BAB II
MEMBACA PERMULAAN PADA SISWA LOW VISION DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGINYA
Pada bab ini disajikan beberapa teori yang akan dipergunakan sebagai landasan bagi pembahasan hasil temuan di lapangan. Teori-teori tersebut akan dipergunakan untuk menganalisis dan menarik hubungan dengan temuan-temuan penelitian. Teori-teori yang terkait pada penelitian ini mencakup:
A.Membaca
1. Hakikat Kemampuan Membaca
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun W.J.S. Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2007:742), kemampuan diartikan sebagai kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan. Sedangkan menurut Nurkhasanah dan Tumianto dalam Mulyadi (2009), kemampuan diartikan kesanggupan, kecakapan atau kekuatan. Dari dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan untuk menguasai sesuatu yang sedang dihadapi. Kemampuan dalam pembelajaran membaca merupakan suatu hal yang harus dimiliki sebagai dasar untuk menguasai keterampilan membaca.
Deny (Tarigan, 1979:10) berpendapat bahwa, “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media
kata-kata atau bahasa tulis”. Sedangkan Rouf (Syafi’i, 1999:7) menyatakan bahwa, “Membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, sedangkan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa membaca merupakan suatu kegiatan pengenalan dan pengidentifikasian bahasa tulis yang melibatkan kemampuan visual dan proses berfikir.
2. Membaca Permulaan
Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan di sini menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat. Menurut Arifin (Kusnawanto, 2010), “Membaca permulaan merupakan kegiatan awal untuk mengenal simbol-simbol fonetis”.
Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut. Sedangkan sumber Depdikbud (TECHONLY13’S BLOG, 2009) menyatakan bahwa, “Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat”.
3. Metode Pengajaran Membaca Permulaan
Menurut Abdurrahman (1999) ada dua kelompok metode pengajaran membaca, yaitu metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya dan metode pengajaran membaca khusus bagi anak yang mengalami kesulitan belajar.
a. Metode Pengajaran Membaca bagi Anak pada Umumnya
Berbagai metode yang umum digunakan oleh guru pada sekolah reguler adalah metode berikut ini:
1) Metode Membaca Dasar
Menurut Learner dalam Abdurrahman (1999:215), “Metode membaca dasar umumnya menggunakan pendekatan elektik yang menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan, perbendaharaan kata, mengenal kata, pemahaman dan kesenangan membaca”.
Metode ini biasanya menggunakan satu paket buku dan sarana penunjang lainnya yang disusun dari taraf mudah ke taraf yang lebih sukar sesuai tingkatan kemampuan atau tingkat kelas anak, dan berkesinambungan dari kelas satu hingga ke kelas enam. Metoda ini sangat fleksibel karena tidak harus mengikuti prosedur tertentu. Metode pengajarannya yaitu memperkenalkan bunyi huruf atau membaca lebih awal. Isi bacaan disesuaikan dengan kondisi dari suatu etnik atau kondisi lingkungan tempat tinggal anak.
Metode ini sepertinya menjadi suatu pendekatan yang juga digunakan di Indonesia.
2) Metode Fonik
Prosedur pada metode fonik yaitu mengenalkan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf. Setelah mengenal bunyi huruf, kemudian huruf-huruf tersebut disintetiskan menjadi suku kata dan kata. Salah satu cara dalam memperkenalkan bunyi berbagai huruf biasanya mengaitkan huruf-huruf tersebut dengan huruf depan berbagai nama benda yang sudah dikenal anak, seperti huruf a dengan gambar ayam, huruf b dengan gambar buku, dan sebagainya.
