu rata - rata curah hujan bulanan. Untuk menetapkan kriteria bulan basah, kering dan lembab digunakan klasifikasi Oldeman. Berdasarkan klasifikasi tersebut diperoleh bulan basah, lembab dan kering. Jumlah

(22)

curah hujan pada bulan basah: >200mm, bulan lembab:100-200mm, sedangkan bulan kering <100mm (Perhitungan untuk menentuan kriteria bulan tersebut terdapat pada Lampiran 2 )

Tahapan Pelaksanaan

Sistem sadap

Perlakuan sistem sadap diberikan kepada tiap tanaman yang terpilih dalam tiap plot klon sesuai perlakuan percobaan, dengan frekuensi sadap adalah 3 hari sekali (d3). Perlakuan sistem sadap terdiri atas 4 perlakuan yakni perlakuan pertama menggunakan sistem sadap dengan panjang penyadapan setengah lilit batang pada bidang sadap bawah yaitu (S/2d3BI-1). Perlakuan ke 2 dengan panjang penyadapan seperempat lingkar batang pada bidang (S/4d3BI-1) menggunakan pisau sadap bawah.

H0-1 (S/2Ud3H0-1) H0-1(S/4Ud3H0-1) BI-1 (S/2d3BI-1) BI-1(S/4d3BI-1)

Gambar 4.2. Perlakuan panjang dan arah sadap yang diujicobakan dalam penelitian.

(23)

Stimulan Cair

Pemberian stimulan cair dilakukan dengan cara terlebih dahulu menarik bekuan lateks di atas alur sadap. Teknik ini lebih dikenal dengan nama Grove application (Ga). Aplikasi stimulan ini biasanya digunakan untuk bidang sadap bawah (B0-1). Konsentrasi stimulan cair yang digunakan adalah 2,5% dan gas dengan kosentrasi 99%. Pemberian stimulan cair yang biasa digunakan untuk bidang sadap atas (H0-1) diberi nama teknik aplikasi (bark application), yaitu dengan mengerok kulit di atas bidang sadap selebar 1,5 cm, kemudian diolesi stimulan. Untuk interval pemberian stimulan cair berlaku secara umum pada klon SS (BPM1)15 hari sekali dan pada klon QS (PB 260) 30 hari sekali. Untuk mengencerkan stimulan ethepon yang diperdagangkan umum digunakan air suling dengan konsentrasi 10% (Junaidi, 2010).

Stimulan Gas

Stimulan gas dipasang pada setiap plot klon dipilih 20 pohon yang terkelompok tiap 10 tanaman, dengan cara : 1). pertama bidang sadap dibagi menjadi seperempat lilit batang (S/4) dan 2). kedua setengah lilit batang (S/2).

(S/2d3B1-1) (S/4Ud3H0-1) (S/2Ud3H0-1) (S/4d3BI-1)

Gambar 4.3. Sistem sadap dan letak aplikator stimulan pada masing- masing perlakuan yang diuji.

(24)

5cm a

15cm

(S/2Ud3H0-1) (S/2d3BI-1) (S/4Ud3H0-1) (S/4d3BI-1)

Gambar 4.4. Letak aplikator stimulan pada masing-masing perlakuan sistem sadap. Keterangan Gambar a: Aplikator, b : Kantung Plastik Tempat Gas

Aplikator gas dipasang pada posisi 15-20cm di atas bidang sadap dan 6 -7,5 cm ke kiri.Pemberian stimulan gas dilakukan sesuai dengan perlakuan. Pengisian ulang gas dilakukan setelah 3 kali disadap (9 hari sekali), 6 kali disadap (18 hari sekali), dan 9 kali disadap (27 hari sekali). Gas etilen dengan konsentrasi 99% sebanyak 300ccdimasukkan ke dalam aplikator (Gambar 4.3).

Peubah Amatan

Peubah amatan dibagi atas dua kelompok yaitu: fisiologi dan produktivitas lateks. Peubah fisiologi terdiri atas: kadar sukrosa (mM), fosfat anorganik FA(mM) dan Tiol (mM), ketiga peubah ini pengamatannya dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Sungai Putih. Untuk peubah produktivitas lateks terdiri atas: hasil lateks (g s -1p-1),

potensi hasil (kg ha -1thn-1), indeks penyumbatan (IP), kecepatan aliran lateks (KA) dan indeks hasil (IPr) (g p -1s -1cm). Pengamatan dilakukan di lapangant. Rincian peubah pengamatan pada tahapan penelitian ini tertera pada Tabel 4.5.

(25)

Tabel 4.5. Peubah amatan yang dilakukan

Untuk diagnosis lateks, khususnya kadar sukrosa, fosfat anorganik, dan tiol lateks diukur dengan menggunakan contoh berupa serum lateks TCA (asam trikloro-asetat). Serum lateks TCA dibuat dengan mencampur 1 ml (mililiter) lateks dan 9 ml TCA dalam botol film. Gumpalan karet diambil dan serum TCA disaring dengan kertas saring kemudian serum tersebut disimpan di dalam freezer sebelum dianalisis.

a. Sukrosa (mM)

Sampel lateks diambil sebanyak 150 µL kemudian ditambah TCA 2,5% sehingga volume total menjadi 500 µL. Kemudian ditambahkan pereaksi anthrone 3ml dan divortex, lalu dipanaskan dengan merendam pada air mendidih selama 15 menit kemudian didinginkan. Tahapan selanjutnya dilakukan absorbansi pada 627 nm (nanometer), lalu diukur dengan menggunakan metode anthrone. Dehidrasi sukrosa dalam asam sulfat pekat (H2SO4 70%) dan pemanasan akan memberikan turunan furfural yang

(26)

absorbannya pada 627 nm (nanometer) dengan spektrofotometer Beckman DU 650 (menurut metode anthrone Dische (1972).

b. Fosfat Anorganik (FA) (mM)

Fosfat anorganik diukur berdasarkan prinsip pengikatan oleh amonium molibdat kemudian tereduksi oleh FeSO4 dalam reaksi asam sehingga menjadi warna biru. Pengukuran absorbannya dilakukan pada 750 nm (nanometer) dengan spektrofotometer Beckman DU 650, dengan metode Taussky dan Shorr 1953).

c. Tiol (R-SH) (mM)

