A
B
C
4
METODOLOGI
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian terletak di Kawasan Konservasi Laut, tepatnya di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Penelitian dilaksanakan selama 13 (tiga belas) bulan dimulai dari persiapan sampai analisis data. Waktu pelaksanaan penelitian di mulai dari pembuatan bagian-bagian small bottom setnet 7 (tujuh) bulan, pemasangan sampai pengamatan di dasar perairan 3 (tiga) bulan, tabulasi hingga analisis data 3 (tiga) bulan, terhitung sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan Oktober 2008.
4.2 Bahan dan Alat Penelitian 4.2.1 Small bottom setnet
Bahan setnet yang digunakan adalah tipe small bottom setnet dengan konstruksi utama terdiri dari leadernet, wings, playground, bagnet, pemberat dan pelampung seperti terlihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Bahan penyusun small bottom setnet
Keterangan:
A = jaring B = pelampung C = desain
Spesifikasi dan gambar bagian-bagian small bottom setnet yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2, dan Gambar 5.
Tabel 2 Spesifikasi small bottom setnet
No Bagian Material Ukuran Jumlah
1 Leadernet (penaju) PE (mesh size 2 inci) 20 x 2,5 m2 2 set
2 Wings (sayap) PE (mesh size 2 inci) 2,5x 12 m2 2 set
3 Playground (badan
jaring)
PE (mesh size 1 ¼ inci) 3 x 3 x 2,5 m3 1 set
4 Bagnet (kantong) PA knotless (mesh size ½ inci) 3 x 1 x 1 m3 3 set
5 Pelampung kecil Sinthetic rubber ∅ 20 cm 200 buah
6 Pelampung besar Plastik ∅ 30 cm 10 buah
7 Pemberat Rantai timah 66 m 20 kg
Gambar 5 Bagian-bagian small bottom setnet
Keterangan: 1 = Tali ris 2 = Leadernet 3 = Pemberat 4 = Wings 5 = Bagnet 6 = Waring selubung 7 = Playground 8 = Pelampung besar 9 = Pelampung kecil Bagnet permanent Bagnet portable escaped 1 3 2 4 5 6 7 8 9
Secara lengkap ukuran dan desain masing-masing bagian dari small bottom
setnet yang digunakan dalam penelitian dapat diuraikan sebagai berikut : (1) Leadernet
Leadernet yang dikenal sebagai penaju diharapkan dapat berfungsi sebagai
penghadang dan pembimbing arah renang ikan yang sedang berenang atau beruaya menuju dan masuk ke badan trap dan kantong. Di dalam pekerjaan ini digunakan satu unit leadernet yang mempunyai bahan dan konstruksi sama dengan sayap. Leadernet yang digunakan mempunyai panjang 20 meter dan tinggi 2,5 meter.
(2) Wings
Small bottom setnet yang digunakan dalam penelitian ini memiliki wings
(sepasang sayap), yaitu sayap kiri dan sayap kanan. Bentuk sayap merupakan bidang empat persegi panjang. Masing-masing sayap mempunyai panjang 12 meter dengan lebar 2,5 meter. Badan sayap terbuat dari bahan jaring PE, ukuran mata jaring 2 inci. Sayap dilengkapi dengan rantai timah sebagai pemberat pada bagian kaki dan pelampung pada bagian atasnya. Penggunaan bahan PE yang mempunyai sifat lebih kaku ini dimaksudkan agar bagian kaki sayap tidak mudah tersangkut pada karang. Selain sebagai penguat kaki jaring juga berfungsi untuk menggantungkan pemberat.
Secara teknis pada saat di setting, kedua sayap ini merupakan perpanjangan dari badan trap. Bila dimisalkan sebagai sebuah bangunan segitiga, maka kedua sayap merupakan kaki-kaki segitiga.
(3) Playground
Playground dikenal sebagai ruang bermain ikan atau penampungan sementara
sebelum kelompok ikan masuk ke bagian bagnet. Bahan dan konstruksi
playground terdiri dari jaring, tali ris, pelampung dan pemberat serta tiang
penyangga. Playground yang dipakai dalam penelitian ini berdiameter 3 m x 3 m x 2,5 m3.