3) Metode Linguistik
Metode linguistik didasarkan atas pandangan bahwa membaca pada dasarnya merupakan suatu proses pemecahan kode atau sandi yang berbentuk tulisan menjadi bentuk yang sesuai dengan percakapan. Pandangan ini berasumsi bahwa pada saat anak masuk kelas satu sekolah dasar, mereka telah menguasai bahasa ujaran. Dengan demikian, membaca adalah memecahkan sandi hubungan bunyi-tulisan. Metode ini menyajikan kepada anak suatu bentuk kata-kata yang terdiri dari vokal atau konsonan-vokal-konsonan seperti “bapak”, “lampu”, dan sebagainya. Berdasarkan kata-kata tersebut anak diajak memecahkan kode
tulisan tersebut menjadi bunyi percakapan. Dengan demikian, metode ini lebih analitik daripada sintetik.
4) Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)
Metode ini merupakan perpaduan antara metode fonik dengan metode linguistik, namun ada perbedaan antara kode tulisan yang dianalisis dalam metode linguistik dengan metode SAS. Dalam metode linguistik kode tulisan yang dianalisis berbentuk kata sedangkan dalam metode SAS yang dianalisis adalah kode tulisan yang berbentuk kalimat pendek yang utuh.
Metode SAS didasarkan atas asumsi bahwa pengamatan anak mulai dari keseluruhan (Gestalt) dan kemudian kebagian-bagian. Oleh karena itu, anak diajak memecahkan kode tulisan kalimat pendek yang dianggap sebagai unit bahasa utuh, selanjutnya diajak menganalisis menjadi kata, suku kata, dan huruf; kemudian mensintetiskan kembali dari huruf ke suku kata, kata, dan akhirnya kembali menjadi kalimat. Metode ini secara luas digunakan di Indonesia.
Ada berbagai keluhan dari para guru dan orang tua yang menganggap metode ini menyebabkan anak menghafal bacaan tanpa mengenal huruf. Kesulitan ini diduga disebabkan karena anak kurang mampu melakukan analisis dan sintesis, yang dialami oleh anak berkesulitan belajar.
5) Metode Alfabetik
Metode ini menggunakan dua langkah, yaitu mem-perkenalkan kepada anak-anak berbagai huruf alfabetik dan kemudian merangkaikan huruf-huruf tersebut menjadi suku kata, kata, dan kalimat. Metode ini bila digunakan dalam bahasa Indonesia tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan kalau digunakan dalam bahasa Inggris karena hampir semua huruf mewakili bunyi yang sama.
Metode ini sering menimbulkan kesulitan bagi anak berkesulitan belajar. Anak sering bingung mengapa tulisan “bapak” tidak dibaca “beapeaka’.
6) Metode Pengalaman Bahasa
Metode ini terintegrasi dengan perkembangan anak dalam keterampilan mendengarkan, bercakap-cakap, dan menulis. Bahan bacaan didasarkan atas pengalaman anak. Metode ini didasarkan atas pandangan:
(a) Apa yang dapat saya pikirkan, dapat saya katakan. (b) Apa yang dapat saya katakan, dapat saya tulis. (c) Apa yang dapat saya tulis, dapat saya baca.
(d) Saya dapat membaca yang ditulis orang lain untuk saya baca. Berdasarkan pengalaman anak, guru mengembangkan keterampilan anak untuk membaca.
7) Metode Pengajaran Membaca bagi Anak Berkesulitan Belajar Metode pengajaran membaca yang digunakan bagi anak berkesulitan belajar antara lain:
1) Metoda Fernald
Metode ini dikenal pula sebagai metode VAKT (visual, auditory, kinesthetic, and tactile) yaitu pengajaran membaca dengan multisensoris. Materi bacaan dipilih dari kata-kata yang diucapkan oleh anak, tiap kata diajarkan secara utuh. Metode ini memiliki empat tahapan. Tahap pertama, guru menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayon. Kemudian anak menelusuri tulisan tersebut dengan jarinya (tactile and khonesthetic). Pada saat menelusuri tulisan tersebut, anak melihat tulisan (visual), dan mengucapkannya dengan keras (auditory). Proses semacam ini diulang-ulang sampai anak dapat menulis kata tersebut dengan benar tanpa melihat contoh. Pada tahapan kedua, anak tidak terlalu lama diminta menelusuri tulisan-tulisan dengan jari, tetapi mempelajari tulisan guru dengan melihat guru menulis, sambil mengucapkannya. Pada tahapan ketiga, anak-anak mempelajari kata-kata baru dengan melihat pada tulisan yang ditulis di papan tulis atau tulisan cetak, dan mengucapkan kata tersebut sebelum menulis. Pada tahapan ini anak mulai membaca tulisan dari buku. Pada tahapan keempat, anak mampu mengingat kata-kata yang dicetak atau bagian-bagian dari kata yang telah dipelajari.