Sampel lateks diambil lebih kurang 1,5 ml, dan ditambah TCA 2,5% sehingga volume 1,5ml) kemudian ditambah lagi dengan DTNB 10mM 75µL. Ditambah 1,5 ml bufer Tris 0,5 M dan divortex. Didiamkan pada suhu kamar selama 30 menit. Absorbansi

dibaca pada 412 nm (nanometer) dengan spektrofotometer Beckman DU 650. Atau

Diukur dari serum TCA berdasarkan prinsip reaksinya dengan asam dithiobis-nitrobenzoat (DTNB) untuk membentuk TNB yang berwarna kuning yang terabsorbsi

pada 421 nm (nanometer) dengan spektrofotometer Beckman DU 650 dilakukan

menurut metode McMullen (1960).

d. Total Solid Content (TSC)

(27)

e. Kadar Karet Kering (KKK) (%)

Kadar karet kering diukur dengan mengambil sampel 10g contoh lateks kemudian diletakkan dalam gelas piala lalu ditambahkan 10 ml aquadest, kemudian dipanaskan di atas hot plate dan ditambahkan asamformat 5% sedikit-demi sedikit sambil diaduk hingga terbentuk gumpalan sempurna dan serumnya kelihatannya jernih. Gumpalan lateks digiling dengan gilingan DRC, hingga terbentuk lembaran karet dengan ketebalan 0,6 - 1,0 mm. Lembaran karet tersebut dikeringkan pada suhu 1000C selama 30 menit,

dilanjutkan dengan mendinginkan lembaran karet kering dalam desikator hingga suhu kamar. Pekerjaan selanjutnya adalah menimbang lembaran karet kering dan menghitung KKK. Penghitungan nilai KKK dilakukan dengan cara bobot kering (g) dibagi dengan bobot basah (g), dan dikalikan dengan 100% (Metode McMullen (1960).

PeubahHasil:

a. Hasil Karet (g p-1s-1)

Untuk mendapatkan hasil kering, data (pengamatan ) hasil dari lapangan dikali dengan KKK yang diperoleh dari analisis di kebun. Persamaan penghitungan karet kering (KKK) adalah sebagai berikut :

BK = BB x KKK... (1) Keterangan BK : Berat kering (g)

BB : Berat Basah (g)

KKK : Kadar Karet Kering (%)

Untuk mengukur produksi kering (g/p/s), BK dibagi jumlah tanaman yang disadap dan banyaknya hari sadap dengan persamaan sebagai berikut :

Produksi Kering (g p-1s-1) = BK

∑p/∑s ...(2) Keterangan

(28)

BK : Berat kering (g)

∑p : pohon

∑s μ jumlah hari sadap

b. Potensi Hasil Karet (kg ha -1tahun-1)

Potensi hasil diukur berdasarkan data hasil pengamatan sebelumnya yangdiproyeksikan menjadi produktivitas pertanaman (kg ha -1tahun-1), data yang diambil dalam 3 bulan sekali.

Kgha-1tahun-1= g/cm/s x ∑p/ha x ∑s/thn...(3) Keterangan : Kgha-1tahun-1 = hasil tanaman kilogramper ha per tahun

∑cmha-1 = panjang alur sadap (cm)/ ha.

∑sthn-1 = jumlah hari sadap pertahun (110s/ha)

c. Indeks Penyumbatan (IP)

Indeks Penyumbatan (IP) dihitung berdasarkan volume lateks lima menit pertama dibagi dengan volume lateks total dan dikalikan dengan 100 dilakukan menurut metode Milford et al., (1969). Pengamatan IP dilakukan dengan mengikuti penyadapan pada awal eksploitasi (± 05.30 WIB), mengukur volume lateks awal (selama 5 menit) dan akhir (total) dengan gelas ukur pada setiap unit percobaan. Persamaan pengukuran indeks penyumbatan (IP) adalah sebagai berikut

V x 100...( 4) T V (cc)

Keterangan: IP = Indeks Penyumbatan

V = Rata–rata Volume lateks (cc) 5 menit pertama TV = Total Volume lateks (cc)

d.Kecepatan Aliran Lateks (KA)

(29)

akhirnya berhenti, volume lateks diukur pada 10 menit pertama, kemudian pada interval 20 menit selama 90 menit (Waidyanatha dan Pathiratne 1971).

e. Indeks Hasil (g p -1s-1) -1cm

Pengamatan indeks Hasil(IPr) adalah Hasil (cc/pohon/ eksploitasi) dibagi dengan lilit batang (cm), dan dikalikan dengan 100. Persamaan indeks produksi (IPr) adalah sebagai berikut :

P (ccp-1s-1) x 100...(6) Lb (cm)

Keterangan : IPr = Indeks Hasil (g p -1s-1)

P = Hasil (ccpohon-1 eksploitasi-1) Lb = Lilit batang (cm)

f. Kecepatan Aliran Lateks (KA)

Pengamatan kecepatan aliran lateks dimaksudkan untuk mengetahui pola kecepatan aliran lateks. Pada awalnya aliran lateks mengalir cepat, kemudian lambat dan akhirnya berhenti, volume lateks diukur pada 10 menit pertama, kemudian pada interval 20 menit selama 90 menit (Waidyanatha dan Pathiratne 1971).

g. Indeks Hasil (g p -1s-1) -1cm

Pengamatan indeks Hasil(IPr) adalah Hasil (cc/pohon/ eksploitasi) dibagi dengan lilit batang (cm), dan dikalikan dengan 100. Persamaan indeks produksi (IPr) adalah sebagai berikut :

P (cc/p/s) x 100...(6) Lb (cm)

Keterangan : IPr = Indeks Hasil (g/p/s)

(30)

Hasil dan Pembahasan

1. Fisiologi karet

Kadar Sukrosa (mM)

Peubah amatan fisiologi dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh sistem sadap terhadap kondisi fisiologi tanaman. Secara umum, sistem sadap akan memberikan respons fisiologi terhadap tanaman, yang berakibat pada produksi lateks.

Pengamatan kadar sukrosa (mM) klon BPM 1 pada bulan yang berbeda dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Analisis sidik ragam pada Lampiran 2.

Tabel 4.6. Kadar Sukrosa Lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab

Perlakuan Klon BPM 1 Klon PB 260

Keterangan : Angka dalam kolom yang sama dan kelompok perlakuan yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berbeda nyata pada taraf P=0.05 berdasarkan uji-Duncan.