(4) Bagnet
Bagnet (kantong) merupakan bagian utama dari small bottom setnet. Kantong
terdiri dari satu tipe yaitu kotak yang dibentuk oleh rangka besi dengan dinding jaring.
Dimensi kantong yang berbentuk kotak adalah sebagai berikut : lebar 1 meter, tinggi 1 meter, dan panjang 3 meter. Seluruh sisi samping diberi dinding jaring dengan bahan jaring Polyamide (PA) yang mempunyai ukuran mata jaring ½ inci knotless (tanpa simpul). Pada bagian kantong ini dibuatkan sisi kantong yang dapat dibuka untuk memudahkan menyeleksi hasil tangkapan.
(5) Pemberat dan pelampung
Small bottom setnet di dalam pengoperasiannya diletakkan di dasar, untuk itu
diperlukan dan dilengkapi atau dibantu dengan pemberat. Pemberat yang digunakan berupa rantai timah dipasang di sepanjang tali ris bawah (ground
rope) pada leadernet, sayap dan playground. Total pemberat rantai timah
untuk sebuah small bottom setnet dapat mencapai seberat 20 kg. Kemudian, agar leadernet, sayap dan playground dapat terentang sempurna secara
vertical ke atas, maka pada tali ris atas (head rope) di sepanjang leadernet, sayap dan playground dipasang pelampung berukuran kecil dan besar.
Pelampung dengan ukuran besar terbuat dari plastik dengan diameter 30 cm sebanyak 10 buah dan pelampung kecil dari sinthetic rubber (4 x 3 cm) sebanyak 200 buah.
Penelitian small bottom setnet dilakukan secara experimental fishing yaitu mengoperasikan langsung small bottom setnet di kawasan konservasi laut. Untuk menjadi sebuah small bottom setnet maka bagian-bagian jaring terlebih dahulu dilakukan perakitan di darat dan kemudian dilanjutkan di dasar perairan. Pemilihan lokasi penempatan small bottom setnet dilakukan dengan menggunakan metode manta tow.
Perlakuan warna leadernet yang digunakan dalam penelitian tingkah laku ikan ini adalah warna hijau dan warna kuning. Proses pembuatan leadernet di darat dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Pembuatan leadernet di darat
Perakitan bagian-bagian jaring (leadernet, sayap, playground, kantong, pelampung kecil, pelampung besar, pemberat, tali ris dan waring selubung) menjadi small bottom setnet dilakukan di dasar perairan dengan menggunakan peralatan selam scuba seperti terlihat pada Gambar 7.
Gambar 7 Perakitan small bottom setnet di dasar perairan
Kedalaman dasar perairan tempat pemasangan small bottom setnet di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu berkisar 4-10 meter. Jarak antara small
Pemasangan small bottom setnet di dasar perairan disesuaikan dengan kondisi terumbu karang dalam hal ini leadernet harus diletakkan pada jarak yang dekat dengan terumbu karang. Bagian leadernet diletakkan pada daerah dangkal dengan kedalaman sekitar 4 meter. Sebaliknya bagian bagnet diletakkan pada daerah yang lebih dalam dan masih dijumpai gugusan terumbu karang walaupun ukurannya kecil atau berupa gundukan-gundukan kecil. Jadi small bottom setnet diletakkan di sekitar terumbu karang tetapi tidak di atas terumbu karang. Hal ini dimaksudkan agar small bottom setnet ini tidak merusak terumbu karang tetapi masih bisa menangkap ikan-ikan karang.
4.2.2 Sampel mata ikan
Sampel mata ikan karang yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari keterwakilan ikan dasar dan ikan permukaan. Selain itu sampel ini juga mewakili ikan yang hidup secara soliter dan ikan yang hidup secara berkelompok. Sampel pertama adalah ikan sersan mayor yang mewakili ikan permukaan dan ikan yang hidup secara berkelompok.
Dalam penelitian ini contoh mata ikan yang diambil adalah ikan sersan mayor dan ikan kerapu masing-masing 10 ekor. Ikan sersan mayor mewakili ikan yang hidup di lapisan air permukaan, sekaligus mewakili ikan yang selalu hidup berkelompok (school). Sedangkan ikan kerapu mewakili ikan yang hidup di dasar perairan, sekaligus mewakili ikan yang selalu hidup secara soliter.
