• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG (Musa acuminata) MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG (Musa acuminata) MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG (Musa acuminata) MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR

Oleh: AYU WIDYA NIM. 100500153

PROGRAM STUDI MANAJEMEN LINGKUNGAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

S A M A R I N D A 2013

(2)

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG (Musa acuminata) MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR

Oleh : AYU WIDYA NIM. 100500153

Karya Ilmiah Merupakan Salah Satu Syarat Untuk Memperolah Gelar Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI MANAJEMEN LINGKUNGAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

S A M A R I N D A 2013

(3)

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG (Musa acuminata) MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR

Oleh : AYU WIDYA NIM. 100500153

Karya Ilmiah Merupakan Salah Satu Syarat Untuk Memperolah Gelar Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI MANAJEMEN LINGKUNGAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

S A M A R I N D A 2013

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Karya Ilmiah : Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang (Musa acuminata) Menjadi Pupuk Organik Cair

Nama : Ayu Widya NIM : 100500153 Program Studi :

Jurusan :

Manajemen Lingkungan Manajemen Pertanian

Pembimbing Penguji I Penguji II

Taufiq Rinda A. S.Si., M.Pd. Ir. Taman Alex, MP Fachruddin Azwari ST., M.Si NIP. 197505212008121001 NIP.197805172009121002 NIP.196012121989031008

Menyetujui, Mengesahkan,

Ketua Program Studi Manajemen Ketua Jurusan Manajemen

Lingkungan, Pertanian

Ir. Dadang Suprapto, MP Ir. Hasanudin, MP NIP.196201011988031003 NIP.196308051989031005

(5)

ABSTRAK

AYU WIDYA. Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang (Musa acuminata) Menjadi Pupuk Organik Cair di bawah bimbingan TAUFIQ RINDA ALKAS .

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum maksimalnya pemanfaatan limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair. Pupuk dapat diartikan sebagai penambahan bahan-bahan yang ada pada tanaman berupa makanan atau unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair, dan untuk mengetahui sifat fisik pupuk organik cair dari limbah kulit pisang, serta untuk mengetahui sifat kimia pupuk organik cair dari limbah kulit pisang.

Penelitian ini terdiri dari 3 taraf perlakuan dangan 2 kali pengulangan. Perlakuan yang dilakukan yaitu P0 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter), P1 (limbah kulit pisang 1

kg + air 2 liter + EM4 100 mL), dan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500 gram).

Berdasarkan hasil penelitian pupuk organik cair dari limbah kulit pisang dengan pemberian perlakuan yang berbeda menghasilkan hasil yang berbeda. Sifat fisik pupuk organik cair yang dihasilkan dari segi warna yaitu berwarna coklat muda pada perlakuan P0, berwarna coklat tua pada perlakuan P1 dan berwarna coklat kehitaman

pada perlakuan P2. Untuk suhu rata-rata hasil yang diperoleh sama yaitu 28 0

C pada setiap masing-masing perlakuan, sedangkan untuk bau hasil yang diperoleh yaitu pada perlakuan P0 berbau limbah rumah tangga dan pada perlakuan P1 berbau fermentasi

lemahdan P2 berbau fermentasi kuat. Untuk sifat kimia pupuk organik cair hasil analisa

pH pada perlakuan P0 = 6,21dan P1 = 5,42 sudah sesuai dengan Standar Kualitas

Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian yaitu 4-8. Untuk hasil analisa C-Organik pada perlakuan P0, P1, dan P2 belum sesuai dengan Standar Kualitas Pupuk

Organik Cair Menurut Departemen Pertanian yaitu > 4.5. Kata kunci: limbah kulit pisang dan pupuk organik cair

(6)

RIWAYAT HIDUP

Ayu Widya lahir pada tanggal 30 Januari 1992 di Kelurahan Loa Buah Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda Kalimantan Timur. Merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Iskandar dan Ibu Sukarni.

Tahun 1997 memulai pendidikan di Taman Kanak-kanak Tunas Karya dan lulus pada tahun 1998. Kemudian pada tahun 1998 melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 005 Samarinda dan lulus pada tahun 2004, setelah itu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 28 Samarinda dan lulus tahun 2007, kemudian pada tahun 2007 melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Samarinda mengambil jurusan IPA dan lulus pada tahun 2010. Pada tahun 2010 melanjutkan pendidikan tinggi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Program Studi Manajemen Lingkungan, Jurusan Manajemen Pertanian. Pada tahun 2013 mengikuti Praktik Kerja Lapang (PKL) di CV. Arjuna Coal Sites di Kelurahan Makroman, Sambutan, Pulau Atas, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulisan Karya Ilmiah ini dapat diselesaikan.

Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Studi di Program Studi Manajemen Lingkungan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Dalam kesempatan ini Penulis ucapkan banyak terimakasih atas peran serta dan bantuan yang telah diberikan kepada:

1. Kedua orang tua tercinta yang telah banyak memberikan motivasi baik secara moral maupun material kepada penulis selama ini.

2. Bapak Taufiq Rinda Alkas S.Si., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Karya Ilmiah yang telah membimbing dan mengarahkan penulis.

3. Bapak Ir. Taman Alex, MP, selaku penguji I yang telah memberikan masukkan dan saran kepada Penulis.

4. Bapak Fachruddin Azwari ST., M.Si, selaku penguji II yang telah memberikan masukkan dan saran kepada penulis.

5. Bapak Ir. Dadang Suprapto, MP, selaku Ketua Program Studi Manajemen Lingkungan.

6. Bapak Ir. Wartomo, MP, selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. 7. Bapak Ir. Hasanudin, MP, selaku Ketua Jurusan Manajemen Pertanian.

8. Seluruh Staf Dosen dan Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Program Studi Manajemen Lingkungan yang telah banyak memberikan masukan dan motivasi baik itu dalam proses belajar mengajar maupun di luar jam perkuliahan.

9. PLP Laboratorium Tanah dan Air yang telah membantu menganalisa kandungan fisik dan kimia pada pupuk organik cair.

10. Yang tersayang (Kris) telah banyak memberi motivasi dan nasehat selama ini. 11. Teman-teman seperjuangan, Siska, Wulan, Nenny, Yanti, Ardian, Bennet, Said

(8)

12. Seluruh teman-teman angkatan 2010 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya Ilmiah ini masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu Penulis berharap semoga apa yang terdapat dalam penulisan Karya Ilmiah ini dapat bermanfaat.

Ayu Widya

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR………... Vii

DAFTARISI………... Ix

DAFTAR TABEL………..…... X

DAFTAR GAMBAR……….…... Xi

DAFTAR LAMPIRAN………..…... Xii

BAB I. PENDAHULUAN………... 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA………...…... 4

A. Tinjauan Umum Pisang (Musa acuminata)………... 4

B. Pupuk Organik………..…... 5

C. Starter EM4………..……….………... 9

D. Gula Pasir….………... 10

BAB III. METODE PENELITIAN………... 11

A. Lokasi dan Waktu Penelitian………... 11

B. Alat dan Bahan………... 11

C. Prosedur Penelitian………... 12

D. Pengambilan dan Pengolahan Data………... 13

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN……….….... 14

A. Hasil………... 14

B. Pembahasan………... 17

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN………... 20

A. Kesimpulan………... 20

B. Saran………... 21

DAFTAR PUSTAKA………... 22

(10)

DAFTAR TABEL

No Tubuh Utama Halaman

1. Kandungan Buah Pisang……… 5

2. Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen

Pertanian……… 7

3. Nilai Rata-rata Sifat Fisik Pupuk Organik Cair………. 14 4. Nilai Rata-rata Sifat Kimia Pupuk Organik Cair………... 15 5. Perbandingan Antara Pupuk Organik Cair Hasil Penelitian

dengan Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut

Departemen Pertanian………... 17 Lampiran

(11)

DAFTAR GAMBAR

No Lampiran Halaman

1. Grafik Nilai Rata-rata Suhu dan Warna Masing-masing

Perlakuan………... 15

2. Grafik Nilai Rata-rata pH dan C-Organik Masing-masing

Perlakuan………. 16

3. Limbah Kulit Pisang untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair…… 25 4. Bahan Campuran untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair……… 25 5. Proses Pemotongan dan Penimbangan Limbah Kulit Pisang…. 26 6. Proses Pemblenderan Limbah Kulit Pisang………... 26 7. Pencampuran Hasil Blenderan Limbah Kulit Pisang dengan 3

Perlakuan………... 27

8. Penyaringan Pupuk Organik Cair dari Limbah Kulit Pisang……. 27 9. Sampel Pupuk Organik Cair dari Limbah Kulit Pisang yang diuji

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Hasil Analisis di Laboratorium Tanah dan Air……….. 24

2. Bahan Pembuat Pupuk Org,anik

Cair………

25 3. Kegiatan Pembuatan Pupuk Organik Cair………... 26 4. Pupuk Organik Cair dari Limbah Kulit Pisang………. 28

(13)

BAB I PENDAHULUAN

Aktifitas manusia dalam memanfaatkan alam selalu meninggalkan sisa yang dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga diperlakukan sebagai barang buangan yang disebut limbah. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang lebih dikenal sebagai sampah, yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Sumber limbah umumnya berasal dari limbah rumah tangga. Limbah menjadi masalah penting pada lingkungan yang padat penduduknya. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah volume limbah yang sangat besar, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi pembuangan limbah. Pengelolaan limbah dirasakan tidak memberikan dampak positif kepada lingkungan, dan kurangnya dukungan kebijakan dari pemerintah, terutama dalam memanfaatkan produk sampingan dari limbah yang menyebabkan menumpuknya volume limbah.