* BB = Bulan Basah (Sept-Nov CH > 200 mm)

** BK = Bulan Kering (Jan-Mar CH < 100 mm)

(31)

Hasil analisis statistik diketahui perlakuan sistem sadap pada klon BPM 1 dan PB 260 berpengaruh nyata terhadap kadar sukrosa lateks baik pada bulan basah, kering dan lembab.

Rataan tertinggi kadar sukrosa klon BPM 1 diperoleh pada bulan lembab, sedangkan untuk klon PB 260 pada bulan kering. Sistem sadap yang sesuai untuk klon BPM 1 adalah sistem sadap pendek S/4 d3, sedangkan klon PB 260 menggunakan sistem sadap panjang S/2U d3. Untuk penggunaan stimulan juga terdapat perbedaan antar klon yaitu cair untuk klon BPM 1 dan gas untuk PB 260. Perubahan sistem sadap dari pendek ke panjang, atau sebaliknya akan menurunkan kadar sukrosa. Begitu juga halnya dengan stimulan perubahan stimulan dari cair menjadi gas akan menurunkan sukrosa BPM 1, berbeda dengan PB 260 perubahan stimulan dari gas ke cair akan menyebabkan penurunan sukrosa (Tabel 4.6). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa respons tanaman terhadap penggunaan sistem sadap dan stimulan bergantung pada jenis metabolismenya.

(32)

Hasil ini mengindikasikan bahwa penggunaan panel kulit pulihan pada klon SS

juga berpotensi untuk meningkatkan produksi lateks. Disamping itu, pada kondisi daun telah berkembang sempurna, sehingga fungsi daun sebagai penghasil asimilat dapat optimum. Berdasarkan data Curah hujan Kebun Sei Putih PTPN III, diketahui bahwa curah hujan rata-rata pada bulan lembab ini adalah 152.04 mm/bulan dengan jumlah hari hujan 5 hari/bulan. Data ini mengindikasikan bahwa tanaman karet pada bulan lembab ini dalam kondisi cukup air. Ketersediaan air yang cukup akan mempengaruhi keseimbangan sukrosa dalam sel tanaman (Gao, et. al., 2006). Hasil bahasannya mereka juga menambahkan bahwa, kondisi cukup air pada tubuh tanaman akan memperlancar pembentukan sukrosa (bioaktivitas sukrosa).

Pada kondisi cukup air, sukrosa yang dibentuk akan segera ditranslokasikan ke tempat lain, sehingga tidak mengganggu keseimbangan sukrosa pada tubuh tanaman. Kadar air yang cukup menyebabkan terjadinya keseimbangan osmotikum dalam sel karet, yang berimplikasi pada turgor tanaman. Proses metabolisme tanaman sangat tergantung pada turgor, dengan kata lain proses akan berlangsung pada turgor maksimum. Perubahan tekanan turgor kearah minimal (dengan rendahnya kandungan air pada tubuh tanaman) berakibat pada penurunan laju metabolisme tanaman.

(33)

membuyuhkan frekuensi tinggi baru mampu untuk menggerakkan pompa proton H+ untuk menghasilkan sukrosa yang tinggi

Kadar sukrosa yang tinggi pada bulan kering untuk klon PB 260 diduga disebabkan terjadinya penurunan kandungan air pada tubuh tanaman. Penurunan sejumlah pelarut akan mempengaruhi konsentrasi zat terlarut yang dalam hal ini sukrosa. Hasil beberapa penelitian juga menunjukkan peningkatan kadar gula pada tubuh tanaman pada saat tanaman dalam kondisi stres. Sukrosa merupakan senyawa yang memegang peranan penting dalam transpor gula, hara dan sinyal pada tanaman. Metabolisme sukrosa sangat tergantung pada aktivitas enzim sucrose phosphate synthase (SPS) (Winter dan Huber, 2000). Beberapa faktor dalam dan luar seperti cekaman abiotik turut mempengaruhi metabolisme sukrosa. Hasil penelitian Reimholz et al. , 1994; Geigenberger et al., 1997 membuktikan bahwa cekaman kekeringan akan meningkatkan aktivitas enzim SPS. Peningkatan enzim ini tentunya turut meningkatkan sukrosa dalam tubuh tanaman.

Gambar 4.5. Kadar Sukrosa lateks klon BPM 1 sistem sadap danstimulan gas ETG /9d berdasarkan perbedaan bulan

Hasil pada Gambar 4.5 sampai 4.8 memperlihatkan bahwa kadar sukrosa tertinggi dengan perlakuan berbagai sistem sadap dan stimulan pada bulan kering, lembab maupun

(34)

basah diperoleh pada klon BPM 1. Perbedaan sukrosa ini, diduga disebabkan karakteristik masing-masing klon. Klon BPM 1 adalah karet dengan metabolisme lambat. Pada karet metabolisme lambat ini, puncak hasil lateks berada pada umur 12-14 tahun (pada saat dilakukan penelitian), kondisi inilah yang menyebabkan sukrosa lateks klon BPM 1 lebih tinggi. Berbeda halnya dengan klon PB 260, yang tergolong metabolisme cepat. Pada klon ini puncak hasil lateks berada pada umur 6 - 8 tahun, pada saat dilakukan penelitian sudah mengalami penurunan hasil lateks. Hal inilah diduga yang menyebabkan sukrosa lateks lebih tinggi pada klon BPM 1.

Gambar 4.7. Kadar Sukrosa lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /18d berdasarkan perbedaan bulan

Gambar 4.8. Kadar Sukrosa lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /27d berdasarkan perbedaan bulan

Dari hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa rataan kadar sukrosa lebih tinggi pada klon BPM 1 dibandingkan klon PB 260, baik pada bulan basah, kering dan lembab, dimana klon BPM 1 tergolong metabolisme rendah dan PB 260 metabolisme tinggi, hal ini dapat dilihat dengan kadar FA (Tabel 4.7) sejalan dengan dengan kadar sukrosa.

