• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya, bukan hanya kaya sumber daya alam dan sumber daya manusianya tetapi juga kaya beragam macam budaya dan seni tradisional. Seni budaya Indonesia, disadari atau tidak, merupakan harta karun yang tidak akan habis, sepanjang seni budaya itu dipelihara dan dijaga. Kekayaan seni budaya tidak terlepas dari ancaman kehilangan seperti berbagai macam kasus klaim seni dan budaya masih sering terjadi, terutama dari negara tetangga: Malaysia. Negara serumpun ini kerap kali mengklaim budaya asli Indonesia, misalnya antara lain: Reog Ponorogo, Tarian Tor-tor, Batik, Tari Pendet, Wayang Kulit, Angklung, Lagu Rasa Sayange, Bunga Rafflesia Arnoldi, Keris, Rendang Padang, Lagu Soleram, Lagu Injit-injit Semut, Tari Piring dan Tari Kuda Lumping. Kondisi ini menggambarkan bahwa nilai seni dan budaya di mata pemerintah Indonesia masih kurang diperhatikan. Posisi seni dan budaya bagi pemerintah tidak jauh dari sekedar sarana politik dan ekonomi belaka. Indikator rendahnya nilai tersebut dapat dilihat dari minimnya pendanaan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) untuk memelihara dan menjaga seni dan budaya tersebut (Nota keuangan RAPBN 2013, diunduh dari www.depkeu.go.id).

(2)

Pemerintah mengklaim bahwa terdapat anggaran yang cukup memadai untuk perencanaan anggaran untuk memelihara seni dan budaya dalam RAPBN 2013 dan hal itu merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap pengembangan seni dan budaya, bahkan jika diperhitungkan anggaran tersebut hampir mencapai 7% pertahun (Nota keuangan RAPBN 2013, diunduh dari www.depkeu.go.id). Klaim ini menunjukkan angka cukup menggembirakan mencapai 1,3 triliun di tahun 2012 dari 500 miliyar pada dua tahun sebelumnya, tapi jika dibandingkan dari seluruh RAPBN 2013 angka ini tidak mencapai 1% dari total anggaran yang direncanakan. Jika ditelusuri lebih mendalam, program yang dicanangkan dalam RAPBN 2013 tersebut adalah program pengembangan pariwisata dan ekonomi industri kreatif berbasis seni dan budaya. De facto kondisi ini menunjukkan masalah seni, budaya dan lain-lain yang tidak bersentuhan dengan masalah kontribusi ekonomi (dan politik) masih jauh dari perhatian pemerintah.

Kondisi yang sama juga terjadi di bidang pendidikan, yang menjadi ladang persemaian generasi muda, pemerintah masih sibuk mengawali bangunan dan perangkat kurikulum baru untuk generasi muda (www.dikti.go.id). Segudang bukti persoalan belum terselesaikan dengan kurikulum KTSP, pemerintah kini sekarang membangun sebuah bukit persoalan baru dengan kurikulum baru. Persoalan baru ini belum menyentuh masalah dominasi pembangunan manusia yang seimbang, dimana pelaksanaan kurikulum baru masih berjalan pada seputar

(3)

penekanan segi kognitif dibandingkan dengan segi emosi, mental, karakter dan nilai. Paradigma berpikir pemerintah seolah-olah ingin seperti pepatah “sekali dayung dua tiga pulau terlampau”. Artinya dengan pelaksanaan kurikulum baru yang didominasi dengan penekanan kognitif akan juga membangun emosi, mental, karakter dan nilai unggul bagi generasi muda.

Prioritas bangsa dengan kepentingan pemerintah saat ini dapat dirasakan jauh dari kata ideal apalagi masalah prioritas pengembangan seni, budaya karakter dan nilai bagi generasi muda bangsa dapat dikatakan masih jauh panggang dari api (Tjandra, 2012). Jika pun ada, prioritas itu sangat rendah dan hanya diarahkan kepada masalah ekonomi dan politik. Pemaknaan seni yang sama dikecam oleh Theodor Adorno (1903-1969) dengan menyebutkan seni sudah jatuh dalam bentuk politik dan ekonomi (kapitalisme) (Townsend, 1941: 46).