Permasalahan limbah dapat diartikan sebagai problem karena dampaknya mengenai berbagai sisi kehidupan, terutama di tempat yang padat penduduknya. Berdasarkan perkiraan, volume limbah yang dihasilkan oleh manusia rata-rata sekitar 0,5 kg/perkapita/hari, sehingga untuk tempat yang padat penduduknya seperti Jakarta yang memiliki penduduk sekitar 10 juta orang menghasilkan limbah sekitar 5.000 ton/hari. Bila tidak cepat ditangani secara benar, maka kota-kota besar tersebut akan tenggelam dalam timbunan limbah berbarengan dengan segala

(14)

dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran air, udara, tanah, dan sumber penyakit (Anonim, 2007).

Limbah sebagai barang yang memiliki nilai, tidak seharusnya diperlakukan sebagai barang yang menjijikkan, melainkan harus dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah atau bahan yang berguna. Pengolahan limbah harus dilakukan dengan efisien dan efektif, yaitu sedekat mungkin dengan sum bernya, seperti RT/RW, sekolah, dan rumah tangga sehingga jumlah limbah dapat dikurangi. Limbah merupakan sumber daya alam yang sangat besar, apabila kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Oleh karena itu perlu melalui proses daur ulang secara organik untuk menghasilkan produk pupuk yang sangat penting sebagai unsur hara untuk kesuburan tanah dan perkembangan tanaman. Pengolahan limbah diantaranya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair yang di dalamnya terkandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, perbaikan struktur tanah dan zat yang dapat mengurangi bakteri yang merugikan dalam tanah. Pupuk organik biasanya tidak meninggalkan residu/sisa dalam tanaman sehingga hasil tanaman akan aman bila dikonsumsi. Seperti halnya limbah kulit pisang yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.

Penelitian pembuatan pupuk organik cair yang menggunakan limbah kulit pisang ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair, untuk mengetahui sifat fisik (suhu, warna, dan bau) pupuk organik cair dari limbah kulit pisang, dan untuk mengetahui sifat kimia (pH dan C-organik) pupuk organik cair dari limbah kulit pisang.

(15)

Hasil yang diharapkan dari pembuatan pupuk organik cair ini yaitu dapat mengurangi limbah rumah tangga dengan memanfaatkan limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair, memperoleh pupuk organik cair dari pemanfaatan limbah kulit pisang, dan dapat menjadi alternatif pemanfaatan limbah kulit pisang.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Pisang (Musa acuminata)

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari yang disebut sisir. Buah pisang memiliki kulit yang bervariasi diantaranya berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam.

Dalam klasifikasi dan sistematika tumbuhan, pisang termasuk dalam famili musaceae. Kerabat dekat spesies pisang cukup banyak seperti, Musa acuminata, Musa balbisiana, Musa paradisiaca, Musa sapientum. Adapun secara lengkap, klasifikasi tanaman pisang adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Musales Famili : Musaceae Genus : Musa

Spesies : Musa acuminata

Pusat keragaman utama pisang terletak di daerah Malaysia (Asia Tenggara), Papua dan Australia. Tumbuhan ini menyukai iklim tropis panas dan lembab, terutama di dataran rendah. Di daerah dengan hujan merata sepanjang tahun, produksi pisang dapat berlangsung tanpa mengenal musim. Indonesia, Kepulauan

(17)

Pasifik, Negara-negara Amerika Tengah, dan Brasil dikenal sebagai negara utama pengekspor pisang. Jenis-jenis lain biasanya ditanam berkelompok di pekarangan, tepi-tepi lahan tanaman lain, serta tepi sungai (Anonim, 2011a).

Menurut Suryanto (2012), buah pisang banyak mengandung gizi untuk kebutuhan energi dan mineral yang banyak bermanfaat bagi tubuh. Kandungan gizi buah pisang dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini:

Tabel 1. Kandungan Buah Pisang

Kandungan Gizi Jumlah

Lemak 0,2 g Protein 1,2 g Karbohidrat 25,8 g Serat 0,7 g Fosfor 2,8 g Kalori 136 kal Zat Besi 2 mg Vitamin A 45 mg Vitamin B6 0,5 mg

Sumber : Heri Suryanto (2012)

B. Pupuk Organik

Menurut Purwendro (2007), pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa makhluk hidup baik hewan atau tumbuhan. Pembuatan pupuk organik juga diperkaya dengan mikroba yang dapat menyediakan hara sehingga mudah diserap tanaman.

Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari pelapukan bahan-bahan organik berupa sisa-sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia, batu-batuan organik yang terbentuk dari tumpukan kotoran selama ratusan tahun. Pupuk organik juga dapat berasal dari limbah industri, seperti limbah rumah potong hewan, limbah

(18)

industri minyak atsiri, ataupun air limbah industri yang telah diolah, sehingga tidak lagi mengandung bahan beracun.

Sebagai hasil pelapukan sisa-sisa makhluk hidup, pupuk organik termasuk pupuk yang lengkap. Artinya, di dalam pupuk tersebut terkandung unsur makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Unsur-unsur organik di dalam pupuk ini baru bisa dimanfaatkan tanaman setelah melalui proses dekomposisi di dalam tanah.

Pupuk organik dalam bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologi tanah serta sebagai sumber nutrisi tanaman. Secara umum kandungan nutrisi hara dalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik yang telah dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dalam bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam kondisi aerob maupun anaerob. Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah organik seperti sisa-sisa tanaman (jerami, batang, dahan), sampah rumah tangga, kotoran ternak (sapi, kambing, ayam), arang sekam, dan abu dapur (Anonim, 2006).

Proses pengomposan limbah organik identik dengan proses fermentasi. Fermentasi adalah suatu kegiatan penguraian bahan-bahan karbohidrat. Pada proses fermentas i biasanya tidak menimbulkan bau busuk dan biasanya menghasilkan karbondioksida. Suatu fermentasi yang busuk biasanya adalah fermentasi yang mengalami kontaminasi. Fermentasi yang normal adalah perubahan karbohidrat menjadi asam (Desrosier, 2008).

(19)

Menurut Parnata (2004), keunggulan pupuk organik yaitu memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah, meningkatkan daya serap tanah terhadap air, meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah, sumber makanan bagi tanaman, ramah lingkungan, biaya lebih murah, dan meningkatkan kualitas produksi.

Berdasarkan bentuknya, ada dua jenis pupuk organik yang beredar di pasaran, yaitu pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Pupuk organik padat merupakan pupuk organik yang berbentuk padat dan lazim digunakan petani. Pengaplikasiannya dengan cara ditaburkan atau dibenamkan dalam tanah. Sementara pupuk organik cair merupakan pupuk organik berbentuk cairan. Pengaplikasian pupuk organik cair umumnya dengan cara disemprotkan ke daun atau disiramkan ke tanah. Penyemprotan ke daun perlu menggunakan sprayer (Musnamar, 2005). Ditambahkan oleh Marsono dan Sigit (2005), beberapa jenis pupuk organik cair dapat langsung disemprotkan ke daun tanpa penambahan air dan sebaiknya tidak dilakukan pada kondisi terik matahari atau kelembaban rendah karena larutan pupuk akan cepat menguap.

Standar kualitas pupuk organik cair yang baik menurut Departemen Pertanian dapat di lihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian No. Parameter Satuan Kandungan pupuk organik cair

1. C-organik % = 4,5

2.

Kadar logam berat Pb Cd Hg As ppm ppm ppm ppm = 100 = 20 = 2 = 20 3. pH - 4-8

(20)

Tabel 2. Lanjutan 4. Kadar total (N+ P2O5 + K2O % Dicantumkan 5. Mikroba patogen (E. Coli Salmonela) Sel/ml Dicantumkan 6. Kadar unsur mikro (Zn, Cu, Mn, Co, Fe) Ppm Dicantumkan Sumber : Simamora (2008)

Menurut Hadisuwito (2009), pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang mengandung unsur hara lebih dari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik ini adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin.

Keunggulan pupuk organik cair diantaranya adalah menyehatkan lingkungan, meningkatkan produktifitas tanah, menekan biaya usaha tani dan meningkatkan kualitas produk. Prinsip kerja pupuk organik cair untuk membantu proses pertumbuhan tanaman yang dimulai dari meningkatkan produktifitas tanah secara keseluruhan dilihat baik dari fisik, kimia, maupun biologi. Pupuk organik cair pada tanah secara fisik dapat menggemburkan tanah, memperbaiki drainase, meningkatkan daya olah tanah, mencegah erosi dan longsor. Secara kimia dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara dan meningkatkan proses pelapukan bahan mineral, sedangkan secara biologi dapat menjadi sumber makanan bagi

(21)

mikroorganisme tanah seperti fungi, bakteri, serta mikroorganisme menguntungkan lainnya, sehinga perkembangannya menjadi lebih cepat.

C. Starter EM4

Starter adalah populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi. Salah satu contohnya adalah EM4 (Effective Microorganism 4).