4.2.3 Peralatan pengambilan data
Peralatan pengambilan data yang digunakan dalam penelitian small bottom
setnet di kawasan konservasi laut adalah mistar plastik, kaliper, mikrotom, mistar
fiber, gulungan pita pengukur panjang. seichi disc, dan beberapa alat pengukur kualitas air lainnya. Alat yang digunakan secara lengkap terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Peralatan pengambilan data selama penelitian small bottom setnet
No Nama Alat Kegunaan Satuan
1 mistar plastik mengukur panjang ikan karang centimeter 2 kaliper mengukur diameter lensa dan mata
ikan
milimeter
3 mikrotom memotong retina mata ikan secara mikroteknik
mikrometer
4 mistar fiber mengukur luasan belt transect centimeter 5 roll meter gulungan pita pengukur panjang centimeter 6 seicchi disc mengukur penyinaran matahari pada
small bottom setnet
meter
7 refraktometer mengukur salinitas pada lokasi pemasangan small bottom setnet
per seribu
8 current meter mengukur kecepatan arus di lokasi pemasangan small bottom setnet
meter/ menit
9 termometer mengukur suhu di loaksi pemasangan small bottom setnet
celcius
10 sediment trap mengukur sedimen di lokasi
pemasangan small bottom setnet
gram
4.2.4 Peralatan pendukung
Peralatan pendukung yang digunakan selama penelitian diantaranya adalah perahu motor, peralatan SCUBA diving (Selft Contained Underwater Breathing
Apparatus), alat tulis bawah air, camera under water dan video bawah air serta
buku identifikasi ikan karang.
Perahu motor yang digunakan selama pengoperasian alat tangkap small
bottom setnet adalah perahu motor milik nelayan dengan mesin tempel merk
Yamaha berkekuatan 15 PK. Perahu yang digunakan memiliki ukuran panjang 5 meter, lebar 1 meter dan tinggi 1 meter.
Peralatan SCUBA diving yang digunakan selama pengoperasian small
A B
compensator device, boot, wet suit, weight belt, computer dive dan beberapa alat
tambahan seperti kompas bawah air dan pisau selam. Peralatan selam scuba dan perahu motor yang digunakan selama penelitian small bottom setnet dapat dilihat pada Gambar 8 dan Tabel 4.
Gambar 8 Peralatan SCUBA diving dan perahu motor yang digunakan selama penelitian small bottom setnet di Kepulauan Seribu
Keterangan:
A = Peralatan Selam B = Perahu Motor
Tabel 4 Peralatan scuba diving yang digunakan dalam penilitian
No Nama Alat Kegunaan Jumlah
1 Masker Menghindari kontak mata dengan air
8 buah
2 Snorkel Menghubungkan udara dari
permukaan
8 buah
3 Fins Mempercepat berenang 8 pasang
4 Boot Melindungi kaki penyelam 6 pasang
5 Bouyancy
compensator device
Membantu daya apung 6 buah
6 Weight belt Membantu daya tenggelam 6 buah
7 Scuba tank Tempat penyimpanan udara 12 buah
8 Regulator Menyimbang antara tekanan tabung dan tekanan di sekitar penyelam
6 buah
4.3 Pengambilan Data Penelitian 4.3.1 Data tingkah laku ikan karang
Metode pengambilan data tingkah laku ikan karang dilakukan dengan menggunakan metode belt transect. Panjang belt transect adalah 20 meter yang mengikuti panjang leadernet sebagai garis utama. Lebar belt transect adalah 4 meter yang terdiri dari 2 meter disebelah kiri leadernet, dan 2 meter di sebelah kanan leadernet. Pengambilan data tingkah laku ikan hanya dilakukan pada areal yang berada dalam belt transect. Metode pengambilan data dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Pengambilan data tingkah laku ikan pada leadernet dengan metode
belt transect.
Pencatatan data tingkah laku ikan karang dilakukan dengan melihat respon ikan karang pada leadernet yang berbeda. Perbedaan leadernet dilakukan dalam bentuk perbedaan warna sebagai perlakuan yang akan diamati. Perlakuan yang dicobakan pertama pemasangan small bottom setnet dengan leadernet berwarna hijau seperti terlihat pada Gambar 10.
