• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI GURU TENTANG PELAKSANAAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI 13 PANDEGLANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERSEPSI GURU TENTANG PELAKSANAAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI 13 PANDEGLANG"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

329 Persepsi Guru Tentang Pelaksanaan Pendidikan Multikultural Di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang

Robiatul Munajah, Arita Marini, Arifin Maksum

PERSEPSI GURU TENTANG PELAKSANAAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI 13 PANDEGLANG

Robiatul Munajah1, Arita Marini2,Arifin Maksum3

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Trilogi1

Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta2,3

[email protected] [email protected]

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi Guru tentang pelaksanaan pendidikan multikultural di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang. Penelitian ini berfokus pada persepsi Guru di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan Guru di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang. Diketahui bahwa guru cenderung memiliki pengetahuan yang kurang dalam hal konseptualisasi pendidikan multikultural. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pendidikan multikultural dilaksanakan terintegrasi pada beberapa mata pelajaran sekolah serta bahasa dalam kebijakan pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan bahwa pendidikan multikultural harus menjadi bagian dari kurikulum dalam pendidikan. Guru juga perlu diberikan pelatihan tentang pelaksanaan pendidikan multikultural untuk memberikan pemahaman kepada para guru tentang praktik pendidikan multikultural.

(2)

330 Persepsi Guru Tentang Pelaksanaan Pendidikan Multikultural Di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang

Robiatul Munajah, Arita Marini, Arifin Maksum

PENDAHULUAN

Keragaman telah menjadi fitur yang menonjol dari abad ke-21 dan ini telah menjadi sangat penting karena kemajuan teknologi komunikasi informasi dan perkembangan ilmiah yang telah membuat seluruh dunia berpandangan global. Pengaruh fitur ini dapat diamati di lingkungan kelas. Saat ini bahkan dalam satu kelas mungkin terdapat keragaman budaya. Dalam lingkungan seperti itu perlu dipersiapkan calon guru dalam mengajar di kelas yang beragam. Dalam skenario dunia saat ini, ada kebutuhan untuk menumbuhkan persatuan dan pemahaman multikultural di antara orang-orang di dalam suatu negara. Menciptakan kesadaran dan pemahaman tentang multikultural telah menjadi bagian penting dari sistem pendidikan saat ini. Keanekaragaman atau Pendidikan multikultural menggambarkan sistem pengajaran yang berusaha untuk mendorong pluralisme budaya dan mengakui perbedaan antara ras dan budaya.

Di dalam kelas ditemukan berbagai perbedaan antara siswa seperti perbedaan bahasa, budaya, ras, agama, jenis kelamin, gaya belajar, usia, kebutuhan individu, regional dan latar belakang kelas sosial. Praktik terbaik untuk pengajaran kelas yang beragam adalah menyadari kebutuhan pelatihan guru dalam mengakui siswanya sebagai individu yang terpisah dan menghormati nilai-nilai budaya mereka dan menerima mereka dengan identitas mereka sendiri.

Perlu waktu bagi guru untuk mensosialisasikan praktik-praktik dan prinsip-prinsip untuk mengajar dan mengimplementasikan pada beragam kelompok siswa, berdasarkan hasil studi terdapat perbedaan pandangan mengenai pendidikan pada setiap guru. Sehingga jarang yang memiliki kesamaan pendapat mengenai pendidikan multikultural. Seperti dalam dialog guru

tentang pendidikan, setiap individu cenderung membentuk konsep sendiri sesuai dengan masing-masing tugasnya.

Proses pembelajaran tidak hanya untuk memahami dan mengumpulkan beberapa informasi dan fakta serta angka tentang pengetahuan dan keterampilan tertentu. Oleh karena itu, guru harus dilatih dengan aspek praktis mengenai kendala pembelajaran siswa, seperti pendapat Gagliardi (1994) menguraikan bahwa kendala belajar dapat dipengaruhi religius, budaya, logis dan konseptual.