2) Metoda Gillingham
Metode ini merupakan pendekatan taraf tinggi yang memerlukan lima jam pelajaran selama lima jam pelajaran selama dua tahun. Aktivitas pertama diarahkan pada belajar berbagai bunyi huruf dan perpaduan huruf-huruf tersebut. Anak menggunakan teknik menjiplak untuk mempelajari berbagai huruf. Bunyi-bunyi tunggal huruf selanjutnya dikombinasikan ke dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan kemudian program fonik diselesaikan.
3) Metode Analisis Glass
Metode ini memberikan pengajaran melalui pemecahan sandi kelompok huruf dalam kata. Ada dua asumsi yang mendasari metode ini. Pertama, proses pemecahan sandi (decoding) dan membaca merupakan kegiatan yang berbeda; kedua, pemecahan sandi mendahului proses membaca. Melalui metode ini, anak dibimbing untuk mengenal kelompok– kelompok huruf sambil melihat kata secara keseluruhan.
B.Low Vision
1. Pengertian Low Vision
Orang yang mengalami kecacatan mata pada umumnya dikatakan sebagai tunanetra. Istilah tunanetra mencakup kebutaan (blindness) serta berbagai tingkatan kurang awas (low vision). Ketunanetraan dibagi ke dalam
dua kelompok utama yaitu kebutaan (blindness) dan kurang awas (low vision). Dalam beberapa publikasi, low vision dapat disebut “visual impairment”, atau “partial sight”. Tunanetra menurut definisi Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia (2004) adalah, ”Mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan normal meskipun dibantu dengan kacamata (kurang awas)”. Sedangkan Tarsidi (2011) menyatakan bahwa:
“Orang tunanetra yang masih mempunyai sedikit sisa penglihatan sehingga mereka masih dapat menggunakan sisa penglihatannya itu untuk melakukan berbagai kegiatan sehari-hari termasuk untuk membaca tulisan berukuran besar (lebih besar dari 12 point) setelah dibantu dengan kacamata. Orang tunanetra yang masih memiliki sisa penglihatan yang fungsional seperti ini disebut sebagai orang “kurang awas” atau lebih dikenal dengan sebutan “low vision”.
Sedangkan World Health Organization (WHO) mendefinisikan sebagai berikut:
“A person with low vision is one who has impairment of visual functioning even after treatment and/or standard refractive correction, and has a visual acuity of less than 6/18 (20/60) to light perception or a visual field of less than 10 degree from the point of fixation, but who uses or is potentially able to use, vision for the planning and/or execution of a task (Tarsidi, 2002:04)”.
Pernyataan di atas dapat diartikan bahwa seseorang dapat dikatakan low vision adalah mereka yang telah dikoreksi secara optimal dengan kacamata atau dengan lensa kontak, ketajaman penglihatan mereka 6/18 (20/60) atau lantang pandang mereka tidak lebih dari 10 derajat, dapat
menggunakan atau berpotensi untuk menggunakan sisa penglihatannya dalam merencanakan dan melaksanakan tugas sehari-hari.
