Bab 2. Landasan Teori. Teori yang akan dipergunakan dalam skripsi ini untuk mendukung analisis

Teks penuh

(1)

Bab 2 Landasan Teori

Teori yang akan dipergunakan dalam skripsi ini untuk mendukung analisis bab 3 saya adalah teori pengkajian fiksi yaitu teori tokoh / penokohan, teori ketergantungan, teori kecemasan Sigmund freud, teori depresi dan teori bunuh diri. Penjelasan mengenai semua teori di atas akan saya jelaskan sebagai berikut :

2.1 Teori Pengkajian fiksi

Burhan Nurgiyantoro (2002:3) dalam teori pengkajian fiksi, mengatakan bahwa fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Fiksi menawarkan ”model-model” kehidupan sebagaimana diidealkan oleh pengarang sekaligus menunjukkan sosoknya sebagai karya seni yang berunsur estetik dominan. Oleh karena itu, bagaimanapun, fiksi merupakan sebuah cerita, dan karenanya terkandung juga didalamnya tujuan memberikan hiburan kepada pembaca di samping adanya tujuan estetik.

Membaca sebuah karya fiksi berarti menikmati cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Betapapun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan, sebuah karya fisik haruslah tetap merupakan cerita yang menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren, dan tetap mempunyai tujuan estetik (Wellek & Warren,1956:212).

Wellek & Warren (1989:278-9) mengemukakan bahwa realitas dalam karya fiksi merupakan ilusi kenyataan dan kesan menyakinkan yang ditampilkan, namun tidak

(2)

dipergunakan untuk memikat pembaca agar mau memasuki situasi yang tidak mungkin atau luar biasa, adalah dengan cara patuh pada detil-detil kenyataan kehidupan sehari-hari.

2.1.1 Teori Tokoh / Penokohan

Di dalam sebuah fiksi (Karya naratif), tokoh dan penokohan merupakan salah satu unsur yang terpenting. Meskipun unsur dan plot juga tidak bisa kita abaikan begitu saja karena kejelasan tentang tokoh dan penokohan dalam banyak hal bergantung pada plot dalam cerita.

Istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan / karakter dan karakteristik secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang sama. Istilah-istilah tersebut sebenarnya tak menyaran pada tokoh cerita, dan pada “ teknik ” pengembangannya dalam sebuah cerita.

Nurgiyantoro (2002:165) dalam buku Teori Pengkajian fiksi, mengatakan bahwa : Istilah “ tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita dan istilah tokoh cerita. Watak, perwatakan, karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Abrams dalam Nurgiyantoro mengatakan juga berpendapat bahwa tokoh cerita merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam bentuk tindakan.

Untuk kasus kepribadian seorang tokoh, pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku (non verbal).

(3)

Tokoh-tokoh dalam cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Jenis-jenis penamaan tokoh adalah sebagai berikut:

A. Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan

Tokoh yang disebut utama adalah tokoh utama cerita yang tergolong penting sehingga mendominasi sebagian besar cerita sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali.

B. Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis

Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya secara populer disebut hero, tokoh yang ideal dengan apa yang kita sukai sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang merupakan penyebab terjadinya konflik dalam sebuah novel.

C. Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat

Tokoh sederhana adalah dalam bentuknya yang asli hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat-watak yang tertentu saja. Sedangkan tokoh bulat adalah tokoh yang kompleks, memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Tokoh bulat lebih menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya karena disamping memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan (Abrams,1981:20-1).

D. Tokoh Statis dan Tokoh Berkembang

Tokoh statis adalah tokoh yang secara esensial tidak mengalami perubahan. Tokoh jenis ini tampak kurang terlibat dan tak berpengaruh terhadap perubahan lingkungan yang terjadi antara hubungan antar manusia. Tokoh berkembang adalah

(4)

tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan watak sejalan dengan perkembangan peristiwa yang dikisahkan.