Pada klon PB 260 tergolong metabolisme tinggi, sehingga kadar sukrosa dan FA rendah dibanding dengan klon BPM 1, hal ini disebabkan karena FA aktif sebagai energi merubah sukrosa menjadi lateks, FA yang rendah karena sudah terpakai untuk mendukung proses metabolisme tanaman yang berkaitan pembentukan lateks. Lacote, et

(35)

al., (2010) menyatakan bahwa FA menunjukkan kemampuan kecepatan suatu klon merubah sukrosa menjadi lateks.

Lain halnya dengan klon BPM 1 yang tergolong metabolisme rendah kadar sukrosa dan FA tinggi, hal ini disebabkan kadar sukrosa berlangsung lambat diolah menjadi lateks sehingga kadar sukrosa tinggi dan begitu juga FA tinggi karena lambat digunakan untuk mendukung proses pembentukan lateks, dan lebih banyak ke pertumbuhan vegetative. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sumarmadji et al.,(2008) yang menyatakan bahwa klon SS pertumbuhan lilit batang tegap dan kulit pulihan tebal.

Kadar FA (Fosfat Anorganik mM)

Fosfat anorganik adalah senyawa dasar P yang akan berikatan dengan ADP untuk menghasilkan ATP. Hasil analisis statistik diketahui perlakuan sistem sadap pada klon BPM 1 dan PB 260 berpengaruh nyata terhadap FA lateks baik pada bulan basah, kering dan lembab.

Rataan FA tertinggi untuk klon BPM 1 diperoleh pada bulan basah, sedangkan PB 260 pada bulan kering. Panjang sadap yang menghasilkan FA tertinggi untuk BPM 1 dan PB 260 adalah S/2, Akan tetapi perbedaannya pada arah sadap, untuk klon BPM 1 arah sadap ke bawah dan untuk PB 260 ke arah atas. Stimulan yang sesuai untuk BPM 1 maupun PB 260 adalah stimulan gas. Akan tetapi perbedaannya pada frekuensi penggunaan, kalau BPM 1 interval pemberian 9d sedangkan PB 260 adalah 18d.

(36)

(Zambrosi et al, 2012). Secara umum P disimpan di daun (Mattos et al. 2003), dan pada kondisi tertentu dapat diremobilisasi ke bagian lain pada tubuh tanaman (Sanz et al 1987). Tabel 4.7. Kadar FA Lateks klon BPM 1 dan PB260 dengan perlakuan sistem sadap

Keterangan : Angka dalam kolom dan kelompok perlakuan yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berbeda nyata pada taraf P=0.05 berdasarkan uji-Duncan.

* BB = Bulan Basah (Sept-Nov CH > 200 mm) ** BK = Bulan Kering (Jan-Mar CH < 100 mm)

*** BL = Bulan Lembab (Apr-Agt dan Des CH 100-200 mm)

(37)

juga dapat mengubah Kristal mineral dan mengurangi kapasitas untuk adsorpsi (McLaughlin et al.,1981). Di sisi lain, permintaan tanaman untuk FA puncaknya juga terjadi selama bulan basah (Vandecar et al.2009). Hal ini diduga mengapa FA lebih tinggi pada bulan basah.

Rataan FA yang tinggi dari klon PB 260 pada bulan kering diduga disebabkan oleh tingginya laju transpirasi pada tanaman yang berakibat peningkatan laju absorbsi. Hal ini sesuai dengan Teori Vital yang menyatakan peningkatan laju transpirasi sampai batas tertentu akan meningkatkan pengabilan hara termasuk di dalamnya P. Dengan kata lain peningkatan laju transpirasi akan meningkatkan laju absorbsi. Dinan dan Lemoine, (2010), menambahkan jaringan phloem tanaman turut memegang peranan penting dalam laju absorbsi hara, yang memiliki sinyal antar organ yang memberikan informasi mengenai peningkatan kebutuhan. Jika terjadi laju aliran transpirasi yang lebih besar maka segera terjadi pemenuhan kebutuhan dengan peningkatan laju pengambilan air dan hara. Hal ini diduga yang menyebabkan peningkatan FA pada bulan kering dari klon PB 260.

Sistem sadap S/2U d3 ETG/18d pada bulan kering dari klon PB 260 menghasilkan rataan FA tertinggi (Tabel 4.7). Hasil ini mengindikasikan sistem sadap panjang ke arah atas akan menghasilkan FA yang tinggi. Hal ini disebabkan, sistem sadap ke arah atas, akan menyebabkan aliran lateks melawan gaya grafitasi. Oleh karenanya, untuk mengimbangi besarnya gaya grafitasi tersebut, maka tanaman akan berupaya untuk meningkatkan energi (ATP) melalui peningkatan penyerapan FA.

(38)

keras lunaknya kulit, jumlah dan distribusi sclereids, sel tannin dan kristal. (Thomas et al., 1985), kondisi ini juga akan mempengaruhi pengambilan dan translokasi P.

Pola FA pada klon BPM 1 dan PB 260 pada perbedaan bulan, jenis stimulan serta frekuensi pemberian stimual tertera pada Gambar 4.9 sampai 4.12. Hasil pada Gambar 4.9 diketahui bahwa rataan kadar FA lebih tinggi pada klon BPM 1 dibandingkan dengan PB 260 pada penggunaan stimulan cair.

Perubahan stimulan dari cair menjadi gas, akan mengubah rataan kadar FA pada klon BPM 1 di bulan lembab (Gambar 4.10). Hasil pada Gambar 4.11 dan 4.12 memperlihatkan perbedaan kadar FA dengan penurunan frekuensi pemberian stimulan dari 18d ke 27d. Kadar FA tertinggi pada frekuensi 18D diperoleh PB 260 di bulan basah dan kering, berbeda halnya pada bulan lembab kadar FA tertinggi diperoleh pada klon BPM 1. Penurunan frekuensi pemberian stimulan gas akan merubah kadar FA yang tadinya tertinggi pada klon PB 260 berubah pada klon BPM1.

(39)

Gambar 4.9. Rataan Kadar FA lateks (mM) klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan cair berdasarkan perbedaan bulan

Gambar 4.10. Rataan Kadar FA lateks (mM) klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG

Hasil analisis statistik diketahui perlakuan sistem eksploitasi pada klon BPM 1 dan PB 260 berpengaruh nyata terhadap kadar tiol lateks baik pada bulan basah, kering dan lembab (Tabel 4.8). Rataan tiol tertinggi pada klon BPM 1 diperoleh pada bulan kering, sementara untuk PB 260 pada bulan basah.