Keterangan:
A = panjang leadernet ( panjang belt transect) B = garis batas lebar belt transect (panjang 20 m)
B
Gambar 10 Leadernet warna hijau yang digunakan dalam penelitian
Warna hijau mewakili warna mirip dengan lingkungan perairan dan warna kuning mewakili warna kontras dengan warna lingkungan perairan. Respons ikan terhadap leadernet berwarna hijau kemudian dicatat, difoto dan direkam secara langsung di dalam air. Selanjutnya perlakuan kedua yang dicobakan adalah pemasangan small bottom setnet dengan leadernet berwarna kuning yang dapat dilihat pada Gambar 11. Seperti halnya pada leadernet berwarna hijau, respon ikan terhadap leadernet berwarna kuning juga dilakukan pencatatan, pemotretan, dan perekaman secara langsung di dalam air.
Keterangan:
A = pelampung kecil
B = simpul jaring leadernet warna hijau C = benang jaring leadernet warna hijau D = tali ris leadernet
D
C B A
Gambar 11 Leadernet warna kuning yang digunakan dalam penelitian
Pengamatan tingkah laku ikan pada small bottom setnet dilakukan dengan melihat jenis ikan yang lolos menembus leadernet, tergiring mengikuti arah
leadernet, dan kembali berbalik arah menjauhi leadernet. Uji coba ini dilakukan
secara bergantian untuk leadernet berwarna hijau dan leadernet berwarna kuning setiap hari selama 14 hari masing-masing leadernet. Total lama pemasangan
small bottom setnet di dasar perairan 28 hari. Data hasil pengamatan ditabulasikan
dan dianalis secara deskriptif terhadap tingkah laku ikan terutama responsnya terhadap perbedaan warna leadernet.
Keterangan:
A = pelampung kecil
B = benang jaring leadernet warna kuning C = tali ris leadernet
D = simpul jaring leadernet warna kuning
C D
B A
4.3.2 Data sampel mata ikan karang
Terdapat banyak metode yang dapat digunakan untuk menganalisis penglihatan ikan yaitu metode histologi, metode tingkah laku ikan, dan metode elektro fisiologi (elektro retinogram/ERG). Metode histologi digunakan untuk menentukan ketajaman penglihatan mata ikan, arah pandang ikan (sumbu penglihatan), jarak pandang maksimum, kemampuan membedakan warna dan adaptasi terang-gelap (Purbayanto et al. 2010).
Metode histologi merupakan metode yang umum digunakan dalam menganalisis ketajaman penglihatan ikan. Hal ini dikarenakan metode ini memiliki kemudahan, waktu analisis yang lebih singkat, hasilnya pasti, biaya yang lebih rendah, dan akurasi yang cukup tinggi (Purbayanto et al. 2010).
Pengambilan sampel retina mengacu pada optic cleft mata ikan sehingga memudahkan dalam penentuan bagian dorsal, ventral, nasal dan caudal dari spesimen mata tersebut. Spesimen retina selanjutnya dipotong dalam 25 bagian untuk keperluan pembuatan preparat histologi dapat dilihat pada Gambar 12.
Sampel mata ikan diambil dari ikan segar yang masih dalam keadaan hidup dan baru saja tertangkap oleh alat small bottom setnet. Ikan segar tersebut kemudian dipotong bagian kepala untuk diambil matanya (Gambar 13), dan disimpan ke dalam suatu wadah yang berisi larutan fiksatif (larutan Bouin's) sekurang-kurangnya selama 24 jam. Analisis retina mata ikan dilakukan di laboratorium dengan menggunakan prosedur histologi melalui pemotongan retina secara tangensial dengan ketebalan 4 pm sehingga dapat diamati di bawah mikroskop.
Gambar 12 Urutan pengambilan spesimen retina mata ikan
Contoh mata ikan segar yang siap diambil retinanya Gambar 13
Fiksasi preparat mata ikan kerapu dan ikan sersan mayor yang dilakukan di laboratorium FPIK IPB dapat dilihat pada Gambar 14
Gambar 14 Fiksasi preparat mata ikan kerapu dan ikan sersan mayor di laboratorium FPIK IPB
Keterangan:
A = sampelikan kerapu segar B = sampel ikan sersan mayor segar C = sampel preparat mata ikan D = meja pengamatan E = rak penyimpanan sampel
Prosedur fiksasi mata ikan sersan mayor dan mata ikan kerapu dapat dilihat pada Gambar 15.