2.2 Teori Kecemasan Menurut Sigmund Freud

Kecemasan menurut Freud dalam Semiun (2006) adalah suatu keadaan perasaan afektif yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. Keadaan yang tidak menyenangkan itu sering kabur dan sulit menunjuk dengan tepat, tetapi kecemasan itu sendiri selalu dirasakan. Kecemasan berfungsi mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan. Kecemasan yang tidak dapat ditanggulangi dengan tindakan yang efektif disebut traumatik. Ia menjadikan individu dalam keadaan tak berdaya. Dalam model neurologis awalnya tentang “Project for Scientific Pschylogy”, Freud dalam Semiun (2006), mengemukakan gagasan bahwa kecemasan disebabkan oleh perasaan tidak berdaya yang luar biasa .

2.2.1 Kecemasan Neurotik

Kecemasan neurotik adalah ketakutan terhadap suatu bahaya yang tidak diketahui. Orang mungkin mengalami kecemasan neurotik terhadap kehadiran seorang guru, majikan, atau terhadap suatu figur kekuasaan lain karena ia sebelumnya mengalami perasaan tidak sadar akan destruktivitas terhadap salah satu atau kedua orangtuanya. Selama masa kanak-kanak, perasaan bermusuhan ini sering diiringi oleh ketakutan akan hukuman, dan ketakutan ini berkembang menjadi kecemasan neurotik yang tidak disadari. Freud dalam Hall dan Lindzey (1993), mengemukakan kecemasan

(5)

merupakan rasa takut jangan-jangan insting-insting akan akan lepas dari kendali dan menyebabkan sang pribadi berbuat sesuatu yang bisa membuatnya dihukum. Kecemasan neurotik mempunyai dasar dalam kenyataan, sebab dunia sebagaimana diwakili oleh orangtua dan autoritas lain.

2.2.2 Kecemasan Realistik

Kecemasan realistik dikenal sebagai kecemasan objektif, hampir serupa dengan ketakutan. Kecemasan realistik ini dapat didefinisikan sebagai perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak spesifik terhadap suatu bahaya yang mungkin terjadi. Misalnya, kita mungkin mengalami kecemasan pada waktu mengemudi mobil di lalu lintas yang sangat ramai pada sebuah kota yang belum kita kenal, suatu situasi yang penuh bahaya yang real dan objektif. Freud dalam Hall dan Lindzey (1993), menambahkan bahwa kecemasan realistik merupakan kecemasan realitas atau rasa takut akan bahaya-bahaya nyata di dunia luar.

2.3 Teori Ketergantungan Menurut James Morrison

Menurut James Morrison (1996), ketergantungan disebabkan oleh adanya kedekatan hubungan antara satu orang dengan yang lain. Karena kedekatan tersebut telah menciptakan sebuah keterikatan secara tidak sadar. Orang yang mengalami penyakit ketergantungan ini pada umumnya membutuhkan lebih banyak perhatian dan selalu mempunyai rasa takut akan perpisahan juga ditinggalkan. Mereka begitu berharap pada orang lain yang telah membantu mereka selama ini. Kedekatan dapat tercipta dari kedekatan hubungan yang di dasari oleh cinta kasih. Ciri-ciri orang yang mengalami ketergantungan adalah

(6)

1. Membutuhan penentraman hati dan nasihat yang berlebihan untuk mengambil keputusan sehari-hari.

2. Memerlukan pihak lain untuk memperhatikan dan bertanggung jawab atas diri kita sendiri.

3. Rasa takut meningkat pada saat kehilangan seseorang yang sangat kita harapkan 4. Mempunyai kepercayaan diri yang sangat rendah serta motivasinya untuk menjalani hidup kurang baik.

5. Jika kehilangan orang yang diandalkan maka kita akan mencari orang lain untuk dijadikan tumpuan hidup kita.

6. Menyerah dengan keadaan diri sendiri dan diserahkan kepada orang lain untuk mengurus hidup kita.

Seseorang yang mengalami ketergantungan pada awalnya karena kita merasa deat dengan orang itu. Perasaan dekat tersebut membuat kita terbiasa dengan orang yang kita andalkan. Lalu jika orang yang kita andalkan hilang karena meninggal atau berpisah dengan kita maka kita akan merasa tidak tenang dan ketakutan.

