• Tidak ada hasil yang ditemukan

METABAHASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METABAHASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

METABAHASA

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

METABAHASA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Journal homepage: http://journal.stkipyasika.ac.id/index.php/metabahasa

Journal Email: [email protected]

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI DITINJAU DARI

STANDAR TINGKAT PENCAPAIAN PERKEMBANGAN ANAK

AIP SARIPUDIN

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon E mail: [email protected]

ABSTRAK

Perkembangan bahasa pada anak usia dini sangat penting dan perlu diperhatikan. Anak usia dini ditinjau dari perkembangan bahasa, berada pada suatu tahapan, yaitu fase pengembangan tata bahasa. Pada fase ini anak sudah mempunyai keterampilan dalam berbicara yang berkembang pesat karena pembendaharaan kata yang sudah melekat. Anak-anak pada usia taman kanak-kanak mengalami perkembangan bahasa secara cepat. Perkembangan bahasa yang cepat ini dianggap sebagai hasil perkembangan simbolis. Dengan demikian pada masa ini anak-anak perlu mendapatkan pendidikan secara optimal, karena pada masa kanak-kanak perlu mendapatkan pendidikan bahasa yang sesuai agar perkembangan bahasa dapat berkembang secara optimal, karena pada masa ini anak telah mengetahui sejumlah nama dan simbolnya.

Kata Kunci: Perkembangan Bahasa, Anak Usia Dini

PENDAHULUAN

Berdasarkan tinjauan secara psikologi dan ilmu pendidikan, masa usia dini merupakan masa peletakan dasar atau fondasi awal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan perkembangan struktur otak. Usia dini (0-6 tahun) merupakan masa perkembangan dan pertumbuhan yang sangat menentukan bagi anak di masa depannya atau disebut juga masa keemasan (the golden age)

Article Received: 01 April 2019, Review process: 06 April 2018, Accepted: 05 Mei 2019, Article published: 30 Juni 2019

(2)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

sekaligus periode yang sangat kritis yang menentukan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Suyadi & Ulfah, 2015).

Perkembangan bahasa pada anak usia dini sangat penting dan perlu diperhatikan. Anak usia dini ditinjau dari perkembangan bahasa, berada pada suatu tahapan, yaitu fase pengembangan tata bahasa. Pada fase ini anak sudah mempunyai keterampilan dalam berbicara yang berkembang pesat karena pembendaharaan kata yang sudah melekat.

Hal ini dikuatkan oleh pendapat Miller (Wahyudin & Agustin, 2011), bahwa “awal masa kanak-kanak umumnya merupakan saat berkembang pesatnya penguasaan tugas-tugas pokok dalam belajar berbicara, yaitu suatu urutan kata-kata yang menambah kosakata, menguasai pengucapan kata-kata dan menggabungkan kata menjadi kalimat yang dimengerti oleh orang lain”.

Salah satu potensi yang harus dikembangkan pada anak usia dini yaitu pengembangan bahasa. Dari bahasa seorang anak itu dapat mencerminkan pikirannya. Semakin terampilnya anak berbahasa semakin jelas pula jalan pikirannya, akan tetapi keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Pengembangan bahasa diarahkan agar anak mampu menggunakan dan mengekspresikan pemikirannya dengan menggunakan kata. Pengembangan bahasa diarahkan agar anak mampu menggunakan kata-kata.

Anak-anak pada usia taman kanak-kanak mengalami perkembangan bahasa secara cepat. Perkembangan bahasa yang cepat ini dianggap sebagai hasil perkembangan simbolis. Dengan demikian pada masa ini anak-anak perlu mendapatkan pendidikan secara optimal, karena pada masa kanak-kanak perlu mendapatkan pendidikan bahasa yang sesuai agar perkembangan bahasa dapat berkembang secara optimal, karena pada masa ini anak telah mengetahui sejumlah nama dan simbolnya. Sebagai komponen manusiawi yang menentukan dalam proses belajar mengajar, kompetensi guru sangat menentukan pilihan metode dan media yang tepat dalam pembelajaran (Sukardi, 2013). Pembelajaran merupakan suatu usaha sadar guru/pengajar untuk membantu siswa atau anak didiknya, agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya (Kustandi & Sucipto, 2011).