KAJIAN LITERATUR

Jhon while mengatakan bahwa Multicultur Teaching and Learning adalah cara untuk mengajarkan budaya eksplisit tanpa terlalu menggeneralisasikan kehidupan orang lain dengan menekankan keragaman budaya dalam kelompok sosial dan perubahan dalam budaya yang terus-menerus (James A. Banks and Cherry A. McGee Banks, 2010). Harus ada kemauan keras dari pemerintah untuk menjalankan politik pendidikan yang lebih jelas dan terarah yang memihak pada kepentingan keutuhan bangsa dengan menyadari bahwa negeri ini bersifat plural yang terdiri dari banyak seni budaya. Penyeragaman bukanlah politik yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan seni di Indonesia. Keanekaragaman materi pelajaran yang berakhar pada seni budaya setempat/tradisi bukanlah suatu ancaman. Sebaliknya, keanekaragaman adalah saripati dari keindonesiaan dan kemerdekaan (Ambarwangi, 2013). Dalam hal pendidikan multikultural, sekolah harus mendesain proses pembelajaran, mempersiapkan kurikulum dan desain evaluasi, serta mempersiapkan guru yang memiliki persepsi, sikap dan perilaku multikultur, sehingga menjadi bagian yang memberikan kontribusi positif terhadap

(3)

331 Persepsi Guru Tentang Pelaksanaan Pendidikan Multikultural Di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang

Robiatul Munajah, Arita Marini, Arifin Maksum pembinaan sikap multikultur para

siswanya (Rosyada, 2014).

Pendidikan multikultural kian mendesak untuk dilaksanakan di sekolah. dengan pendidikan multikultural, sekolah menjadi lahan untuk menghapus prasangka, dan sekaligus untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis dan pluralis. Ada dua hal yang perlu dilakukan dalam pembangunan pendidikan multikultural di sekolah, yaitu; pertama, melakukan dialog dengan menempatkan setiap peradaban dan kebudayaan yang ada pada posisi sejajar. Kedua, mengembangkan toleransi untuk memberikan kesempatan masing-masing kebudayaan saling memahami. Toleransi disini tidak hanya pada tataran konseptual, melainkan juga pada teknik operasionalnya (Muliadi, 2012).

Pendidikan multikultural juga sangat relevan dengan pendidikan demokrasi di masyarakat plural seperti Indonesia, yang menekankan pada pemahaman akan multi etnis, multi ras, dan multikultur yang memerlukan konstruksi baru atas keadilan, kesetaraan dan masyarakat yang demoktratis (Supriatin & Nasution, 2017).

Teachers’ perceptions of the implementation of multicultural education revealed that multi cultural education is being practiced in Zimbabwean primary schools. However, it is being practised to a limited extent at the additive level. The multicultural character of

Zimbabwean society tends to be

accommodated in school subjects such as the languages, Social Studies, Environmental Science, Religious and Moral Education. Co- curricula activities like music and traditional dance were also seen as embracing the multicultural characteristics of the nation. The paper found that the participants conceptualise the practice of multicultural education in narrow terms as their conceptualisation of multicultural education does not reflect a holistic approach in the

implementation of multicultural education (Muchenje & Heeralal, 2014).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian kualitatif dengan metode deskriptif adalah metode yang menjelaskan atau mendeskripsikan suatu fakta, data, dan objek penelitian secara sistematis dan sesuai dengan situasi alamiah. Terkait hal yang diteliti, hasil penelitian lebih menekankan pada makna dari pada hasil, dan hasil penelitian tidak mengikat serta dapat berubah sesuai dengan kondisi yang dihadapi di lapangan penelitian dan diinterpretasikan dan dituliskan dalam bentuk kata-kata atau deskriptif berdasarkan fakta di lapangan (Anggito & Setiawan, 2018). Peneliti berperan sebagai human

instrument (peneliti melakukan

penelitiannya sendiri). Pengambilan sampel dan sumber data dilakukan secara purposive sampling (pengambilan sampel berdasarkan atas sebuah pertimbangan yang berfokus pada tujuan tertentu dan peneliti sudah menentukan sebuah kriteria pada pengambilan sampelnya), pengambilan sampel berdasarkan kebutuhan dan sesuai dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data bersifat kualitatif, dengan menggunakan model Milles & Huberman. Pemeriksaan keabsahan data, menggunakan triangulasi teknik, meningkatkan ketekunan, dan menggunakan bahan referensi. Sumber data dalam penelitian adalah subjek mengenai perolehan data yang telah didapat. Data-data yang kemudian dijadikan acuan dalam

(4)

332 Persepsi Guru Tentang Pelaksanaan Pendidikan Multikultural Di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang

Robiatul Munajah, Arita Marini, Arifin Maksum penelitian ini diambil dari berbagai

sumber di antaranya: 1) Sumber Data Primer

Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari subjek yang diteliti, dalam mengumpulkan data primer, peneliti harus kontak atau komunikasi langsung dengan subjek ataupun informan dalam penelitian, maka dari itu, pada penelitian ini sumber data yang didapatkan berasal dari subjek atau informan yang akan diwawancarai dan di observasi oleh peneliti yang dilakukan langsung di tempat penelitian.