2.4 Teori Cinta Kasih Menurut Robert Sternberg

Sternberg (2007), mengemukakan bahwa cinta kasih adalah emosi yang paling diinginkan oleh setiap manusia.

Menurutnya cinta bisa dipahami melalui tiga komponen, yang terlihat membentuk segitiga, yaitu intimacy (keintiman), passion (hasrat) dan commitment/ decision (komitmen/ keputusan). Intimacy merujuk pada perasaan kedekatan, keterhubungan dan keterikatan dalam suatu hubungan. Sternberg mengidentifikasi 10 tanda keintiman dalam suatu hubungan : (1) keinginan untuk mensejahterakan orang yang dicintai, (2) merasakan kebahagiaan bersama orang yang dicintai, (3) menghargai

(7)

orang yang dicintai, (4) dapat mengandalkan orang yang dicintai saat sedang membutuhkan, (5) mampu saling memahami, (6) berbagi diri serta kepemilikan dengan orang yang dicintai, (7) menerima dukungan emosional dari orang yang dicintai, (8) memberikan dukungan emosional pada orang yang dicintai, (9) mengalami komunikasi yang hangat dengan orang yang dicintai, dan (10) menilai pentingnya orang yang dicintai dalam kehidupan.

Passion adalah dorongan yang berujung pada percintaan, ketertarikan fisik, hubungan seksual, dan rasa suka dalam suatu hubungan cinta. Kebutuhan seksual adalah bagian utama komponen ini, namun dalam banyak hubungan, kebutuhan akan harga diri, tergabung dengan orang lain serta aktualisasi diri, juga turut berperan di dalamnya.

Komponen ketiga, yaitu commitment/decision terdiri dari dua aspek; jangka pendek dan jangka panjang. Aspek jangka pendek yaitu keputusan seseorang mencintai seorang lainnya. Sedang aspek jangka panjangnya adalah komitmen untuk membina atau menjaga cinta tersebut. Dua aspek ini tak selalu muncul bersamaan, kadang keputusan untuk mencinta seseorang tak diikuti munculnya komitmen terhadap cinta tersebut. Kadang, seseorang berkomitmen terhadap cinta dari orang lain, tapi tanpa mencintai orang tersebut. Namun biasanya, keputusan untuk mencintai selalu muncul sebelum adanya komitmen.

2.5 Teori Depresi Menurut Philip L. Rice

Menurut Rice (1992), Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang dialami berkorelasi dengan kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpa seseorang, misalnya kematian

(8)

Depresi adalah masalah yang bisa dialami oleh siapapun di dunia ini. Menurut sebuah penelitian di Amerika, 1 dari 20 orang di Amerika setiap tahun mengalami depresi, dan paling tidak 1 dari 5 orang pernah mengalami depresi sepanjang sejarah kehidupan mereka. Di Indonesia, banyak kasus depresi terjadi sebagai akibat dari krisis yang melanda beberapa tahun belakangan ini. Masalah PHK, sulitnya mencari pekerjaan, sulitnya mempertahankan pekerjaan dan krisis keuangan adalah masalah yang sekarang ini sangat umum menjadi pendorong timbulnya depresi di kalangan profesional.

Menurut seorang ilmuwan terkemuka Rice (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

2.5.1 Penyebab Depresi

Menurut Rice (1992:22), Penyebab depresi bisa dilihat dari faktor biologis (seperti misalnya karena sakit, pengaruh hormonal, depresi pasca-melahirkan, penurunan berat yang drastis) dan faktor psikososial (misalnya konflik individual atau interpersonal, masalah eksistensi, masalah kepribadian, masalah keluarga) . Ada pendapat yang menyatakan bahwa masalah keturunan punya pengaruh terhadap kecenderungan munculnya depresi.

