• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DAN PESANTREN. Sudarsono STAI Denpasar Bali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DAN PESANTREN. Sudarsono STAI Denpasar Bali"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Sudarsono STAI Denpasar Bali

Email: [email protected]

Abstract

For educational institutions that hone the social and mental attitudes of students with a unique, character-driven model of coaching, with its simplicity, pesantren has been able to produce graduates who are ready to take part and withstand the challenges and temptations that hinder their struggles. uphold scientific and religious values. Management of organizing and implementing the curriculum with regard to all actions related to the detailing and distribution of all possible tasks to be carried out. In curriculum implementation management aims to ensure that the curriculum can be implemented properly. In this case, the management is tasked with providing material, personal facilities and conditions so that the curriculum can be implemented.

Keywords: role, curriculum management

Abstrak

Pesantren diproyeksikan menjadi role model lembaga pendidikan yang mengasah sikap sosial dan mental peserta didik dengan model pembinaan yang unik, dan berkarakter, dengan watak kesederhanaanya, pesantren telah mampu melahirkan sosok lulusan yang siap berkiprah dan tahan uji menghadapi tantangan dan godaan yang merintangi perjuangannya menegakkan nilai keilmuan dan keagamaan. Manajemen pengorganisasian dan pelaksanaan kurikulum berkenaan dengan semua tindakan yang berhubungan dengan perincian dan pembagian semua tugas yang memungkinkan terlaksana. Dalam manajemen pelaksanaan kurikulum bertujuan supaya kurikulum dapat terlaksana dengan baik. Dalam hal ini manajemen bertugas menyediakan fasilitas material, personal dan kondisi-kondisi supaya kurikulum dapat terlaksana.

(2)

Pendahuluan

Pendidikan merupakan elemen penting dari kehidupan seseorang dan merupakan aspek strategis bagi suatu negara. Sebagaimana bunyi UU Sisdikans, menyatakan bahwa, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Hal ini memberi sebuah pesan akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia dari berbagai aspek. Oleh karena itu, membahas pendidikan tidak sederhana dan mudah untuk dipecahkan. ini menunjukkan pendidikan itu merupakan hal serius, dalam pendidikian melibatkan semua aspek, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor dalam rangka mewujudkan seseorang menjadi manusia seutuhnya.

Melihat persoalan pendidikan yang komplek tersebut, sudah sekian banyak ahli yang mewakafkan dirinya untuk berbagi pemikiran terkait masalah pendidikan dalam rangka ikut berupaya menemukan solusi demi kemajuan pendidikan. Salah satu hal yang bisa memajukan pendidikan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar bisa bersaing dalam era persaingan yang semakin ketat ini. Peningkatan dan pengembangan SDM ialah meningkatkan partisipasi manusia melalui perluasan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, peluang kerja, dll. Salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah Kepala sekolah. Sebagaimana dijelaskan dalam Permendiknas No 13 Tahun 2007 ada beberapa tugas dan peran kepala sekolah/madrasah yaitu kompetensi keperibadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan kompetensi sosial.2

1 Undang-Undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003

(3)

Kepala sekolah yang sukses memahami bahwa penting sekali membangun tujuan-tujuan pembelajaran yang jelas dan membuat seluruh sekolah bahkan komunitas di sekitarnya berkomitmen terhadap tujuan yang dimaksud. Kepala sekolah dari sekolah-sekolah berprestasi tinggi selalu menekankan perkembangan visi dan tujuan pembelajaran yang jelas. 3 Mereka menetapkan ekspektasi tinggi, di

mana seluruh guru dan siswa mampu mencapai ekspektasi tersebut dan memiliki rasa tanggung jawab untuk kesuksesan sekolahnya. Kepala sekolah ini memberikan dukungan emosional kepada guru dan dipandang memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan interpersonal yang positif. Kepala sekolah ini melindungi dan mengamankan jam belajar dengan cara mengurangi kebisingan di sekolah (misalnya dengan membatasi penggunaan pengeras suara untuk pengumuman-pengumuman yang kurang penting) dan mengatur jadwal pembersihan dan pemeliharaan bangunan sekolah, agar tidak menggangu kegiatan belajar.4 Mereka juga selalu

memonitor kemajuan siswa dengan mengumpulkan dan memilah data-data kinerja siswa yang berhubungan langsung dengan visi misi dan tujuan sekolah.