2) Sumber Data Sekunder

Data sekunder merupakan data pelengkap untuk mendukung data primer.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Milles dan Huberman, yaitu analisis dalam penelitian dilakukan secara interaktif. 1) Reduksi Data (Reduction)

Peneliti menulis ulang atau merangkum hasil data yang didapatkan pada dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. (Milles & Huberman, 2013)

2) Penyajian Data (Data Display) Setelah mereduksi data, langkah selanjutnya adalah melakukan penyajian data (display data). Data yang diperoleh dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk uraian singkat yang bersifat naratif (dengan teks) (Milles & Huberman, 2013). 3) Penarikan Kesimpulan

(Verification)

Langkah terakhir pada analisis data adalah membuat kesimpulan. Peneliti akan menarik atau membuat kesimpulan dengan memberikan penjelasan dari kegiatan pengambilan data melalui observasi, wawancara,

dan didukung oleh dokumentasi. (Milles & Huberman, 2013).

Gambar 1. Analisis Data Interaktif model Hubberman dan Miles Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini, sebagai berikut:

1) Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik digunakan untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan cara yang berbeda, misalnya peneliti sudah melakukan wawancara, data yang didapatkan melalui wawancara lalu dicek lagi dengan observasi secara langsung, kemudian melakukan dokumentasi (Sugiyono, 2018).

2) Meningkatkan Ketekunan

Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan, dengan cara tersebut maka kepastian data yang sudah didapatkan oleh peneliti dan urutan peristiwa akan direkam secara pasti dan sistematis (Sugiyono, 2018). 3) Menggunakan Bahan Referensi Bahan referensi disini adalah dengan adanya bukti pendukung untuk memperkuat dan membuktikan data yang sudah ditemukan di lapangan penelitian. (Moleong, 2017).

PEMBAHASAN

hasil penelitian didapatkan temuan utama yang dapat dideskripsikan dalam penelitian ini berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi serta diperkuat dengan kajian teori dari

(5)

333 Persepsi Guru Tentang Pelaksanaan Pendidikan Multikultural Di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang

Robiatul Munajah, Arita Marini, Arifin Maksum berbagai referensi. Persepsi guru tentang

pelaksanaan pendidikan multikultural di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang dinilai masih kurang memahami meskipun pendidikan multikultural dilaksanakan terintegrasi pada beberapa mata pelajaran sekolah serta bahasa dalam kebijakan pendidikan.

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai persepsi guru tentang pelaksanaan pendidikan multikultural sampai saat ini sebagian besar pelatihan-pelatihan yang dilakukan hanya terbatas pada peningkatan kompetensi professional dan kompetensi pedagogi. Hal ini menunjukkan pelatihan-pelatihan di Indonesia jarang bahkan mungkin belum ada pelatihan yang berfokus pada pendidikan multikultural untuk pendidikan dasar. Adapun pelatihan-pelatihan yang membahas multikultural sudah dilakukan CSR atau lembaga LSM. Persepsi guru tentang pelaksanaan pelatihan yang bersifat multikultural dibahas secara integrative dalam pelatihan pendidikan karakter.

Seperti yang kita ketahui, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya dengan aneka ragam budaya dan sara (suku, agama, ras, antar golongan). Hal ini merupakan potensi bangsa, namun pada sisi lain jika tidak terjaga sikap saling menghormati, menghargai perbedaan malah hal ini merupakan sumber perpecahan bangsa atau konflik internal yang mengakibatkan disintegrasi bangsa. Sehingga bhineka tunggal ika harus tetap dijaga dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia dengan mengimplementasikan pendidikan multikultural sejak penddikan dasar.

Upaya mengimplementasikan pendidikan multikultural di Indonesia pada saat ini sangat diperlukan. Hal yang dapat dilakukan diawali dengan menerapkan konsep-konsep yang bersifat praktis yang dimuat dalam kurikulum pendidikan calon guru pendidikan dasar.

Kemudian secara terintegratif juga dimuat dalam kurikulum pendidikan sekolah. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan pendidikan multikultural harus dilaksanakan secara integrative. Dengan melibatkan peran orang tua, masyarakat dan guru.