Gambaran kondisi keterpurukan seni juga dialami dalam sejarah seni ketika wacana seni tradisional (pramoderen) yang digagas oleh filsuf besar seperti Socrates, Plato dan Aristoteles memudar dan jatuh pada abad pertengahan (Sachari, 2002: 6). Walaupun filsul-filsuf pada jaman itu masih menghasilkan konsep-konsep seni dalam bidangnya seperti Plotinus (204–270) dengan Enneads, Augustinus (354–430) dengan karyanya De Musica, Abbot Suger (1081–1151) dengan karyanya: Construction and ornamentation of St. Denis, Hugh (1096–1141) and Richard dengan karyanya Allegorical interpretation; commentary of St.Victor on Celestial Hierarchy of Pseud-Dionysius, St.Bonaventure (1221–1274) dengan

(4)

karyanya Retracing the Arts to Theology, St.Thomas Aquinas (1226–1274) dengan karya agungnya Summa Theologica dan Dante Alighieri (1265– 1321) dengan Divine Comedy and Letters (Townsend, 1941: 12), wacana seni masih berkutat pada agama yang berkuasa saat itu.

Bangkitnya pemikiran dan wacana seni pada periode renaissance hingga seni modern klasik yang ditandai oleh karya Leibniz dan Baumgarten yang menjadi titik pencerahan baru (Sachari, 2002: 7-9). Mulai dari saat itu perkembangan pemahaman dan konsep seni secara intensif dan ekstensif bergerak mengikuti aliran-aliran pemikiran jaman, dari pemikiran seni modern ke posmoderen. Klaim posmoderen tidak lagi mementingkan bentuk seni dan non-seni. Konsep seni dilihat sebagai sebuah keping mata uang dengan dua sisi, “dual koding” (Sachari, 2002:35-36). Kekuatiran pengaburan nilai yang selalu menjadi perenungan abadi (kebenaran (truth), kebaikan (good) dan keindahan (Beauty) relevan dipertanyakan kembali (The, 1976: 12). Masalah nilai estetis dalam seni dan kehidupan manusia ditawarkan dalam pemikiran-pemikiran DeWitt Henry Parker.

Pemikiran DeWitt Henry Parker merupakan salah satu tawaran alternatif menghadapi fenomena yang terjadi di dunia pada umumnya, atau khususnya Indonesia dewasa ini, membawa bangsa Indonesia pada suatu tema mendasar yang paling krusial yaitu pengalaman nilai estetis. Pembicaraan tentang nilai menimbulkan pertanyaan: Bagaimanakah tindakan-tindakan, atau pengalaman nilai estetis itu? Menurut DeWitt

(5)

Henry Parker, dalam membicarakan pengalaman terhadap sebuah karya ataupun alam selalu berkaitan dengan nilai, mau tidak mau orang akan membicarakan tentang nilai-nilai estetis (Parker, 1920).

Tiga alasan yang mendasari pemilihan pemikiran DeWitt Henry Parker dalam penelitian ini, pertama: sejak awal DeWitt Henry Parker prihatin tentang nilai dan memperjuangkan agar nilai, khususnya nilai estetis tidak tersingkirkan dalam pemikiran filsafat Amerika, yang didominasi oleh aliran empirisme dan pragmatisme. Keadaan itu hampir sama dengan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Penyingkiran atau pembungkaman terhadap nilai bukan hanya melalui konsep atau pemikiran, tetapi juga secara masif dalam tindakan-tindakan praksis-konkret. Tidak disadari, tidak dinyatakan tetapi secara tidak sadar, nilai hilang dalam tataran tindakan dan kegiatan manusia; kedua: Parker merupakan filsuf sederhana yang tidak terlalu dikenal oleh akademisi ilmu filsafat Indonesia. Tetapi dalam kajian dunia estetika, pemikiran DeWitt Henry Parker cukup terkenal dan banyak menjadi rujukan; alasan yang terakhir pentingnya pemaknaan baru dalam nilai estetis menjadi signifikan untuk mengkaji pemahaman DeWitt Henry Parker bagi perkembangan pengalaman nilai estetis di Indonesia khususnya pengembangan karakter generasi muda di Indonesia.

(6)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, peneliti merumuskan permasalahan mengenai pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker sebagai berikut:

1. Apa konsep pengalaman nilai estetis yang terumus dalam karya tulis DeWitt Henry Parker?

2. Apa konsep pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker ditinjau dari perspektif filsafat seni?

3. Apa fungsi pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Hnery Parker?

4. Apa relevansi pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker dengan pengembangan Karakter di Indonesia?

C. Keaslian Penelitian

Sejauh penelusuran kepustakaan ditemukan beberapa penelitian yang memiliki kesamaan tema dengan penelitian ini. Pertama penelitian Cooke (1921) tentang The Principle of Aesthetics dalam pemikiran DeWitt Henry Parker. Penelitian ini mengupas pemikiran dalam buku DeWitt Henry Parker secara umum tanpa spesifik membahas tentang pengalaman nilai estetis. Penelitian Helen Huss Parkhurst dalam The Journal of Philosophy (1922) dan Shapley dalam The Art Bulettin (1921) meneliti prinsip-prinsip estetis menurut pemikiran DeWitt Henry Parker secara umum tanpa mendetail tentang pengalaman nilai seni. Persamaan

(7)

penelitian yang akan dilakukan dengan ketiga penelitian tersebut terletak pada pemikiran DeWitt Henry Parker. Perbedaan penelitian ini dengan ketiga penelitian tersebut terletak pada objek material penelitian ini yaitu fokus pada pengalaman nilai estetis.