E D
C B A
Gambar 15 Prosedur fiksasi untuk analisa histologi sampai pengamatan mata ikan DEHIDRATION
FIXATION
CLEARING
Sampel mata ikan Larutan Bouins (24 jam)
Ikan sampel
Alkohol 70% (2 jam) Alkohol 80% (2 jam) Alkohol 90% (2 jam)
Alkohol 95% (2 jam) Alkohol absolut I (12 jam) Alkohol absolut II (1 jam)
INFILTRATION Parafin II 70º (45 menit) Parafin I 70º (45 menit) EMBEDDING SECTIONING Xylol-Alkohol (30 menit) Xylol I (30 menit) Xylol II (30 menit)
Xylol III (30 menit)
Parafin III 70º (45 menit
Tunggu hingga parafin agak mengeras, lalu isi cetakan sampai penuh Masukkan jaringan dan ditata
Isi cetakan dengan parafin setengah penuh
Letakkan sayatan tersebut pada object glass
Sayat blok parafin dengan ketebalan 5µm hingga berbentuk pita Letakkan blok parafin di mikrotom
MULAI
AFIXATION STAINING
PENGAMATAN
Xylol I (3 menit)
Alkohol absolut I (3 menit)
Alkohol 95 % (3 menit)
Alkohol 80 % (3 menit)
Alkohol 70 % (3 menit)
Cuci dengan aquades ( 1 menit ) Hematoxylene (5 menit)
Cuci dengan air mengalir (3 menit) Eosin (3 menit ) Alkohol 70 % (2 menit) Alkohol 80 % (2 menit) Alkohol 90 % (2 menit) Alkohol 95 % (2 menit) Alkohol absolut I (2 menit) ) Alkohol absolut II (2 menit ) Xylol II (3 menit)
Alkohol absolut II ( 3 menit)
Xylol II (2 menit) Xylol I (2 menit) Alkohol 90 % (3 menit)
Alkohol 50 % (3 menit)
Alkohol 50 % (2 menit)
Rekatkan cover glass pada object glass dengan perekat Antellan
Jaringan siap diamati
Jaringan sel kon yang baik kemudian difoto Pengamatan dilakukan dengan perbesaran 400x
A
4.3.3 Data kerusakan terumbu karang
Pengambilan data kerusakan terumbu karang akibat pengoperasian small
bottom setnet di kawasan konservasi laut dilakukan dengan metode point intercept transect. Jarak antara point transect adalah 5 meter yang terletak di sekitar lokasi
pemasangan small bottom setnet. Jumlah point transect adalah 20 titik mengikuti ukuran small bottom setnet. Pengambilan data dilakukan secara langsung di dalam air dengan menggunakan peralatan scuba diving. Daerah pengamatan kerusakan terumbu karang lebih difokuskan pada lokasi pemasangan small bottom setnet pada radius 10 meter. Pengambilan data kerusakan terumbu karang dengan metode point intercept transect dan posisi pengambilan data di sekitar pemasangan small bottom setnet dapat dilihat pada Gambar 16 dan Gambar 17.
Gambar 16 Metode pengambilan data kerusakan terumbu karang di lokasi pemasangan small bottom setnet.
Keterangan:
A = alat tulis bawah air
B = pengambil data kerusakan karang C = point intercept transect
D = karang
∞
∞
B D C AKeterangan:
= Konstruksi small bottom setnet = Garis point intercept transect
= Titik pengambilan sampel kerusakan karang
Gambar 17 Sebaran posisi pengambilan data kerusakan terumbu karang di lokasi pemasangan small bottom setnet.
5 6 7 2 3 4 9 8 10 1 12 14 11 13 15 16 17 18 19 20 20 1 -
4.4 Analisis Data
Analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah : (1) Analisis deskriptif (komposisi) terkait jenis warna leadernet yang tepat dalam menggiring ikan karang, (2) Analisis visual axis terkait dengan sumbu penglihatan mata ikan karang (3) Analisis maximum sighting distance terkait dengan jarak pandang maksimum pada leadernet, dan (4) Analisis chi-square terkait dengan dampak operasi small bottom setnet terhadap karang di Kawasan Konservasi Laut.