Menurut Hadisuwito (2009), EM4 merupakan bahan yang membantu mempercepat proses pembuatan pupuk organik dan meningkatkan kualitasnya. EM4 terdiri dari 4 mikroorganisme (Lactobacillus , Sacharomyces , Acetobacter, dan Bacillus) yang berfungsi untuk proses fermentasi. Selain itu, EM4 juga bermanfaat memperbaiki struktur dan tekstur tanah menjadi lebih baik, serta menyuplai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Dengan demikian, penggunaan EM4 akan membuat tanaman menjadi lebih subur, sehat, dan relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Berikut ini manfaat EM4 bagi tanaman dan tanah :

1. Meningkatkan dekomposisi limbah dan sampah organik 2. Meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman

3. Mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan 4. Menghambat pertumbuhan hama dan penyakit tanaman dalam tanah 5. Membantu meningkatkan kapasitas fotosintesis tanaman

6. Membantu proses penyerapan dan penyaluran unsur hara dari akar ke daun 7. Meningkatkan kualitas bahan organik sebagai pupuk

(22)

D. Gula Pasir

Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula merupakan bahan makanan dengan rasa manis. Gula ditemukan di India, sekitar abad dua sebelum masehi. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula termasuk dalam bumbu dapur yang dapat memberikan rasa manis pada makanan dan minuman serta dapat digunakan untuk pengawet makanan.

Gula diperoleh dari tebu, air bunga kelapa, aren, dan palem. Gula pasir diperoleh dari batang tebu, warnanya putih dan butiran kasar. Gula pasir yang berwarna kecokelatan dikenal dengan istilah demarara. Gula pasir dengan butiran halus dikenal dengan granulated sugar. Sedangkan gula pasir dengan butiran yang sangat halus sering disebut dengan caster sugar (Anonim, 2011b).

Gula adalah sejenis karbohidrat yang rasanya manis. Karbohidrat yang paling sederhana disebut monosakarida, karbohidrat tersebut tidak dapat dihidrolisasi (diuraikan oleh air). Tiga monosakarida yang biasa dikenal adalah glukosa (disebut juga dekstrosa), fruktosa (gula buah), dan galaktosa (komponen dari laktosa yang terkandung dalam gula pada susu) (Hill & Kolb, 2004).

(23)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Aster RT.7 RW.3 Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang Samarinda, kemudian dilanjutkan di Laboratorium Tanah dan Air. Waktu penelitian ini dilakukan selama 2 bulan terhitung dari 27 Februari sampai 23 April 2013 termasuk dalam mempersiapkan alat dan bahan, pembuatan pupuk organik cair, dan pengambilan data laboratorium.

B. Alat dan Bahan

1. Alat-alat yang digunakan yaitu sebagai berikut: a. Ember b. Botol c. Timbangan d. Pisau e. Telenan f. Blender g. Kain penyaring h. Kertas label i. Alat tulis j. Kamera

2. Bahan yang digunakan yaitu sebagai berikut: a. Limbah kulit pisang

(24)

c. Starter EM4 d. Gula pasir

C. Prosedur Penelitian

1. Membuat rancangan penelitian.

Penelitian ini disusun dalam 3 perlakuan dengan dua kali pengulangan, yaitu sebagai berikut:

P0 = limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter

P1 = limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + EM4 100 mL

P2 = limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500 gram

2. Menyiapkan alat dan bahan.

3. Menyiapkan media pembuatan pupuk. Media pupuk yang digunakan berasal dari limbah kulit pisang.

4. Limbah kulit pisang dirajang dengan ukuran yang seragam (kecil-kecil) untuk mempermudah proses pemblenderan.

5. Limbah kulit pisang yang sudah dirajang di blender (dihaluskan) sampai menjadi cairan dengan menambahkan air bersih sesuai takaran.

6. Hasil pemblenderan tersebut dimasukkan ke dalam ember. Lalu dilakukan pemberian EM4, air, dan gula pasir sesuai dengan perlakuan.

7. Lalu disimpan selama 2 minggu untuk proses fermentasi.

8. Setelah disimpan selama 2 minggu, hasil pupuk disaring dengan menggunakan kain saring lalu dimasukkan ke dalam botol yang telah disediakan. Kemudian diberi label untuk diteliti di Laboratorium Tanah dan Air.