Penelitian ini ada kesamaan dengan penelitian Stephen Pepper dalam The Journal of Philosophy (1942) yang meneliti tentang pengalaman. Perbedaan penelitian Stephen dengan penelitian ini terletak pada objek material yaitu penelitian Stephen memfokuskan pada pengalaman dan substansi, sedangkan penelitian ini lebih meneliti nilai pada tataran pengalaman estetis. Tema penelitian tentang nilai dalam pemikiran DeWitt Henry Parker juga diteliti oleh Annette T. Rubinstein dalam The Journal of Philosophy (1932). Perbedaan penelitian Annette dengan penelitian ini terletak pada objek formal yaitu penelitian Annette menggunakan etika sebagai objek formal sedangkan pada penelitian ini menggunakan filsafat seni. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan pemikiran DeWitt Henry Parker tentang konsep pengalaman nilai estetis, elemen, struktur dan standar pengalaman estetis dan relevansinya bagi pengembangan karakter bangsa Indonesia.

Kesamaan penelitian ini dengan penelitian lainnya dapat ditemukan pada relevansi penelitian tentang karakter bangsa. Ada tiga penelitian yang memiliki relevansi penelitian tentang karakter bangsa yaitu hasil penelitian disertasi Surmayanto yang berjudul olahraga dalam perspektif aksiologi dan relevansinya bagi pengembangan karakter bangsa

(8)

(2012), penelitian tesis Syahrul Kirom tentang ajaran moral masyarakat samin dalam perspektif etika: relevansinya bagi pengembangan karakter bangsa (2011), dan penelitian tesis Reno Wikandaru tentang dimensi metafisik serat wirid hadayat jati: relevansinya bagi pembangunan karakter bangsa (2011).

Penelitian disertasi Sumaryanto (2012) meneliti tentang nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga dan pengaruhnya pada pembangunan serta tumbuhkemang karakter bangsa yang lebih bermartabat. Kesamaan dengan penelitian ini adalah efek nilai pada karakter bangsa, sedangkan perbedaan penelitian Sumaryanto dengan peneliti adalah objek materilnya olahraga sedangkan penelitian ini adalah pengalaman seni.

Penelitian Syahrul Kirom (2011) fokus pada falsafah hidup masyarakat Samin terlebih pada nilai-nilai moral dan etika. Penelitian Syahrul ini berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan dalam hal objek material yaitu falsafah hidup masyarakat Samin, sedangkan penelitian ini akan meneliti tentang pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker. Kesamaan dua penelitian tersebut lebih pada relevansi penelitian yaitu karakter bangsa.

Relevansi penelitian tentang karakter bangsa juga dapat ditemui dalam penelitian Reno (2011), bedanya penelitian Reno dan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis terletak pada objek material yaitu Serat Wirid Hidayat Jati dan objek formal metasika. Kesamaan penelitian Reno

(9)

dan penelitian yang akan dilakukan dalam hal relevansi penelitian pada karakter bangsa.

Berdasarkan hasil penelusuran terhadap penelitian yang berhubungan dengan pengalaman nilai estetis, peneliti belum menemukan penelitian yang sama dengan penelitian ini, baik yang mengangkat pengalaman nilai estetis menurut DeWitt Henry Parker sebagai objek materi dan filsafat seni sebagai objek formal dan relevansinya dengan karakter bangsa Indonesia.

D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan:

1. Mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai pengalaman nilai estetis menurut pemikiran DeWitt Henry Parker.

2. Merumuskan secara reflektif pengalaman nilai estetis DeWitt Henry Parker dari perspektif filsafat seni.

3. Menganalisis fungsi pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker.

4. Menganalisis relevansi pengalaman nilai estetis dalam Pemikiran DeWitt Henry Parker dengan pengembangan Karakter bangsa Indonesia.

E. Manfaat Penelitian

(10)

1. Perkembangan ilmu pengetahuan, sebagai refleksi dan orientasi bagi kemajuan ilmu di bidang seni seperti pendidikan seni, psikologi seni, dan pengembangan karakter.