Dalam berbagai kepemimpinan, Kepala sekolah berkolaborasi dengan guru untuk mengevaluasi isu-isu yang terkait dengan kurikulum. Sebagai bagian dari proses kolaborasi menunjukkan kepala sekolah yang bisa membangkitkan keterampilan guru dalam meningkatkan terhadap pembelajaran terbukti lebih mampu meraih kesuksesan. Kemudian kepala sekolah yang bisa melakukan hal tersebut mereka bisa lebih santai dan tidak kelelahan. Akhirnya Kepala sekolah bisa fokus ke pelanggan pendidikan yakni, peserta didik, orang tua, pemakai lulusan, guru, perusahaan, pemerintah dan masyarakat. Oleh karena latar belakang di atas, dalam penulisan

3 James H. Stronge, Qualities Of Effective Principals, (Alexandria: By The

Association For Supervisian and Curriculum Development,2008 ), hlm. 5

(4)

makalah ini yang akan menjadi fokus kajian adalah peran Kepala Sekolah dalam pengembangan kurikulum.

Pembahasan

Need Assesment Dalam Pengembangan Kurikulum

Ada banyak model analisis kebutuhan (Need Assesment) formal terhadap pengembangan kurikulum. Di antaranya sebagaimana pendekatan berikut; 5 Pertama, Mengidentifikasi target. Kedua,

Mengumpulkan dan menganalisis data. 1. Mengidentifikasi Target

Salah satu tujuan mengidentifikasi target dalam analisis kebutuhan (Need assesment) adalah untuk mengumpulkan informasi penting tentang lingkungan umum sekolah atau sekolah di mana program baru atau yang direvisi akan diajarkan. Program yang sukses menuntut lingkungan fisik yang sesuai. Mereka juga sering membutuhkan jenis khusus sumber belajar yang tersedia. Tujuan kedua mengidentifikasi target adalah memusatkan perhatian pada persepsi berbagai kelompok yang mungkin dipengaruhi oleh atau memiliki minat serius dalam perubahan kurikulum yang dimaksud. Anda akan menemukan reaksi individu dalam kelompok-kelompok ini berguna ketika Anda terlibat dalam pengembangan kurikulum, revisi, dan perubahan.

2. Mengumpulkan dan menganalisis data

Tujuan dari fase ini adalah untuk menetapkan batas yang wajar untuk aktivitas pengumpulan data. Batasan ini ditetapkan dalam dua cara: pertama, Mengidentifikasi kategori individu yang reaksi dan persepsinya akan dipelajari membatasi ruang lingkup proses analisis kebutuhan. Kedua, mengembangkan daftar pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing kelompok meminta pemikiran sebelumnya tentang jenis

5 David G. Armstrong, Curriculum Today, (New Jersey Columbus Ohio, Merrill

(5)

informasi apa yang akan berguna dan menjaga volume informasi yang diperoleh. Misalnya Anda dan anggota lain dari sebuah kelompok pengembang kurikulum dipanggil bersama untuk mempertimbangkan kemungkinan merevisi program seni bahasa sekolah menengah. Anda mungkin mulai dengan memikirkan (1) jenis dukungan lingkungan yang mungkin diperlukan; dan (2) kategori orang-orang yang memiliki minat terhadap perubahan pada bagian kurikulum sekolah ini. Anda dan grup Anda mungkin memutuskan untuk mencari data

Selain dua hal di atas ada juga salah satu pendekatan untuk memberikan ringkasan singkat dari data penilaian kebutuhan melibatkan penyusunan konteks yang luwes. Sebuah konteks menyoroti informasi penting yang harus dipertimbangkan ketika keputusan kurikulum alternatif didiskusikan dan diperdebatkan. Poin-poin penting dalam profil konteks berasal dari informasi yang lebih terperinci tentang bagan ringkasan penilaian kebutuhan.