(40)

Tabel 4.8. Kadar Tiol lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab

Perlakuan Klon BPM1 Klon PB260

………mM…………..……….. …………mM……….. menghasilkan tiol tertinggi dibutuhkan sistem sadap panjang, hanya perbedaannya pada arah sadap. Jika BPM 1 arah sadap kearah atas, maka PB 260 kearah bawah. Klon BPM 1 adalah kelompok karet dengan metabolisme lambat, proses metabolisme yang lambat ini tentunya membutuhkan energi lebih besar oleh karenanya sistem sadap yang sesuai adalah kearah atas. Klon PB 260 dengan metabolisme cepat, memiliki laju pembentukan yang lebih cepat.

(41)

perbedaan arah sadap. Tidak terdapat perbedaan kadar tiol yang nyata antara penggunaan stimulan cair maupun gas, begitu juga perubahan frekuensi pemberian (Tabel 4.8).

Rataan kadar tiol dengan perlakuan berbagai sistem sadap pada tiga bulan yang berbeda menghasilkan kisaran nilai 0.30 - 0.50, kisaran kadar ini masih tergolong rendah. Menurut Jacob et al., 1989 kadar tiol optimal 0.4 - 0.9mM. Hasil ini mengindikasikan walaupun terjadi perbedaan kadar tiol dengan perlakuan sistem eksplotasi, akan tetapi masih dalam tahap wajar, karena nilai stres yang rendah.

Kadar tiol yang tinggi pada bulan kering untuk BPM 1 diduga disebabkan oleh cekaman kekeringan yang terjadi pada bulan ini. Kondisi kekeringan akan menyebabkan tanaman untuk berupaya melindungi diri dengan menghasilkan senyawa metabolit termasuk didalamnya tiol. Immobilasi protein pada bagian tanaman yang mengalami cekaman akan lebih tinggi dibandingkan tanpa cekaman (Scartner et al, 2014). Kondisi ini diduga yang menyebabkan kadar tiol pada bulan kering lebih tinggi.

Gambar 4.13. Rataan Kadar Tiol lateks (mM) klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan cair berdasarkan perbedaan bulan

(42)

Pola perubahan rataan kadar tiol pada tiga bulan yang berbeda pada klon BPM 1 dan PB 260, tertera pada Gambar (4.13, 4.14, 4.5 dan 4.16). Secara umum kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan BPM 1

Gambar 4.15. Rataan Kadar Tiol lateks (mM) klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /18d berdasarkan perbedaan bulan

Gambar 4.16. Rataan Kadar Tiol lateks (mM) klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /27d berdasarkan perbedaan bulan

Hasil penelitian ini (Gambar 4.13 - 4.16) mengindikasikan perubahan stimulan cair menjadi gas, dan frekuensi pemberian dari 18d menjadi 27d, akan tetap menghasilkan tiol yang lebih tinggi pada klon PB 260.

Berbedanya halnya pada klon PB 260 perubahan sistem sadap dan stimulan tidak mempengaruhi kadar tiol. Hal ini mengindikasikan pada bulan lembab daun belum terbentuk dengan sempurna, untuk klon BPM 1 masih respon terhadap sistem sadap dan stimulan pada bulan lembab disebabkan klon BPM 1 adalah kelompok karet dengan metabolisme lambat, sehingga pada bulan lembab masih ada cadangan karbohidrat untuk diolah, dapat dilihat juga kadar sukrosa tinggi di bulan lembab pada klon BPM1 (Tabel 4.6) sedangkan klon PB 260 dengan metabolisme cepat, pada bulan lembab cadangan habis diolah menjadi lateks oleh sebab itu klon PB 260

(43)

tidak respon terhadap sistem sadap dan stimulan dibandingkan klon BPM 1 di bulan lembab. (Tabel 4.8). Menurut Sumarmadji et al., (2006 dan 2008) klon PB 260 dengan metabolisme tinggi menggambarkan proses pembentukan poliisoprene

(lateks) berlangsung lebih cepat dan kurang respon terhadap stimulan.

Dapat disimpulkan bahwa rataan kadar tiol lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan BPM 1 pada bulan basah dan, kering. Untuk bulan lembab klon PB 260 tidak respon terhadap sistem sadap dan stimulan kecuali pada klon BPM 1 dengan sistem sadap S/4 d3 ETG/18d, hal ini mengindikasikan bahwa bila sistem sadap S/4 d3 ETG/18d dipaksa diterapkan pada klon BPM 1 akan mengindikasikan terjadi KAS.

Rataan kadar tiol dengan perlakuan berbagai sistem eksplotasi pada tiga bulan yang berbeda menghasilkan kisaran nilai 0.30 - 0.50, kisaran kadar ini masih tergolong rendah. Menurut Jacob et al., 1989 kadar tiol optimal 0.4 - 0.9 mM.

Kadar Karet Kering (%)

Kadar karet kering pada lateks tergantung dari beberapa faktor antara lain jenis klon, umur pohon, waktu penyadapan, musim, suhu udara serta letak tinggi dari permukaan laut. KKK yang rendah menunjukkan bahwa kandungan air di dalam lateks relatif besar.

Hasil analisis statistik diketahui perlakuan sistem sadap pada klon BPM 1 dan PB 260 berpengaruh nyata terhadap KKK lateks baik pada bulan basah, kering dan lembab. Rataan KKK secara umum lebih tinggi pada klon PB 260 dibandingkan dengan BPM 1.

(44)

S/4 d3 ETG/9d pada bulan kering dan lembab. Sistem sadap S/2 d3 ET/15d menghasilkan KKK tertinggi klon BPM 1 pada bulan basah. Hasil ini mengindikasikan bahwa untuk klon BPM 1 sistem sadap ke arah bawah cenderung memiliki KKK tinggi.

Tabel 4.9. Kadar Karet Kering (KKK) klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab

Perlakuan Klon BPM 1 Klon PB 260

Keterangan : Angka dalam kolom dan kelompok perlakuan yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berbeda nyata pada taraf P=0.05 berdasarkan uji-Duncan.