(25)

D. Pengambilan dan Pengolahan Data

1. Pengambilan data

a. Sifat fisik pupuk organik cair

Pengamatan sifat fisik pupuk organik cair dapat diamati dari suhu, warna, dan bau.

b. Sifat kimia pupuk organik cair

Pengamatan sifat kimia pupuk organik cair dapat diamati dari pH dan C-organik yang dilakukan uji kimia, di Laboratorium Tanah dan Air, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

2. Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode statistika sederhana (perhitungan rata-rata). Perhitungan ini dilakukan dengan menggunakan rumus, yaitu:

??? s ?? Keterangan:

?? = Nilai rataan dari parameter

s ? = Jumlah nilai masing-masing parameter ? = Jumlah sampelpada tiap parameter

(26)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

1. Sifat fisik pupuk organik cair

Berdasarkan hasil sifat fisik pupuk organik cair yang terdiri dari suhu, warna, dan bau, pupuk organik cair dari limbah kulit pisang selama 2 minggu dengan dua kali pengulangan, maka dapat diperoleh nilai rata-rata sifat fisik pupuk organik cair untuk tiap perlakuan yaitu dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini:

Tabel 3. Nilai Rata-rata Sifat Fisik Pupuk Organik Cair

Kode Sampel Rata-rata

Suhu (0C) Warna (mg/L Ptco) Bau

P0 28

759,5 (coklat muda)

Berbau limbah rumah tangga

P1 28 (coklat tua) 662 Berbau fermentasi lemah

P2 28

773,5 (coklat kehitaman)

Berbau fermentasi kuat Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Tanah dan Air, 2013

Dari data Tabel 3 maka dapat digambarkan grafik suhu dan warna pupuk organik cair dari limbah kulit pisang yang diperoleh pada masing-masing perlakuan seperti yang tercantum pada Gambar 1.

(27)

Gambar 1. Grafik Nilai Rata-rata Suhu dan Warna Masing-masing Perlakuan 2. Sifat kimia pupuk organik cair

Berdasarkan hasil uji laboratorium pada pupuk organik cair dari limbah kulit pisang sesuai perlakuan, maka dapat diperoleh nilai rata-rata sifat kimia pupuk organik cair yang terdiri dari pH dan C-Organik yaitu dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini:

Tabel 4. Nilai Rata-rata Sifat Kimia Pupuk Organik Cair

Kode Sampel Rata-rata pH C-Organik (%) P0 6,21 0,316 P1 5,42 0,419 P2 3,34 3,661

Sumber: Hasil Analisis Laboratorium Tanah dan Air, 2013 0 100 200 300 400 500 600 700 800 P0 P1 P2 Suhu (°C) Warna (mg/L Ptco)

(28)

Dari data Tabel 4 maka dapat digambarkan grafik pH dan C-organik pupuk organik cair dari limbah kulit pisang yang diperoleh pada masing-masing perlakuan seperti yang tercantum pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik Nilai Rata-rata pH dan C-Organik Masing-masing Perlakuan Keterangan :

P0 = limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter

P1 = limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + EM4 100 mL

P2 = limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500 gram

Hasil analisis sifat kimia pupuk organik cair dari limbah kulit pisang jika dibandingkan dengan Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian dapat dilihat pada Tabel 5.

0 1 2 3 4 5 6 7 P0 P1 P2 pH C-Organik (%)

(29)

Tabel 5. Perbandingan Antara Pupuk Organik Cair Hasil Penelitian dengan Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian

No. Parameter Satuan

Standar Departemen Pertanian Hasil Analisa Po P1 P2 1. C-organik % =4,5 0,316 0,419 3,661 2. pH - 4-8 6,21 5,42 3,34 B. Pembahasan

1. Sifat fisik pupuk organik cair

Dari hasil penelitian pupuk organik cair dari limbah kulit pisang selama 2 minggu dengan pemberian perlakuan yang berbeda memberikan hasil yang berbeda. Pupuk organik cair yang dihasilkan dari segi suhu rata-rata hasil yang diperoleh dari perlakuan P0 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter), P1 (limbah kulit

pisang 1 kg + 2 liter + EM4 100 mL), dan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter +

gula pasir 500 gram) sama yaitu 280C. Untuk segi warna rata-rata hasil yang

diperoleh pada perlakuan P0 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter) yaitu berwarna

coklat muda dengan nilai 759,5 mg/L Ptco, pada perlakuan P1 (limbah kulit pisang 1

kg + 2 liter + EM4 100 mL) yaitu berwarna coklat tua dengan nilai 662 mg/L Ptco, dan pada perlakuan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500 gram)

yaitu berwarna coklat kehitaman dengan nilai 773,5 mg/L Ptco. Untuk segi bau rata-rata hasil yang diperoleh pada perlakuan P0 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter)

yaitu berbau limbah rumah tangga, pada perlakuan P1 (limbah kulit pisang 1 kg + 2

liter + EM4 100 mL) yaitu berbau fermentasi lemahdan pada perlakuan P2 (limbah

(30)

2. Sifat kimia pupuk organik cair

Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa sifat kima pupuk organik cair dari limbah kulit pisang jika dibandingkan dengan Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian hasil analisa pH pada perlakuan P0 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter) = 6,21dan P1 (limbah kulit pisang