2. Perkembangan filsafat, khususnya memperkaya pemikiran dalam filsafat seni.

3. Para pelaku dan pecinta seni, memberikan refleksi filosofis atas prinsip-prinsip seni sehingga dapat lebih kritis, komprehensif, dan radikal dalam membaca suatu karya seni.

F. Tinjauan Pustaka

Dua dari enam persoalan besar dalam persoalan estetis menurut The Liang Gie adalah persoalan tentang nilai estetis dan persoalan tentang pengalaman estetis (1976). Masing-masing persoalan itu mengkaji persoalan mendasar tentang nilai dan pengalaman keindahan atau estetis. The menjelaskan bahwa persoalan pertama berkisar antara lain tentang pemahaman keindahan, sifat keindahan, ukuran keindahan, peranan keindahan dalam hidup manusia, sedangkan persoalan kedua tentang pemahaman pengalaman estetis, sifat dasar atau ciri-ciri pengalaman estetis, rintangan-rintangan pengalaman dan benda sasaran pengalaman estetis (The, 1976: 11)

Dua persoalan estetis tersebut dirangkum dalam pemikiran DeWitt Henry Parker dalam karya-karyanya terutama dalam The Principle of Aesthetics yang diterbitkan pada tahun 1920 dan diterbitkan kembali duapuluh enam tahun kemudian (1946). Pemikiran DeWitt Henry Parker tidak hanya mengikuti

(11)

pemikiran filsuf di negara pada jamannya tetapi DeWitt Henry Parker berani untuk tetap pada prinsipnya sendiri setelah menganalisis dan merefleksikan persoalan yang ada, seperti yang dinyatakan oleh Douglas N Morgan:

DeWitt Parker was a philosopher who was not afraid to dream, and who dreamt clearly. A disciplined speculative ability, a thorough academic training, and a warm responsiveness to living works of art were evident in his every lecture and his every printed work. We owe to him a rich conception of art, developed in the light of a profoundly human psychology and metaphysic of value. Ideas as familiar today as those of organic unity and of vicarious satisfactions in the imagination owe both breadth and specificity to him (Douglas, 1950: 2)

Kepiawaian DeWitt Henry Parker juga tampak pada bagaimana beliau dengan sabar meramu semua pemikiran yang ditemukan dan dielaborasi dalam rumusannya sendiri sebelum mengemukakan buah pikiran tersebut seperti dinyatakan oleh Shapley:

Parker shows himself peculiarly well fitted for his task. A professor of philosophy, he is accustomed to logical and critical thinking. He is not merely inspired by some new, sensational theory, valuable as that might be in its way. To be sure, he does not lack original ideas, but they are the fruit of the careful study and analysis of what has previously been done within the range of his subject. He does not hesitate to differ with his predecessors in the field, as when he points out the limitations of Croce's theories nor does he hesitate-which is even greater credit to the scholar in this day of vaunted originality-to accept and make use of their theories, as he consciously or unconsciously does of Worringer's theory concerning the line.(Shapley, 1921: 2-3)

Hal yang sama mengenai keunggulan DeWitt Henry Parker dikemukan oleh R.B. Cooke dalam The Philosophical Review (1921).

Andrew J. Reck mengafirmasi salah satu fokus pemikiran DeWitt Henry Parker di samping Dewey dan Randal yaitu pengalaman. Reck menyatakan dalam The Journal of Philosophy:

(12)

“…Parker, insisting on centricity in experience, obliquely acknowledges transaction when he deals with the interplay of control and counter control in the occurrences of experience; and Dewey, rightly insisting on transaction, neglects centricity, a neglect somewhat rectified by Randall's concept of internal structure. But it is still doubtful that centricity is compatible with transaction so long as theory is restricted to experience… (Reck, 1961)”

Reck mensinyalir adanya persoalan pengalaman dan substansi dalam pemikiran DeWitt Henry Parker jika dibandingkan dengan pemikiran Dewey dan Randal. Pemikiran tentang pengalaman jelas disinyalir dalam buku DeWitt Henry Parker yang berjudul The Principle of Aesthetics (1920).