Terkadang, konteks profil mengambil bentuk laporan tertulis singkat. Pada kesempatan lain, daftar pernyataan akan cukup. Berikut ini adalah beberapa contoh poin yang mungkin dimasukkan dalam profil konteks yang dirancang untuk membantu pekerja kurikulum yang melihat program seni bahasa sekolah menengah:

1. Setiap program baru perlu didukung oleh bahan ajar yang dirancang khusus untuk siswa dengan ketidakmampuan belajar.

2. Harus ada perhatian untuk menghubungkan titik awal dari setiap program baru dengan apa yang siswa pelajari di sekolah dasar.

3. Mengembangkan keterampilan menulis sangat memakan waktu; hati-hati dengan mengadopsi pedoman yang sangat meningkatkan waktu yang dihabiskan untuk mengajar menulis kecuali mengajar mendapatkan lebih banyak bantuan dalam mengoreksi makalah.

(6)

Namun terlepas dari hal di atas ada sesuatu yang harus dipastikan bahwa setiap program baru atau yang direvisi konsisten dengan peraturan pemerintah terkait kurikulum juga pedoman organisasi-organisasi seperti Asosiasi Bacaan Internasional dan Dewan Nasional Guru. Selain itu, kekhawatiran siswa terkait perubahan harus mempersiapkan siswa untuk melakukan dengan baik pada tes yang diamanatkan oleh negara semisal UN.

Kepala Sekolah Sebagai Manajer Pengembangan Kurikulum Dalam konsep kepala sekoloah sebagai manajer pengembangan kurikulum ialah gagasan di mana pembelajaran harus diprioritaskan, sementara semua yang lain berkisar pada peningkatan pembelajaran yang tidak dapat disangkal merupakan karakteristik dari usaha pendidikan mana pun. Dengan demikian untuk memiliki kredibilitas sebagai manajer pengembangan kurikulum, kepala sekolah harus juga guru yang mengajar (practicing

teacher). Contohnya, di Inggris, kebanyakan kepala sekolah

menghabiskan rata-rata 20% dari waktu mereka di dalam seminggu untuk mengajar. 6

Kepala Sekolah sebagai manajer pengembangan kurikulum perlu mengetahui apa yang berlangsung di ruangan kelas; menyaksikan langsung proses pembelajaran. Sering, para kepala sekolah tidak berkomunikasi dengan apa yang terjadi di tingkat ruangan kelas dan tidak sanggup mengantisipasi beberapa masalah yang guru dan siswa hadapi. Manfaatnya adalah untuk menyorot isu-isu pengajaran dari perspektif ketika mereka menjadi guru. Para kepala sekolah perlu bekerja lebih dekat dengan siswa, mengembangkan teknik dan metode pembelajaran sebagai alat untuk mengetahui perspektif guru dan untuk membangun dasar dalam pengembangan kurikulum yang akan dirumuskan. Juga, Kepala

6Weindling, D., “The Secondary School Head Teacher: New Principals in The

United Kingdom,” National Association of Secondary School Principals Bulletin 74(526), 1990, hal.40-45.

(7)

Sekolah yang mengajar memperkuat keyakinan bahwa "satu-satunya maksud sekolah ialah untuk melayani kebutuhan pendidikan siswa."7

Whitaker mengidentifikasikan empat keahlian penting kepemimpinan pengajaran.8 Pertama, mereka harus menjadi

penyedia sumber belajar (resource provider). Tidak cukup bagi kepala sekolah hanya mengetahui kekuatan dan kelemahan para guru mereka, tetapi juga harus menyediakan sumber belajar, mengakui bahwa guru menginginkan untuk diakui dan dihargai apa yang mereka telah kerjakan dengan baik. Kedua, mereka harus menjadi sumber pengajaran. Guru menganggap kepala sekolah mereka sebagai sumber informasi tentang gaya terkini dari proses KBM yang efektif. Kepala Sekolah sebagai Manajer pengembangan kurikulum harus memahami isu-isu yang berhubungan dengan kurikulum, strategi-strategi pedagogik dan evaluasi yang efektif. Ketiga, mereka harus menjadi komunikator yang baik (good

communicators).

Manajer pengembangan kurikulum yang efektif perlu mengkomunikasikan slogan-slogan penting seperti semboyan bahwa semua anak bisa belajar dan tidak ada yang tertinggal. Akhirnya, mereka perlu menciptakan a visible presence. Mengarahkan program sebuah sekolah berarti komitmen bagi menghidupkan dan menghembuskan visi sukses di dalam mengajar dan belajar. Ini termasuk memfokuskan tujuan pembelajaran (learning objectives).