* BB = Bulan Basah (Sept-Nov CH > 200 mm) ** BK = Bulan Kering (Jan-Mar CH < 100 mm)

*** BL = Bulan Lembab (Apr-Agt dan Des CH 100-200 mm

(45)

tanaman hanya mendapatkan sedikit air, sehingga volume air dalam tubuh tanaman rendah, yang berakibat pada peningkatan KKK.

Gambar 4.17. Rataan KKK lateks (mM) klon peningkatan frekuensi pemberian stimulan (tiga kali dalam sebulan). Kemudian ditambah lagi dengan panjang irisan yang pendek S/4 menyebabkan laju tekanan aliran lateks lebih tinggi.

Pada bulan kering stimulan gas akan memuai sejalan dengan peningkatan Hasil pada Gambar 4.17, 4.18, 4.19 dan 4.20 dapat dilihat KKK (%) klon BPM 1 dan PB 260 yang paling tinggi diperoleh pada bulan kering dibandingkan dengan basah dan lembab. Rataan KKK yang tinggi ini diduga disebabkan rendahnya volume air pada tubuh tanaman. Konsentrasi larutan adalah pernyataan sejumlah

(46)

atau banyak zat terlarut dalam sejumlah pelarutKisaran kadar KKK pada penelitian ini berada pada nilai 28 - 34%, nilai ini masih tergolong rendah. Pabrik telah menetapkan standar mutu KKK untuk menghasilkan benang karet yang baik, harus memiliki KKK pada kisaran 61,3 - 62%. Gambar 4.18 mengindikasikan klon PB 260 lebih sesuai menggunakan stimulan gas dari pada cair.

Gambar 4.19. Rataan KKK lateks (mM) klon BPM 1 dan PB 260 dengan

Dapat disimpulkan bahwa rataan KKK di bulan kering dengan sistem sadap S/4 d3 ETG/9d dan lembab S/2 d3 ET/15d lebih tinggi pada klon BPM 1 dibandingkan dengan PB 260. KKK pada lateks berhubungan erat dengan indeks penyumbatan (Jacob et al., 1989). Hal ini dapat dilihat pada klon BPM 1 di bulan kering dan lembab KKK tinggi dengan indeks penyumbatan juga tinggi (Tabel 4.13).

Pada klon PB 260 dibulan bulan basah KKK tinggi dengan sistem sadap S/2 d3 ETG/9d, sejalan dengan indeks penyumbatan klon PB 260 juga tinggi (Tabel 4.13).

(47)

Total Solid Content (TSC)

Hasil analisis statistik diketahui perlakuan sistem eksploitasi pada klon BPM 1 dan PB 260 berpengaruh nyata terhadap TSC lateks baik pada bulan basah, kering dan lembab. suhu. Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi gas pada bidang sadap, yang akan memacu pompa proton H+ untuk meningkatkan KKK yang tinggi

pembentukan lateks.

Tabel 4.10. Total Solid Content (TSC) klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab

Perlakuan Klon BPM 1 Klon PB 260 Keterangan : Angka dalam kolom dan kelompok perlakuan yang diikuti oleh huruf yang tidak sama

berbeda nyata pada taraf P=0.05 berdasarkan uji-Duncan.

(48)

(Tabel 4.10).

TSC yang paling tinggi diperoleh di bulan kering, ini diduga disebabkan stimulan etepon yang diberikan akan melepas etilen lebih banyak pada bulan kering. Proses kerja etepon dalam peningkatan penghasilan TSC, dimulai dari pelepasan etilen ke jaringan phloem karet melalui proses hidrolisis.

Kemudian etilen menstimulasi pompa proton H+/sukrose yang mengaktifkan transport gula ke dalam sel-sel pembuluh lateks. Etilen yang mengaktivasi pompa-pompa proton ATPase dan menyebabkan asidifikasi serum lutoid dan basifikasi sitosol, sehingga menghasilkan TSC yang tinggi pada bulan kering dan lembab.

(49)

Gambar 4.21. Rataan TSC klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan cair berdasarkan perbedaan bulan

Gambar 4.22. Rataan TSC klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /9d berdasarkan perbedaan bulan

Pemberian stimulan gas pada frekuensi 18d, menghasilkan rataan TSC BPM1 lebih tinggi pada bulan kering. Berbeda halnya pada bulan lembab dan basah, rataan tertinggi diperoleh pada klon PB 260. Pola yang sama juga terjadi jika frekuensi pemberian stimulan diturunkan menjadi 27d.

Gambar 4.23. Rataan TSC klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /18d berdasarkan perbedaan bulan

Gambar 4.24. Rataan TSC klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /27d berdasarkan perbedaan bulan

(50)

gas. TSC lateks tinggi melalui penurunan frekuensi stimulan dibulan basah S/2d3ET/15d (Tabel 4.10), diduga disebabkan aplikasi stimulan etepon cair (ET/15d) konsentrasi rendah. Konsentrasi yang rendah dari stimulan ini diyakini telah mencukupi untuk merangsang pembentukan TSC. Pada musim hujan potensi pembentukan asimilat cukup tinggi dikarenakan ketersedian air dan faktor lingkungan lainnya. Oleh karenaya pemberian stimulan pada konsentrasi rendah sudah cukup menghasilkan TSC yang tinggi.

Kadar TSC lateks tinggi di bulan kering melalui peningkatan frekuensi stimulan S/4 d3 ETG/9 hal ini diduga irisan sadap yang pendek S/4 d3 menyebabkan laju tekanan aliran lateks yang tinggi kemudian di dukung oleh tingginya frekuensi aplikasi stimulan ETG/9.

Indeks Hasil (I Hsl)

Hasil analisis statistik diketahui perlakuan sistem sadap pada klon BPM 1 dan berpengaruh nyata terhadap indeks hasil baik pada bulan basah, kering dan lembab. Rataan indeks hasil tertinggi pada klon BPM 1 diperoleh pada bulan lembab, sedangkan untuk klon PB 260 pada bulan basah. Panjang alur sadap yang menghasilkan indeks hasil tertinggi untuk klon BPM 1 adalah S/4 sedangkan panjang alur sadap PB 260 adalah S/2.

Rataan Indeks hasil pada klon BPM 1 dan PB 260 pada tiga bulan yang berbeda tertera pada Gambar 4.43, 4.44, 4.45 dan 4.46. Rataan indeks hasil lateks lebih tinggi di bulan lembab dibandingkan bulan kering dan basah pada klon BPM 1.