(3)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka KONSEP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

Perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami individual menuju tingkat kedewasaan yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Menurut Nursalam perkembangan anak bertambahnya kemampuan dan struktur atau fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan, dan diramalkan sebagai hasil proses diperensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistemnya yang terogranisasi.

Ada beberapa alasan orang tua maupun guru PAUD harus mempelajari perkembangan anak usia dini. berikut ini alasan-alasan seperti yang diutarakan oleh Janet Black, pertama pengetahuan tentang tumbuh-kembang anak usia dini dapat memberikan pengertian dan pemahaman diri sendiri (self-under standing). Kedua, pengetahuan tentang tumbuh kembang bagi orang tua, para guru dan para professional dapat membantu anak untuk memberi layanan edukasi secara optimal. Ketiga, adanya upaya para ahli mempelajari tumbuh kembang anak usia dini untuk belajar terus menerus (is an on going process).

Pengertian perkembangan diatas dapat dijelaskan beberapa aspek perkembangan anak usia dini, yaitu sebagai berikut:

Tahapan Perkembangan Bahasa

Menurut Vygosky, ada 3 (tiga) tahap perkembangan bahasa anak yang menentukan tingkat perkembangan berfikir, yaitu tahap eksternal, egosentris, dan internal yaitu Pertama, tahap Eksternal yaitu tahap berfikir dengan sumber berfikir anak berasal dari luar dirinya. Sumber eksternal tersebut terutama berasal dari orang dewasa yang memberi pengarahan kepada anakdengan cara tertentu.

Kedua, tahap egosentris yaitu suatu tahap ketika pembicaraan orang dewasa tidak

lagi menjadi persyaratan. Dengan suara khas, anak berbicara seperti jalan pikirannya. Ketiga, tahap internal yaitu suatu tahap ketika anak dapat menghayati proses berfikir. Maka dari itu kemampuan berbahasa merupakan hasil kombinasi seluruh sistem perkembangan anak, karena kemampuan bahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem yang lain.

Kemampuan berbahasa melibatkan kemampuan motorik, psikologis, emosional dan sosial. Seperti kemampuan motorik, kemampuan bayi untuk

(4)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

berbahasa terjadi secara bertahap, sesuai dengan tahapan perkembangan berfikirnya dan juga perkembangan usianya.

Menurut Syamsu Yusuf (2007: 119) perkembangan bahasa berkaitan erat dengan perkembangan berfikir anak. Perkembangan fikiran dimulai pada usia 1,6 – 2,0 tahun, yaitu pada saat anak dapat menyusun kalimat dua atau tiga kata. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam berbahasa anak untuk menuntaskan tugas pokok perkembangan bahasa. Adapun tugas tersebut adalah:

1) Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain; 2) Pengembangan perbendaharaan kata;

3) Penyusunan kata-kata menjadi kalimat; dan

4) Ucapan. Kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi terhadap suara-suara yang didengar anak dari orang lain.

Tugas Perkembangan Bahasa

Dari tugas perkembangan bahasa di atas dapat dijabarkan perkembangan bahasa anak usia dini, yaitu sebagai berikut:

1) Memahami bahasa

Mengerti beberapa perintah secara bersamaan, mengulang kalimat yang lebih kompleks, memahami aturan dalam suatu permainan, senang dan menghargai bacaan.

2) Mengungkapkan bahasa

Menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung, menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kalimat-predikat-keterangan), memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekspresikan ide pada orang lain, melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan, menunjukkan pemahaman konsep-konsep dalam buku cerita.