Menyangkut pengajaran, kepala sekolah perlu mengetahui model-model pembelajaran yang berbeda, alasan teoretis

7 Harden. G., “The Principal as Leader Practitioner,” The Clearing House 62(2),

hal. 87-88.

8 Whitaker, B., “Instructional Leadership and Principal Visibility,” The

(8)

mengadopsi model pembelajaran tertentu, pedagogi internet, serta teori-teori pembelajaran yang didukung oleh teknologi. Sementara, terkait kurikulum, kepala sekolah perlu mengetahui konsepsi kurikulum yang terus berubah, falsafah dan norma-norma bidang pendidikan, fragmentasi dan spesialisasi pengetahuan, sumber kurikulum dan konflik menyangkut kurikulum, evaluasi kurikulum dan perbaikannya. Untuk masalah penilaian (assessment), kepala sekolah sebagai manajer pengembangan kurikulum perlu mengetahui prinsip-prinsip penilaian siswa, prosedur penilaian dengan penekanan pada metode-metode penilaian alternatif dan penilaian yang bertujuan untuk memperbaiki ketimbang membuktikan pembelajaran siswa. Menekankan tiga wilayah pengetahuan ini, pada dasarnya merupakan pemahaman yang mendalam menyangkut bagaimana manusia belajar.

Rasanya tidak berlebih-lebihan untuk disarankan bahwa seorang kepala sekolah tidak sepenuhnya siap jika ia tidak memiliki pengetahuan yang mendalam menyangkut bagaimana manusia belajar.9 Disamping berpengetahuan di bidang-bidang utama

pendidikan, kepala sekolah harus memiliki keterampilan tertentu untuk menjalankan tugas-tugas sebagai pengembang kurikulum. Keterampilan ini, adalah keterampilan antarpribadi (interpersonal

skills), keterampilan perencanaan (planning skills), keterampilan

observasi pengajaran (instructional observation skills), dan keterampilan-keterampilan di bidang penelitian dan evaluasi.

Kepala Sekolah Sebagai Leader Pengembangan Kurikulum

Dari beberapa informasi yang kita ketahui menyatakan bahwa, kepala sekolah akan menjalankan peran yang tidak sedikit dalam

9Phillip, J.A., Manager-Administrator to Instructional Leader: Shift in The Role of

The School Principal (online) diakses 23 April, 2018 dari: Peoplelearn.homestead.com/ principalInstructleader.

(9)

waktu sehari, sebagai manajer, pengatur, pemimpin pengajaran dan pemimpin kurikulum. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar jika kepala sekolah harus banyak menyiasati antara berbagai peran ini. Yang terkadang, lebih dominan perhatiannya terhadap tugas administratif dan manajerial. Sementara kepemimpinan pengajaran lebih banyak diwakilkan teerhadap orang lain yang sesuai dengan hiraki administratif organisasi sekolah.

Urusan utama sekolah seharusnya menyangkut belajar mengajar. Peran Kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran (instructional leader) muncul di awal 1980-an sebagai sebuah konsep yang relatif masih baru, yang merubah fokus Kepala sekolah, yang sebelumnya Kepala sekolah menjadi manajer kemudian dirubah sebagai pemimpin pengajaran atau pemimpin akademik, istilah yang lebih familiar adalah pemimpin instruksional. Perubahan fokus ini dipengaruhi oleh banyaknya penemuan dari para peneliti bahwa sekolah-sekolah efektif adalah sekolah yang kepala sekolahnya menerapkan urgenitas kepemimpinan pengajaran atau lebih familiar dengan istilah instructional leadership. 10 Selanjutnya, pertengahan

1990-an, “perhatian kepada instructional leadership sedikit goyah, diganti oleh pembahasan mengenai Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan kepemimpinan fasilitatif”. 11

Namun beberapa waktu terakhir, pola kepemimpinan kepala sekolah kembali difokuskan kepada standar akademik. di lain sisi para ahli pendidikan akan setuju bahwa kepemimpinan pengajaran sangat mendesak dalam mewujudkan sekolah yang efektif. Hanya saja, ini jarang dipraktekkan. Misalnya, kepala sekolah dalam melaksanakan banyak tugas, “hanya” 10 % waktu yang dialokasikan

10 Brookover, W. B., & Lezotte, L., Creating Effective Schools, Holmes Beach, FL:

LearningPublication, 1982.