(51)

perubahan penggunaan stimulan dari cair menjadi gas akan menyebabkan penurunan indeks hasil (Tabel 4.14).

Hasil ini mengindikasikan bahwa indeks hasil pada klon BPM 1 dan PB 260 penggunaan stimulan cair lebih sesuai digunakan dibandingkan gas.

Untuk klon PB 260 rataan indeks hasil lebih tinggi di bulan basah dibandingkan bulan kering dan lembab.

(52)

Gambar 4.45. Rataan Indeks Hasil lateks klon BPM 1

Dapat disimpulkan bahwa pola indeks hasil lateks sejalan dengan hasil lateks pada klon BPM 1 di bulan lembab lebih tinggi dibandingkan klon PB 260. Begitu juga pada klon PB 260 di bulan basah indeks hasil lateks tinggi sejalan dengan tingginya hasil lateks pada klon PB 260 di bulan basah. Yang mempengaruhi indeks hasil tinggi karena didukung oleh faktor anatomi dan fisiologis tanaman (Subroto dan Haris, 1985).

(53)

Tabel 4.14. Indeks Hasil klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab

Perlakuan Klon BPM 1 berbeda nyata pada taraf P=0.05 berdasarkan uji-Duncan.

Kecepatan Aliran Lateks (KA) klon BPM 1 dan PB 260

Kecepatan Aliran lateks dibulan Basah

Hasil pada Gambar 4.37, 4.38, Lampiran 15, klon BPM 1 dan PB 260 dapat dilihat rataan tertinggi kecepatan aliran lateks pada bulan basah klon BPM 1 diperoleh pada panjang alur sadap S/2 sedangkan PB 260 pada S/4. Penggunakan arah sadap ke arah atas menghasilkan kecepatan aliran lateks tertinggi untuk klon BPM 1 maupun PB 260.

(54)

Penurunan frekuensi stimulan pada kulit pulihan S/2d3 ET/15d hanya mengalirkan lateks 7 ml/menit dari klon yang sama. Laju aliran akan menurun tajam pada menit ke 50 -70 pada seluruh sistem eksploitasi yang di uji.

Untuk klon PB 260 dapat dilihat hasil pengamatan di bulan basah menunjukkan bahwa penggunan sistem eksploitasi S/4U d3 ET/15d mengalirkan lateks dengan kecepatan 10 menit 18.33 dan 15.83 ml/menit, 30 menit pertama 71.63 dan 77ml/menit, dalam menit ke 90 KA 5.83 dan 7.50 ml/menit sebagai tanggap sistem eksploitasi di dalam pengaliran lateks.

Kecepatan Aliran lateks dibulan kering

(55)

Gambar 4.40. Kecepatan Aliran Lateks (ml/menit) klon PB 260 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Kering

Stimulan yang sesuai yang menghasilkan kecepatan aliran lateks tertinggi pada klon BPM 1 maupun PB 260 adalah stimulan gas. Akan tetapi perbedaannya pada frekuensi penggunaan kalau klon BPM 1 interval pemberian 18 sedangkan PB 260 adalah 27d.

Pada klon BPM 1 dapat dilihat hasil pengamatan di bulan kering menunjukkan bahwa frekuensi stimulan gas S/4 d3 ETG/18d mengalirkan lateks dengan kecepatan 6 ml/menit dan 13.17 ml/menit dalam 10 dan 30 menit pertama. Penurunan yang tajam terjadi dalam menit ke 50 -90 pada seluruh sistem eksploitasi yang di uji.

(56)

ml/menit dan 13.17 ml/menit dalam 10 dan 30 menit pertama. Penurunan yang tajam terjadi dalam menit ke 50 -90 pada seluruh sistem eksploitasi yang di uji.

Kecepatan Aliran lateks dibulan Lembab

Hasil pada Gambar 4.41, 4.42, klon BPM 1 maupun PB 260 dapat dilihat rataan tertinggi kecepatan aliran lateks pada bulan lembab diperoleh pada panjang alur sadap S/4 dan arah sadap ke atas. Stimulan yang sesuai yang menghasilkan kecepatan aliran lateks tertinggi pada klon BPM 1 adalah stimulan cair, sedangkan PB 260 stimulan gas.

Kecepatan aliran lateks Gambar 4.41 klon BPM 1 dapat dilihat hasil pengamatan di bulan lembab menunjukkan bahwa sistem eksploitasi S/4U d3 ET/15d mengalirkan lateks dengan kecepatan 5,00 ml/menit dan 13,00 ml/menit dalam 10 dan 30 menit pertama sebagai tanggap atas sistem eksploitasi di dalam pengaliran lateks. Penurunan yang tajam terjadi dalam menit ke 50 - 90 pada seluruh sistem eksploitasi yang di uji.

(57)

Gambar 4.42. Kecepatan Aliran Lateks (ml/menit) klon PB 260 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Lembab

Gambar 4.42 klon PB 260 dapat diliha thasil pengamatan di bulan lembab menunjukkan bahwa sistem eksploitasi S/4U d3 ETG/27d mengalirkan lateks dengan kecepatan 10.00 dan 18.33 ml/menit dalam 10 dan 30 menit sebagai tanggap atas sistem eksploitasi di dalam pengaliran lateks, dalam menit ke 90 mengalirkan lateks 5ml/meint. Penurunan yang tajam terjadi dalam menit ke 50 - 70 pada seluruh sistem eksploitasi yang di uji, kecuali pada sistem eksploitasi S/2 d3 ETG/9d.

Hasil (g p-1s-1)

(58)

BPM 1 adalah S/2 sedangkan PB 260 panjang sadap S/2U ke atas, dengan kata lain terdapat persamaan dalam panjang sadap, yang berbeda hanya arah sadapnya. Jenis stimulan yang sesuai dan menghasilkan lateks tertinggi untuk BPM 1 adalah stimulan gas dengan frekuensi pemberian 9d, akan tetapi untuk PB 260 stimulan cair.

Tabel 4.11. Hasil lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap

Keterangan : Angka dalam kolom dan kelompok perlakuan yang diikuti oleh huruf yang tidak sama berbeda nyata pada taraf P=0.05 berdasarkan uji-Duncan.