3) Keaksaraan

Menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal, mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada di sekitarnya, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama, memahami

(5)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

hubungan antara bunyi dan bentuk huruf, membaca nama sendiri, menuliskan nama sendiri, memahami arti kata dalam cerita.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Din, aspek perkembangan bahasa yaitu sebagai berikut:

1) Memahami bahasa

Memahami bahasa usia 1-5 tahun, yaitu menyimak perkataan orang lain (bahasa ibu dan bahasa lainnya), mengerti dua perintah yang diberikan bersama, memahami cerita yang dibacakan, mengenal perbendaharaan kata sifat (nakal, pelit, baik hati, berani, baik, dan sebagainya), dan mendengar, membedakan bunyi-bunyi dalam bahasa Indonesia (contoh, bunyi dan ucapan harus sama).

Memahami bahasa usia 5-6 tahun, yaitu mengerti beberapa perintah secara bersamaan, mengulang kalimat yang lebih kompleks, memahami aturan dalam suatu permainan dan senang, menghargai bacaan.

2) Mengungkapkan bahasa

Mengungkapkan bahasa usia 1-5 tahun, yaitu mengulang kalimat sederhana, bertanya dengan kalimat yang benar, menjawab pertanyaan sesuai pertanyaan, mengungkapkan perasaan dengan kata sifat, menyebutkan kata-kata yang dikenal, mengutarakan pendapat kepada orang lain, menyatakan alasan terhadap sesuatu yang diinginkan, menceritakan kembali cerita atau dongeng yang pernah didengar, memperkaya perbendaharaan kata dan berpartisipasi dalam percakapan.

Mengungkapkan bahasa usia 5-6 tahun, yaitu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata,menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kalimat-predikat-keteranan), memiliki lebih banyak kata untuk mengekspresikan ide pada orang lain, melanjutkan sebagian cerita yang telah diperdengarkan dan menunjukkan pemahaman konsep dalam buku cerita.

(6)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

3) Keaksaraan

Keaksaraan usia 1-5 tahun adalah mengenal simbol-simbol, mengenal suara-suara hewan atau benda yang ada disekitarnya, membuat coretan yang bermakna, dan meniru (menuliskan dan mengucakan huruf A-Z).

Keaksaraan usia 5-6 tahun adalah menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal, menenal suara huruf yang dikenal dari nama benda-benda yang ada disekitarnya, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi atau huruf awal yang sama, memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf, membaca nama sendiri, menuliskan nama sendiri dan memahami arti kata dalam cerita.

Begitupun dalam bukunya Wiyani (2016), perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut:

Usia Kemampuan bahasa

0-3 bulan Menangis, berteriak, bergumam.

3-6 bulan Mendengarkan ucapan orang lain, mengoceh, tertawa atau tersenyum kepada orang yang mengajak berkomunikasi. 6-9 bulan Menirukan ucapan, merespons permainan ciluk ba, dan

menunjukkan benda dengan mengucapkan satu kata.

9-12 bulan Mengucapkan dua kata untuk menyatukan keinginan, menyatakan penolakkan, dan menyebut nama benda atau binatang.

12-18 bulan

Mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua kata, merespons pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, menunjukkan bagian tubuh yang ditanyakan dan memahami cerita pendek. 18-24

bulan

Menggunakan kata-kata sederhana untuk emnyatakan keingintahuan, menaruh perhatian pada gambar-gambar dalam buku, menjawab pertanyaan dengan kalimat pendek, dan meyanyikan lagu sederhana.

2-3 tahun Hafal beberapa lagu sederhana, memahami cerita atau dongeng sederhana, dan menggunakan kata tanya dengan tepat (apa, siapa, bagaimana, mengapa dan di mana).

(7)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

sederhana, menceritakan pengalaman yang dialami dengan cerita sederhana, membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri, dan memahami perintah yang mengandung 2 pengertian (misalnya, ambil buku lalu berikan pada ibu).

4-5 tahun Mengutarakan sesuatu hal kepada orang lain, menyatakan alasan terhadap sesuatu yang diinginkan atau ketidaksetujuan, mengenal perbendaharaan kata mengenai kata sifat dan menceritakan kembali cerita yang pernah di dengar.