Ada sejenis konsensus internasional dalam menggunakan dua jenis definisi yang berhubungan dengan kehilangan penglihatan, yaitu definisi legal (definisi berdasarkan pada peraturan perundang-undangan) dan definisi edukasional (definisi untuk tujuan pendidikan) atau definisi fungsional yaitu yang difokuskan pada seberapa banyak sisa penglihatan seseorang dapat bermanfaat untuk keberfungsian sehari-hari (Tarsidi, 2011). a. Definisi Legal
Pada definisi legal menggunakan dua aspek ukuran yaitu ketajaman penglihatan (visual acuity) dan medan pandang (visual field). Definisi ini digunakan oleh medis untuk kepentingan tertentu yang berhubungan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku agar seseorang memperoleh akses terhadap hak-hak tertentu seperti keringanan biaya transportasi, tunjangan-tunjangan tertentu, dan sebagainya.
b. Definisi Edukasional
Pada definisi edukasional seseorang dinyatakan tunanetra apabila dalam proses pembelajarannya memerlukan alat bantu khusus dan metode atau teknik-teknik tertentu tanpa mempergunakan penglihatan. Pada definisi ini terbagi dua kelompok yaitu buta atau tunanetra berat (blind) dan tunanetra ringan (low vision). Tunanetra berat adalah seseorang yang tidak memiliki penglihatan sama sekali atau hanya
memiliki persepsi cahaya sehingga dalam kegiatan pembelajaran tidak mempergunakan penglihatannya. Sedangkan tunanetra ringan adalah seseorang yang setelah dikoreksi penglihatannya masih sedemikian buruk tetapi fungsi penglihatannya masih dapat ditingkatkan melalui peng-gunaan alat-alat bantu penglihatan dan modifikasi lingkungan.
2. Ciri-ciri Low Vision a. Fisik
Secara fisik penyandang low vision tidak berbeda dengan orang pada umumnya, yang membedakannya adalah kondisi pada organ penglihatannya.
Seseorang diduga sebagai penyandang low vision apabila menunjukkan beberapa atau semua gejala-gejala sebagai berikut:
1) Mata juling 2) Sering berkedip 3) Menyipitkan mata
4) Mata/kelopak mata memerah 5) Mata infeksi
6) Gerakan mata tak beraturan dan cepat 7) Mata selalu berair (mengeluarkan air mata)
8) Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata
9) Mata tampak putih di tengah (katarak) atau kornea (bagian bening di depan mata) terlihat berkabut
b. Perilaku
Berikut ini merupakan gejala perilaku yang menunjukkan seseorang mengalami gangguan penglihatan. Berdasarkan perilaku berikut, penyandang low vision bisa dideteksi lebih dini. Perilaku tersebut adalah:
1) menulis, membaca, dan mengamati benda dengan jarak sangat dekat; 2) berkacamata sangat tebal tetapi masih kurang jelas penglihatannya; 3) hanya dapat membaca huruf berukuran besar;
4) sulit membaca dengan kekontrasan rendah; 5) kesulitan membaca di papan tulis;
6) berjalan sering tersandung; 7) berjalan dengan pandangan kaku; 8) lebih sulit melihat pada malam hari;
9) kesulitan melihat saat keluar dari tempat gelap ke tempat terang atau sebaliknya;
10) terlihat tidak menatap ke depan 11) menekan bola mata dengan jari;
12) memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang terang;
3. Klasifikasi Ketajaman Penglihatan
Menurut WHO (Mason & McCall dalam Tarsidi, 2011) kategori kerusakan penglihatan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Ketajaman penglihatan
setelah koreksi Klasifikasi Definisi Fungsional 6/6 hingga 6/18 Normal vision Normal
<6/18 hingga >3/60 Low vision Kurang awas <3/60
Blind Buta
Berdasarkan klasifikasi di atas, seseorang dikelompokkan pada kategori low vision apabila ketajaman penglihatannya kurang dari 6/18 hingga lebih baik dari 3/60. Ini menunjukkan bahwa orang yang masih memiliki sisa penglihatan kurang dari 3/60 dikategorikan buta. Ketajaman 6/18 artinya ketajaman penglihatan anak low vision mampu melihat benda pada jarak 6 meter, sedangkan mata normal dapat melihat benda tersebut pada jarak 18 meter.