Helen Huss Parkhurst dalam The Journal of Philosophy menemukan kesamaan konsep pemikiran pengalaman estetis dengan teori Einfühlung dan Einmeinung diistilahkan DeWitt Henry Parker sebagai the relation of the idea to sense medium of the expression (Parkhurst, 1922). Stephen C Pepper dalam jurnal yang sama menemukan orginalitas pemikiran DeWitt Henry Parker tentang nilai, dengan menyatakan:

“Value, Parker identifies with "satisfaction, the appeasing of desire", but later comes to admit what he calls "final value", "a deeper stratum of desire enveloping our simpler propensities, encouraging some of these and inhibiting others, making out of them an integral pattern". He also admits a hierarchy of values on Mill's old principle (and Plato's before him) that the man who has experienced both of two values and prefers one, may authoritatively judge which is the higher in the face of a man who has experienced only one. The preference goes for Parker, as for all others who use the argument to the less carnal values (Pepper, 1942).”

Annete Rubinstein menemukan studi etika DeWitt Henry Parker berdasarkan temuannya dalam studi tentang nilai. Nilai tertinggi (higher value) menurut pemikiran DeWitt Henry Parker ada dalam fungsi keinginan (function

(13)

interest) manusia. Dalam diskusi tentang nilai DeWitt Henry Parker kemudian membagi nilai menjadi dua macam yaitu nilai kehidupan nyata (Value of real life) dan nilai imaginasi (value of imagination) (Rubinstein, 1932: 2). Nilai kehidupan nyata berhubungan dengan nilai moral dan etika, sedangkan nilai imaginasi dikategorikan salah satunya ke dalam nilai seni atau estetis.

Penelitian tentang pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker belum pernah diteliti. Pengalaman sebagai pusat kegiatan dan nilai satu bagian yang tidak terpisahkan dalam berhadapan dengan objek, khususnya objek seni atau estetis.

G. Landasan Teori

Mengkaji persoalan seni pada umumnya didekati dari berbagai perspektif pendekatan antara lain: pendekatan deskriptif, teori sosiologi dan pendekatan normatif. Pendekatan deskriptif mengkaji kondisi-kondisi yang diperlukan dan cukup dalam benda dan objek yang dikategorikan sebagai benda memiliki keindahan. Pendekatan ini dianut aliran-aliran antara lain: formalisme, voluntarisme, emosionalisme, intelektualisme, intuisionisme dan pragmatisme (Neil & Ridley, 1995; Graham, 1997). Pendekatan ini disempurnakan dengan pendekatan teori sosiologis yang melihat fungsi dan kepentingan sosial dalam masyarakat. Demikian juga pendekatan normatif yang mencari nilai dan menemukan signifikansi seni (Graham, 1997: 152-175).

(14)

Jejak pendekatan-pendekatan tersebut juga dapat ditemukan dalam persoalan pengalaman estetis dan nilai estetis. Dua persoalan ini merupakan dua wacana mendasar filsafat Seni. Filsuf-filsuf Yunani hingga abad pertengahan banyak membahas masalah nilai dalam permasalahan estetis murni. Nilai estetis ini berhubungan dengan indera manusia. Thomas Aquinas merumuskan keindahan sebagai id quod visum placet, hal yang menggugah perasaan melalui penglihatan. Nilai estetis selalu berkonotasi dengan nilai positif, intrinsik dan dapat diobjektivkan. Pendekatan ini senada dengan yang ditawarkan oleh Edward Bullough dalam mengkonsepsi teori nilai estetis (The, 1976: 34-37).

Perkembangan pemikiran nilai estetis dewasa ini lebih radikal lagi ditandai dengan munculnya aliran-aliran dadaisme dan surealisme yang tidak mempersoalkan masalah keindahan sebagai nilai positif (Beardsley, 1981: 501). Nilai estetis mencakup nilai positif dan juga nilai negatif. Konsepsi nilai estetis, baik itu keindahan maupun ketidakindahan, diartikan sejauh dapat menimbulkan pengalaman estetis (The, 1976: 40). Pengalaman estetis dalam arti ini adalah pengalaman nilai estetis yang ditangkap dari objek. Objek dalam kajian pengalaman estetis salah satunya merujuk pada objek karya seni (Kartika, 2004).

Monroe C. Beardsley dalam Aesthetics Problems in the Philosophy of Criticism membedakan tiga pendekatan yang berhubungan dengan pengalaman nilai estetis yaitu teori keindahan, definisi psikologi dan teori instrumentalis. Teori keindahan membedakan nilai estetis dari banyak macam nilai lain yang berhubungan dengan persepsi objek. Teori ini lebih spesifik menjustifikasi nilai estetis dari sudut objek (Beardsley, 1981: 512). Pendekatan Psikologis digunakan

(15)

untuk membedakan ciri-ciri pengalaman estetis dari sudut perilaku pengamat seni, sedangkan teori instrumentalis mengamati seni dari sudut kegunaan praktis (Beardsley, 1981: 533)

Pendekatan yang lebih rinci tentang pengalaman nilai estetis ditemukan John Hospers yang mengkaji syarat-syarat dan ciri-ciri suatu pengalaman nilai estetis. Pendekatan terhadap pengalaman estetis ini juga ditawarkan oleh Theodor Lipps dengan memperkenalkan teori empati (Einfühlung). Teori empati melihat pengalaman nilai estetis dari dua sudut yaitu si pengamat dan objek benda (The, 1976:55). Pendekatan teori empati Lipps ini dapat ditemukan dalam pendekatan psikologis yang menekankan pada disposisi mental. (Beardsley, 1981: 527).