1 kg + 2 liter + EM4 100 mL)= 5,42 sudah memenuhi standar yaitu 4-8, sedangkan hasil pH pada perlakuan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500

gram) = 3,34 belum memenuhi Standar Kualitas Pupuk Organik Cair, hal tersebut dapat disebabkan oleh:

a. Proses fermentasi yang terlalu lama. Proses fermentasi dari bahan organik yang mengandung karbohidrat jika terlalu lama maka karbohidrat dapat berubah menjadi asam.

b. Pemakaian gula pasir yang menyebabkan pH menjadi asam, karena gula pasir mengandung bahan klor (pemutih) yang dapat membunuh bakteri yang bekerja selama proses fermentasi berlangsung.

Untuk hasil analisis C-Organik pada perlakuan P0 (limbah kulit pisang 1 kg + air

2 liter) = 0,316 %, pada perlakuan P1 (limbah kulit pisang 1 kg + 2 liter + EM4 100

mL)= 0,419 %, dan pada perlakuan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula

pasir 500 gram) = 3,661 % belum sesuai dengan Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian yaitu > 4,5 %. Hal tersebut dapat disebabkan oleh:

a. C-organiknya yang menguap menjadi karbondioksida pada saat proses fermentasi terjadi.

(31)

b. C-organiknya kemungkinan terbawa dalam proses penyaringan pada sisa padatan pupuk organik cair pada saat proses fermentasi.

c. EM4 yang belum diaktifkan dengan gula merah yang menyebabkan EM4 tidak bekerja dengan baik.

d. Pemakaian gula pasir yang mengandung klor (pemutih) yang dapat membunuh bakteri yang bekerja selama proses fermentasi berlangsung.

(32)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sifat fisik pupuk organik cair yang dihasilkan pada perlakuan P0 (limbah kulit

pisang 1 kg + air 2 liter), P1 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + EM4 100 mL),

dan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500 gram)

menghasilkan suhu rata-rata sama yaitu 280C. Untuk segi warna yang dihasilkan pada perlakuan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir

500 gram) yaitu 773,5 mg/L Ptco lebih tinggi dari pada perlakuan P0 (limbah kulit

pisang 1 kg + air 2 liter) yaitu 759,5 mg/L Ptco dan P1 (limbah kulit pisang 1 kg +

air 2 liter + EM4 100 mL) yaitu 662 mg/L Ptco. Untuk segi bau pada perlakuan P0 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter) menghasilkan bau limbah rumah tangga,

pada perlakuan P1 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + EM4 100 mL)

menghasilkan bau fermentasi lemah, sedangkan pada perlakuan P2 (limbah kulit

pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500 gram) menghasilkan bau fermentasi kuat.

2. Sifat kimia pupuk organik cair untuk hasil pH pada perlakuan P0 (limbah kulit

pisang 1 kg + air 2 liter) yaitu 6,21 lebih tinggi dari pada hasil pH pada perlakuan P1 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + EM4 100 mL) yaitu 5,42 dan P2 (limbah

kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500 gram) yaitu 3,34. Untuk hasil C-Organik pada perlakuan P2 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + gula pasir 500

(33)

gram) yaitu 3,661% lebih tinggi dari pada perlakuan P0 (limbah kulit pisang 1 kg

+ air 2 liter) yaitu 0,316% dan P1 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter + EM4 100

mL) yaitu 0,419%. Namun pH yang dihasilkan dari 3 perlakuan tersebut jika dibandingkan dengan Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian hanya 2 perlakuan yang sesuai yaitu pada perlakuan P0

(limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter) dan P1 (limbah kulit pisang 1 kg + air 2 liter

+ EM4 100 mL), sedangkan C-Organik yang dihasilkan dari 3 perlakuan tersebut jika dibandingkan dengan Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian tidak ada yang sesuai.

B. Saran

Adapun saran dari penelitian pupuk organik cair limbah kulit pisang ini yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mendapatkan pupuk organik cair dari limbah kulit pisang yang baik yaitu perlu dilakukan lebih lanjut dengan berbagai macam perlakuan.

2. Untuk mengetahui kelebihan pupuk organik cair dari limbah kulit pisang dapat dilakukan dengan cara mengaplikasikannya pada tanaman.

3. EM4 seharusnya diaktifkan terlebih dahulu dengan mencampurkannya pada gula merah yang sudah diencerkan dan didiamkan selama 2 minggu agar bakteri yang terdapat di dalam EM4 tersebut dapat hidup dan bekerja dengan baik selama proses fermentasi berlangsung.