5-6 tahun Menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap, terlibat dalam pemilihan dan memutuskan aktivitas yang akan dilakukan bersama teman, dan perbendaharaan kata lebih kaya dan lengkap untuk melakukan komunikasi verbal.

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin, dkk. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Daroah. (2013). Meningkatkan Kemampuan Bahasa Melalui Metode Bercerita

dengan Media Audio Visual di Kelompok B1 RA Perwanida 02 Slawi.

Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ernawulan Syaodih. “Perkembangan Anak Usia Dini”. Draf buku ajar PAUD.

Fadillah, Muhammad. (2014). Desain Pembelajaran PAUD. Jakarta: Ar-ruzz Media. Halimah, Leli. (2016). Pengembangan Kurikulum Anak Usia Dini. Bandung: PT

Refika Aditama.

Hardini, Adelia. (2016). Implementasi Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Hasnida. (2014). Analisis Kebutuhan Anak Usia Dini. PT Luxima Metro Media.

Hidayat, Otib Satibi. (2008). Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama. Jakarta: Universitas Terbuka.

Ibda, Fatimah. (2015). “Perkembangan Kognitif: Teori Jean Piaget”, Jurnal

(8)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Isnawati. Rery Mei. (2013). Pembelajaran Seni Tari di TK Aisyiyah 1 Ajibarang. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan. Yogyakarta: Rumah Ensiklopedia Yogyakarta.

Mansur. (2014). Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mardiantina, Andini. (2014). Hubungan Pendidikan Anak Usia Dini Dengan Tugas

Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah. Surakarta: STIKES Kusuma Husada.

Meriyati. 2016. “Membangun Karakter Anak Sejak Usia Dini”, Jurnal Studi Gender

dan Anak, Vol 1, No 1, Agustus.

Mulyasa. (2012). Manajemen PAUD. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Rustiana, Desi Eka. (2015). Strategi Karakter Pembentukan Anak Usia Dini TK

Al-Hikmah Limbang Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga”. Purwokerto:

IAIN Purwokerto,

Siti Aisyah, dkk. (2010). Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak

Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.

Syah, Muhibbin. (2007). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo.

Suyadi dan Maulidya Ulfah. (2013). Konsep Dasar PAUD. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Trianto. (2013). Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini. Jakarta : KENCANA.

Uno, Hamzah B. (2008). Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.

Wiyani, Novan Ardy. (2016). Konsep Dasar PAUD. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.

Referensi

Dokumen terkait

terjadi perubahan bunyi pada suku kata kedua yakni bunyi getar apikoalveolar /r/ menjadi bunyi sampingan apikoalveolar /l/ serta terjadi penghilangan bunyi geseran bersuara

Lingkup perkembangan bahasa yang kedua merupakan bagian dari kemampuan bahasa ekspresif anak mencakup: (1) Menjawab pertanyaan yang lebih kompleks; (2) Menyebutkan

Adapun teori yang dijadikan landasan dalam menganalisis membahas makna, kajian nilai kearifan lokal, dan fungsi carita pantun Nyai Pohaci yang ada pada masyarakat di

Bertitik tolak pada pandangan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dalam mencari bahan ajar membaca novel yang dapat menarik siswa, yaitu

Setelah melakukan penelitian dan melakukan pengolahan data hasil penelitian, maka dapat ditarik beberapa simpulan (1) bentuk pelanggaran prinsip kerja sama yang

Percakapan antara Ayah dan Wati mengandung implikatur yang bermakna “perintah memijat kaki”. Jika dilihat dari percakapan di atas, tidak ada bentuk kalimat

Terdapat hubungan yang signifikan antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan budaya Organisasi secara bersama-sama dengan Motivasi Kerja Guru di Sekolah Menengah Atas

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penyimpangan bunyi fonetik dalam bidang fonologi, khususnya penyimpangan bunyi- bunyi bahasa yang dialami