Penelitian ini akan mengunakan tiga pendekatan yaitu pendekatan teori keindahan yang akan mengkaji pengalaman nilai estetis dari sudut objek seni, pendekatan psikologi yang mengkaji pengalaman nilai estetis dari sudut subjek, dan pendekatan pengalaman seni yang mengkaji pengalaman seni ditinjau dari konteks dan situasi subyek dan objek seni tersebut (Frondizi, 1963; Wijaya: 2001).

H. Metode Penelitian 1. Materi Penelitian

Penelitian mengenai Pengalaman nilai estetis menurut pemikiran DeWitt Henry Parker merupakan penelitian kualitatif dengan model penelitian kepustakaan mengenai tokoh (Bakker & Zubair, 1990: 61). Pengumpulan data

(16)

dilakukan dengan menggunakan teknik kepustakaan. Data pustaka terdiri dari sumber data primer dan data sekunder.

a. Sumber Data Primer

Sumber primer merupakan karya-karya tulis DeWitt Henry Parker. Sumber primer berupa tulisan yang digunakan dalam penelitian ini ialah:

a. Parker, D.H, 1917, The Analysis of Art, Humprrey Milford, Yale University, London.

b. Parker, D.H., 1926, The Self and Nature, Harvard University Press, Cambridge; Humprrey Milford, London

c. Parker, D.H., 1910, Knowledge and Volition, The Journal of Philosophy, Psychology and Scientific Methods, Vol. 7, No. 22 (Oct. 27, 1910), pp. 594-602. Published by: Journal of Philosophy, Inc.

d. Parker, D.H., 1920, The Principles of Aesthetics, University of Michigan, USA.

e. Parker, D.H., 1933, Reflexive Relations, The Philosophical Review, Vol. 42, No. 3 (May, 1933), pp. 303-311, Published by: Duke University Press on behalf of Philosophical Review.

f. Parker, D.H., 1934, Reflexive Relations: A Rejoinder, The Philosophical Review, Vol. 43, No. 3 (May, 1934), pp. 295-300, Published by: Duke University Press on behalf of Philosophical Review.

(17)

g. Parker, D.H., 1945, Esse Est Percipi, with Particular Reference to Number, The Journal of Philosophy, Vol. 42, No. 11 (May 24, 1945), pp. 281-291, Published by: Journal of Philosophy, Inc.

h. Parker, D.H., 1945, Knowledge by Description, The Philosophical Review, Vol. 54, No. 5 (Sep., 1945), pp. 458-488, Published by: Duke University Press on behalf of Philosophical Review.

i. Parker, D.H., 1946, Rejoinder to Mr. Lepley, The Philosophical Review, Vol. 55, No. 3 (May, 1946), pp. 288-291, Published by: Duke University Press on behalf of Philosophical Review.

j. Parker, D.H., 1929, On the Notion of Value, The Philosophical Review, Vol. 38, No. 4 (Jul., 1929), pp. 303-325, Published by: Duke University Press on behalf of Philosophical Review.

k. Parker, D.H., 1934, The Metaphysics of Value, International Journal of Ethics, Vol. 44, No. 3 (Apr., 1934), pp. 293-312, Published by: The University of Chicago Press.

l. Parker, D.H., 1938, Value and Existence, Reviewed work(s): Ethics, Vol. 48, No. 4 (Jul., 1938), pp. 475-486, Published by: The University of Chicago Press.

m. Parker, D.H., 1945, Knowledge by Acquaintance, The Philosophical Review, Vol. 54, No. 1 (Jan., 1945), pp. 1-18, Published by: Duke University Press on behalf of Philosophical Review.

(18)

b. Sumber Data Sekunder

Sumber sekunder berupa karya pemikir lain yang menulis tentang pemikiran DeWitt Henry Parker dan buku-buku pendukung, artikel, laporan penelitian, maupun pustaka digital (internet). Sumber sekunder yang digunakan dalam penelitian ini beberapa di antaranya ialah:

Cooke, R.B., 1921, The Principles of Aesthetics by DeWitt H. Parker. The Philosophical Review, Vol. 30, No. 4 (Jul., 1921), p. 431 Published by: Duke University Press on behalf of Philosophical Review.