2.5.2 Gejala Depresi

Menurut Rice (1992:23), Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat

(9)

kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan. Sebelum kita menjelajah lebih lanjut untuk mengenali gejala depresi, ada baiknya jika kita mengenal apakah artinya gejala. Gejala adalah sekumpulan peristiwa, perilaku atau perasaan yang sering (namun tidak selalu) muncul pada waktu yang bersamaan. Gejala depresi adalah kumpulan dari perilaku dan perasaan yang secara spesifik dapat dikelompokkan sebagai depresi. Namun yang perlu diingat, setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar, yang memungkinkan suatu peristiwa atau perilaku dihadapi secara berbeda dan memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Gejala-gejala depresi ini bisa kita lihat dari tiga segi, yaitu Gejala-gejala dilihat dari segi fisik, psikis dan sosial. Secara lebih jelasnya, kita lihat uraian di bawah ini.

2.5.2.1 Gejala Fisik Depresi

Menurut Rice (1992:25), gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi. Gejala itu seperti :

A. Sulit tidur, (terlalu banyak atau terlalu sedikit)

B. Pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukkan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton TV, makan, tidur

C. Penyebabnya jelas, orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal, atau pekerjaan. Sehingga, mereka

(10)

misalnya ngemil, melamun, merokok terus menerus, sering menelpon yang tak perlu. Yang jelas, orang yang terkena depresi akan terlihat dari metode kerjanya yang menjadi kurang terstruktur, sistematika kerjanya jadi kacau atau kerjanya jadi lamban.

D. Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya, dia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatannya seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktivitas membuatnya semakin kehilangan energi karena energi yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Mereka mudah sekali lelah, capai padahal belum melakukan aktivitas yang berarti.

E. Jelas saja, depresi itu sendiri adalah perasaan negatif. Jika seseorang menyimpan perasaan negatif maka jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan serta ia harus memikulnya di mana saja dan kapan saja, suka maupun tidak suka.

2.5.2.2 Gejala Psikis Depresi

Gejala Psikis depresi Menurut Rice (1992:27), seperti berikut ini :

A. Kehilangan rasa percaya diri. Penyebabnya, orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Pasti mereka senang sekali membandingkan antara dirinya dengan orang lain. Orang lain dinilai lebih sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan, dan pikiran negatif lainnya.

(11)

B. Sensitif. Orang yang mengalami depresi senang sekali mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Perasaannya sensitif sekali, sehingga sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka, bahkan disalahartikan. Akibatnya, mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan maksud orang lain (yang sebenarnya tidak ada apa-apa), mudah sedih, murung, dan lebih suka menyendiri.

C. Merasa diri tidak berguna. Perasaan tidak berguna ini muncul karena mereka merasa menjadi orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang seharusnya mereka kuasai. Misalnya, seorang manajer mengalami depresi karena ia dimutasikan ke bagian lain. Dalam persepsinya, pemutasian itu disebabkan ketidakmampuannya dalam bekerja dan pimpinan menilai dirinya tidak cukup memberikan kontribusi sesuai dengan yang diharapkan.

D. Perasaan bersalah. Perasaan bersalah terkadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi. Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi tersebut.

E. Perasaan terbebani. Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani tanggung jawab yang berat.

(12)

2.5.2.3 Gejala Sosial Depresi

Menurut Rice (1992:29), Jangan heran jika masalah depresi yang berawal dari

diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan (atau aktivitas rutin lainnya). Bagaimana tidak, lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya negatif (mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitif, mudah letih, mudah sakit). Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah interaksi dengan rekan kerja, atasan atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada di antara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.