11 Lashway, L. , “Developing Instructional Leaders,” ERIC Digest 160 (Juli),

(10)

untuk pelaksanaan instructional leadership. 12 Sampai hari ini, Kepala

sekolah terus mencari keseimbangan dalam peran mereka sebagai manajer dan pemimpin pengajaran. Menarik untuk diperhatikan, di antara alasan yang dikemukakan kenapa penekanan kurang diberikan pada kepemimpinan pengajaran adalah karena kurangnya pelatihan yang mendalam untuk peran kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran, tidak cukupnya waktu untuk menjalankan aktivitas pengajaran (instructional activities), meningkatnya kertas kerja dan harapan masyarakat bahwa peran kepala sekolah adalah sebagai manajer.13

Menjelaskann instructional leadership, instructional leadership beda dengan tugas kepala sekolah sebagai pengatur atau manajer dalam banyak hal. Kepala sekolah yang menampakkan sebagai manajer terkadang hanya sibuk dan terfokus terhadap persoalan administrasi yang ketat berbeda dengan kepala sekolah yang menampakkan diri menjadi pemimpin pengajaran atau instructional

leadership.

Peran yang kedua melibatkan penentuan tujuan-tujuan (goals) yang jelas, pengalokasian sumber daya untuk pengajaran (instruction), pengurusan kurikulum, mantau rencana pembelajaran (lesson plans), dan evaluasi para guru. Sederhanya, instructional

leadership ialah praktek-praktek yang dilakukan kepala sekolah atau

yang diwakili pihak lain, dalam rangka peningkatan pembelajaran. 14

Instructional leadership mendahulukan kualitas pengajaran menjadi

prioritas utama sekolah dan berupaya mewujudkan visi itu menjadi kenyataan. Menurut Hoy dan Hoy sekolah-sekolah secara primer dibangun untuk proses belajar mengajar, sementara kegiatan lainnya

12 Stronge, J. H., “A Position in Transition?” Principal 67(5), 1988, hal.32-33.

13 Fullan, M., The New Meaning of Educational Change, New York: Teachers

College Press,1991.

14 Flath, B., “The Principal as Instructional Leader,” ATA Magazines 69(3), 1989,

(11)

hanya sebagai penunjang (sekunder) untuk terlaksananya kegiatan belajar mengajar dengan baik. 15

Dengan demikian pengertian kepemimpinan pengajaran telah melebar terhadap persoalan yang mendalam terkai urusan utama atau primer dari sekolah, yakni belajar mengajar. Ada perubahan perhatian yang semula mengajar menjadi pembelajaran, dan banyak pihak berpendapat istilah “pemimpin pembelajaran” sebagai ganti dari "pemimpin pengajaran."

Pendekatan-Pendekatan Dalam Pengembangan Kurikulum

Pendekatan adalah cara kerja yang menggunakan metode dan strategi serta langkah-langkah pengembangan yang tepat dan sistematis untuk mendapatkan kurikulum yang baik. Beberapa pendekatan yang dilakukan pengembang kurikulum anatara lain.16

1. Pendekatan Bidang Studi (Pendekatan Subjek Atau Disiplin Ilmu)

Pendekatan ini mengguanakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisani kurikulum, misalnya sains, sejarah, geografi, IPA, IPS matematika dll. Pendekatan ini dimulai dengan mengidentifikasi secara teliti pokok-pokok bahasan yang akan didiskusikan, kemudian memperinci pokok-pokok bahasan itu menjadi bahan-bahan pelajaran yang harus dikuasai, dan terakhir mengidentifikasi serta mengurutkan pengalaman belajar dan keterampilan-keterampilan yang harus dilakukan oleh peserta didik. 2. Pendekatan Berorientasi Pada Tujuan

15 Hoy, A.W & Hoy, W. K, Instructional Leadership: A Research Based Guide to

Learning in Schools, Boston: Pearson, 2009.

16Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik(Yogyakarta: Ar-Ruzz

(12)

Pendekatan yang berorientasikan pada tujuan menempatkan rumusan-rumusan atau tujuan yang hendak dicapai dalam posisi sentral, sebab tujuan adalah pemberi arah dalam pelaksanaan belajar mengajar. Tujuan matematika misalnya, sama dengan konsep dasar dan disiplin ilmu matematika itu sendiri. Prioritas pendekatan ini adalah penalaran pengetahuan.

3. Pendekatan Dengan Pola Organisasi Bahan

Dalam Pendekatan ini bisa dilihat dengan pendekatan subject

matter curriculum, correlated curriculum, dan integrated curriculum, yang akan dijelaskan secara terinci sebagaimana

berikut;

a. Pendekatan Dengan Pola Subject Matter Curriculum

Pendekatan ini penekanannya pada berbagai mata pelajaran secara terpisah-pisah. Sebagai contohnya, mata pelajaran sejarah, ilmu bumi, biologi, berhitung, dan sebagainya. Berbagai mata pelajaran ini tidak berhubungan satu sama lain.

b. Pendekatan Dengan Pola Correlated Curriculum

Pendekatan ini menggunakanpola pengelompokan beberapa mata pelajaran (bahan) yang sering dan bias secara dekat berhubungan. Misalnya, bidang studi IPA, IPS, dan sebagainya.

c. Pendekatan Dengan Pola Integrated Curriculum

Pendekatan ini didasarkan pada keseluruhan hal yang mempunyai arti tertentu.Dalam hal ini, pendekatan tidak hanya melalui mata pelajaran yang terpisah-pisah, namun harus dijalin suatu keutuhan yang meniadakan batas tertentu dari masing-masing pelajaran.

4. Pendekatan Rekontruksionalisme

Pendekatan ini disebut juga rekontruksi social karena memfokuskan kurikulum pada masalah penting yang dihadapi oleh masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk,

(13)

malapetaka akibat tujuan teknologi yang salah kaprah, dan lain-lain. Contohnya, akhir-akhir ini, muncul kebijakan pemerintah untuk memutuskan kurikulum antikorupsi yang bertujuan mengajarkan peserta didik sedini mungkin tentang bahaya korupsi, kurikulum berbasis karakter yang bertujuan memperbaiki kerakter peserta didik, dan lain sebagainya. Dalam pendekatan rekontruksionalisme terdapat dua jenis pendekatan yang memiliki pandangan sangat berlawanan terhadap kurikulum, yaitu konservatif dan radikal. Pendekatan rekonstruksionalisme konservatif menganjurkan agar pendidikan ditujukan pada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak dihadapi oleh masyarakat. Sementara, pendekatan rekonstruksionalisme radikal menganjurkan agar pendidikan formal maupun nonformal mengabdikan diri demi tercapainya tatanan sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan serta kekayaan yang lebih adil dan merata. Kelompok yang mendukung pendekatan rekonstruksionalisme radikal ini menggunakan pendidikan untuk merombak tata sosial dan lembaga sosial yang ada, serta membangun struktur sosial baru.

5. Pendekatan Humanistik

Berdasarkan pendekatan humanistik, kurikulum berpusat pada peserta didik (student centered) serta mengutamakan perkembangan efektif peserta didik sebagai prasarat dan bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humanistik yakin bahwa kesejahteraan mental dan emosional peserta didik harus dipandang secara sentral dalam kurikulum, sehingga proses belajar itu memberikan hasil maksimal. Prioritasnya adalah pengalaman belajar yang diarahkan pada tanggapan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik. 6. Pendekatan Akuntabilitas (Accountability)

(14)

Suatu sistem yang akuntabel menentukan standart dan tujuan spesifik yang jelas serta mengatur efektivitasnya berdasarkan taraf keberhasilan peserta didik untuk mencapai standar tersebut. Gerakan ini mulai dirasakan di perguruan tinggi, yakni ketika sebuah universitas di Amerika serikat dituntut untuk memperhatikan dan membuktikan keberhasilannya dan berstandar tinggi. Untuk bias memenuhi tuntutan itu, para pengembang kurikulum terpaksa mengkhususkan tujuan pelajaran agar dapat mengukur prestasi belajar. Dalam banyak hal, gerakan ini menuju pada ujian akademis yang ketat sebagai syarat memasuki universitas.