Morgan, D.N., 1950, In Memory of DeWitt Henry Parker, The Journal of Aesthetics and Art Criticism, Vol. 8, No. 3 (Mar., 1950), pp. 195-196, Blackwell Publishing on behalf of The American Society for Aesthetics.

Parkhurst, Helen Huss, 1922, The Principles of Esthetics by DeWitt H. Parker, The Journal of Philosophy, Vol. 19, No. 3 (Feb. 2, 1922), p. 81, Published by: Journal of Philosophy, Inc.

Pepper, Stephen C., 1942, Experience and Substance. An Essay in Metaphysics by DeWitt H. Parker, The Journal of Philosophy, Vol. 39, No. 8 (Apr. 9, 1942), pp. 213-216, Published by: Journal of Philosophy, Inc.

(19)

Reck, A.J., 1960, The Philosophy of DeWitt H. Parker (1885-1949), The Review of Metaphysics, Vol. 13, No. 3 (Mar., 1960), pp. 486-508, Philosophy Education Society Inc.

Rubinstein, Annette T., 1932, Human Values--An Interpretation of Ethics Based on a Study of Values by DeWitt H. Parker, The Journal of Philosophy, Vol. 29, No. 12 (Jun. 9, 1932), pp. 331-332, Published by: Journal of Philosophy, Inc.

Shapley, F.R., 1921, The Principles of Aesthetics by DeWitt H. Parker, The Art Bulletin, Vol. 4, No. 1 (Sep., 1921), pp. 34-38, Published by: College Art Association.

2. Jalannya Penelitian

Proses jalannya penelitian ini mencakup beberapa tahapan:

a. Pengumpulan data yaitu mengumpulkan sumber pustaka yang berkaitan dengan objek material dan objek formal yang akan dikaji. Objek material penelitian ini adalah pemikiran DeWitt Henry Parker mengenai pengalaman nilai estetis dan objek formalnya ialah filsafat seni.

b. Klasifikasi data yaitu mengidentifikasi dan mengelompokkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan kelompok-kelompok yang telah ditentukan sebelumnya seperti data tentang latar belakang pemikiran, pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker serta teori seni dalam filsafat seni.

(20)

c. Pengolahan data yaitu menganalisis hasil dari data yang sudah diklasifikasi sehingga diperoleh pemahaman mengenai pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker.

d. Memaparkan hasil analisis berupa uraian tertulis secara komprehensif.

3. Analisis Penelitian

Setelah terkumpul data, analisis hasil dengan metode hermeneutik dengan langkah metodis sebagai berikut.

1) Deskripsi: mendeskripsikan konsep-konsep DeWitt Henry Parker dan tokoh-tokoh serta paham-paham yang memengaruhinya (Sudarto, 1996: 99; Kaelan, 2005:252).

2) Interpretasi: mencoba menafsirkan setiap pemikiran DeWitt Henry Parker sambil merekonstruksi teks naskah untuk menangkap maksud yang khas dari teks (Baker & Zubair, 1990: 63).

3) Koherensi Intern: mencoba memahami konsep pemikiran DeWitt Henry Parker dalam rangka keseluruhan pemikirannya (Baker, & Zubair, 1990: 64). Metode digunakan juga untuk melihat semua konsep-konsep dan aspek-aspek dalam pemikiran DeWitt Henry Parker menurut keselarasannya. Koherensi intern diikuti dengan langkah menetapkan inti pemikiran dari DeWitt Henry Parker yang mendasar dan topik yang sentral pada tokoh itu serta meneliti susunan

(21)

logis-sistematis dalam pengembangan pikiran DeWitt Henry Parker (Bakker & Zubair, 1990: 64).

4) Heuristika: pemikiran DeWitt Henry Parker dilihat dalam keseluruhan konteks teori Filsafat Seni dengan melihat secara luas menurut konteks saat ini. Analisis peneliti melakukan pemeriksaan secara konsepsional atas makna yang dikandung oleh istilah-istilah atau konsep yang dipergunakan dan pernyataan yang dibuat serta menemukan pemikiran yang original (Sudarto, 1996: 99; Kaelan, 2005: 252; Baker & Zubair, 1990:65)

I. Hasil yang diharapkan

Hasil yang diharapkan dari penelitian ini ialah mendapatkan pemahaman mengenai pengalaman nilai estetis dalam pemikiran DeWitt Henry Parker ditinjau dari sudut pandang filsafat seni. Penelitian ini selain itu juga diharapkan dapat memberi pengetahuan mengenai nilai dalam pemikiran seni menurut DeWitt Henry Parker. Penelitian ini juga diharapkan dapat merefleksikan relevansi pemikiran pengalaman nilai estetis menurut DeWitt Henry Parker dengan pengembangan karakter bangsa Indonesia.