Penelitian ini merekomendasikan bahwa pendidikan multikultural harus menjadi bagian dari kurikulum dalam pendidikan. Guru juga perlu diberikan pelatihan tentang pelaksanaan pendidikan multikultural untuk memberikan pemahaman kepada para guru tentang praktik pendidikan multikultural.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang, maka dapat disimpulkan Persepsi guru tentang pelaksanaan pendidikan multikultural di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang dinilai masih kurang memahami meskipun pendidikan multikultural dilaksanakan terintegrasi pada beberapa mata pelajaran sekolah serta bahasa dalam kebijakan pendidikan.

Perlunya upaya

mengimplementasikan pendidikan multikultural di Indonesia pada saat ini, hal yang dapat dilakukan diawali dengan menerapkan konsep-konsep yang bersifat praktis yang dimuat dalam kurikulum pendidikan calon guru pendidikan dasar. Kemudian secara terintegratif juga dimuat dalam kurikulum pendidikan sekolah. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan pendidikan multikultural harus dilaksanakan secara integrative. Dengan melibatkan peran orang tua, masyarakat dan guru. Guru juga perlu diberikan pelatihan tentang pelaksanaan pendidikan multikultural untuk memberikan pemahaman kepada para guru tentang praktik pendidikan multikultural.

(6)

334 Persepsi Guru Tentang Pelaksanaan Pendidikan Multikultural Di Sekolah Dasar Negeri 13 Pandeglang

Robiatul Munajah, Arita Marini, Arifin Maksum

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwangi, S. (2013). Pendidikan Multikultural Di Sekolah Melalui Pendidikan Seni Tradisi. Harmonia - Journal of Arts Research and

Education, 13(1).

https://doi.org/10.15294/harmo nia.v13i1.2535

James A. Banks and Cherry A. McGee Banks. (2010). Multicultural Education Issues and Perspectives

SEVENTH EDITION. In

University of Washington, Seattle. Muchenje, F., & Heeralal, P. J. H. (2014).

Teachers’ Perceptions of the Implementation of Multicultural Education in Primary Schools in Chegutu District, Zimbabwe. Journal of Social Sciences, 41(3), 325–333.

https://doi.org/10.1080/0971892 3.2014.11893367

Muliadi, E. (2012). Urgensi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural di sekolah. Jurnal

Pendidikan Islam, 1(1), 55.

https://doi.org/10.14421/jpi.201 1.11.55-68

Rosyada, D. (2014). Pendidikan Multikultural Di Indonesia

Sebuah Pandangan Konsepsional. SOSIO DIDAKTIKA: Social Science

Education Journal, 1(1).

https://doi.org/10.15408/sd.v1i1 .1200

Supriatin, A., & Nasution, A. R. (2017). Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Praktik Pendidikan Di Indonesia.

Elementary: Jurnal Ilmiah

Pendidikan Dasar, 3(1), 1.

https://doi.org/10.32332/elemen tary.v3i1.785

Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. Sukabumi: CV Jejak (Jejak Publisher).

Milles, & Huberman. (2013). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Los Angeles: SAGE Publications.

Moleong, L. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dipetik Desember 5, 2019.

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian : Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Dipetik Desember 5, 2019.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan perusahaan dengan struktur aktiva tinggi mempunyai dana internal yang besar, sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya

Dengan penulisan mengenai tokoh yang teleh berjaung, diharapkan masyarakat dapat mengetahui dan menghormati bagaimana usaha yang telah ditempuh oleh para pejuang dalam

[r]

Hasil penelitian ini bahwa dari hasil dekomposisi wavelet diperoleh karaktersitik sinyal seismik gempa vulkanik yang terekam di stasiun Wanagama saat letusan Merapi 2010 yaitu

penyelundupan satwa liar yang dilindungi yaitu, faktor ekonomi, faktor penegakan hukum, faktor lingkungan yang tidak baik, dan faktor kurangnya kontrol sosial dari

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kawasan Jati Bali, pola pengaturannya tidak mengikuti sepenuhnya dari konsepsi arah orientasi ruang , perletakan bangunan

Bahwa setelah Terdakwa menerima uang dari Saksi-6 tersebut selanjutnya Terdakwa menghubungi Saksi-2 menyampaikan kalau uangnya sudah siap dan kapan diserahkan, Saksi-2

Biakan bakteri dalam media MH 5% Sheep Blood Agar tersebut diamati ada atau tidak zona hambat yang terbentuk kemudian diameter zona hambat diukur menggunakan jangka