4. Pemakaian gula pasir sebaiknya diganti dengan pemakaian gula merah, karena gula pasir mengandung klor (pemutih) yang dapat membunuh bakteri yang bekerja selama proses fermentasi terjadi.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Pembuatan Pupuk Organik. http://balittanah.litbang.deptan.go.id /dokumentasi/ju knis/pupuk%20organik.pdf. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012

Anonim. 2007. Sampah. http://id.wikipedia.org/wiki/sampah. Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012

Anonim. 2011a. Pisang. http://id.wikipedia.org/wiki/Pisang. Diakses pada tanggal 4

Oktober 2012

Anonim. 2011b. Gula Pasir. http://id.wikipedia.org/wiki/Gula-pasir. Diakses pada

tanggal 4 Oktober 2012

Desrosier, N.W. 2008. Teknologi Pengawetan Pangan. Universitas Indonesian. Jakarta

Hadisuwito, S. 2009. Membuat Pupuk Kompos Cair. AgroMedia Pustaka. Jakarta Hill, J.W. & Kolb, D.K. 2004. Chemistry For Changing Times . Pearson Education,

Inc., New Jersey

Marsono dan Sigit, P. 2005. Pupuk Akar Jenis & Aplikasinya. Penebar Swadaya. Jakarta

Musnamar. 2005. Pupuk Organik. Penebar Swadaya. Jakarta

Parnata, AS. 2004. Pupuk Organik Cair Aplikasi Dan Manfaatnya. AgroMedia Pustaka. Jakarta

Purwendro, S. dan Nurhidayat. 2007. Menggelola Sampah untuk Pupuk Organik. Penebar Swadaya. Jakarta

Simamora, S. 2008. Meningkatkan Kualitas Kompos. AgroMedia Pustaka. Jakarta Suryanto, H. 2012. 7 Manfaat Buah Pisang. http://kumpulan-terbaru.blogspot.com

/2012/02/07-manfaat-buah-pisang.html Diakses pada tanggal 4 Oktober 2012

(35)
(36)
(37)

Lampiran 2. Bahan Pembuat Pupuk Organik Cair

Gambar 3. Limbah Kulit Pisang untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair

Gambar 4. Bahan Campuran dalam Pembuatan Pupuk Organik Cair

(38)

Lampiran 3. Kegiatan Pembuatan Pupuk Organik Cair

Gambar 5. Proses Pemotongan dan Penimbangan Limbah Kulit Pisang

(39)

Gambar 7. Pencampuran Hasil Blenderan Limbah Kulit Pisang dengan 3 Perlakuan

Gambar 8. Penyaringan Pupuk Organik Cair dari Limbah Kulit Pisang

(40)

Lampiran 4. Pupuk Organik Cair dari Limbah Kulit Pisang

Gambar 9. Sampel Pupuk Organik Cair dari Limbah Kulit Pisang yang diuji di Laboratorium Tanah & Air

Gambar

Tabel 1. Kandungan Buah Pisang
Tabel 2. Standar Kualitas Pupuk Organik Cair Menurut Departemen Pertanian   No.  Parameter  Satuan  Kandungan pupuk organik cair
Tabel 2. Lanjutan  4.  Kadar total (N+  P 2 O 5  + K 2 O  %  Dicantumkan  5.  Mikroba patogen (E
Tabel 3. Nilai Rata-rata Sifat Fisik Pupuk Organik Cair
+7

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH BEBERAPA FUNGISIDA HAYATI DAN PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PENYAKIT SIGATOKA PADA TANAMAN PISANG.. MAS (Musa

Berdasarkan parameter pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan biomassa basah tanaman menunjukkan bahwa pupuk organik cair berbahan baku kulit pisang, kulit telur

Tanaman yang diberi pupuk organik cair kulit pisang kepok memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tinggi batang tanaman selada (Lactuca sativa) pada

LAPORAN AKHIR PEMANFAATAN LIMBAH AIR CUCIAN BERAS SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN PENAMBAHAN LIMBAH SAYUR-SAYURAN, KULIT BUAH-BUAHAN DAN BIOAKTIVATOR EM4 Disusun Sebagai Salah

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan disimpulkan bahwa aplikasi pupuk organik cair limbah kulit pisang dan Mucuna bracteata pada konsentrasi 20–80

Tujuan penelitan yaitu mengolah limbah cair dari industri tahu menjadi pupuk cair organik yang memiliki nilai tambah, menganalisis komposisi nutrisi dan senyawa aktif dalam pupuk cair

Penutup Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan SPSS oleh peneliti, peneliti menarik kesimpulan bahwa penggunaan kulit pisang kepok sebagai pupuk organik cair terhadap

Hal ini diduga kandungan N-total dan P-tersedia yang terkandung dalam pupuk organik cair dari limbah kulit pisang kepok pada perlakuan K2B2 serta dengan penambahan konsentrasi bubuk