4.4.1 Analisis komposisi
Analisis komposisi (deskriptif) ini digunakan untuk menjelaskan hasil ujicoba operasi small bottom setnet di Kawasan Konservasi Laut. Analisis ini diharapkan dapat menentukan jenis warna leadernet yang tepat dalam menggiring ikan karang.
Untuk mendukung hal tersebut, maka dalam analisis data hasil uji coba akan dideskripsikan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar hasil/dampak uji coba. Sedangkan untuk mengetahui jenis warna leadernet yang paling tepat dihubungkan dengan tingkah laku ikan, maka data tingkah laku ikan akan dirinci lebih detail yang terdiri dari jumlah dan perbandingan ikan yang lolos menembus
leadernet, jumlah dan perbandingan ikan yang tergiring mengikuti arah leadernet,
serta jumlah dan perbandingan ikan yang kembali berbalik arah menjauhi
leadernet (komposisi jumlah ekor ikan terhadap leadernet hijau dan kuning). Di
samping itu, juga akan dilakukan analisis sebaran jarak ikan terhadap leadernet hijau dan kuning, proporsi lama waktu ikan terhadap leadernet hijau dan kuning dan proporsi lama waktu ikan berada dalam playground terhadap leadernet hijau dan kuning.
Penentuan komposisi jumlah ekor ikan terhadap leadernet hijau dan kuning, sebaran jarak ikan terhadap leadernet hijau dan kuning, proporsi lama waktu ikan terhadap leadernet hijau dan kuning, serta proporsi lama waktu ikan berada dalam playground terhadap leadernet hijau dan kuning. Menggunakan perhitungan sebagai berikut :
N
ni
=
Proporsi (P)
Dimana :
P = Proporsi setiap spesies ikan ni = Jumlah jenis ke-i
N = Jumlah total seluruh spesies
4.4.2 Analisis visual axis
Sumbu penglihatan (visual axis) diidentifikasi untuk mengetahui kebiasaan ikan dalam melihat makanan atau objek yang lain (Blaxter, 1980 diacu oleh Geonita, 2004). Sumbu penglihatan diperoleh setelah nilai kepadatan cone cells tiap bagian dari retina mata diketahui yaitu dengan cara menarik garis lurus dari bagian retina yang memiliki nilai kepadatan cone cells tertinggi menuju titik pusat lensa mata (Tamura 1957).
Cone cells diamati bentuk dan tipenya berkaitan dengan pola
mosaik. Kepadatan cone cells per luasan 0,01 mm2 akan menentukan sumbu penglihatan, artinya daerah terpadat (bagian caudal, temporal, dorsal dan
ventral) merupakan titik point dalam penarikan arah sumbu penglihatan melalui
titik pusat lensa mata.
Sebelum menentukan sumbu penglihatan dicari densitas atau kepadatan cone cells. Preparat cone cells difoto dengan fototomicrograf dengan perbesaran 400 kali. Klise foto dicetak kemudian dihitung berapa kepadatan cone cells dalam per luasan 0,01 mm2. Cara perhitungan dilakukan dengan menempel hasil foto preparat (bagian caudal, temporal,
dorsal dan ventral) pada plastik transparan yang ukurannya seluas foto
ukuran 2R kemudian ditandai dengan menggunakan spidol sehingga perhitungan lebih cermat dan akurat. Penandaan dilakukan untuk cone cells, baik tunggal maupun ganda.
terpadat dari cone cells mata ikan. Densitas terpadat merupakan titik point ditariknya garis lurus menuju titik pusat lensa mata (Tamura 1957). Penarikan sumbu penglihatan dari bagian retina terlihat pada Gambar 18.
Gambar 18 Penarikan sumbu penglihatan pada retina mata ikan
4.4.3 Analisis maximum sighting distance
Jarak pandang maksimum atau maximum sighting distance adalah kemampuan ikan untuk melihat objek pada jarak terjauh berdasarkan nilai ketajaman penglihatan yang dimilikinya (Zhang dan Arimoto, 1993). Skema perhitungan jarak pandang maksimum dapat dilihat pada Gambar 19.