Kesimpulan

Kepala Sekolah dalam mengembang tugas harus bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Sebagaimana dijelaskan dalam makalah ini, selain sebagain pemimpin bagi kelangsungan hidup lembaga yang dipimpinnya. Kepala Sekolah juga mempunyai peran dalam pengembangan kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum kepala sekolah mempunya peran sebagai pengatur need

assesment atau analisis kebutuhan terkait kurikulum yang akan

dikembangkan, supaya tepat sasaran sebagaimana keinginan dari pengguna sekolah (siswa, guru dan masyarakat). Selain itu juga, dalam pengembangan kurikulum Kepala Sekolah berperan sebagai manajer dan leader.

Selain itu dalam makalah ini dijelaskan beberapa pendekatan dalam pengembangan kurikulum antara lain; Pendekatan Bidang Studi (Pendekatan Subjek Atau Disiplin Ilmu), Pendekatan Berorientasi Pada Tujuan, Pendekatan Dengan Pola Organisasi Bahan, Pendekatan Rekontruksionalisme, Pendekatan Humanistik, Pendekatan Akuntabilitas (Accountability).

(15)

Daftara Pustaka

Abdullah idi, pengembangan kurikulum teori dan praktik(yogyakarta: ar-ruzz media,2007).

Brookover, w. B., & lezotte, l., creating effective schools, holmes beach, fl: learningpublication, 1982.

David G. Armstrong, Curriculum Today, (New Jersey Columbus Ohio, Merrill Prentice Hall, 2003)

Flath, b., “the principal as instructional leader,” ata magazines 69(3), 1989.

Fullan, m., the new meaning of educational change, new york: teachers college press,1991

Harden. G., “the principal as leader practitioner,” the clearing house 62(2)

Hoy, a.w & hoy, w. K, instructional leadership: a research based guide to learning in schools, boston: pearson, 2009

James h. Stronge, qualities of effective principals, (alexandria: by the association for supervisian and curriculum development,2008 )

Lashway, l. , “developing instructional leaders,” eric digest 160 (juli), clearinghouse on

Phillip, j.a., manager-administrator to instructional leader: shift in the role of the school principal (online) diakses 23 april, 2018 dari: peoplelearn.homestead.com/ principalinstructleader.

Permendiknas No 13 Tahun 2007 (Tentang Standar Kepala Sekola/Madrasah)

Stronge, j. H., “a position in transition?” Principal 67(5), 1988 Undang-undang sisdiknas no 20 tahun 2003

Weindling, d., “the secondary school head teacher: new principals in the united kingdom,” national association of secondary school principals bulletin 74(526), 1990

Whitaker, b., “instructional leadership and principal visibility,” the clearinghouse 70(3), 1997.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengamatan tanaman tomat yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga, umur berbuah, umur panen, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, diameter buah, berat

Akan tetapi, pelaksanaan Binusmaya untuk jurusan yang baru didirikan 5 tahun ini, telah menimbulkan suatu pertanyaan, yaitu apakah e-learning Universitas Bina Nusantara

Dan berdasarkan jenis spesies penyebab malaria, terdapat hubungan yang bermakna antara derajat keparahan malaria akibat malaria falciparum (p = 0,001) dan malaria campuran (p =

panjang dan bobot tubuh benih lele sangkuriang pada kedua media budidaya (aplikasi probiotik dan tanpa probiotik) tinggi, hal itu memberikan gambaran bahwa benih

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual pada paduan suara SD Muhammadiyah Kleco 2 Yogyakarta kelas percobaan A dan B pada berbagai macam lagu

Responden 2 : “Saya mengajarkan sopan santun kepada anak saya dengan cara apabila saya pergi dan lewat depan orang, saya selalu permisi agar anak saya bisa mencontoh,

Kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk tujuan kualitatif dan preparatif, KLT kualitatif digunakan untuk menganalisis senyawa-senyawa organik dalam jumlah kecil (misal

Berdasarkan hasil analisis statistic deskriptif atas hasil jawaban responden mengenai pembangunan kawasan taman kota oleh Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Tangerang,