Hasil lateks yang tinggi pada bulan basah dan lembab diduga disebabkan kondisi lingkungan yang cukup air. Pada bulan basah kondisi tajuk sangat baik, dan bulan lembab tajuk tanaman sedang dalam periode pematangan daun sehingga potensi daun optimal. Kondisi ini menyebabkan tidak terjadi penghambatan dalam pembentukan lateks.

Figur

Tabel 4.1.Karekteristik klon Slow Stater
Tabel 4 1 Karekteristik klon Slow Stater . View in document p.15
Tabel 4.3. Alat dan Bahan yang digunakan untuk Penelitian
Tabel 4 3 Alat dan Bahan yang digunakan untuk Penelitian . View in document p.20
Tabel 4.5. Peubah amatan yang dilakukan
Tabel 4 5 Peubah amatan yang dilakukan . View in document p.25
Tabel 4.6.  Kadar Sukrosa Lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 6 Kadar Sukrosa Lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.30
Tabel 4.7.   Kadar FA Lateks  klon BPM 1 dan PB260 dengan perlakuan sistem sadap
Tabel 4 7 Kadar FA Lateks klon BPM 1 dan PB260 dengan perlakuan sistem sadap . View in document p.36
Gambar 4.12. Rataan Kadar FA lateks (mM) klon   BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /27d berdasarkan perbedaan bulan
Gambar 4 12 Rataan Kadar FA lateks mM klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG 27d berdasarkan perbedaan bulan . View in document p.39
Tabel 4.8.  Kadar  Tiol lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 8 Kadar Tiol lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.40
Gambar 4.13. Rataan Kadar Tiol lateks (mM) klon   BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan cair berdasarkan perbedaan bulan
Gambar 4 13 Rataan Kadar Tiol lateks mM klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan cair berdasarkan perbedaan bulan . View in document p.41
Tabel 4.9. Kadar Karet Kering (KKK)  klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 9 Kadar Karet Kering KKK klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.44
Gambar 4.17. Rataan KKK lateks (mM) klon
Gambar 4 17 Rataan KKK lateks mM klon . View in document p.45
Gambar 4.19. Rataan KKK lateks (mM) klon
Gambar 4 19 Rataan KKK lateks mM klon . View in document p.46
Tabel 4.10. Total Solid Content (TSC)  klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 10 Total Solid Content TSC klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.47
Gambar 4.21. Rataan TSC klon  BPM 1 dan
Gambar 4 21 Rataan TSC klon BPM 1 dan . View in document p.49
Gambar 4.22. Rataan TSC klon  BPM 1 dan PB
Gambar 4 22 Rataan TSC klon BPM 1 dan PB . View in document p.49
Gambar 4.45. Rataan Indeks Hasil lateks klon  BPM 1  dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG /18d berdasarkan perbedaan bulan Gambar 4.46
Gambar 4 45 Rataan Indeks Hasil lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap dan stimulan gas ETG 18d berdasarkan perbedaan bulan Gambar 4 46. View in document p.52
Tabel 4.14. Indeks Hasil  klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 14 Indeks Hasil klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.53
Gambar 4.39. Kecepatan Aliran Lateks (ml/menit) klon BPM 1 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Kering
Gambar 4 39 Kecepatan Aliran Lateks ml menit klon BPM 1 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Kering . View in document p.54
Gambar 4.40. Kecepatan Aliran Lateks (ml/menit) klon PB 260 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Kering
Gambar 4 40 Kecepatan Aliran Lateks ml menit klon PB 260 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Kering . View in document p.55
Gambar 4.41.  Kecepatan Aliran Lateks (ml/menit) klon BPM 1 pada berbagai sistem eksploitasi di   bulan Lembab
Gambar 4 41 Kecepatan Aliran Lateks ml menit klon BPM 1 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Lembab . View in document p.56
Gambar 4.42. Kecepatan Aliran Lateks (ml/menit) klon PB 260 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Lembab
Gambar 4 42 Kecepatan Aliran Lateks ml menit klon PB 260 pada berbagai sistem eksploitasi di bulan Lembab . View in document p.57
Tabel 4.11. Hasil lateks  klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 11 Hasil lateks klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.58
Gambar 4.25. Rataan Hasil lateks (g p  -1s-1) klon
Gambar 4 25 Rataan Hasil lateks g p 1s 1 klon . View in document p.60
Gambar 4.27. Rataan  Hasil lateks (g p -1s-1) klon
Gambar 4 27 Rataan Hasil lateks g p 1s 1 klon . View in document p.61
Tabel 4.12.  Potensi Hasil  klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 12 Potensi Hasil klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.62
Gambar 4.29. Rataan Potensi Hasil  lateks (ton  p  -1s-1)
Gambar 4 29 Rataan Potensi Hasil lateks ton p 1s 1 . View in document p.63
Tabel 4.13. Indeks Penyumbatan  klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah, kering dan lembab
Tabel 4 13 Indeks Penyumbatan klon BPM 1 dan PB 260 dengan perlakuan sistem sadap berdasarkan bulan basah kering dan lembab . View in document p.64
Gambar 4.33. Rataan Indeks Penyumbatan klon     Gambar 4.34. Rataan Indeks Penyumbatan klon
Gambar 4 33 Rataan Indeks Penyumbatan klon Gambar 4 34 Rataan Indeks Penyumbatan klon . View in document p.66
Gambar .35 dan 4.36). Pada bulan basah dan lembah pemberian stimulan 18d
Gambar 35 dan 4 36 Pada bulan basah dan lembah pemberian stimulan 18d . View in document p.67
Gambar 5.1.  Pengaruh fluktuasi curah hujan (mm) dengan hasil latek (gp-1s-1) klon BPM 1 dengan berbagai sistem eksploitasi
Gambar 5 1 Pengaruh fluktuasi curah hujan mm dengan hasil latek gp 1s 1 klon BPM 1 dengan berbagai sistem eksploitasi . View in document p.75
Gambar 5.2.  Pengaruh fluktuasi curah hujan (mm) dengan hasil latek (gp-1s-1) klon   PB 260  dengan berbagai sistem eksploitasi
Gambar 5 2 Pengaruh fluktuasi curah hujan mm dengan hasil latek gp 1s 1 klon PB 260 dengan berbagai sistem eksploitasi . View in document p.77

Referensi

Memperbarui...