Untuk mengetahui kemampuan jarak pandang maksimum ikan, terlebih dahulu perlu diketahui nilai sudut pembeda terkecil minimum
separable angle dalam satuan menit. Dalam perhitungan diasumsikan bahwa
keadaan perairan adalah jernih (clear water) dan tingkat pencahayaan dalam keadaan terang (ideal light condition). Menurut Zhang et al. (1993) bahwa kemampuan jarak pandang maksimum ikan akan berbeda seiring dengan perbedaan ukuran panjang tubuhnya.
Perhitungan jarak
(1) Kondisi perairan cerah (clear water condition);
pandang maksimum ikan terhadap objek pada jaring dilakukan dengan asumsi sebagai berikut :
Dorsal (D)
Nasal (N) Caudal (C)
(2) Sudut pembeda terkecil (α ) yang digunakan adalah dalam satuan menit;
(3) Objek penglihatan dalam bentuk noktah dan dinyatakan dalam ukuran diameter objek (point aquity).
Gambar 19 Skema perhitungan jarak pandang maksimum
dimana :
D : jarak pandang maksimum (meter) ; d : diameter objek (mm) ;
α : Sudut pembeda terkecil (menit) ; dan
F : jarak titik fokus
Adapun jarak pandang maksimum (maximum sighting distance, D) dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
tan (0,5)α = D d ) 5 , 0 ( D = α ) 5 , 0 tan( d ) 5 , 0 ( d D α F Mata ikan
dimana :
D : diameter objek pandang (mm); dan α : sudut pembeda terkecil (menit)
4.4.4 Analisis chi-square
Analisis ini digunakan untuk menganalisis dampak operasi small bottom
setnet terhadap kerusakan karang. chi-square (χ2) digunakan untuk menguji signifikansi atau ada tidaknya hubungan/dampak antar variabel. Uji ini membandingkan antara data yang diperoleh setelah pemasangan small bottom
setnet (observasi) dengan data yang diperoleh sebelum pemasangan small bottom setnet (harapan). Apakah frekuensi hasil observasi menyimpang dari frekuensi
harapan. Jika nilai chi-square (χ2) kecil, berarti kedua frekuensi tersebut sangat dekat, mengarah pada penerimaan hipotesa nol (H0
(1) Karang hidup (karang tidak mengalami kematian). ).
Untuk mempertajam analisis, maka dampak pengoperasian small bottom
setnet terhadap kerusakan karang di kawasan konservasi laut yang dilakukan
dalam penelitian ini akan dianalisis dari beberapa parameter. Parameter pengukuran yang digunakan untuk maksud tersebut mencakup :
(2) Keutuhan karang (karang tidak mengalami patahan).
(3) Kehadiran ikan karang (jumlah spesies tidak mengalami penurunan). (4) Penyinaran matahari (penetrasi cahaya).
(5) Sirkulasi air laut (pola arus).
(6) Kejernihan perairan (berbanding terbalik dengan sedimentasi)
Adapun rumus pengujian chi-square (χ2
(
)
E E O∑∑
− = 2 2 χ ) adalah : Dimana : χ2= chi-square hasil hitungan (χ2 Hitung)
O = data yang diperoleh setelah pemasangan alat (observed) E = data yang diperoleh sebelum pemasangan alat (expected)
Dalam rangka mengetahui ada tidaknya dampak operasi small bottom setnet terhadap kerusakan karang, maka chi-square hasil hitungan (χ2 Hitung) harus dibandingkan Chi-Square Tabel (χ2
(1) Formulasi hipotesis
Tabel). Adapun formula pendukung untuk maksud tersebut adalah :
H0 = tidak ada dampak nyata operasi terhadap parameter
H1
(2) Taraf nyata (α) dan nilai χ
= ada dampak nyata operasi terhadap parameter
2
- nilai taraf nyata biasanya dipilih 0.05 atau 0.01 (α)(db)
- χ2
(3) Kriteria pengujian
(α)(db) = chi-square pada taraf nyata (α) dan db = (b-1)(k-1)
H0 diterima (H1 ditolak) apabila χ2 Hitung ≤ χ2 Tabel
H0 ditolak (H1 diterima) apabila χ2 Hitung > χ2
(4) Membuat kesimpulan dalam penerimaan dan penolakan H Tabel