(22)

J. Sistematika Penulisan Bab I

Pada bagian ini berisi a) latar belakang penelitian yang menjadi dasar penelitian ini dilakukan. Latar belakang masalah tersebut diringkas dalam b) rumusan masalah, c) keaslian penelitian, d) tujuan penelitian, dan e) manfaat penelitian. Setelah latar belakang masalah, bagian berisi f) tinjauan pustaka sebagai acuan aspek-aspek dalam penelitian khususnya memarparkan lebih jauh tentang objek material penelitian, g) landasan objek formal penelitian dipaparkan dalam landasan teori. Jalannya penelitian dipaparkan pada bagian h) metode penelitian yang berisikan materi penelitian, jalannya penelitian dan analisis penelitian. Bagian akhir dari bab ini di jelaskan i) hasil yang diharapkan dari penelitian ini.

Bab II

Pada bagian ini menjelaskan diskursus tentang seputar pegertian pengalaman nilai estetis. Bagian ini diawali dengan penjelasan tentang a) batasan pengertian estetis, b) kajian seputar nilai estetis sebagai pisau analisis yang dipaparkan pada landasan teori yaitu mengacu pada teori keindahan, teori psikologi dan teori pengalaman estetis.

Bab III

Pada bagian ini membahas kehidupan DeWitt Henry Parker secara umum dan pemikirannya secara lebih komprehensif. Pertama-tama bagian ini menjelaskan a)riwayat hidup dan karya-karya yang dihasilkan DeWitt Henry Parker selama hidupnya, b) tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikirannya. Pemikiran-pemikiran dasar Parker kemudian dijelaskan lebih rinci meliputi 1) metafisika nilai yang menjadi pondasi dasar mengetahui bagaimana Parker

(23)

memahami realitas; 2) konsep manusia khususnya tentang jati diri dan identitas; 3) konsep relasi menjelaskan bagaimana Parker memahami hubungan antara objek; 4) konsep pengetahuan yang menjelaskan bagaimana subjek dapat mengetahui objek; dan 5) konsep seni dan pengalaman nilai seni.

Bab IV

Pada bagian ini menjelaskan analisis pengalaman nilai estetis menurut Parker yang meliputi a) analisis konsep seni menurut parker, b) analisis pengalaman nilai estetis, c) sifat dasar pengalaman nilai estetis, d) fungsi pengalaman nilai estetis dan komunikasi serta e) kritik terhadap pengalaman nilai estetis.

Bab V

Pada bagian ini menjelaskan relevansi pengalaman nilai estetis dengan pengembangan karakter bangsa Indonesia. Penjelasan ini meliputi a) pemahaman karakter bangsa Indonesia, b) krisis karakter bangsa di jaman globalisasi, d) relevansi pengalaman nilai estetis

Bab VI

Bagian ini merupakan bagian terakhir yang berisi kesimpulan akhir dari penelitian. Bagian ini terdiri dari tiga bagian yaitu konsep seni, pengalaman nilai estetis dan relevansinya.

(24)

Referensi

Dokumen terkait

Lokasi penelitian adalah tempat data objek penelitian didapat, penentuan lokasi penelitian berkaitan dengan pembatasan masalah yang telah disebutkan. Dalam penelitian hukum

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumenter data primer dengan cara mengumpulkan artikel mengenai Iriana dalam media online

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dari informasi yang berkaitan dengan masalah biaya operasional terhadap perolehan laba operasional yang

Pada bab ini penulis menjelaskan metode penelitian, teknik pengumpulan data, serta tahapan penelitian yang digunakan dalam penelitian mengenai peranan pemimpin

Heuristik merupakan sebuah proses pencarian dan pengumpulan sumber yang berkaitan dengan sebuah objek penelitian. Data sejarah tidak selalu tersedia dengan mudah,

Dalam penulisan skripsi ini peneliti menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), 14 yaitu dengan mengumpulkan data atau bahan-bahan yangv berkaitan

Inventarisir data: mengumpulkan data yang berkaitan dengan penelitian mengenai paradigma pembangunan Millennium Development Goals dan studi kepustakaan pemikiran Amartya Sen

Sumber data primer merupakan sumber data yang diperoleh dan dikumpulkan secara langsung dari lapangan yang menjadi objek penelitian atau diperoleh melalui wawancara yang