2.6 Teori Bunuh Diri

Menurut Encyclopedia of Sociology (1992), dalam bahasa Inggris istilah bunuh diri disebut juga Suicide, tetapi sebenarnya kata ini berasal dari bahasa latin, yaitu sui yang artinya diri sendiri dan cide yang berarti membunuh. Bunuh diri adalah tindakan mencabut nyawa sendiri dengan menggunakan segala macam cara. Kegagalan atau kekecewaan biasanya membangkitkan dorongan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Tindakan bunuh diri dapat dilakukan dengan beberapa cara atau pola. Bunuh diri dengan pola keras atau kasar dilakukan dengan cara menggantung diri, memotong urat nadi dan sebagainya. Bunuh diri dengan pola halus dilakukan dengan cara meminum racun, mengkonsumsi obat-obatan tertentu dengan dosis berlebihan dan sebagainya. Menurut Naka dalam skripsi Adhana (2007), pada umumnya pelaku bunuh diri karena dilanda keputusasaan dan depresi karena cobaan

(13)

hidup dan tekanan lingkungan. Sedangkan di kalangan wanita, secara umum, bunuh diri disebabkan oleh perentangan dan ketegangan yang terjadi dalam hubungan antar manusia, seperti kekecewaan dan depresi karena cinta, masalah rumah tangga dan masalah perkawinan.

Menurut Iga dalam Adhana (2007), menyatakan bahwa :

Suicide is eminently an individual matter. Based on one’s own definition of the situation that is one’s attempt to find the best available means for attaining a certain goal under certain apparently unchangeable condition. When one sees no other way out. Suicide may take place. The conversion of motivation to action is determined by such individual traits as self-restraint. Perception of social resource and views of life, death, and suicide.

Bunuh diri benar-benar merupakan masalah seorang individu, yang di dasari pada pengertian masing-masing individu terhadap suatu situasi dimana seorang individu mencoba menemukan arti yang terbaik untuk mencapai suatu tujuan tertentu dibawah kondisi tertentu yang jelas-jelas tidak dapat diubah. Saat seorang individu tidak melihat adanya suatu jalan keluar, bunuh diri mungkin saja terjadi. Perubahan dari sebuah motivasi menjadi suatu perbuatan ditentukan oleh perilaku seorang individu seperti penguasaan diri, pandangan terhadap sumber-sumber sosial dan pandangan tentang hidup, kematian dan bunuh diri.

Bunuh diri yang telah dipelajarinya dari sudut pandang psikologi secara umum terbagi atas lima hal, yaitu :

A. Sifat kepribadian

Berupa kecintaan pada diri sendiri, rasa ketergantungan dan pembalasan dendam secara nyata atau memikirkan tentang penyerahan diri.

B. Keadaan emosi

Berupa kemarahan dan depresi C. Dorongan jiwa

Berupa keinginan untuk membunuh, keinginan untuk dibunuh atau keinginan untuk mati dan keinginan untuk lahir kembali.

(14)

Berupa sesuatu yang berakhir dengan kekacauan

E. Mekanisme penyesuaian diri yang tidak efektif dan pola yang tidak dapat berubah-ubah.

Bunuh diri merupakan salah satu masalah sosial yang timbul akibat tingkah laku menyimpang. Perasaan yang tidak aman dan ketegangan yang umumnya dirasakan oleh kaum muda dianggap sebagai masalah sosial apabila dia menimbulkan tingkah laku menyimpang atau anti sosial. Pada umumnya bunuh diri dianggap fenomena khas Jepang. Disebut khas karena bunuh diri ini dilakukan untuk menghapus rasa bersalah, rasa malu atas segala sesuatu yang dianggap buruk atau dipandang buruk oleh masyarakan Jepang. Bunuh diri paling banyak dilakukan dengan cara menabrakkan diri pada kereta api, menggantung diri dan mengiris pergelangan tangannya sendiri. Didukung oleh Lebra dalam Adhana (2007) mengemukakan bahwa melalui bunuh diri ini, korban mencoba berkomunikasi dan memberi pesan terhadap orang yang nantinya akan menemukan mereka. Pesannya dapat berupa agar mereka tidak melakukan perbuatan kejam lagi terhadap dirinya dan paling banyk pesannya agar orang yang menemukannya dapat memaafkan dirinya atas kesalahan yang sudah diperbuatnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...