Selain klasifikasi WHO, ada pula klasifikasi lain yang mengacu dari hukum Amerika Serikat. Jernigan (Tarsidi, 2011) menyatakan bahwa seseorang diklasifikasikan ”legally blind” menurut undang-undang Amerika Serikat apabila penglihatan pada mata terbaiknya setelah menggunakan lensa korektif, adalah 20/200 atau kurang, dengan medan pandang 20 derajat atau kurang. Satuan ukuran jarak yang digunakan Amerika Serikat pada saat tes Snellen Chart yaitu feet. 200 feet kira-kira sama dengan 60 meter.
Berdasarkan klasifikasi tersebut maka seorang penyandang low vision hanya mampu membaca huruf tertentu pada Snellen Chart pada jarak 20 feet sedangkan orang yang berpenglihatan normal mampu membaca pada jarak 200 feet.
4. Pengembangan Ketrampilan Membaca bagi Siswa Low Vision dan Kondisi-kondisi yang Melatarbelakanginya
Kegiatan membaca permulaan bagi siswa low vision pada dasarnya tidak berbeda dengan siswa lainnya yang berpenglihatan normal. Urutan langkah-langkah pembelajaran dan metoda pembelajaran membacanya sama dengan yang digunakan oleh siswa lainnya. Namun, sehubungan dengan adanya perbedaan kondisi penglihatan maka terhadap siswa low vision perlu dilakukan pengembangan keterampilan membaca seperti yang dinyatakan Layton dan Koenig (1998) yaitu; ”The development of reading skills and the remediation of reading problems should be integral parts of the education of students with low vision”.
Dalam pengembangan ketrampilan membaca pada siswa low vision ini ada beberapa kondisi yang perlu dipersiapkan. Kondisi-kondisi yang harus dipersiapkan adalah:
1) Kondisi penglihatan siswa low vision harus diketahui sehingga dapat difungsikan secara efisien
Salah satu kondisi yang sangat penting dan harus diketahui seawal mungkin adalah diketahuinya kondisi penglihatan yang dimiliki siswa. Wilkinson et. al. (2000:446) menyatakan bahwa, ”untuk
mengetahui kemampuan penglihatan siswa termasuk informasi hasil penilaian klinis”.
2) Kondisi lingkungan kelas siswa low vision harus dapat digunakan secara optimal
Kondisi lingkungan kelas sangat memiliki pengaruh terhadap keberhasilan kemampuan membaca siswa low vision, oleh sebab itu perlu dilakukannya modifikasi lingkungan kelas. Hal tersebut didukung dalam penelitian Yalo (2010), yang menyatakan: ”it also solicited information about environmental modification for learners with low vision”. Adanya modifikasi yang dilakukan pada kelas, diharapkan kondisi lingkungan kelas dapat berfungsi secara optimal. Modifikasi kelas antara lain: pengaturan tempat duduk, pengaturan intensitas cahaya, pengaturan arah cahaya, dsb.
3) Siswa low vision memerlukan alat bantu yang akan dipakai secara efektif dalam membaca, melihat jarak dekat ataupun melihat jarak jauh.
Perbedaan yang lainnya adalah siswa low vision menggunakan alat bantu penglihatan dan bacaan yang menggunakan huruf yang diperbesar. Dalam penyediaan bacaan ini perlu diperhatikan beberapa hal yang berpengaruh terhadap kenyamanan penglihatan siswa low vision. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain: warna kertas tidak menyilaukan dan tidak mengkilat, tinta berwarna hitam pekat, kekontrasan tidak terlalu rendah, ukuran huruf tidak terlalu kecil atau
menggunakan ukuran 18 point atau lebih. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kitchel (2000) bahwa:
”Large print is generally defined as print which is larger than the print used by that segment of the population with normal vision. The sizes of print most commonly used by the sighted population range from eight to twelve points in size. The American Printing House for the Blind (APH) takes the position large print for use by the low vision population is print which is eighteen points in size or larger”.
Ilustrasi yang terdapat pada buku bacaan yang dicetak besar sebaiknya dibuat dengan warna hitam dan putih, tidak menggunakan gambar berwarna. Gambar ilustrasi berwarna dapat menghilangkan kontur dan figur latar belakangnya, juga mengantisipasi bagi siswa yang juga mengalami buta warna. Untuk mengenal gambar ilustrasi ada kemungkinan siswa low vision membutuhkan waktu yang cukup lama.
Berikut ini merupakan alat bantu yang umumnya digunakan oleh siswa low vision:
3.1. Alat Bantu Optik
• Alat bantu optik untuk melihat jarak dekat: Hand held magnifier, stand magnifier, bar magnifier, spectacle (kaca mata), pocket magnifier
• Alat bantu optik untuk melihat jarak jauh: telescope 3.2. Alat Bantu non Optik
• Typoscope: garis berlubang untuk membantu membaca • Letter writter: garis berlubang untuk membantu menulis • Signature guide: untuk membantu membuat tanda tangan
• Notex: untuk menentukan nilai uang (belum digunakan di Indonesia karena ukuran uang kertas tak beraturan)
• Reading Stand: untuk penyaangga buku atau media baca lain • Bold line book: buku bergaris tebal agar anak mudah melihat garis • Adjustable Reading Lamp: lampu belajar yang dapat diatur
intensitas cahayanya
• Felt Tip Pen: alat tulis dengan warna hitam yang memiliki ukuran ketebalan garis yang lebih besar dari ballpoin biasa (sejenis boxi atau spidol hitam kecil)
• Pensil 2B atau lebih: pensil ini dianggap memiliki tingkat kehitaman yang cukup pekat sehingga kontras bila dituliskan pada kertas warna putih. Misalnya untuk keperluan menggambar
• Needle traider: Alat bantu untuk memasukkan benang ke liang jarum untuk menjahit
• Large Print: Buku bertuliskan huruf berukuran besar • Talking book: Kaset, CD.
3.3.Alat Bantu Elektronik
• CCTV: Close Circuit Television, alat bantu elektronik yang berguna untuk memperbesar huruf jika magnifier sudah tidak memungkinkan lagi. Objek bacaan dapat dilihat pada monitor. Pembesaran huruf dan fokus dapat disesuaikan.
Bisa untuk latihan membaca dengan ukuran huruf yang disesuaikan misalnya 24 point, 26 point, dsb. Bisa juga berisi software Jaws. • Media audio (radio, tape recorder)
4) Kegiatan pembelajaran membaca permulaan yang di dalamnya sudah diintegrasikan dengan program pelatihan stimulasi penglihatan dan pengembangan fungsi penglihatan, sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa low vision.
Pada penyusunan program dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran membaca permulaan, siswa low vision perlu diberikan program kegiatan stimulasi penglihatan yang bertujuan untuk menciptakan kesiapan membaca. Dengan aktivitas stimulasi penglihatan diharapkan siswa low vision dapat memfungsikan penglihatan secara optimal. Sehubungan dengan hal tersebut pemberian stimulasi penglihatan yang merupakan pengembangan ketrampilan membaca sangat penting bagi siswa low vision, seperti yang dinyatakan Layton dan Koenig (1998) yaitu; ”Pengembangan ketrampilan membaca dan masalah remediasi membaca, harus menjadi bagian integral dari pendidikan siswa low vision”.
Latihan stimulasi penglihatan meliputi: kesadaran akan cahaya, membentuk kesadaran objek, manipulasi atau memainkan objek, merasakan dan menyadari bentuk tiga dimensi, merasakan permukaan atau bentuk luar dari lingkungan, merasakan dan mengerti bentuk dua
dimensi, melihat bentuk gambar dan pemandangan, menunjukkan keteraturan persepsi visual siswa, dan simbol abstrak.